Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-05
Words:
1,556
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
16
Bookmarks:
1
Hits:
206

i thought we were special, kak

Summary:

dan kita seperti orang asing lagi.

Work Text:

hoonkwan-lovers to strangers

ini dimulai ketika Lee jihoon menduduki bangku 11 SMA. menjadi salah satu siswa populer nyatanya membuat ia kerap kali mendapatkan 'pengakuan cinta' dari murid-murid sekolah, bahkan dari sekolah lain.

jihoon bukanlah seseorang yang gemar bersosial, namun ia juga bukan orang yang cuek dan memilih sendiri. dirinya biasa-biasa saja, sama seperti siswa laki-laki biasa yang memilih berkecimpung di non-akademis daripada akademis. setidaknya itu yang ia pikirkan.

ada satu rahasia umum yang diketahui oleh banyak orang. bahwa Lee jihoon terlihat seperti menjalin hubungan dengan siswa kelas 10. seungkwan namanya. berbanding dengan jihoon, seungkwan bahkan sudah memiliki title 'social boo-terfly' karena kemampuan bersosialisasi nya yang bisa membuat relasi ke sekolah-sekolah lain di dalam maupun luar kota.

baik jihoon maupun seungkwan tidak pernah mengklarifikasi dengan resmi apa hubungan mereka yang sebenarnya. namun dari perhatian yang diberikan jihoon, mereka tau kedua laki-laki itu berada di dalam suatu hubungan.
____________________________

"kak jihoon!" sapa seungkwan ketika melihat jihoon berdiri di depan pintu kelasnya. sudah menjadi rutinitas, lelaki yang lebih tua itu akan menghampiri seungkwan untuk sekedar makan bersama di kantin.

senyuman terpatri di wajah jihoon. melihat seungkwan yang berlari dengan sedikit melompat ke arahnya, memberikan rasa menggelitik tersendiri di perutnya. kalau kata orang-orang sih, jihoon sedang berada di fase kasmaran.

"hati-hati, kakak ga lari." cubitan diterima oleh yang lebih muda tepat ketika ia berada di depan jihoon.

"suka-suka aku dong! ayo sekarang kita pergiii," ucapnya dengan riang. tidak menghiraukan tatapan gemas dan iri dari penghuni kelasnya yang sedari tadi menyaksikan interaksi singkat namun lucu itu.
____________________________

banyak hal-hal manis yang terjadi di antara mereka berdua. pulang sekolah bersama, makan di kantin dengan spot duduk yang tidak berubah, belajar bersama, bahkan mereka memiliki rencana hangout setiap weekend.

namun seiring berjalannya waktu, jihoon semakin jarang melakukan hal yang biasa ia lakukan bersama seungkwannya. makan siang bersama di kantin bukan lagi sesuatu yang menjadi rutinitas. jihoon bahkan sudah hampir sebulan tidak menghampiri kelas seungkwan. perubahan ini memberikan tanda tanya besar dari orang-orang di sekitar mereka.

"kak jihoon mungkin lagi sibuk. kan bentar lagi kelas 3," ucap seungkwan setiap kali ada yang bertanya tentang jihoon kepadanya.

jujur saja, seungkwan juga bingung dengan hal ini. walaupun begitu, komunikasi mereka lewat chat tetap berjalan dengan baik. ya, lewat chat. jihoon tidak suka ketika ditelpon tanpa ada hal yang terlalu penting, dan seungkwan mengerti hal itu.

seungkwan juga tidak memiliki keberanian untuk bertanya tentang perubahan sikap kak jihoon-nya sebulan belakangan ini. ia takut dengan jawaban yang akan diberikan jihoon. bagaimana jika jawaban itu membuat mereka menjauh, atau yang paling parah menyakitinya sendiri.

seungkwan beberapa hari terakhir ini semakin sering bertengkar dengan pikirannya sendiri. tidak, itu dimulai dari beberapa bulan yang lalu. seungkwan tidak begitu khawatir pada awalnya, namun ketika kabar burung datang dan memberi pernyataan bahwa kak jihoon-nya terlihat dekat dengan perempuan yang juga teman sekelas lelaki yang lebih tua itu, mau tidak mau ia merasa janggal dan err-sedikit tersisihkan.

