Work Text:
I’m asking myself again, am I happy right now?
The answer is already there.
I am happy.
BAGIAN SATU
ABOUT HOW I GOT A FAMILY
SEWAKTU Jungkook berusia lima tahun, dia menemukan keluarganya. Dua orang laki-laki datang ke Panti Asuhan Haebaragi . Satu dari mereka tinggi dan tampan, sedang satu lagi lebih pendek dengan kulit pucat dan wajah yang galak. Jungkook ingat ia menangis dan sembunyi ketakutan di balik Suster Haein sewaktu pria yang terlihat galak itu mendekat. Seolah tidak terpengaruh dan hendak mencoba, pria itu mengulurkan tangan dan tersenyum lebar ke arah Jungkook. Seolah sedang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang bisa dipercaya.
Kebanyakan orang dewasa datang ke panti asuhan dengan berbagai ekspresi, dan Jungkook belum bisa membedakan jenis-jenis ekspresi itu sebab anak-anak lain bilang bahwa ia bodoh dan sedikit lamban. Tapi senyum yang pria itu berikan membuat Jungkook berhenti sembunyi dan menyambut uluran tangannya meksi masih ragu-ragu.
“Hai, Anak Manis. Perkenalkan, aku Min Yoongi. Jangan takut, aku tidak akan melakukan apa-apa. Untuk sekarang, aku boleh pegang tanganmu saja?”
Jungkook mengangguk. Ia malu karena merasa takut pada pria baik itu.
“Anak ini sedikit pemalu. Yang lain senang mengejeknya karena dia cenderung hanya fokus pada hal-hal yang dia sukai saja.” Jungkook mendengar Suster Haein bicara, meksi tidak betul-betul mengerti apa maksudnya. “Kalian bisa datang ke sini beberapa kali untuk mencoba mengakrabkan diri dengan Jungkook sebelum proses adopsi diselesaikan.”
“Ide bagus,” Pria yang lebih tinggi membalas. Suaranya terdengar lembut, kontras dengan suara pria pucat di depan Jungkook yang lebih berat. Jungkook melirik malu-malu ke arah pria itu, yang— bahkan lewat penilaian matanya yang masih muda —terlihat tampan. “Halo, Jungkook. Kenalkan, aku Seokjin.”
“Apa kalian ke sini untuk membawaku pergi?” Jungkook bertanya. “Hampir semua anak-anak yang datang dan bertemu orang dewasa pergi dari sini.”
Seokjin dan Yoongi bertukar pandang, tampak terkejut mendengar pertanyaan Jungkook yang blak-blakan. “Kalau Jungkook mau ikut bersama kami, tentu saja kami akan merasa senang.”
“Benarkah? Apa aku boleh ikut? Teman-temanku terus mengejekku dan bilang kalau aku bodoh. Aku tidak suka dipanggil bodoh.”
Seokjin menarik napas, lantas berjongkok berusaha menyejajarkan dirinya dengan si kecil Jungkook yang kini menunduk. “Lain kali aku akan memarahi siapa pun yang mengatakan kalau Jungkook bodoh. Kamu tinggal bilang saja padaku.”
“Benar?” tanya si kecil, pelan-pelan memandang Seokjin dengan mata hitamnya yang mulai basah oleh tangis tertahan. “Tapi aku tidak mau jadi anak pengadu.”
Pria bernama Yoongi menggoyang-goyangkan tangan Jungkook dengan pelan. Jungkook bisa merasakan telapak tangannya perlahan basah oleh keringat. “Setelah Jungkook tinggal bersama kami, Jungkook akan jadi anak yang paling kami sayangi. Itu berarti, apa pun yang Jungkook lakukan, Jungkook bisa bercerita pada kami. Jungkook tidak akan menjadi anak pengadu hanya karena itu.”
“Benar begitu, Suster Haein? Keluarga itu berarti aku akan tinggal bersama selamanya, kan?” si kecil Jungkook menoleh pada Suster Pengasuh yang berdiri dengan tenang di samping mereka bertiga.
