Actions

Work Header

Kaichou wa Maid-sama!

Summary:

Sherlock x Fem!Louis

Louis James Moriarty adalah ketua OSIS wanita pertama di SMA Patriot. Menjadi yatim piatu yang hanya memiliki seorang kakak--di mana saat ini sedang fokus pada kuliahnya--mengharuskan Louis mencari pekerjaan sambilan untuk membiayai hidupnya sendiri. Sebab, dia tidak ingin terlalu membebani sekalipun sang kakak bilang tidak masalah membiayai.

Maka, ketika mendapati pekerjaan sebagai pelayan di maid cafe dengan bayaran yang lumayan--dan jam kerja yang tidak berbenturan dengan pendidikan--Louis tentu saja menerimanya. Hanya saja, wibawanya sebagai ketua OSIS harus dipertahankan, sehingga dia menyembunyikan fakta itu dari sekolah.

Bagaimana jadinya ketika Sherlock Holmes, kakak kelasnya yang paling sulit diatur itu justru datang ke cafe, ketika dia sedang bekerja?!

Notes:

Cerita ini ditulis karena Ican, dan atas brainrottan Ican yang aku kembangkan. Jadi makasih lagi-lagi bikin aku gabisa berhenti nulis ini😭

Walau judulnya KWMs, alur dan dinamiknya beda. Beda banget dari Maid-sama pokoknya.

Fanfic ini, ditulis karena aku pengen alur yang super klise ala-ala shoujo manga yang gemesin?

Dan kalau ada kesalahan, typo, aneh, sejenisnya, maaf ya belum dibaca ulang maklumin aja. Panjang😭

Check it out!

Happy reading!

Chapter 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

"SHERLOCK HOLMES! SUDAH SERING SAYA BILANGIN JANGAN TIDUR SEMBARANGAN DI KURSI KORIDOR DEPAN KELAS!" 

Teriakan sangar dari gadis pirang berkuncir kuda itu sama sekali tidak menarik atensi para siswa yang sedang lalu-lalang. Alasannya sederhana, kejadan ini tidak jarang. Terlalu sering, boleh dikatakan demikian.

"Louis, kalau marah-marah mulu nanti lo cepet tua." Sherlock, siswa kelas 12 yang menginvasi salah satu area bersantai siswa itu menjawab dengan nada mengantuk, masih enggan bangun dari posisinya. "Terus gaada cowok yang bakalan suka."

Louis melotot di balik kacamata, wajahnya berhadapan langsung dengan si biru malam yang menatapnya sayu. "Salah siapa?! Cepetan bangun!"

"Gue cuman memanfaatkan fasilitas sekolah dengan baik, Louis. Lagian ini jam istirahat, mending lo makan sana. Badannya kurus banget."

"Kamu itu bikin orang lain gak bisa duduk, tau! Memanfaatkan fasilitas gak begini caranya. Bangun dulu!" Pelototan Louis semakin lebar hingga terdengar kekehan kecil dari sang kakak kelas. 

"Iya iya. Galak banget sih yang jadi ketua OSIS baru." Sherlock bangun dari posisinya, menguap lebar sebelum melanjutkan, "Gue kira hidup gue bakal lebih tenang kalau lo naik jabatan dari komite kedisiplinan."

"Soalnya anggota komite kedisiplinan sampai ngadu soal kelakuan kamu! Kenapa sih bebal banget?!"

"Kenapa ya?" Sherlock tersenyum penuh makna, dia berdiri, mengacak rambut Louis sebelum melangkah menjauh. "Pengen aja. Udah sana makan siang!"

Aksi itu membuat Louis mendengus kesal. Selalu saja begitu, sejak dulu, membuat Louis bahkan tidak dapat lagi menghindar saking terbiasanya. Dia rapikan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian berjalan dengan cemberut ke ruang osis untuk memakan bekalnya sembari menyicil tugas yang bisa dia kerjakan, sebab sore ini harus bekerja.


"Louis, kok uang kakak ditransfer balik? Mana lebihan lagi ini? Maksudnya apa?" semprot William langsung tepat ketika Louis menjawab panggilannya.

"Aku kan udah dapat kerjaan, terus baru gajian. Jadi kakak gak perlu ngasih uang lagi." Louis menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya yang biasa dikuncir kali ini tergerai cantik dengan hiasan bando putih ala pelayan, terpasang manis di atas kepala. Poni disampirkan ke telinga. Kacamatanya juga telah dilepas. "Sekalian, aku mau kakak ngerasain gaji pertama aku!" Nadanya kali ini terdengar semangat. 

"Kakak senang dengernya. Tapi kamu adek kakak, Sayang. Tanggung jawab kakak."

"Aku tau, tapi, kuliah itu butuh banyak uang, kan? Buku kuliah itu mahal." Louis menghela napasnya, dia bersandar ke meja rias. "Kakak juga bilang mau cepet lulus. Artinya banyak biaya yang diperlukan walau kakak punya beasiswa. Apalagi di sana kakak nyewa, aku kan tinggal di rumah."

"Kakak mampu kok."

"Kakak harus kerja ekstra kalau harus ngebiayain aku, di saat kakak harus belajar ekstra juga karena berniat lulus secepatnya. Tubuh kakak mau diapain?" Tidak ada jawaban dari William. "Kalau Kakak sakit, bukannya justru bikin aku khawatir?"

"Tapi, Louis--"

"Kak William." Louis berucap penuh penekanan kali ini, "aku udah besar, oke? Kakak fokus kuliah dan mikirin diri kakak aja di sana. Aku janji jaga diri, dan kakak juga harus. Kalau aku perlu sesuatu pasti bakal bilang, kok, tenang aja!"

"Tapi, sayang...."

"Percaya sama aku, please? I'll be fine. I promise you."

Hening cukup lama. Louis menggigit bibir.

"Alright, dear." William terdengar pasrah, "Tapi kakak bakal tetep ngirimin kamu uang. Gak banyak, cuman seperempat dari biasa, didiemin pun gak masalah. Boleh kamu tabung juga. Gimana? Biar kakak gak khawatir kamu kekurangan uang. Cuman kamu yang kakak punya, sayang. Dan kamu perempuan. Adik kakak. Please?"

Louis terenyuh, dia mengulas senyum seraya menjawab lembut, "Okay."

"Kamu juga jangan ngeforsir tubuh ya? Apalagi jadi ketua OSIS juga kan?"

"Iya! Ngikutin jejak kakak, walau aku gak akselerasi, sih. Aku mau kakak bangga!'

"Kakak bangga banget sama kamu."

Louis tidak dapat menahan senyum lebarnya mendengar itu.

"Louis! Udah siap?" suara perempuan menginterupsi. Moneypenny, rekan kerjanya memanggil.

"Aku dipanggil. Udah dulu ya? Louis sayang kakak. Love you."

"Kakak juga sayang kamu, cantik. Semangat kerjanya!"

Louis tertawa kecil saat mematikan panggilan itu. Suasana hatinya sangat bagus kali ini, dia memeriksa tampilannya sendiri apakah sudah rapi? Menarik napas, dengan semangat membara dia langkahkan kaki untuk mulai bekerja. Louis menepuk kedua pipinya dengan kedua telapak tangan demi bisa menunjukkan senyum ramah yang akan dia tunjukkan pada pelanggan.

"Okaerinasai masen goshujin-sama!" sapanya semanis mungkin. Pria yang mungkin bisa dikatakan anak kuliahan itu tampak merona. Louis cukup terbiasa sebab sudah sebulan bekerja di sini. 

"Ta-tadaima," jawab pria itu dengan nada malu-malu.

Walau dalam hati dia menganggap ini menggelikan, tapi Louis rela, kok, demi uang! Demi tidak menyusahkan! Dia harus profesional.

"Kerja bagus hari ini." Lagi, dia tersenyum manis. "Mari saya tunjukkan mejanya." Louis membawa pria itu ke meja, melayani, mencatat pesanan, kemudian menyerahkan catatan ke dapur. Dia menyambut satu tamu lagi dan mengulangi kegiatan yang sama dengan sigap.

Dalam hati cukup bangga pada kemampuannya beradaptasi sebab saat pertama kali bekerja wajahnya benar-benar sinis dan perangainya tidak ramah hingga yang lain frustasi sendiri. Beruntung dia tidak dipecat dalam sekejap.

Setelah menyerahkan kertas pesanan ke dapur sembari menggumamkan nada senang--karena ucapan William sebelum bekerja--dan mengambil makanan yang akan dia berikan pada pelanggan pertama, delima Louis menangkap pemuda dengan surai biru malam yang begitu familiar.

Louis membeku.

Andai bisa, bola matanya sudah keluar saking lebarnya melotot kala menemui wajah malas yang khas, pakaian tidak rapi, dan rambut mencuat membentuk antena itu begitu unik hingga Louis yakin sejuta persen tidak sedang salah lihat sekarang.

Sherlock Holmes, dengan figur lain berambut pirang sudah duduk di salah satu meja entah sejak kapan. Layu sudah padang bunga di hatinya. Kepanikan menyergap hingga sesak.

NGAPAIN ITU ORANG KE SINI?!

Hancur sudah ekspresi manisnya.

"Sst! Loui, jangan cemberut." Frida menegur.

Dia tahu! Hanya saja--

"Louis, pelanggan dari meja nomor 23 minta dilayanin sama kamu katanya." Moneypenny menginterupsi.

"Hah?!"

"Loui, jangan melotot galak juga. Senyum, sayangku, senyum!" Frida menasehati lagi. Louis ingin menyemprot kalau dia bukan Frida yang dari sananya memang ceria dan ramah. Ditambah, saat ini ada kehadiran sosok yang paling sering berbuat onar di sekolahnya--tempat di mana dia, yang notabenenya adalah perempuan, menjadi ketua OSIS untuk kali pertama.

Apa kata orang-orang jika tahu dia bekerja di maid cafe?! Hancur sudah wibawanya nanti. Tapi karena sadar Frida tidak salah apa-apa, Louis menarik napas dalam. Memasang senyum ramah penuh keterpaksaan.

"Puas?"

"Sip!" Frida tersenyum lebar sambil memberikan jempol padanya. Saat gadis ceria itu pergi, Louis menghadiahi Moneypenny pandangan merana.

"Kok saya? Kamu aja, dong, Pen!"

"Dia maksa. Tadi yang biru itu nyuekin aku, bengong juga sampai kena tegur, terus dalam sekejap semangat banget ngomong mau kamu yang ngelayanin. Kita tukaran aja. Ini meja nomor lima kan? Kamu ke nomor 23." Moneypenny mengambil nampan di tangannya. Tersenyum lembut. "Demi pelanggan, Louis."

TAPI!!!!!!

Louis ingin protes, mengamuk, menghancurkan apa saja namun sadar, dia butuh pekerjaan ini. Maka caranya menenangkan diri hanya dengan mengatur napas.

Louis yakin Sherlock mengenalinya dari penjelasan Moneypenny tadi. Padahal tempatnya bekerja cukup jauh hingga tidak pernah terpikir akan ada orang dari sekolahnya yang datang. Kenapa jagat raya begitu kejam coba?!

Pasrah, dia langkahkan kaki dengan lunglai ke meja yang dalam sekejap akan menghancurkan harga dirinya, di hadapan sosok paling menyebalkan dalam semesta.

Selamat tinggal, reputasi yang dia jaga!


Seumur hidup, baru kali ini Sherlock melangkahkan kaki ke yang namanya Maid Cafe. Kalau tidak sedang ditraktir oleh sahabatnya, mana mau dia! Lebih baik uang itu dihabiskan ke berbagai alat dan bahan kimia untuk bereksperimen. Tapi demi makanan gratis apa sih yang tidak? 

"Baru tau gue lo suka beginian, Bond," komentar Sherlock 

"Sebenernya karena ada gebetan sih."

"Jadi pelayan di sini? Yang mana?"

"Dia yang masak."

Hah? 

"Jadi ngapain lo ke sini?"

"Ngerasain masakan dia, lah! Enak loh, Sher!" Ada terselip kebanggaan dalam nadanya membuat Sherlock tertawa renyah. Benar juga.

