Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-01-14
Words:
4,063
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
35
Hits:
598

Hit Me with Your Taps

Summary:

Jihoon (pernah) menjadi si nomor satu. Namun sejak kedatangan murid baru di akademi tari, Jihoon merindukan label tersebut dan berusaha merebutnya kembali dari Kwon Soonyoung. Segala cara Jihoon lakukan, hingga suatu saat binar sepatu tap merah mencuri perhatian Jihoon.

(The story was inspired by “The Red Shoes” by Hans Christian Andersen, a European folktale.)

Notes:

Hai! Ini adalah published work, jadi mungkin sebagian orang sudah baca dari event Ciel de Couleur 2021.

Selamat membaca!

Work Text:

Jatuh dan tersungkur sudah menjadi santapan yang lumrah acap kali bertemu dengan lantai dansa. Tersandung dengan langkah sendiri dan kehilangan keseimbangan, bukan jadi alasan bahwa seorang penari dapat dikatakan tidak kompeten.

Mungkin saja, seorang penari tidak menaruh hati dalam langkahnya. Bisa jadi, pikiran yang membelenggu membuyarkan fokus, membuat seorang penari kehilangan jiwanya.

“Udah kubilang, kamu gak akan bisa bersaing.” Pria jangkung dengan perawakan yang padat itu mengukir senyum licik sembari memasang tap shoes andalannya. Lawan bicaranya itu mendengus di tengah napasnya yang berantakan serta menyeka keringat yang kerap menutupi pandangannya.

“Denger hentakan kakimu dari awal aja rasanya bikin aku mual, betul-betul gak layak untuk didenger.” Kwon Soonyoung, seorang penari yang menjadi angkuh setelah mendapat label si nomor satu dalam akademi itu terus menghambat laju kembang Lee Jihoon, seorang murid yang juga tak kalah hebat. Sayangnya, posisinya kini telah menjadi olokan semata bagi Kwon Soonyoung.

Lee Jihoon, nomor tiga.

Sebagai seorang yang pernah menempati posisi pertama sebelum Kwon Soonyoung menjadi junior di akademinya, ia selalu bersumpah untuk merebut kembali posisi itu.

“Si nomor satu ini bahkan rela untuk nonton sesi latihanku dari awal, aku gak tau apa maksudnya, tapi aku bisa ngerti kalau kamu sebetulnya cuma menggemari penampilanku.” Dengan lagaknya, Jihoon enggan mengalah dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

Cuih! Menggemari, kamu bilang? Apa aku salah denger? Wah, kayaknya aku perlu bersihin kuping supaya aku gak salah denger.”

Jihoon melempar handuknya yang mendarat di atas tas miliknya, “Bersihin sana! Kupingmu udah numpuk terlalu banyak kotoran, jijik!”

Mengambil alih lantai dansa setelah Jihoon menyingkir dan beristirahat, Soonyoung memberikan tawa licik sebelum ia memulai latihan mandirinya. Show off. Jihoon masih berdecak kesal bahwa pria di hadapannya sekarang itu menangkapnya terjatuh dan melakukan kesalahan. Ia meneguk minumannya dengan tergesa-gesa. Jihoon perlu ada di sana selama Soonyoung berlatih. Kehadirannya perlu mengintimidasi dan mendistraksinya. Namun sesungguhnya apa yang muncul dalam benak Jihoon hanyalah perasaan iri, cemburu, dan juga (secara tidak langsung) kagum padanya.

What a talented jerk.

Oh, Lee Jihoon tak mungkin menyuarakan pikirannya keras-keras—atau ia akan merusak harga dirinya.


Di banyak kesempatan, Soonyoung harus selalu berpapasan dengan Jihoon. Jangan lupakan bahwa keduanya berada di satu akademi. Jelas, kesempatan selalu ada. Soonyoung mengambil cola yang baru saja keluar melalui celah vending machine sesaat Jihoon membelinya. Lelaki yang membayar cola itu menggerutu dan berusaha meraih minumannya yang tengah diangkat setinggi-tingginya oleh Soonyoung. “Kembaliin, dasar bodoh!” Jihoon dan Soonyoung selalu menghiasi setiap penjuru akademi dengan variasi onar yang mereka timbulkan. Selama masih ada pengajar, keduanya tak akan melontarkan ujaran-ujaran binatang dari mulutnya. “Ini ‘kan yang selalu kamu lakuin, mencuri apa yang seharusnya aku punya.”

Soonyoung menggeleng sinis, “Ini adalah metafor, kalau kamu gak bisa meraih lagi titel yang selalu kamu klaim. Tapi sorry Lee Jihoon, kamu itu bagai pungguk merindukan bulan.”

