Work Text:
Ruangan malam ini penuh dengan pengunjung, undangan. Langit-langit ruangan terisi lampu gantung, ada beberapa dekorasi bernuansa ladang bunga. Meja dihiasi beberapa bunga mawar warna-warni, kursi terikat pita berwarna biru. Biru, warna yang cocok untuk pria pemeran utama malam ini.
Taeyong mengamati beberapa pengunjung, harapannya menemui teman teman lama yang sudah lama hanya dilihat melalui layar ponsel.
"Taeyong!" Suara memanggil dari jauh, pria itu tersenyum dan antusias melambai-lambaikan tangannya tanda akrab.
"Kun!" Kedua pria bersalaman sebelum berpindah ke sudut ruangan yang tidak terlalu ramai.
"Kun apa kabar?" Taeyong memulai konversasi dengan Kun, teman lamanya yang sekarang seorang pilot penerbangan internasional.
"Aku baik tentu, hanya mengantuk sedikit. Kau?"
"Seperti biasa" kedua sudut bibir ia tarik dengan paksa.
"Aku tidak menyangka kau akan datang ke pernikahan Kim"
Pernikahan Kim, Kim Doyoung. Sahabat sekaligus mantan pacarnya, atau bukan. Hubungan keduanya sangat ambigu.
Keduanya saling mengenal saat kedua pria memiliki beberapa teman yang sama, perlahan keduanya menjadi teman baik.
Hubungan teman baik keduanya berubah menjadi hal yang lebih saat mereka memasuki perguruan tinggi yang sama. Keduanya bertukar pelukan, tangan saling bersentuhan. Melakukan hal yang bisa disebut bukan sesuatu yang dilakukan teman baik sewajarnya . Keduanya tidak pernah memperkatakan hubungan mereka, keduanya saling tidak berbuat, seakan rasa hangat dan kasih sayang ini akan hilang saat salah satu memulai. Sentuhan perlahan menjadi kecupan. Sampai suatu hari salah satu teman Taeyong, Ten menanyakan status kedua insan saat mereka bertiga sedang makan malam di sebuah cafe.
"Kalian pacaran sudah berapa lama?" Kata-kata itu terlontarkan membuat kedua lelaki itu saling menatap satu sama lain.
"Kami tidak pacaran" ucap Kim.
"Oh maaf, aku kira kalian memiliki hubungan istimewa"
Mungkin menurut Doyoung hal ini lucu sampai seisi ruangan penuh tawa dirinya. Taeyong kadang berharap hubungan keduanya tidak kandas, dengan status atau tanpa status ia tidak peduli, Taeyong hanya ingin Kim Doyoung selalu berada di sisinya selalu.
Tapi suatu hubungan pasti ada akhir, selesai dengan sekuel atau selesai tanpa sekuel layaknya novel romansa.
"Lee Taeyong, maaf."
"Untuk?"
"Ucapan Ten tadi mungkin membuat kau tidak nyaman"
"Kenapa aku tidak nyaman?"
Bukannya kau yang tidak nyaman?
"Huh?"
"Kim Doyoung, aku menyukaimu. Amat sangat suka, kukira dengan selalu diam kau akan sadar. Teman mana yang menciumku, teman baik?, bagaimana cara teman saling berteman, coba kau pikir."
"Taeyong" ia menggenggam tangan si pria.
"Jangan genggam tanganku, perasaanku sudah sangat jelas terlihat, aku suka padamu, jangan pura-pura bodoh. Tentu saja tidak apa apa kalau kau tidak menyukaiku." Pria itu memutar bola matanya.
"Maaf"
"Jangan minta maaf, aku jadi akan merasa bersalah karena menyukaimu."
Sangat amat menyukaimu
"Taeyong, maaf. Bukan tujuanku membuatmu suka padaku, tidak ada niatan sama sekali." Raut wajah pria itu terlihat bingung.
