Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-01
Words:
975
Chapters:
1/1
Kudos:
8
Hits:
177

A Day to Remember

Notes:

Merupakan bagian narasi dari socmed au on twitter (LACUNA @nyctophilehc)

Work Text:

“Tadaa!”

Mata Mark mengerjap beberapa kali, menyisir Haechan dari atas hingga bawah secara menyeluruh. Ia ingin menepuk dahinya sendiri melihat tingkah Haechan yang tidak bisa diprediksi. Kekasihnya itu muncul di ambang pintu mengenakan kostum mendaki gunung lengkap dengan tas carrier dan trekking pole yang masih mulus. Belum lagi kacamata hitam bertengger di hidungnya seolah-olah sinar matahari akan menyerangnya padahal langit hari ini kelabu dan tertutup awan.

“Astaga kamu—eh, beneran berat. Bawa apa aja ini?” Tas carrier merah itu berat sungguhan dan terlihat sangat penuh. Mark seharusnya percaya perkataan Haechan yang tidak pernah main-main.

“Apalagi kalau bukan perlengkapan naik gunung?” Haechan sedikit berdecak. Ia sudah memberikan effort terbaiknya, sementara Mark masih mengenakan pakaian tidur ternyamannya alias celana panjang dan baju putih polos yang terdapat lubang-lubang kecil di sekitar bahu. “Aku nggak berharap banyak tapi seenggaknya ganti baju yang rapi dikit lah. Mana ada orang pergi naik gunung cuma pakai oblongan tipis doang? Yang ada kena hipotermia.”

“Kan kita nggak beneran mendaki gunung?”

Vibes-nya tetap harus ada dong. Gimana sih kamu.”

Haechan mulai menyibukkan diri dengan berbagai perlengkapan yang dibawanya dan Mark tidak bisa menahan keinginan untuk memeluk lelaki itu sekarang juga. Omong-omong sudah tiga hari ia tidak bertemu Haechan karena pekerjaan yang membludak terlebih sudah memasuki akhir tahun.

Mark memberikan pelukan erat dari belakang, menyamankan wajah di ceruk leher, menghirup aroma kekasihnya dalam-dalam, kemudian berbisik pelan tepat di telinga, “kangen.”

Bukan hanya Mark yang merasakan itu, Haechan pun demikian. Surai hitam yang menggelitik lehernya diusap beberapa kali, membalas dengan memberi afeksi sederhana namun hangat di sisi lain. Cukup lama keduanya bertahan pada posisi yang sama sebelum Haechan akhirnya melepaskan diri pelan-pelan. “Mark, kamu berat,” bukan cuma perihal berat, tetapi perlakuan Mark juga tidak baik untuk kinerja jantungnya.

“Yaudah bentar, aku ganti baju dulu.” Mark berhenti dengan sedikit enggan. Ia beranjak masuk ke kamar, mengganti pakaiannya dengan celana jeans, kemeja, juga dibalut lagi oleh jaket parasut. Sudah lumayan cukup untuk mengimbangi Haechan, menurutnya.

Awal dari ide mendaki gunung ini datang beberapa bulan lalu setelah Mark melakukan pendakian bersama teman-teman lamanya. Ia tidak berekspektasi bahwa Haechan akan tertarik dan memintanya untuk mendaki gunung bersama. Lelaki itu terus membicarakannya tiada henti sampai kata iya keluar dari bibir Mark, tentu dengan rentetan syarat yang harus dipenuhi. Namun sepertinya alam dan waktu memang belum memberi restu. Musim hujan datang lebih awal juga perkiraan cuaca menyatakan bahwa akan berakhir lebih lama. Mark tidak akan memberi sedikit pun izin untuk Haechan melakukan pendakian dalam kondisi seperti ini, sekeras apa pun ia meminta, sebanyak apa pun ia merayu. Hingga tercetuslah ide cemerlang dari kepala Haechan untuk seolah-olah melakukan pendakian di dalam ruangan. Yang mana itu benar-benar terjadi hari ini.

Keluar dari kamar, Mark dikejutkan oleh tenda khusus indoor yang sudah berdiri kokoh. Sementara Haechan telah berada di dapur menyiapkan berbagai bahan makanan yang ia bawa dalam tas. Ada mie instan, telur, daging, sayuran, jamur, soft drink, susu kotak, cemilan, bahkan sekotak apel yang telah dipotong-potong.