Alhasil sebuah tendangan muncul sebagai balasan dari kalimat yang Soonyoung lontarkan. Cukup sakit, namun tak cukup untuk mencederai seorang nomor satu untuk berhenti berdansa. “Balikin, anak setan!” Sembari Soonyoung meringis, Jihoon mengambil kembali cola-nya. “Berhenti buang-buang waktuku, Soonyoung. Kamu cuma takut ‘kan, kalau aku kembali ke posisi pertama? Makanya kamu selalu berusaha ngehambat jalanku.”

“Mau kamu latihan sampai terkunci di gedung ini, bermalam di sini, sampai matahari terbit lagi pun, kamu gak akan bisa, Ji. Aku gak akan pernah ninggalin tempatku.”

“Denger ya, Kwon Soonyoung. Bahkan sampai jutaan hentakan kaki pun akan aku lakuin supaya kamu mengakui kalau aku lebih baik dari kamu.” Jihoon melangkah menjauhi vending machine serta Soonyoung yang masih bertengger di sekitarnya.

Kemudian, lelaki itu membalas dan bersahut, “Coba aja kalau kamu memang bisa. Nyatanya, orang-orang lebih tahu siapa si penari nomor satu. Orang itu cuma aku dan gak akan berganti.”

Sebelum benar-benar menghilang dari pandangannya, Jihoon memberi jari tengah sebagai salam penutup. Soonyoung menggertakkan gigi, juga memutar bola matanya. Soonyoung yakin, bahwa keduanya telah ditakdirkan untuk bertemu sebagai musuh bebuyutan. Takdir, tetaplah takdir ‘kan?


Suatu hari, Soonyoung mendapatkan hari sialnya. Demam telah menyerangnya hingga Jihoon berlari ke posisi kedua ketika empat hari Soonyoung absen dari kelasnya. Jihoon tak berhenti memberi teror melalui pesan singkat, “Informasi penting! Kalau sebentar lagi kamu harus cari sebutan lain. Nomor dua? Nomor tiga? Siap-siap, karena seketika kamu kembali masuk kelas, kita harus bersaing untuk memastikan lagi, apakah kamu masih layak duduk di tahtaku.”

“Delusional. Orang ini gak pernah move on dari peringkat lamanya. Gila.” Soonyoung semakin dibuat gusar karena kondisi fisiknya tak memungkinkan untuk bergerak lincah atau itu akan memperburuk kesehatannya.

Padahal, aku bisa ada di posisi ini juga berkat dia.


Jihoon tak mampu menahan rasa dalam dadanya berteriak dengan frustasi yang menggila. Semenjak Soonyoung kembali dalam kondisinya yang prima, ia masih selalu menjadi Soonyoung yang sama. Jihoon tak pernah memiliki rasa iri sebesar yang ia rasakan pada Soonyoung. Ia hampir membuang setengah harinya untuk terus berlatih, membangun stamina terbaik, mengganti sol besi dengan yang terbaik hingga menghabiskan banyak uang tabungannya. Segala cara telah Jihoon lakukan untuk menaklukan Soonyoung. Jika seseorang menyebutnya memiliki post-power syndrome, Jihoon tak akan mengelak. Bahwasannya Jihoon sangat menyukai bagaimana orang-orang, murid lain, pengajarnya terus menyanjungnya hingga pipinya terangkat dan memerah. Ia menyukai bagaimana ia menerima banyak bunga dan diperlakukan bak pangeran. Tidak lupa, seorang nomor satu akan terbebas dari piket dan hal-hal non krusial dalam akademi itu. Kecemburuan itu membuatnya ia lupa betapa ia menyukai tap dance.

Matanya gelap selama perjalanan pulang, ia merasa dirinya sudah betul-betul terhinakan oleh duel one by one dengan Soonyoung. Senyuman bangga—atau serakah dari pemenang itu benar-benar membuat Jihoon muak. Walaupun sulit, Jihoon selalu berusaha membuang bayang-bayang Soonyoung di kepalanya.

Ia berhenti di sebuah bengkel sepatu tap langganannya. Jihoon masuk dengan wajahnya yang muram dan kembali menceritakan kebenciannya terhadap Soonyoung.

“Kamu yakin mau terus berambisi seperti ini? Apa kamu gak mau milih untuk nyerah dan saling dukung aja?” Pengrajin sepatu itu selalu memberikan pandangan bijaknya acap kali Jihoon mengusiknya dengan kisah kompetitifnya bersama Soonyoung.

“Aku bersumpah mau ngalahin dia sampai dia terlalu malu untuk masuk lagi ke dalam akademi.”

