Work Text:
disclaimer: semua karakter milik Masashi Kishimoto
warning: canon-setting. OOC. Typos. Mention of other characters.
characters: Sai/Ino. very slight shikatema and inoshikacho.
.
thank you for being born
.
"Terima kasih... sudah terlahir ke dunia ini..." '
.
"...dan hidup sampai sejauh ini..."
.
Hari hampir menjelang petang, bias mentari senja datang menerjang.
Menghujani apapun yang ada di bawah cendawannya, termasuk si pemuda bersurai hitam arang yang tengah berjalan santai menyusuri jalanan distrik Konoha.
Logam dari hitai ate yang melingkar di kepala memantulkan rona jingga dari sang surya yang hendak kembali ke singgasana. Pemuda itu masih mengenakan baju misinya lengkap, bahkan ia masih menenteng perkamen besar di belakang punggungnya. Sesekali bibirnya mengurva, kala beberapa orang yang mengenalinya berpapasan dan menyapa.
Sekarang, tersenyum sudah menjadi hal yang lebih mudah baginya.
Jalanan distrik Konoha masih tampak ramai meski mentari hampir tenggelam di ufuknya.
Sebagian tengah bersiap menyambut untuk menikmati aktivitas malam, layaknya makhluk nokturnal. Sebagian yang lain mulai berlalu lalang hendak kembali ke peraduan.
Si pemuda adalah bagian dari kelompok yang kedua. Kakinya kini mengarah pulang, namun bukan untuk kembali ke apartemen sederhananya. Tetapi ke sebuah toko yang berdiri di ujung jalan sana--
Yamanaka's Flower Shop.
Ya. Memang pulang.
Karena tempat itu seolah telah menjelma jadi rumah kedua baginya.
Setelah memberikan laporan misinya ke Rukodaime di Hokage Tower tadi, Sai yang baru saja berjalan di koridor mendadak mendapat pesan telepati dari seseorang.
.
"Sai, kalau sudah selesai, segera ke Green House ya! Tidak usah ganti baju, langsung kesini saja. Aku menunggumu~"
.
Tak ada eksplanasi lebih lanjut. Hanya itu yang dia utarakan di kepalanya dengan keceriaan luar biasa. Begitu kontradiktif dengan hari yang mulai menggelap.
Tiba-tiba sambungan telepati itu diputus begitu saja, tanpa bahkan Sai sempat mengutarakan balasan. Sayang, Sai tidak bisa menghubungi balik karena ia tak punya kemampuan telepatik seperti dia di sana.
Dia.
Dia yang sekarang sudah menjadi rutinitas di hidup Sai.
Dia yang sebagian besar mengisi hari-harinya yang dulu sepi rasanya. Ino Yamanaka.
Tersadar bahwa ia baru saja melamun, Sai menarik diri dan berusaha fokus kembali pada apa yang ada didepannya.
Plakat kayu toko bunga keluarga Yamanaka mulai tampak jelas di pelupuk mata, maka Sai pun mempercepat langkah. Begitu ia akhirnya mencapai muka, ia bisa melihat Ibu Ino tengah sibuk mengangkat beberapa pot dan barang barang ke dalam. Maklum, ini sudah waktunya jam tutup toko.
Sai sigap membantu, menyisingkan lengan baju dan mengambil alih tugas Nyonya Yamanaka mengangkat pot-pot yang besar dan berat. Ibu Ino sempat tampak terkejut, namun senyum lembut dan ucapan terima kasih mengiring setelahnya.
Setelah semua tertata ke dalam, Nyonya Yamanaka memberinya ucapan dan pelukan selamat datang—yang jujur membuat Sai sempat terpaku di tempat.
Namun sebisa mungkin ia membalasnya, walau dengan gerakan yang agak kikuk. Harusnya ia tahu bahwa Nyonya Yamanaka memang sama pengasih dan enerjiknya dengan sang putri.
Si wanita baya itu menepuk-nepuk punggungnya, mengatakan bahwa ia senang Sai pulang dari misi dalam keadaan sehat dan selamat.
Hati Sai kontan menghangat.
Ia berpikir, mungkin beginilah rasanya kasih sayang seorang Ibu...