Senyum Jungkook terbit, mempertontonkan dua gigi depannya yang terlihat sedikit lebih besar dibanding gigi yang lain, juga beberapa rongga kosong bekas gigi yang tanggal. Pipinya yang sedikit terbakar matahari menyala oleh rona merah muda. Sekali lihat saja, baik Seokjin maupun Yoongi sama-sama paham bahwa konsep keluarga yang pelan-pelan mereka jelaskan pada Jungkook diterima anak itu dengan baik. Yoongi mengusap punggung tangan anak itu pelan, sebelum membawanya pada pelukan yang canggung tapi hangat.
Hari itu Jungkook berkenalan—untuk pertama kalinya—pada calon keluarga barunya.
- - -
BAGIAN DUA
KELUARGA KECIL KAMI
JUNGKOOK pikir, kedua orang tuanya adalah orang paling unik di muka bumi. Unik, sebab Jiminie bilang kalau aneh akan lebih terdengar seperti ejekan. Tiga tahun tinggal dengan Kim Seokjin dan Min Yoongi, dan Jungkook belum pernah bisa terbiasa pada hubungan kedua orang tuanya yang sedikit tidak biasa. Atau mungkin seperti itulah perilaku sepasang manusia yang telah lama hidup bersama. Jiminie bilang orang tuanya juga kadang bersikap tidak biasa, tapi Jungkook belum pernah melihat langsung seperti apa ‘ tidak biasa ’ yang Jiminie maksud. Jungkook tidak punya pembanding, jadi ia ambil kesimpulan bahwa kedua orang tuanya adalah satu-satunya pasangan di dunia ini yang bersikap unik.
“Anakku, Min Jungkook yang paling tampan di dunia. Ayo ceritakan pada Papa apa yang kamu lakukan seharian ini.”
Itu, yang biasa bicara dengan nada berlebihan dan menyebut Jungkook dengan berbagai jenis pujian, adalah Papa Jin. Jungkook menyambutnya dengan ogah-ogahan, sibuk mengerjakan tugas dari guru di meja belajar kecil yang Papa Yoon letakkan di atas karpet ruang tengah. Masih dengan mantel yang dia pakai selepas kerja, wajah berminyak setelah seharian berada di dalam dapur, dan bau asap melekat pada kulit, Papa Jin menarik Jungkook dalam pelukan. Anak kecil berusia delapan tahun itu meronta-ronta minta dilepaskan; jelas tidak bersedia menerima ciuman.
“Aduh, aduh. Kamu tidak mau dicium Papa, ya?” Papa Jin mengeluh. Nadanya terdengar dibuat sedih berlebihan. “Apa Jungkook sekarang sudah tidak sayang Papa? Hati Papa sedih sekali karena Jungkook tidak mau Papa cium.”
“Papa bau,” Jungkook mencebik setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Papanya yang kuat sekali. “Papa Yoon bilang kalau Papa harus mandi dulu sebelum menciumku.”
“Papa Yoon ‘kan tidak ada di sini. Sekali saja, ya? Papa harus mencium Jungkook agar punya tenaga berjalan ke kamar mandi.”
Jungkook mendengus, lantas mengeluarkan sekotak tisu basah sebelum menjawab. “Ya sudah. Tapi habis ini Papa langsung mandi, ya? Pakaian kotor langsung ditaruh di keranjang cucian, jangan ditaruh di sofa atau nanti Papa Yoon bisa marah.”
Papa Jin tertawa. “Kamu ini makin lama makin mirip Papa Yoon, tahu?” katanya, lalu mencium Jungkook berkali-kali. Di pipi, di mata, di dahi ....
Jungkook tertawa. Hidungnya sedikit mengkerut. “Jelas, dong. Aku kan anak Papa Yoon! Sudah dong, Papa!”
“Anak Papa Jin juga, bukan?”
“Aduh, Papa ini banyak bicara. Nanti nggak mandi-mandi, tahu! Sana, hoosh, hoosh !”