"Bucin!" 

"Biarin!" Bond memeletkan lidah. "Lo harus nyobain masakan Hudson."

Memang itu tujuannya, kan? Manik biru malam Sherlock mengamati malas. Banyak gadis cantik dan manis, memang. Tapi tidak ada yang menarik hati. Mereka disambut gadis berkacamata dengan aura menenangkan. Sherlock tidak peduli, membiarkan Bond yang berinteraksi, dia lebih senang mengobservasi seisi ruangan hingga seorang gadis berambut pirang menarik atensi.

Tampak familiar, tapi perangainya terlalu berbeda.

Masa, sih?

Gadis itu tinggi semampai, rambutnya tergerai indah sepunggung. Ekspresinya ramah dan tepat ketika sosok itu tersenyum, bersamaan dengan mata Sherlock yang menangkap bekas luka yang samar di wajah, detik itu juga--

BUAGH

--Sherlock menabrak seseorang.

"Jalan lihat-lihat dong, Mas!" protes yang ditabrak. Sherlock meminta maaf secara ringkas dan berjalan cepat menyusul Bond.

"Sherly, kenapasi bengong?"

Itu Louis kan?

"Mbak!" Sherlock mengabaikan Bond. "Boleh ganti pelayan? Kalau gak boleh saya maksa."

"Hah?! Sher?" 

"Boleh, kok."

"Saya mau dia!" Sherlock menunjuk punggung Louis yang berjalan menuju jendela kecil yang mengarah ke dapur. "Nanti saya kasih bonus!"

"Sher, jawab gue! Lo kesambet apa? Setan? Jin?"

"Tunggu ya?" ujarnya. Pelayan yang berfreckles itu pergi dengan cepat. 

"Sherlock. Holmes. Jawab gue!"

"Apa, Bond?! Tenang bonusnya beneran make uang gue, kok."

"Nah itu. Lo kesambet apa?!"

"Cuman mau mastiin sesuatu," jawabnya singkat dan kembali fokus memperhatikan pelayan pirang yang mulai berjalan ke arah mereka setelah nampan di tangannya diambil alih. Cengirannya terbit. 


SHERLOCK HOLMES SIALAN!

Adalah hujatan yang diucap Louis dalam hati sejak tadi.

"Sher, lo mau makan apa?" Pemuda pirang bertanya. 

"Moe moe omurice aja. Minumannya sama," ujarnya singkat dengan nada menahan tawa. Sherlock sejak tadi hanya menumpukan dagu pada telapak tangan. Walau jemarinya sedikit menutupi mulut, dapat Louis tangkap seringaian di sana. Mata navy itu tidak lepas memperhatikan Louis yang berusaha dengan sangat sangat keras tersenyum ramah--walau sekarang dia ingin mengamuk dan menghancurkan seisi kota. 

Senyum Louis, senyum. Batinnya mengingatkan. "Moe moe omurice dan Kira kira curry serta dua green tea. Mohon ditunggu, Goshujin-sama." Louis membungkuk sopan, tersenyum manis--terpaksa--dan menjauh secepat kilat.

SIALAN! DIA NGEJEK!

"Loui, kenapa?"

"Gak kenapa-kenapa." 

"Wajah kamu pucat."

"Ah? Serius, gapapa. Udah ya!" 

Tidak ada habisnya menanggapi Frida. Lebih baik dia bekerja. Tapi, kenapa coba kakak kelasnya yang satu itu sejak tadi terus menatap? Jelas banget tahu!

Sabar, Louis. Sabar.... Mantra itu terus dilantunkan sembari mengantarkan pesanan ke pelanggan sebelum Sherlock yang dia layani. Lalu, dengan sigap mengambil pesanan meja nomor 23 dengan batin nelangsa. 

"Moe moe omurice dan Kira kira curry serta dua green tea sudah datang! Mohon maaf menunggu lama. Untung moe moe omuricenya apa ada rikues ingin ditulis apa?"

"Tolong tulisin kata hati lo aja, gimana?"

Kata hati? 

"Saya mengerti."

Oksigen dia hirup dalam. Dengan senyuman yang masih dipertahankan, Louis menulis di atas omurice dengan botol saus hati-hati. Dia menggeser piring itu ke depan Sherlock, melotot galak, dan langsung angkat kaki dari tempat itu dalam langkah kilat.

Terdengar gelak tawa yang menarik perhatian sekitar. Louis abaikan. Alasan tawa itu sudah jelas, sebab isi hatinya terlukis manis di atas omurice yang lezat, bertuliskan :

MATI SANA!

"Nyebelin," gerutunya.

Sungguh, Louis ingin menangis detik itu juga.


Bibirnya mengulas kurva kala mendapati sekotak susu strawberry dan roti di dalam lokernya. Awal mula mendapat hadiah kecil semacam ini beberapa bulan lalu, Louis panik, sebab artinya seseorang dapat membobol lokernya. Tapi setelah sebulan berlalu dan tidak ada benda berharga yang hilang, dia mulai menerima dengan senang hati. Sekalian menghemat pengeluaran?

Tidak ada petunjuk apapun. Hanya susu kotak dan roti, jadwal yang tidak pasti, dan surat pun nihil, membuat si pengirim begitu misterius. Louis penasaran tapi tidak pernah berhasil menemukan orang itu. 

Tunggu.

Matanya membeliak saat menangkap kertas berwarna ungu di bawah susu kotak. Dibukanya kilat, di dalamnya ada tulisan rapi yang berisi beberapa deret kalimat

Apa kamu tahu Red beryl? Walau warna merahnya tidak seindah kedua bola matamu, tapi nilainya setara dengan senyum tulusmu.

Sebab keduanya begitu langka.

"Apaan sih?" Komentarnya geli, tak urung ada perasaan hangat di dada. "Aneh." 

Dia simpan surat itu kembali ke dalam loker dan menusuk susunya dengan sedotan, kemudian berjalan ke ruang OSIS untuk memeriksa laporan. Masih terlalu pagi, jadi tidak banyak siswa/i yang hadir. 

Louis hanya ingin fokus pada tugas sebelum menerima fakta semua orang akan mengetahui bahwa ketua OSIS mereka bekerja sebagai pelayan. Bukan pelayan biasa, pula, sebab Maid Cafe adalah tempatnya bekerja. Dia pasrah menerima kenyataan bahwa Sherlock akan menyebarkan rahasia yang dia jaga, karena Louis sendiri sering bersikap kasar pada kakak kelasnya yang satu itu.

Setidaknya, surat tadi sedikit memperbaiki suasana hatinya yang gundah gulana.


Anehnya, hingga jam pulang tiba, tidak terdengar satupun orang bicara tentangnya. Dahi Louis berkerut, heran. Dia benarkan frame kacamata sembari memeriksa proposal pengajuan dana dari ekskul tata boga.

Belum lagi jurnal keuangan bulanan belum selesai diperiksa. Dia harus menyelesaikannya sebab mulai besok mereka akan mulai merencanakan festival sebagai perayaan hari ulang tahun sekolah. Sang kakak melakukannya dengan sempurna tahun lalu, Louis tidak boleh gagal.

"Ketua."

Louis mendongak. "Iya, Fred?"

"Ada keributan di depan ruang ganti olahraga. Belum ada yang melerai. Para guru sudah pulang." Fred tampak sungkan menginfokan. Mata Louis membola, dia bergegas bangun dari kursinya menuju lokasi. Ada anggota klub basket dan futsal yang mengerumuni dan saling memanasi membuat darah Louis mendidih.

"BERHENTI!" serunya lantang. 

Tidak ada yang mendengarkan. Louis menghela napas ketika menerobos kerumunan. Di tengah sana ada Enders dan Milverton sedang berkelahi. Ketika Milverton berniat melayangkan tinju, Louis menahannya dan mengunci lengan itu ke belakang tubuh secara celat. Secara bersamaan, dia tendang Enders hingga terhuyung ke belakang.

Seketika sunyi. Sebab seorang gadis baru saja menghentikan perkelahian dua orang itu secara instan.

"Apapun penyebab masalah kalian sekarang, klub futsal dan basket dilarang menggunakan GYM untuk dua minggu ke depan karena merusak fasilitas sekolah!" Louis mendelik tajam pada semuanya. "Ini hukuman karena tidak ada yang melerai. Pintu ruang ganti pria yang rusak akan diganti dengan uang kas kalian."

"Heh jangan seenaknya!" Enders protes.

"Kalian berdua besok ke ruang BK."

"Lo cuman cewek janga--"

"APA?!" potongnya galak. Enders langsung ciut. "Kalau kamu gak terima karena saya cewek, kita bisa bertarung secara resmi. Saya sebagai ketua OSIS hanya menjalankan tugas. Kalau posisi saya gak membuat kamu patuh, kita bisa memakai cara lain jika kata 'cuman cewek' yang ingin kamu argumenkan."

Semua terdiam. 

Milverton bahkan tidak sanggup melepaskan kunciannya sampai Louis mengurangi tenaga. "Ingat, besok ke ruang BK sekaligus menyelesaikan masalah kalian. Selamat sore." Dia langsung beranjak dari kerumunan dengan perasaan dongkol. 

Ucapan Enders tadi berputar di benak hingga kekhawatirannya semakin besar. Lalu dia sadar, seharian Sherlock tidak kelihatan. Padahal setiap hari ada saja ulah si kakak kelas yang menyusahkannya.

"Kalau kayak gini ... kayanya gak bakal disebar kan, ya? Mungkin dia gak peduli sama maid cafe dan sejenisnya. Penny bilang juga mukanya cuek banget waktu pertama datang." 

Mungkin itu benar. Sherlock tidak tertarik sama sekali dengan hal yang begituan. Maka berbekal kesimpulan demikian dia bekerja dengan tenang.


Louis salah besar.

Sherlock Holmes, sore ini, dengan pakaian kasualnya berdiri tepat di hadapan. Ekspresi Louis retak dalam sekejap, sementara si kakak kelas hanya menaikkan sebelah alis sembari tersenyum, di mana bagi Louis menyebalkan.

Maksudnya apa coba?!

Senyum Louis, senyum. Dia merapal mantra yang sama. 

"Okaerinasai masen, Goshujin-sama." 

"Pfft."

SIAAALAAAANNNN!!

"Mari saya antar ke meja. Sebelah sini," ujarnya manis. Dia berjuang keras, serius. 

Sabar. Kamu harus sabar.

Sherlock hanya terkekeh tanpa suara sembari membuntuti dan duduk di kursi. Membaca menu, memesan secangkir teh yang mana langsung Louis layani secepat mungkin agar bisa jauh-jauh dari si biru itu. 

"Louis, pacarmu?" 

AMIT-AMIT!

"Bukan!"

"Kirain. Dia yang sama Bond beberapa hari yang lalu kan? Ngeliatin kamu mulu."

Louis mengangguk sembari menunggu masakan Hudson selesai. Belum ada pelanggan baru lagi. "Usir dong, Pen."

"Sembarangan. Gak sopan tau!" Moneypenny menoleh ke Sherlock, "kayaknya suka sama kamu, deh."

"Gak mungkin. Mustahil. Nihil. Dia mah cuman usil."

"Kenalan ya?"

Louis mengangguk. "Kakak kelas," akunya.

Bibir Moneypenny membentuk huruf O. "Ganteng juga kalau diperhatiin."

"Yaudah sana deketin!"

"Gak, ah. Sukanya kamu itu. Eh udah dulu ya!"

Moneypenny beranjak menyambut pelanggan yang baru. Louis mengernyit setelah tersadar akan kalimat tadi. Ganteng katanya?!

Masa?

Ketika Louis menoleh dan menemukan Sherlock memasang cengiran, Louis langsung berjalan menggeleng keras. Enggak enggak enggak! 

"Ngeselin gitu ganteng darimananya?!"

"Louis. Ini pesanan di meja nomor 8." Hudson memanggil. 

Sudahlah. Lebih baik dia bekerja. Abaikan saja eksistensi menyebalkan itu sebisanya..


