Work Text:
Kalau ditanya perasaan seseorang yang kini menjadi dewasa muda dan berada di negeri orang lain, tentu berat rasanya. Perbedaan bahasa dan kultur budaya adalah masalah terbesarku selama berkuliah di The Universität der Künste Berlin, tetapi sejatinya hal itu adalah risiko yang harus kujalani karena memilih hal di luar zona nyamanku. Kalau aku mengeluh ke tou-sama dan kaa-sama, justru aku akan diomeli; ‘Salahmu sendiri, [name]-chan. Kau harus belajar bertanggungjawab atas pilihanmu’, kira-kira seperti itu.
Akan tetapi, masalah lain yang membuat aku acap kali merasa sekujur tubuh terasa lesu adalah karena kemampuan melihat hal yang tidak kasat mata. Bayangkan saja, saat harus berkonsentrasi dengan penjelasan dosen atau sedang melukis objek di depan mata, konsentrasi mendadak terpecah oleh lirihan; “Bitte hilf mir ….” disertai sosok yang tiba-tiba lewat dan berdiri di dekatku dengan penampilan menyeramkan. Duh, rasanya aku harus pura-pura tidak mendengarkan mereka. Salah gestur sedikit, jika tidak sengaja bertemu pandang, yang ada jadi masalah lain untukku.
Belum dengan hal lainnya seperti ….
“Howdy, Schlitz Augé!” Suara derap langkah semakin mendekat, aku pun menghela napas dan menghentikan langkah menuju kelas, menunggu kedatangan manusia bermulut kotor tadi.
Nah, maksudku panggilan bersifat rasisme seperti itu. Jujur, aku lebih baik tidak tahu arti dari kata ofensif kepada fisik khususnya bentuk mata hanya karena aku berasal dari Asia, setelah tahu justru membuat darahku sedikit memanas. Tidak hanya satu-dua saja yang meledek seperti itu, terkadang pandangan meremehkan juga acap kali kuterima.
“Sudah kubilang berhenti mencemoohku seperti itu. Unhöflich, rude, you know? Kalau ada orang Asia lain yang dengar, bagaimana?” ujarku dengan bahasa Jerman bercampur Inggris kepada Agatha Guhr, pemilik mulut kotor tadi.
Aku hanya mendengkus saat ia memamerkan deretan giginya serta gestur v-peace dengan kedua jarinya. Untung saja, dia berteman cukup lama denganku dan memang candaannya frontal, jadi aku memaafkan. Jujur saja aku tidak banyak memiliki teman dengan darah Jerman selain Agatha, entah karena masalah ras atau kurang bersosialisasi karena lebih nyaman dengan sesama teman dari Asia lainnya. Agatha memang yang sejak awal berusaha mendekatiku, kurasa.
“Iya, iya. Aku bercanda, maaf. Ngomong-ngomong, kau sudah ada ide untuk workshop photography lab?” tanya Agatha sembari mengangkat tas berisi digital camera dan aksesorisnya. “Kudengar kau bosan dengan tema urban atau kota. Tema alam sepertinya menarik, bukan?”
Aku hanya mengendikkan bahu dengan pikiran yang menerawang memikirkan beban perkuliahan seraya kaki melangkah masuk ke kelas yang dimaksud. Jujur saja yang kupikirkan beberapa hari ini adalah berlibur ke kota lain dengan kereta, aku sudah lelah dengan banyaknya workshop di jurusan fine arts.
“Kau jadi liburan ke Krün saat winterurlaub? Pemandangan di sana bagus. Melarikan diri sekaligus mencari ide workshop, wow, saran Agatha memang jenius!” bisik Agatha saat kami baru saja duduk seraya memerhatikan mahasiswa lain berlalu-lalang melewati kami di dalam ruang kelas.
Aku pun tertawa kecil menanggapi antusiasme Agatha dengan rencanaku untuk melepas suntuk tahun terakhir di The Universität der Künste Berlin.
“Kurasa aku bahas setelah kelas ini saja. Dozent sudah akan masuk untuk mengajar,” balasku, ikut berbisik.
Ah ya, perihal kemampuanku, Agatha mengetahuinya karena melihat gelagatku bertahun-tahun berteman dengannya. Ia cenderung ketakutan jika aku menunjukkan gestur yang berbeda sebab terganggu oleh kedatangan sosok lain. Ia akan mendadak menjadi religius dan membaca beberapa ayat dari alkitab agar hatinya lebih tenang, sedangkan aku sendiri sibuk mengabaikan sosok itu.
[][][]
Terus terang, aku jarang bepergian ke luar Berlin selama tiga tahun berkuliah di Jerman. Bukan karena enggan, tetapi karena kesibukan mahasiswa fine arts major. Selama ini aku hanya mencari inspirasi karya seni melalui museum-museum seni yang ada di Berlin dan referensi buku, tetapi setelah mendengar dari Agatha kalau berlibur di Bayern atau Bavaria sangat menyenangkan terutama di sekitar perbatasan Austria membuatku ingin berlibur sejenak. Beruntung ada libur musim dingin, mengingat jarak dari Berlin ke Munich ibu kota Bayern saja sekitar kurang lebih lima jam dengan kereta, sedangkan Krün sekitar satu jam 40 menit dari Munich.
Setibanya di Krün, rasanya anggota tubuh bagian bawahku sakit semua, apalagi harus singgah di Munich dan naik kereta dari sana sebelumnya. Saat keluar dari stasiun untuk mencari transportasi ke penginapan, tubuh pun disambut angin musim dingin mengingat suhu sekitar ada di kisaran -2°C padahal hari masih siang, beruntung Agatha sudah berpesan untuk memakai sweater tebal dan padding jacket.
Agaknya aku sedikit menyesali pergi jauh dari Berlin ke kota yang dekat dengan perbatasan Austria, tetapi saat melihat pemandangan kota ini dengan Alpen yang juga terlihat dari jendela taksi yang kutumpangi, rasa lelahku seperti terbayar. Aku sendiri sudah memiliki rencana mengunjungi spot-spot turis, saat melihat di laman pencarian saja aku berdecak kagum karena keindahan alam di kota ini, benar-benar seperti yang ada di kartu pos! Setibanya di penginapan, aku merapikan koperku dan hanya membawa ransel sedang berisi kamera dan barang berharga lain.
“Woher komen Sie?” tanya staf lodge saat aku keluar dari kamar yang kupesan. Ah, tatapan matanya seperti menginspeksi, apalagi saat melihat bentuk mataku. Rasanya aku seperti diremehkan, ia kira aku tidak bisa berbicara dalam bahasanya karena aku bukan orang sepertinya, huh?
“Ich komme aus Japan und studiere in Berlin,” jawabku seraya tersenyum. “Kupikir negara kita rekan di Perang Dunia II, lagipula sekarang sudah era modern, tidak perlu menatapku begitu,” sambungku lantas melenggang pergi untuk mengisi perut yang sudah keroncongan di restoran dekat penginapan. Yang kudengar setelahnya, si pemilik lodge tampak memarahi staf tadi karena ketidaksopanannya kepadaku.
[][][]
Ada dua danau terkenal di Krün yang acap kali menjadi spot turisme terkenal, yakni Barmsee dan Grubsee. Selepas mengisi perut, aku pun bergegas menuju Barmsee, kebetulan masih jam-jam golden hour sehingga aku harus buru-buru sampai di sana dan mengabadikan pemandangan yang akan kulihat.
Aku pun berlari menuju pinggiran danau setibanya di sana, lantas mengatur kamera dan asyik memotret objek foto di depan mata. Pemandangan yang luar biasa cantik! Danau ini termasuk cukup besar, dengan background pegunungan dengan salju di kejauhan. Pinggiran danau dipenuhi salju, aku tentu saja berhati-hati dengan pijakanku. Salah langkah, bisa saja terpeleset dan jatuh ke danau yang sebagian membeku.
“Sei vorsichtig,” lirih suara wanita persis di telinga kananku, aksen bahasanya terdengar lebih berat dari yang biasa kudengar di Berlin, dan lebih … kuno?
Saat aku menoleh, wanita itu berdiri cukup jauh dariku, wajahnya sedikit pucat, midi dress yang ia kenakan terlihat ketinggalan zaman. Ah, kakinya tidak memijak tanah, tentu saja ia bukan manusia. Aku pun meneguk ludah, tentu saja ada sedikit rasa takut karena berinteraksi dengan sosok bukan manusia, semoga saja ia tidak akan mengikuti atau minta tolong padaku.
Rasa tegangku hilang mengingat ia memeringatiku untuk berhati-hati, sekelebat memori bukan milikku menyeruak dalam benak. Rupanya wanita itu hidup di masa-masa perang dunia ada, ia meninggal tidak jauh dari danau ini, ia tidak menjelaskan alasan ia tiada—toh aku tidak begitu peduli sebab itu memori menyakitkan. Biasanya, sosok-sosok lain selama aku tinggal di Berlin akan berusaha menakuti atau mengatai, dendam karena perang di masa lampau atau tidak suka saja dengan darah Asia yang kumiliki. Entahlah, wanita ini berbeda dengan sosok-sosok yang biasanya memandangku penuh rasa tidak suka.
“Danke,” balasku, kembali sibuk dengan kamera. Ah, rasanya menenangkan hati melihat pemandangan yang bagus, ingin kurekam sebanyak-banyaknya dan kubawa pulang ke Berlin.