Nyonya Yamanaka lantas menyuruhnya untuk bergegas ke belakang saja, menuju ke Green House seperti yang diminta si putri semata wayang. Kala Sai membungkukan badan untuk undur diri, ia sempat menangkap binar-binar aneh terpantul di kedua hazel wanita itu, berikut dengan seulas senyum yang Sai tak bisa tangkap artinya.
Mengesampingkan penasarannya, Sai berjalan menuju pintu belakang toko dan membukanya.
Tepat di belakang toko bunga Yamanaka adalah sebuah pekarangan cukup luas yang dikepung pepohonan, sementara Green House terletak di seberang.
Sai melangkah melewati pekarangan, alas sepatu ninja-nya menggesek rerumputan. Green house milik keluarga Yamanaka itu terletak di ujung barat, sehingga Sai bisa berjalan mendekat sembari mengamati bagaimana matahari perlahan ditelan cakrawala. Sisa-sisa bias jingganya melingkupi bangunan itu, menawarkan kesan hangat tanpa batas.
Permukaan kaca yang sejatinya menjadi medium transmisi bagi tumbuhan di bawah naungannya itu memberikan Sai akses untuk dapat melihat apa yang ada di dalam sana. Selain bisa menangkap jajaran tumbuhan dan bunga-bunga yang memenuhi setiap sudut, matanya yang sehitam tinta tersita oleh sesuatu yang menyala terang dari dalam. Nampak olehnya bayangan lampu-lampu warm white yang bersinar terang diantara hijau dedaunan. Eh?
Keningnya terkenyit, heran.
Jelas, itu pemandangan yang tak biasa.
Begitu ia sampai di depan pintu rumah kaca yang terbuka, Sai baru bisa melihat lebih jelas.
Dan benar saja.
Rumah kaca itu sudah disulap sedemikian rupa.
Berbeda dari apa yang ia ingat terakhir kali ketika ia berkunjung ke sini.
Ada untaian lampu hias yang dijajar melintang, digantung disepanjang langit-langit rumah kaca yang atapnya punya motif mosaik, tersusun dari tatanan kaca aneka warna. Laksana ilusi pancarona indah ketika ditimpa cahaya.
Semakin ia melangkah masuk ke dalam, ia bisa melihat juga ada sebuah meja kayu yang sengaja diletakan di pusat ruang. Terhias kain satin putih melebar. Dua buah kursi yang sandarannya dihias pita kain diletakan di kedua sisi. Sepasang gelas kaki, cutlery, dan lilin tinggi ditata cantik di depan masing-masing kursi. Dipermanis dengan sebuah vas bunga di tengah meja.
Sai mengedarkan pandang, menyukai bagaimana cahaya dari lampu hias itu memandikannya. Suasananya sangat menyenangkan, ditambah asrinya aneka flora milik keluarga Yamanaka yang ditata berjajar dan menggantung disana-sini, menjadikannya sebuah komplemen sempurna.
Sudut bibirnya terangkat otomatis, membayangkan Ino menata ini semua dengan penuh perfeksionisme dan dedikasi.
Ino memang punya selera yang bagus. Sai tak pernah meragukan sense gadis itu soal desain dan estetika.
Gadisnya itu memang luar biasa, lagipula.
Tangan Sai terulur, jemarinya menelusur, menyentuh kelopak bunga berwarna putih yang ada di dalam vas. Bunga Carnation Snowdrop, kalau ia tidak salah. Artinya adalah harapan, kesucian, dan kelahiran kembali—
.
"Selamat ulang tahun, Sai,"
.
Mungkin karena masih terlalu terfiksasi mengagumi tatanan surprise dinner di depannya, Sai sampai tak mengantisipasi kehadiran Ino.
Ketika Sai berbalik, Ino ternyata sudah berdiri di ambang pintu, membawa sebuah kue di kedua tangan.
Sai membiarkan dirinya terpana.
Gadis bersurai platina itu membiarkan rambutnya tergerai seperti biasa. Yang membedakan adalah hairclip bunga yang ia kenakan untuk menjepit sisi kiri rambutnya. Ino mengenakan sebuah terusan sleveless baby blues selutut, dengan kaki terbalut sepasang flat shoes putih. Setelannya semi formal, tapi masih menawarkan kesan kasual. Make up nya terpoles natural, dengan sentuhan lipstik nude dan blush peach.
Namun diantara segala poles riasan yang menghias, yang mempercantik semuanya adalah kurva di bibirnya itu.
