Work Text:
Black hanyalah seorang teman biasa. Setidaknya sebelum suatu hari aku menyadari bahwa apa yang kurasakan bukan sekadar perasaan kepada seorang teman. Aku tidak pernah menemukan gelap yang menenangkan pada pupil mata Sean. Atau merasa bahagia luar biasa ketika Yok berhasil memenangkan taruhan. Bahkan tidak juga menurut pada Gumpha ketika dia meminta untuk tetap tinggal lebih lama. Bukan mereka atau orang lain di luar sana, tetapi dia yang menjadi alasan dibalik apa yang aku temukan dan apa yang aku lakukan. Dia, Black, lelaki keras kepala yang pertama kali mengajariku mengendarai motor dan sering berbicara perihal kebebasan. Bukankah itu aneh sekaligus membingungkan di waktu yang bersamaan?
Seiring dengan tidak hentinya rupa Black hadir dalam pikiran yang sudah kusut ini, keberanian yang kumiliki tanpa diduga memudar secara bertahap, sedikit demi sedikit. Padahal aku ingin menggunakan keberanian itu sebanyak-banyaknya. Aku ingin berani memperlihatkan bagaimana aku mencintainya tanpa tapi. Aku ingin berani mencintainya dengan kebebasan utuh yang sering dia singgung. Aku ingin … aku ingin menyatakan seluruh perasaan ini tanpa adanya ketakutan.
Keberanian telah terkikis kian banyak, sementara rasa takut meluap dan mendominasi. Banyak ketakutan yang membuatku sulit mengambil langkah maju walaupun hanya satu jengkal. Aku takut perasaan ini tidak terbalas sebagaimana yang aku impikan tiap malam. Aku takut jika aku tidak memendamnya dalam-dalam maka akan ada yang berubah. Pertemanan yang telah terjalin sedemikian rupa menjadi taruhannya. Dan dari semua itu, yang paling aku takuti adalah kepergiannya; meninggalkanku jauh bersama kepedihan dan rasa sakit yang memeluk erat.
Karena dengan melihatnya setiap hari adalah satu dari kebahagiaanku paling sederhana. Akan jadi apa aku ini jika dia benar-benar menghilang? Terlalu menyeramkan meskipun hanya berupa bayangan semu.
Jadi kurasa tidak apa-apa mencintainya seperti ini. Asalkan sepasang mata indahnya bisa terus kutatap dan bahunya masih bisa kuraih, itu sudah cukup. Tidak apa-apa.
Black, aku ingin meminta maaf.
Maafkan aku karena sudah menganggapmu lebih dari sekadar teman. Tetapi tentang perasaan ini aku memutuskan untuk membiarkannya tetap tumbuh dan tidak akan berhenti—setidaknya untuk hari ini.