"Bahkan sampai akhir, kau tetap saja!" Taeyong meraih dompetnya dan berdiri. Ia tersenyum sebelum berucap "Aku harap kau bisa bahagia ya Kim, maaf aku tidak bisa tidak menyukaimu." lalu meraih wajah sang pria dan memberinya kecupan di sela bibir. "Maaf"
"Taeyong..."
Taeyong meninggalkan cafe dengan perasaan berat. Mengambil kunci mobil dan masuk.
Doyoung tadi pergi denganku, pulang dengan apa nanti dirinya.
Taeyong mematung saat memikirkan probabilitas cara seorang Kim Doyoung pulang. Hampir dirinya menelepon Doyoung saat ia melihat lelaki itu keluar dari kafe dan masuk ke dalam kendaraan lain.
"Bahkan ia tidak sedih, tsk!" Ia menyalakan kendaraan, memakai sabuk, menyalakan lampu sein. Kadang beberapa pertanyaan muncul di benaknya. Apa ia benar tidak menyukai ku? Jadi selama ini ia merasakan apa? Apa aku tidak pantas disukai? Apa ia memiliki seorang kekasih? Atau ia sebenarnya sudah menyukai orang lain?
Tanpa sadar air mata telah membanjiri kedua pipinya, membasahi kaos lengan panjang yang ia kenakan saat pertama kali bertemu Doyoung, sial bahkan segalanya tentang dirinya bersangkutan dengan Doyoung. Jadi sampai sini? Enam tahun tanpa status, enam tahun berbagi cerita, enam tahun saling berpandang, saling mengisi kekosongan hati, saling bertukar atensi.
"Taeyong.."
Tangannya meraih setir, tapi tangan bergetar seolah tidak memiliki tenaga untuk berkutik, persetan Kim Doyoung mengapa kau bajingan tetapi ingin sekali aku miliki. Ah bahkan pandangannya kabur. Taeyong menangis terisak-isak hari itu, hari dimana ia berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi, hari dimana semuanya mulai berbeda.
"Taeyong."
"Taeyong!" Kun membawanya kembali dari ingatan-ingatan yang sudah kian lama ia simpan. "Ada apa? Kau baik baik saja?"
"Ah, tentu. Tentu saja aku datang, lagipula Doyoung dan aku, kami bersahabat sangat dekat, tidak mungkin kulewatkan" Taeyong lagi-lagi tersenyum paksa. Tampaknya hari ini ia akan sering tersenyum paksa.
"Ah, oh iya! Doyoung mengajakku bertemu dengan dirinya sebelum acara dimulai, mau ikut?"
"Bertemu Doyoung?" Taeyong mengerutkan alisnya.
"Iya" Kun mengangguk antusias dan menarik lengan si pria.
Taeyong dan Kun lalu berjalan ke ruangan si mempelai. Berharap dirinya tidak meneteskan air mata saat melihat Doyoung kembali.
Pintu ruangan dibuka, Taeyong ragu untuk masuk. Sebelum ia menginjakkan kaki di ambang pintu, suara pria itu sudah terdengar dari pintu.
"Kun! Lihat dirimu, sangat amat berbeda. Kalau seperti ini setiap hari kau bisa disukai semua wanita yang kau temui."
"Lihat siapa yang bicara, kau sudah menikah dan aku masih lajang" Kun menepuk tengkuk
Taeyong memberanikan diri mengambil satu langkah memasuki ruangan, kepala ia tundukkan agar netra pria itu tidak ia tangkap. Dari dekat aroma parfum citrus, familiar. Kerap kali Doyoung memakainya dihari yang dianggapnya spesial.
"Oh! Ini ada Taeyong, kau masih ingat?"
"Taeyong! Tentu saja ingat, kami berdua dulu sangat dekat seperti partner in crime"
Partner in crime, pft
"Selamat Doyoung! Kau menikah juga akhirnya." Ucap Taeyong.