PERDEBATAN pertama Papa Jin dan Papa Yoon yang Jungkook saksikan adalah sewaktu mereka membicarakan soal nama keluarga siapa yang akan Jungkook pakai. Jungkook masih berusia lima tahun saat itu, baru satu minggu menempati rumah baru. Dia tidak begitu mengerti apa yang Papa Jin dan Papa Yoon katakan karena kosa katanya terbatas. Pada akhirnya, setelah dua jam berdebat dengan suara yang berusaha ditahan-tahan agar tidak meninggi (Seokjin dan Yoongi sepakat untuk tidak pernah menaikkan suara mereka di depan Jungkook), Papa Jin dan Papa Yoon menyerahkan keputusan itu pada Jungkook.
“’Min’ terdengar lebih norak, kan, Jungkook? Kamu juga bisa menemukan banyak sekali teman dengan nama ‘Kim’ di Korea.”
Papa Yoon melotot ke arah Papa Jin. “Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak saling menjatuhkan?”
“Ini namanya persuasif, Yoon. Kamu juga coba saja kalau mau.”
Papa Yoon menatap Jungkook. Wajahnya kelihatan kesal. “Jadi beda itu bukan hal yang memalukan, kok, Jungkook. Justru lebih menyenangkan karena nama kamu tidak ‘pasaran’.”
“Hei!” Papa Jin berseru, hendak protes. Tapi Papa Yoon langsung melotot lagi.
Jungkook terkikik. Ia masih belum bisa berhenti tertawa melihat bagaimana Papa Yoon membuat Papa Jin diam hanya lewat satu delikan mata. Padahal tubuh Papa Jin jauh lebih besar, tapi hanya dipelototi sekali saja, papanya itu langsung bungkam seperti menciut.
“Biar adil, bagaimana kalau suit saja?” Jungkook menjawab sedikit terbata-bata.
Singkat cerita, Papa Yoon menang. Dan meski Papa Jin masih kecewa lantaran Jungkook tidak jadi menyandang namanya, Papa Yoon menghiburnya dengan berkata bahwa nama Kim Jungkook terdengar seperti pesohor Kim Jongkook. Jungkook tidak mengerti bagaimana, tapi Papa Jin berhenti protes setelah Papa Yoon berkata begitu. Perdebatan mereka selesai dan Jungkook merasa bangga karena ia terlibat dalam penyelesaiannya. Esoknya, di sore hari, marga ‘Min’ sudah tersemat dalam namanya.
- - -
“PASTI menyenangkan kalau punya Papa pandai memasak seperti Jungkook.” Teman sekelas Jungkook, Joonie, berkata sambil menyedot susu coklat yang diselipkan ibunya di dalam tas. “Ibu bilang, masakan Papa Jin mahal. Memangnya iya?”
Kelas mereka ramai oleh suara-suara permainan dan obrolan. Jungkook duduk di kursinya, dikelilingi Joonie, Taetae, dan Jiminie di kursi masing-masing. Tangannya menggenggam buku Bahasa Korea, berniat meminta Joonie mengajarinya menulis setelah yang disebut belakangan selesai memakan bekal. Jungkook paling suka pada Joonie, karena Joonie pintar dan tinggi. Tapi dia juga suka pada Taetae dan Jiminie. Hanya tidak sebesar rasa sukanya pada Joonie.
Taetae duduk di kanan Jungkook, menyuapkan biskuit ke dalam mulut. Remahnya berjatuhan di lantai. Jiminie duduk di depan Taetae sambil minum susu pisang yang hampir habis.
“Lebih enak masakan ibuku!” Taetae menimpali. Bibirnya berlepotan remahan biskuit. “Dan aku tidak perlu membayar untuk makan masakan Ibu. Jungkookie perlu membayar tidak kalau mau makan masakan Papa Jungkookie?”