Tiba-tiba saja memori lain masuk dalam benakku. Wanita itu … pernah jatuh hati pada pandangan pertama dengan pria Asia yang singgah ke kota ini. Yang kulihat, pria itu tidak terlalu tinggi, tapi wajahnya tidak terlalu jelas dalam benakku. Aku menatap wanita itu lagi, pandangannya kini berubah sendu dan senyumnya terlihat menyedihkan, mungkin ia mengetahui rasa penasaranku sebab ia berbeda dari sosok lain dan berusaha menjelaskan.
“Kau tidak tahu namanya?” tanyaku.
Aku mendengar bisikan turis lain sembari melihatku dengan tatapan aneh. Yah, seperti biasa orang-orang akan menganggapku gila karena terlihat tengah berbicara sendiri, padahal aku tidak berbicara sendiri. Aku hanya mengabaikan, toh turis itu akhirnya berjalan menjauhiku.
Nama Katsuhiko Maki muncul dalam kepalaku. Ah, orang Jepang ternyata, ada rasa bangga tersendiri dalam dadaku. Aku tersenyum ketika ia menjelaskan dengan kilasan memori alasan ia jatuh hati kepada si Katsuhiko ini; wanita itu dulu membantunya mencari keberadaan seseorang yang sedang dicari Katsuhiko Maki, berkenaan dengan pekerjaannya sebagai resepsionis di penginapan yang dahulu tidak jauh dari Barmsee. Ia kagum dengan tutur kata halus dan sikap gentleman pria itu, sehingga ia pun terpikat hatinya. Setidaknya aku ingin sedikit berterima kasih kepada pria bernama Katsuhiko ini, sebab ada satu sosok di Jerman yang tidak memandang rasku.
Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, hari mulai gelap apalagi di musim dingin matahari tenggelam lebih cepat. Aku harus kembali ke pusat kota Krün, lokasi penginapanku berada, sebab esok harinya aku harus ke lokasi hiking untuk hunting foto lainnya. Seperti menangkap gelagatku, wanita tadi memperkenalkan dirinya dan seakan mengucapkan perpisahan.
“Namaku Nancy, terima kasih sudah mendengarkan kisahku dan mengobati rinduku kepadanya,” lirihnya, mungkin maksudnya karena aku tadi sedikit menjelaskan dari nama si Katsuhiko Maki bahwa aku berasal dari negara yang sama dengannya.
[][][]
Liburan singkatku di Krün rasanya cepat sekali berakhir. Sekarang aku sudah berada di stasiun Krün, menunggu kereta menuju Berlin. Aku sedikit menguap, tadi malam kakiku pegal-pegal karena pagi harinya hiking di Isar-Natur-Erlebnisweg untuk menangkap potret pemandangan satu kota. Memang pemandangannya indah, tetapi sebagai anak seni yang lebih sering berkutat dengan photo editing maupun duduk melukis objek dan jarang berolahraga cukup membuat kewalahan. Belum dengan gangguan sosok-sosok iseng yang membuatku terbangun dari tidur. Bayangkan saja, diganggu dengan suara rintihan dan orang-orang yang berbincang seperti ada di dekatku, saat membuka mata aku melihat sosok berdarah-darah dengan wajah hancur. Aku menggelengkan kepala, menghempas lamunan perihal kejadian semalam dan cepat-cepat masuk kereta saat ia tiba, duduk menatap pemandangan luar dari jendela. Aku menghela napas, sebab sekembalinya ke Berlin aku harus mengerjakan tugas untuk workshop fotografi dan mulai melukis segera karena akan ada project untuk pameran di kampus.
Mataku terasa berat saat kereta mulai berjalan. Tanpa sadar aku mulai masuk ke alam mimpi, entahlah sudah berapa lama aku tertidur lantas bermimpi? Namun, mimpiku terasa aneh … dan nyata. Di mimpiku, kereta tengah melaju dalam badai salju, tiba-tiba aku merasakan penerangan di dalam kereta padam. Gelap, jujur aku mulai takut kalau ini bukan mimpi, aku mendengar orang berlalu-lalang mengatakan ada kerusakan. Kemudian, aku merasakan goncangan hebat, suara besi saling bergesek dan mulai berjatuhan, dan mendengar suara jeritan banyak orang, dengan aksen yang sedikit lebih kuno dan berat. Badanku bergetar sebab ketakutan, aku ingin bangun dari mimpi mengerikan ini, tetapi dadaku terasa berat seperti tertindih besi-besi kereta. Sakit, sesak, aku seperti kesulitan bernapas, apakah ini bukan mimpi? Aku mencium bau anyir darah luar biasa, jeritan orang-orang yang semakin lirih. Aku hanya bisa menangis dan merintih kesakitan, sampai aku mendengar suara sirine.
Tiba-tiba aku terlonjak kaget dan terbangun dari tidur singkatku, aku seperti mendengar suara deham pria. Tubuhku bercucuran keringat, seperti habis melakukan olahraga berat, bahkan saat hiking kemarin aku tidak berkeringat sebanyak ini karena musim dingin. Saat aku mengalihkan pandangan, di sampingku ada pria berambut burgundy berpakaian rapih. Bulu romaku berdiri saat bau anyir menyeruak ke hidungku, dan aku melihat pakaiannya bersimbah darah terutama di sekitar abdomen.
“Kau bisa melihatku?” Pria tadi bertanya.
Sungguh, jika ia manusia, aku akan terpikat dengannya sebab warna suaranya yang menggelitik hatiku. Namun, aku tahu ia bukan manusia, entah residual energi atau memang sosoknya tersangkut di sini. Sebentar … barusan ia berbicara denganku, ‘kan? Jelas ia bukan hanya residu energi. Aku menghela napas, berusaha mengontrol detak jantungku yang berpacu cepat, rasanya seluruh tubuhku menjadi dingin dan bulu kudukku juga berdiri. Sial, apa yang akan kualami nanti? Wajahnya memang tampan, tetapi kondisi sewaktu ia tiada begitu mengerikan—maksudku, ia tertusuk besi kereta, bagaimana hal itu tidak membuatku merasa ngilu?
“Penampilanmu acak-acakan, mengerikan. Kau habis bermimpi buruk?” Ia bertanya lagi.
Scheiße! Hantu tampan satu ini nada bicaranya arogan sekali. Aksen bahasa Jermannya … bisa saja menipuku, yang jelas kurasa ia bukan orang Jerman. Kutatap lagi dirinya yang tengah memerhatikanku juga, ia seperti ras mongoloid pada umumnya, tetapi fitur wajahnya tidak terlalu tegas.
“Aku tahu aku tampan, walaupun aku bersimbah darah begini.”
Aku mendengkus, rasanya tekanan darahku bisa saja naik hanya dengan mendengarkannya berbicara.
“Nah, kau benar-benar mendengarkanku ternyata.” Ia tersenyum tipis.
Sialan. Ia pasti akan mengikutiku ke mana-mana setelah ini, dilihat dari tingkahnya yang menjengkelkan.
[][][]
Ternyata benar, si hantu tampan mengikutiku sampai Berlin. Untung saja ia mengganti penampilannya sehingga ia tidak terlalu berbau anyir dan terlihat mengerikan seperti tadi. Aku menghela napas saat aku tiba di flat tempatku tinggal dan tengah mencari kunci, ia berdiri di belakangku sembari melihat-lihat pemandangan di jalanan sekitar.
“Banyak yang berubah,” lirihnya sembari melihat-lihat jalanan sekitar.
Aku memutar bola mataku, jengah, sedari tadi turun dari kereta di stasiun Berlin ia terus-terusan berbicara tentang perbedaan kondisi Jerman di eranya dan era sekarang.
“Sudah kubilang aku tidak mau membantumu, kenapa kau mengikutiku?” ujarku ketus.
Sulit sekali mengusir hantu tampan sialan menyebalkan ini. Aku tidak pernah bertemu dengan hantu yang keras kepala sepertinya, sungguh. Kenapa harus aku yang bertemu dengannya, bukan orang lain dengan kemampuan serupa?
“Aku merasa kau bisa menolong—”
Ucapannya terputus saat aku tiba-tiba mengumpat dalam bahasa ibuku, bahasa Jepang, akibat kunci flat yang sedikit macet. Si Sialan itu membelalakkan matanya, tetapi tiba-tiba tersenyum simpul.
“Ha! Sudah kuduga kau orang Jepang. Sejak tadi aku menebak, kau orang China atau Korea, ternyata kita dari negara yang sama. Sudah kubilang kau pasti bisa membantuku,” katanya.
Ah, kalau sudah begini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurutinya. Ia bahkan mengikutiku ke dalam flat dan menginspeksi detail ruangan sampai perabotannya. Aku hanya bisa berkata dalam hati kalau hantu satu ini memang aneh. Menurutku semasa hidupnya, mungkin pria ini sangat menyukai seni. Lihat saja, ia tengah menatap kagum patung tanah liat dan lukisanku di semester kemarin.
“Kau … mahasiswa seni?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Fine arts. The Universität der Künste Berlin.” Aku menjawab pertanyaannya sembari membuka koper dan menaruh pakaian kotor di tempat cucian.
“Tempat tinggalku tidak jauh dari sini juga,” katanya, sembari berjalan menuju jendela flat dan sedikit melihat-lihat orang serta kendaraan yang berlalu lalang.
Saat kuperhatikan wajahnya, pandangannya sedikit menerawang, mungkin mengingat-ingat memori lamanya. Tiba-tiba, seperti déjà vu, memorinya sedikit kubayangkan pula. Aku ikut menerawang lokasi tempatnya tinggal dengan kondisi di sekitar sini sekarang.
“Tempat itu sudah menjadi pertokoan, sayang sekali.” Aku tanpa sadar tertawa kecil, sepertinya ia hidup di era Perang Dunia II. Ah, era yang mengerikan menurut sejarah. Aku bahkan sering melihat hantu dengan seragam tentara dan kondisinya mengenaskan.