Pengrajin itu hanya menggeleng, “Anak muda.” Kemudian Jihoon teralihkan dengan pancaran sepatu tap dengan balutan kulit sintetis berwarna merah terang.

“Ini harganya berapa?”

“Sepatu itu gak dijual.” Pengrajin itu menjawabnya di tengah kesibukannya menggabungkan sol dengan potongan pola sepatu. “Bekas pemilik sepatu itu minta untuk sepatunya gak dijual. Beliau dulu seorang penari nomor satu, di kota ini.”

Hmm, bukannya ini cocok buat aku? Liat, ukurannya aja pas!” Tanpa persetujuannya, Jihoon mencoba mengenakan sepatu itu.

“Hei! Kubilang sepatu itu gak dijual! Sana! Lepas sepatunya.” Teguran itu membuat Jihoon memanyunkan bibirnya. Padahal, ia merasa sangat spesial ketika mengenakan sepatu merah cantik itu. Menurutnya, suara hentakan besi dengan lantai pun terasa sangat pas. Tidak terlalu pelan, tak terlalu bising pula.

Ia kembali mengeluh di hadapan meja kerja sang pengrajin, “Ayolah, berapapun aku beli! Orangtuaku lumayan kaya. Jadi gak perlu kasihan sama aku kalau harganya memang mahal untuk seorang pelajar. Ya?”

Pria setengah abad itu menghela napas untuk kesekian kalinya, “Kamu ini anak yang keras kepala. Pulang dan istirahat. Kamu cuma buang-buang waktu kalau kesini untuk nawar sepatu itu.”

“Argh! Terus kenapa paman pajang sepatu itu di sini? Buat apa? Hah?”

“Karena itu permintaan terakhir pemilik sepatunya sebelum meninggal! Aku yang buatkan sepatu itu khusus untuk perlombaan skala nasional, dia mau aku yang jaga sepatu itu. Anaknya juga baik, gak seperti kamu yang bisa anggap enteng soal ini dan itu.”

Jihoon tak terima dengan perkataannya, ia kemudian mendengus dan keluar dari tempat itu. Rasanya, kota itu enggan berpihak dengannya. Hingga muncul pikiran, bahwa ia juga akan melakukan hal yang sama. Ia tidak akan berpihak dengan siapapun dan terus berdiri di atas kakinya sendiri. Ia akan memperjuangkan segalanya hanya untuk dirinya, walau perlu melakukan cara licik sekalipun.

 

Di hari berikutnya, Jihoon datang dan meminta maaf pada pengrajin sepatu itu. Ia membawakan banyak bingkisan makanan serta sepatu lainnya yang butuh sedikit perbaikan.

 

“Wah, Jihoon. Terima kasih, ya.” Pria itu beristirahat sejenak. “Kayaknya aku perlu simpan ini di kulkas, untuk istri dan anakku nanti. Sekali lagi, terima kasih.”

 

“Oke! Silahkan. Aku mau buka majalah ini dulu.” Jihoon mengambil majalah yang diletakkan di ruang tunggu. Selagi pria itu masuk ke ruangan lain yang merupakan akses menuju rumah pribadinya, Jihoon segera mengeluarkan taktik yaitu dengan menukar sepatu lama yang ia semprot dengan cat merah. Kemudian ia memasukkan sepatu sang legenda ke dalam tasnya.

 

“Paman! Pengajarku minta ke kelas sekarang juga. Boleh aku tinggal?” sahut Jihoon dari ruang bengkel.

 

“O-oh, iya, silakan, Jihoon!”


Akhirnya, Jihoon berhasil membuat orang-orang di kelasnya terpana dengan sepatu cantik terbaru miliknya. Termaksud seorang Kwon Soonyoung yang pandangannya terikat dengan sepatu baru milik Jihoon.

Rasa iri dan cemburu itu, membuat Jihoon mencuri untuk pertama kalinya.

Terima kasih pada sepatu sang legenda itu, Jihoon betul-betul memikat perhatian para juri dan juga pelatih. Orang-orang di sana mengagumi bagaimana gerakan Jihoon yang gemulai, tepat sasaran, selain itu suara hentakan kaki yang seirama dengan musik pengiring tariannya. Bahwa permainan tap dance itu bukan hanyalah sebuah tarian, melainkan sebuah instrumen yang bersatu dengan tubuh, dan Jihoon mampu melakukannya dengan sempurna. Jihoon juga tak kalah kagum pada dirinya sendiri. Ia merasa langkahnya semakin ringan. Rasa bangganya kembali tumbuh, hingga senyuman dan perasaan cinta terhadap tari kembali muncul.

Ada satu orang yang tidak senang akan hal itu, tentunya Kwon Soonyoung.

