Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-03
Words:
9,999
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
39

Liku Takdir

Summary:

Ratus tahun, janji ramalan hingga keabadian yang ada, tetap tidak menjadi penyatu tentang mereka.

Notes:

ditulis untuk @suberry9699

Work Text:

Penghujung oktober lagi-lagi menyapa, menghadirkan sedikit angin yang tidak terlalu dingin tapi terus menerus menyapa kulit untuk menghadirkan sensasi sejuk tanpa jeda.

Membuat seluruh manusia yang hadir di bawah sinar matahari mau tak mau menutup tubuh mereka lebih rapat dengan bertumpuk-tumpuk pakaian tebal.

Penghujung oktober , berisi dedaunan musim gugur.

Mengotori jalanan dengan dahan-dahan yang setiap beberapa jam sekali akan dibersihkan oleh para petugas kebersihan demi tetap menjaga lingkungan kota menjadi tempat yang nyaman.

Nyaman untuk para hewan, manusia, dan mereka yang dapat berjalan namun bukan manusia.

Seperti sekarang, satu sosok pria dengan garis rahang yang membujur hampir menyentuh garis sembilan puluh derajat, lalu alis bak arsiran perwarna pekat yang berpadu padan sempurna melalui irisnya yang berwarna tembaga.

Ia duduk bak boneka yang dikemas manis di dalam mantel hangat dan lapisan hoodie untuk menghalangi angin.

Tak jarang, beberapa mata memperhatikannya dengan penasaran; bertanya-tanya apa yang pria magis ini lakukan ditengah dinginnya cuaca dan tetap bergeming seolah itu adalah suhu yang sejuk untuk menikmati hari.

Atau memang, itu bukan ‘sepertinya.’

Ia, si boneka hidup yang memiliki nama sebagai Lim Sejun memang tengah berusaha menikmati harinya.

Ia tidak berencana untuk beranjak dan terus memperhatikan daun-daun berguguran yang satu persatu menutupi permukaan tanah.

Ia sama sekali tidak terganggu oleh cuaca.

Karena sesungguhnya, makhluk penghisap darah tak akan pernah terpengaruh oleh cuaca. Apapun yang terjadi, mereka tetap si legenda berdarah dingin.

Sesungguhnya, segala pakaian hangat tersebut hanya dikenakan agar ia tetap terlihat dan berperilaku seperti manusia.

Tentu, seperti legenda pada umumnya, mereka-mereka yang dianggap anomali harus hidup tersembunyi di antara hiruk-pikuk masyarakat.

Tak peduli jika Sejun akan menjelaskan hingga menangis darah bahwa ia dan keluarganya tidak mengkonsumsi darah manusia, tetap saja.

Bagi para manusia, vampir tetaplah vampir; sang monster yang sejak awal peradaban manusia harus dimusnahkan.

Mereka tidak lebih dari sekedar predator ganas.

Maka, setelah eksistensi vampir selalu ada sejak turun temurun, mereka memilih ‘menghilang,’ membaur dengan para manusia dan tetap terlihat normal demi dapat hidup tenang.

Walau jelas, dengan berkah fisik yang paripurna, sering kali mereka tetap menjadi daya tarik sejati untuk menarik perhatian manusia.

Yang sejujurnya hanyalah bagian dari keunggulan mereka sebagai spesies. Sama seperti cheetah yang memiliki kecepatan, buaya yang memiliki rahang yang kuat, vampir hadir dengan rupa yang menawan.

Harusnya menjadikan mereka sebuah spesies unggul karena menyandang predator, menjadikannya masuk akal bahwa mereka adalah yang terkuat, adikuasa dan tak terkalahkan.

Atau, itu semua sekedar harusnya.

Karena nyatanya, vampir Lim tersebut tidak merasa demikian.

Jauh di dalam diri, sejujurnya ada sedikit lapuk yang berusaha ditutupi.

Ia hanya berusaha tidak memperlihatkannya.

Tentang bagaimana jalinan hancur itu sejujurnya masih tersimpan di dalam. Sebuah beban yang telah disimpan selama ratusan tahun, juga pertanyaan-pertanyaan akan kelanjutan kisah hidup yang masih menjadi pertanyaan.

Tujuh ratus lima puluh tahun ia berjalan di muka bumi, Sejun masih menyimpan pertanyaan.

Mengapa harus dirinya?

Vampir Lim tersebut menghela nafas—walau sejujurnya ia tidak perlu bernafas. Kepalanya menunduk tak lagi ingin memandang manusia yang berlalu lalang.

Untuk akhirnya kembali merenung, memikirkan kira-kira apa jawaban semesta untuk tetap meminta Sejun terlahir sebagaimana kini dirinya.

Si pemikul ramalan.

Sejun lantas lagi-lagi mendongak. Namun, kali ini untuk menatap pada hamparan awan yang menaungi.

Kenapa? Sejun berkata di dalam hati. Kenapa harus aku?

Tetapi seperti yang bisa diduga, langit tidak memberikan jawaban apa-apa.

Kenapa? Suara hati pria itu disuarakan seperti teriakan lirih, kenapa harus aku menjadi si ramalan? Ia masih bermonolog, kenapa aku yang harus menjadi pahlawan dan menerima takdir?

 

Hatinya yang tidak dalam keadaan kokoh kembali angkat suara, kenapa bahkan harus aku? yang harus membuat seorang gadis jatuh cinta hanya karena ia adalah jawaban dari ramalan?

Kenapa harus aku? Yang akhirnya jatuh cinta secara murni, namun dunia tidak sebaik itu.

Sejun lantas meremas dadanya sendiri. Berusaha mengusir sakit yang terasa sedikit menyiksa dan akhirnya membuka bibir ranumnya untuk merapal kata tanpa suara.

“Kenapa kau tidak membuat aku lahir menjadi manusia biasa saja?” ia kembali melanjutkan, “aku juga ingin hidup normal seperti manusia.”

Sebuah kata yang tak berhenti dipertanyakan selama ratusan tahun. Menyimpan segala memori sakit di sana, termasuk tentang kelebihan sebagai makhluk penghisap darah, bahwa ia memiliki ingatan yang baik.

Termasuk tentang bagaimana dirinya terlahir ke dunia ini.

Sebagai seorang anomali; tidak akan tersembuhkan tanpa sebuah gigitan balik dari si gadis pembawa takdir.

 

.

.

.

 

Semenanjung Korea, 1272.

Api perapian tampak menari semu, membuat bayang-bayang bergerak tanpa aturan untuk menghiasi dinding. Tak peduli bahwa api telah membesar hingga seharusnya ruangan menjadi hangat, suasana rumah dengan pilar-pilar kayu itu tetap terasa dingin.

Benar-benar dingin hingga menusuk tulang.

Rasanya, tubuh-tubuh manusia normal mungkin akan terasa sakit, tertusuk jarum-jarum suhu yang terasa mencekik. Jelas, tidak akan ada manusia yang seharusnya dapat bertahan dalam suhu se-dingin ini.

Seharusnya, para manusia harusnya keluar dari sini.

Benar, itu adalah seharusnya.

Karena sesungguhnya mereka masih ada di sini; mereka yang bukan manusia.

Suasana sedang tidak terkontrol. Seluruh wajah menunjukkan ekspresi cemas, memandang pada satu sosok wanita dengan pakaian tradisional yang berwarna abu-abu sedang tersengal-sengal. Dahi wanita itu dialiri oleh bulir-bulir keringat yang tidak berhenti untuk turun.

Sedangkan seorang wanita berumur lainnya tak berhenti untuk mengusapnya sembari membisikkan kata-kata penenang. Melihat pemandangan itu, si pria satu-satunya yang ada di sana hanya bisa mengerutkan dahi.

Garis rahangnya yang mengintip atas bantuan sinar perapian tampak tercetak tegang.

Suasana benar-benar tegang.

“Ibu, ini benar-benar sakit.” keluhnya tak lagi sanggup menangis. Nafas wanita itu terasa mencapai ujung puncaknya.

Mendengar hal tersebut, sang pria yang sejak tadi memang telah memasang wajah panik itu mendekat. Lututnya bersimpuh di atas lantai dan tangannya yang menggenggam erat jemari sang wanita.

Tatapannya terlihat sedih namun teduh. Ia mengusap pelan pada puncak kepala sang wanita yang selama beberapa ratus tahun terakhir telah bersamanya.

“Sayangku.” ucap pria itu berbisik lirih, sebelum kilat legam matanya berbalik memandang sang wanita yang tampak lebih tua.

Waktu terus berjalan, masih menemani pada sepasang makhluk abadi tersebut untuk kian cemas bersamaan dengan sang wanita tua.

“Sebentar lagi bulan purnama akan tiba,” Sang wanita tua menjelaskan. “Bayi ini juga terlihat telah ingin keluar.”

Lantas, mereka berdua menatap pada satu penyebab segala ini terjadi. Kilat-kilat mata tersebut menjelaskan betapa genting situasi saat ini.

“Kamu pasti kuat,” bisiknya lagi pada sang wanita yang telah kehilangan darah pada seluruh bibirnya, ia merasa tidak sanggup lagi.

“Sakit, Bu.”

Ibunya kembali menguatkan, “kau akan membawa makhluk spesial ke dunia ini. Kau pasti kuat, Sanghee.” genggaman tangan kedua wanita itu semakin erat.

Selanjutnya, ia memandang pada sang pria untuk memberikan anggukan kecil. “Kita harus melakukannya sekarang, Kwangsun.”

Sempat terdapat keraguan kecil dari mata pria itu. Sebelum akhirnya ia memandang lagi pada Sanghee; sang istri tercinta. “Baik, Ibu.”

Akhirnya, pria itu bangkit, melepaskan sebentar genggaman tangan mereka untuk melangkahkan kaki berbalut kaos kaki pada lantai kayu yang dingin untuk menuju jendela.

“Telah tiba waktunya.”

Tangan Kwangsun terulur untuk membuka tirai yang menutup.

Lantas begitu saja membuat cahaya bulan purnama menembus jendela kayu, tidak peduli lagi pada udara salju yang begitu dingin, mereka semua hanya peduli pada Sanghee.

Juga, pada sosok mungil dalam perut Sanghee.

Sosok bayi mungil yang akan hadir ke tengah-tengah mereka. Hadir dalam pelukan yang sebelumnya sempat ditentang oleh mereka sendiri.

Sang wanita tua dan Kwangsun mengangguk.

“Mari bawa bayi vampir ini untuk menghirup udara.” ucap Sang Ibu dengan yakin, “lalu membebaskan malapetaka pada keluarga kita.”

 

.

.

.

 

Tujuh ratus lima puluh tahun telah berlalu sejak lahirnya si bayi vampir pembawa ramalan. Lantas menumbuhkan dirinya dengan nama Lim Sejun sesuai pemberian kedua orang tuanya.