"Hai."

"KAMU!" Louis yang sudah selesai berganti pakaian terpekik refleks menemukan Sherlock menyender di dinding santai. "Kok bisa masuk ruangan staff?!"

"Ya masuk aja. Pintunya aja gak dikunci." jelasnya santai. Louis kehabisan kata untuk membalas karena tahu itu benar.

Diarahkan kakinya menuju cermin, mengambil sisir, kemudian mengikat rambut pirangnya tinggi. Gadis itu lalu mengambil kacamata dari kotak dan mengenakannya, apapun maksud Sherlock di sini bukan urusannya.

"Eh pacarnya Louis ya? Serius banget merhatiinnya."

"ENGGAK!" Refleks Louis berteriak. 

Sherlock hanya tergelak. "Mbak Hudson?"

"Iya?"

"Bond nitip waktu tahu aku mau ke sini, katanya sibuk banget buat ngasih sendiri." Diserahkannya sebuah paperbag. 

Wajah Hudson dihiasi rona samar membuat Louis menaikkan alis tanpa sadar. "Wah, maaf ya repot-repot gini? Siapa namanya?"

"Sherlock." 

Hudson mengangguk-angguk. "Salam kenal Sherlock. Titip makasih juga ya? Maaf juga sampai ke sini. Nanti dianya saya omelin karena ngerepotin kamu."

"Emang mau ke sini, Mbak. Pas tahu ya dia nitip katanya. Yaudah sekalian." 

Louis memilih mengambil barang-barangnya, membiarkan saja obrolan itu berjalan, dia tidak ingin peduli. Tapi tepat ketika Louis memasang tas dan pamit, Sherlock juga mengucap perpisahan.

"Yuk."

YUK APA?!

Mata merahnya melotot.

"Bareng pulangnya. Udah malam," jelas Sherlock santai pada reaksi tanpa kata si pirang. Hudson memasang ekspresi lembut bagai seorang kakak.

"Hati-hati ya Louis."

Gadis berkacamata itu mengangguk. 

"Sherlock, jagain dia ya?"

"Sip!"

Louis langsung melangkah gesit di mana Sherlock dengan tenang mengimbangi. Dia terus bungkam, jengkel, sebal, maksudnya apa coba sejak tadi hanya memesan satu menu lalu berdiam lama hingga jam kerjanya usai, dan berjalan bersisian untuk pulang bersama? Louis bahkan sudah beberapa hari ini tidak melihatnya di sekolah--yang mana sebenarnya harinya jadi lebih damai tapi tetap saja! Setelah menghilang, tahu-tahu muncul itu, argh!

"Kalau muka lo cemberut mulu nanti kayak abang gue, penuaan dini."

Bodo amat!

"Kenapa sih? Gue salah apa?"

Louis mendengus. 

"Louis?"

"Saya capek oke? Mau kamu memangnya apa? Di sekolah ngilang terus tahu-tahu muncul kayak gini."

"Lo nyariin gue?"

"Ya enggak! Tapi tetap aja. Kamu tahu rahasia saya, esoknya langsung hilang kayak ditelan bumi. Saya udah siap kok disebar fakta bahwa ketua OSIS di SMA Patriot itu kerja sebagai pelayan di Maid Cafe."

"Ini rahasia ya?"

YA IYA?!

"Menurut kamu? Apa kata orang kalau tahu ketua wanita pertama mereka justru kerja di Maid Cafe? Mereka gak tahu aja masih banyak yang ngeremehin saya!"

Lagi-lagi dia teringat perkataan Enders, dengan cepat mengambil susu Hazelnut dari tas, sembari mengingat isi pesan yang dia baca tadi pagi.

"Lo cuman kerja, cuman karena pakaian yang dipake imut gak mengubah fakta kalau lo itu kuat, Louis. Bahkan lebih kuat dari cowok di sekitar." Si gadis tertegun. Netranya diarahkan kepada Sherlock yang memberinya senyum kecil. "Tapi kalau lo gak mau ketahuan yaudah, sih. Lumayayan juga gue dapet rahasia lo. Kalau dijaga, gue boleh minta sesuatu gak?"

Bisa-bisanya.

"Kalau aneh-aneh saya patahin tulang kamu nanti."

"Jadi iya?"

"Mau apa jadinya?!"

"Gue pikirin dulu. Janji ya, lo gak nolak."

"Saya bakal nolak kalau itu merugikan."

"Gak bakal, tenang aja!"

"Hm." Mereka sudah sampai di stasiun kereta. Keduanya pun masuk dan duduk bersisian, Louis mengambil buku dari tasnya. 

"Harusnya lo istirahat sih."

"Waktu luang saya gak banyak. Mana sebentar lagi festival sekola--HEI!"

Sherlock tahu-tahu saja mengambil bukunya. "Minum susu aja, duduk diem."

"Saya mau belajar!"

"Istirahat dulu! lo baru selesai kerja."

"Tapi--"

"Nurut aja. Hobi banget sih buat sibuk, heran. Nanti gue balikin tenang aja."

Cemberut, dia membuka tasnya kembali.

"Gue ambil lagi liat aja."

"Ish!" Louis akhirnya menurut. Dia sedot susunya ganas hingga habis dalam sekejap dan merasa bosan. Sherlock juga bungkam sejak tadi hingga lama-lama rasa kantuk menyerang. Dipikir lagi kemarin malam dia hanya tidur tiga jam, lalu hari ini langsung bekerja sampai malam.

"Tidur aja," bisik Sherlock lembut. Kelopak matanya semakin berat hingga tidak melawan ketika yang lebih tua memposisikan kepala Louis agar bersandar pada bahu si kakak kelas itu dan tahu-tahu, kesadarannya hilang.

Malam itu, dengan Sherlock sebagai sandaran, Louis terlelap di sepanjang perjalanan.


Walau bambu sangat kuat, tapi dia juga pohon seperti yang lain. Jadi, jangan sampai tumbang, ya?

Louis mengulum senyum, dia simpan kertas itu bersamaan dengan dua lainnya. Ini surat ketiga yang Louis dapatkan, bersamaan dengan susu rasa earl grey yang bertengger manis di dalam loker di sebuah botol kaca, dan sebungkus melon pan. Setelah menukar buku di dalam tas dengan mata pelajaran hari ini serta memasukkan kudapan itu, dia membawa diri menuju kelas.

Otaknya memutar kembali isi surat sebelumnya, bersamaan dengan susu rasa hazelnut dan roti vanilla. 

Bambu memang terlihat ramping dan lebih gemulai, tapi semua orang tahu kalau tertiup angin kencang hingga badai, maka pohon-pohon besar di sekitarnya pun akan kalah terhadap kekuatannya.

Kamu adalah bambu di antara pohon itu.

Surat itu dia dapat sehari setelah melerai perkelahian Enders dan Milverton. Kali ini, isinya mengingatkan agar Louis tidak kelelahan dan jatuh sakit di saat jadwalnya benar-benar padat.

Louis semakin penasaran, hanya saja waktu pemberiannya benar-benar tidak pasti! Ditambah, dia tidak pernah tahu kapan si pengirim membuka lokernya, entah sore atau pagi hari.

Ketika hampir melewati labotarorium kimia, pintu ruangan terbuka bersamaan dengan Sherlock Holmes yang keluar setelahnya. "Pagi banget datengnya?"

"Kamu juga kepagian masuk lab."

"Gue nginep, sih."

"Nginep?!" 

"Udah sering kok. Udah izin juga tenang aja." 

Sudah jadi rahasia umum sosok di hadapan Louis ini jenius kimia, jadi perkataan ini dapat dia percaya. Louis memperhatikan penampilannya. Rambut Sherlock masih agak basah terurai sementara pakaiannya yang kusut itu terpakai asal. Dua kancing terbuka, tanpa dasi, ikat pinggang, apalagi jas.

Astaga. 

"Pak--"

"Sebelum lo ngomel di pagi yang indah ini, mending bantuin gue masang dasi. Siniin tasnya, terus ikut gue ke loker!" potongnya.

Belum sempat menjawab, yang lebih tua itu langsung mengambil tas di bahu Louis dan menarik lengannya. Sesampainya di tujuan, Sherlock langsung mencari-cari sesuatu di loker sekolahnya yang berantakan hingga satu buku terjatuh. Louis mengambil buku yang terbuka itu dan mengernyit melihat isinya. Seperti tulisan dokter?

"Gimana cara guru baca tulisan kamu?!"

"Pakai mata hati," jawab Sherlock singkat.

"...." 

"Nah dapat!" Sherlock mengambil dasi yang menggumpal.

"Loker kamu harusnya dirapiin tahu!"

"Nanti aja. Yaudah cepet bantuin daripada lo ngamuk-ngamuk perkara seragam." 

Louis mengambil dasi itu dan memasangkannya ke leher Sherlock, beruntung badannya cukup tinggi, setelinga si kakak kelas, jadi tidak sulit hingga harus berjingkit. Setelah memasangkan kancing seragamnya, dia mulai membentuk dasi itu.

"Kamu udah kelas 12 masih gak bisa makai dasi sendiri?"

"Iya. Makanya gapernah bener gue makenya. Sesek juga sensasinya. Kalau lo ngomel biasanya gue ngacir ke John. Anaknya gak sekolah tapi hari ini."

Tangan Louis masih asik melilit kain itu. "Hm."

"Muka lo pucat."

Masa, sih?

"OSIS, peringkat pertama seangkatan, kadang lomba, kerja sambilan juga, mending lo istirahat dulu deh, Louis."

"Saya gak papa." Louis mundur selangkah, melihat dasi Sherlock terpasang rapi dan mengangguk puas. Mata Louis refleks memejam kala merasakan tangan Sherlock yang begitu dingin di pelipis. 

"Dahi lo hangat."

Kelopak matanya terbuka pelan, menemukan raut kekhawatiran di hadapan, begitu dekat dan netra mereka bertubrukan.

Ganteng juga kalau diperhatiin.

Suara Moneypenny terngiang. Louis tergerak memperhatikan wajah yang baginya selama ini menyebalkan, dan dia baru sadar bahwa Sherlock memiliki mata biru segelap lautan dalam, hingga Louis rasa dia dapat tenggelam. Alisnya tebal, dengan hidung mancung dan rahang kokoh nan tajam. Lalu bibirnya....

STOP LOUIS!

"Muka lo makin merah sekarang. Udah, mending istirahat aja di UKS." 

Louis menggeleng cepat. Dia menjauhkan telapak tangan kakak kelasnya itu. "Gak masalah, kok! Udah ya saya mau ke kelas. Jangan lupa ikat pinggang sama jas kamu dipakai."

Langkah Louis secepat kilat dan dia enggan menoleh. Wajahnnya merah padam karena kejadian barusan sebab, itu kali pertama dia benar-benar memperhatikan seksama wajah seorang pria selain sang kakak, dan temannya benar, walau selama ini Louis memandangnya menyebalkan, Sherlock memang tampan.

"LOUIS! TAS LO MASIH DI GUE KETINGGALAN!"

Louis berhenti. Mukanya semerah tomat saat kembali mendatangi Sherlock, ketika tas sudah dia pasang di punggung, dia langsung lari sekuat tenaga saking malunya. Samar terdengar suara tawa Sherlock di belakang.

PENNY! KARENA KAMU SAYA JADI MIKIR YANG ANEH-ANEH TERUS JADI MALU SENDIRI KAYAK ORANG BEGO KAN!


"Okaerinasai masen, Goshujin-sama, nyaa~"

"Cocok banget jadi kucing, pfft." Sherlock tergelak, wajah Louis refleks merengut. Persetan dengan pekerjaan, toh yang dia hadapi sekarang adalah teman.

"Saya tu heran kok kamu datang mulu? Suka banget ngetawain saya." Louis menggerutu. Sherlock memainkan nekomimi di kepalanya dengan cara menepuk-nepuk telinga kucing itu. Louis memukul tangan besar dengan buku menu agar berhenti. Kakak kelasnya itu masih tertawa tanpa henti.