___________________________

kantin begitu ramai hari ini. siswa-siswi berlarian mencari tempat duduk yang kosong. bersama teman atau bahkan pasangan, mereka menikmati makanan khas kantin yang sudah tersaji. sementara pemuda manis dengan tahi lalat di bibir yang menjadi ciri khas nya duduk sendirian di tengah keramaian. ia sengaja tidak memilih duduk di pojokan, tidak mau terlihat menyedihkan.

ketenangan yang ia rasakan tidak berlangsung lama. kicauan dari manusia-manusia yang daritadi berada di kantin tiba-tiba terdengar riuh. sangat berisik. atensi nya ditarik oleh objek yang diriuhkan itu.

seungkwan terkesiap. tangannya bergerak secara kaku. jihoon berjalan dengan lia -perempuan yang akhir-akhir ini digosipkan dengannya- memasuki kantin. jihoon menaruh sepenuhnya tatapannya kepada lia. tidak mengindahkan sesiapapun yang melihat dan membicarakan mereka.

"eh? mereka putus?"
"loh, seungkwan sendirian di sini?"
"dari awal emang ga ada yang bilang jihoon sama bocah itu pacaran, kan?"

hah, sialan. pertanyaan terakhir menyadarkan seungkwan. dirinya tidak benar-benar berada dalam hubungan yang spesial dengan jihoon. si manis tersenyum miris. berusaha tidak memedulikan apapun yang bisa saja mendistraksinya. dengan tergesa ia menyelesaikan makannya, kemudian beranjak melewati pasangan yang menjadi topik pembicaraan hangat.

dan ketika matanya bertemu dengan manik hitam kecoklatan milik jihoon, ia tidak ingin percaya namun manik itu benar-benar menjadi salah satu hal yang dibencinya sekarang.
___________________________

“ayo bicara. ruang ekskul musik.”

pesan dari jihoon muncul di notifikasi smartphone seungkwan. seungkwan menatap nanar dua kalimat yang ditujukan padanya. badannya kemudian ia bawa menuju ruang ekskul yang dulu menjadi saksi bisu kedekatannya dengan kak jihoon.

dalam perjalanan ke sana, seungkwan berusaha tidak memikirkan apa-apa. si manis itu sadar dirinya terlalu memaksa bahkan setelah bukti yang ia lihat sendiri. ia takut berharap.

pintu kecoklatan yang terbuka dengan papan nama •ruangan ekskul musik• ada di hadapannya. seungkwan menangkap siluet badan yang ia kenal. atmosfir ruangan ini lebih dingin dari biasanya, atau hanya perasaan seungkwan. ia masuk ke dalam ruangan itu setelah beberapa detik terdiam.

lelaki yang beberapa waktu ini mengacaukan pikirannya sekarang berdiri di hadapannya. dengan wajah yang tidak bisa seungkwan deskripsikan, seungkwan mengambil kesimpulan bahwa jihoon yang ada di depannya ini tidak berubah.

"seungkwan," panggil jihoon. suaranya yang terdengar biasa-biasa saja entah kenapa memberikan sesak di dada seungkwan. jujur saja, lelaki manis ini enggan menatap langsung manik jihoon. dinding putih yang berada tepat di belakang jihoon lebih menarik perhatian mata miliknya.

"tatap kakak," titah jihoon. yang diperintah hanya mengikuti. mencoba menahan getaran yang ada di dalam dirinya. seungkwan mengepal tangannya kuat.

"sepertinya, kakak jatuh cinta dengan lia."

jihoon menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. pandangannya lebih berseri dari biasanya. itu adalah pandangan yang pernah ia berikan ketika bertemu dengan seungkwan kedua kalinya. itu adalah pandangan yang tidak biasa ia berikan kepada orang lain. dan kali ini, pandangan itu ada setelah mengumumkan hal yang membuat seungkwan sulit bernapas.

ada jeda beberapa menit setelah pernyataan jihoon. seungkwan menarik napas dalam-dalam. matanya sungguh perih sekarang. mungkin jika ia berbicara sekarang, suaranya akan terdengar sangat bergetar. tapi siapa yang peduli, ia tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan itu.

"o-oh. akhirnya yah kak. pantesan beberapa hari ini keliatan sibuk banget, ternyata sibuk ngapel."

bodoh. seungkwan bodoh. ia tidak harus berbicara sok tegar ketika air mata sebentar lagi lolos dan meluncur di pipinya.

jihoon menyadari itu, ia sadar dirinya sangat brengsek. maka dari itu dengan inisiatif ia menarik seungkwan dalam pelukannya. memberikan ucapan maaf karena telah menyakiti pemuda manis yang pernah menjadi alasannya untuk tersenyum. ah, sampai saat ini pun begitu.

namun, belum juga jihoon menarik seungkwan, ucapan dari adik kelasnya ini seperti memberikannya pukulan telak.