Jungkook menggeleng. Tangannya terulur menyerahkan selembar tisu basah pada Taetae untuk dipakai mengelap bibir. “Papa Jin jarang memasak di rumah. Selalu Papa Yoon yang memasak.”
“Kok, begitu?” Joonie bertanya.
Jungkook mengangkat bahu. “Tidak tahu.”
“Mama Jiminie setiap hari memasak dengan Nenek,” Jiminie membalas. Tangannya menggenggam buku bergambar. “Tapi masakan Mama Jiminie kadang tidak enak. Jiminie pernah sampai menangis karena tidak enak.”
Taetae menatap Jiminie dengan pandangan iba. Tangannya menggenggam jemari gemuk anak laki-laki itu sebelum berkata: “Mulai besok, Jiminie bisa makan bekalku kalau mau.”
Papa Jin jarang sekali memasak di rumah. Papa Yoon adalah orang yang selalu memasak di keluarga kecil mereka. Jungkook pikir, karena itu Papa Yoon lebih sering berada di rumah ketimbang Papa Jin. Tapi bukan berarti Papa Jin tidak pernah memasak. Kalau Papa Yoon harus pergi berhari-hari untuk bekerja, Papa Jin akan tinggal di rumah dan mengurusi segala sesuatu. Mulai dari mencuci, bersih-bersih, sampai memasak dan mengajari Jungkook yang biasanya dilakukan oleh Papa Yoon.
“Hari ini kamu masak apa?” Papa Jin, baru selesai mandi, masuk ke dapur dan memeluk Papa Yoon dari belakang. Jungkook duduk di meja makan dengan patuh sambil mengerjakan tugas Matematika. Menunggu Papa Yoon selesai memasak. Anak laki-laki berumur sembilan tahun itu hanya menghela napas melihat kedua Papanya berpelukan di depan kompor.
“Jungkookie mau minum apa hari ini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Papa Jin, Papa Yoon bertanya pada Jungkook. “Hari ini Papa buat gamjatang .”
“Teh madu ada tidak, Papa?”
Papa Jin sedikit cemberut. Tangannya yang memeluk Papa Yoon sedikit melonggar. “Kamu lebih perhatian pada Jungkook daripada aku.”
Duh, mulai lagi.
“Jangan merajuk terus di depan Jungkook. Nanti dia punya sifat buruk.”
“Maksudnya aku ini contoh buruk?” Suara Papa Jin terdengar kecewa dibuat-buat. Jungkook memutar bola mata, kembali fokus pada soal perkalian di buku tugasnya.
Papa Yoon memberi ciuman singkat di pipi Papa Jin yang terlihat sebal. “Kamu contoh yang baik kalau tidak terus-terusan merajuk,” katanya, yang disusul oleh tawa kecil Jungkook dari meja makan.
Papa Jin masih terlihat tidak terima, tapi dia tidak lagi protes. Jungkook menyesal mengintip orang tuanya hanya untuk menemukan Papa Jin yang mencium Papa Yoon tepat di bibir. Tidak lama, sebab detik berikutnya Papa Yoon langsung mencubit perut Papa Jin kuat-kuat dengan wajah semerah apel.
“Jungkook masih kecil!” Papa Yoon protes.
“Aduh, aduh. Maaf, Yoongs. Aduh, stop , sakit sekali.”
“Papa, Papa,” Jungkook memanggil, menghentikan cubitan Papa Yoon dan rintihan sakit Papa Jin yang makin lama makin terdengar menyedihkan. “Kenapa Papa Jin jarang memasak di rumah?”
Papa Yoon mengangkat alis. “Kenapa Jungkook tiba-tiba bertanya begitu?”
“Teman-teman Jungkookie di sekolah bilang masakan Papa Jin mahal dan enak. Tapi kenapa kalau di rumah, selalu Papa Yoon yang memasak?”
Papa Jin dan Papa Yoon bertukar pandang. “ Hmm , menurut Jungkookie, lebih enak masakan Papa Jin atau Papa Yoon?”