"Pengen aja." Sherlock duduk di meja biasa, nomor 23. Louis sampai terbiasa melihat kehadiran Sherlock sekarang, pun teman-temannya, sebab setiap kali Louis bekerja, pemuda itu tidak pernah absen untuk datang. "Omong-omong lo beneran gak masalah kerja? Wajahnya masih pucat itu."

"Gak papa kok. Jadi mau apa?"

"Mau makan omurice."

"Minumnya?"

"Latte. 

"Oke."

"Gaasik ah, Lou. Profesional dong."

"...." Sabar, Louis. Demi uang. "Moe moe omurice dan Lattenya akan disiapkan. Mohon ditunggu sebentar, Goshujin-sama, nyaa~"

Suara tawa itu semakin menggema.

Lupakan pemikiran Louis tadi pagi tentang Sherlock yang tampan. Makhluk ini tingkat menyebalkannya sudah di luar nalar!

"Tunggu!"

"Apa lagi?!"

"Nyaan~

Louis menghadiahi pelototan galak ke si biru malam itu kemudian menghampiri Hudson dengan dongkol.

"Pacarnya Loui dateng lagi! Lucu banget. Lucien aja gak sesering itu." Frida berkomentar membuat Louis semakin cemberut.

"Bukan pacar saya dibilang!"

"Eh? Tapi kok dateng mulu tiap kamu kerja?"

"Ketagihan sama maid cafe paling."

"Enggak, datengnya pas kamu ada doang tau. Kan Mbak?"

"Iya." Hudson dari dapur menyahut. "Beneran gak pacaran?"

"Enggak. Suka aja enggak!"

"Kasihan." Moneypenny tahu-tahu ikut menyahut dari belakang. Dia menjepit kertas pesanan dan ikut menunggu karena belum ada pelanggan. "Kamu tu mirip Mbak Hudson."

"Lah kok aku?" tanya Hudson.

"Kalian tu sama-sama menggantung pria yang ngejar-ngejar kalian."

"Apaan sih, dia juga enggak suka saya kok!"

Frida menggeleng prihatin. 

"Aku nggak ngegantung Bond. Dianya aja gak pernah nembak. Lagian itu orang emang suka godain cewek sana-sini."

"Cuman kamu yang dikasih perhatian sampai segitunya tapi. Bond itu model, kan, sibuk banget. Tapi selalu nyempatin diri ke kamu, Mbak." Frida mendesah. "Tapi kalau belum nembak yaudahlah ya. Eh iya Loui, aku penasaran, kamu suka seseorang?"

Louis langsung mengingat isi surat tadi pagi. "Mungkin?"

"Eh? Gimana orangnya?" 

"Frida mending kamu kerja daripada ngepoin Louis mulu. Tapi gimana Lou orangnya?" Hudson menyembulkan kepalanya dari jendela kecil.

"Sama aja kalian." Moneypenny menggeleng.

Beruntung, cafe itu sepi kali ini.

"Gatau."

"Lah???" Ketiganya menyahut bersamaan. 

Wajah Louis terasa hangat. "Saya gatau orangnya siapa, tapi sejak beberapa bulan lalu suka ngirimin saya roti sama susu, terus beberapa minggu ini ada suratnya juga." 

"Secred admirer ternyata. Mungkin dari Sherlock?"

Louis teringat catatan ala dokter Sherlock, jauh berbeda dengan tulisan rapi di surat-suratnya. "Mustahil," sanggahnya yakin.

"Yah ... kasian juga si Sherlock ya."

"Udah ah berhenti dulu ngobrolnya. Frida ini pesananmu. Ini Louis buat si Sherlock itu." Hudson meletakkan dua buah nampan. Kepala Louis sekilas berdenyut ketika mengambil nampan itu, dia letakkan lagi sejenak. Kenapa kali ini nampannya terasa lebih berat?

"Louis kenapa? Beneran gak sakit? Wajah kamu makin pucat. Kalau sakit gak usah dipaksa, lagian hari ini gak rame kok...."

"Gak masalah kok, Mbak. Tenang aja." Louis mengurut pelipisnya pelan, lalu meraih nampan lagi. Dia berjalan pelan ke tempat Sherlock. 

Kenapa mendadak kepalanya semakin pening?

Pandangannya agak memburam. Dia meletakkan nampan itu hingga terdengar bunyi mendebam.

"Louis?"

Suara Sherlock terdengar samar. Perasaannya saja, atau Sherlock memang berdiri mendekat? Penglihatannya semakin tidak jelas sekarang. Matanya berkunang-kunang.

Susah payah dia bersuara. Napasnya terasa berat. "Moe moe omurice dan latte sudah datang! Mohon maaf menunggu lama, nyaa~ Untuk moe moe omuricenya apa ada rikues ingin ditulis ap--"

"LOUIS!!!" Beberapa orang meneriakkan namanya. Louis merasa badannya ditahan seseorang dan sebelum kesadarannya hilang total, samar, dia mendengar suara.

"Udah gue bilang kan jangan sampai tumbang...."

Mungkin, itu halusinasi semata, sebab Louis terlampau penasaran pada identitas asli pengagum rahasianya. Atau, memang kebetulan saja.


Ketika matanya terbuka, dia menemukan Sherlock duduk di samping tempat tidur tempatnya berbaring.

"Saya di mana?"

"Klinik."

"Hah?"

"Lo pingsan." Sherlock mendesah. Dia memainkan ponselnya ketika melanjutkan bicara. "Keras kepala banget sih. Untungnya gak kenapa-kenapa. Cuman demam karena kecapean sama kurang nutrisi, harus lebih banyak makan. Terus istirahat dulu."

Louis mengangguk-angguk paham. "Besok saya libur deh, janji."

"Tiga hari."

"Tapi--"

"Nih Liam mau ngomong."

"Siapa?!"

"Adek? Kok bisa pingsan?"

Mampus.

Louis melotot, berucap tanpa suara.  'Kenapa ngasih tau kakak?!' Tapi Sherlock mengabaikan.

"Adek? Kenapa diam?"

"Hai, Kak....?" Louis menggigit bibirnya, "Kecapean kayanya?"

"Kok nanya balik?"

"Maaf...."

"Berhenti kerja ya?"

"Gak mau, Kak, please?"

"Kamu takut kakak kecapean, tapi kamunya malah tumbang. Jantung kakak serasa mau lepas waktu Sherly bilang kamu sakit."

Sialan. Dia lupa William dan Sherlock itu sahabatan!

"Maafin aku, ini cuman ... mau ada festival sekolah? Terus...." Dia menceritakan berbagai kesibukan mulai dari ada kesalahan jurnal bulanan dari divisi keuangan, masalah keonaran para siswa, dan lain-lain.

"Alasannya gak bisa diterima sayang. Cuman karena kamu sibuk bukan berarti kamu ngeforsir diri sampai sakit." Terdengar kekhawatiran begitu kental dari sana. Louis merasa bersalah.

"Maafin aku. Louis salah, sadar kok. Cuman, aku takut gak bisa kayak kakak. Loh iya kakak kok kayak baik-baik aja sih selama sekolah dulu? Kan ... sama-sama kerja, terus, ikut OSIS juga."

"Kan kamu selalu ngejaga pola makan kakak, ngebantuin dan ngurusin kakak tiap hari kayak emak-emak cerewet." Bibir Louis mengerucut mendengar itu. "Adek kakak makannya bener gak selama tinggal sendiri? Sampai mal nutrisi itu gimana ceritanya?"

Sial sial sial sial! Dia sering melewatkan jam makan, memang. Tidak menyangka dampaknya seperti ini. "Um...."

"Louis?"

"Maaf...."

"Kakak beneran mau pulang ke sana sekarang juga tahu gak sih?"

"Jangan, Kak! Maaf, tapi aku mau tetep kerja. Nanti aku ngejaga pola makan, masang alarm sekalian. Terus ngatur waktu lagi. Louis Janji. Ya?"

William menghela napas di ujung sana. "Kesempatan terakhir. Tapi kamu harus istirahat total dulu selama tiga hari."

"Tapi--"

"Atau berhenti kerja? Kalau kamu keras kepala kakak bakalan marah."

Mana bisa dia melawan itu. "Okay...."

"Kakak sayang kamu, Cantik. Jangan lupa ya sama janjinya?"

"Louis juga sayang kakak." Dia rindu sekali pada kakaknya itu. "Miss you."

"I miss you too, Louis. Jaga diri baik-baik ya? Kalau liburan kakak pulang."

"Um!"

"Love you."

"Too. Udah ah malu ada temennya kakak ini!" Louis baru sadar Sherlock memperhatikan interaksi mereka dengan intens.

Terdengar tawa di seberang sana. "Yaudah kasih ke Sherly sebentar."

"Okay." Louis menyerahkan teleponnya kepada Sherlock, menerka-nerka kira-kira apa yang mau dibicarakan. Tapi balasan Sherlock cuman gumaman dan ucapan 'Oke' 'Sip' dan sejenis itu.

"Tenang aja Liam. Bakal gue jaga bener-bener kok, janji gak macam-macam!"

"Kenapa?"

"Kita pulang sekarang. Obat lo udah ditebus kok. Bisa jalan? Mau digendong?"

Ingin hati menolak, tubuhnya langsung goyah ketika kaki menapak, membuatnya digendong di punggung Sherlock tanpa bisa menentang.

"Berat gak?"

"Mal nutrisi ada gunanya juga. Ringan kok, tanpa beban!"

"Yaudah jalan!" 

"Meluncur, Baginda!"

Louis menenggelamkan wajah karena malu di sepanjang jalan hingga mau tak mau indra penciumannya menghirup aroma tubuh Sherlock, yang anehnya membuat nyaman. Kepalanya masih sakit, jadi dia terus bungkam. Ternyata, Sherlock sudah memesan taksi yang sudah menunggu di pintu depan.

"Tidur dulu aja, ya? Nanti dibangunin. Rebahan aja. Gue di kursi depan ngejagain!"

Louis tidak banyak tingkah. Bagai janin di dalam rahim, dia meringkuk sebab badannya kembali terasa tidak nyaman di kursi belakang. Mengetahui fakta bahwa ada Sherlock yang menjaga membuat Louis terlelap dalam sekejap sembari berharap, semoga rasa sakitnya cepat hilang.

Ditambah, sisa aroma tubuh Sherlock membuatnya merasa aman.


Aroma gurih yang menggiurkan membuat Louis terbangun dari alam mimpi. Kepalanya yang ringan memberi kenikmatan tersendiri yang tidak dia duga, sekalipun tenaganya belum benar-benar pulih. Keadaan itu juga membuatnya sadar bahwa seragam kerjanya belum diganti--yang mana di satu sisi memberi kelegaan sebab artinya tidak ada yang macam-macam, sekaligus jengah.

Wajahnya merah.

Jadi semalam dia di klinik, digendong ke taksi, hingga sampai rumah dengan pakaian ini?!

Louis bergegas berganti pakaian dengan susah payah agar terlihat normal. Setelah mengenakan kaus dan celana santai selutut, menguncir rambut, dia berjalan ke dapur, menemukan Sherlock menyajikan dua porsi sup ayam di meja.

Sejak tadi malam, Sherlock memang menginap atas permintaan sang kakak.

"Saya gak nyangka kamu jago masak." Louis mengamati kuah di mangkoknya dengan binar kagum. Warna sayurnya cantik. 

"Gue tinggal sendiri," jelasnya. Louis menyendok kuah sup ke mulutnya. Dia memejam, mendesah nikmat. "Suka?"

Mengangguk, Louis menyendok lagi. "Enak."

"Habisin." 

"Kamu kok baik banget, sih?" Harusnya kan biarkan saja Louis ditinggalkan. Mana sampai dimasakkin pula. "Terus kok suka banget ke maid cafe? Gak ngasih tau siapa-siapa juga. Aneh."

"Hm." Sherlock duduk di hadapannya, ikut menyantap. "Kenapa ya?"

"Kok nanya balik?"

"Mau aja." Sherlock menyuap sesendok lagi. Louis mengamati pemuda itu, pakaiannya sudah ... rapi?