Vampir penghisap darah yang seharusnya menjaga eksistensi mengenai keabadian tanpa berkembang biak. Mereka-mereka seharusnya menjadi monster kuno yang tak bisa memiliki anak karena seluruh organ yang telah membeku karena gigitan berisi sihir.

Tetapi, seperti biasa, semesta yang bisu memiliki jalan tersendiri untuk membuat setiap makhluk bertanya.

Termasuk tentang bayi vampir yang terlahir, harus menyelesaikan tanggung jawab begitu saja untuk sekedar menjadi manusia.

Sejun menutup matanya berusaha menenangkan pikir melalui gemerisik gesekan daun yang terdengar begitu tajam di telinganya.

Lalu, mau tidak mau kenangan kala pertama kali ia mendengar ramalan itu kembali berputar.

 

.

.

.

 

Semenanjung Korea, 1272.

Malam purnama telah dilalui, dan Sanghee malam ini benar-benar hebat.

Walau jelas malam penuh jeritan itu sama sekali tidak mudah. Tidak peduli bahwa telah dibantu oleh sinar bulan sebagai kekuatan magis dan darah rusa yang seharusnya sangat baik untuk menambah stamina, wanita vampir itu tetap merasakan kelelahan yang luar biasa setelah persalinannya.

Tubuhnya benar-benar keletihan; sesuatu yang tidak seharusnya dirasakan oleh vampir manapun. Namun berhubung kehamilannya sendiri juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh sejarah makhluk abadi ini, maka Kwangsun meminta istrinya untuk tertidur.

Sanghee berhak mendapatkannya. Tubuhnya jelas letih telah membawa makhluk menakjubkan yang tengah berada di pangkuannya ini dengan penuh rasa sakit.

Ia tidak ingin mengganggu istrinya, walau jelas mengetahui bahwa rumah kayu yang tersembunyi di dalam hutan ini tidak akan membantu banyak jika saja bayinya menangis, namun setidaknya ia tidak akan merepotkan istrinya.

Ia akan mengurusnya sendiri, dengan bantuan ibunya tentu saja.

Ibunya yang saat ini tengah memasang senyum penuh haru untuk menyentuh permukaan kulit sang bayi yang menggeliat dibalik selimut.

“Dia memiliki matamu, Kwangsun.” komentar sang ibu saat sang bayi membuka mata. “Dan bibir Sanghee. Dia sempurna sekali.”

Mendengar hal itu, Kwangsun yang telah hidup selama ratusan tahun mengangguk. Jemarinya terulur untuk menyentuh telapak tangan bayinya dengan lembut.

Menikmati bagaimana setelah hidup panjangnya ini, ia mendapatkan karunia berkedok kutukan yang begitu indah.

Menjadi vampir berarti merelakan hidupmu sebagai manusia yang dapat membangun keluarga. Organ-organ tubuhnya jelas telah mati, ia seharusnya mustahil untuk bisa bereproduksi.

Tetapi sekali lagi; keajaiban telah terjadi pada keluarga vampir kecil ini.

Bayinya lahir, walau membawa kutukan.

“Akan kau beri nama siapa?” tanya Ibunya.

Kwangsun butuh beberapa detik untuk berpikir, menyusun ingatannya pada masa ia masih menjadi manusia, dan mengingat bahwa ada satu nama yang telah ia rencanakan untuk diberikan jika memiliki putra  saat berandai-andai bersama istrinya pada awal hubungan mereka .

“Sejun.” bibir pria itu mengucapkan nama dengan penuh senyuman. “Lim Sejun. Putraku.”

Mendengar hal tersebut, sang Ibu mengangguk. Tak memperdulikan fakta bahwa mereka bukan keluarga dengan garis darah, ia tetap merasakan kebahagiaan tak terkira melihat hadirnya makhluk kecil itu diantara mereka.

“Selamat datang di dunia ini, Lim Sejun.” ucap sang Ibu penuh makna, “kau memang hadir karena ramalan atas jawaban doa keluarga. Tetapi ketahuilah, bahwa …. kehadiranmu adalah segalanya.”

Sang Ibu memandang pada putranya, “nenek dan ayahmu ini begitu bahagia melihat kau di sini.”

“Bahu mu akan sekuat baja,” ia lantas merapalkan ramalan yang telah bersemayam lama di otaknya.

Karena ia adalah hasil dari kebaikan ramalan. Maka temui cinta sejati; kau akan menjadi fana, namun penuh dengan cinta yang mendamaikan dan membawa selamat untuk kami semua.”

Maka, bayi Lim tersebut menangis untuk pertama kalinya.

 

.

.

.

 

Mata Pria Lim tersebut kembali memandang jalanan yang saat ini dipenuhi oleh berpasang muda-mudi yang saling menggenggam tangan berbagi kasih.

Ia dalam diam memperhatikan tawa setiap mereka yang lewat, mendengarkan bagaimana ekspresi bahagia itu akhirnya juga menyayat hatinya secara langsung.

Sekali lagi menimbulkan tanya yang tak akan terjawab; mengapa mereka yang berumur pendek bisa mendapatkan kebahagiaan, sedangkan kami yang abadi harus menanggung banyak sakit?

Sejun kembali mendongak, seharusnya merasa terganggu dengan kini matahari yang mulai sedikit terik.

Untuk akhirnya mengucapkan secara lebih jelas.

“Aku juga ingin menjadi manusia,” ia menjeda sebentar, “dan merasakan cinta dengan normal.”

Sungguh, ia adalah si vampir paling menyedihkan.

“Aku mencintai seorang gadis.”

Han Chaewon, aku mencintai Han Chaewon.

Kini, bayangan gadis itu tercetak jelas di dalam kepalanya. Mengukir siluet manis dari sebuah tawa dan perangai periang yang tidak pernah luntur, selalu tampil manis dengan paduan rambutnya yang tak terlalu panjang.

Chaewon, gadis yang ramalan itu bawakan untuknya memang sepenuhnya perwujudan gadis paling manis.

Jantungnya yang seharusnya tidak pernah berdetak sekalipun terasa begitu hidup hanya sekedar memikirkannya, seolah membuatnya tak lagi tertarik dengan keabadian karena sesungguhnya pusat kehidupannya sedang ada di sana.

Hidupnya ada di tangan si gadis manis.

Walau lagi-lagi ia harus menertawakan dunia, karena pertemuan mereka yang katanya telah direncanakan semesta sejak jauh-jauh hari, berupa pertemuan konyol yang tidak akan Sejun pernah lupakan.

Apalagi di bawah naungan pohon itu.

Pohon yang sama dengan tempatnya bersembunyi dua tahun yang lalu, demi mencuri-curi lihat sosok ‘takdirnya’ yang tengah didekati Subin demi menjadi jembatan untuk mereka berdua sesuai perintah ibunya yang telah mendapat penglihatan masa depan.

Sungguh, Sejun tidak akan pernah lupa tentang bagaimana jantungnya berdetak gila pada hari itu.

 

.

.

.

 

Seoul, dua tahun yang lalu.

Jika dituang ke dalam cerita fiksi seperti buku atau pun film, mungkin harga diri Sejun bisa jatuh ke dalam jurang yang paling dasar saat ini juga.

Demi sang pemilik semesta—Oh, sial! Kakinya kembali terpeleset di atas dahan lemah ini.

Sejun benar-benar kehilangan martabatnya sebagai makhluk kuno penuh legenda dengan tajuk misterius tersebut. Selama ini kaum mereka dikenal sebagai monster bangsawan yang elegan, namun untuk hari ini … Sejun akan meninggalkan seluruh dongeng tak berdasar itu karena rasa penasarannya.

Benar, ia tentu tidak bisa membendung rasa penasaran yang telah membendung dirinya selama ratusan tahun ia berstatus sebagai vampir pemecah kutukan.

Setelah tahun-tahun panjang dilalui, akhirnya, jawaban itu ada di sini.

Sejun mencuri dengar dari pembicaraan Ibu dan Subin. Bahwa, si gadis ramalan itu sudah di sini.

Di dalam jangkauan mereka, benar-benar dekat dan sudah waktunya Subin menjalankan tugasnya sebagai jembatan hubungan mereka berdua.

Maka, atas dasar informasi hasil mencuri itu ia ada di sini.

Di atas pohon, mencoba berkamuflase seperti tupai dan melupakan tubuhnya yang hampir setinggi dua meter tersebut.

Bersusah payah Sejun mencari titik seimbang, tak menyerah menemukan posisi paling nyaman sembari mata terus mengawasi pada sekeliling taman kota.

Netra berwarna tembaga itu menjelajah pada seisi taman, berusaha menemukan sosok Subin yang seharusnya lima menit lagi datang sesuai penglihatan ibunya.

Harusnya, anak itu datang—Oh, tunggu. Ketemu.

Itu Subin; dengan seorang wanita di sebelahnya.

Untuk beberapa saat, Sejun termenung. Ia tidak peduli dengan keberadaan adiknya yang menyadari ia ada di sana, bahkan tidak pula pada sebuah kartu tanda pengenal yang Subin kenakan sama seperti gadis itu tanda ia telah berhasil masuk ke kantornya.

Tidak, tidak.

Sesungguhnya Sejun tidak lagi peduli pada apapun—bahkan pada harga dirinya—karena saat ini ia merasakan sesuatu pada debaran jantungnya.

Benar, debaran pada jantungnya yang telah lama mati.

 

.

.

.

 

Dua tahun telah berlalu, sampai sekarang Sejun juga tidak mengerti harus mengucap syukur karena memiliki Ibu dengan kemampuan melihat masa depan dan adik dengan kemampuan membaca pikiran sehingga memudahkan ia untuk mendekati Chaewon.

Atau justru menyesalinya.

Pria itu lagi-lagi menghela nafasnya dalam. Tangannya yang saling bertaut hanya diam memperhatikan manusia berlalu-lalang. Masih bersikap acuh atas atensi-atensi tertarik yang saat ini diberikan padanya.

Ia hanya tertarik untuk masih merenungi segala hal di dalam hidupnya.

Terlebih tentang kemampuan keluarganya yang tampak seperti sengaja dipasangkan oleh semesta untuk membuat jalannya lebih mudah mendekati si gadis hasil ramalan.

Ibunya dengan bakat tersebut dengan bersemangat berujar pada keluarga, bahwa ia baru saja melihat bahwa gadis ramalan itu ada di sini, di dekat mereka dan meminta Lim Subin—adiknya yang telah berumur enam ratus tahun—untuk menjadi jembatan diantara Sejun dan Chaewon.

Maka, benar seperti yang ibunya minta …. Subin benar-benar mendekati Chaewon.

