Work Text:
“Oh! Minumnya habis ya, Kak?! Ambil saja minum saya, Kak! Belum dibuka!”
“Eh, gak papa—”
“Silahkan diambil, Kak! Saya beli baru sebentar ya, Kak!”
Bryan hanya bisa merengut sambil melihat Ezra yang sudah berjalan pergi dari meja mereka di kantin. Ia tidak sengaja bertemu Ezra hari ini, saat mereka kebetulan membeli makanan di kios yang sama hari ini.
Bryan menghela nafas. Padahal awalnya semua baik-baik saja, mereka akan berpapasan di jalan, lalu Bryan akan sengaja menggoda Ezra dan si adik kelasnya akan kesal padanya. Hingga beberapa waktu lalu dimana Ezra mengetahui kalau Bryan adalah anak kelas 12— seniornya. Sejak saat itu, Ezra berubah, dan sekarang Bryan terjebak dengan Ezra yang kaku dan kelewat sopan setiap saat.
“Kak?”
Suara Ezra menyadarkan Bryan kembali dari pikirannya. Ezra sudah duduk di depannya lagi, raut mukanya terlihat cemas.
“Kakak enggak apa apa, Kak?”
“Hm? Oh, sori, tadi gue bengong.”
Ezra mengangguk, kemudian melihat botol minum yang ia tinggalkan di meja masih tidak tersentuh. “Minumnya enggak diminum, Kak?? Maaf, Kak! Kakak enggak suka ya?!”
Bryan menghela nafas lagi. Bryan memang senang, bisa makin sering menghabiskan waktu dengan Ezra, tapi tidak begini caranya.
“Oi, Bryan! Dari mana lo? Kok gak ke tempat kita biasa?” Bryan mendengar temannya, Alvin, memanggil saat ia kembali ke kelas.
“Eh, sori, tadi gue ketemu Ezra jadi makan bareng di kantin!”
“Ezra angkatan bawah?” Temannya yang lain, Jasmin, bertanya. “Lo jadi sering bareng dia perasaan deh.”
“Nyaw, jadi kangen ya lu ama gue?”
“Dih, ew.” Balas Jasmin geli. “Bukan itu maksud gue, bukannya dia galak ya?”
“Apaan dah, gak samsek!” Protes Bryan. “Malah dia kesopanan deh, gemes gue. Cuma gara-gara gue kakak kelas aja masa segitunya.”
“Ya normal sih kalo junior sopan ke senior.” Jawab Alvin.
Jasmin kemudian tertawa. “Nah loh, jangan-jangan dia nemenin lo mulu karna gak berani nolak!”
Kedua temannya tertawa. Bryan malah terdiam.
Ia tidak pernah berpikir sampai kesitu.
Apakah mungkin…?
Sialan memang si Jasmin, Bryan jadi tidak bisa fokus seharian sejak percakapan mereka saat jam istirahat tadi. Sekarang bel pulang sekolah sudah berbunyi, dan Bryan masih memikirkan tentang perilaku Ezra terhadapnya. Ia berusaha mengingat kembali semua percakapannya dengan Ezra selama ini. Sayangnya, ia tidak terlalu menemukan banyak karena Bryan sendiri tidak begitu mengingat hal-hal yang ia katakan pada Ezra selain godaan-godaan untuk mengganggunya.
Buntu, Bryan mengeluarkan handphone-nya dari kantong dan membuka chatroom-nya dengan Ezra. Ia merengut. Memang benar, selama ini, semua inisiatif dan ajakan selalu datang dari dirinya sendiri, dan Ezra memang tak pernah sekalipun menolak ajakannya atau mengatakan tidak padanya. Yah, setidaknya setelah Ezra tahu bahwa Bryan adalah seniornya.
Tiba-tiba, Bryan merasa tertarik ke belakang.
“Kak Bryan! Maaf, Kak! Kakak hampir tabrak tiang!”