Aku diam, teringat jika aku belum mengetahui nama si hantu itu. Rasanya tidak nyaman jika aku terus memanggilnya dengan sebutan ‘Hantu Tampan’ atau ‘Si Sialan’, bukan?
“[Surname] [Name],” panggilnya tiba-tiba dengan intonasi suara yang rendah, tidak ayal hal itu membuat bulu kudukku sedikit berdiri.
“Hah? Kau tahu—”
“Hm, penghuni gedung flat ini yang memberi tahu,” jawabnya disertai seringaian jenaka di wajahnya. Ia tiba-tiba duduk di sofa yang belum lama kubeli, sembari menyilangkan kaki. Ha … sepertinya ia pandai menilai barang mana yang kualitasnya baik, sofa itu lebih mahal dibanding sofa lainnya di flat kecil ini.
Aku mengerutkan dahi, ragu akan ucapannya. Ia lantas hanya tertawa kecil melihat mimik wajahku, kemudian tangannya menunjuk lukisanku yang kupasang di dinding flat. Sial, lagi pula penghuni flat ini sangat kaku dan aku tidak akrab dengan mereka sama sekali, hanya sekedar tahu, bahkan awalnya mereka berusaha membuatku pergi karena teringat era perang dunia. Mau saja aku hampir ditipu si Hantu ini.
“Siapa namamu?” tanyaku sedikit sinis. Aku hanya ingin segera menyelesaikan hal yang ingin ia minta dan fokus ke diriku sendiri.
“Katsuhiko Maki,” jawabnya.
“Hah?”
Tanpa kusadari, mulutku menganga. Aku teringat Nancy, sosok hantu yang kutemui di Barmsee, ia sempat jatuh cinta pandangan pertama kepada seseorang bernama Katsuhiko Maki. Sungguh yang dimaksud adalah orang—maksudku, hantu—menyebalkan ini? Ia menatapku dengan pandangan menyelidik.
“Kenapa? Tidak mungkin kau kenal denganku, bukan?”
Aku mendengkus. “Tentu tidak. Kau hidup di zaman sewaktu Hitler masih berkuasa, sedangkan aku hidup di era Steinmeier berkuasa.” Aku diam sejenak. “Ada seseorang—well, sudah bukan orang—mengenalmu di Krün. Perempuan, namanya Nancy.”
Katsuhiko tampak tengah berpikir. Ia mengerutkan dahinya yang cukup lebar itu, lantas menggelengkan kepala.
“Kuakui aku memang tampan, mungkin gadis bernama Nancy ini tertarik dengan ketampananku sewaktu aku singgah di Krün.”
Dasar bedebah sialan, percaya dirinya tinggi sekali. Nancy, sayang sekali kau harus merindukan bedebah seperti Katsuhiko Maki. Aku turut prihatin.
[][][]
Terus terang, sejak Katsuhiko Maki mengikutiku dari Krün hingga ke Berlin, rasa kesepianku karena tinggal sendiri di flat berkurang, apalagi saat natal aku hanya bisa video call dengan keluargaku. Aku yang hanya memiliki sedikit teman di kampus, bahkan lebih sering bersama Agatha, seakan memiliki teman baru lagi—ya, si Maki itu mengikutiku, tidak jarang ia jadi perhatian hantu lainnya yang berdiam diri di sudut-sudut kampus. Ia juga memiliki pengetahuan yang bagus perihal karya seni, sebab semasa hidup ia pernah menjadi art dealer. Tidak ayal hal itu sangat membantuku lebih cepat menyelesaikan project. Agatha pun sampai terkagum dengan hasil pekerjaanku tempo hari, tetapi saat memergokiku berbincang seorang diri, ia langsung mencari alkitab daring dan bertindak seperti pengusir setan dari film horor. Aku masih ingat ekspresi Maki saat ‘diusir’ oleh Agatha, ia hanya bersidekap dada dan mengangkat alis kanannya, lantas menatapku seakan bertanya, ‘Ada apa dengan temanmu?’.
Ya, jika dilihat-lihat selama beberapa minggu dari liburan musim dingin sampai kembali belajar ke kampus, banyak perubahan dalam hidupku sebab eksistensi sosok bernama Katsuhiko Maki. Walaupun kurasa ia memiliki banyak rahasia sendiri yang tidak kuketahui, eksistensinya seakan semu dan itu tidak benar-benar dirinya, benar-benar hantu yang misterius.
Saat ini aku tengah duduk di sebuah kafe, berdiskusi sejenak dengan Maki perihal era Perang Dunia II sembari memakan apfelstrudel ditemani secangkir kopi hitam di sebuah kafe tidak jauh dari gedung universitasku. Kupijat kepalaku sedikit sebab pria hantu ini sangat picky untuk urusan tempat, ia memilih kafe yang lebih terasa vintage dibanding kafe lain. Bahkan saat aku hendak memilih apfelstrudel, ia sendiri yang menunjuk mana yang lebih enak dengan alasan yang ia pilih lebih cantik dilihat. Sampai waitress kafe itu kebingungan karena aku asyik berbisik-bisik sendiri saat memilih pastries yang ada di sana, semua itu karena Maki.
“Kau bilang Berlin terpisah pada 1945?” tanyanya, aku memang sempat membahas kejadian di masa depan karena ia meninggal sebelum perang dunia usai kemarin di flatku.
“Yap, reunifikasinya pada 1989, kurasa? Saat Cold War usai.” Aku sedikit berbisik, takut orang-orang di sekitar akan memandangiku dengan aneh sebab berbicara dalam bahasa ibu seorang diri. Aku pun menunjukkan artikel pada layar ponselku perihal runtuhnya tembok Berlin dan reunifikasi Berlin Barat-Timur, kubantu ia membaca artikel sampai selesai karena ia sangat gaptek, juga dibutuhkan energi besar untuk dirinya agar bisa menggerakkan benda.
Kupandangi Maki yang sedang berpikir, terlihat serius. Untuk seorang art dealer, ia memiliki pengetahuan yang bagus perihal diplomasi dan sejarah, terkadang aku kesulitan untuk memahami jalan pikirannya. Dia … aneh.
“Ada alasannya dengan Soviet runtuh, ‘kan? Kebijakan Michail Gorbachev memicu runtuhnya USSR, sehingga berdampak kepada negara yang memiliki paham komunis juga.”
Aku memijit pelipisku pelan, ingin aku berteriak kepadanya kalau aku bukan mahasiswa sejarah, tetapi mahasiswa jurusan fine arts. Aku menghela napas, lantas mengangguk. Kupandangi ia dengan penuh kecurigaan, ia terlalu pintar untuk seorang art dealer. Ia memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap kejadian di masa depan setelah ia tiada, bahkan bisa menyambungkan kronologis kejadian di negara lain dengan yang ada di sini. Terkadang diskusi memang berat sebelah, karena pengetahuanku perihal diplomasi atau sejarah tidak sebagus itu. Aku lebih senang jika ia membahas Michaelangelo atau lukisan Ophelia, walau wajahnya sedikit ditekuk jika sedang membahas tentang Ophelia, tokoh wanita yang ada di karya Shakespeare berjudul Hamlet, tidak tahu sebabnya. Mungkin di masa lalu, ia pernah membahas lukisan Ophelia dengan seseorang dan orang itu sering membuatnya jengkel, bisa jadi, kan?
Tiba-tiba, aku mendengar ia terkekeh pelan. Ia seakan menikmati mimik wajahku yang acap kali menunjukkan kejengkelan saat berbincang dengannya, terutama saat ia mengkritisi hasil editan foto-foto saat berlibur di Krün dan sketsa lukisan yang tengah kukerjakan. Bahkan ia menasihatiku tentang etika makan, katanya agar tidak memalukan saat fine dining. Menyebalkan, bukan? Sebenarnya dia itu apa, sih? Aneh sekali.
“Kau sudah curiga denganku, baguslah, otakmu cukup besar ternyata.”
Mulut kurang ajar. Aku hanya mendengkus sembari melahap strudel-ku.
“Sebenarnya Katsuhiko Maki bukan nama asliku,” lanjutnya tiba-tiba.
Aku pun berhenti mengunyah, terkejut dengan informasi baru atas dasar kecurigaanku padanya. Ia pun menceritakan jati dirinya, seorang mata-mata Jepang yang ditugaskan di Jerman untuk urusan tertentu yang ia tidak bisa ceritakan. Bahkan ia menyinggung perihal kedatangannya ke Krün untuk bertemu dengan atasannya dan berujung kepada ajalnya. Kepalaku mendadak berat di tengah ia bercerita, bahwasanya menjadi art dealer hanya media untuknya untuk mendapatkan informasi, yah walau tetap saja ia menyukai dunia seni. Ia bahkan tahu informasi pemerintahan Jerman di era Hitler yang menurutku menyeramkan sampai membuat tanganku tergerak untuk menutupi mulut yang menganga karena terkejut.
“Kau kuberi tahu karena aku sudah tidak memiliki wujud fisik dan eraku sudah berakhir lama,” ujarnya. “Namaku Miyoshi, ngomong-ngomong. Bukan nama lahirku memang, tapi tidak penting juga. Yang jelas, Maki yang selama ini kau tahu bukan identitas asli, hanya topeng yang kukenakan selama bertugas di Jerman.”