Lagi-lagi, Sejun juga tidak akan melupakan tentang malam setelah penglihatannya di atas pohon tersebut.

Tentang bagaimana semua jadi terasa masuk akal sekarang.

 

.

.

.

 

Seoul, dua tahun yang lalu.

Iris matanya yang kali ini sewarna gunungan tembaga tersebut terlihat mencolok akibat pantulan lampu-lampu gedung yang menghiasi pandangan. Menjadi latar begitu indah untuk sekedar menenangkan pikir, juga memahami bahwa kota ini tidak akan pernah berhenti berkembang.

Seoul, sejak beberapa ratus tahun terakhir selalu menjadi yang paling menakjubkan. Melakukan perkembangan bagai berlari, dari berupa lahan kosong yang diisi oleh pemukiman rumah kayu kecil, terlibat konflik duniawi hingga akhirnya menjadi pusat peradaban dunia yang tidak memiliki jam tidur.

Lim Sejun menghela nafasnya kembali. Tangannya ia letakkan di dalam saku. Lalu, tanpa diundang, langkah kaki terdengar dari arah belakang.

Itu sudah pasti adiknya, Lim Subin.

“Aku tidak paham kenapa kau selalu tampak sangat melankolis seperti tokoh utama dalam film yang sedang patah hati.”

Benar, si vampir pembaca pikiran itu memang selalu menyebalkan seperti sekarang.

“Berhenti membaca pikiranku, Lim Subin.” Sejun masih setia memandangi kota tanpa ada rasa ingin memandangi sosok termuda di keluarganya tersebut.

Ia hanya membiarkan sosok vampir itu berdiri di sampingnya untuk selanjutnya terkekeh penuh ejekan.

“Aku bosan melihatmu selalu tampak sedih seperti itu.” komentarnya masih dengan nada mengejek, “apa kau lapar?”

Untuk yang satu itu, Sejun menoleh dan mengangguk tak ingin kehilangan kesempatan—karena cukup sulit mencari makanan di kota padat manusia seperti ini.

Lalu, Subin melemparkan sesuatu pada sang kakak.

Yang segera dengan indera dan ketangkasan ala predator menjadi sesuatu yang mudah untuk ia tangkap.

Sejun mengembangkan senyum. Itu kantong darah; darah rusa betina, favoritnya.

Seoul adalah kota besar, hampir setiap inci kota akan selalu terdapat manusia dan kamera. Sehingga, berburu adalah sedikit kemustahilan di sini.

Maka, yang bisa dua bersaudara ini andalkan hanya seorang pemburu yang menjadi kerabat keluarga. Kerap mengirimkan mereka berkantung-kantung darah rusa dan sanggup menjaga kerahasiaan identitas.

Tak butuh waktu lama untuk taring putra pertama keluarga Lim itu menyobek wadah tersebut. Membuatnya dapat mencium aroma semerbak penuh nikmat sebelum meneguknya seperti sekotak susu.

Benar-benar nikmat dunia.

Sedangkan Subin kini mengeluarkan miliknya sendiri yang sejak awal telah ada di kantong celananya. Lalu melakukan hal serupa seperti sang kakak dan berakhir meneguk dalam pemandangan pada kota yang tampak sibuk.

Rambut mereka sama-sama tersibak oleh angin. Lama mereka terdiam, sebelum akhirnya Sejun menoleh, memandang penasaran pada sang adik yang jelas begitu tampan, dan melanjutkan pengamatan pada Subin yang mengenakan kasual kemeja hitam kasual beserta ID card kantornya dan celana kain yang tampak formal.

Pasti, anak ini datang dari kantornya ke sini.

“Apa kau tadi melompati gedung-gedung untuk sampai ke sini?” tatap Sejun penuh selidik.

Sedangkan yang tertuduh hampir tersedak makan malamnya sendiri. “Aku tidak bodoh seperti dirimu.” protes Subin tidak terima, “apa hidup selama ratusan tahun membuatmu lupa bahwa ada teknologi yang bernama bis? Taksi? Kereta bawah tanah? Bahkan motor yang sudah aku beli sejak sepuluh tahun yang lalu?”

Oh, benar juga. Subin memang punya motor.

“Aku sekedar bertanya.” jawab Sejun sembari menaikkan bahu. “Siapa tahu saja kau juga ingin mencari sensasi seperti aku yang sengaja lompat dari lantai tujuh.”

Sejun sengaja menghadirkan nada jenaka di sana. Mengingat kembali kenangan dua tahun yang lalu dimana ia telah terlalu bosan, sehingga datang ide entah darimana untuk mencoba kembali olahraga yang selalu ia lakukan di abad 18.

Melompat dari tempat setinggi mungkin, hingga lupa bahwa Seoul adalah kota yang selalu dipenuhi oleh manusia. Sehingga saat Sejun mendarat dengan selamat di sana …. semua mata memandang dengan terkejut.

Saat itu, beruntung Subin—sang adik—sedang bekerja sebagai salah satu ketua tim di kantor redaksi berita dapat membereskan semuanya.

Sejun akui, dirinya memang ceroboh. Entah apa jadinya ia jika tanpa adiknya yang cerdas dan memang jalan keluar dari segalanya tersebut.

Subin, walau umur mereka terpaut cukup jauh, namun selama enam ratus tahun vampir pembaca pikiran itu hidup, mereka mampu menghadirkan ikatan ala saudara yang tidak dapat diputuskan. Walaupun, mereka terhubung karena Ayah Lim yang sengaja membawa Subin sebagai anggota keluarga setelah ia menggigitnya sendiri.

Adiknya ini telah membantu banyak aspek kehidupannya. Termasuk, tentang menjembatani Chaewon si gadis ramalan untuk bisa dekat dengannya; seperti tadi siang.

“Aku sudah melihat gadis itu.” ujar Sejun tanpa diminta, begitu saja menjelaskan mengenai sudut pandangnya atas kejadian siang tadi dengan membahas satu subjek manusia yang hingga saat ini tampak enggan pergi dari kepalanya.

“Namanya Han Chaewon.” Subin menimpali. “Dia akan bekerja di divisi yang sama dengan tempatku bekerja.” Bungsu keluarga Lim tersebut mengacungkan ID card yang ia kenakan.

“Cantik.”

Untuk kata tersebut, begitu saja diucapkan oleh Sejun. Sehingga suaranya membaur dengan angin malam dan membuat Subin mengukir sedikit tawa dan mengangguk.

Sosok itu butuh beberapa menit mengamati ekspresi sang kakak, memperhatikan bagaimana ekspresi senyum itu tampak masuk akal dan ia mulai berbicara kembali.

“Tampaknya, ramalan itu benar adanya, ya?”

Sejun menunggu sang adik untuk melanjutkan kalimatnya.

“Kau memang telah jatuh cinta sejak pertemuan pertama.”

Sulung keluarga Lim tersebut menaikkan alisnya tampak tak paham.

“Kau, Bodoh. Aku bisa mendengar dengan jelas bagaimana berisiknya debaran jantungmu dan pikiranmu itu saat kau mengintip kami di atas pohon siang tadi.” Subin terdengar puas, “Lalu sekarang, aku bisa dengan lantang mendengar bagaimana bunga-bunga kasmaran itu menghiasi kepalamu.”

Mendengar hal tersebut, Sejun memegangi dadanya sendiri.

“Iya, kau memang telah jatuh cinta dengan Chaewon sejak awal, Kak.” Subin kembali menjelaskan, “walau aku tidak bisa membaca pikiran gadis itu, tetapi semua menjadi tetap lebih mudah karena kau telah jatuh terlebih dahulu. Sehingga membuat dirinya mau menggigit balik luka di punggungmu sesuai ramalan tidak akan menjadi hal sulit.”

“Aku akan terus membantumu, Lim Sejun.”

 

.

.

.

 

Angin kembali berhembus kencang. Sekali lagi membuat para pejalan kaki serentak mengeluh akan udara semakin dingin dan Sejun tetap bergeming.

Bibirnya terkatup rapat, da alisnya berkerut seolah berusaha menyingkirkan sedikit sinar matahari yang mengganggu walau nyatanya ia hanya sedang terfokus pada beban pikiran.

Sejun saat ini tengah duduk di sebuah taman kota, memilih bangku yang sedikit tak terawat namun ia sama sekali tidak peduli.

Ia hanya butuh ruang untuk sekedar menjernihkan pikiran.

Atau mungkin, juga sekedar memberikan renungan kecil pada sosok Han Chaewon manis yang kala itu, pertama kali menjabat tangannya lembut.

Mengawali kisah mereka melalui senyum manis yang tak pernah berubah, memperkenalkan diri melalui bunga-bunga fatamorgana yang seolah keluar dari dalam tubuhnya.

Han Chaewon-nya yang manis.

 

.

.

.

 

Seoul, dua tahun yang lalu.

Sejujurnya, ada satu hal yang Sejun tak terlalu sukai tentang menjadi manusia.

Bekerja.

Ia benci bekerja. Jika saja tidak ada tanggung jawab untuk terlihat ‘normal’ rasanya ia enggan sekali bersusah payah memaksakan diri pada sebuah jam terikat.

Toh, ia sudah punya banyak uang; tidak pernah ada ceritanya vampir itu miskin.

Namun, tanggung jawab menjadi normal tetap ada. Maka, mau tidak mau disinilah ia.

Melangkahkan kaki memasuki bangunan yang tak terlalu besar. Memiliki eksterior sebagian besar dengan dinding kaca dan dinding berwarna silver mengkilap. Untuk berganti bersamaan dengan bangunan dua lantai yang tak terlalu luas namun cukup untuk menampung sekitar seratus orang secara bersamaan.

Sejun menoleh pada jam tangannya—pukul sembilan pagi.

Masih ada sisa tujuh jam sebelum ia bisa menghabiskan hari dengan bebas. Yang artinya hari masih panjang, masih ada sederetan pekerjaan yang dilakukan.

Menata set foto, menyesuaikan lensa, mencari titik fokus, mengarahkan gaya, berinteraksi dengan banyak orang, meninjau ulang hasil potret, mengedit dan menunggu persetujuan atasan untuk hasil final.

Harinya masih panjang, dan terdengar melelahkan.

Maka, Sejun tidak lagi memiliki semangat tersisa untuk menjalani hari dengan penuh senyum. Wajahnya yang pernah dibilang ‘lebih baik menjadi model daripada menjadi fotografer’ tersebut tertekuk lesu.

Menyentuh tombol lift dengan helaan nafas panjang, sebelum sebuah tangan lain menginterupsinya.

Manusia, jelas itu manusia. Aromanya harum sekali.

Sejun lantas menoleh. Ingin mengetahui siapa yang baru saja meyela tangannya untuk menyentuh tombol lift.