Setelan yang pria itu kenakan sangat amat atraktif, setelan berlengan panjang, kemeja berwarna biru dengan dasi panjang berwarna merah, diluarnya ia kenakan jas warna merah tua, dikancing penuh dan celana merah tua serupa dengan jas. Rambutnya naik menunjukkan dahi sang pria, alisnya rapi, matanya di rias riasan berwarna coklat tua, manik mata berwarna hitam gelap menatap Taeyong dengan saksama.
"Terima kasih!" Doyoung berucap, lalu tersenyum miring.
"Doyoung, kamar kecil ada di mana?" Ucap Kun mengalihkan perhatian keduanya yang sembari menatap satu sama lain.
"Itu sebelah rangkaian bunga terbesar" Doyoung menunjuk arah rangkaian bunga, lalu Kun keluar meninggalkan kedua insan sendirian, masih saling bertatap.
"Terima kasih sudah datang, aku kira kau tidak ingin melihatku lagi" Doyoung tertawa mendengar kata-katanya sendiri.
"Aku tidak ingin melihatmu, aku kesini untuk makanan gratis" Taeyong memutarkan bola matanya.
"Silahkan"
"Aku bukan bajingan, tentu saja akan datang ke acara hari spesial teman lama" Taeyong tertawa sedikit.
Netra saling bertatap, meng kilas balik momen bahagia, di mana keduanya saling bertukar pesan, tertawa, bertengkar soal biji kopi jenis apa yang paling populer, bertukar jawaban saat ulangan dan saat mereka pertama kali bertukar lumatan bibir.
"Taeyong” pria itu memulai. “Aku belum meminta maaf dengan jujur. Ini agak menghantuiku, jadi biarkan aku berucap di hari spesialku supaya lembaran baru diriku mau terbuka"
Ia diam sejenak sebelum melanjutkan kata-kata yang ia rangkai sudah sekian lama. Menunggu hari tepat untuk disampaikan.
"Sejujurnya, aku menyukaimu juga jadi jangan amat membenci Kim Doyoung. Aku menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu, menunggu diriku menerima, menunggu juga keberanian mengungkapkan. Tapi rasa takutku masih lebih besar dari rasa menyukaimu, aku sangat amat takut saat menebak-nebak paras wajah manusia manusia jika tahu kita bersama dan sampai kapanpun rasa takut ini akan selalu ada, takut sekali. Jadi lebih baik kata itu tidak pernah ku ucap"
Hening.
"Maaf sekali lagi. Mari kita tetap berkontak, kau manusia baik, baik sekali. Kau pantas mendapat seseorang yang pantas. Karena berlian pantas dimiliki yang layak Taeyong. Berlian seperti kau, Lee Taeyong"
Aku masih mencintaimu
"Aku tidak pernah membenci, dan aku sudah memaafkanmu dari dulu, bahkan aku tidak pernah merasa kau perlu meminta maaf Kim"
Maaf aku berbohong
Taeyong tersenyum, ia memeluk pria itu dengan erat. Kali ini tanpa perasaan berat.
"Aku harap kau bahagia Kim"
"Kau juga bahagia ya"
"Aku sudah bahagia"
Aku sangat bahagia melihatmu bahagia
"Lain kali kita bertemu, akan ku kenalkan Han seyoung."
"Tentu, jangan lupa berkabar" Taeyong menaruh kedua tangan di bahu pria itu.
"Pasti" Doyoung tersenyum, kali ini dengan senyuman khas Kim Doyoung saat dirinya mendapat nilai sempurna, saat pertama kali mencoba makanan baru, saat Taeyong melontarkan canda, dan saat mereka pertama kali saling bertukar ciuman.
Kau sangat bahagia Kim
Bisikan mengisi ruangan saat mempelai wanita berjalan di karpet merah, mengalihkan pandangan semua manusia di ruangan. Sang wanita berjalan diiringi musik klasik, musik favorit Doyoung.
Kedua mempelai saling berhadapan. Mengucapkan janji pernikahan. Mendapat tepuk tangan seisi ruangan.
Mungkin di kehidupan selanjutnya?
Kim Doyoung selamat bahagia
