Actions

Work Header

fever

Summary:

William, demam dan sepucuk rindu.

Notes:

canon universe - beware of ooc, mungkin terkesan cringe, typo, dan semoga ejaan telah sesuai eyd.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


William meraup udara dalam-dalam. Selagi merogoh jam saku, pena diletakkan sebelah tumpukan kertas yang berserak memenuhi meja. Punggung menyandar, ah, sudah nyaris petang. Rekapan nilai yang harus segera selesai akhir pekan nanti sungguh benar-benar menyita tenaga. 

Posisi duduk dibenahi, jemarinya memijit tengkuk, desis samar sontak terlontar. Rasanya, ketimbang begadang semalaman atau bahkan tak tidur sekalipun, entah mengapa, untuk hari ini, pundaknya jauh lebih pegal, mata pedih, juga agak sedikit pening. Napas terhembus berat, barangkali kurangnya beristirahat membikin stamina terkuras habis. Yah, lagipula, mau bagaimana lagi, pekerjaan yang menumpuk di depan mata menjadi salah satu kewajiban yang harus dilakukan secepat mungkin. Maka, ketika pena akan kembali diraih, bunyi geseran pintu yang mengisi ruang membuatnya cukup terganggu. "Yo, Sensei!" 

Ah, suara itu. William menoleh, sepenuhnya. Sesaat mengumbar senyum implisit begitu visual menampilkan figur jangkung dengan jas biru gelap melekat—yang telah nyaris berpekan tak datang barang sekadar menyapa. "Holmes-san?"

Pintu ditutup. Dia, Sherlock Holmes, balas menarik sudut bibir, kemudian tanpa permisi mengambil alih satu kursi kosong. Sempat sentuhan atmosfer membuat helai mencuatnya bergoyang. "Seperti biasa kau sibuk sekali, ya. Masih belum selesai?"

Sontak William mengangguk dibarengi lirikan pada tumpukan kertas yang seolah tengah berteriak kesal akibat terlalu banyak mengambil jeda. "Yah, begitulah, seperti yang kau lihat. Harus selesai minggu ini, sih," timpalnya.

Mendengar itu, yang bertanya hanya ber-oh-ria. Saling terdiam dalam sepersekian detik, sekali lagi hela napas menyusul. Sambil kembali meraih pena, mulut William terbuka untuk melanjutkan kalimat dengan atensi yang tak teralih dari kertas, "Omong-omong, apa yang kau lakukan di sini, Holmes-san?"

Dengusan depan tubuh menguar, Sherlock menompang dagu seraya mengamati gerak tinta di atas kertas, lantas senyum eksplisitnya terukir. "Ayolah, jangan pura-pura lupa, Liam. Aku sudah bilang akan datang mengunjungmu lagi pekan ini, 'kan?"

Oh.

Iris rubi di hadapan melirik selagi senyum terlukis tipis. "Eh, maksudnya dua pekan lalu? Kupikir kau yang lupa."

"Ah, aku sungguh sedang sibuk."

Sherlock menjawab cepat dengan garukan pada tengkuk. Dalam diam William mendelik, tetapi senyum simpulnya masih terpasang bersamaan satu kertas yang telah selesai dikerjakan. "Apa tak masalah menungguku di sini? Sebentar lagi malam, lho."

Kedua bahu Sherlock terangkat. "Tentu. Itu sebabnya aku datang. Lagipula, sepertinya nanti aku akan menginap di motel."

William cukup bergumam rendah menanggapi. Sesaat menoleh, menunggu kalimat barangkali akan dilanjutkan, tetapi sang pria bermanik biru justru mengalihkan tatap untuk sesekali melihat-lihat buku di atas meja. Begitu, benar-benar hanya itu? "Tak ada yang lain?"

Atensi Sherlock teralih. "Apanya?"

Oh. Tentu. "Tak ada."

"Apa aku melupakan sesuatu?"

Dasar tidak peka.

"Kubilang tak ada, Holmes-san."

Kalimat bernada menekan tersebut diiringi hela napas berat. Tak ingin menghiraukan pertanyaan yang kembali dilontar hingga akhirnya hening mengapit ruang, agak lama. William menyibukkan jemari sementara beribu pertanyaan tengah menghantui serat otak. Apakah dia benar-benar tak memiliki apapun untuk dilakukan atau barang diucapkan? Apa kedatangannya benar-benar hanya untuk menepati janji semata? Menatap sejenak, Sherlock justru membaca buku—ah, sudahlah. Selagi menamatkan bagian akhir perhitungan nilai dalam kertas, atensi tetap terfokus, kepalanya tiba-tiba terasa makin berat. Udara diraup pelan, posisi duduk dibenahi, pundak justru yang gantian pegal.  "Liam, kau tak apa?"

William menoleh, belum sempat menjawab, hidungnya gatal. Aneh, padahal sekarang masih musim panas, namun, atmosfer terasa amat mendingin. Eh, Mungkinkah— "Hachoo!"

Jemari menutupi sebagian wajah, dalam hitungan detik selanjutnya, tubuh tersentak begitu ada punggung tangan yang menempel di dahi. Sontak mengadah,  tubuh condong yang menghalangi gerak pena membuat sesaat membatu. Sherlock telah berdiri di sisi, menatap selagi rautnya menekuk seolah tengah risau. "Astaga, kau demam. Pantas pucat sekali."