Senyumnya merekah sempurna. Tak luntur hingga ia akhirnya berada tepat di hadapan Sai yang hanya mengamatinya dalam bisu.
Meskipun begitu, sepasang mata hitam itu tak melepaskan jeratnya dari sang gadis, walau barang sebentar saja.
"Selamat ulang tahun yang ke 20, Sai!" sekali lagi Ino mengatakannya, masih dengan nada ceria dan senyum yang sama.
Sai berkedip, menunduk untuk mengamati kue black forest di tangan Ino, ditancapi lilin angka 2 dan 0 yang belum dinyalakan. Ia kembali mengamati wajah Ino, lalu menunduk lagi—begitu seterusnya.
.
"Aku lupa kalau hari ini ulang tahunku,"
.
Adalah hal pertama yang dikatakannya setelah beberapa saat berlalu.
Kalimat itu sepertinya tak diantisipasi akan terlontar, jika melihat reaksi Ino saat ini.
Laksana petir yang menyambar di siang bolong, bola mata Ino melebar.
Rahangnya ternganga, seakan tak percaya.
.
"HAH?" pekiknya.
.
Sai mengetuk-ngetuk jarinya ke dagu, "Aku tadi sempat berpikir event apa yang mungkin aku lupakan, sampai kau rela mempersiapkan ini semua," Kedua mata hitamnya beredar, sebelum kembali ke iris mata biru laut di depannya, "Aku khawatir aku melewatkan hari-hari pentingmu atau hari penting kita berdua, anniversary contohnya—tapi ternyata cuma ulang tahunku,"
"Cuma?" Ino membeo, masih dengan ekspresi tak percaya. Kedua tangannya yang menyangga kue hingga sebatas dada pun diturunkan, "Sai! Ulang tahunmu itu event penting juga, tahu! Dan itu berhak untuk dirayakan!" omelnya.
Sai mengangkat kedua bahunya, "Aku tidak merasa ada yang berbeda," akunya, "Aku memandang ulang tahun hanya sebagai tanda bahwa kita tambah umur saja,"
Memang benar. Sai tak merasa ada yang berbeda antara hari ini, hari ulang tahunnya dengan hari hari biasa. Ia aware hari ini adalah tanggal 25 November.
Namun mungkin karena saking sibuknya dengan misi dan pekerjaan diplomatiknya, atau dasarnya karena ia memang tak menaruh peduli, fakta itu jadi terlupakan begitu saja di otak. Lagipula ia memang tak biasa merayakan yang namanya ulang tahunnya sendiri. Ia hanya berpikir--tanggal 25? Oh iya, dia tambah umur.
Sudah begitu saja.
Kalau menghadiri seremoni acara ulang tahun tentu saja ia pernah, beberapa teman ninja mereka bahkan sering mengadakan pesta perayaan—Ino sendiri salah satunya.
Sai menikmati menghadiri acara-acara itu. Ka menikmati bagaimana ia bisa memberi harapan dan doa tulus terbaik untuk mereka mereka yang berulang tahun, sekaligus ia menjadikanhal itu sebagai sarana melatih kemampuan interpersonalnya.
Selebihnya? Sai hanya memandang ulang tahun hanya sebagai peringatan tambah tahun belaka. Tak ada yang terlalu spesial. Biasa saja rasanya
"Kau memandang ulang tahun hanya sebagai tanda tambah umur saja, tapi kemarin kau mengingat ulang tahunku," ungkap Ino, heran, "Kau bahkan memberiku kejutan yang sangat manis,"
Mereka telah resmi menjalin hubungan selama 6 bulan ini. Dan ini adalah tahun pertama bagi Ino untuk merayakan ulang tahun Sai sebagai seorang kekasih. Secara resmi.
Di bulan September kemarin ketika Ino berulang tahun, Sai mengingatnya dengan baik. Bahkan ia memberi kejutan tak terlupakan. Membawanya ke padang bunga yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Sai menghadiahi buku sketsa berisi penuh lukisan dirinya. Ia juga melukiskan potret mendiang Inoichi yang tengah tersenyum dalam sebuah kanvas besar, tergambar apik dan rinci. Sai berhasil menangkapnya dengan sempurna, terutama ekspresi hangat familiar yang Ayahnya selalu bawa ketika ia tersenyum pada Ino.