"Kok udah make seragam? Kapan diambilnya?"

"Tadi malam. Habis lo tidur."

Louis terpana. Matanya mengerjap beberapa saat. "Maaf ya, jadi ngerepotin." 

Hanya dibalas gumaman, Louis kembali menyendok. Rasanya ganjil, sungguh, berduaan dengan seorang pria di kediamannya. Tapi dia tidak merasa terancam sama sekali, apalagi setelah pagi ini Louis terbukti aman. 

"Kak Sherlock."

Hening.

Sherlock berhenti menyendok.

"Lo nyadar gak?"

"Apa?" Louis mengernyit. 

"Baru kali ini lo manggil nama gue. Bukan 'kamu' doang atau nama lengkap. Tapi nama panggilan."

"Eh?" Louis mengingat-ingat, dan sekalipun tidak tertangkap memori dia memanggil sosok di depannya dengan nama panggilan. "Wow."

"Louis."

"Kenapa malah ikut manggil nama saya?"

"Lah terus itu tadi kenapa manggil nama gue?"

"Kamu suka sama Frida atau Penny? Atau pelayan lain? Jangan-jangan justru Mbak Hudson?" 

"Lah kok ke sana?"

"Ya ... kan pertanyaan saya belum dijawab. Kok suka ke maid cafe?"

Delima dan Navy bertubrukan ketika Sherlock menjawab ringkas. "Mau aja." Lalu langsung bangkit dari kursi, meletakkan peralatan makan ke pantri.

Louis terheran-heran. Jawaban macam apa itu?

"Saya aja yang nyucinya! Biarin aja!"

"Liam nyuruh lo istirahat, sih. Nanti cuci punya lo sendiri aja." Sherlock menolak. Louis cemberut sembari menghabiskan sisa makanannya. Kalau sudah bawa-bawa si kakak dia tidak dapat melawan. Pikirannya berkelana.

Kayaknya suka sama kamu, deh. 

Kalian tu sama-sama menggantung pria yang ngejar-ngejar kalian

Gak gak gak gak gak. Mustahil! Masa, sih?! 

Dia mengamati punggung Sherlock yang sedang mencuci piring, kemudian menunduk cepat. Wajahnya panas....

"Louis."

"Ya?!" Kepalanya mendongak kilat.

Sherlock mengeluarkan dasi dari kantong celana, menyerahkannya. Kemudian dia bertumpu pada lutut, Louis menggeser posisi duduknya di kursi sehingga mereka berhadapan. "Bantuin?"

"...." Kikuk, dia pakaikan dasi itu membuat lengannya melingkari Sherlock untuk menyelipkan dasi di bawah kerah. Ini kali kedua, dan posisi ini jauh lebih canggung dari yang pertama membuat jantung Louis berdetak tak karuan. Terlebih setelah pemikiran tadi menyerang.

Tapi, wajahnya anteng banget! Kalau suka ke saya mah gak mungkin gitu! Louis merasionalkan pikiran.

Dia dengan cepat menyelesaikan tugasnya, mengikat dasi dan setelah rapi langsung berbalik lagi ke meja makan. Menyendok makanan yang tersisa. 

"Gue pergi ya. Istirahat yang bener! Nanti sore balik!" Sherlock mengacak rambutnya sebelum pergi begitu saja dengan jas yang tersampir di bahu. Tangan Louis reflek menyentuh puncak kepalanya.

Kebiasaan itu ... sudah dari lama, kan?

Kenapa baru sekarang membuatnya merah padam?!

"Kakak, kenapa kejam banget, sih, nyuruh dia ngejaga aku?" keluh Louis nelangsa.


Ini hari Senin. Louis yang sudah beristirahat total lima hari karena dia mulai izin di hari Rabu--di mana Sabtu dan Minggu dia diberi titah untuk tetap libur baik dari pihak kerja sambilannya dan dari sang kakak--kini datang pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Seperti biasa, dia membuka loker dan kali ini menemukan susu rasa Regal. Surat di bawah susu adalah incaran Louis yang pertama. Ada stiker bunga daffodil di pojok kanan atas.

Bunga daffodil melambangkan semangat baru. Di Jepang, melambangkan kebahagiaan, sementara Prancis melambangkan harapan. Kamu sudah beristirahat cukup lama, jadi aku harap mulai hari ini semangat baru itu hadir untuk menuntaskan segala kewajiban.

Juga, dilimpahi kebahagiaan.

Ps. Jangan lupa makan siang.

Louis mengambil kertas kecil menuliskan balasan. Ini kali pertama dia melakukannya.

Terima kasih. Tapi, kapan saya bisa tahu kamu siapa?

Louis letakkan kertas itu di tempat terlihat. Entah kapan orang itu akan mengambilnya, Louis tidak tahu. Yang jelas, ini langkah awalnya untuk mengenal.


"Maaf banget ya Fred malah kamu yang ngurus banyak hal dan gantiin saya."

Fred menggeleng. "Tidak masalah. Baru kali ini ketua sakit, semuanya jadi khawatir dan bekerja keras."

"Herder, peralatan yang diperluin buat acara udah dilist semua?"

"Sudah! Beres!" Herder menjawab semangat. "Kertasnya ada di meja. Tinggal diperiksa!"

"Kak Moran?"

"Tenang. Urusan selebaran udah tahap final, kok. Sebenarnya semua udah sepakat, tinggal nunggu persetujuan. Ada di meja juga."

"Dekor?"

"Konsepnya juga di meja."

"Oh iya, jurnal yang kemarin salah juga sudah dibetulkan oleh divisi keuangan. Katanya biar gak nambah beban ketua."

Louis terpana. Dia tidak dapat menahan senyuman, "Kalian semua, makasih ya? Maaf saya justru tumbang di saat penting kayak gini.... Acaranya tinggal dua minggu lagi padahal...."

"Jangan sampai sakit lagi. Gak seru gaada yang ngomelin!" komentar Herder jenaka. Louis tertawa.

"Yaudah, semangat persiapan festivalnya!" 

Louis memeriksa semua pekerjaan anak OSIS itu. Semuanya cukup bagus, hanya perlu sedikit perbaikan dan diskusi singkat untuk mengubah beberapa hal. Setiap kelas juga mulai memberikan proposal kegiatan mereka selama festival berlangsung. Louis memeriksanya dengan seksama, menyetujui yang masuk akal dan menolak beberapa karena konsepnya ... absurd.

Setiap klub juga membuat acara mereka sendiri. Louis membayangkan sang kakak berada di posisinya, memilah nang mana yang dapat diterima, dan nan tidak. Setelah beristirahat panjang pekerjaannya terasa jauh lebih efektif.

Dan Louis begitu bersyukur sebab diberikan anggota yang suportif.


"Bahagia banget mukanya."

"Kak Sherlock?!" Louis terjengit. Sherlock tahu-tahu turun dari atas pohon ketika ia melewati taman. "Kalau jatuh gimana?!"

"Udah biasa." Sherlock memasang jas, kemudian bersisian di sebelahnya. "Kenapa?"

"Bahagia aja udah bisa sekolah dan ngerjain kegiatan kayak biasa."

"Orang bahagia kalau libur, lo malah bahagianya waktu sibuk." Sherlock tidak habis pikir.

"Saya cuman pengen berguna, terus bikin kakak bangga." Sebab hanya William yang dia punya. Ketika kedua orang tuanya meninggal, ada warisan uang dan sebuah rumah yang saat ini dia tinggali. Hanya saja Louis mendadak sakit dan harus dioperasi dengan biaya cukup mahal. Uang peninggalan orang tua mereka tanpa ragu digunakan hingga tersisa sedikit dan William harus bekerja ekstra. Andai Louis tidak jatuh sakit waktu itu, sang kakak tidak perlu bekerja ekstra. Tapi kakaknya itu tidak sekalipun mengeluhkannya. Makanya, Louis bersikeras untuk bekerja. "Saya bangga banget punya kakak kayak dia, maka satu-satunya impian saya itu bikin dia ngerasain hal serupa," tutupnya. Louis tidak paham kenapa begitu terbuka pada orang di sampingnya.

"Gue yakin Liam bangga banget sama lo. Masalah sakit itu bukan kehendak lo, Louis," tanggap Sherlock. "Dan lo mirip banget kayak dia, sama hebatnya."

Ujaran itu menghangatkan hatinya. Louis menunduk, memperbaiki posisi kacamata seraya berbisik, "Terima kasih."

Sherlock menggumam saja. Louis merasa aneh dengan semua ini. Dia lalu memperhatikan penampiln kakak kelasnya. "Kamu kok beda?"

"Apanya, Lou?"

"Itu, dulu make ikat pinggang aja susah banget. Sekarang pakaiannya lengkap? Jarang bikin ulah juga...."

"Salah nih gue?"

"Enggak kok!" Louis menggeleng, "cuman, aneh aja. Tobat karena mau lulus?"

"Mungkin." Sherlock menasukkan tangan ke kantong celana. "Sekalian biar lo gak kecapean ngomelin gue mulu."

"Hah?" Langkah Louis terhenti. Entah karena dia sudah sampai di depan kelas, atau karena ucapan Sherlock, Louis tidak tahu sebab pastinya.

Sherlock mengacak rambutnya, lagi. "Udah sana masuk kelas." Kakak kelasnya itu tersenyum dan pergi begitu saja meninggalkan Louis yang mematung menatapi punggungnya.

Wajah Louis kembali panas, sebab tindakan Sherlock membuat tidak hanya satu, tapi dua hal dari diri Louis jadi berantakan. Dia bisa saja merapikan kunciran di kepala, tapi tidak dengan hatinya.


"Kawaii cheesecake dan pika pika parfraits rasa chocobanana telah tiba. Mohon maaf menunggu lama, Goshujin-sama."

Setelah membungkuk pada pria di depannya, Louis berniat pergi ke meja lain namun tertahan. "Kau."

"Ya?"

"Minta nomor ponselmu."

"Maaf?" tanyanya.

"Berapa biayamu?"

"Biaya?" Alis Louis mengkerut dan sekejap matanya membelalak. Bisa-bisanya. "Maaf, tapi Anda salah paham. Saya tidak melakukan hal yang seperti itu, tidak ada pelayan di sini yang melakukan itu," jawabnya sesopan mungkin.

"Aku bisa membayar mahal tenang saja."

"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda pergi."

Darah Louis benar-benar mendidih sekarang. Andai bukan di tempat kerja, dia akan menghajar pria di depannya sampai habis.

"Alasan, kalian semua sama saja, biasanya membuka jasa sebagai sugar baby atau jasa semalam kan? Ayolah Nona, kau benar-benar seleraku. Berapa yang kau minta?" Pria itu berdiri di depannya.

"Anda salah paham." Wajahnya bahkan tidak bisa lagi tersenyum. "Saya persilakan Anda untuk pergi, Tuan."

Louis menjauh pergi, tapi pria berumur 30-an itu tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dari belakang secara kurang ajar dan kasar sembari becurap, "Jangan jual mahal, Jalang!"

Mata Louis membola. Kesabarannya benar-benar habis membuatnya dia bersiap langsung menghajar pria ini hingga--

BUAGH. DBAM

--Badan Louis sedikit terhuyung ketika pegangan di pinggang secara paksa terlepas dan pelaku sudah jatuh menghantam kursi dan meja. Adalah Sherlock Holmes yang saat ini masih meninju wajah pria beberapa kali dan menahan kerahnya.

"Berani sekali kau bocah! Kau tidak tahu siapa aku?!"

"Siapapun kau aku tidak peduli bajingan! Berani kau sentuh dia lagi, atau melangkahkan kaki ke sini, aku akan menghabisimu." Sherlock mendesis murka. 

"Aku bisa menuntutmu!"

"Oh coba saja. Kakakku, Mycroft Holmes, adalah kepala kepolisian di negeri ini jadi jika kau berani menuntut sudah pasti kau yang akan masuk penjara."

Sherlock berniat melayangkan tinju lagi ketika Louis menahannya. Jantungnya berdetak cepat karena shock dan adrenalin, juga panik jika Sherlock menyakiti pria ini terlalu parah. Baru pertama kali kakak kelasnya ini murka. "Kak Sher, udah."