 

Di waktu senggang—sebutlah waktu istirahatnya yang Jihoon pakai untuk kembali berlatih dengan giat, Soonyoung menghampirinya dengan penuh kekesalan.

“Apa yang lagi kamu rencanain sekarang?”

Hmm? Gak ada, kok. Kamu liat sendiri ‘kan? Ternyata aku masih lebih hebat dari kamu.”

“Berapa banyak uang yang kamu keluarin demi sepatu antik itu? Lagian warnanya juga norak.” Soonyoung kemudian melirik sepatu yang Jihoon kenakan itu.

 

Jihoon dengan sengaja mengetuk lantai dansa dengan sepatunya, mempertunjukkan sedikit permainan hentakkan kaki dengan sepatu barunya. “Siapa yang lebih norak menurutmu? Sepatu ini atau orang yang iri karena gak mampu beli sepatu antik?”

Soonyoung bukanlah seorang yang memiliki keberuntungan seperti murid lain di akademi yang terbilang elit itu. Ia tak mampu berkata lagi setelah Jihoon betul-betul menyinggung perasaannya. Kini situasi mulai berputar 180 derajat. Bahwa kini, Soonyoung telah tersulut api kecemburuan dan menggerogoti akal sehatnya.

Soonyoung meninju tembok dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, setelah membaca pengumuman pada bulletin yang berisi bahwa Jihoon telah lolos sebagai peran utama atau center sebab performanya yang lebih baik dan membuat saingannya itu menempati kembali posisi nomor satu.

Bersama rasa murkanya, ia menyeret Jihoon di loteng gedung dan meremas kerah pakaiannya. “Puas? Puas kamu jatuhin posisi yang udah aku pertahanin sejak lama ini?”

“Gimana, Kwon Soonyoung? Pahit ‘kan rasanya gak ada di posisi pertama?”

“Kamu tau? Aku udah janji sama orang tuaku kalau aku akan tampil di posisi itu? Sekarang apa yang bakal mereka rasain kalau ternyata tempat itu diisi sama orang yang bukan aku?” Soonyoung menguras seluruh perasaan kesalnya dan menumpahkan segalanya pada Jihoon. Yang ia terima hanyalah tatapan dan pandangan Jihoon yang meremehkannya. “Kamu ini betul-betul egois!”

“Terus, apa bedanya sama kamu? Kamu juga gak ingin ngelepasin posisi itu.”

Rasanya, Soonyoung ingin menghantam wajahnya habis-habisan. Jika Soonyoung melakukan itu, Jihoon akan sukarela membiarkannya dan ia tinggal menunggu waktu, di mana orang-orang akan membela Jihoon dan menyalahkan perbuatan Soonyoung. Maka dari itu, Soonyoung hanya bisa meneriakkan rasa frustasinya di hadapan Jihoon. Akhirnya ia melepaskan genggaman kasarnya.

“Jadi gini, ya? Warna aslimu?” Jihoon terkekeh, “Lemah.” Ia menyenggolnya dengan sengaja seraya pergi menjauh dari letak asalnya. Soonyoung melirik pria yang melangkah pergi, hingga sesuatu menarik perhatiannya.

 

Dia gak lepas sepatu barunya?

 


 

Dua minggu sebelum penampilan akbar, Soonyoung kerap memperhatikan Jihoon. Walaupun keduanya tak lagi bertegur sapa dengan kata lain, bertengkar di setiap kesempatan, Soonyoung terus memperhatikan gerak-gerik Jihoon yang mulai abnormal. Pertama kali ia menyadari, bahwa Jihoon selalu datang dengan sepatu yang sama. Ya, sepatu merah mencolok itu.

 

Soonyoung berpikir, apakah begitu besar rasa sayangnya terhadap sepatu barunya itu hingga ia enggan melepas dan mengganti dengan yang lain?

 

Kecurigaan itu tidak berhenti. Ia berlanjut dan terus melakukan investigasi secara diam-diam.

 

Suatu waktu, Jihoon memergokinya mengintip ketika ia tengah melakukan latihan mandiri. “Lagi apa kamu, penguntit?”

 

Terlanjur basah, Soonyoung masuk dan menyilangkan lengannya seraya memberikan ekspresi menantang seperti biasanya, “Kekanakan banget. Kayaknya ada yang tergila-gila sama sepatu norak itu, sampai gak mampu ganti dengan sepatu lain.”

 

“Diem, kamu! Penari tap manapun bakal latihan dengan sepatu yang sama untuk perform nanti.”

 

Really? Bahkan di luar latihan pun kamu masih pake sepatu itu. Solnya bakalan cepet aus, loh.”

 

Jihoon mengabaikan perkataannya dan memilih untuk mengemas barang-barangnya. Sebelum ia meninggalkan ruang latihan, ia melirik Soonyoung dengan sinis.