Kemudian William memutar tubuh, menyamping. Kertas-kertas diabaikan, satu senyuman terlukis. "Tak apa, mungkin hanya perlu istirahat sebentar."

Tetapi, tentu Sherlock yang akan memasang ekspresi kesal selagi berjongkok, mensejajarkan posisi badan dengan salah satu dengkulnya menyentuh ubin. "Jangan terlalu memaksa dirimu sampai melupakan kesahatan begitu, mau pulang saja?"

Saat bersitatap, iris birunya melembut. William justru menggeleng. "Tak bisa. Aku harus menyelesaikannya hari ini." 

Mendecak kecil. "Jangan keras kepa—" belum sempat satu kalimat lolos terucap, Sherlock tersentak begitu tubuh di hadapan nyaris limbung terjatuh dari kursi, dengan sigap berdiri untuk menahannya dalam dekapan. "Liam, kau baik-baik saja?!"

Air mukanya berubah panik. Selagi menyandar, William sekali lagi menggeleng. Dalam hening yang sempat mengambil alih, aroma parfum yang khas itu merasuki olfaktori, ah, aroma yang telah amat dirindukan. "Aku baik-baik saja, Holmes-san." 

"Aku akan mengantarmu pulang—" Lengan Sherlock ditahan sebelum mengangkat bahu untuk meninggalkan kursi, William mengadah, saling melempar tatap selama sepersekian waktu. "Bolehkah seperti ini, untuk sebentar saja?"

Permukaan kemeja dicengkram. Ah, hangat yang menjalar sontak memecah rindu. Sebab jika esok tiba, atau nantinya saling melambai di kereta, jarak yang membentang akan kembali memisahkan. Mungkin hanya di sini, dalam ruangan tertutup, William tak harus berpura-pura menjadi sebatas teman belaka, tak pula mesti menyembunyikan apa yang tengah dijalin bersama. Biar tetap membisu, tentu di sudut hati, Sherlock pun tak ingin terus menerus menutupi. Maka, selagi usapan lembutnya mendarat pada helai pirang, sudut bibir terukir membentuk kurva, dia balas mendekap erat. "Maaf tak menepati janjiku untuk mengunjungimu pekan lalu."

Nadanya lembut menyapa telinga. Pukul setengah enam, gedung universitas telah lenggang, mungkin di luar lampu-lampu koridor juga sudah menyala. Kalimatnya, satu hal yang sangat dinantikan. Dalam sela dekapan, senyum terukir, William bergumam, "Tak apa, dengan kau di sini saja sudah membuatku senang."

Lama saling bungkam selagi kehangatan tengah merambah di kulit, Sherlock terkekeh. Ah, jadi, itu sebabnya tadi sang kekasih bertanya tentang hal yang lain, rupanya untuk meminta pelukan, toh. Sontak dengusan menyusul. Padahal apa salahnya tinggal bilang saja tanpa harus menunggu tubuhnya limbung lebih dulu. Tetapi, yah, tentu bukan William namanya jika dapat mengaku dengan mudah. Lagi-lagi terkekeh. Sherlock masih mengulas senyum ketika menarik tubuh, kemudian beralih menatap wajah yang entah telah berapa kali menjadi tempat kecupannya mendarat. "Aku tak masalah kalau harus menginap di ruangan ini bersamamu, sih,"

Jeda sejenak. "Tapi, aku tak mungkin membiarkan demam pacarku semakin parah."

Dalam satu detik selanjutnya, William tersentak begitu merasakan tubuh yang melayang melawan gravitasi. Semburat merah secara cepat menjalar di pipi. Dia sempat meronta agar segera diturunkan dari gendongan sembaru memberi pukulan pelan di dada. "Holmes-san, apa yang kau lakukan? Lepaskan!"

Dua kali, lima, enam. Tetapi, sang pria berambut biru menuli. Ujaran lantas makin bernada panik, "Lepaskan! Seseorang bisa saja melihat, Holmes-san!"

Lalu, tepat di ambang pintu, langkah Sherlock terhenti. Bukan berniat untuk menuruti ucapan, sudut bibirnya justru lagi-lagi membentuk tarikan eksplisit. "Tenanglah, aku hanya akan membawamu ke ruang kesehatan. Orang sakit tak boleh banyak berjalan, tahu."

Satu kalimat terakhirnya yang terlontar sebelum benar-benar menghilang di balik persimpangan koridor. Biar terus-menerus meronta, biar meminta segera diturunkan, tetapi dalam sela wajah yang memerah legam, atau aroma musk menguar, William tak luput menoreh senyum. Walau sedang terserang demam, walau nyaris mengigil, setidaknya dengan begini, separuh rindunya terhadap Sherlock dapat dilepaskan. Ah, barangkali juga, ruang kesehatan yang tengah dituju akan menjadi tempat untuk melepas setengahnya lagi.

Yah, kenapa tidak.


 

Notes:

saya setengah gila setelah baca chap 67 kemaren sksksk sherliam bikin diabetes banget sumpaa ಥ‿ಥ mumpung dapat ide juga, jadinya nyoba bikin yang manis-manis deh, semoga gak terkesan cringe ya. any reviews?