[][][]
Zu viel information, hal itu yang membuat suasana flatku menjadi lebih canggung sejak Maki alias Miyoshi menceritakan detail sungguhan perihal dirinya. Ia menjadi lebih diam dua-tiga hari ini, aku pun sama. Beruntung aku masih harus mengerjakan tugas untuk workshop photography yang harus dikumpulkan segera. Aku memang bukan orang yang senang bersosialisasi, tetapi hanya berdiam diri seperti ini dengan fakta ada sosok lain yang menemani membuatku tidak nyaman juga. Di tengah-tengah proses editing, aku menghela napas, cukup keras hingga Miyoshi yang tengah bersantai di ruang sebelah mendengarku.
Karena ia tidak memiliki tubuh fisik, tiba-tiba saja ia mengejutkanku dengan kehadiran mendadaknya di dalam kamar. Ia tidak akan masuk ke sini kalau tidak terpaksa, katanya untuk menghargai privasiku. Selama ini ia hanya berdiam diri di ruangan lain atau pergi ke luar.
“Ada apa? Tingkahmu sangat tidak lady-like, kau tahu?” ujarnya sinis.
Apakah mungkin karena aku merindukan berbicara dalam bahasa ibuku atau aku sudah mulai terbiasa akan kehadirannya juga, sehingga aksi diam-diaman ini tidak membuatku nyaman? Entahlah.
“Aku tidak butuh komentarmu soal perangaiku,” balasku tidak kalah sinis. “Menurutmu komposisi warnanya sudah bagus? Ada bagian yang perlu kuperbaiki?” Ya, aku berusaha sedikit berbicara dengannya, mencairkan tembok es yang terbentang di antara kami, memusnahkan rasa canggung karena informasi baru tentangnya.
Ia belum bercerita perihal keinginannya, tetapi yang jelas aku juga ingin memanfaatkan sesuatu darinya. Anggap saja simbiosis mutualisme, bukan? Ia jelas punya banyak pengalaman di bidang seni. Kuamati ia yang memandang layar laptopku, jujur ia memang tampan, well aku memanggilnya ‘Hantu Tampan’ dalam hati sebelum mengetahui namanya, bukan? Dahinya lebar, rambutnya tersisir rapi dengan poni yang di-style sedemikian rupa. ‘Pantas ia sering menasihatiku tentang tata krama dan etika, penampilannya memang sangat berkelas.’ Dewi batinku seakan tengah kesal dengannya.
“Cukup bagus. Aku lebih paham tentang lukisan ketimbang foto seperti ini, mungkin jika ada Kaminaga ia bisa lebih membantu,” lirihnya.
Aku mengerutkan dahi saat mendengarnya menyebutkan nama seseorang. “Kaminaga? Siapa itu?”
Ia menghela napas. “Rekan di agensi mata-mata, terakhir kudengar ia akan dikirim untuk misi di Britania Raya, identitas yang ia pakai di sana berkaitan dengan fotografi.”
Aku memang terkejut dengan profesinya yang seorang mata-mata, pasti tidak mudah memiliki eksistensi kelabu dan mengorek informasi dengan segala risiko yang ada, apalagi ia hidup di era perang dunia. Namun, aku suka saat ia menceritakan sedikit tentang orang lain yang ada di hidupnya dulu.
“Kalau bagimu sudah bagus, aku puas.” Aku tersenyum, lagipula ia seorang yang sangat detail jadi aku bisa memercayai opininya. “Ngomong-ngomong, kau mau menonton film denganku? Mumpung tugasku sudah selesai.”
“Film?”
Aku diam sejenak, berpikir dari sekian judul film yang kupunya atau yang ada di streaming website, apa yang harus kuperlihatkan kepada Miyoshi? Saat aku mempersilakannya duduk di sampingku, aku seperti menemukan titik terang. Ia berasal dari era perang dunia—ah, aku terpikirkan sesuatu tentang kejadian yang menimpa Jepang saat era itu.
“Kau mau menonton film tentang pengeboman Hiroshima?”
Matanya tiba-tiba membulat sempurna. “Pengeboman Hiroshima? Kau berutang penjelasan padaku, [Name].”
Tiba-tiba aku bergidik ngeri, tidak kusangka reaksinya akan seperti itu. Selama ini kami memang membahas kejadian-kejadian yang ada di Jerman saja, aku memang menceritakan sedikit perihal tragedi holocaust dan ia bilang sudah menduga akan ada hal seperti itu berhubung rekan satu agensinya yang lain pernah ada yang mendapat informasi dari pihak Hitler. Namun, ia memang tidak pernah menyinggung soal Jepang dan aku juga sedikit enggan menceritakan kejadian buruk di masa lalu tentang negara sendiri.
“Itu kejadian sungguhan, memang pada Agustus 1945 ada dua kota di Jepang yang dibom oleh Sekutu,” ujarku sedikit takut-takut.
Aku sedikit mendongakkan kepala, memberanikan diri menatap matanya. Miyoshi hanya diam, tapi gesturnya menunjukkan bahwa ia memintaku melanjutkan cerita.
“Kota yang kumaksud itu Nagasaki dan Hiroshima. Setelah itu Jepang menyerah kepada Sekutu, Italia juga mengalami kekalahan di sekitar Mesir sana kalau tidak salah, lalu Jerman … yah, sudah kuceritakan.”
Ia membungkukkan badan dengan kepala tertunduk, kedua tangannya menyatu bertumpu pada lutut. Gestur ini baru kulihat sekarang, ia tampak sedang meresapi sesuatu. Apakah informasi itu menyakitinya? Ah, benar juga, ia berasal dari agensi mata-mata Jepang yang erat hubungannya juga dengan militer Jepang saat itu, kurasa. Tentunya ia terpukul, tidak kah begitu?
“Jika kau pikir reaksiku seperti ini karena rasa nasionalismeku, kau salah, [Name]. Selama ini aku tidak memiliki perasaan nasionalisme atau patriotisme, sebab akan memberatkan pekerjaanku.” Ia kembali menegakkan badannya dan menatapku dengan mimik wajah yang serius. “Hanya saja … hal-hal yang kau katakan tadi seperti tidak kuduga akan terjadi. Sebelum pengeboman itu, apa yang terjadi?”
Aku menghela napas. Kepalaku pusing jika diminta untuk mengulang kembali pelajaran sejarah yang kuterima di sekolah.
“Jepang mengalami kekalahan di Perang Asia Pasifik, kurasa kau tahu soal perang itu. Kata guruku, ada kebocoran sistem komunikasi militer Jepang?”
Mimik mukanya terlihat mengeras setelah mendengar jawabanku. Aku jadi meneguk ludahku kasar, ada rasa menyesal karena menceritakan kejadian-kejadian kelam di masa lalu.
“Ya sudah, ayo tonton filmnya. Aku juga penasaran.” Ia berujar pelan setelah hening sejenak di antara kami. Mimik wajahnya sudah tidak sekaku tadi, mungkin memang banyak hal yang ia pikirkan.
Setidaknya, aku sedikit bernapas lega.
[][][]
Aku kembali memiringkan badanku ke kanan, mengerjapkan mata, melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul 3 pagi. Jika ditanya alasan aku tidak kunjung tidur, karena aku memikirkan sesuatu; ucapan Miyoshi selepas menyelesaikan film tentang Hiroshima dan film lain dengan genre spy favoritku, Kingsman, sekadar untuk mengurangi ketegangan. Tentu saja ia banyak memberi kritik terhadap film Kingsman, apalagi ia juga seorang mata-mata. Realita di lapangan berbeda, katanya.
Saat menonton Hiroshima, wajahnya tegang, bahkan saat film selesai pun ia tidak memberi reaksi apapun. Dari gerak-geriknya, ia tampak ingin bertanya sesuatu kepadaku.
“[Name], kapan kau akan kembali ke Jepang?” tanyanya setelah beberapa saat kami menyelami pikiran masing-masing.
Aku memegang dagu, berpikir sejenak. Jujur, aku juga rindu dengan keluarga sebab liburan natal ini tidak bisa pulang karena tugas dari kampus.
“Mungkin saat liburan musim panas? Liburan natal kemarin hanya tiga minggu, sedangkan saat musim panas biasanya lebih lama—walau tetap saja akan ada tugas sih. Memangnya ada apa?” jawabku, jujur aku penasaran dengan arah pembicaraan Miyoshi.
“Aku tidak tahu kenapa aku masih ada di sini,” lirihnya, seperti banyak informasi yang melintas di kepalanya.
Benar juga, ia pernah bercerita bahwa tugasnya di Jerman terhitung sudah selesai. Lalu kenapa ia masih tersangkut di sini? Seharusnya jika urusannya selesai, energinya tidak akan tertinggal di tempat kecelakaan kereta itu, bukan?
“Aku minta tolong padamu, bantu aku pergi,” lanjutnya. “Ada bagian dari diriku yang terusik selepas menonton film tadi dan mendengar berita kekalahan Jepang saat Perang Dunia II, [Name]. Aku tidak mengenal perasaan seperti itu sebelumnya.”
‘Kau saja tidak tahu, apalagi aku?’ Ingin diri ini berujar seperti itu, tetapi melihat situasi yang sedikit gloomy, kuurungkan niatku. Aku menghela napas, jujur aku juga tidak tahu jawabannya.
“Jasadmu dikuburkan di sini?” tanyaku pelan, takut jika ini topik yang sensitif, yang kutahu beberapa hantu justru akan menangis jika ditanya seperti itu.
Yah, tentunya hantu aneh nan tampan satu ini berbeda, ia terdiam sejenak lantas menjelaskan bahwa ia dimakamkan di Berlin karena jasadnya sempat ada di rumah sakit yang ada di Berlin. Dari keterangannya, ingatannya sedikit acak, karena ia hanya ‘melihat’ sampai atasan—yang dicarinya di Krün—menutup matanya dan mengambil informasi yang ia jaga agar tidak ketahuan pihak Jerman.
