Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-01-16
Words:
1,738
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
109
Bookmarks:
8
Hits:
2,685

Good Day

Summary:

oh good day
on a good day like this, I feel good
because I can hold your hand and go far away

on rainy days, i feel even better
because I can hold you close

everyday is a perfect day
no matter, whatever, darling

Notes:

i recommend you to listen to john park - good day, while reading this ;)

happy sunday lovelies!

Work Text:

Capek.

Haechan bukan tipe orang yang gampang mengeluh soal hidup apalagi pekerjaan. Tapi tidak hari ini, dimana 8 jam kerja terasa seperti 24 jam. Dikarenakan libur panjang- long weekend-, sudah dua hari museum seni tempatnya bekerja selalu dipenuhi pengunjung. Sebagai guide, Haechan sudah mempersiapkan dirinya untuk pengunjung yang membludak, namun tentu saja semua itu tidak berjalan semulus harapan. Ditambah lagi hujan deras selama perjalanan pulang yang mengakibatkan macet, seolah menguji kesabaran cowok gemini itu.

 

Haechan hanya ingin segera sampai rumah, mandi, terus selimutan dengan kamar yang digelapkan.. Besok ia libur jadi bisa bermalas-malasan seharian. 

Haechan membuka pintu apartemen yang ditempati berdua dengan pacarnya -Mark- dan masuk diam-diam. Berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak mencuri perhatian Mark yang terlihat sedang berdiri di depan wastafel. Semoga suara air bisa meredam pendengarannya.

Jujur ia malas ngobrol saat ini. Mark pasti akan bertanya bagaimana harinya dan dari sana pertanyaan lain akan muncul. Mark itu suka ngobrol, hal itu juga yang membuat Haechan jatuh hati padanya. Ia bisa membicarakan apapun dengan Mark, dan cowok itu akan selalu mendengar dan  menanggapi dengan antusias walau dengan topik random sekalipun. 

Namun tidak saat ini, badannya sudah sangat lengket dan Haechan ingin segera mandi. 

 

"Udah pulang sayang?"

 

Haechan menghentikan langkahnya-memejamkan mata sambil menarik nafas dalam- Haechan berusaha tersenyum dan berbalik badan menghampiri Mark yang entah sedang berbuat apa di dapur.

 

“Hai,”

 

Semakin dekat Haechan bisa melihat Mark dengan jelas. Cowok itu mengenakan celemek yang diikat asal-asalan di pinggang berdiri didepan meja dapur. Mark dikelilingi mangkok dan peralatan masak, serta buku buku baking ‘Bake with Anna Olson’ yang Haechan beli saat diskon terbuka lebar di atas meja dapur. Belum lagi pintu kulkas yang dibiarkan terbuka lebar, menambah kekesalan Haechan, ia mengerjap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 

 

“Kamu ngapain Kak?” tanya haechan hati-hati sambil menutup pintu kulkas dengan bahunya. Mark dan memasak (apalagi baking!) bukanlah hal yang bisa disatukan. Terakhir kali Mark membantu Haechan bikin cupcake, berakhir dengan satu lusin telur terjun bebas dari atas meja karena Mark tidak sengaja menyenggolnya. Hampir seminggu apartemen mereka bau amis!

“Aku pengen bikinin kamu sesuatu. Dari kemarin pasti rame banget deh kantor kamu, pasti pusing ngurusin orang. And at times like this, a gooey cookie will do right?”

 

Haechan nggak jadi kesel. Kalau Mark gini terus, buka cuman cookie-nya yang gooey, Haechan juga udah meleleh duluan dibuatnya. Semua beban yang ada di pundaknya terangkat hanya dengan ucapan dan senyum hangat Mark.

 

Ah, he fell harder everyday. But Mark doesn't need to know that.

 

Haechan mencuci tangannya lalu menghampiri Mark dari belakang.

 

“Pake celemek tuh yang bener. Longgar gini sama aja bohong, liat tuh tetep kena baju” Haechan membenarkan tali celemek, sambil membersihkan tepung yang menempel di rambut dan baju Mark. Haechan tidak merubah posisinya, ia kini malah lanjut memeluk Mark dari belakang, dengan dagu yang disandarkan pada bahu lebar Mark sambil mengintip sudah sejauh mana progres pacarnya ini. 

“Udah sampe mana bikinnya?”

“Nih, aku udah ikutin semua kata bukunya,” Haechan bisa melihat ada adonan yang menempel di bukunya, sambil berdoa dalam hati semoga masih bisa dibersihkan. 

“Udah sesuai takaran?”

“Harusnya sih. Aku bener-bener timbang satu-satu, nggak kaya kamu” ucap Mark meledek. Haechan mau tidak mau tersenyum mendengarnya. Cooking is about feeling! Haechan suka protes soal Mark yang tidak bisa masak sama sekali, sehingga kadang kalau lagi mood Haechan ngijinin Mark bantuin dia masak. 

 

Skill basic aja loh Kak, basic. Kalau kamu terlantar kelaparan, seenggaknya bisa bikin makan seadanya. 