"Dia--"

"Aku tau. Udah. Sana." Louis bersikeras. Sherlock menjauh dari korbannya dan kali ini Louis berdiri di hadapannya. Pria itu babak belur. Louis menatapnya tajam.

"Berani Anda kembali ke sini, atau ada di hadapan saya di luar sana--yang mana saya harap tidak--bukan hanya dia, tapi saya juga akan memukuli Anda." Louid menarik napas dalam dan--

DUG

"AARGGH."

--Louis menendang selangkangan pria itu sekuat tenaga. "Sebaiknya Anda pergi, Tuan. Di sini tidak ada pelayan yang menjual diri."

Pria itu pergi tertatih tanpa berucap apa-apa. Napas Louis yang tertahan kini dihembuskan. Dia menatap sekeliling dan baru sadar menjadi pusat perhatian. Tentu saja, mana mungkin orang-orang abai, kan?

Meja dan kursi yang terbalik itu berniat dia rapikan tapi Moneypenny dan Frida langsung memeluknya. Hudson menghampiri khawatir. Pelayan yang lain juga mengerumuni. "Louis, gak papa?"

"Gak papa, Mbak. Frida jangan nangis...." Louis mengelus kepala temannya yang justru terisak, lalu menatap Hudson. "Maaf ya aku malah bikin keributan. Maafin Kak Sherlock juga."

"Enggak gak gak, dia pantas kok!" Hudson menggeleng. "Manajer juga pasti gak masalah. Emang orang itu aja yang bajingan!"

"Kamu mending istirahat, deh. Pasti shock, kan?" Moneypenny melepas pelukannya. "Biar kita aja yang ngerapiin."

Louis mengangguk lemah. 

"Sherlock, makasih udah bantu, temenin Louis ya?"

Sherlock mengangguk tanpa suara. Wajahnya masih kaku. Louis melangkah lesu menuju ruangan staff diikuti Sherlock di belakangnya. Dia marah, kesal, dongkol, jengkel, ingin mengamuk, memukuli pria kurang ajar itu lagi andai bisa.

Louis bisa saja melindungi diri, tapi bagaimana jika orang lain yang mengalaminya? Bagaimana jika, jika mereka tidak punya 'Sherlock' di hidupnya? Yang langsung sigap membantu ketika Louis sesaat kehilangan akal sebab terlalu terkejut?

Bicara tentang Sherlock, sosok itu benar-benar tidak berucap apa-apa. Mereka diam duduk berdampingan. Louis baru sadar tubuhnya bergetar. Walau tidak kenapa-kenapa, tetap saja mengesalkan. 

"Makasih ya." Tidak ada jawaban. Wajah Sherlock masih sangat keras, tapi juga penuh kekhawatiran ketika Louis menoleh. "Kak Sherlock?"

Lo... beneran gak kenapa-kenapa?" Suara Sherlock agak serak, seakan menahan sesuatu, semacam amarah?

"Saya kesal." Louis mendesah. "Marah juga. Maksudnya, di angkutan umum, di jalan, memang sering kayak gini, saya bisa aja mengatasinya. Tapi di tempat kerja? Bahkan di tempat kerja?"

Ekspresi Sherlock melunak kali ini. "Maaf."

"Bukan salah kamu. Tapi kenapa sih mereka gak bisa ngehargain orang lain? Saya menolak sopan, justru dipaksa. Dia ngatain saya! Andai bisa mau saya cabik-cabik mukanya, mau saja hajar, mau saya--" Louis mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar marah.

"Badan lo gemetar."

Karena amarahnya benar-benar besar sekarang. Bagaimana jika orang itu Frida? Gadis cerita itu tidak pantas diperlakukan demikian. Atau Penny? Rekan kerjanya yang lain? 

"Louis...." Sherlock tampak ragu. "Boleh gue megang tangan lo?"

Louis menoleh, kaku. "Kenapa?"

"Mau gue pegang." Yang Louis tidak mengerti, kenapa Sherlock meminta izinnya? Bukankah selama ini dia sering memegang tangan Louis seenaknya? Dan Sherlock menjawab tanyanya. "Siapa tahu lo gak nyaman."

Dia terpana. 

"Boleh kok." 

Sherlock memegang pergelangan tangan kanannya. 

"Hadap sini coba." Louis bingung, tapi mengubah posisi duduk menghadap kanan dan bersila, hingga Sherlock berhadapan dengannya. Tangannya yang lain dipegang lagi, digerakkan, hingga kedua telapak tangan Louis didekatkan sampai bersentuhan seperti saat berdoa. Lalu, si kakak kelas membungkusnya dalam genggaman tangannya yang jauh lebih besar.

"Ngapain?"

Tak urung, gemetarnya mereda.

"Mau gue peluk, tapi takut lo trauma. Jadi gini aja."

Mata mereka saling menatap, kekhawatiran itu masih tercetak jelas pada kedua bola mata Sherlock yang menenggelamkan, dan senyum lembutnya membuat pipi Louis sedikit memanas. Ingin dirinya menyanggah bahwa dipeluk pun tidak masalah, tapi terlalu malu untuk mengungkap. Maka Louis memilih menyandarkan diri ke samping, ke sandaran sofa, memejamkan mata sembari menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dia berbisik, "Sekarang saya udah baik-baik aja. Makasih ya."

Entah hanya perasaannya, atau suara Sherlock memang terlampau lembut ketika kali ini bicara. "Sama-sama." 


Keseharian Louis masih sama padatnya. Festival sekolah sisa dua hari lagi. Prestasi akademik juga harus dijaga demi mendapat potongan biaya sekolah tiap bulannya. Jadi Louis fokus pada itu semua.

Louis juga bekerja sambilan seperti biasanya. Sherlock Holmes juga datang seperti sebelum-sebelumnya. Semua sama, kecuali rentetan pesan William mengingatkannya jadwal makan tanpa absen, serta ... perasaannya.

Dia tidak bodoh, ayolah.

Hanya saja Louis bimbang, sebab dia juga menyukai sosok yang senang memberinya susu kotak dan roti, serta enam pesan singkat sejauh ini.

Walau Louis tidak tahu siapa pengirimnya, tetap saja dia menyukai sosok itu terlebih dahulu, sosok yang menyukainya sejak lama--tapi terlalu takut menampakkan dirinya. Sementara Sherlock ... kakak kelasnya itu, Louis tidak tahu bagaimana perasaannya? Tapi, kalau perkataan teman-temannya benar bahwa Sherlock mungkin menyukainya, Louis juga bimbang. 

Bagaimana jika Sherlock menyukainya di balik seragam kerja saja? Saat ketika Louis menggerai rambutnya, tidak memakai kacamata, serta menyamarkan bekas luka bakar di pipi kanan?

Ketika Louis ... tidak menjadi dirinya?

Itu pun, kalau Sherlock memang suka.

Louis membaca lagi catatan yang kali ini dia bawa di dompet. Surat ke lima Louis dapatkan bersama susu rasa leci berisi :

Aku tidak suka astronomi, tapi aku tahu Sirius, bintang yang paling terang. Ketika melihatnya di langit malam, sosokmu lah yang terlukiskan.

Bintang tidak bersinar begitu saja untuk menjadi terang, dia terbakar, di mana kerja keras yang kau lakukan selama ini menjadikanmu berkilauan.

Kamu, bagiku, bagai kirana paling benderang di kanvas langit biru malam.

(Secepatnya?)

Louis membalas pesan itu.

Kamu berlebihan. Saya tidak semegah itu untuk disamakan dengan bintang. Tapi, terima kasih.

Dan secepatnya itu kapan? Saya sedang bimbang. 

Lalu balasan yang dia dapatkan bersamaan dengan sekotak susu tanpa varian rasa, susu original dan roti dia baca berulang.

Aku memang menyukai cahaya saat kamu terbakar. Tapi jangan sampai berlebihan hingga kehabisan bahan bakar. 

Sebab, dari yang kubaca, bintang yang kehabisan bahan bakar nuklir akan menghasilkan ledakan Supernova, yang meskipun cantik, akan membuat sang bintang mati. 

Kamu sudah tumbang sekali. Kali ini jangan menjadi bintang mati.

(Bimbang terhadap apa?)

Dan Louis membalasnya lagi.

Sepertinya saya menyukai seseorang. Kalau kamu terlalu lama bersembunyi, mungkin, kegiatan ini nanti harus berhenti.

Belum ada balasan hari ini. Louis mendesah. Dia memeriksa pekerjaan terakhirnya dan pergi sebab harus bekerja lagi.


"Louis."

"Iya?" 

"Ingat gak janji lo buat nurutin satu permintaan gue?" Sepulang bekerja, Sherlock menemaninya pulang seperti biasa. Mereka baru turun dari kereta.

"Ingat kok, jadi maunya apa? Kalau ngerugiin atau aneh-aneh gak diterima."

Sherlock terkekeh. "Normal kok."

"Jadi?"

"Waktu luang lo di festival sekolah, buat gue ya?" Alis Louis naik, dia bingung. Sherlock melanjutkan, "Temenin gue nikmatin festival?"

"Itu doang?"

"Iya." Mereka berhenti di pertigaan, Sherlock harus belok kanan di saat Louis memilih jalan lurus. "Gimana?"

Louis mengangguk. "Beneran itu doang?"

Sherlock mengangguk mantap. "Nanti, pukul 11 temuin gue di depan lab kimia."

"Okay...?" 

Louis memejam ketika Sherlock mengacak rambutnya seperti biasa. Matanya memandang punggung Sherlock ketika terbuka, Louis mendesah merasakan debaran jantung seraya menatap bintang.

Sepertinya, dia harus berhenti menerima susu dan roti dari luang lokernya.


Louis sudah menyiapkan catatan panjang berisi permintaan maaf ketika susu coklat dan roti melon bertengger manis. Louis menjauhkan keduanya dan mengambil sebuah surat--yang anehnya, kali ini ada di dalam amplop--dengan cepat. Louis membacanya, kata demi kata.

Aku sudah mengenalmu sejak lama, setidaknya dari cerita. Aku pikir, kamu berperangai manis dan lemah lembut dari kisah yang kuterima. Hanya saja ketika kamu berdiri menatapku dengan tajam, aku sadar, sisimu yang itu ternyata tidak bisa dilihat seenaknya.

Kamu tegas, keras, ucapanmu tidak jarang pedas, tapi kepedulianmu pada sekitar pun tidak dapat dipandang sebelah mata, aku ingat pagi ketika kamu menyerahkan susu kotak dan roti yang baru dibeli kepada seorang anak jalanan.

Lalu, yang kutahu, kamu tidak jadi sarapan, tapi kamu justru tersenyum manis padanya dan pergi begitu saja setelah menyerahkan beberapa lembar uang. Kuperhatikan, seharian itu kamu tidak makan, saat ketika kakakmu sedang ikut lomba di luar kota. 

Kata dia, kamu selalu peduli pada kesehatannya, tapi kenapa kepada dirimu sendiri tidak demikian?

Sepertinya, itu awal mula aku merasakan sesuatu di dada.

Kamu pekerja keras, demi mengejar sosok yang begitu kamu puja. Aku selalu memandangimu yang tidak sengaja terlelap ketika terlalu banyak bekerja. Walau singkat, apa kamu tahu wajah cantikmu begitu damai hingga berkali-kali aku merasa ada di nirwana?

Louis, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Aku lebih suka berkencan dengan bahan kimia, makanya caraku mendekatimu seperti bocah TK. Maaf, membuat amarahmu memuncak setiap kali kita berjumpa, tapi sungguhan, aku tidak tahu cara menyapa gadis yang kusuka dengan cara biasa.

Aku malu. Tapi tahu caraku mendekat justru membuatmu tidak suka. Karenanya aku diam-diam mengirimi susu kotak dan roti di loker, sebagai penggemar rahasia.