Bryan terdiam sebentar, sebelum akhirnya kembali sadar atas lingkungan sekitarnya. Ia berbalik menghadap Ezra yang sekarang telah menatapnya dengan cemas, lalu kembali menatap tiang yang ternyata nyaris ia tabrak.
“Ya ampun, thanks loh, Ejrak!”
“Sama-sama, Kak! Lain kali mohon lebih hati-hati, Kak! Jalan sambil melihat HP sangat berbahaya!”
Bryan menatap wajah Ezra yang selalu serius seperti biasa. Ia berpikir. Mungkin ini pertanda. Mungkin Bryan memang harus langsung mencari tahu sendiri jawabannya.
“Kalau begitu saya duluan—”
“Eh bentar, Ejrak, hari ini lo free gak? Temenin gue mau gak?”
Ezra terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab. “Wah, mohon maaf, Kak! Tapi hari ini saya ada latihan Silat!”
Oke, bagus. Bryan memang tahu kalau hari ini adalah jadwal latihan klub pencak silat, dan Ezra bisa menolak sesuai dugaannya. Setidaknya, ini membuktikan kalau Ezra tidak semena-mena selalu mengiyakan ajakan Bryan sebelumnya. Berarti benar kok, Ezra tidak pernah memaksakan dirinya.
“Kalau boleh tahu, memang tadinya mau apa, Kak?” Tanya Ezra.
“Hm? O-oh! Tadinya gue pengen ke kafe baru yang dikasih tau temen gue, katanya bagus tapi gak banyak yang tau. Jadi gue pengen liat, sekalian buat konten juga.”
Itu bukan bohong, Bryan memang sudah ada rencana untuk mengunjungi kafe tersebut, namun sebenarnya niat awalnya adalah untuk melakukannya saat weekend dimana ia bisa menyiapkan dirinya dengan lebih baik.
Di depannya, Ezra terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia lalu mengangkat tangannya untuk melihat jam yang bergantung di pergelangannya, sebelum akhirnya kembali menghadap Bryan.
“Kakak butuh saya antar? Saya bisa, Kak! Latihan silat saya masih satu jam lagi! Jadi saya bisa antar Kakak lalu saya balik lagi ke sekolah!”
“Eh, gak usah—”
“Enggak apa-apa, Kak! Saya ambil helm dulu ya, Kak!”
Setelah itu, Ezra sudah pergi berlari meninggalkan Bryan.
Ya tuhan, kenapa malah jadi begini…
Sesampainya di kafe tujuan, Bryan turun dari motor Ezra dan mengembalikan helmnya.
“Thanks ya, Ejrak. Sori nih lo jadi bolak balik.”
“Enggak apa-apa kok, Kak! Saya siap membantu!”
“Lo gak harus selalu maksain bantu gue kok.” Balas Bryan tulus, sekalian memberikan kode. “Yaudah gih lo balik sana, biar gak telat latihan! Sekali lagi, thanks, ya!”
“Siap, Kak! Sama-sama—hm?” Di saat itu, tiba-tiba handphone Ezra bergetar. “Oh.”
“Kenapa?”
“Eh, enggak, Kak! Cuma ternyata latihan hari ini dibatalkan karena pelatihnya ada urusan mendadak.”
“Oh gitu? Kalo gitu lo temenin—”
Shit.
Duh, Bryan, enteng banget mulut lo kalo masalah ngajakin orang. Padahal kan justru itu kesempatan yang pas banget buat ngetes Ezra. Tapi kalau begini pasti…
“Oh, Kakak mau saya temani?! Boleh, Kak! Kebetulan saya juga sudah bawa tas!”
Bryan menghela nafas. Ini salahnya sendiri.
Kedua anak laki-laki itu melangkah masuk ke dalam kafe, dan karyawan kafe segera menyerukan sapaan ramah kepada mereka dari balik counter. Bryan memberikan senyuman menawannya sebagai balasan, lalu ia mengamati tokonya secara keseluruhan. Seperti dugaannya, kafe ini sangat sepi pengunjung, malah, sepertinya Bryan dan Ezra adalah satu-satunya tamu dalam kafe selain satu pasangan lain yang duduk di sudut dalam kafe.