Untuk kemudian terkesiap penuh rasa terkejut.

Itu Han Chaewon.

“Hai,” gadis itu memberikan sapaan ramah. “Aku Chaewon.”

Ia tampil manis dengan setelan formal pekerja. Sekedar blouse hitam sederhana yang dipadukan dengan dalaman kemeja putih, berdiri memegang gelas kopi dan rambutnya yang tak terlalu panjang tergerai begitu saja.

Demi sang pemilik semesta, gadis ini sejujurnya tidak perlu mengenalkan diri karena ia bahkan telah hafal mati seluk beluknya. Namun Sejun sadar.

Ini pertama kalinya mereka berinteraksi.

“Kau pasti Lim Sejun?” gadis itu menyodorkan tangannya. “Aku sudah tahu tentangmu dari Lim Subin, adikmu.”

Oh, apa ini?

Sejun tidak kunjung menerima jabat tangan tersebut, dirinya masih begitu terkejut. “Chaewon?” ia memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah demi memastikan bahwa dirinya bukan sekedar ilusi. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Ucapnya seolah-olah telah lama saling mengenal—atau memang sudah lama mengenal.

Tetapi, Chaewon sama sekali tak merasa hal itu aneh. Ia masih dengan senyumnya dan berbicara, “aku saat ini akan menjadi perwakilan tim untuk bekerja di sini. Tempatmu bekerja sama dengan kantorku.”

Tunggu. Sepertinya Sejun salah dengar.

“Benar, setelah ini segala hasil fotomu harus melalui aku sebelum di bawa ke tim kreatif. Jadi, semoga kita bisa berteman, Sejun.”

Lalu, tanpa aba-aba sedikitpun, Chaewon begitu saja meraih tangan Sejun untuk menjabatkan tangannya sendiri.

Sama sekali tanpa permisi menyentuh, karena ia tak menyadari bahwa sang pria Lim semakin terpaku.

Merasakan sensasi aneh, sengatan penuh listrik dari sentuhan mereka yang begitu saja memasuki seluruh tubuhnya.

Dan Sejun berani bersumpah ….

Sentuhan itu begitu menyenangkan.

 

.

.

.

 

 

Vampir Lim tersebut tersenyum, tak ingin menahan gerak bibirnya sendiri kala bayangan penuh rasa gembira itu menyambangi kepalanya yang tengah dirundung banyak pikiran.

Ia memang makhluk kuno, berjalan di atas bumi ini selama lebih dari lima ratus tahun, tetapi Sejun bahkan berani bersumpah …. tak pernah dirinya merasa sehidup itu.

Seolah seperti oksigen yang manusia butuhkan, Sejun juga membutuhkan Han Chaewon.

Tak perlu sesuatu yang terlalu intim seperti mengobrol, sekedar memperhatikan gerak-geriknya dari sudut ruangan saja telah memberikan ia begitu banyak energi.

Sekedar diam, bersandar pada dinding sembari matanya yang tak ingin melepas pandangan akan bagaimana Chaewon yang gemar sekali mengibaskan rambutnya, atau kebiasaan kecil Chaewon yang tanpa sadar mengusap ujung hidungnya.

Oh, benar. Sejun juga hafal dengan benar bahwa gadis itu sering kali meletakkan barangnya begitu saja. Sedikit ceroboh, sama seperti dirinya.

Bahkan saat itu Subin juga turut menggelengkan kepala memperhatikan tingkah laku Chaewon, lalu bungsu keluarga Lim tersebut berkomentar, tidak heran mengapa kalian memang dipasangkan oleh ramalan.

Jodoh, katanya itu jodoh.

Maka, akhirnya makhluk itu paham mengapa para manusia memang selalu ambisius saat mengejar cinta.

Semua itu masuk akal; karena ganjaran bahagia yang didapat memang bertubi-tubi. Entah walau itu hanya hal sederhana, Sejun paham bagaimana takaran bahagia itu rasanya bisa meledak melewati kepalanya.

Cinta memang hebat.

.

.

.

 

Seoul, satu tahun yang lalu.

Lim Sejun adalah vampir. Kodratnya, ia hanya tertarik dengan darah, sedikit kekuasaan mungkin, atau setidaknya sebagai makhluk penyendiri, seharusnya Sejun tidak menyukai keramaian.

Mungkin, itu adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh kaumnya.

Namun, berhubung Sejun sendiri adalah ‘bayi yang tidak sewajarnya lahir’ hal itu menjadi sesuatu yang menjelaskan akan bagaimana Sejun bisa mendadak berubah menyukai keramaian saat ini.

Dengan berbekal sebuah kamera analog yang dikalungkan di lehernya, ia berjalan menyusuri trotoar yang ramai. Dipenuhi beribu-ribu manusia untuk memadati Itaewon yang selalu penuh saat akhir pekan.

Kerumunan manusia, berisi ribuan liter darah.

Tetapi hal itu sama sekali tidak menarik untuk Lim Sejun.

Ia tidak peduli bahwa kini mangsa berlalu lalang dengan aroma yang harum. Ia hanya peduli pada sebuah langkah kaki dari wanita yang tadi telah melambai padanya.

Tentu, itu Han Chaewon.

Mereka telah membuat janji kemarin sebelum pulang bekerja. Tentang Chaewon yang berkata ia bosan di apartemen saat akhir pekan, dan Sejun dengan sejuta bunga di hatinya begitu saja menawarkan bagaimana jika mereka menghabiskan malam di Itaewon.

Tidak melakukan hal spesial seperti masuk ke pub, hanya sekedar berjalan-jalan.

Tentu, tanpa pikir panjang Chaewon mengiyakan.

Maka, disinilah mereka berada. Di depan sebuah restoran ayam dan bir, mereka bertemu dengan tawa yang sama-sama mengukir di bibir dan antusias dari Sejun yang segera memberi tahu ide bahwa ia baru saja melihat tteokbokki enak di dekat sana.

“Kau yakin itu terlihat enak?” tanggap Chaewon antusias.

Sejun mengangguk, masih memegang kamera di dadanya. “Sepertinya iya. Mau mencobanya?”

Gadis itu menyahut semangat, “tentu. Ayo!”

Lantas, mereka berdua akhirnya berjalan bersama menembus manusia yang berlalu lalang. Hal itu menjadi hal yang tak terlalu sulit untuk Sejun mengingat ia memiliki tinggi yang semampai.

Namun jelas menjadi masalah untuk Chaewon yang tak terlalu tinggi hingga ia beberapa kali hampir terjepit diantara manusia-manusia yang tidak mau mengalah.

Chaewon masih tidak menyerah. Perangainya yang penuh dengan ‘sinar matahari’ tersebut masih mengukir senyum, berusaha menyamai langkah lebar Sejun dan menyusulnya.

Segala usaha kecil itu tentu tidak luput dari perhatian Sejun yang diam-diam memperhatikan.

Kakinya memang benar melangkah di antara kerumunan, namun kepalanya berulang kali menoleh ke belakang untuk mendapati bagaimana puncak kepala Chaewon masih tetap berusaha bertahan dalam desak-desakan.

Jujur, ia terlihat menggemaskan.

Maka, Sejun tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengambil satu potret. Masih tertawa penuh bahagia karena memang Chaewon terlihat begitu mungil.

Hingga akhirnya, segala rasa penuh cinta itu digantikan oleh iba. Gadis Han tersebut benar-benar kesulitan.

“Chaewon.” Panggil Sejun sedikit keras.

Gadis itu lantas menoleh. Mendongak dengan kerjapan matanya yang lucu sebelum akhirnya balas tersenyum dengan apa yang Sejun lakukan.

Pria Lim itu mengulurkan tangan.

Bermaksud agar mereka bertautan jemari agar tidak terpisah dan memudahkan Chaewon melangkah di belakang Sejun. Walau sejujurnya jauh di dalam diri vampir itu, ia juga ingin merasakan lagi elektrik penuh afeksi.

Ia suka sensasi itu saat kulit mereka bersentuhan. Seolah sengaja menyetrum sekujur tubuhnya agar hidup. Lalu merasakan permukaan halus dari tangan Chaewon yang seperti mengusap selembar sutra.

“Kerumunan ini memang menyusahkan.” ucapnya masih berdesakan, “tetapi, itu. Tenda makanannya telah terlihat.”

Mendengar tujuan mereka telah di depan mata, Chaewon tampak jauh lebih bersemangat. Ia bahkan berjinjit saat akhirnya para manusia tersebut terasa lebih jarang.

Lalu bola matanya yang berwarna coklat gelap tersebut berbinar penuh semangat saat Sejun dan dirinya telah berdiri tepat di bawah tenda kios.

Gadis itu memandangi hamparan makanan yang ada dan segera mengambil piring kertas guna meminta seporsi kue beras pedas pada sang penjual.

Seperti biasa, memang menggemaskan.

“Aku suka sekali tteokbokki.” Komentar gadis itu saat akhirnya ia melahap satu. Gadis itu mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang begitu kentara.

“Besok aku akan mengajak Subin juga ke sini.”

Chaewon mengunyah kembali sebelum akhirnya melanjutkan, “ I ni bisa menjadi kencan pertama yang menyenangkan.”

Seketika, tubuh Pria Lim itu seperti disiram oleh seember penuh air es.

“Kencan?” Tubuh pria Lim itu mematung.

Chaewon mengangguk, “aku berniat mengajaknya kencan.” ia terkikik kecil. “Kau tahu, aku menyukainya sejak pertama kali kami satu divisi.”

Lantas, gadis Han terkekeh. “Aku baru mengakui ini padamu. Jadi tolong jaga rahasia, ya.”

Kali ini, Sejun benar-benar merasa ditenggelamkan di danau es.

 

.

.

.

 

Kejadian tersebut memang telah berlalu sekitar satu tahun yang lalu. Dua belas bulan telah dilalui dan sialnya, Sejun masih tidak bisa melupakan bagaimana jantungnya yang selalu berdebar saat itu terasa mati kembali.

Pria Lim tersebut meringis miris. Menunduk membiarkan beberapa helai rambutnya sedikit menusuk mata untuk menertawakan dirinya sendiri.

Bodoh.

Sejun lantas mendongak. Lagi-lagi melihat daun-daun yang berjatuhan untuk kembali bermonolog.

Bagaimana bisa ia tidak menyadari itu.

Semua harusnya terasa masuk akal. Tentang bagaimana Chaewon memang terlihat begitu mempesona saat ia memperhatikan dari atas pohon.

Tentang Chaewon yang segera menyapa dirinya saat di depan lift. Atau tentang Chaewon yang memang selalu dekat dengannya saat di kantor.

Semua karena satu alasan; Lim Subin.