“Pasti berat, kan, tinggal sendiri di negeri orang, lalu mencari informasi yang kemudian kau kirim ke negeri asalmu, berusaha agar orang-orang di sini tidak tahu tentang kau,” ucapku tiba-tiba saat ia selesai bercerita. Entahlah, aku hanya melontarkan hal yang tengah kupikirkan tentangnya.
Miyoshi hanya tersenyum tipis sembari merapikan rambutnya. Tidak pernah ia perlihatkan sosoknya yang seperti ini, yang acap kali ia perlihatkan padaku hanya pribadinya yang menyukai hal-hal elegan dan mengomeli perangaiku. Yang kupikirkan saat itu adalah eksistensinya yang kelabu di dunia sangat berat, tetapi ia menyelesaikan tugasnya sebagai seorang mata-mata dengan baik. Seorang diri, di negeri orang ….
Aku terkesiap, memikirkan Miyoshi yang terkubur di negeri orang tanpa identitas aslinya membuatku memikirkan berbagai kemungkinan Miyoshi masih tersangkut di sini. Jika aku mengatakan kepada Miyoshi mengenai hal yang tengah kupikirkan saat ini, kuyakin ia akan mengelak, tingkat narsisme Si Sialan itu benar-benar luar biasa, mana mau ia mengakui hal yang ia yakin tidak akan ia rasakan, bukan? Mungkin aku harus mencari cara agar ia bisa pergi, tanpa berterus terang kepadanya jika benar yang membuat ia tersangkut adalah hal yang sedang kupikirkan. Aku terus teringat pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Miyoshi selepas menonton film tadi. Mungkinkah sebenarnya ia ingin pulang?
[][][]
Kepalaku dipenuhi pikiran, jika Miyoshi ‘mengikuti’ku pulang ke Jepang, apakah itu sudah menyelesaikan masalahnya? Yang menjadi hambatan, aku tidak terlalu tahu isi hati Miyoshi sesungguhnya, ia selalu menegaskan kalau ia seperti kertas kosong, agar identitasnya tidak ketahuan oleh pihak lain terutama agensi mata-mata negara lain. Jelas berbeda dengan hantu-hantu yang masih tersesat karena terlampau larut dalam emosi negatif.
Tiba-tiba aku merasakan eksistensi sosok di belakangku, bulu kudukku pun tidak ayal berdiri. Saat ini aku tengah berada di ruang kelas, seorang diri dengan lukisan di hadapan, sebenarnya sedang menunggu Agatha datang menyusul untuk mengerjakan lukisan bersama.
“Ada yang kau pikirkan? Dari tadi kau melamun,” lirih seseorang, suaranya terdengar seperti pria tua. “Fokus, andernfalls wird das Ergebnis nicht gut sein,” lanjutnya, menyuruhku kembali fokus agar lukisanku tidak berantakan.
Aku menoleh, ah sosok yang memang ada di kampus ini. Sosok pria berambut putih, janggutnya juga putih tetapi tidak panjang, bagian dahinya lebar, mengenakan tuxedo berwarna krem yang sedikit kumal. Biasanya ia dipanggil dengan nama Mister Abend, karena ia lebih sering terlihat saat waktu sore hari dan memerhatikan mahasiswa yang sedang lembur untuk mengerjakan tugas. Tanpa sadar aku melihat jam, hari memang mulai beranjak sore.
“Setiap manusia pasti punya perasaan rumit di dalam lubuk hatinya, pasti ada sedikit coretan dalam hidupnya, tidak mungkin putih kosong seperti kanvas,” lanjut Mister Abend.
Aku diam sejenak, seperti berusaha mencerna perkataannya. Benarkah hantu seperti Mister Abend sedang memberiku semacam petunjuk perihal keanehan Miyoshi? Ia memang sering memerhatikan Miyoshi jika pria narsis itu mengikutiku ke kampus dan memberi kritikan padaku terutama dalam hal lukisan.
“Jika kau benar-benar ingin membantunya pergi, mungkin kau harus mencari sesuatu dari dirinya di sini dan bawa ia pulang ke negerimu,” lanjut sosok pria tua itu sembari terbatuk-batuk.
“Aku tidak mengerti, semuanya sudah berubah, harus kucari dari mana—”
Suara pintu terbuka dengan keras membuatku mengalihkan perhatian, Agatha tiba-tiba muncul dengan tangan yang penuh dengan peralatan melukis. Rupanya, suara keras tadi diakibatkan oleh Agatha yang menendang pintu.
“Kau bicara dengan siapa, [Name]?” ujarnya tiba-tiba dengan mata melotot, jelas ia tiba-tiba ketakutan dari caranya berdiri di dekat pintu dengan kaki gemetar, ia bahkan tidak berani datang mendekatiku saat ini.
Tatkala aku menoleh ke samping, tempat Mister Abend tadi berdiri, tidak ada sosoknya lagi. Agatha sialan, aku belum selesai berbicara dengan Mister Abend. Akan tetapi, yang jelas aku mendapat kepingan puzzle tentang eksistensi Miyoshi yang tersangkut di sini.
“Bukan apa-apa, hanya sedang pusing dengan lukisanku.”
Sedikit penjelasan perihal lukisanku, berkat saran Miyoshi, aku mengusung sedikit pembahasan tentang Perang Dunia II dan kondisi di era modern saat ini.
“Temamu terlalu berat, ide dari mana, sih?” Agatha berdecak kesal sembari merapikan alat-alat melukisnya dan duduk di dekatku, bersiap-siap melukis.
Aku tersenyum kecil. “Hanya seorang teman.”
Perempuan Jerman di hadapanku menatap dengan pandangan penuh tanda tanya. Ia tahu benar, aku tidak memiliki banyak teman. Wajah Agatha tiba-tiba memucat, sedangkan aku tertawa melihat reaksinya.
[][][]
Aku ingin membantu Miyoshi setelah mendengar kisah hidupnya, meski di sisi lain sedikit enggan karena ragu pada awalnya. Saat mendapat petunjuk dari Mister Abend, justru membuat diriku bingung untuk memulai pencarian informasi, sebab peristiwa Perang Dunia II sudah lama berlalu berdekade-dekade silam.
“Miyoshi,” panggilku saat menjumpai sosoknya begitu aku memasuki flat.
Ia tampak sedang melamun, lagi-lagi menatap pemandangan lewat jendela. Ia seperti sedang tersesat, membuat dadaku terasa sesak lagi. Pandangannya saat menatapku pun terlihat sayu, jelas saja ia hanya berjalan ke sana ke mari, tidak memiliki rasa lapar dan haus selayaknya saat ia hidup, tentu kondisi ini menekannya juga.
“Selama menjadi art dealer, apakah kau mungkin pernah berutang kepada orang lain atau kau mengutangi orang lain?”
Ia duduk di sofa mahalku dan mengusap dagu, seperti tampak berpikir.
“Seingatku tidak, aku juga bukan orang yang senang berhutang kepada orang lain. Begitu pula sebaliknya,” jawabnya penuh percaya diri.
Aku mengangguk. Lantas aku pun bertanya tentang hal yang mengusik benak beberapa hari ini, seputar saat kejadian kecelakaan yang menimpanya. Sembari aku ikut duduk berhadapan dengannya, aku ingin melihat mimik mukanya lebih jelas.
“Saat kau sekarat, hal apa yang ada di kepalamu?”
Dahinya kini berkerut, tidak lama Miyoshi pun menghela napas. “Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi karena pekerjaanku sudah selesai, aku tidak memiliki beban apapun.”
Aku terdiam, memang benar hal yang ia pikirkan hanya seputar pekerjaannya sebagai mata-mata yang sudah ia selesaikan dengan baik. Kuakui ia mata-mata yang hebat.
“Ingatanmu saat sudah tidak berada di tubuhmu sudah samar, benar?” tanyaku memastikan.
Miyoshi menganggukkan kepala, tiba-tiba saja ia memandangku dengan sinis.
“Kau terlalu berputar-putar, [Surname] [Name], apa yang ingin kau sampaikan?” Ia bertanya dengan nada yang ketus.
Apakah aku harus menyampaikan apa yang dikatakan oleh Mister Abend kepadanya? Mungkin, pada akhirnya ia akan sadar akan suatu hal yang ia lewatkan, bukan begitu?
“Kau minta tolong kepadaku, Miyoshi. Kau ingin pergi dari sini, tetapi kau sendiri tidak tahu hal yang menyebabkan kau masih di sini. Aku tidak tahu identitas aslimu, selain fakta kau berasal dari negara yang sama denganku. Sosok lain di kampusku yang suka dengan lukisan, Mister Abend, mengatakan bahwa mungkin kau bisa pergi jika aku membawa pulang sesuatu darimu. Aku bingung, Miyoshi,” ucapku panjang lebar.
Tanpa sadar aku pun merasakan pipiku basah. Mungkin dari lubuk hati terdalam, aku enggan Miyoshi pergi, maksudku selama beberapa waktu ia sangat membantuku, memberi masukan jika aku buntu dengan tugas kuliah. Akan tetapi, pandangan kosongnya setiap ia melihat pemandangan di luar jendela seakan mencekikku, ia sudah tidak bernyawa, tidak memiliki tubuh fisik, ia pasti juga lelah dengan keadaannya. Ingin sekali membantu, tetapi aku hanya mahasiswa yang tidak berkompeten selain bisa berkomunikasi dan melihat mereka.
Miyoshi memijit keningnya seraya memejamkan mata, ia seperti sedang mengingat sesuatu.
“Kau tahu pemakaman lama di Berlin? Aku sendiri tidak bisa mengingat rupa pemakaman itu dan lokasinya, sudah kubilang ingatanku acak selepas jiwaku sudah tidak melekat dengan tubuh,” lirihnya.