Ino tak tahu bagaimana Sai melakukannya. Darimana dia mendapat referensi potret Inoichi. Namun satu yang ia tahu, Ino merasa amat berterima kasih.
Terutama ketika Sai berkata, dengan suaranya yang pelan dan pipi yang membersit delima,
"Kau bisa memasangnya di kamarmu. Agar saat kau tidur dan bangun, Inoichi-sama adalah hal yang kau lihat pertama kali. Aku tahu kau sering menangis karena merindukannya. Aku tahu lukisan ini tidak nyata, dan mungkin masih kurang disana-sini, tak sama seperti aslinya. Tapi aku harap ini bisa mengobati sedikit rindumu padanya. Aku—"
Ino tak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya karena detik itu juga, ia langsung menubruk Sai. Memeluknya erat-erat dan menangis di dadanya.
Ino benar-benar merasa trenyuh kala itu. Itu adalah salah satu kado terbaik yang pernah dia terima semasa hidup.
"Ya, memang," suara lembut Sai menarik Ino dari angannya, membuatnya mendongak kembali pada Sai yang sedang menatapnya lurus-lurus, "Tapi itu kan ulang tahunmu. Semua untuk dirimu. Aku selalu menyukai hal-hal tentang dirimu. Hal-hal yang membuatmu tersenyum,"
Mendengar itu membuat Ino menatap Sai, tak tahu harus berkata apa.
Dia bukannya kecewa, dia pun tersentuh mendengarnya.
Tapi dia juga mereasa pilu. Ino merasa... sedih.
Tidak. Tidak. Bukan sedih karena itu.
Ia tidak sedih karena ia sudah menyiapkan ini semua tapi Sai ternyata lupa. Ia justru sedih karena mendengar implikasi kalimat Sai barusan.
Sai begitu peduli dengan ulang tahunnya, namun ia justru tak melakukan hal yang sama pada ulang tahunnya sendiri.
Betapa ia seolah memprioritaskan Ino dan kebahagiaannya diatas kepentingan dirinya. Selfless sekali.
Tapi Sai juga berhak bahagia.
Sai juga berhak mendapatkan semuanya.
Dan Ino bertekad mewujudkan semua itu.
Ino paham sebenarnya, kenapa Sai sering kali tak memandang dirinya "penting".
Berdasar dari sesi konseling dan terapi yang mereka lakukan selama ini, Sai memang suka menunjukan perilaku yang mengarah pada self-esteem yang rendah. Nilai-nilai personalnya lebih mengarah ke negativitas.
Sai masih suka merasa bahwa dirinya "tidak pantas bahagia", mungkin bagian dari alam bawah sadarnya yang masih terdoktrin oleh Danzo. Manifestasi psikopatologi dari pengkondisian perilaku Danzo yang manipulatif dan toksik, menanamkan pikiran ke tentara bawah tanahnya bahwa mereka tak punya arti hidup di dunia ini.
Ino akan membantunya mengubah itu, walau butuh perlahan-lahan. Mereka masih sama-sama harus banyak belajar untuk saling mengerti, lagipula. Ada jalan panjang yang sudah menanti, dan Ino bertekad untuk membantu Sai menyusurinya. Bersama-sama.
"Tanggal 25 November pun," gumam Sai, yang membuat Ino kembali meletakan atensinya kepada pemuda itu," aku juga tidak tahu apakah itu memang ulang tahunku yang sebenarnya atau bukan. Entah itu memang hari kelahiranku yang asli. Atau hari yang dibuat-buat. Mungkin hari dimana Danzo-sama—" Ino mengernyit samar, menyadari bahwa Sai masih suka tanpa sadar menyebut Danzo dengan sama. Pembiasaan. "—mengambilku, atau entahlah. Aku tidak ingat banyak,"
Hati Ino mencelos.
Sorot matanya meredup, dan suaranya pun melirih, "Sai..."
Kakashi dan departemen registrasi Konoha sedang berusaha menemukan data-data personal para mantan anggota Anbu Ne setelah organisasi gelap itu resmi dibubarkan.
Namun pencarian belum banyak menemukan hasil. Entah dimana Danzo menyembunyikan data-data anak-anak buahnya, atau mungkin si tua bangka itu sudah menghilangkan semua jejak dan rekam data anak-anak yatim piatu yang ia culik.
