Actions

Work Header

Take Two Strangers

Summary:

“Kalau kau merindukanku,” mulai Thomas.

“Hei!”

Thomas tertawa mendengar kepanikan di suara Bujang. Terkadang, ia merasa sangat lelah dengan permainan sialan yang mereka mainkan; garis batas penanda pertemanan dan sesatu yang lain melebur seperti pasir terhempas deburan ombak. Meski begitu, Tuhan—siapapun itu—tahu bahwa keras kepala merupakan sebuah sifat genetik yang diwariskan dalam keluarganya.

Notes:

title is from Dear April by Frank Ocean:

Like you took these strangers
And our two strange lives
And made us new

 

not beta'ed!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Kau dimana?”

Thomas tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dari ujung telepon. Hanya dua orang dalam hidupnya yang tidak pernah menganggap sapaan dalam obrolan telepon sebagai hal signifikan—Thomas tidak setuju, tentu saja; bagaimana jika yang ia telepon adalah seorang klien penting?

“Halo juga, Bujang.” Sapa Thomas, karena etika adalah hal yang ditanamkan di dalam otaknya semenjak ia mulai berjalan dan belajar mengantarkan botol susu.

“Sekretarismu tidak tahu kalau kau sedang menikmati rosé di kabin kelas satu,” Suara Bujang dengan monotonnya terasa sangat familiar di telinga Thomas, membuat sesuatu di dalam perutnya teraduk. Sudah hampir tiga minggu Thomas tidak bertemu Bujang, meskipun mereka berada di kota yang sama, kecuali hari ini.

“Pelacakan adalah tindakan yang bisa dipidana, kau tahu?”

“Tentu,” terdengar helaan napas Bujang di telepon genggamnya. “Aku tidak melacakmu.”

“Hmm. Kelas satu tetap bising?”

Bujang mengangguk, dan ia tahu kalau Thomas tahu ia menganggukkan kepalanya, meskipun mereka hanya tersambung melalui suara. Thomas tahu segala macam bentuk diamnya seorang Bujang; ada sebuah ruang di otaknya yang mengkategorikan segala mikroekspresi Bujang (hal ini tidak akan diakui Thomas hingga akhir hayatnya).

Sinting. Thomas tahu dirinya sudah jauh dari kewarasan. Ia tidak berniat protes. Belakangan ini, ia belajar untuk menerima otaknya yang selalu bekerja diluar keinginannya sendiri.

“Ada kepentingan apa, Tuan Muda?” Thomas bertanya, karena ia hanya mendengar stabilnya napas Bujang di telinganya. Otak kurang ajarnya mengingat sebuah memori ketika Thomas dan Bujang terjebak dalam baku tembak dua klan haus darah di Makau. Thomas tidak bersenjata, dan Bujang hanya membawa sebuah pistol tua kesayangannya tanpa peluru cadangan—memaksa mereka untuk bersembunyi dibalik sebuah meja resepsionis; napas hangat Bujang terasa memburu tengkuknya. Thomas bergidik, ia harus memecahkan keheningan ini sebelum otaknya mengkhianatinya lebih lanjut. “Kau bisa mengakses dokumen pentingmu melalui Maggie, jika itu yang kau butuhkan. Minta Maggie untuk mengantarkannya secara langsung, ia tidak akan menolak permintaanmu seberapa sibukpun.”

Bujang hendak berkata sesuatu, tetapi ia mengurungkan niatnya.

Thomas tidak pernah peduli dengan peribahasa. Semuanya terdengar seperti untaian kata irasional, sama menyebalkannya dengan superstisi. Otaknya seperti dipaksa untuk memakan lumpur ketika seseorang melontarkan peribahasa, seperti pebisnis-pebisnis tua dengan segala keyakinan lawasnya. Namun, Thomas belajar beberapa tahun yang lalu, ketika ia mulai mengenal Bujang, bahwa peribahasa ‘diam itu emas’ benar adanya. Thomas menahan dirinya untuk tidak bicara lebih lanjut, menanti.

“Tidak,” ujar Bujang. “Tidak butuh Maggie.” Koreksinya. “Aku—

“Hmm?”

Hening.

Thomas mengerutkan alisnya. “Bujang?” panggilnya, dengan tangan setengah terangkat. Ia berniat memanggil pramugari cantik yang berdiri di dekat dinding pemisah kelas satu dan kelas ekonomi. Kalau pesawat yang digadang Kementerian Komunikasi sebagai pesawat tercanggih milik negaranya terdapat gangguan Wi-Fi, ia akan mengajukan komplain formal dan terbuka untuk mempermalukan mereka.

“Entahlah,” terdengar suara Bujang, tidak yakin dengan apa yang barusan ia lontarkan. Jawaban Bujang bersamaan dengan pramugari yang melihat tangan Thomas, hendak berjalan ke arahnya. Thomas menurunkan tangannya, menggeleng ke pramugari tersebut. Ia membalas senyumannya, lalu mendengar Bujang mengulang ucapannya: “Entah.” Seolah-olah kata tersebut merupakan kata dari bahasa asing yang tidak bisa diartikan.

Thomas tersenyum heran. “Oh?”

Satu, dua, tiga, empat. “Kapan kau mendarat?” Bujang mengalihkan pembicaraan. Seperti tebakan Thomas, Bujang berhasil mengontrol dirinya setelah hitungan keempat.

“Kalau kau merindukanku,” mulai Thomas.

“Hei!”

Thomas tertawa mendengar kepanikan di suara Bujang. Terkadang, ia merasa sangat lelah dengan permainan sialan yang mereka mainkan; garis batas penanda pertemanan dan sesatu yang lain melebur seperti pasir terhempas deburan ombak. Meski begitu, Tuhan—siapapun itu—tahu bahwa keras kepala merupakan sebuah sifat genetik yang diwariskan dalam keluarganya.

“Dengar, Bujang; aku baru saja selesai berbicara dengan perdana menteri paling bodoh yang pernah kutemui.” Thomas berbisik, seolah menyebarkan konspirasi mengenai kematian presiden negaranya yang ditutupi oleh pemegang kursi tertinggi pemerintahan. Pramugari cantik itu tidak kembali ke tempatnya di dekat sekat pemisah, dan Thomas tidak bodoh. Ia meliriknya sekilas. “Kuceritakan nanti. Pukul enam belas, jangan lupa chai latte.” Ujarnya kepada Bujang, dengan volume suara normal.

Bujang bisa saja menolaknya. Bujang bisa saja bilang: Thomas, maaf, aku sangat sibuk. Basyir akan menjemputmu, apabila kau tidak ingin dimarahi Maggie karena pergi tanpa pamit kepadanya. Bujang bisa saja mengirimkan supir kepercayaannya, dengan chai latte paling enak sedunia, tanpanya. Thomas mendapati dirinya menahan napas, gigi gerahamnya menggigit bagian dalam pipinya. Tidak, tidak, tidak—Thomas masih punya harga diri terlalu tinggi untuk berdoa dalam hati.

Sandwich tuna?” merupakan jawaban simpel dari Bujang, dan Thomas ingin bersorak dan berdansa dengan pramugari cantik di tengah pria-pria berdasi dengan penutup mata tersandar di kepalanya.

“Tanpa mayones.”

“Kau kira aku lupa?”

Thomas tertawa, lalu memutus sambungan telepon mereka.

 

Notes:

hello! if you found this fanfic and decided to read: this is my thomas/bujang brainrot :-)) i wrote this at 3 am and as an exercise because i haven't written in bahasa for sOOOOO long. also i haven't read the books in years, so apologies for possible mistakes.