Bodoh untuk Sejun baru menyadari itu semua. Bagaimana bisa ia tidak menyadari bahwa Chaewon yang mempesona karena memang ia yang sedang kasmaran dengan adiknya. Chaewon yang begitu mudah akrab dengan dirinya karena ia adalah kakak Subin.

Semua itu harusnya disadari Sejun sejak awal; Semua itu hanya Lim Subin.

Chaewon menyukai adiknya.

Lantas, sejak saat itu bunga-bunga bermekaran di dalam diri Sejun seperti menguncup untuk membiarkan lagi seluruh organ kembali mati.

Tak ada lagi sedikitpun binar bahagia, semangat tanpa alasan atau bibir yang selalu tersenyum saat memperhatikan Chaewon.

Seluruh bunga jatuh cinta itu telah berubah menjadi patah hati yang nyata dalam beratus-ratus tahun ia hidup.

Sialnya lagi, Sejun tidak bisa menyalahkan siapa-siapa di sini.

Rupanya takdir lupa memberitahu Sejun bahwa kehidupan adalah sebuah keseimbangan. Bahwa ada kanan dan kiri, ada baik dan buruk, ada sebuah cinta dan patah hati.

Setelah mengetahui fakta tersebut, Sejun tidak melakukan banyak hal selain terpaksa mengukir senyum. Ia menghabiskan sisa malam dengan kepala yang entah tak dapat digunakan kembali.

Lalu, terus memaksa diri untuk menjauh. Ramalan tidak lagi menjadi prioritas dan beruntung keluarganya tidak memaksa.

Walau, hingga saat ini sepertinya Subin tidak tahu mengenai kenyataan ini.

Kini, lagi-lagi langit yang tampak memiliki matahari dengan gumpalan awan tersebut seperti sengaja mengejek hati Sejun yang sendu, orang-orang mulai sepi terlihat tanda suhu semakin dingin.

Para manusia itu jelas akan memilih menghabiskan hari di kedai dengan coklat panas, atau setidaknya menunda apapun yang akan mereka lakukan hingga cuaca sedikit lebih hangat.

Sedangkan untuk Sejun, ia hanya sedang lapar sekarang.

Ia ingin darah rusa. Juga, ia sedang sangat sedih.

Dan yang terpenting, ia rindu.

Ia merindukan Han Chaewon.

Bahkan kepalanya itu tak bisa memikirkan hal lain selain bagaimana hangat selalu keluar dari tubuh gadis itu. Tentang bagaimana rambutnya yang terurai selalu menjadi hasrat paling besar untuk tidak Sejun sentuh.

Ia sedang rindu. Namun tidak ada yang bisa Sejun lakukan.

Jadi, demi menuruti satu rongga yang tak akan penuh di dalam dirinya tersebut, Sejun akan tetap diam di sini. Membiarkan lagi-lagi memorinya mengambil alih setiap jengkal keinginan Sejun.

Untuk mengingat lagi, untuk kembali mengenang tentang yang terkasih.

Lalu, seolah perubahan emosi yang begitu cepat, pria itu lantas tersenyum.

Tidak diiringi oleh sudut mata yang tertarik tanda sedang bersuka cita, senyum itu lebih terlihat sendu.

Oh sial, Sejun mengepalkan tangannya, aku merindukanmu, Han Chaewon.

 

 

 

.

.

.

 

Seoul, beberapa bulan yang lalu.

 Lim Sejun memegang kameranya dengan cekatan. Berulang kali lensa kamera ia putar kecil untuk mencari sudut fokus yang sempurna. Sama sekali tidak menyerah berputar segala sisi untuk memanfaatkan penerangan dari lighting yang benar-benar terang dan mendukung konsep monokrom sesuai dengan tema pemotretan kali ini.

“Sekarang, tolong lihat ke arah kiri.” ucapnya masih tidak melepas mata dari balik kamera, mengarahkan sang model yang mengenakan riasan tebal dan area mata dengan warna abu-abu tersebut.

“Baik, tahan seperti itu sebentar.”

Lalu flash kamera kembali menyambar, menangkap dengan sempurna potret pakaian yang kali ini menjadi tema utama dalam kontrak pekerjaannya.

Satu tema telah selesai.

Lantas, Sejun yang hari ini mengenakan kaos tanpa motif dan dipadukan serasi dengan kemeja yang bertindak sebagai luaran tersebut menyudahi posisinya yang setengah membungkuk untuk mencari sudut foto yang pas.

Tangannya yang masih berbalut jam tangan tersebut melihat sekilas pada hasil-hasil foto yang baru saja diambil.

“Hasilnya oke.” ia memasang senyum pada sang model dan tim tata rias tanda mereka sudah bekerja keras. “Kita istirahat. Satu jam lagi kembali untuk tema berikutnya.”

Para manusia di dalam ruangan tersebut mengangguk. Menyetujui usulan sang fotografer dan semua orang mulai berpencar untuk melakukan tugasnya masing-masing.

Tim tata rias yang segera mendatangi sang model untuk membersihkan riasan, lalu tim kostum yang juga mendekat ke set foto untuk memberikan pakaian pada sang model.

Akhirnya, Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada lagi yang menjaga suara tetap tenang untuk mendukung suasana kerja tempat foto.

Termasuk, memberikan ruang pada sang fotografer untuk menurunkan kamera di tangannya, dan mulai merasakan sendu yang menggelenyar di dalam hatinya.

Namun, meski begitu …. matanya tetap mencari.

Mencari sosok Chaewon yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya.

Gadis itu, seperti biasa. Tampil dengan rambut tak terlalu panjang yang digerai dan tampilan santai semi formal dan ID card yang digantungkan di lehernya yang indah.

Ia memasang senyum pada Lim Sejun, juga sekaligus memberikan setrum elektrik pada jantungnya yang telah lama mati.

Oh, memang hiperbolis sekali.

“Aku tidak tahu bahwa kau jika dalam mode bekerja bisa serius sekali.” komentar Chaewon saat telah berdiri di samping Lim Sejun.

Aromanya masih sama, terlalu harum.

Sejun memberikan senyum kecil. “Maaf, kau pasti menunggu lama, ya?” tanya Pria Lim itu kini beralih untuk sedikit menjauh menuju mejanya sebelum jantungnya bisa meledak.

Sedangkan, sang gadis menggeleng, “ C ukup sepadan untuk mengetahui tentang sisi mu saat sedang bekerja.” Chaewon mengulas senyum yang sama. “Mau makan siang bersama?”

Sejun tersenyum, ia mengusak kasar helai rambut gadis itu namun menggeleng terhadap tawaran yang diberikan. “Aku tidak selera makan.”

Chaewon menaikkan alisnya, “lalu? Kau tidak makan?”

Pria Lim tersebut terkekeh sebentar, memamerkan deret giginya yang rapi dan lubang pada pipinya yang dalam. “Aku membawa bekal dari apartemen.” tunjuk Sejun pada tasnya sendiri.

Yang sesungguhnya di dalam sana adalah darah kelinci yang telah diwadahi dengan gelas berwarna. Tetapi tetap saja, Sejun sedang lapar sekarang. Setidaknya ia tidak bisa meminum darah itu saat berada di dekat Chaewon.

“Baiklah kalau begitu, aku akan makan di cafetaria bawah.” jelas Chaewon tanpa diminta.

Lalu, entah dapat ide dari mana, Sejun mengatakan sebuah ide yang menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. “Kenapa kau tidak makan bersama Subin? Anak itu pasti mau, bukan?”

Benar saja, bumerang itu benar-benar datang.

Mata Chaewon mendadak membulat memamerkan bola matanya yang berwarna coklat cantik. “Benar. Aku akan menghubunginya.

Perasaannya masih sama ternyata.

“Kalau begitu, aku pergi ke cafetaria terlebih dahulu. Sampai ketemu, Sejun.”

Maka, Han Chaewon benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan ruangan yang masih berisi hiruk-pikuk manusia lain serta tak mengetahui bahwa vampir itu menyentuh dadanya sakit.

Menghadirkan pandangan penuh tikaman pisau, bahwa gadisnya kini masih mencintai orang lain.

Takdir masih sama, setelah ratusan tahun menunggu ramalan datang membawanya; Chaewon masih tidak mencintainya.

 

.

.

.

 

Lucu, rasanya benar-benar lucu jika Sejun dapat mengatakan kembali.

Ia telah melewati penantian selama ratusan tahun, berjalan seperti mayat hidup di bumi ini dengan sebuah penantian konyol bahwa setelah ini pasti hidupnya akan bahagia karena menemukan cinta.

Ia akan hidup dengan damai karena setelah bertemu sang gadis, ramalannya akan terjadi, ia akan menjadi manusia, keluarganya selamat dan dia bisa hidup normal.

Benar, selama tujuh ratus lima puluh tahun Sejun menunggu dengan harapan konyol.

Hanya untuk akhirnya dipatahkan begitu saja oleh garis semesta.

Namun, rupanya untuk cerita kali ini, Kehidupan si predator mitologi tersebut harus dibuat lebih sedih lagi.

Rupanya semesta sedang totalitas dalam membuat jalan hidup Sejun bagai tangga penuh luka.

Karena, walau telah mengetahui fakta tersebut, Sejun tidak dapat mundur.

Ia tetap di sana, hadir di kehidupannya seperti biasa untuk setiap hari kembali berhadapan dengan Han Chaewon. Memperhatikannya dari jarak yang ada dan tak berhenti memandangi bagaimana segala fisik gadis itu hanya menjadi angan tanpa ada harapan untuk ia genggam.

Sejun masih di sana, menjalani hari seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan cintanya yang tidak terbalas.

Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia bahkan tidak bisa mengganti rasa cinta yang telah menjamur itu dengan rasa benci, acuh atau tidak peduli.

Konyol memang, karena jauh di dalam hati Sejun ia masih berharap bahwa akan ada harapan. Mungkin semesta akan berbaik hati membukakan jalan dan perlahan Chaewon akan melihatnya ‘ada’ di sana alih-alih adiknya yang hanya dekat dengan Chaewon sebagai ‘agen.’

Tetapi, sekali lagi …. semesta tidak pernah sebaik itu terhadap para makhluk.

Lama penantian Sejun, ia tetap tidak menemukan jalan.

Gadis itu terasa semakin jauh, dan rasa sakit yang Sejun rasakan semakin nyata. Walau memang sejak awal segala debaran, aliran listrik semu dan hal-hal euforia jatuh cinta lainnya hanya kiasan belaka—karena ia tetap makhluk mati tentu saja—rasa sakit itu nyata.

Akhirnya, Sejun memilih untuk menyerah.

Ia mengakui semuanya kepada Chaewon. Tepat pada malam-malam seperti biasa di Seoul dan di dalam sebuah kedai es krim, Sejun mengakui semuanya.