Akhirnya, mereka memilih meja di samping jendela yang menghadap ke taman belakang, yang menurut Bryan adalah titik paling aesthetic dalam kafe tersebut. Pelayan kafe segera menghampiri mereka dan memberikan menu untuk mereka baca. Bryan menentukan pilihannya dengan mudah dan Ezra dengan sedikit bantuan Bryan untuk menjelaskan pilihan menu yang ada. Setelah menyebutkan pesanan mereka kepada pelayan, mereka menunggu dengan sabar.
“Wah, kafenya benar-benar bagus ya, Kak.” Komentar Ezra sambil melihat sekeliling kafe dengan kagum. “Padahal tadi dari luar kelihatan sedikit suram, ditambah ini lokasinya bukan di jalan utama, malah di gang sepi dan enggak banyak lampu jalan.”
“Nah makanya, itu lah kenapa kita gak boleh judge a book by its cover. Yang luarnya serem bisa aja dalemnya indah. Gimana coba kalo kita gak kasih kesempatan? Kita sendiri yang kelewatan.”
“Bener juga, Kak!”
Bryan tersenyum. “Kayak lu, nih, Ejrak.” Ia tertawa kecil. “Tampang security, hati Hello Kitty.”
Kata-kata Bryan sepertinya membuat Ezra sedikit tersipu. Ia segera menundukkan kepalanya dan menyibukkan diri melihat tangannya.
“S-saya enggak begitu mengerti, tapi terima kasih, Kak!”
Bryan tertawa kecil, memang asik untuk menggoda si adik kelasnya ini.
“Itu pujian kok.” Tambah Bryan.
Tak lama setelah itu, makanan pesanan mereka datang, ternyata kafe ini spesialis masakan Spanyol. Bryan tentunya langsung sigap untuk merekam dan mengambil berbagai gambar untuk konten media sosialnya, sedangkan Ezra duduk manis menunggu dengan patuh sambil beberapa kali membantu Bryan memfoto dirinya.
Setelah sesi foto selesai, mereka akhirnya mulai mencoba makanan pesanan mereka, dan memang, makanannya seenak kelihatannya. Bryan mendengung dengan gembira. Keduanya makan dengan lahap, Ezra lalu mengutarakan bahwa ini pertama kalinya ia mencoba masakan Spanyol.
Terlalu asyik menikmati hidangan kafe dan mengobrol bersama, keduanya tidak sadar bahwa matahari sudah mulai terbenam. Akhirnya, mereka pun memutuskan bahwa sudah saatnya untuk pulang. Bryan memberikan tanda kepada karyawan untuk membawakan bill mereka, namun saat bill-nya datang, Ezra lah yang pertama mengambilnya dari meja.
“Lo ngapain?” Tanya Bryan.
“Eh? Saya mau lihat bonnya juga, Kak, mau hitung bagian saya!”
“Hah? Ya kali. Gak usah, gue yang traktir.” Balas Bryan sambil mengambil dari tangan Ezra.
“Saya bisa bayar sendiri—”
“Gue bilang gak usah.” Balas Bryan, sudah mulai kehabisan kesabaran. “Gue yang ngajak lo ke sini, dan lo juga udah nganterin gue.”
“Tapi, Kak—” Ezra masih saja menjawab.
“Ejrak.” Panggil Bryan dengan tegas. Ezra langsung menutup mulutnya. “Lo yang selalu bilang gue senior lo, gue lebih tua. Well, yang lebih tua harus bayarin ade-adenya, iya gak?”
Ezra masih tertegun sambil menatap seniornya. Tak lama kemudian, ia menghela nafas. “Iya, Kak.” Jawabnya patuh. “Terima kasih, Kak.”
