Work Text:
Haechan tidak pernah melihat hujan turun dari pelupuk mata milik Mark. Bertolak belakang dengan dirinya bersama isak tangis merupakan kesatuan yang melekat dan tidak terpisahkan. Berbagai kejadian mampu mengundang Haechan menumpahkan air mata atau sekadar tetesan ringan; contohnya ketika menonton film, melihat sang adik tumbuh dan berangsur remaja, pun diberi kejutan di hari ulang tahunnya. Cara mengungkapkan emosi bagi setiap individu tidaklah sama. Dan dengan air mata, Haechan mengekspresikan ketulusannya tanpa kepura-puraan.
Akan tetapi, Mark bukan orang yang seperti itu. Ketenangannya sepadan lautan. Bibir tipis membentuk seutas benang. Netra sepekat kumpulan arang selalu menatap lurus. Meski demikian, ia masih memiliki kelembutan juga tatapan hangat—sebuah rahasia yang diperlihatkannya hanya saat menghabiskan waktu bersama Haechan.
Pada sisi yang lainnya, Mark adalah bebatuan keras. Dilontarkan caci maki, diremehkan banyak orang, bahkan ketika diasingkan oleh orang tuanya sendiri, Mark sedikitpun tidak mengekspresikan kesedihan melalui tangisan. Mungkin air mata itu telah mengkristal jadi batu, lalu bertransformasi, menambah pundi-pundi kekuatan. Haechan menyebutnya sebagai perisai juga ketabahan, kepunyaan Mark yang merupakan ketidakmungkinan dimiliki oleh Haechan.
Hingga pada satu titik, ketika waktu berlalu secepat angin yang bergerak, dan malam lebih tenang dari hari-hari sebelumnya, Haechan mendapati Mark menjambak surainya sendiri di dalam ruang tangga darurat. Kepalanya tertunduk lesu, bahunya bergetar hebat, diikuti isak tangis samar-samar terdengar kemudian. Berangsur mengeras, semakin keras, umpama sedang dihujami ribuan jarum panas bertubi-tubi tanpa jeda. Mark menangis dan meraung kesakitan. Ia telah sampai di garis batas.
“Haechan …”
Haechan berlutut tepat di samping Mark yang meracaukan namanya berulang kali. Kedua belah pipi Haechan telah basah. Ia menangis lebih kencang, menutupi derai air mata Mark dengan hujan kesedihan yang membabi buta. Semua tampak runyam. Pelukan yang Haechan beri tidak cukup mampu menghentikan kekacauan. Pun dengan seribu kecupan pada puncak kepala. Lantas Haechan dekatkan bibir pada daun telinga Mark, berbisik rendah, menyampaikan sayang yang begitu dalam.
“Aku di sini, Mark. Aku nggak kemana-mana. Aku di sini ....”
“Haechan … Haechan …”
“Iya, Sayang. Aku di sini.”
Mark telah kehilangan perisai dan ketabahannya. Ia hancur, begitu pula Haechan. Untuk pertama kali, keduanya merasakan apa yang dinamakan kehancuran. Hati remuk jadi kepingan, luluh lantak tak ternilai.
Butuh waktu yang cukup lama hingga isak tangis Mark mereda dan napas mulai berembus teratur. Kepalanya terangkat, menengadah memandang langit-langit di antara kegelapan. Kenyataan melebur satu sama lain. Menampar Mark telak di sudut terendah. Berharap hanya delusi kosong yang akan hilang digulung ombak, bukan menjadi sesuatu yang harus dihadapi dengan berlapang dada.
Beberapa bagian wajah sembab Mark disentuh Haechan melalui ibu jari yang bergerak pelan. Menelusurinya sembari merekam lamat-lamat. Manakala Haechan jatuhkan berulang kali kecupan pada kelopak juga sisa-sisa air mata di kedua belah pipi, tubuh Mark tetap bergeming, sementara celah bibir masih gumamkan nama Haechan diwarnai keputusasaan. Pekatnya arang kini memudar jadi kelabu. Hanya kehampaan yang tertinggal di sana.
Sekeras apapun batu, ia selalu punya kesempatan untuk hancur lebur berkeping-keping jika ada sesuatu yang jauh lebih kuat dan kokoh menerjangnya habis-habisan. Mark adalah batu, kerasnya lantas hancur apabila Haechan pergi.
Dan Haechan telah pergi dari jarak pandang Mark untuk selamanya.
Namun, ia juga masih di sini.