Sai juga tak punya banyak informasi mengenai latar belakangnya. Yang teregistrasi di departemen sipil Konoha hanya informasi mengenai jutsu, rank ninja, umur, tanggal lahir—yang seperti Sai bilang tadi, entah apakah itu memang tanggal lahir aslinya atau bukan. Bahkan informasi mengenai orangtua Sai pun belum berhasil diketahui.
Ino juga tahu nama 'Sai' sendiri bukanlah nama asli pemuda itu. Sai mengaku bahwa sebelum diberi nama 'Sai', ia tak pernah punya nama. Ia biasa dipanggil dengan kode nomer oleh Danzo saat berada di Ne.
Ketika Ino menawarinya apakah dia ingin mengganti namanya karena 'Sai' hanyalah sebuah kode nama, Sai menolak. Ia mengatakan bahwa ia tak akan mengganti namanya.
Ia telah hidup sebagai seorang Sai sejauh ini.
Ia menemukan ikatan-ikatan berharganya lewat nama Sai.
Sai yang merupakan ninja Konoha.
Sai yang merupakan anggota tim Kakashi.
Sai yang jadi bagian divisi ANBU Konoha.
Sai yang merupakan kekasih Ino.
Memang benar masa lalu pemuda itu akan selalu jadi misteri, tak banyak informasi yang bisa diketahui.
Namun jika Sai memang ingin memulai kehidupan barunya dan meninggalkan semua masa lalunya, maka Ino akan mendukungnya sepenuh hati.
Layaknya menutup sebuah bab di dalam buku untuk kemudian mulai membuka lembaran baru.
Lagipula seseorang tidak terdifinisikan oleh bagaimana masa lalunya. Yang terpenting sekarang adalah masa yang akan menyambut kelak.
"Oleh karena itu, hari ulang tahunku bagiku terasa sama saja. Aku tak pernah diajarkan untuk merayakan yang namanya hari ulang tahun, jadi rasanya memang tak ada yang spesial," ujar Sai final dengan bahu terangkat, acuh dan tak acuh.
"Meskipun begitu, kau juga berhak untuk merasakan kebahagiaan di hari spesialmu," balas Ino, masih dengan ekspresi simpatik.
Satu tangan ia gunakan memegang kue, sementara satu tangannya yang lain terjulur untuk mengenggam tangan Sai. Ia memberinya remasan lembut, "Terlepas dari apakah tanggal 25 November itu adalah ulang tahun aslimu atau tidak, kau berhak mendapatkan satu hari untukmu seorang. Hari spesialmu," Ino tersenyum, "Dan hari itu akan kita rayakan khusus untukmu,"
Hati Sai tak pelak menghangat, maka ia berikan remasan balasan di tangan Ino yang ada dalam dekap genggaman, "Ini adalah pertama kalinya ulang tahunku dirayakan," ia menggumam. Perlahan sudut bibirnya tertarik, senyum yang selalu disukai Ino itu pun terkembang,
"Terima kasih Ino. Kau sudah repot-repot menyiapkan ini semua,"
Gelombang afeksi untuk pemuda itu membuncah dalam dada. Rasanya seperti sesak. Campur aduk jadi satu. Ingin ia tarik Sai ke dalam pelukannya, namun posisi mereka saat ini terlalu sukar, maka Ino mati-matian menahannya.
"Kalau begitu mulai sekarang, mari kita jadikan ini tradisi!" serunya antusias, "Setiap tanggal 25 November, kita akan merayakan ulang tahunmu bersama-sama. Oke?"
Sai menganggukinya, membuat senyum Ino kentara melebar.
"Nah sekarang ayo kita nyalakan lilinnya untuk bisa kau tiup!" Gadis itu meletakan kuenya ke meja, kemudian mengeluarkan sebuah pemantik untuk menyalakan api. Ia tak punya elemen api jadi—yeah, mau tak harus pakai cara manual.
Lilin angka 20 telah menyala beberapa detik kemudian, diiringi oleh suara nyanyian "Selamat ulang tahun~ selamat ulang tahun~" dari Ino sembari bertepuk tangan.