“Di gunung nggak ada yang masak pakai kompor listrik,” ledek Mark sembari melihat-lihat menu apa yang akan Haechan sajikan.

“Kan sekarang bukan di gunung beneran,” balasnya tanpa beban, lantas dihadiahi satu jitakan ringan oleh Mark yang terlampau gemas.

Agenda ‘pura-pura mendaki gunung’ terasa kurang jika tidak ada suara-suara khas yang berasal dari serangga-serangga hutan dan rimbunan dedaunan hijau sejauh mata memandang. Alhasil Mark berinisiatif memutarkan sebuah video melalui televisi, memperlihatkan bagaimana suasana hutan sebenarnya. Sebuah kebetulan yang mendukung pula gerimis turun tepat setelah Haechan selesai menyiapkan hidangan yang terbilang mewah jika dibandingkan pada saat mendaki gunung yang sesungguhnya.

“Abis makan kita ngapain?” ujar Mark pada suapan terakhir.

“Sleep?”

“Nonton series yuk? Ada yang baru rilis di netflix.”

“Memang di gunung bisa nonton netflix?”

Mark mengusap wajahnya kasar. “Yaudah iya,” Akhirnya hanya mengalah jadi pilihan, sedangkan Haechan terkekeh melihat reaksi Mark terhadap apa yang ia katakan.

“Sebentar, kita lupain sesuatu yang penting,” Haechan menaruh mangkuk mie instan nya sedikit tergesa-gesa, kemudian mengambil kamera polaroid yang ia letakkan sebelumnya di sofa. “Dokumentasi. We should remember this day for the rest of our life.”

Satu per satu kenangan terabadikan di atas kertas putih yang permukaannya mengkilap. Pada hari ketika rintik hujan turun, aroma basah yang khas setelah menyentuh tanah, juga pepohonan menjulang tinggi yang terpampang nyata di televisi. Ketika senyum lebar menghias dua lelaki yang hanya ingin kata bahagia hadir antara keduanya. Sebuah hari untuk diingat selamanya.

“Mau disimpan di mana?” tanya Mark. Keduanya masih melihat-lihat foto yang mereka ambil. Terkadang Haechan melempar candaan saat menemukan wajah Mark yang belum siap, begitu pun sebaliknya.

“Bagi dua aja gimana?” Mark hanya mengangguk setuju, membiarkan Haechan untuk memilih foto mana saja yang akan disimpan.

“Kayaknya kita harus beli album foto. Nanti foto-foto kita disimpannya di sana.” Lagi-lagi Mark mengangguk. Itu lebih memudahkan dibanding harus berbagi disetiap ada kesempatan.

“Mark, kamu tau nggak, sekarang tuh banyak yang bikin foto dibuat jurnal cantik. Dihias-hias terus dicoret-coret gitu. Aku sering liat di instagram.”

Mark mengernyitkan dahi, bingung. “Kok foto udah bagus malah dicoret-coret?”

“Bukan coretan kayak yang ada di pikiran kamu,” Haechan mengeluarkan ponselnya, mencari-cari sebentar kemudian menunjukkannya kepada Mark. “cantik, 'kan?”

“Iya, lucu juga. Yaudah kalau kamu mau bikin jadi gitu, silakan.”

Haechan menjentikkan jari. “Itu masalahnya. Aku nggak bisa.”

“Coba dulu aja, pasti bisa.”

“Hmm,” Haechan menimang-nimang sejenak. Membuat karya seperti itu pasti membutuhkan kreatifitas dan effort yang banyak. Memikirkannya saja sudah melelahkan. “Iya nanti aku coba. Tapi sebelumnya ditaruh di album foto dulu.”

“Siap, besok habis pulang kerja aku beli.” Hujan masih betah mengguyur dan Haechan pun belum lepas dari foto-foto yang kini sedang disusun lalu ia abadikan lewat kamera ponsel. Sekelebat ide jahil terlintas di kepala Mark. Ia ambil kamera yang menganggur, kemudian mengarahkannya ke Haechan.

“Sayang,” Haechan menoleh dengan wajah kagetnya. “Smile!”

Satu momen lagi berhasil diabadikan.

“Coba liat mukaku kayak gima—MARK!”

Mark menghindar, tidak mengizinkan Haechan melihat hasil jepretannya. “Nggak boleh liat. Foto ini aku yang simpan. Titik.”