"maaf yah kak. uh, sepertinya setelah ini anggap aja kita ga pernah bertemu. gak, harusnya ga seperti itu. tapi-" air matanya terjatuh. seungkwan mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. "ini sakit banget kak. liat kakak senang dan mengaku cinta orang lain benar-benar bikin aku sakit."

seungkwan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. isakannya terdengar pilu. cinta pertamanya yang harusnya menyenangkan ini, kenapa berakhir dengan cepat dan diberi bumbu kesedihan. jihoon akhirnya memeluk seungkwan. ia juga tidak ingin seperti ini, namun perasaannya tidak bisa ia kendalikan sendiri. entahlah, yang pasti saat ini hal yang harus ia lakukan adalah memberi pelukan yang harap-harap bisa menenangkan pemuda manis di dekapannya ini.

___________________________

dan setelah kejadian itu, baik seungkwan maupun jihoon tidak pernah lagi terlihat bersama. ah, seungkwan yang menghindari jihoon habis-habisan. yang lebih muda benar-benar memutus kontak dan bertindak selayaknya orang asing kepada jihoon.

sementara jihoon beberapa kali mencoba menghampiri atau pun menghubungi pemuda yang pernah mengisi hari-hari nya itu. hasilnya nihil, tentu saja. hingga akhirnya ia menyerah dan memilih pasrah kepada keadaan. ini murni kesalahannya, dan ia menyesali hal itu.

____________________________

jihoon menenteng tas gitar miliknya sambil berjalan menuju studio yang sudah 3 tahun ia tempati. sapaan dari beberapa pejalan yang lewat tidak ia hiraukan sama sekali. dengan kemeja dan topi hitam serta earphone yang terpasang di kedua telinganya seakan menunjukkan bahwa ia sedang tidak ingin diganggu.

langkahnya semakin cepat ketika bangunan tinggi terlihat. ia masuk ke dalam lobby dan bergerak menuju lift dengan lincah seakan rute ini sudah menjadi rutinitasnya. sesaat setelah masuk, jihoon menekan tombol 5 pada lift. hembusan nafasnya terdengar keras. entahlah, hari ini ia hanya ingin sampai ke studionya dan bekerja keras seperti biasanya.

jihoon berdiri di depan pintu studionya, kemudian memencet pin dengan sesegera mungkin. 160198. jihoon belum move on. dan ia tidak memiliki alasan untuk melakukan hal itu. seungkwan masih terbayang-bayang di kepalanya. semua tentang pemuda itu masih membekas jernih.

ketika ia masuk, suara tawa dari dua orang yang familiar masuk ke pendengarannya. hanya hoshi dan bumzu. partnernya dalam membuat musik. musik yang menjadi alat penghantar perasaannya kepada seungkwan. seungkwan lagi.

jihoon menggelengkan kepalanya, mencoba fokus untuk hari ini saja. ia tidak ingin terbayang akan seungkwan kali ini. jihoon menyapa dua orang yang sedang duduk di sofa yang tersedia di sana. jihoon duduk di kursi nya menghadap ke arah hoshi dan bumzu.

mereka berbincang sebentar. sebelum akhirnya suara ketukan dari pintu studio terdengar. hoshi dengan wajah riangnya beranjak dari sofa dan membuka pintu dengan sedikit tergesa.

jihoon tidak memedulikan itu pada awalnya. ia pikir itu hanya salah satu teman yang Hoshi undang ke tempatnya, lagi. namun ketika suara manis yang menenangkan dan ia rindukan mengalun di dalam studionya, jihoon dengan cepat menaruh atensi penuhnya.

"jihoon. kenalin ini pacar gue, seungkwan."

jihoon diam tidak berbicara, otaknya masih memproses hal mendadak yang tidak ia sangka akan terjadi. seungkwannya dan hoshi? sial.

jihoon terlalu fokus pada pikirannya hingga akhirnya panggilan dari lelaki manis menyadarkannya.

"um, halo jihoon. aku seungkwan, salam kenal."

'jihoon' itu, terdengar sangat asing sekarang. dan jihoon benar-benar membencinya.