Aku mengusap pipiku yang basah, lantas bergegas mengambil ponsel dari tas, membuka laman pencarian juga peta Berlin demi mencari jawaban atas petunjuk dari perkataan bibir sang empu sendiri.
“Mister Abend seperti mengenalmu dari perkataannya,” ujarku sembari masih sibuk dengan ponsel.
Miyoshi terkekeh kecil.
“Sepertinya aku memang familiar dengannya saat pertama kali melihat sosoknya di kampusmu. Mungkin karena ia penyuka seni, di masa lalu ia pernah berinteraksi denganku.”
Memang sepertinya aku harus mengulik informasi lagi dari hantu penunggu kampus itu dan bertanya kepada orang lokal, dan segera menyambungkan keping demi keping puzzle informasi yang sejauh ini kudapatkan.
Sedikit melirik ke hantu tampan di hadapan, pandangannya kembali kosong. Ia hanya sedikit mengulas senyum saat kami beradu pandang.
“Mungkin memang harus kembali ke Jepang. Nein, aku sebenarnya ingin mengelak, semasa hidup dan menjalani pekerjaan ini aku tidak memiliki ikatan rasa dengan negara asal, sudah kubilang agensiku tidak merekrut orang-orang militer yang jelas punya patriotisme dan nasionalisme yang kuat.” Miyoshi sedikit meracau, ia terlihat panik dan ada rasa ketidakpercayaan kepada dirinya sendiri sebab perasaan aneh yang tidak pernah diduganya semasa hidup, asumsiku saja, sih.
“Secara profesional, iya kuakui, Miyoshi,” jawabku. “Namun, seperti kata Mister Abend, kau pasti masih sedikit menyimpan rasa ingin kembali, aku yakin saat napasmu berhenti pun sepersekian detik kau memiliki rasa itu. Tenang saja, akan kubantu, kau cukup bersabar saja sampai liburan nanti.”
Aku harap dapat segera menemui jalan keluarnya.
[][][]
Saat ini aku tengah duduk di perpustakaan kota, sembari menunggu temanku Nakatomi Akira-san, yang berkuliah jurusan sejarah di Universitas Humboldt Berlin. Kami kenal ketika Kedutaan Besar Jepang sedang mengadakan acara dan mengundang mahasiswa Jepang yang berkuliah di Jerman, ia tipikal orang yang sangat friendly seperti Agatha, kami tetap menjalin pertemanan via pesan atau sosial media meski jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
“Hei, [Surname]-san!” panggilnya sedikit berbisik, karena kami tengah ada di perpustakaan kota yang mengharuskan kami untuk diam. Pria itu segera duduk di sampingku sembari membuka tasnya, mengambil laptop dan beberapa buku.
Aku memang meminta bantuannya, karena aku kurang paham tentang referensi mengenai sejarah. Jika bertanya kepada Agatha yang orang lokal, ia sendiri tidak terlalu paham perihal makam kuno terutama yang berkaitan dengan perang, biasanya juga makam untuk orang yang tidak berdarah Jerman juga tidak terlalu diketahui.
“Kenapa kau mencari makam kuno, seram,” ujarnya sembari menatapku sedikit aneh dengan tatapan meledek. “Apa kau ingin mengirim kutukan ke orang lain? Makam kuno pasti punya banyak pohon tinggi, bukan?”
Aku mendengkus, pikiran laki-laki di sampingku ini terlalu jauh memang, imajinasinya terlalu tinggi.
“Aku hanya membantu teman, Nakatomi-san,” jawabku.
Ia menggelengkan kepala dan menatapku tidak suka. “Jangan panggil nama keluargaku, bebannya berat. Akira saja.”
Aku mengerutkan dahi, memang dilihat dari penampilannya ia seperti berasal dari keluarga yang berada—
“Dari nama keluarganya, ia masih keturunan bangsawan era Heian,” lirih sebuah suara di belakangku.
Hal itu membuatku terperanjat dan berdiri dari tempat duduk, sekarang Akira menatapku takut-takut. Dasar Miyoshi sialan, aku bukan kucing yang memiliki sembilan nyawa. Seenak jidatnya saja mengejutkanku, sedangkan ia hanya memberi seringai kecil dan seolah-olah sedang meledekku.
“Kau jangan menakutiku begitu, [Surname]-san,” lirih Akira, ia berusaha mengalihkan pandangan ke laptopnya lagi sembari menatapku yang kembali duduk dengan tatapan sulit diartikan. Aku hanya mengendikkan bahu dan ikut menatap layar laptopnya.
Aku berusaha mengabaikan Miyoshi yang sepertinya sedang memerhatikan kami berdua, aku fokus kepada Akira yang sedang menunjukkan makam-makam korban Nazi atau pemakaman kuno lainnya. Aku menimbang-nimbang untuk menanyakan hal sebenarnya, tetapi informasi semacam itu sulit untuk dicari. Ah, sudahlah, aku bilang saja. Akira pasti bisa membantu.
“Aku sebenarnya sedang mencari makam korban kecelakaan kereta tujuan Berlin dari Krün,” ujarku berusaha menjelaskan. “Mungkin bukan pemakaman terkenal, bukan kejadian besar juga.”
Akira menggelengkan kepala. “Biasanya kecelakaan kereta akan ada di berita, mungkin bisa kucari, sebentar.”
Laki-laki itu asyik mengetik sesuatu di laptopnya, memberi pertanyaan tentang waktu kecelakaan, yang tentu saja dijawab oleh Miyoshi langsung dengan aku sebagai perantara. Ia sedikit ngeri saat melihatku beberapa kali menatap tempat duduk kosong di belakangku, tetapi akhirnya aku sedikit menjelaskan garis besarnya bahwa ada sosok yang ingin aku tolong.
“Ketemu,” kata Akira seraya tersenyum lebar, bangga dengan hasil kerjanya sendiri. “Sulit mencari informasi yang ditutupi pihak Nazi tahu. Sasuga boku, kau bersyukur punya teman yang juga pandai mencari tahu banyak hal.” Aku menanggapinya dengan tawa kecil dan tepukan di bahunya, aku berterima kasih sekali atas bantuannya.
Akira menemukan berita tentang kecelakaan kereta di tanggal yang diberitahu oleh Miyoshi, rumah sakit tempat jenazah sempat singgah, nama-nama korban kecelakaan. Yang aneh, tidak ada nama Miyoshi alias Katsuhiko Maki di sana. Miyoshi pun terlihat sedikit takjub atas kepiawaian Akira dalam mencari informasi, ditambah Miyoshi memang gaptek, pasti lebih terkejut. Aku ingin melihat mimik wajah bodohnya, sayang sekali ia pandai menggunakan topeng di wajahnya, ia hanya menunjukkan ekspresinya tadi sekian detik. Dasar sok tampan.
“Sepertinya pihak Nazi yang sengaja menutupi, sudah ada yang tahu kalau aku mata-mata,” sahut Miyoshi. Ia tertawa saat melihatku sedikit panik. “Tenang saja, informasi yang kusampaikan pasti aman, Yuuki-chuusan selalu bergerak cepat dan tepat.”
“Pemakaman yang kau maksud tidak terlalu jauh dari rumah sakit itu, [Surname]-san,” ujar Akira kemudian. “Sepertinya sekarang jadi bangunan tua kosong, tetapi aku tidak tahu lokasi persis pemakaman itu, di aplikasi peta tidak cukup membantu.”
Sepertinya hal yang akan kuhadapi berikutnya akan sangat menegangkan untukku. Aku menghela napas. Dasar Miyoshi menyebalkan.
[][][]
Agatha menemaniku menuju tempat yang dimaksud oleh Akira berhubung tempatnya sedikit ada di pinggiran kota, ia pun bersedia menjadi supir hari ini. Miyoshi duduk di belakang, sejak tadi asyik melihat pemandangan luar jendela mobil, ia banyak diam hari ini meski Agatha banyak omong dan berisik. ‘Aneh,’ batinku. Mungkin, perasaannya campur aduk sebab hendak melihat tempatnya dikebumikan. Aku berusaha memaklumi.
“Kau dapat alamat rumah sakit kosong itu dari mana?” tanya Agatha. “Aku sudah membawa alkitab, kita akan baik-baik saja, bukan?” Ia tertawa untuk menutupi ketakutannya.
Aku terkekeh, Agatha memang penakut, tetapi ia setia kepada temannya. Buktinya, perempuan itu yang menyetir dan menemaniku ke pinggiran kota.
“Dari temanku di universitas lain. Aku harus mencari cara agar temanku yang duduk di kursi belakang pulang,” ucapku sembari memerhatikan spion tengah mobil, Miyoshi tengah menatapku tajam dan bersidekap dada, aku pun membalasnya dengan menjulurkan lidah. Agatha memerhatikanku dengan dahi berkerut.
“Ia seram? Tua? Pria atau wanita?” Agatha kembali bertanya.
“Iya, pria yang sudah tua,” ujarku jenaka.
Miyoshi mendengkus, ia selalu membanggakan penampilannya, mungkin ia merasa terhina karena kukatai tua. Lantas aku pun menjelaskan kepada Agatha lagi bahwa Miyoshi meninggal di era Perang Dunia II, wajar jika aku mengatainya tua, tetapi wujudnya masih seperti seumuranku dan Agatha.
“Aku jadi penasaran ia tampan atau—Ah tidak! Aku tidak mau lihat hantu,” respon Agatha seraya menggelengkan kepalanya cepat.