 

Sementara, Soonyoung yang ia tinggalkan, memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran, kamu lagi nyembunyiin apa, Lee Jihoon?

 


 

Di luar pagelaran tap dance yang cukup bergengsi saat itu, Soonyoung memiliki rasa antusias yang lain. Sebelum penampilan, Jihoon dan direktur artistik berdebat masalah sepatu yang Jihoon kenakan. Sang direktur mempermasalahkan bagaimana sepatunya terlalu mencolok dan tidak senada dengan kostum yang mereka kenakan. Sementara Jihoon menyanggahnya, sebab ia berada di posisi tengah dan sepatu itu tidak akan mengganggu keseimbangan estetika yang telah diatur sedemikian rupa. Jihoon dengan keras kepalanya memaksa bahwa ia harus terlihat lebih mencolok daripada yang lain.

 

Soonyoung mengaku bahwa penampilan Jihoon semakin memukau setelah banyaknya latihan yang tak pernah putus. Namun, ia juga memiliki rasa curiga yang besar, bahwa penampilannya yang semakin berkembang itu didorong juga oleh magisnya sepatu merah yang selalu ia kenakan. Soonyoung tentu tak ingin mempercayai bahwa sihir itu ada. Jika Jihoon benar memanfaatkan hal tersebut, mungkin, Soonyoung akan mudah percaya.

 

Jelas, karena Soonyoung lebih percaya akan kemungkinan tersebut daripada mengakui kemampuan Jihoon yang sebenarnya.

 

Akhirnya fokus yang seharusnya Soonyoung taruh pada pertunjukan itu teralihkan dengan rasa ingin tahunya yang lebih besar. Karena kenyataannya, Jihoon betul-betul berada dalam suasana hati yang buruk hari itu. Setelah perdebatan yang cukup hebat dengan direktur artistiknya hingga Jihoon memenangkannya, Soonyoung menguping percakapan antara Jihoon dan seorang pria tua asing di balik panggung.

 

Fakta yang mencengangkan, bahwa Jihoon telah ditegur karena mencuri sepatu merah itu. Soonyoung betul-betul merasa puas, bukan main. Tidak seharusnya ia merasa senang di hari ia gagal menunjukkan penampilan terbaiknya di posisi center. Sayangnya, ia terlalu puas setelah memiliki bahan baru untuk menyudutkan saingan terbesarnya itu.

 

Sepulang tampil, Soonyoung membuntuti arah pergi Jihoon ke tempat yang sudah ia ketahui. Ruang latihannya. Dari beberapa meter menuju ruang itu, Soonyoung mampu menangkap suara tap tanpa musik pengiring. Gila ya? Buat apa dia latihan setelah tampil?

 

Di waktu gedung yang sudah sepi itu, akhirnya Soonyoung memasuki ruang latihan yang hanya diisi oleh Jihoon seorang. Ruangan itu dipenuhi oleh napas berat yang terengah-engah. Keringat telah menutupi hampir seluruh permukaan kulit Jihoon. Kakinya bergerak dengan cepat, tak berirama, tak bertempo.

 

Soonyoung melihatnya dengan heran. Ia terperanjat ketika Jihoon menoleh dengan ekspresi yang putus asa, tangannya berusaha menggapai Soonyoung dari jarak beberapa langkah.

“Soonyoung, tolong!”

 

Sebelum ia mencoba mendekati Jihoon, Soonyoung memproses apa yang sebetulnya sedang terjadi. Ketika pria jangkung yang satu berpikir, Jihoon tak berhenti menggerakkan kakinya. “T-tolong.” Ia meringis hingga meneteskan air matanya.

 

“Kamu … kenapa?”

 

Jihoon hampir menjerit. Ia kehabisan tenaganya. “Aku gak bisa—hah—lepasin sepatu ini sejak pertama kali aku pake! Sekarang aku—hah—aku gak bisa berhenti nari!” Ujarnya terpatah-patah di sela napasnya yang sedang berusaha ia atur.

 

“Tolong…” Jihoon menangis dan memelas sembari kakinya tak berhenti ia hentakkan. Sesungguhnya, Soonyoung merasa ngeri melihatnya. Ia setengah tak percaya bahwa kaki mampu bergerak dengan sendirinya sehebat itu tanpa dorongan kesadaran sendiri. Satu-satunya yang membuatnya setengah percaya, hanyalah rasa putus asa yang Jihoon tunjukkan, terutama dengan menangis.

 

Sejauh pengetahuannya, Jihoon tak pernah menunjukkan kesedihan ataupun tangisnya. Tidak pada seorang musuh, juga saingan seumur hidupnya. Soonyoung perlahan-lahan mendekat, “A-aku coba cari tahu di google.”