“Papa tidak boleh bertanya seperti itu,” Jungkook protes. Anak laki-laki berambut sehitam jelaga itu meletakkan pensilnya di atas meja dengan gestur dramatis. “Kalau aku jawab Papa Yoon, nanti Papa Jin kecewa. Kalau aku jawab Papa Jin, nanti Papa Yoon kecewa.”
Papa Yoon terkekeh. Masih dalam balutan celemek abu kotak-kotak miliknya, Papa Yoon meletakkan semangkuk besar gamjatang di atas meja makan. Jungkook buru-buru menutup buku-bukunya, lantas meletakkan mereka di atas kursi yang kosong. Berbeda dengan Papa Yoon, Papa Jin tertawa keras sekali. Seluruh wajahnya berubah merah. Jungkook menatap Papa Yoon seolah sedang bertanya penyebab Papa Jin mendadak tertawa kencang. Papa Yoon hanya mengangkat bahu, tapi senyum di wajahnya tidak juga luntur.
“Papa kenapa tertawa?” Jungkook bertanya. “Papa belum jawab pertanyaanku.”
“Papa Jin sudah memasak seharian di tempat kerjanya, jadi Papa lelah kalau harus memasak di rumah,” Papa Yoon yang menjawab. “Jungkookie juga kadang merasa lelah, kan, kalau belajar lagi di rumah setelah seharian belajar di sekolah?”
Jungkook mengangguk. “Tapi Jungkookie tetap suka belajar bersama Papa Yoon dan Papa Jin.”
“Papa juga suka memasak untuk Jungkookie sekali-sekali,” Papa Jin berkata. Tangannya yang besar dan hangat mengusap kepala Jungkook penuh sayang. “Nanti kalau teman-teman Jungkookie datang ke rumah, Papa Jin dan Papa Yoon akan memasak buat mereka. Bagaimana?”
“Janji?” Jungkook mengangkat jari kelingkingnya. Matanya berbinar penuh harap.
Papa Jin menautkan jari kelingking mereka sambil tertawa. “Janji!”
- - -
PEKERJAAN Papa Yoon yang Jungkook tahu adalah membuat lagu. Tapi Jungkook tidak begitu mengerti bagaimana pembuatan lagu dilakukan. Yang ia tahu, Papa Jin kerap kali berseru: ‘ Ah, ini buatan Papa !’ setiap kali ada lagu tertentu diputar di televisi. Jungkook juga tidak terlalu mengerti lagu seperti apa yang Papa Yoon buat. Apa beda dengan lagu-lagu yang biasa ia nyanyikan dulu di taman kanak-kanak?
Pekerjaan memberi Papa Yoon kesempatan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah ketimbang Papa Jin. Meski terkadang Papa Yoon harus menginap beberapa hari di studio yang baru dua kali pernah Jungkook sambangi, sebagian besar waktunya ia habiskan di rumah.
Berbeda dengan Papa Yoon, Papa Jin bekerja sebagai juru masak. Koki, kalau Jungkook tidak salah ingat istilah. Kata Joonie (Joonie dengar dari ibunya), masakan Papa Jin mahal. Jungkook tidak begitu tahu mahal macam apa yang Ibu Joonie maksud, dan ia tidak terlalu peduli. Pekerjaan membuat Papa Jin lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Setiap pulang, pakaian Papa Jin akan berbau asap, dan wajahnya akan sedikit berminyak. Papa Jin juga relatif lebih banyak mengeluh ketimbang Papa Yoon.
“Hari ini kamu yang masak, ya?”
Papa Yoon bersuara setelah kira-kira setengah jam bersandar di sofa tanpa berkata apa-apa. Jungkook masih di tempatnya biasa mengerjakan tugas; pada meja belajar miliknya di ruang tengah. Hanya dua meter dari tempat Papa Yoon duduk. Papa Jin, yang sejak tadi bermain ponsel, langsung meletakkan gawai pintarnya di atas meja.
“Ada apa, Yoongs? Kerjaan, ya?”