Louis, kamu mungkin tidak sadar, tapi sejak awal mula aku melampirkan catatan di kali pertama, itu adalah caraku mengungkap identitas. Awalnya, aku ingin menunggu hingga 14 catatan, tapi surat terakhirmu membuatku panik tidak karuan.

Jadi, bisa kamu tebak besok susu yang kuberi rasa apa?

Louis duduk bersandar di depan lokernya. Mulutnya kehabisan kata, wajahnya sangat panas karena aliran darah yang terpompa. Dia memandang susu rasa coklat itu, tanpa menebak pun, dia tahu siapa pengirim itu. Hanya saja otaknya mengingat-ingat.

Dari susu Strawberry, ketika orang itu pertama kali tahu rahasianya. Surat kedua bersamaan dengan Hazelnut. Susu ketiga agak ganjil, karena alih-alih susu kotak, yang dia dapat justru varian Earl grey di botol kaca. Harusnya dia sadar ada yang aneh sebab hanya sekali dia mendapatkan yang bukan kemasan kotak. 

Selanjutnya rasa Regal, setelah dia diisolasi dari segala kesibukan yang mana sosok itu menuliskan bahwa Daffodil adalah semangat baru, tepat setelah Louis beristirahat lama. Isi suratnya saja sudah menjadi petunjuk! Berikutnya Leci, Original, dan sekarang Coklat.

Varian susu apa yang berawalan huruf K? Otaknya menebak-nebak.

Louis ingin langsung mencari Sherlock detik ini juga, tetapi Fred justru datang dan mengatakan ada masalah kecil terkait panggung utama hingga Louis harus mengesampingkan perasaannya. Lagipula, dia tidak yakin sanggup bersitatap dengan pemilik surai biru gelap itu detik ini juga.

"Ketua sakit?"

"Huh? Kenapa Fred?"

"Tidak. Wajahmu merah, aku takut Ketua jatuh sakit lagi."

Louis menggeleng cepat. Berusaha bersikap sewajar mungkin. "Saya sehat. Ayo semangat persiapannya!"

Louis sungguhan tidak sabar menunggu festival tiba, tapi kali ini dikarenakan alasan yang berbeda.


Hari yang ditunggu sudah tiba. Festival sekolah dilaksanakan dengan meriah membuat Louis sedikit banyak bangga melihat banyak raut kesenangan dari para siswa dan tamu yang tiba. Louis melayani pelanggan kelasnya dengan sigap membuat teman-temannya terpana akan keluwesannya.

Dengan ironisnya anak kelas menentukan Maid Cafe sebagai persembahan. Louis tidak dapat menolak saat semua orang setuju begitu saja. 

"Kenapa saya gak dibolehin masak, sih?!"

"Fans kamu itu banyak tahu. Biar rame tentunya!" Salah satu temannya, Kate, bergurau. 

"Mana ada!" Siapa pula yang mau pada gadis sepertinya? Apalagi wajahnya ada bekas luka bakar yang sering dia sembunyikan di balik helaian poni.

Senyum menyebalkan mendadak terlintas di benak membuat wajah Louis merona.

"Banyak, cuman gaada yang berani aja. Rumornya sih waktu kelas 10 kakak kamu ngancam siapapun yang berani ganggu kamu gitu pas pertama kali dia nemu surat buat kamu."

"Sumpah?!" Louis bahkan tidak tahu.

"Iya, jangan sampai kamu tau juga. Sejak itu gaada yang berani lagi kirim-kirim surat."

Pengaruh sebesar apa yang dimiliki William hingga dampaknya sedemikian rupa? Louis terlalu kaget hingga tidak dapat berkata-kata.

"Terus Kak William gimana kabarnya, Louis?"

"Sibuk." Louis meringis. Kakaknya itu memang berjuta penggemarnya. Entah apa yang menyebabkannya tidak punya pacar hingga sekarang.

Louis menatap arloji di tangan. Belum saatnya.

"Nungguin apa, sih?"

"Gak ada, kok!" Louis langsung menghindar dan melayani salah satu pelanggan. 

Satu jam lagi. Dia sungguhan tidak sabar.


Louis berdiri canggung di depan laboratorium kimia yang sepi sebab tidak ada yang memakai tempat ini. Pakaiannya sudah berganti normal dengan seragam sementara tangannya memegang paperbag mini.

Detakan jantungnya tidak karuan selagi menunggu  Sherlock Holmes datang. Tidak henti Louis menggigit bibir sembari menatap sepatu sekolah. 

Sebentar lagi....

"Louis."

Dia terperanjat. Wajahnya merah padam ketika sepatu Sherlock ada di depannya, dia menatap sepatu pria di hadapannya, terlalu malu untuk mendongak.

"Louis James Moriarty, ayo dong, jangan nunduk gini."

"Saya malu banget seka--EH--" Louis refleks menutup mulut akibat keceplosan. Dia menunggu Sherlock menertawakan, tapi tidak ada suara hingga takut-takut Louis mendongak, hanya untuk menemukan wajah Sherlock yang sama merahnya menatap ke arah lain.

Terlihat bulir keringat di pelipisnya. 

Bukti bahwa mereka sama gugupnya.

"Gue juga," balas Sherlock lemah.

Louis mengulum senyum, tingkah Sherlock sedikit menenangkannya. "Jadi?"

"Varian susu hari ini apa?" Sherlock menatapnya lembut.

Louis tertawa kecil akan pertanyaan itu. "Karamel?"

Sherlock menampakkan sekotak susu karamel dan roti coklat yang sejak tadi disembunyikan di belakang badan. "Seratus buat ketua kita. Karena benar, kita resmi pacaran ya?"

"KOK GITU BANGET NEMBAKNYA?!" 

Mata Sherlock membola. "Jadi bakal diterima? Soal suka sama orang itu ... siapa?"

Louis membuang muka. "Menurutmu siapa?"

Melihat gelagatnya, Sherlock langsung tersadar. "Jadi orang yang lo suka itu ... gue?"

Louis mengangguk kikuk. "Terus saya gak nyangka kamu di balik ini semua?"

"Lah? Padahal banyak clue-nya."

"Tetep aja, kamu di situ itu ... apa ya? Tulisannya rapi banget. Yang saya lihat di buku catatan lebih parah dari dokter. Jadi ya ... yagitu. Mana kata-katanya bukan kamu banget."

"Nyesel?"

"Kamu tahu saingan kamu siapa kan?

Sherlock tertawa. "Jadi enggak?"

"Hm." Louis mengangguk. "Seneng," bisiknya. Dia mengambil susu kotak dan roti itu. "Gaada suratnya?"

"Masuk dulu." Sherlock menarik lengannya ke dalam laborarotium. Louis mengikuti, ketika pintu ditutup, dia duduk di salah satu kursi. Tidak ada yang aneh di ruangan ini ketika menatap ke sekeliling.

"Ngapain di sini?"

"Lo gak mikir cara nembaknya gitu doang beneran kan?"

"Kalau itu kamu ya ... bisa aja, sih."

Terdengar helaan napas, Sherlock cemberut.

"Jadi mau apa di sini?" tanya Louis, penasaran. Jantungnya masih berdetak kencang tapi kecanggungan tidak lagi begitu kental.

"Gu--aku bingung mau gimana." Sherlock berlutut, dia menarik oksigen dalam. Louis ikut menahan napas ketika mata biru bagai dalamnya samudra itu menusuknya.

"Ini salah satu ruangan kesukaanku. Tempat aku biasanya menghabiskan waktu sama eksperimenku. Maka di depan semua teman kencanku, aku mau bilang, kamu lebih berharga dibanding baru terlangka di dunia. Kamu kuat seperti bambu, bagaimanapun keadaanmu, pakaian apapun yang menempel di tubuhmu, tidak mengubah faktanya. Dan kamulah bintang yang menghiasi kanvas antariksaku.

"Tapi bambu juga bisa tumbang. Bintang bisa meledak jika kehabisan bahan bakar. Dan kamu adalah sosok yang seringkali lupa peduli pada diri sendiri, walau perhatianmu begitu besar pada yang dikasihi. 

"Aku ingin menjagamu, menjadikanmu bagian dari hidupku, memastikan bahwa kamu tidak lagi terlalu keras pada dirimu sendiri. Dan aku yakin kamu akan menjagaku. Makanya, Louis James Moriarty, mau jadi pacarku?"

Mata Louis berkaca-kaca. Ungkapan Sherlock benar-benar membuatnya kehilangan suara. Tanpa ragu dia mengangguk, membiarkan Sherlock merengkuhnya ke dalam sebuah peluk.

Dapat dia dengar detakan jantung pria yang lebih tua itu tidak beraturan, sama sepertinya, begitu cepat. Louis mengulangi ungkapan Sherlock tadi dalam benak, senyumannya terbit. "Kamu ... kayak mau lamaran tau gak, sih?"

"Aku gak tahu gimana kedepannya, tapi aku gaada rencana putus dari kamu. Kalau kamu suka, nanti aku ulang pas sesi lamaran di hadapan Liam."

"Kerja dulu! Masih lama!"

Sherlock tertawa, sementara wajah Louis semakin merona. "Habis ini apa?"

"Apanya?"

"Aku ... gak pernah pacaran." Louis berucap pelan. "Jadi gimana?"

"Aku juga sih." Sherlock melepas pelukan mereka. Keduanya kikuk "Jalanin aja?"

Louis mengangguk. Dia teringat paperbagnya. "Kak Sher, aku punya sesuatu. Tapi buat suratnya baca di rumah aja!"

Sherlock membukanya. "Ini bekal?"

"Padahal lagi ada festival, aku malah bikin bekal...." Louis merutuki kebodohannya sendiri. "Tapi aku mau ngasih sesuatu yang spesial."

"Ini pertama kalinya kamu masak buat aku, kan? Jadi iya, ini spesial." Sherlock menduduki kursi di hadapannya, lalu membuka kotaknya dan menyuap sesendok. "Enak."

"Langsung dimakan?!"

"Aku belum sarapan." Sherlock menyendok lagi. "Mau?" 

Louis menggeleng. Dia sudah senang melihat Sherlock yang lahap.

"Aaaa." Sherlock menyodorkan sendok.

"Apaan sih? Malu!"

"Gak ada siapa-siapa ini. Ayok makan juga."

Wajah Louis kembali merah. Namun mulutnya terbuka juga menyantap ayam teriyaki itu.

"Enak gak Lou?"

"Ini kan masakan aku!" jawabnya setelah menelan.

"Tau. Tapi pas disuapin pacar gimana rasanya? Makin enak?"

Astaga!

Louis tertawa kecil. "Kok geli."

"Sama, sih. Aneh ya ngegombal." Sherlock mengangguk-angguk. "Habis ini keliling festival bareng ya?"

Mengangguk menyetujui, Louis menyuap lagi.

Selagi mengunyah, benaknya menyetujui bahwa karena disuapi Sherlock, rasanya memang jauh lebih enak.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Selain pertengkaran, interaksi Sherlock dan Louis memang jarang. Louis lebih sering menghabiskan waktu pada semua kegiatannya, sementara Sherlock mendekam di laboratorium kimia, atau tidur di mana yang dia bisa. Pertemuan dua orang itu lebih sering dihabiskan di tempat Louis bekerja, bukannya di lingkungan sekolah.

Maka ketika tangan keduanya saling bertaut, tidak heran semua orang, terlebih kelakuan dua insan itu benar-benar tampak menggemaskan. Kapan lagi melihat dua orang pacaran dengan wajah yang sama-sama merona merah? 

Hanya saja, pertanyaan yang terus tertanam di benak semua orang adalah, sejak kapan?

"Louis! Sherlock!" 

"Louiii! Ada Sherlock juga! Hai!"

"Woy Sherly!"

Keduanya menoleh. Di sana ada Frida dengan pacarnya Lucien, dan Hudson bergandengan tangan dengan Bond membuat Louis membelalak sebab tidak menyangka rekan kerjanya menghadiri undangannya.

"Mbak Hudson, udah jadian?" tanya Louis.

"Kemaren Bond mohon-mohon jadi pacarku, dia gedor-gedor pintu rumah habis keliatan ngegodain cewek. Yaudah, karena kasian ya aku terima."