Tanpa sadar kami pun sampai di depan rumah sakit kosong yang dimaksud. Bangunannya terlihat menyeramkan, kayunya lapuk, tetapi memang khas bangunan era perang dunia. Begitu melihat sosok-sosok yang terlihat olehku di sana, aku asumsikan rumah sakit ini adalah rumah sakit militer, banyak residual energi milik sosok-sosok dengan seragam nazi keluar-masuk rumah sakit ini.
“Kau ingat tempat ini, Miyoshi?” tanyaku.
Miyoshi diam sejenak, ia menggeleng dengan ragu. Aku menghela napas, berbekal informasi seadanya dari Miyoshi dan bantuan Akira, aku memutuskan untuk berinteraksi dengan salah satu sosok yang ada di rumah sakit itu. Entahlah, apakah aku harus masuk?
“Kau benar ingin masuk?” tanya Agatha saat aku hendak membuka pintu mobil.
Melihat gestur Agatha yang tengah ketakutan, jika aku meninggalkannya sendiri di sini dan masuk seorang diri—mungkin dengan Miyoshi—pun berbahaya, bangunan lama seperti ini pasti dihuni oleh berbagai macam sosok, bahkan yang memiliki energi tidak baik sekalipun.
“[Name],” panggil Miyoshi. “Ada yang ingin berbicara denganmu,” ujar pria itu tiba-tiba. Tanpa kusadari, ia kini berada di luar mobil. Huh? Memangnya tadi aku berpikir terlalu lama, ya, sampai tidak sadar ia sudah pindah? Ah, tapi ia hantu, pasti bisa berpindah-pindah cepat.
Aku menyuruh Agatha agar tetap berada di mobil, begitu keluar aku dikejutkan oleh sosok seperti penjaga atau security rumah sakit. Ia tinggi sekali, garis wajahnya tegas, rambutnya pirang dan hidungnya mancung. Aku sedikit meneguk ludah.
“Jangan masuk, berbahaya untukmu,” ujar sosok itu dengan aksen yang terdengar berat dan kuno. “Ada urusan apa?”
Syukurlah ia sosok yang baik. Aku pun menjelaskan bahwa aku sedang mencari pemakaman korban kecelakaan yang jenazahnya pernah di bawa ke sini. Ingin bertanya, tetapi tidak tahu sosok yang harus kuajak komunikasi. Tidak lama, sosok lain datang, seorang perawat wanita yang seragamnya terlihat lusuh. Mungkin energiku di sini cukup mengundang mereka. Aku cukup takut berada di sini terlalu lama, takut sosok jahat juga tiba-tiba datang.
“Ich kenne sie,” lirih perawat itu dengan pandangan kosong dan menunjuk Miyoshi. “Ada … pria tua dengan sarung tangan putih mencarinya di krakenhaus ini.” Ia berkata sedikit terbata-bata.
Tiba-tiba memori milik perawat itu tentang hal yang baru saja dikatakannya terekam dalam benakku juga, mungkin pria yang ada di benakku ini adalah Yuuki-chuusan. Mengetahui maksudku untuk mencari pemakaman Miyoshi, tentu saja aku tidak berkata ingin memulangkan dirinya sebab takut mereka akan minta hal yang serupa, sosok satpam tadi memberitahu arah menuju pemukiman penduduk dan tidak jauh dari sana ada gereja juga pemakaman tua. Perawat tadi sedikit berbincang dengan Miyoshi, kemungkinan mengatakan soal otopsi dan kecelakaan, entahlah.
Setelah mendapat informasi yang lebih dari cukup, aku berpamitan dengan sopan dan masuk ke mobil.
“Dari tadi aku sudah membuka alkitab, seram tahu melihatmu berbicara sendiri,” gerutu Agatha. Matanya sedikit berkaca-kaca, ia benar-benar takut.
Perempuan itu menurut saat kuarahkan ke pemukiman yang tidak jauh dari rumah sakit tadi berbekal arahan dari dua sosok yang membantu tadi, lokasinya sedikit terpencil dan jalannya pun belum seperti pemukiman lain yang ada di Berlin. Bahkan saat melewati rumah penduduk yang arsitekturnya tua dan sedikit kumuh, penduduk itu hanya memerhatikan mobil Agatha yang melintas.
“[Name], mereka bukan hantu, kan? Apa aku bisa melihat hantu sekarang? Astaga, seram, aku tidak mau!”
Aku terkekeh. “Mereka manusia. Mungkin aneh bagi mereka karena kita sedang menuju pemakaman tua.”
Tidak lama kemudian, kami pun tiba di kompleks pemakaman. Bulu kudukku meremang melihat situasi yang ada di situ; pohon-pohon tinggi besar, rumput yang terlihat tumbuh tinggi walau tertutupi salju, rasanya terlihat lebih gloomy dari pemakaman lain yang pernah kulewati.
Saat aku turun dari mobil dan melangkah masuk kompleks, Agatha dengan panik mendekat, ia merapalkan beberapa ayat dalam kitabnya saat mendengarku berbisik jika ada beberapa sosok yang sedang memerhatikan kami, setidaknya berkat Agatha mereka jadi sedikit menjaga jarak.
“Lagipula dekat dengan gereja, temanmu berlebihan,” komentar Miyoshi sembari melewati kami, berjalan lebih dulu.
“Aku tidak sadar sejak tadi kau membawa bunga,” ujar Miyoshi saat melihat bunga yang kusembunyikan di punggungku.
Aku bergegas mengambilnya saat turun dari mobil, tentu saja. Miyoshi mengulas senyum saat melihat buket bunga yang kubawa, lili putih. Arti dari bunga itu sendiri adalah kemurnian, bisa berarti persahabatan, bisa juga berarti pengabdian. Dari sekian arti, aku sendiri mengertikan kalau aku mengakui pengabdian Miyoshi atas pekerjaannya sebagai mata-mata, ia mengakhiri tugas dengan baik. Saat Miyoshi tiba-tiba berhenti di satu makam, aku sudah menduga bahwa itu adalah makamnya. Bagaimana pun juga, tubuhnya ada di bawah tanah sana meski kemungkinan sudah hancur, tentu ia memiliki ikatan dengan tubuh fisiknya.
Aku meletakkan buket bunga tadi di atas makamnya setelah kubersihkan batu nisannya dari salju dan kotoran dengan sapu tangan yang kubawa. Bahkan pahatan namanya sudah tidak ada di batu tersebut, mungkin hancur karena lumut atau apapun itu. Miris, makamnya tidak terawat, tidak pernah ada yang menjenguknya selama ini. Aku berdoa dengan cara agamaku, diikuti Agatha yang ikut berdoa dengan cara agama yang ia peluk. Miyoshi hanya berdiri di samping makamnya, melihat kami berdua mendoakannya. Saat selesai, ia mengulas senyum. Pria dengan harga diri sepertinya sulit untuk mengucap maaf dan terima kasih, bukan? Namun, saat ini ia sedang membungkukkan badannya kepadaku, wujud ia berterima kasih, mungkin. Aku hanya membalasnya seraya berujar dalam bahasa Jerman, “Weil wir Freunde sind. Kein Grund mir zu danken. Jika maksudmu tadi berterima kasih, ya.”
Agatha tertawa kecil, menduga kalau Miyoshi enggan berterima kasih dan menunjukkan gestur tubuh lain, sebab aku berkata kalau tidak perlu berterima kasih karena Miyoshi juga kuanggap teman.
“Miyoshi, aku membawa plastik kecil,” kataku memulai permintaan lain pada sang pemilik tubuh yang sudah melebur dengan tanah di hadapanku ini. “Akira-san semalam mengirimkanku pesan. Juga mengingat maksud dari Mister Abend, mungkin agar kau bisa pulang, aku harus mengambil tanah makammu dan saat pulang ke Jepang nanti, aku akan melarungkan tanah ke sungai atau laut di Jepang. Boleh?”
Tampar aku sekarang, tidak mungkin pemandangan ini kulihat, kan? Miyoshi mengusap matanya, lalu ia menganggukkan kepalanya. Aku menatapnya tidak percaya, manusia yang kukira stoic itu bisa menangis juga. Ah, bagaimana pun ia juga seorang manusia, walau sudah tidak memiliki raga lagi di dunia ini.
“Lakukan sesukamu.” Ia membalas singkat dan sedikit ketus, ia membuang muka. Ah, dasar sombong, tidak tahu diri padahal sudah kubantu.
Tidak lama kemudian, ia menatapku dengan sorot mata yang teduh. “Terima kasih, [Name],” lirihnya, sedikit cepat dan tidak jelas, mungkin agar aku tidak mendengar.
Aku ingin tertawa, aku bisa mendengarnya, bodoh. Ah, ternyata kau bisa mengucapkan terima kasih dengan tulus, ya? Sama-sama, Miyoshi. Senang bisa membantu sedikit. Semoga aku bisa mengantarmu pulang, oke? Kau beruntung karena aku berubah pikiran saat itu.
[][][]
Hari-hari pun berlalu, aku tidak sabar menunggu kepulanganku ke Jepang. Tetap saja, kegiatan perkuliahan berjalan berat. Berkali-kali profesor di kampus memojokkanku saat hampir hari-H workshop, bahkan Miyoshi selalu mengataiku seperti mayat berjalan saat pulang. Aku selalu meruntuhkan benteng pertahanan dan menangis di depannya, ia hanya mendengarkan keluh kesahku dan membantuku. Berkat bantuan Miyoshi, workshop berjalan dengan baik.