 

.

.

.

 

Seoul, lima bulan yang lalu.

Gadis itu terlihat riang sekali malam ini.

Tampak tak peduli walau beberapa kali bahu Chaewon memang ditabrak oleh pejalan kaki lain, gadis itu tidak terganggu.

Ia masih secerah matahari.

Maka, dengan langkah lebar ala Lim Sejun, ia terus berusaha mengimbangi kaki-kaki kecil Chaewon yang terlalu bersemangat. Seolah tidak ingin meninggalkan sedikitpun kesempatan untuk sekali lagi mengenang siluet cantik yang mungkin akan menghilang dari hidupnya setelah ini.

Sejun akan mengingat dengan baik bagaimana rupa yang akan selalu hidup di dadanya tersebut.

Sebuah kecantikan yang akan abadi di dalam ingatannya.

“Chaewon.”

Sang pemilik nama yang mencoba menikmati udara malam dengan senyum tipis tersebut menyahut, “ya?”

“Aku tahu kedai es krim enak di dekat sini.” Sejun memasang senyum walau sakit itu jelas terasa, “kau mau mencobanya?”

Chaewon mengangguk bersemangat, “tentu aku mau. Ayo kesana.” Gadis itu kembali melanjutkan, “apakah tempatnya jauh?”

Pria Lim itu menunjuk pada ujung jalan, “Hanya beberapa langkah lagi. Choco cookies yang paling enak.”

Tidak butuh waktu lama untuk Chaewon akhirnya memberikan konfirmasi. Wajahnya tampak benar-benar penasaran seolah seluruh bumi memang terfokus pada choco cookies saja.

Kakinya berderap teratur, melalui setiap toko dengan semangat yang mengalahkan gelapnya malam, sebelum akhirnya semua sampai pada titik penuh rasa kagum saat Sejun akhirnya membukakan pintu sebuah kedai.

Kedai yang sederhana. Dengan banyaknya ornamen kayu dan penerangan berwarna violet yang sedikit membuatnya terlihat seperti sebuah bar.

Mereka masuk ke dalam sana.

Hanya butuh sekitar lima menit untuk mereka memesan dan membayar di kasir. Lalu berlanjut memilih satu set tempat duduk yang menghadap langsung ke arah jalanan penuh lautan manusia.

Chaewon duduk manis di hadapan Sejun masih dengan senyuman terukir. “Aku suka sekali tempatnya.”

Ia akan merindukan senyuman itu.

Sejun memandang sekilas pada interior yang memang sejak dulu juga menjadi favoritnya; walau jelas ia tidak terlalu menikmati es krim tersebut.

Sejun menghela nafas panjang, sekali lagi memanfaatkan kesempatan untuk memandangi Chaewon yang sedang memfokuskan perhatiannya pada hal lain.

Sejun memandang gadis itu dalam beberapa kedipan mata. Masih berusaha mencari alasan, setitik dalam dirinya masih tidak ingin untuk membicarakan hal tersebut.

Ia tidak ingin merasa perpisahan itu semakin dekat.

Tetapi, ia tetap harus mengatakannya.

“Chaewon,” gadis itu menoleh, “ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

Beruntung—atau buntung sebenarnya, bersamaan dengan itu, dua mangkok es krim akhirnya datang.

Sehingga mau tidak mau, perhatian gadis itu tersela. Digantikan dengan binar mata bersemangat memandangi mangkok es krimnya sendiri untuk akhirnya ia sambut dengan lahapan penuh rasa kagum.

“Benar-benar enak.” komentarnya tak bisa menahan rasa senang dari sensasi dingin yang kini memasuki rongga mulutnya. “Aku tidak tahu jika ada kedai es krim seenak ini di sini.”

Untuk beberapa saat, Sejun ingin menghentikan hal yang ingin ia bicarakan tersebut. Kini atensinya lebih senang memperhatikan Chaewon yang lagi-lagi seperti bisa membuatnya jatuh cinta tanpa henti.

Namun, sayangnya titik dalam dirinya paham jika hal itu hanyalah menunda rasa sakit lebih panjang kembali. Maka, akhirnya Sejun memulai pembicaraan yang ia benci.

“Ada sesuatu yang tidak kau ketahui, Han Chaewon.”

Seketika, gadis dengan ekspresi riang tersebut menghentikan lahapannya yang kesekian.

Kini fokusnya tertuju pada Sejun dengan sedikit alis naik tanda menunggu. Tangannya diam di atas meja dan ia mengangguk sebagai konfirmasi Sejun bisa melanjutkan kalimatnya.

“Katakan saja.”

Pria Lim itu akhirnya menelan kata. Beruntung suasana kedai itu masih sangat sepi. Mungkin hanya lalu-lalang orang dari luar jendela yang tetap terlihat hidup, meja-meja set di sini masih kosong serta musik dinyalakan mulai mendayu kecil.

Suara pria itu seperti tercekat di ujung tenggorokannya.

“Aku ….” Sekali lagi, sebagai salam perpisahan, Sejun mengamati bagaimana iris coklat cantik milik Chaewon memandangnya lembut.

Kini kepalanya sibuk mencari kalimat paling rasional demi memberi tahu Chaewon mengenai jati dirinya. Memilah kata demi kata agar gadis ini tidak berlari menjauhinya, atau setidaknya sedikit kalimat yang mungkin akan terdengar masuk akal.

Namun, kepala Sejun tidak bisa menemukan jawaban. Kepalanya terlalu buntu akibat patah hati yang terasa disengaja.

Sejun tidak bisa mengatakan siapa dirinya.

“Aku mencintaimu, Han Chaewon.”

Sejun menunduk. Menyudahi kontak mata diantara mereka karena terlalu takut memandangi gadisnya. “Maaf, aku tidak pernah bisa berteman denganmu. Aku mencintaimu. Aku telah lama jatuh cinta.”

Lagi-lagi, Sejun merasa tubuhnya baru saja ditenggelamkan ke dalam danau es. “Aku mencintaimu. Tetapi aku tidak akan bisa bersanding denganmu.”

Total, Chaewon tak lagi meletakkan minat pada mangkok es krimnya. Gadis itu masih tidak mempercayai apa yang ia dengar.

Tubuhnya ikut terpaku seperti Sejun yang mendadak kaku. Ia tak tahu harus menjawab apa selain menghadirkan kerjapan mata terkejut.

Kepalanya ikut berputar mencari jawaban. Tak tahu fakta mana yang lebih mengejutkan dan hanya sanggup terbata-bata. Kepalanya seperti berhenti berfungsi, hingga akhirnya hanya satu kata tunggal yang mampu ia suarakan.

“Kenapa?”

Mendengar hal tersebut, Sejun kembali menghela nafas, ia tidak dapat menutupi luka itu lagi.

“Karena kita berbeda.” dadanya terasa diremat-remat. “Sampai kapanpun, kebaikan dan keburukan tidak bisa bersatu, Han Chaewon. Maka dari itu, aku minta maaf telah jatuh cinta padamu.”

Sejun berdiri dari tempatnya, “aku minta maaf.” sebelum akhirnya tubuh besar pria itu keluar. Pergi menghilang di antara manusia berlalu-lalang, meninggalkan semaunya menjadi tanda tanya.

 

.

.

.

 

Angin kembali berhembus kencang, menerbangkan banyak daun-daun yang telah gugur untuk mengotori jalanan. Beberapa pejalan kaki mulai berjalan cepat terburu tak ingin berlama-lama di jalanan.

Mereka semua menghindari cuaca yang semakin dingin tersebut.

Tetapi, lagi-lagi bak patung yang tak bisa merasakan apa-apa, Sejun sama sekali enggan beranjak. Tubuhnya tak bergerak sebagai respon dari cuaca yang dingin, hanya beberapa helai poni yang sengaja ditata ke belakang kini tampak berantakan.

Sejun masih diam. Ekspresinya masih lurus memandang kosong, bibirnya terkatup rapat dan matanya memancarkan kesedihan yang nyata.

Ia memang meninggalkan begitu saja Chaewon. Mengatakan perasaannya secara sepihak dan takut untuk tetap duduk dan mendengarkan tanggapan gadis yang ia cintai.

Juga, Sejun terlalu pengecut saat rasa bersalah tetap membelenggunya karena tidak mengatakan jati diri.

Jadi, pria itu harus menerima bahwa kini kepalanya sedang menghukum dirinya sendiri.

Akhirnya, Sejun saat itu memilih rasa pengecutnya sendiri. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk sekedar menampakkan wajah di kantornya.

Pria Lim tersebut memilih berhenti bekerja, menghilang dan benar-benar menarik diri dari dunia. Perasaannya terlalu kalut dan berhadapan kembali dengan sumber utama cinta, rasa sakit dan rasa bersalahnya tersebut tidak akan membantu apa-apa.

Maka, pria dengan iris tembaga tersebut memilih pergi. Berharap dunia akan menemukan titik balik baru untuk dirinya walau ternyata kenyataan tidak semudah itu.

Satu bulan berselang sejak Sejun mengatakan perasaannya, ia masih bisa melihat bahwa Chaewon terus menghubungi dirinya. Entah mulai dari email, media sosial hingga beberapa kali gadis itu mengetuk pintu apartemennya.

Sejun tidak merespon. Ia masih dengan keyakinan dirinya untuk menghilang. Beranggapan bahwa itu adalah yang terbaik.

Chaewon lebih baik tidak tahu apa-apa. Gadis itu tidak boleh tahu bahwa mereka sebenarnya telah dipasangkan oleh ramalan, bahwa ia telah dicintai dan harusnya terikat dengan sang penghisap darah.

Lebih baik Chaewon tetap tidak tahu, walau itu berarti ia memang harus menghilang dari hidup gadis itu.

Walau sepertinya—lagi-lagi—semesta memang begitu gemar untuk mempermainkan dirinya.

Begitu saja, Sang Pemilik Kehidupan kembali menghubungkan Sejun dan Chaewon. Tak peduli bahwa laki-laki itu telah begitu berusaha untuk menjauh.

Takdir mempertemukan mereka kembali, pada malam yang gelap, dan Sejun yang diminta untuk menjadi pahlawan akan gadisnya yang sedang dalam bahaya.

 

 

.

.

.

 

Seoul, empat bulan yang lalu.

Seperti biasa, musim panas  sedang terlalu  terik. Udara tak lagi menyenangkan walaupun malam telah datang. Tak peduli bahwa sinar bulan purnama yang berganti menerangi kota, udara lengket itu tetap datang.

Membuat siapapun yang memiliki fungsi tubuh normal jelas akan lebih menyukai ruangan dengan pendingin daripada harus berlama-lama di luar rumah.

Sayangnya, sejak dahulu kala Sejun bukanlah termasuk pada mereka yang memiliki fungsi tubuh normal.

