Work Text:
"Gamau bikin gue milih antara lo dan Italy?"
“Like hell I would.”
Percakapan itu begitu membekas. Bahkan masih menggenang setelah tiga tahun terlewat. Kei ingat betul warna setelan rajut yang dikenakannya, ekpresi apa yang ia pakai, juga sengatan pendingin ruangan yang menyelinap di tiap inci kulitnya.
Tobio tidak pernah membahas perihal rencana kepergiannya dalam obrolan harian mereka. Selepas menuntaskan pendidikan akhir, lelaki itu bagai tak terarah. Mengelak tiap kali Kei berinisiatif menanyakan, hingga yang bersangkutan lelah sendiri dan berhenti bertanya. Namun dalam hatinya, Kei tahu betul apa yang selalu tertulis dalam rencana masa depan Tobio. Ia selalu berada dalam daftar atlet terbaik Jepang. Sedikit itu saja sudah cukup menjelaskan banyak hal.
Tobio bermain untuk tim nasional saat menginjak 19. Kei sibuk dengan pendidikan lanjutannya, mereka nyaris tidak bertemu kecuali di hari libur nasional. Sesuai dugaan, dalam fase kehidupan yang meningkahi keduanya, hari libur adalah saatnya beristirahat. Kei selalu terlihat kelelahan dengan lembar kerja yang membayangi tiap waktu. Mereka akan menghabiskan satu hari penuh untuk berdiam diri dan membalut hangat masing-masing. Tidak ada percakapan yang dibagi saking rindunya mencekik, dan hanya bisa mengungkap dalam rengkuhan rapat.
Voli adalah segalanya. Bahkan Kei pun bisa tergantikan. Hal yang menemani lelaki itu tumbuh bukan sesuatu yang bisa disandingkan dengan Kei yang hadir saat ia sudah menginjak belasan tahun. Ia hanya kebetulan ikut campur, lalu turut menjadi seseorang yang berperan penting dalam hidup Tobio.
Maka ketika pengakuan tentang rencana hidupnya diungkap di detik-detik terakhir penerbangan, Kei tidak marah atau berpaling. Ia mendengarkan Tobio hingga selesai, tidak membiarkan lelaki itu menjelaskan dengan wajah menyesal jika sepercik saja marah tercetak pada muka Kei. Memang sudah sewajarnya jika Tobio ingin melangkah lebih jauh sebelum usianya memasuki 40. Salah seorang atlet di timnya sudah menginjak 30 dan masih terus mencintai olahraga itu. Lebih banyak alasan untuk Tobio bertahan untuk hal yang digemarinya sejak belum sanggup berdiri dengan kakinya sendiri. Apa yang bisa Kei lakukan selain menyambut impian lelaki yang dikasihinya selain dengan ungkapan hangat dan terbitan lengkung singkat?
Pertanyaan retorik datang bagai gugur di semi. Terlalu sulit untuk Kei membawa dirinya menjawab pertanyaan itu. Dibilang pertanyaan bodoh — ah tidak. Sama saja seperti mengatai kekasihnya bodoh. Pertanyaan itu hanya terlalu curam, untuk Kei yang ibarat berdiri di tepi jurang. Harusnya ada pagar pembatas yang melarangnya terjatuh. Namun ketika pertanyaan itu terlontar, Kei tidak memiliki hal yang melindunginya dan harus bertahan dengan pijakan sendiri. Ia tidak stabil.
“Gamau bikin gue milih antara lo dan Italy?”
Pertanyaan itu hanya terlalu curam, untuk Kei yang ibarat berdiri di tepi jurang. Harusnya ada pagar pembatas yang melarangnya terjatuh. Namun ketika pertanyaan itu terlontar, Kei tidak memiliki hal yang melindunginya dan harus bertahan dengan pijakan sendiri. Ia tidak stabil.
Bisakah pertanyaannya diganti dengan hal lain? Bukankah seharusnya Tobio sudah tahu jawabannya? Melanjutkan mimpi adalah hal yang menjadi prioritasnya, namun Kei kehilangan banyak waktu untuk dilewati dengan lelaki itu. Mereka sudah tidak lagi berbagi kecupan ketika hari terasa mendebarkan untuk diakhiri. Mereka tidak lagi bertukar kata di hari-hari yang cemas.