Papa Yoon menghela napas. Jungkook mendongak, memandang orang tuanya dengan tatap penuh tanya. Ia ingin sekali bertanya kenapa, tapi tiba-tiba merasa enggan. Takut kalau papanya lelah, takut kalau ia mengganggu, takut pertanyaannya hanya akan membebani.
“Papa mau minta peluk Jungkookie, boleh tidak?” Papa Yoon tiba-tiba bertanya. Kepalanya menoleh ke arah Jungkook, meski punggungnya masih sempurna bersandar. Tatapan matanya sedikit sayu; kentara sekali sedang lelah. Dan meskipun Jungkook punya banyak sekali pekerjaan rumah, ia mana tega menolak permintaan itu? Pertama, Jungkook suka dipeluk. Kedua, Jungkook paling suka dipeluk Papa Yoon. Ketiga, papa-papanya adalah orang yang paling Jungkook sukai di dunia.
“Boleh,” kata Jungkook, lantas menghampiri Papa Yoon dengan kedua tangan terentang lebar. “Papa Yoon pasti lelah sekali, ya? Tidak apa-apa. Papa Yoon adalah yang paling hebat. Aku paling suka pada Papa. Papa adalah favoritku!”
“Tega-teganya melakukan itu di depanku?” Papa Jin protes. Tahu-tahu saja laki-laki yang tinggi dan senang merajuk itu sudah berdiri di samping sofa dengan wajah berlipat.
“Itu untuk Papa Jin juga. Papa Jin juga favoritku. Aku juga paling suka Papa Jin.” Bahu Jungkook naik turun dalam pelukan papanya. “Papa-Papaku adalah yang paling hebat di seluruh dunia.”
“Jungkook juga anak Papa yang paling hebat di seluruh dunia,” Yoongi membalas. Hidungnya menyundul pipi gemuk Jungkook, menciumnya berkali-kali. Sepuluh menit lalu, Yoongi rasanya ingin marah-marah pada seisi semesta. Ia ingin protes pada seluruh elemen di dunia, baik yang bergerak atau pun mati. Tapi di sinilah Yoongi sekarang, memeluk anak laki-lakinya, dan merasakan segala emosi negatif yang semula menguasainya luruh perlahan-lahan.
Ah, mungkin beginilah rasanya bahagia. Yoongi merasa lengkap.
- - -
PAPA Yoon dan Papa Jin bukan berarti tidak pernah bertengkar, kok. Jungkook beberapa kali mendengar perdebatan kecil mereka soal hal-hal sepele. Telinganya cukup tajam, tidak peduli berapa besar usaha kedua orang tuanya untuk mengecilkan suara. Di tahun-tahun pertamanya tinggal bersama Papa Yoon dan Papa Jin, Jungkook kerap kali merasa takut mendengar mereka berdebat. Pikiran-pikiran buruk soal andilnya dalam pertengkaran itu membuat Jungkook merasa buruk. Bagaimana kalau Papa Jin dan Papa Yoon kemudian memutuskan bahwa mereka tidak mau berurusan lagi dengan Jungkook?
Apabila perdebatan itu tidak juga berhenti, Jungkook akan menangis. Ia akan menangisi dugaan-dugaan dalam kepalanya yang menakutkan. Lalu Papa Yoon dan Papa Jin akan berhenti berdebat, mendekatinya, dan memeluknya dari dua sisi.
“Jangan menangis, Jungkookie. Papa minta maaf, ya.”
“ Sssh , anak baik Papa. Jangan menangis lagi. Papa salah. Maafkan Papa karena bertengkar di depan Jungkookie.”
Seiring dengan bertambahnya usia, Jungkook sadar bahwa pertengkaran kedua orang tuanya tidak seserius itu. Papa Jin biasanya akan mengeluh setiap kali Papa Yoon mulai cerewet, atau minum terlalu banyak. Papa Jin marah setiap kali Papa Yoon mendadak diam tidak bicara sama sekali. Jungkook biasa mendengar Papa Jin marah-marah kalau Papa Yoon menyimpan masalah sendirian, sambil berkata bahwa Papa Jin harus berguna sebagai suami , yaitu jadi tempat mendengar.