 

Tapi ilmu memasak ajaran Haechan tidak jauh dari kalimat ‘secukupnya’, ‘kira-kira aja sampe asin’, ‘air segelas apa dua gelas lah diliat aja’ dan istilah takaran sesuka hati lainnya. Kapan mau bisanya Mark kalau kaya gini?

 

“Mana coba liat?” Haechan melepaskan pelukannya dan berdiri di sebelah Mark. Mengambil sedikit adonan yang sudah Mark buat untuk merasakan teksturnya. Mark memperhatikan Haechan dengan seksama, harap harap cemas semoga surprise -nya berhasil dan nggak kena semprot Haechan. 

 

Tanpa Mark sadari, ada tepung yang menempel di hidungnya, membuat Haechan semakin gemas dengan kelakuan pacarnya. 

 

“Kamu kok lucu banget sih,” Hachan nggak kuat. Impulsif ia hapus sisa-sisa tepung itu, dan mendaratkan satu kecupan manis dan lama di bibir Mark, membuat cowok yang lebih tua itu salting. Haechan emang paling jago bikin Mark salting

“Baby… “

 

Tidak ambil pusing dengan Mark yang sudah merah pipinya, Haechan mengambil alih adonan lalu diuleni sampai dirasa teksturnya sudah pas. Haechan lalu menambahkan chocolate chips lebih dari resep yang dianjurkan, Mark cuman bisa berdoa semoga mereka nggak diabetes. Haechan lalu meminta Mark menyiapkan loyang dengan kertas roti sebagai alasnya. 

 

Haechan kembali berdiri dibelakang Mark, membimbing tangan pacarnya untuk membuat adonan menjadi bentuk bulat lalu diletakkan diatas loyang. 

 

“Naronya agak jauhan Kak, nanti pas di oven jadi lebar gitu soalnya” ucap Haechan, menimbulkan rasa geli di telinga Mark. Dipeluk dari belakang dengan tangan yang bergerak bersama, ditambah nafas Haechan yang menggelitik lehernya, Mark bangga dengan self control yang ia miliki. 

 

Senyum bangga juga tidak lepas dari bibir Haechan saat mereka memasukkan semua adonan kedalam oven. Haechan tidak berhenti menatap Mark, sambil menepuk-nepuk pipinya.

 

“Good job,” ucap Haechan seperti seorang guru yang memuji muridnya.

 

Sebal diledekin terus dari tadi, Mark mengambil sisa tepung lalu dilemparkan sedikit pada kemeja kerja Haechan yang berwarna hitam, membuat bekas tangan besar tercetak di dadanya. 

 

“Oh jadi gini mainnya,” ucap Haechan sudah siap dengan ancang-ancangnya. Matanya melirik mangkok berisi tepung sisa yang ada di sebelah Mark. 

“Sorry, gak-nggak gini sayang” Mark berusaha mengambil mangkoknya namun kalau cepat dengan Haechan yang sukses meniupkan segenggam tepung ke mukanya. 

“Oopsie… “ ucap Haechan dengan ekspresi pura-pura menyesal. Tidak sampai disitu Haechan juga sempat-sempatnya memukul pantat Mark kencang sebelum lari untuk menghindar.

“You're gonna regret this.”

 

Kedua lelaki pertengahan dua puluh itu kini sibuk kejar-kejaran di dapur, mengelilingi meja sambil lempar-lemparan tepung. Sampai akhirnya, mereka berdua rebahan di lantai, kehabisan napas dan kelelahan, tertawa melihat satu sama lain dengan baju penuh tepung. Haechan beringsut ke tempat Mark berbaring- melingkarkan tangannya di pinggang Mark dan meringkuk di dadanya. 

 

“How was your day?”

 

Bukannya menjawab Haechan semakin mengeratkan pelukannya. Mark membalasnya dengan usapan halus di kepala Haechan, ia bisa menebak bahwa hari ini tidak cukup baik untuk pacarnya.

Ini yang Haechan takutkan. Bukan males ngobrol sebenarnya, tapi Hechan males  kalau Mark udah nanya “Gimana hari ini?” Haechan tau dia pasti bakalan langsung nangis bahkan sebelum memulai cerita. Nangis itu capek, apalagi sambil peluk sambil dielus-elus kepalanya. Dan Haechan nggak mau capek. 

 

“Capek ya? Mau cerita sama aku?” air mata yang berusaha ditahan selama perjalanan pulang akhirnya turun juga. Haechan semakin menyembunyikan mukanya di dalam dada Mark yang kaget tiba-tiba merasakan bahu Haechan yang bergetar dalam pelukannya. 

“Eh kenapa? Kamu nangis? Coba sini liat dulu,”

“Nggak mau!” tolak Haechan

“Kenapa sayang?” 

“Mau peluk aja, kamu diem dulu”

 

Haechan si monster peluk. Kalau udah gini biasanya lama sampai pelukannya mau dilepas. Mark hanya bisa menunggu sampai Haechan siap cerita.