Rasa lelah tentu membuat sosok-sosok lain yang ada di flat semakin mengganggu, biasanya aku akan memilih menginap di rumah Agatha meski merepotkan perempuan itu dan orang tuanya, tetapi sejak ada Miyoshi, situasi lebih terkendali. Apalagi, sosok yang sering menghantui adalah perempuan yang meninggal karena bunuh diri dan terlalu tenggelam akan emosinya, wujudnya buruk rupa nan menyeramkan, aku jadi tahu alasan perempuan itu tidak suka padaku saat diceritakan Miyoshi; karena kekasihnya meninggal di medan perang, sewaktu itu posisi Jerman dan Jepang bermusuhan. Yah, miris jika tahu kisahnya seperti itu.
“Bagaimana pameran lukisanmu?” tanya Miyoshi saat aku menutup pintu flat dengan wajah yang berseri-seri.
Sedikit kilas balik, tema lukisanku cukup berat, mengenai perdamaian secara singkatnya. Aku melukis tembok Berlin versi dulu dan sekarang, yah cukup membuatku dipuji oleh profesor dan teman-teman mahasiswa yang lain.
“Berjalan lancar! Berkat kritikan darimu juga,” ujarku ceria.
Kami sedikit berbincang mengenai pameran tadi, betapa aku mengagumi lukisan teman-teman yang lain juga termasuk Agatha. Lantas, aku beranjak untuk packing. Akhirnya aku bisa pulang juga ke Jepang, liburan telah datang dan aku bisa beristirahat dari kesibukan kuliahku kemarin. Untung saja, Miyoshi adalah hantu, jadi aku tidak perlu membayar tiket pesawat untuknya. Bawaanku tidak banyak, toh di rumah juga ada pakaian, aku hanya membawa yang perlu saja. Ah, tidak lupa dengan plastik kecil berisi tanah makam yang kusimpan dalam kotak kecil. Jika itu terlupakan, gawat.
“Akhirnya besok pulang!” seruku senang.
Miyoshi hanya tersenyum sendu, teringat jika ia tidak mengalami kecelakaan kereta saat itu, mungkin juga ia bisa merasakan sedikit euforia yang sama denganku.
“Istirahat saja, kau sudah bekerja keras beberapa waktu ini.”
Syukurah ia banyak tersenyum setelah aku mendoakannya di makam, walau tetap saja ia pria sinis dan narsis, sering memarahiku jika perangaiku tidak elegan. Setidaknya setelah mengenalnya beberapa waktu, ia adalah pria baik dan gentleman, pantas Nancy menyukainya. Meski terkadang menyebalkan, aku menyukai waktuku selama ada Miyoshi. Tidak bisa kubayangkan saat libur natal kemarin harus kulewati seorang diri, pasti aku akan sangat kesepian.
Hari pun berakhir dengan cepat. Tiba-tiba saja aku sudah tiba di bandara sebab persiapanku yang tidak banyak karena penerbangan pagi, saat ada di ruang check-in pun aku selalu bersenandung kecil sembari memainkan kaki, sampai Miyoshi yang duduk di kursi kosong sampingku selalu berdecak kesal karena tingkahku yang kekanakan. Untung saja Miyoshi memiliki harga diri tinggi, tentu saja ia tidak akan terang-terangan menatap kagum saat memasuki pesawat seperti penumpang anak-anak, tidak ayal membuatku tergelak tawa sebab ia pasti senang di dalam hatinya.
Jika ditanya di mana ia duduk jika pesawat penuh, apalagi penerbangan dari Berlin ke Haneda memakan waktu belasan jam, aku tidak terlalu peduli. Ia terkadang terdiam di dekatku, kadang berjalan-jalan di hallway, entahlah. Aku hanya menikmati video yang bisa kuputar di layar yang ada di tiap tempat duduk.
Kami tidak banyak bicara saat transit di Copenhagen, ia seperti biasa menikmati keindahan alam dari kaca besar Bandara Copenhagen, sedangkan aku sibuk mengisi perut. Hingga kami menaiki pesawat kembali menuju Haneda Airport. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dadaku, entah karena rasa senangku kembali ke tanah air, atau rasa senang karena menyelesaikan misi terakhir membantu Miyoshi.
Tidak bisa kulupakan tatapan mata Miyoshi saat kaki kami akhirnya menginjak Bandara Haneda, menginjakkan kaki di tanah air kami berdua.
[][][]
Miyoshi menyuruhku beristirahat lebih dulu, penyesuaian waktu karena penerbangan kurang lebih 17 jam. Jujur saja, badanku pegal-pegal. Aku pun tidur selama beberapa saat, masih merasakan jetlag. Aku tidak tahu menahu perihal keberadaan Miyoshi, mungkin ia pergi berjalan-jalan ke sekitar dan sibuk mengagumi perkembangan Jepang era sekarang.
Saat energiku mulai terisi, aku berpamitan ke orang tuaku hendak pergi ke Sungai Sumida, salah satu sungai terkenal di Tokyo. Orang tuaku hanya menatap heran, mungkin karena aku jarang sekali jalan-jalan di sungai dan bertingkah sedikit aneh, tetapi kemudian mengizinkan. Aku dan Miyoshi menaiki MRT dari stasiun dekat rumah untuk mencapai stasiun yang dekat dengan Sungai Sumida, dengan kotak kecil berisi tanah yang ada di sakuku.
Miyoshi sejak tadi memerhatikanku, aku bisa merasakannya. Aku hanya tersenyum tipis saat kami beradu pandang, setelah aku memastikan sekitar agar tidak dianggap gila karena tersenyum sendiri. Kami tidak berbicara sama sekali saat berada di MRT, tetapi saat kami turun dan berjalan ke arah sungai, ia mulai bercerita.
“Aku tadi pergi ke markas agensiku,” kata Miyoshi. Ia sedikit tersenyum sendu, menundukkan sedikit kepalanya. “Sekarang sudah jadi bangunan yang fungsinya berbeda, mungkin rekan-rekanku juga sudah tua dan tiada sekarang.”
“Seram kalau mereka masih hidup, bodoh. Ya bisa jadi, sih.” Aku merespon sembari tertawa kecil.
Miyoshi menatap ke atas, membuatku mengikuti arah pandangnya, pohon sakura yang sudah berbeda warna. Yah, ini bukan musim semi, tidak ada bunga berwarna merah jambu tentu saja.
“Tidak kusangka aku bisa kembali ke Tokyo lagi,” ujar Miyoshi seraya tersenyum sendu.
Ia mengalihkan pandangannya kepadaku, tanpa sadar jantungku seakan hampir lompat saat ia menatapku berbeda dari biasanya; penuh ketulusan, penuh rasa terima kasih. Tatapannya sangat lembut, sampai ia tiba-tiba berkaca-kaca. Ah, tidak perlu kau katakan, aku sudah paham. Aku memang hanya mengenalmu secara singkat, kau pria yang narsis dan memiliki harga diri tinggi, sulit untuk mengucapkan terima kasih, bukan?
“Dengar, Miyoshi,” ujarku setelah berusaha menetralisir detak jantung karena tatapan anehnya tadi. “Tugasmu memang selesai, kewajibanmu terselesaikan dengan baik, kau hebat sebagai seorang mata-mata.”
Ia mendengarkan dengan saksama, aku sampai harus menarik napas untuk melanjutkan ucapanku sebab aku merasakan tenggorokanku mulai sakit dan mataku memanas. Beruntung suasana sekitar kami berdiri sekarang sepi, jadi tidak ada yang sedang memerhatikan.
“Meski pekerjaanmu membuatmu kehilangan identitas, jati diri, kau tetap manusia. Kau boleh bilang kalau tindakanmu tergantung realita lapangan, jika mengharuskan melupakan tanah air, kau lakukan. Namun, di waktu sepersekian detik saat napas terakhir kau embuskan, pasti kau memiliki rasa ingin pulang.” Aku mengusap air mata yang sudah meleleh di pipiku, agar tidak terlihat menyedihkan.
“Bagiku sendiri, tubuh menyatu dengan tanah di negeri asing dan dimakamkan bukan dengan identitas asli, sangat menyedihkan.”
Ia mengangguk, mengalihkan pandangan menuju sungai. Kami pun berjalan ke tepi sungai, kemudian terdiam dan sibuk dengan pikiran sendiri sembari menatap aliran air yang cukup deras.
“Kurasa ini waktunya, [Name]. Tutup matamu saat melarungkanku.” Ia menepuk bahuku, sedikit terasa tetapi memang tidak senyata jika manusia yang menyentuh bahuku.
Aku berjongkok, membuka kotak kecil yang semula ada di saku jaketku. Saat mulai membuka clip plastik, tanpa sadar aku mulai menangis sesenggukan saat hendak menaburkan tanah makam Miyoshi ke aliran sungai yang deras.
“Terima kasih sudah menemaniku beberapa bulan ini. Terima kasih sudah mengomeliku, kau memang menyebalkan, tetapi kau teman yang baik. Terima kasih sudah membantuku menyelesaikan lukisan, menyemangati dan memberiku banyak masukan. Kuharap kau menemui kedamaian abadi.” Saat aku mengucapkan kata ‘kedamaian’, aku benar-benar telah mengosongkan isi plastik tadi. Sekilas dalam benakku, aku mendapat nama asli Miyoshi sesungguhnya.
“Selamat tinggal,” bisikku sembari mengucap nama asli Miyoshi dalam hati.
Angin sepoi-sepoi menerpa tubuhku yang saat ini sedikit gemetar karena menangis sembari tetap memejamkan mata, sayup-sayup kudengar balasan dari Miyoshi.
“Selamat tinggal juga, [Name].”
Saat kubuka mataku, tidak kutemui sosoknya di mana pun. Dadaku terasa sesak, tetapi aku harus belajar mengikhlaskan kepergiannya. Ia sudah tidak tersesat lagi, ia telah menemui kedamaian.
END