“Nyaw, sama-sama, Ejrak~~”
Bryan tertawa, ternyata ada baiknya juga ia lebih tua. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Tujuannya hari ini untuk mengetes ketulusan Ezra memang tidak sepenuhnya tercapai, namun tidak apa-apa, setidaknya ia dapat menghabiskan waktu dengan Ezra. Ya, ia tidak perlu buru-buru. Kedepannya, Bryan bisa lebih hati-hati, agar tidak tidak tanpa sadar memaksa Ezra mengikuti ajakannya yang mungkin membuatnya tidak nyaman.
Setelah Bryan menyelesaikan pembayaran, keduanya pun bersiap-siap untuk pulang. Saat berjalan keluar, Bryan baru menyadari kalau ia belum sempat nge-post foto-foto hasil jepretannya tadi, sangking terlalu asyik mengobrol dengan Ezra. Bryan mengeluarkan handphone-nya kembali, ia akan membutuhkan waktu lama jika ia harus post semuanya, tapi setidaknya ia bisa update satu foto di story dulu saja.
“Kakak pulang naik apa? Mau saya antar?”
“Hm? Ya elah gak usah, gue pesen Lungojek aja.” Balas Bryan tanpa berpaling dari handphone di tangannya.
Bryan melihat satu-satu hasil jepretannya tadi, mencari satu foto yang cocok untuk jadi teaser . Bryan berhenti di salah satu foto, foto itu sangat menangkap vibe kafe tanpa menunjukkan keseluruhannya. Ezra juga ada dalam foto itu, ia sedang tidak melihat kamera ataupun fokus pada Bryan, mungkin saat itu ia sedang mengamati dekorasi toko. Bryan tersenyum, ia ingin sekali menggunakan foto ini di story-nya, tapi pasti Ezra akan marah.
“KAK BRYAN!”
Semua terjadi begitu cepat, Bryan ditarik ke belakang untuk kedua kalinya hari ini, namun kali ini dengan jauh lebih kuat. Di depannya, sebuah mobil lewat dengan kecepatan tinggi. Terkejut, Bryan kehilangan keseimbangannya dan sedikit terjatuh ke belakang, untungnya ada Ezra yang menghalanginya dari jatuh ke trotoar.
“WOY! NYETIR LIAT JALAN LO!!” Bryan mendengar Ezra berteriak ke arah mobil tersebut yang terus berjalan, tanpa tanda bersalah sudah hampir menabrak seseorang.
Jantung Bryan masih berdegup kencang, handphone yang ia genggam ditangannya kini menempel erat di dadanya. Ia mencoba untuk mengumpulkan keseimbangannya dan berdiri menghadap Ezra. “Wow, thanks—”
“MAKANYA KALO JALAN TUH JANGAN LIAT HAPE! KAN TADI UDAH GUE INGETIN!”
Bryan tersentak sedikit mendengar nada tinggi Ezra yang kali ini diarahkan padanya. Wajah Ezra tidak terlihat kaku atau serius seperti biasanya, ia terlihat geram, mengingatkan Bryan seperti saat mereka pertama kali bertemu.
“KALO JALAN TUH LIAT DEPAN! UDAH TAU INI JALANAN SEPI! MOBIL TUH PADA NGEBUT!” Lanjut Ezra, suara masih tinggi dan mata menatap tajam Bryan. “LAIN KALI HATI-HATI! INI MASIH UNTUNG ADA GUA! KALO GAK ADA YANG NARIK LO TADI GIMANA?!”
Bryan masih tertegun. Pikirannya kosong. Sejujurnya, ia masih shock dengan apa yang baru saja (hampir) terjadi padanya. Tapi setidaknya Bryan tahu, ia memang salah.
Tidak mendapatkan respon apa-apa, Ezra akhirnya menghela nafas.
“Udah, ayo, gue anterin pulang.”
Bryan mengangguk.
Perjalanan ke rumah Bryan diselimuti oleh keheningan. Ezra mengendarai motornya dengan diam, ia memang sudah pernah beberapa kali mengantar Bryan pulang ke rumah, jadi ia tidak asing dengan jalan ke rumah Bryan.