Vampir dengan hampir seluruh fungsi tubuh yang telah membeku tersebut memilih untuk keluar rumah.

Ia lapar.

Hampir selama satu bulan ke belakang ia hanya meminum darah hewan selama satu kali sehari, dan hari ini …. tepat saat purnama telah bulat sempurna; membuatnya menjadi jauh lebih kuat dari biasanya.

Juga, membuatnya jauh lebih lapar.

Maka, ia akhirnya menuruti insting. Berjalan keluar dari apartemennya untuk menyusuri jalanan, berkeinginan hendak menemui salah seorang kerabat keluarga yang bekerja sebagai pemburu rusa di hutan dan telah menjadi pemasok makanan mereka selama bertahun-tahun.

Pria Lim itu berjalan melewati gelapnya malam dengan sunyi. Sebenarnya bisa saja memilih jalan instan seperti berlari menggunakan kekuatannya, namun Sejun lagi-lagi tak ingin menempatkannya dalam masalah dengan menarik perhatian.

Maka, dengan insting yang telah lama terlatih, ia berjalan normal.

Melewati tiap sudut kota yang penuh lampu-lampu, melirik pada setiap manusia yang berpapasan dengan sedikit rasa lapar dan tetap menjaga taringnya tetap tidak terlihat demi keamanan diri sendiri.

Batin Sejun berbisik keras, sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai. Tahan.

Ia mencoba mendikte diri sendiri. Mengalihkan lapar yang semakin hebat saat bulan semakin terang.

Hingga segala usahanya tersebut harus disela dengan se suatu.

Makhluk penghisap darah itu terhenti sebentar untuk men coba berpikir kembali.

Indra pendengarannya yang begitu tajam masih berusaha mencari fokus, membuat Sejun yang malam ini hanya mengenakan kaos hitam tanpa motif dan celana denim tersebut berdiri begitu saja di jalan setapak.

Masih berusaha mencari tahu mengenai gemuruh kecil yang berisikan percakapan lebih dari dua orang.

Suara itu datang dari barat. Tetapi tidak terlalu jelas.

Maka pria itu mencoba mencari informasi lebih. Saat kini ia bisa mencium aroma yang mendadak terasa familiar.

Atau mungkin memang benar familiar; karena ini adalah aroma yang seumur hidup tidak akan pernah Sejun lupakan.

Tidak mungkin jika itu dia.

Sejun masih mencoba menampik kenyataan.

Namun lama ia mencoba mendengar, aroma itu semakin kuat. Seperti sengaja tumpah di sekitarnya, tanda bahwa objek aroma memang di sana.

Ia tidak sedang berkhayal.

Me rasakannya , iris tembaga Sejun segera menampakkan kilat yang tidak dapat disembunyikan tanda perubahan emosi yang terlalu drastis.

Pria itu masih mencoba diam di tempatnya. Mengepalkan tangan sekuat tenaga sebagai pelampiasan emosi sementara otaknya masih menolak segalanya.

“Tidak, tidak, itu tidak mungkin dia.” dikte Sejun kepada dirinya sendiri.

Akhirnya, mencoba menurut dengan logikanya, Sejun menggelengkan kepalanya. Menghilangkan satu insting yang mengatakan bahwa logikanya salah dan berusaha kembali berjalan untuk menemui makanannya.

Namun lagi-lagi, aroma  itu membuatnya berhenti.

Itu Han Chaewon.

Maka Sejun tak lagi peduli dengan derap langkah yang berusaha ia jaga tetap normal. Pria itu memilih melepaskan kendali dengan berlari seperti kecepatan angin. Beruntung sedikit akal sehat masih membuatnya memilih jalan sempit tanpa orang untuk melintas.

Ia mencoba mengikuti kemana aroma itu membawanya , menajamkan pen ciuman lagi  hingga rasanya aroma itu benar-benar terasa ada di dekapannya,  dan abai pada setiap mata yang memandang.

Itu gadisnya.

Sejun kini sepenuhnya kehilangan kendali diri.

Tak sampai sepuluh detik sejak posisinya tadi berdiam diri, ia telah sampai di asal aroma.

Tepat di ujung gang kecil tempat banyak restoran meletakkan sampah usaha mereka, menjadikan tempat ini begitu gelap dan pengap.

Benar-benar tempat yang ideal untuk sebuah kejahatan.

Sesuai dengan apa yang ada di depan mata Lim Sejun saat ini.

Di sana, sosok yang begitu Sejun kenali tengah terduduk di lantai. Rautnya ketakutan dan tengah berhadapan dengan sekelompok pria dengan pakaian kumal serta tasnya yang berada di antara mereka.

Melihat kedatangan Sejun di sana, tentu semua mata memandangnya tertarik.

Terlebih Chaewon yang kini membulatkan bibir, “Sejun!”

Namun, seolah berubah menjadi tuli, Sejun sama sekali tak membalas apa-apa selain pandangan mata dan nafas sedikit memburu.

Lalu, begitu saja perhatian pria itu beralih pada para antagonis yang jelas tampak seperti sekumpulan preman pemabuk.

Salah satu dari mereka mengenakan parka berwarna hijau tertawa meremehkan. “Oh? Kau me mbawa pacarmu? ” nadanya begitu jelas mengejek, “apa dia membawa banyak uang juga?”

Total, emosi tersulut yang sejak tadi mati-matian Sejun tahan akhirnya lepas.

Irisnya tampak semakin terang dan taringnya tidak memiliki keinginan untuk disembunyikan lagi.

Sejun kehilangan kendali dirinya.

Kini sosok lain seperti tengah merasuki tubuh pria itu. Membuat langkahnya yang berderap berat mendekat pada para perampok yang berubah menjadi ketakutan.

Mereka semua mundur, masih dengan tampang kebingungan, berusaha mencari jalan serta rasa penasaran mengapa makhluk seperti itu ada di antara mereka.

Namun, seperti detik yang telah menjadi menit, semua terlambat.

Sejun terlanjur murka.

Tak ada lagi yang dapat menahan Sejun.

Membuat pria itu akhirnya mengarahkan mata dengan warna yang telah berubah pada para tersangka. Kekuatan lain menguasai dirinya.

Iris mata itu bergerak kecil seperti hologram, membuat lompatan seperti pijar panas dari matahari yang kini bergerak seiring dengan para perampok yang jatuh terduduk ke tanah penuh jerit kesakitan.

Tepat pada musim panas ini, Sejun menggunakan kekuatannya setelah ratusan tahun terkubur di dalam diri.

Kekuatan yang menurutnya adalah petaka; karena sejujurnya …. menjadi pengendali rasa sakit melalui tatapan netra bukanlah kekuatan.

Namun sial bagi mereka, Sejun memilih melepaskan petakanya.

Serentak mereka semua kesakitan. Menyuarakan jerit tersiksa dengan sangat melengking seolah-olah ada cambuk api yang terus mengikat, tidak berhenti menyuarakan ampun walau sang pemilik kuasa tampak tidak peduli.

Sejun memang tak peduli, ia melepaskan semuanya, terlebih dengan bantuan sinar purnama ia menjadi tak terhingga.

Bahkan kini asap-asap kecil mulai keluar dari tubuh para perampok dan beberapa permukaan kulit mereka melepuh.

Benar-benar pandangan yang mengerikan.

Tetapi seolah kebaikan dan keburukan yang terus mengikat, Chaewon mengambil tindakan.

Raut gadis itu masih tampak tak mengerti. Namun tangannya terulur begitu saja untuk menyentuh lengan Sejun dan meminta lelaki itu untuk mundur.

“Sejun!” ia menggoyangkan kecil tubuh Sang Pria Lim. “Dengarkan aku!”

Sekejap, seolah baru menekan saklar …. iris tembaga Sejun tak lagi se-terang itu dan jerit suara para perampok juga usai.

Sejun kembali normal.

Pria Lim itu kembali mengerjap, menggelengkan kepalanya pelan untuk selanjutnya melihat lagi pada sekelompok penjahat yang kini terbaring lemas.

Oh, tidak mungkin.

Sejun beralih menatap Chaewon kembali, gadis itu masih di sana.

Menggenggamnya.

Menggenggamnya yang baru saja menjadi monster.

Berada di dekatnya saat sisi paling gelap dari Sejun mengambil alih.

Apa kau bodoh, Sejun? Tubuh pria Lim itu berjalan mundur, kau bisa membuat gadis itu terluka! Maki sebuah suara di kepalanya.

Maka tak menunggu waktu lebih lama lagi, Sejun berjalan mundur lebih cepat. Wajahnya terkejut sekaligus sedih memandang Chaewon namun ia tidak dapat terus di sana.

Sejun berlari pergi.

Meninggalkan lagi Chaewon yang kini memanggil namanya  tanpa sepatah pun penjelasan.

 

.

.

.

 

Sejun tertawa sarkas. Bahunya bergetar sedikit sebagai respon akan dirinya yang tengah merasa miris akan diri sendiri.

Pahlawan, dirinya bergumam kecil.

Ia lebih cocok disebut dengan monster saat ini.

Tak peduli bahwa bulan-bulan telah berlalu, seharusnya menjadikan ingatan itu sebagai barisan memori-memori lain di kepalanya …. Sejun tetap dihantui oleh kenangan malam itu.

Seharusnya ia diam saja.

Seharusnya ia tidak keluar dari apartemennya.

Tetapi, suara lain lagi-lagi menyahut dari dalam kepalanya; dan membiarkan Chaewon tetap dalam bahaya?

Sejun kali ini membuat pergerakan, ia tak lagi menyandarkan punggung pada sandaran bangku. Kini tubuhnya berganti untuk menunduk sekedar menyandarkan siku pada paha sementara telapak tangannya mengusap wajahnya kasar.

Seharusnya, sejak awal Sejun tidak boleh mengenal Chaewon.

Renungan pria itu lantas kembali dengan kini dagu yang ditopang oleh telapak tangan yang tertaut.

Matanya yang begitu sedih tak lagi ingin disembunyikan seiring bibirnya yang tertekuk tanpa senyum.

Tanpa diminta, kepalanya memutar segala kenangan yang ada. Membuat kilas-kilas balik sepergi gulungan rol film yang sengaja digelindingkan.

Memperlihatkan tentang bagaimana Sejun menanti dalam ratusan tahun, jatuh cinta dalam sekejap, merasakan sakit hati dalam guyuran air es lalu berakhir dengan mempertontonkan monster dalam diri yang tak lagi memiliki kendali.

Sejun memperhatikan daun-daun yang terbang karena angin.

“Seharusnya, aku tetap menunggu. Diam lebih lama dengan ramalan daripada harus membuat semuanya seperti ini.” Sejun bermonolog, “seharusnya, aku tetap bersembunyi dan memilih untuk mencintaimu diam-diam, Han Chaewon.