Selama kita bareng-bareng, gue makin kehilangan lo.
“Like hell I would.”
Apa yang membedakan antara kita jauh dan kita dekat?
“Kei, maaf ya.”
“Gapapa kok.”
Gue gaperlu maaf dari lo, Tobio. Bukannya segala hal yang lo lakuin buat kita selama ini biar gue bisa terbiasa?
“Gue gabisa pegang tangan lo dalam jarak beda benua. Dan nunggu pun lebih banyak salahnya.”
Ayo nyerah sama hubungan kita, impian gue selalu nomor satu. Itu kan maksudnya?
Burung besi lepas landas saat Kei masih berada di tempatnya. Suhunya terlalu dingin, pikirnya. Namun tidak bisa dipungkiri perasaan melompong di dalam dirinya seperti meniupkan banyak angin musim dingin dari pada lingkungan di luar. Beku.
Kei lupa tidak membawa mantel atau jaket tebal.
Kardigannya tertinggal di mobil, begitu pula syalnya.
Terlepas dari Tobio yang selalu berada di sampingnya selama perjalanan tadi, tidak sedetik pun lelaki itu menyadari penampilan setengah-setengah Kei. Bahkan jika Kei kehilangan kesadaran karena terlalu banyak menghela udara minus, Kei tidak yakin Tobio akan sadar.
Perasaan Tobio ditelan semangat mewujudkan mimpinya.
Kei pikir ia sudah mengerti. Ternyata ia hanyalah Kei Tsukishima yang tidak lebih dari orang egois.
Mungkin alam bawah sadarnya menyumpah, namun berusaha berpaling dengan mematri senyum 3 detik.
Saat terlalu terobsesi sama mimpi lo, tanpa sadar perasaan itu hilang, kan? Bukannya mau bilang lebih baik lo terobsesi sama gue, tapi gue selalu kecewa sama lo yang gabisa adil buat banyak hal. Gue kalah, sedari awal. Seharusnya perasaan aneh itu gue simpan rapat-rapat. Lo gaperlu tau, harusnya. Lo bukan orang baik, tapi juga bukan orang jahat yang bakal nolak gue mentah-mentah.
But, I guess this is a thanks? Thank you for endure it. Being with me must be unforgivably tiring, mungkin pertama kali buat lo harus membagi dua hal. Bahkan lo gapernah serius sama pelajaran karena saking cintanya sama voli. Beraninya gue coba-coba menyelinap di kehidupan lo?
Semoga sukses sama yang lo perjuangin, Tobio. I love you the most.
Itu adalah catatan kesekian dalam tiga tahun terakhir.
Kei tengah berada di tengah keramaian ibukota. Terduduk di salah satu kafe terkemuka yang lampunya meredup semakin ke dalam ia melangkah. Tempatnya selalu di dekat pintu masuk, tempat di mana ia bisa melihat wajah-wajah yang meninggalkan kesan untuk kafe ini.
Kopi yang dipesan adalah yang paling pahit. Tanpa gula, untuk membuatnya tetap sadar. Bartender membalik gelas-gelas kering yang usai dipakai, Kei berkedip sekilas lalu menutup laptopnya sangat pelan tanpa meninggalkan bunyi.
Sudah tiga tahun lamanya, ia dan Tobio tidak sekali pun bertukar pesan. Atau mungkin lelaki yang sangat jauh itu mengiriminya pesan namun Kei tidak lagi menggunakan alamat e-mailnya yang lama? Tidak ada yang tahu.
Kei tidak berkencan. Tidak berniat menikah. Tidak berniat menggantungkan perasaannya untuk orang lain. Tidak ketika pengalaman terakhirnya adalah Kageyama Tobio. Lelaki yang ia begitu cintai hingga kehilangan akal sehat.
Percintaan itu, meski lebih terdengar seperti one-man show, Kei menghargainya.