Sesampainya di rumah Bryan, keduanya masih terdiam. Menghela nafas, Bryan turun dari motor Ezra dan melepas helm dari kepalanya.
Ia harus mengatakan sesuatu.
“Ejrak—”
“Kak Bryan—”
Keduanya saling tatap, lalu tertawa canggung.
“Saya duluan gak papa, Kak?” Tanya Ezra.
“Oke, boleh.”
Ezra menundukkan kepalanya, seperti menghindari menatap mata Bryan.
“Maaf ya, Kak, tadi udah ngebentak Kakak. Saya panik dan takut banget tadi. Tapi pasti Kakak sebenernya lebih kaget dan takut lagi. Tapi saya malah marah-marah.”
Bryan menunggu, tidak ingin memotong Ezra.
“Bahkan saya gak sempet nanya, Kakak gak papa kan?” Ezra akhirnya mengangkat kepalanya.
“Eh, iya! Gue gak papa kok, berkat lo.” Bryan menjawab dengan sigap. “Emang gue yang salah juga sih. Kebiasaan kalo lagi liat HP jadi lupa sekitar.” Ia kemudian menatap Ezra dengan senyuman hangatnya. “Thanks again ya, Ejrak. Thank you juga udah dianterin pulang.”
“Iya, Kak, sama-sama. Sekali lagi, tolong lebih hati-hati ya, Kak.” Ezra terdiam sebentar, mengusap bagian belakang lehernya. “Dan… nanti kalau misal mau kemana-mana lagi, ajak saya lagi ya, Kak, biar saya temenin kayak tadi.”
Bryan tercengang, masih menatap Ezra dan mencoba meresapi apa yang baru saja ia katakan.
Apakah benar? Ezra baru saja meminta Bryan untuk terus mengajaknya? Ezra baru saja menawarkan dirinya sendiri untuk menemani Bryan? Ezra memang ingin menghabiskan waktunya dengannya?
“EJRAKKKKK!!” Jerit Bryan akhirnya.
“Eh, kenapa, Kak?! Maaf, saya lancang ya, Kak?!”
“Ya tuhan, gue gemes banget tau gak sih sama lo!! Gue harus apa Ejrakkkk!!”
“Gak harus ngapa-ngapain, Kak, gak papa!”
“BENER-BENER NIH ANAK GUE PITES YA.” Desis Bryan pedas, namun setelah itu ia kembali tersenyum pada Ezra. “Jadi beneran nih ya lo mau temenin gue kalo gue mau jalan? Lo gak terpaksa kan?”
“Beneran, Kak! Dan enggak sama sekali kok, Kak!” Jawab Ezra sigap. “Ternyata seru juga coba-coba makanan baru bareng Kakak tadi.” Tambahnya. “Dan biar ada yang jagain Kakak juga, tapi nanti saya bayar sendiri ya, Kak.”
Ya tuhan, hati ini. Bisa-bisanya adik kelasnya menyatakan hal seperti ini dengan semudah itu.
Bryan menghela nafas, kali ini dengan lega. Seharian sudah ia habiskan waktunya bersama Ezra, dan seharian ini juga perasaannya sudah bercampur aduk, mulai dari risih dengan sikap Ezra, lalu pensaran, cemas, hingga akhirnya tenang dan puas. Bryan masih kurang sreg dengan sikap Ezra yang terlalu sopan dan hormat, namun setidaknya, kini Bryan sudah tau kalau Ezra tulus untuk menghabiskan waktu dengannya.
Ia juga yakin, Ezra hanya butuh waktu, dan Bryan hanya perlu terus membuatnya merasa nyaman.
“Oke. Kalo gitu gue bakal ajak-ajak lo lagi ya.” Balas Bryan dengan ceria. “Asik juga ternyata dibonceng ama lo kemana-mana.”
“O-oh gitu, Kak?! Kalo gitu besok pagi perlu saya jemput ke sekolah, Kak?!”
“GAK USAH!!!!!”