Papa Yoon biasanya akan marah-marah kalau Papa Jin lupa menjemur pakaian, atau meninggalkan handuk basah di atas ranjang, atau sewaktu Papa Jin pulang dengan sepatu yang kotor dan membiarkannya berantakan di pintu depan.
Tapi dari semua kebiasaan buruk yang jadi pemicu, kebiasaan main gim Papa Jin adalah alasan paling utama.
“Kamu sudah pegang stik playstation seharian, Seokjin. Mata kamu bisa merah.”
“Iya, nanti,” kata Papa Jin.
Jungkook yang baru saja duduk nyaman di meja makan, hendak melahap bingsu yang dibawa Papa Yoon, menegakkan punggung. Berdasarkan pengalamannya, dan Jungkook yakin tebakannya seratus persen tepat, Papa Yoon akan marah-marah. Lagi, untuk yang ke empat kalinya dalam seminggu.
“Nanti, nanti, terus. Kamu menjawab begitu sejak tadi pagi, tapi masih saja diam di depan TV sampai jam segini,” Papa Yoon melangkah lebar-lebar ke arah Papa Jin, sebelum memukul bahunya sekeras yang ia bisa. “Jangan ajari anakmu kecanduan gim sejak dini,” katanya sambil memukul lagi. “Cepat selesaikan dan makan bingsu bersama Jungkook!”
“Aduh, aduh!” Papa Jin meringis, sibuk menghindari pukulan Papa Yoon sampai tidak sadar kalau Mario Bros yang dimainkannya sudah game over . “Aduh, sakit, Yoon! Kamu juga, jangan ajari Jungkook kekerasan, dong!”
- - -
MESKIPUN sering bertengkar, bukan berarti Papa Yoon dan Papa Jin tidak saling mencintai. Jungkook tahu betul kalau kedua papanya menghargai satu sama lain sama besar. Sebesar rasa sayang mereka pada Jungkook, kata Papa Jin. Jungkook tidak tahu sebesar apa yang Papa Jin maksud. Sebesar kelereng? Bola? Pohon? Rumah?
“Tidak ada benda di dunia ini yang bisa mewakili besar rasa sayang Papa pada Jungkook,” Papa Yoon pernah berkata. Malam itu dihabiskan mereka tidur bersisian, dengan buku dongeng Peter Pan di pangkuan Papa Yoon sebagai pengantar tidur yang Jungkook pilih.
“Telepon dari Papa Yoon,” kata Jungkook, menyerahkan ponselnya pada Papa Jin yang sibuk memasak.
Buru-buru Papa Jin mematikan kompor, meninggalkan nasi goreng yang baru ia masak, untuk bicara dengan Papa Yoon di telepon. Jungkook tidak protes. Ia punya komik untuk dibaca, dan tidak mau mendengar kedua papanya melempar kalimat rindu pada satu sama lain.
“Kenapa kamu tidak telepon ke aku saja, sih?” Papa Jin protes.
Jungkook bukan mau mendengar. Serius. Ini tidak disengaja .
“ Malas telepon kamu. Kalian ‘kan sedang bersama. Sekalian saja.”
Papa Jin berdecak. “Kebiasaan,” keluhnya. “Kamu sudah makan malam?”
“Ini baru mau cari seafood . Kamu masak apa? ”
“ Bokkeumbap . Jungkook sedang membaca komik. Habis dipinjamkan Namjoonie, katanya,” Papa Jin melirik Jungkook yang pura-pura fokus, padahal pipinya sudah memerah seperti tomat. “Anak kamu itu sejak tadi terus-terusan membujuk supaya kita mau mengundang Namjoonie ke rumah.”
“Papa!”
Terdengar suara tawa dari seberang sambungan. “ Bilang padanya kalau Namjoonie harus kita seleksi dulu .”