 

“Gak ada waktu, Soonyoung! Aku hampir mati!”

 

Rasa urgensi itu membuat Soonyoung mendekat dan membantu Jihoon berbaring di lantai. Kakinya tetap tak berhenti bergerak. Sementara Soonyoung mulai merasa panik ketika hendak membantu, Jihoon menangis semakin kencang. Ia mulai mati rasa, sekujur tubuhnya terasa lemas. Soonyoung mencoba menahan untuk melepas sepatu merah yang terpasang. Yang ada, ia hampir terkena tendangan dari kedua kaki yang terus bergerak bebas. “Aku gak punya ide! Gimana cara lepasinnya? Gila … ini udah gila. Aku ngerasa kita ada di cerita rakyat.”

 

Jihoon menarik kerah Soonyoung hingga terpaku di atas tubuhnya. Ia masih menangis, tidak menemukan cara untuk menolong dirinya sendiri. “Aku salah! Aku udah curi sepatu ini! Aku gak akan lagi mencuri. Aku gak akan lagi berbuat curang. Aku mohon, maafin aku!”

 

Soonyoung merasa setuju, bahwa mungkin apa yang tengah terjadi adalah balasan dari perbuatan curangnya. Ia tak mampu berkata-kata ketika Jihoon mengakui segala kesalahannya.

 

“Aku hampir mati, Soonyoung. Aku bakal mati kalau gini caranya.” Suaranya parau, ia terisak hebat sembari menarik Soonyoung semakin dekat. 

 

“Jihoon—Jihoon, kamu gak akan mati. Kita cari tau caranya. Aku coba sekali lagi.” Soonyoung dengan sigap kembali mencoba melepaskan sepatu itu dari kakinya. 

 

“Cium!” Pekik Soonyoung ketika tidak menemukan titik terang untuk membuka sepasang sepatu itu. “Cium, itu yang selalu mecahin kutukan.”

 

“Ini bukan cerita rakyat, bodoh!”

 

“Kita gak bakal tau kalau gak kita coba!” Soonyoung kembali mendekati wajah Jihoon. Dengan wajah pucat dan lelah, Jihoon mengangguk lemas.

 

“Apapun. Aku cuma gak mau mati, Soonyoung.”

 

Dari jarak 30 cm, 20 cm, hingga 10—Soonyoung memperkecil jarak diantara mereka dengan penuh ragu. Semakin dekat, ia mampu melihat Jihoon dengan jelas. Air matanya, keringatnya, betapa merah kelopak matanya, serta bibirnya yang semakin pucat. Jihoon membantunya untuk melancarkan aksi itu, ia menarik leher Soonyoung semampu yang ia bisa. Hingga kedua bibir itu bertemu dan berharap bahwa keajaiban akan menyelamatkan mereka seperti yang selalu terjadi di negeri dongeng.

 


 

Beberapa hari setelah tragedi tersebut, Soonyoung dan Jihoon tak lagi bertengkar ataupun bertukar kata. Saat itu, Jihoon mengambil cuti dan memilih untuk beristirahat di rumahnya. Kakinya memar, bengkak, dan juga masih terasa kelu. Sementara Soonyoung tidak lagi menerima atau mengirim pesan mengganggu dari dan pada Jihoon.

 

Hari yang aneh, bahwa ciuman itu betul-betul menyelamatkan Jihoon dari tragedi mematikan. Sepatu itu telah kembali ke tempat asalnya. Jihoon berjanji tak akan pernah melakukan cara kotor itu lagi. Jihoon juga sudah membuat permintaan maaf setulus-tulusnya pada sang pengrajin sepatu langganannya yang telah ia buat kecewa.

 

Satu pikiran telah terlintas di benak Jihoon. Mengundang Soonyoung untuk datang ke rumahnya. Betul, Jihoon ingin melakukan hal tersebut.

 

Bisa dateng ke rumahku? Aku janji, aku gak akan macem-macem.

 

Setelah pesan itu, sehari kemudian Soonyoung membunyikan bel di rumah yang cukup megah untuk ukuran seorang kelas menengah ke atas di kota tersebut. Hal selanjutnya, Soonyoung dipersilakan untuk menjenguk Jihoon yang masih terkapar di kamarnya.

 

Ehm, Jihoon. Aku di sini.” Soonyoung mengetuk pelan setelah salah satu asisten di rumah itu menuntunnya untuk masuk ke kamar Jihoon.

 

Jihoon berbalik untuk melihatnya, “Buat apa kamu bawa itu?” Yang Jihoon maksud adalah sekeranjang buah dan bunga yang memenuhi tangan Soonyoung. Dengan kikuk ia meletakkannya sembarang di meja kosong yang ia temukan di kamar itu.