Namun sayangnya, semesta tetap sama.

Semesta masih senang mempermainkan setiap takdir makhluk yang ada.

Karena kini, sosok yang tengah menjadi tajuk pikiran ada di sanasetelah perjalanan panjang selama lima bulan mencari, sempat bertemu di malam yang gelap sebelum akhirnya ia harus mencari lagi.

Ia berhasil; Chaewon berhasil menemukannya.

Rambutnya masih memiliki helai berantakan akibat terpaan angin. Terdapat berkas keringat samar sebagai upayanya yang tadi sempat berlari takut si Pria Lim mungkin telah beranjak dari tempat yang dimaksud.

Tetapi syukur; Sejun masih ada di sini.

Maka ia mengatur nafas sebentar, berdiri dengan senyum lembut memperhatikan bagaimana punggung Lim Sejun melengkung sedih, menghadirkan pandangan penuh rindu yang akhirnya diwujudkan dengan derap langkah perlahan mendekat.

“Seharusnya, kau jangan terus berlari, Lim Sejun ….”

Total, bagai kembali ditampar oleh tangan tak kasat mata, Sejun terkejut, ia tidak memiliki beberapa waktu untuk terpaku …. karena segala rasa dalam dirinya telah melawan logika yang meminta ia untuk tidak berbalik.

Han Chaewon kembali berbicara, “karena aku akan terus mencari cara untuk menemukanmu.”

Gadisnya berdiri di sana. Dalam balutan long coat berwarna coklat susu, rambutnya yang sedikit lebih panjang dan senyum yang tak pernah berubah.

“Dan sekarang, aku menemukanmu.”

Seolah mendukung pertemuan dramatis tersebut, suasana taman kota tersebut benar-benar sepi. Hanya berisikan beberapa orang yang kini berjalan di pinggir taman. Memberikan ruang tanpa pendengar untuk sepasang makhluk yang dipertemukan ramalan tersebut.

Sejun bangkit dari bangku tua itu. Bibirnya masih kelu membiarkan kerja otaknya kebingungan memproses rindu atau rasa menghindar yang harus diprioritaskan.

Hal itu membuat Chaewon terus maju. Menghabiskan jarak seolah lupa bahwa pertemuan terakhir mereka memberi tahu Chaewon secara tidak langsung bahwa Sejun bukan manusia.

“Jangan mendekat, Chaewon.” Namun Sejun sama sekali tidak dapat beranjak. Matanya sibuk berbicara.

“Tolong, jangan mendekat.” cegahnya yang tak diindahkan oleh sang gadis. “Kumohon. Jangan mendekat, aku adalah monster. Aku tidak ingin menyakitimu.”

Angin berhembus membawa daun-daun. Membuat suara gesekan tersebut menjadi musik pengiring untuk pertemuan penuh emosi.

“Aku tidak pernah melihatmu sebagai monster.” jawab Chaewon dengan berani.

Lagi-lagi memori kembali mengambil alih. Sejun sama sekali tidak bisa lupa tentang bagaimana ia lepas kendali malam itu. Membuatnya kehilangan segalanya, membuatnya bahkan memilih untuk sepenuhnya menghilang dan pindah tempat tinggal.

Berharap bahwa sang gadis yang keras kepala tak akan menemukannya dan nyatanya kini ia ada di sini.

Sejun tidak ingin membahayakan gadisnya.

“Kau tidak mengerti, Chaewon. Aku bisa menyakitimu. Aku monster,” suara Sejun terjeda dengan kini tubuhnya yang dapat berjalan mundur. “Aku bukan manusia, kau tahu itu.”

Berat rasanya Sejun mengucapkan kata tersebut. Ia masih dalam keadaan terkejut, tetapi sisi dalam dirinya mendorong ia untuk kembali menjelaskan.

“Aku bukan manusia, Chaewon.” Tekannya sekali lagi. “Aku bahkan bisa melukaimu saat ini.”

Langit yang tak memiliki sinar matahari semakin mendukung mereka untuk jauh lebih sedih. Memberikan ruang keduanya untuk kembali berbicara serta sedikit kesempatan untuk lebih lama bertatap.

“Kita hanya dipertemukan oleh takdir; ramalan yang membawamu padaku. Aku tidak bisa.” Sejun kembali mundur.

Seolah perkataan tak sanggup menjelaskan, kini siapapun bisa melihat bagaimana mata Sejun masih berusaha menjelaskan lebih.

“Tidakkah kau mengerti? Aku bukan manusia; aku vampir. Aku bisa melukaimu

“Tetapi kau tidak melukaiku, Sejun.”

Chaewon menyela, dan kembali melanjutkannya. “Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu tentang ramalan itu, aku sudah tahu siapa kau, Sejun bahkan tentang penglihatan ibumu akan aku, aku sudah tahu kemampuan apa yang kau miliki, aku tahu aku adalah pematah kutukan keluargamu, Lim Sejun.”

Mendengar itu semua, Sejun lantas terpaku.

“Aku tahu semuanya. Aku telah menemui Subin dan ibumu.” Chaewon menelan salivanya sendiri, “dan aku percaya bahwa kau tidak akan melukaiku.”

Sejun masih tidak dapat menerima, “kau tidak tahu, kau

“Malam itu, kau harusnya bisa melukai siapa saja yang menatapmu. Tetapi aku di sana, kau menatapku sebelum menatap mereka.”

Mendadak, tubuh Sejun seperti disadarkan oleh sebuah fakta yang baru saja ia sadari.

“A-apa?”

“Kau menatapku, dengan mata itu. Tetapi aku tidak terluka.” Chaewon kini berhenti saat ujung sepatu mereka nyaris saling menyentuh.

“Karena kau memang tidak bisa melukaiku.”

Kata-kata itu membuat Sejun terkejut. Jauh lebih terkejut.

Gadis Han itu kembali berkata, “Karena ia adalah hasil dari kebaikan ramalan. Maka temui cinta sejati; kau akan menjadi fana, namun penuh dengan cinta yang mendamaikan dan membawa selamat untuk kami semua.”

Itu, Sejun tidak salah dengar, ramalan yang ia hafal setengah mati.

Chaewon mengangguk mendapati raut Sejun yang masih berusaha mencerna. “Karena cinta yang mendamaikan; dan kau mencintaiku, Lim Sejun.”

“Kekuatanmu, kekuatan Subin atau kekuatan siapapun itu … tidak akan ada yang mampu untuk menyentuhku. Karena cinta yang kau berikan.”

Sungguh, Sejun berharap ia tidak salah dengar. Matanya yang telah lama tak pernah memancarkan sinar kehidupan tersebut mendadak memiliki setitik harapan. Seolah melihat cahaya di tengah kegelapan, ia merasa kembali hidup.

“Pematah kutukan itu bukan aku, Lim Sejun. Tetapi kau.” Chaewon memperjelas, “cintamu yang mematahkan segalanya.”

Lalu, tak cukup sampai di sana, Chaewon kembali melanjutkan sebuah kalimat penuh suka cita.

“Dan aku yang memang pernah menaruh rasa pada adikmu …. Akhirnya sadar bahwa itu tidak lebih dari sekedar rasa kagum.”

Chaewon tertawa bahagia, “segala perasaan jatuh cinta yang aku rasakan nyatanya adalah milikmu, Sejun. Aku hanya terlalu bodoh karena menganggapnya euforia biasa.”

Mendengar segala hal yang terasa mustahil tersebut, Sejun tertawa lepas. Membiarkan matanya dialiri oleh segala rasa bahagia dan menjawab penuh rasa senang.

Rupanya, Semesta memang gemar mempermainkan mereka semua.

“Jika kau tak keberatan, aku bisa meresmikan putusnya kutukan itu dengan gigitanku.” Chaewon balas memberikan tawa senang.

“Aku bisa membuatmu jadi manusia dan menyelamatkan keluargamu.” Gadis Han tersebut kembali melanjutkan, “juga, kita bisa memulai dari awal dengan cinta yang ada.”

Chaewon memberikan penjelasan final, “sekarang berhentilah berlari. Karena aku juga mencintaimu, Lim Sejun.”

Maka, tak ada lagi yang dapat menahan mereka untuk tetap menjaga jarak. Baik Sejun maupun Chaewon kini sama-sama berpindah dari tempatnya untuk memberikan rentangan tangan yang lebar.

Mempersilahkan masing-masing masuk dalam pelukan demi melepas rindu.

Menghirup aroma yang telah lama diidam-idamkan untuk memperjelas bahwa ini semua bukan mimpi.

“Aku mencintaimu, Han Chaewon.”

“Aku juga mencintaimu, Lim Sejun.”

Lama mereka saling merengkuh, membiarkan rasa rindu perlahan menghilang dibawa oleh angin sebelum akhirnya Chaewon kembali berkata.

“Sekarang, bisa aku gigit punggungmu itu dan membuatmu menjadi manusia?”

Akhirnya Sejun tertawa, melepaskan pelukan yang tak akan pernah ia mau sudahi dan tertawa masih dengan bahagia memandangi Chaewon yang kini ada di hadapannya.

“Jangan terlalu kejam.” ia memasang wajah memelas, “aku bisa merasa sakit.”

Lalu tak membuang waktu, Sejun akhirnya menunduk. Menyingkirkan sedikit pakaian pada area bahunya dan mempertontonkan bekas luka kecil yang sejak lahir memang telah ada di punggung atasnya.

Lantas, Chaewon yang berjinjit menggigit pelan luka tersebut.

Detik berikutnya, Chaewon kembali berdiri di atas tanah. Berganti memperhatikan luka samar itu perlahan menghilang seolah ditelan oleh jaringan penyembuh luka.

Serta memberikan Chaewon wajah terkejut penuh bahagia. “Berhasil, Sejun!” Sejun berbalik mendengarnya, “lukamu menghilang. Kutukannya sudah tidak ada.”

Mereka berdua berpandangan penuh suka cita. Lagi-lagi membuat Sejun menenggelamkan Chaewon di pelukannya dengan usapan lembut, sedangkan Chaewon yang penuh bahagia tak sanggup menyembunyikan semangatnya dalam pelukan Sejun.

Ia tidak berhenti tersenyum, menikmati bagaimana rasa hangat itu terasa sangat nyaman serta angin musim gugur yang memeluk.

Chaewon menyukainya. Chaewon tak perlu mengejar Sejun yang berlari.

Karena kini, semua telah usai. Kutukan sudah tidak ada dan tersisa satu bahagia terakhir yang didengarkan Chaewon.

“Sejun.”

Pria Lim itu berdeham sebagai respon.

“Aku bisa mendengarkan detak jantungmu.”

 

.

.

.

END