“Papa Yoon bilang Namjoonie harus diseleksi dulu,” kata Papa Jin.
Jungkook mencibir. “Seleksi apa. Padahal hanya jadi temanku.”
“Cih, bohong saja kamu. Padahal kamu naksir Namjoonie.”
“Papa sok tahu,” Jungkook mengelak lagi. Kali ini berusaha memasang wajah paling galak yang ia bisa; yang hanya dapat membuat Papa Jin tertawa.
“ Ya sudah, anakmu jangan digoda terus. Aku sudah mau sampai. Nanti aku telepon lagi setelah makan,” Papa Yoon menyela. “Bilang Jungkook kalau papanya rindu.”
“Padaku tidak rindu, memangnya?” Papa Jin terdengar sedikit merajuk.
Papa Yoon tertawa. Jungkook menjulurkan lidah, mengejek sembunyi-sembunyi.
“Rindu juga,” kata Papa Yoon setelah jeda agak lama. “Rindu selalu . ”
“Aku tutup. Sudah, ya!”
Lalu sambungan mati, bersama Papa Yoon yang Jungkook berani jamin sedang tertawa-tawa dan Papa Jin yang seluruh wajahnya merah sampai ke leher.
- - -
BAGIAN TIGA
TENTANG BAGAIMANA AKU MEMBANGUN KELUARGA SENDIRI
BARANGKALI setengah jam sudah berlalu sejak Papa Jin mulai menangis. Jungkook membiarkan Papa Yoon menepuk punggungnya, menggantikan dirinya yang harus mulai berdiri di altar. Kim Taehyung menatapnya dengan pandangan cemas, tidak rela memulai upacara pernikahan mereka sewaktu ayah mertuanya masih tidak mau berhenti menitikkan air mata.
“Bagaimana bisa tiba-tiba dia sudah sebesar ini,” isak Papa Jin, yang masih samar-samar bisa Jungkook dengar.
“Berhentilah menangis, dasar bodoh,” Papa Yoon, dibarengi tawa kecil, memarahinya. “Bagaimana bisa tiba-tiba? Kita bahkan mengantarnya ke ujian masuk perguruan tinggi dan mengurusi pertunangannya.”
“Rasanya kemarin dia masih setinggi lututku...”
Papa Yoon mengangguk-angguk. Memutuskan bahwa tidak ada gunanya mengingatkan pada Papa Jin bahwa Jungkook tidak tumbuh tiba-tiba seperti sihir. Bahwa mereka hadir dalam setiap pertambahan usia anak itu sampai sewaktu ia hendak mengambil tangan orang lain untuk membangun keluarganya sendiri.
“Kita mulai pernikahan ini. Mempelai Min Jungkook dan Kim Taehyung, silakan berdiri di hadapan saya....”
Hari ini, Jungkook memutuskan untuk membangun keluarganya sendiri. Bersama laki-laki yang ia janjikan untuk terus ia dengarkan, untuk terus ia hargai, untuk terus ia buat bahagia. Hari ini Jungkook akan berjanji mencintai orang lain, lebih besar dari ia mencintai hal-hal lain di dunia ini. Hari ini Jungkook akan secara resmi memulai hidupnya bersama Kim Taehyung, dan menjanjikannya cinta yang penuh upaya; seperti sebagaimana ia pelajari dari cara kedua papanya saling mencintai.
Jungkook menatap kedua papanya untuk terakhir kali, beradu pandang dengan sorot mata paling tulus yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Papa Jin masih tersedu, dan Papa Yoon hampir ikut menangis sewaktu Jungkook melemparkan senyuman lebarnya ke arah mereka. Air mata itu mengalir deras sewaktu dirinya—bersama langkah yang ia bawa mendekati pendeta dan laki-laki yang hendak ia ajak menghabiskan hidup bersama—berucap tanpa suara:
“ Terima kasih sudah membesarkan aku .”
Epoch
FIN.