 

“Cuma buat hiasan.” Timpalnya. Kemudian ia mengambil bangku yang bisa ia rapatkan dengan tempat tidur Jihoon. “Gimana, kakinya?”

 

Jihoon menyingkap pelan selimut untuk menunjukkan kakinya yang masih sedikit biru.

 

“Aku bisa jalan sedikit, tapi dokter bilang lebih baik aku tetep berbaring di kasur sampai ototnya pulih lagi.” Balasnya pelan. 

 

Hmm, semoga cepet baikan.”

 

Kemudian hening. Keduanya kehabisan ide untuk berbicara layaknya sesama murid akademi. Mereka tak pernah berbicara seakrab itu sebelumnya. Waktu yang mereka habiskan bersama hanyalah untuk saling mengolok dan meremehkan. Sekarang, keduanya membisu.

 

Tak lama, asisten di rumahnya datang membawa camilan untuk menjamu Soonyoung. Ia meletakkan meja geser di dekat kasur Jihoon agar keduanya dapat menyantap bersama. “Makasih, bibi. Aku coba ya.” Soonyoung mengambil satu gigitan untuk mengisi kekosongan di waktu itu. “Enak.”

 

“Kamu boleh bawa pulang semua cemilannya kalau kamu suka.” Jihoon membiarkan Soonyoung menikmatinya sendiri.

 

“Gak perlu. Lagian kenapa sikap kamu jadi begini, sih?”

 

Jihoon menggigit bibirnya, “Aku mau ganti,” Suaranya terlalu pelan hingga Soonyoung mendekatkan kepalanya pada Jihoon.

 

“Apa?”

 

“Aku mau gantiin kebaikan kamu waktu itu. Kamu udah nolong aku.” Ia membuang muka ketika menyuarakan keinginannya dengan lebih jelas.

 

Soonyoung hanya terkekeh, “Kamu layak ngedapetin itu.” Suasana sedikit lebih cair atau lebih tepatnya panas ketika Soonyoung melontarkan itu. Jihoon rasanya ingin kembali membawanya ke hubungan yang biasanya tidak baik-baik saja. Namun ternyata, Soonyoung belum berhenti bicara.

 

“Rasanya aku juga sama-sama layak ngedapetin hukuman karena gak jujur dan keras kepala.” Lanjutnya membuat Jihoon terdiam kebingungan. “Hukumannya, aku gak bisa deket sama kamu. Aku malah buat onar. Buat kamu kesal. Buat kamu benci sama aku.”

 

“Maksudnya?”

 

“Jihoon, waktu kamu menangin juara pertama di final musim dingin 2 tahun yang lalu, itu yang buat aku memutuskan untuk gabung ke akademi tari.” Mulailah pengakuan itu tiba, “Aku betul-betul kagum sama penampilan kamu. Penampilan kamu udah jadi inspirasiku sejak lama. Setibanya aku audisi, aku merasa aku berbakat karena mereka bilang aku terlahir buat menari.”

 

“Mereka dengan instan bikin kamu di posisi pertama.” sambung Jihoon.

 

Soonyoung mengangguk, “Itu permulaan kamu gak suka sama aku, ‘kan?”

 

Giliran Jihoon yang mengangguk. Sejak saat itu, semuanya menjadi kacau. Jihoon memberikan sikap tak ramah pada Soonyoung. Terkadang, ia menindasnya dengan perkataan. Sayangnya, saat itu Soonyoung memiliki kekuatan dari posisinya. Sehingga, Soonyoung enggan mengalah dan kembali melemparkan kata-kata buruk untuk membangun hubungan yang sangat tidak akur dengan Jihoon.

 

“Aku selalu tonton latihan mandiri kamu. Bukan untuk mengintimidasi kamu. Tapi karena aku selalu rindu penampilan kamu.”

 

Jihoon tak mampu berkata-kata. Ia hanya mampu menatap Soonyoung dengan perasaan yang masih kusut.

 

“Ah … kalau ada kesempatan, sebetulnya aku ingin memuji kamu. Mendukung kamu supaya kamu berhenti ngerasa kurang baik. Sayangnya, kamu nyebelin. Aku pun begitu.” Soonyoung bercerita seakan-akan Jihoon tak ada di sampingnya. Tapi setelah tragedi itu, Soonyoung sudah mempersiapkan diri untuk mengutarakan yang sebenarnya. “Aku jatuh ke lubangku juga, Ji. Aku terperangkap di mana perasaan kagumku malah dibalas sama perasaan iri dan benci. Waktu sakit, aku sempet terpikir kalau aku harus mengalah dan pura-pura tampil gak maksimal. Tapi itu cuma bakalan nambah luka di hati kamu.”