 

“Tadi ada rombongan, ibu-ibu sosialita gitu” Mark kini mengusap punggung Haechan, sebagai gesture bahwa ia mendengarkan “Terus aku guide kan seperti biasa. Mereka bisa ingin foto-foto, ya aku juga nggak larang. Sampai akhirnya ada yang nyentuh art piece nya Kak, bahkan sampai masuk garis batas. Aku tegur dong, eh aku malah balik dimarahin. Di depan umum lagi, sampai keluar kata-kata ‘kamu juga bisa saya beli’ te-terus…. “

“Oh god.. It’s okay baby… “

“Sebellll. Masalahnya dia kayak gitu depan umum, aku diliatin pengunjung yang lain dikiranya kan aku ngapain.. Malu banget” tangisan itu sudah berhenti berganti umpatan kesal. 

“Terus?”

“Tadi langsung ditengahi sama Kak Ten, aku juga salah sih langsung pergi gitu aja. Jadi tadi sempet ditegur juga sama atasan… “

“Tapi kan kamu nggak salah sayang,”

“Iya emang. Tapi nggak seharusnya aku ninggalin tamu gitu aja sebelum masalahnya clear. Aku tuh takut emosi, makanya milih kabur aja”

“Tapi udah clear?” tanya Mark lagi

“Udah, tadi aku akhirnya minta maaf juga sama orangnya. Terus ya gitu deh dianya juga minta maaf tapi gengsi gitu, sebel deh pokoknya,”

 

Mark terus menangkan Haechan dengan pelukan yang tidak pernah lepas, sambil sesekali mencium keningnya. Kenyamanan itu harus terhenti saat oven mereka berbunyi ‘TING'. Mark dan Haechan saling bertatapan sebelum melonjak girang, tidak sabar untuk membuka oven. 

 

“Wah kelihatannya sih enak ya, nggak gagal kan?” tangan Mark sudah siap untuk mencicipi kue yang baru dikeluarkan namun segera ditepis oleh Haechan.

“Ntar dulu ih masih panas!” 

“Ih justru masih anget gini kan enak, coklatnya meleleh nggak ya?”

 

Mereka akhirnya meniup satu cookie untuk dibelah dua. Begitu dibuka adonan lembut dengan lelehan coklat yang keluar dari dalam yang membuat Mark berteriak girang

 

“Yes! Just the way you like it,”

 

Haechan mencicipi kukisnya dan tersenyum ke arah Mark

 

“Just the way i like it,” ucapnya sambil menyuapi Mark potongan kukisnya . “You did it.”

“Sambil nunggu dingin. Kamu mandi dulu gih, nanti kita makan ini sambil nonton”

 

Haechan jadi inget, ia sudah ketinggalan banyak episode serial kesukaannya, Mark berencana menemaninya binge watch malam ini. 

 

“Eh iya, emang internet nya udah bener?” sudah beberapa hari koneksi wifi apartemen mereka mati, membuat Haechan semakin dongkol jika mengingatnya

“Aku udah telepon tadi, kata mereka emang lagi gangguan, tower mereka konslet, jadi ada beberapa daerah yang mati koneksinya. Karena yang complain bukan hanya kita, jadi teknisinya baru bisa kesini besok,”

“Lah terus gimana dong nonton-”

 

Sebelum protes Mark dengan cepat mengecup bibir Haechan dan mendorongnya ke arah kamar mandi.

 

“Worry no more. Aku tadi ikut wifi-an di rumah Chenle, dan udah aku download semua episodenya. Jadi kita tetap bisa nonton.”

“You what?” Haechan menghentikan langkahnya membuat Mark menabrak badannya, “Kalau orang tua Chenle tau kamu malah numpang wifi, bukannya ngajarin anaknya main piano gimana coba!”

“He’s so smart! Chenle udah hafal semua lagu untuk lombanya. Lagian anaknya juga butuh hiburan, jadi aku suruh main game aja, kesian stress mikirin lomba.”

“Astaga Mark Lee… “

“Udah-udah cepet masuk sana” Mark membuka pintu kamar mandi dan mendorong Haechan masuk

“Bentar-bentar!”

“Apalagi sih?”

“Aku udah bilang belum sih?” tanya Haechan, ekspresinya serius

“Bilang apa?” tanya Mark bingung

“I love you,” ucapnya genit sambil melayangkan finger heart di depan muka Mark

“Ah elah kirain apaan, udah sana mandi. You stink!”

“Bau juga kamu cinta,” ledek Haechan lagi

“Iya-iya udah cepet ya mandi. Ntar kukis nya dingin”

“Cie salting,”

“Cepet masuk atau aku guyur kamu”

“Dimandiin gitu? Boleh banget! Ide bagus”

“LEE HAECHAN!”

“Ckck, nggak seru ah,” Haechan meleos lalu menutup pintu kamar mandi tepat di muka Mark. 

 

Mark yang niatnya mau ganti baju karena penuh tepung dan menyiapkan baju untuk Haechan tiba-tiba kepikiran ide lain. Cowok itu lalu berbalik arah menuju kamar mandi.

He will show his boyfriend what fun is.