"Itu cuman bercanda dibilang!" Bond cemberut.

"Iya percaya. Makanya ini udah jadian kan?" 

"Galak banget sih." Louis tersenyum melihat Bond merangkul Hudson dan tidak ada gerakan penolakan. Sherlock memberi ucapan selamat.

"Loui? Udah resmi sama Sherlock nih akhirnya?" Frida bertanya.

"Ah itu...." Louis mengangguk malu.

"Selamat ya kalian juga." Moneypenny tahu-tahu hadir. "Padahal kemarin bilang mustahil dan sejenisnya."

"Ya soalnya dia emang nyebelin!" 

"Louis, aku di sini loh."

"Itu fakta!"

"Kalian tu gemesin banget tau dari belakang."" Frida yang menggandeng tangan Lucien erat, terkekeh. "Lucu banget ya pacaran anak SMA."

Ah, memang hanya Louis yang paling muda. Sisanya sudah kuliah atau lebih tua. Semua orang menyelamati lagi membuat Louis malu sendiri.

"Kamu sama siapa, Pen?" Louis bertanya pada Moneypenny. Masa iya dia oke saja diajak dua pasangan yang bermesraan?

"Ah itu, sama ... Pak Albert."

"Eh?" Louis terbelalak saat mendengar nama manajer mereka. "Sejak kapan?"

"Udah dari lama, sih. Cuman diam-diam aja. Jangan kasih tau yang lain ya?"

Ini ... berita yang tidak terduga.

"Louis! Kamu ngurusin festival ini ya? Seru juga ternyata." Albert tahu-tahu muncul dan bersuara. "Tapi di sini gaada anggur merah ya?"

"Pak Albert, ini festival sekolah anak SMA." Hudson menggeleng tidak habis pikir. Pria bersurai coklat itu tertawa.

"Sher, suruh pacarmu jadi modelku dong? Udah dari lama aku minta ditolak mulu."

Louis menggeleng. "Saya gak pede. Gak ada waktu juga."

"Yah padahal bayarannya lumayan tahu!"

Mereka terus mengobrol beberapa saat, mengatakan betapa menyenangkannya festival kali ini. Louis merasa senang mendengarnya, usahanya bersama teman-temannya tidak sia-sia. Hingga beberapa menit berlalu semua orang pamit untuk berkeliling sendiri-sendiri dan Louis mengucap rasa terima kasih yang dalam melepas mereka.

"Senang?"

"Banget." Louis bersender ke bahu Sherlock. "Gak nyangka aja. Tapi yah, tetep aja ada yang kurang"

Dapat Louis rasakan Sherlock merangkulnya. Dia abai pada setiap pasang mata, membiarkan semua orang tahu hubungan mereka. Ini membuatnya senang. Namun demikian, Louis ingin sang kakak melihat hasil usahanya....

"Rame banget ya di sana. Ada apa, sih?" 

Mata Louis memicing, tidak ada stand yang spesial di sana. Dia menegakkan kepala dan matanya seketika membola menemukan pemuda berambut pirang, dengan mata semerah darah keluar dari kerumunan dan berjalan ke arahnya. Spontan Louis melepaskan rangkulan Sherlock dan berlari.

"KAKAK!"

William menyambut pelukannya seraya tertawa. "Manja banget sih? Kamu dicariin dari tadi baru ketemu."

"Kok gak bilang mau datang?" 

"Kejutan!" Louis tertawa ketika pelukannya dipererat. "Kakak kangen banget sama kamu."

"Louis juga kangen kakak."

"Baru aja pacaran udah dilupain, sabar aku mah." Sherlock mengeluh di belakang sana dengan nada jenaka. Louis spontan menoleh.

Rasa panik menyerang. "Eh, um, Kak...." 

"Ingat ya, Sher, dijagain Louisnya." William tahu-tahu bersuara.

"Kakak tahu?!"

"Kamu pikir dari mana Sherly tahu pin loker kamu? Dia minta izin dulu, Sayang."

"Gimana?!"

Jadi ... William sudah tahu semuanya?

Louis tidak dapat bereaksi ketika Sherlock merangkulnya. "Tenang Liam! Makasih ya restunya!"

"Louis...." William menyentuh pundaknya, menatap dengan sorot hangat. "Kerja bagus, kakak bangga banget sama kamu, sayang. Makasih, karena jadi adeknya kakak. Makasih, karena terus berusaha keras selama sendirian."

Rangkulan Sherlock semakin erat. Dia menoleh ke arah sang kekasih yang juga tersenyum hangat. Hati Louis merekah akan suka cita, juga haru yang luar biasa. Sebab William hari ini datang, mengucap kebanggaan dan rasa terima kasih yang dalam karena keberadaannya, kerja kerasnya. Bersamaan dengan Sherlock yang kini resmi menjadi bagian penting dalam dunia kecilnya.

Hari ini, Louis benar-benar bahagia.


Kepada Sherlock Holmes, 

Sebagai pembuka, kata 'Aku' akan digunakan ketika aku berbicara pada sosok yang kuanggap sangat berharga, dan itu adalah Kakak. Saat membaca surat ini, hubungan kita mungkin sudah berubah dari sebelumnya. Dan jika kamu membacanya, artinya, kamu bukan lagi orang biasa di dalam hidupku.

Terima kasih untuk semuanya. 

Pertama, karena merahasiakan fakta bahwa aku bekerja di maid cafe sebagai pelayan, sebab, aku takut orang-orang akan menganggapku sebelah mata ketika aku berusaha keras membuat kakakku bangga.

Kedua, karena kamu begitu peduli ketika aku tumbang. Kamu merawatku tanpa meminta apa-apa, dan fakta bahwa aku baik-baik saja saat pagi tiba dengan seragam kerja membuatku merasakan kelegaan yang luar biasa.

Ketiga, karena melindungiku pada insiden waktu itu, serta meminta izin untuk menggenggam tanganku setelahnya. Perbuatan itu membuat amarahku seketika mereda, dan aku merasa aman.

Keempat, untuk semua roti dan susu yang aku terima. Jujur saja aku sempat bimbang antara mempertahankan perasaanku pada 'Kamu' atau si 'Pengagum rahasia' itu. Aku awalnya takut, bahwa kamu menyukaiku hanya setelah melihat penampilan yang bukan aku. Namun setelah malam kamu memintaku menemuimu di lab kimia sebagai cara menepati janjiku, aku menuliskan surat pada 'Dia' untuk menghentikan aksinya.

Sebab hatiku memilih kamu. 

Dan malam ini aku benar-benar bahagia ketika tahu kalian orang yang sama.

Dan kelima, terima kasih, karena selalu ada. Kita memang jarang berjumpa di sekolah, tapi kamu selalu ada dalam bentuk susu kotak dan roti itu, kamu ada menemaniku bekerja dari meja nomor 23, menemaniku pulang hingga aku merasakan aman.

Bersamamu, aku sungguhan merasa aman, dalam berbagai cara. Aku bisa tertidur dengan tenang di kereta, di taksi setelah dari klinik sebab aku pingsan, di rumahku sendiri ketika kita hanya berdua, dan ketika kamu menenangkanku seperti di rasa terima kasihku yang nomor tiga.

Bunga Iris biru yang ada di pojok kanan bawah bukanlah hiasan semata. Ketika melihatnya, aku langsung teringat padamu.

Iris biru melambangkan harapan dan keyakinan, juga kepercayaan.

Aku tahu kita masih SMA. Tapi setelah semuanya, aku  menyimpan makna iris biru pada diriku dan kamu. 

Sherlock Holmes, aku percaya bahwa bersamamu, kita bisa melewati semua rintangan yang ada. Akan ada banyak pertengkaran dan mungkin rasa bosan yang menghadang. Tapi, aku harap kita bisa mengatasinya dengan berbagai cara.

Aku percaya, bahwa kamu akan setia, sebagaimana aku menetapkan untuk menjadikan kamu satu-satunya.

Aku tidak akan bilang bahwa aku milikmu ataupun kamu adalah milikku. Karena hanya aku yang berhak memiliki diriku, dan kamu pun demikian, sebab, rasa kepemilikan cenderung mengekang.

Kamu adalah pasanganku, dan aku pasanganmu, di mana kita akan saling menopang untuk menjalani kehidupan bersama. Aku berharap kita bisa meneruskan hubungan ini ke tingkat selanjutnya di masa depan, karena, setidaknya saat ini, aku tidak bisa membayangkan menghabiskan hidupku dengan orang selain dirimu.

Bukan berarti aku tidak bisa hidup tanpamu, sebab aku bisa. Dan aku harap kamu pun bisa jika kita terpisah di masa depan, entah karena memang tidak sejalan, atau maut yang memisahkan. 

Sebab jatuh cinta yang seperti itu terlalu mengerikan, aku tidak bisa membayangkan kamu gila jika aku yang pergi duluan. Kamu pun demikian, kan?

Sherlock Holmes, aku tidak berharap kita selalu bahagia, tapi aku ingin kita berdua kuat menghadapi segala suka dan duka, bersama.

Dan aku harap, sampai kita tua.

Louis James Moriarty
Pasanganmu.

(Ps. Jika kamu membahas isi surat ini padaku, maka siap-siap saja kudiamkan beberapa minggu. Menulis ini memalukan, tapi aku ingin kamu tahu.)

Sherlock tersenyum geli mengingat pesan singkat itu. Dia hafal isi surat Louis di luar kepala, sebab, sejak tujuh tahun lalu tidak terhitung berapa kali dia membacanya. Sherlock menelusuri setiap kata lagi tadi malam karena kegugupan.

Dan hari ini Louis berjalan anggun ke arahnya dalam balutan gaun pengantin di gandengan tangan William.

Mata merah Louis bertumbuk padanya, dan Sherlock hanya bisa terpesona pada kecantikan itu, hingga dia lupa bahwa ada banyak orang yang menghadiri pernikahan mereka. Dia lupa pada keluarganya, teman-temannya, teman Louis, teman mereka. Dia bahkan lupa kepada William yang menggandeng tangan Louis ke altar andaikata pria itu tidak bersuara.

"Sherly, titip Louis ya? Jagain baik-baik."

Sherlock mengangguk mantap. Menatap Louis yang tampak malu.

"Siap kejebak sama aku selamanya?"

"Kamu mau aku pergi sekarang memangnya?" Louis berbisik. Sherlock tersenyum lembut ketika menggenggam tangan Louis untuk menghadap pendeta.

Akhirnya

Setelah rangkaian sesi pernikahan terlaksana dan janji suci terucap, mereka berhadapan. Wajah cantik Louis memasang ekspresi bahagia, di mana Sherlock sendiri juga bersuka cita, sekaligus tidak menyangka bahwa setelah berbagai rintangan, mereka dapat seperti sekarang.

"I love you," ucap Sherlock tanpa suara.

"I love you too." Louis membalas sembari menggalungkan lengan ke lehernya.

Dan dalam sekejap saja, bibir mereka bertaut hingga melumpuhkan segala indranya, tidak begitu peduli pada tepuk tangan meriah dari hadirin yang ada.

Sebab bagi Sherlock, saat ini Louis adalah satu-satunya yang berharga.

Meskipun tahu mereka tidak akan selalu bahagia, dia ingin mereka selalu kuat menghadapi segala suka dan duka bersama.

Dan dia juga berharap hal yang sama :

Sampai tua.

Notes:

1. AKU GAK BISA BIKIN SURAT CINTA ATAU BUAT PENGGEMAR RAHASIA ASJDHDHCHENEJEJ ITU CRINGE GASI GATAU AH😭Maaf ya--

2. Maaf OOC.

3. INI FANFICNYA PANJANG BANGET, KALIAN KASIH AKU KESAN DONG ANJIR AKU CAPEK NGETIKNYA😭Apa kek😭

4. Gatau ya, pengen aja mereka nikah wkwkwkwk kesan Maid cafe sama High School-nya kurang kental...

5. Sherlock banyak uang ya di sini ke maid cafe mulu😭uang jajannya banyak memang soalnya anak SMA😭👍

Thanks for reading!