 

Jihoon melemas, hatinya yang membeku terasa hangat. Ia akhirnya berbaring dengan lebih rileks sejak Soonyoung sampai di kamarnya. “Lanjutin,”

 

“Yah, aku cuma mau bilang, aku minta maaf. Aku minta maaf kalau kehadiranku malah merusak hati kamu. Harga diri kamu. Padahal aku ingin kamu tau, kalau kamulah alasan kenapa aku bisa ada di satu akademi sama kamu.”

 

Brengsek.” Jihoon mencibir sambil meraih pergelangan tangan Soonyoung yang bertumpu di tepi kasurnya. “Aku bener-bener brengsek.” Jihoon melingkarkan tubuhnya agar kepalanya lebih dekat dengan lengan Soonyoung. “Aku yang seharusnya minta maaf di sini. Bahkan, berpuluh-puluh maaf pun rasanya masih kurang.”

 

“Ada baiknya juga kamu nyuri sepatu itu.” Soonyoung menyandarkan kepalanya di tepian kasur sehingga kedua kepala itu saling berhadapan. “Kalau dengan tamparan kejam dari sepatu itu bisa buat kita berteman, boleh gak, kita mulai dari sekarang?”

 

“Gak bisa, Soonyoung.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku rasa, aku gak layak untuk dapetin kebahagiaan secepet ini.” Jihoon bermain dengan jari jemari Soonyoung sambil tersenyum getir. “Dosaku masih banyak.”

 

“Dulu, aku juga pernah curi uang pamanku. Dosaku juga masih banyak.”

 

Jihoon terkekeh pelan, “Memangnya kamu gak jadi benci sama aku?”

 

“Sejak awal aku gak benci sama kamu. Cuma, aku benci sama keadaan yang bikin kita gak berteman sejak awal. Aku benci banget sama itu. Soal kamu, kadang aku sedikit kesel kenapa kamu bisa semenyebalkan itu ketika berhadapan sama aku.”

 

Jihoon lagi-lagi terkekeh dibuatnya, ia kemudian membuat posisinya untuk lebih nyaman tanpa melepaskan tangannya dari Soonyoung. “Sejujurnya, aku takut terbawa suasana sekarang ini. Jadi aku gak mau terlalu serakah. Aku mau berteman sama kamu, Soonyoung.”

 

“Memang kalau serakah, gimana?”

 

“Ya, serakahnya, aku ingin lebih dari itu. Tapi rasanya jangan dulu. Aku gak boleh begitu.”

 

Soonyoung menyentuh hidung Jihoon dengan jemari lain yang masih bebas. “Pelan-pelan aja, ya?”

 

“Pelan-pelan aja.”

 

Sesungguhnya, segalanya menjadi lebih baik sejak kutukan mematikan itu. Keduanya merupakan burung yang terkurung dalam sangkar ego. Keduanya terbebas pula di waktu yang bersamaan. Keduanya mampu terbang dan menjadi lebih jujur akan diri mereka masing-masing.

 

“Jihoon, setelah kamu pulih, kamu mau ‘kan nari sama aku? Ayo kita buat duet terbaik sepanjang masa.” Soonyoung, akhirnya memaafkan ambisi Jihoon yang hampir mencelakai dirinya sendiri, menumpahkan segala perasaan yang awalnya terkubur oleh ketamakan dan harga diri yang tinggi.

 

“Kita bakalan ciptain duo yang paling hebat, Soonyoung. Aku ingin cepet-cepet nari lagi, berdua sama kamu.” Dan Jihoon, berusaha menebus kesalahannya. Berhenti berambisi soal posisi. Ia memilih untuk menerima kemampuannya dan berhenti membandingkan diri dengan lainnya. Ia menyadari bahwa berlapang dada dan merelakan sesuatu rasanya jauh lebih ringan dan menyenangkan. Hingga akhirnya dua kepala yang saling panas dan selalu bertabrakan itu mampu bersatu dengan hangatnya ucapan-ucapan baik.

 


 

“Aku tuh udah sadar sejak awal, ada yang aneh sejak kamu pakai sepatu itu!”

“Kamu notice secepet itu?”

“Jelas, musuhmu ini lebih peduli dari temen-temenmu yang lain. Betul ‘kan?”

“Betul juga, lagian kamu bilang kalau kamu udah menggemari aku sejak lama.”

Cih, lain kali, jangan pakai sepatu merah lagi. Warna hitam lebih cantik, kok.”

“Merah juga bagus, kok!”

“Hitam!”

“Merah, Soonyoung!”