Sai sudah bersiap untuk merundukan badan dan meniup lilinnya ketika lagu akhirnya berakhir, tapi cepat-cepat dihentikan Ino. Gadis itu memekik,
"EITS! Sebelum tiup lilin, ungkapkan harapanmu dulu," pintanya, "Satukan kedua tanganmu di dada, tutup matamu, dan katakan harapanmu dalam hati,"
Tanpa babibu, Sai mengikuti instruksi Ino. Ia menyatukan kedua tangan di depan dada dan menutup kelopak matanya.
Sementara Ino yang mengamatinya hanya terkikik geli dari sisinya. Aw. Dia cute sekali.
Setelah selesai, Sai kembali menunduk untuk meniup lilinnya, yang lalu diikuti pekikan dan tepuk tangan meriah dari Ino. "Yey! Selamat ulang tahun, Sai!" serunya begitu ceria.
Gadis itu mendekat, kemudian mengulurkan lengan untuk memeluk leher pemuda itu. Ia mengistirahatkan kepalanya di dada tegap Sai, memejamkan mata dan mendesahkan nafas kala ia merasakan kedua lengan lelaki itu secara spontan memeluknya balik. Erat.
Ino tersenyum, menggumam di dada Sai yang kokoh dan hangat, "Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini, Sai,"
"Terima kasih?"
Suara baritone Sai mengalun. Tanpa perlu mendongak, Ino bisa membayangkan lelaki itu saat ini pasti sedang menunduk dan menatap penuh tanda tanya padanya, dengan alis dan kening berkerut-kerut lucu.
Ino terkikik.
"Itu ungkapan rasa syukur yang biasanya kita ucapkan ketika seseorang berulang tahun. Kita merasa berterima kasih dan bahagia akan hadirnya orang itu diantara kita," jelasnya,
"Seperti kau saat ini. Kau ada disini. Aku bisa memelukmu begini. Jadi aku merasa sangat bersyukur,"
Ino lantas mendongak, menatap Sai lekat-lekat, dan tersenyum, "Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini, dan hidup sampai sejauh ini, Sai,"
Hati Sai berdesir-desir mendengarnya. Jantungnya bertalu, terutama saat Ino menatapnya begitu.
Gadis itu... sungguh adalah anugrah terbaik Tuhan yang hadir di hidupnya.
"Terima kasih kembali," ia menempelkan dahinya dengan gadis itu, berbisik, "Ino..."
Ino membalasnya dengan tertawa kecil, lalu mengganti posisi dengan menyamankan diri kembali di dada lelaki itu.
Mereka membiarkan keheningan menyelimuti, memberikan kedamaian berarti bagi sepasang sejoli. Sampai Ino tiba-tiba menyeletuk, "Aku jadi penasaran apa harapanmu,"
Sai menggumam, "Kau mau tahu?"
Ino sekali lagi mendongak, dan kini gantian Sai yang menunduk, menatapnya lurus-lurus.
"Apa?"
"Aku berharap bahwa di tahun-tahun yang akan datang, aku akan bisa kembali merasakannya. Merasakan kebahagiaan yang sama—"
Tatapan mata lelaki itu begitu serius. Suaranya yang berat mengalun merdu, membuat jantung Ino berpacu.
.
"Aku berdoa, semoga aku bisa selalu berada di sisimu. Seterusnya,"
.
Kalimat itu dikatakan dengan sungguh-sungguh, membuat sanubari Ino seketika bergemuruh. Sensasi menyenangkan itu hadir. Panas. Bahkan panasnya berhasil merambat hingga ke kedua pipi.
Sebagai respon, ia pun memukul dada Sai main-main, "Ish, kau ini. Gombal,"
Sai hanya mengerlingkan kepala ke samping, tidak terlalu mengerti kenapa Ino justru ngambek dengan muka merah pekat.
Gombal? Apa itu? Apa ada yang salah dengan kata-katanya?
Ia ingin menanyai gadis itu, namun melihat Ino yang tampak nyaman mengistirahatkan kepalanya di dadanya, membuat Sai urung.
Maka ia kesampingkan rasa penasarannya, membiarkan dirinya menikmati momen menyenangkan ini dengan mengeratkan pelukannya di tubuh gadis itu.
.
Malam itu dihabiskan dengan suka cita, menjadikannya sebagai salah satu malam yang berkesan dalam lembaran kisah mereka. Membagi afeksi dan rasa syukur dalam setiap gestur, hembus nafas dan lantunan kata.
.
Hari itu ditutup dengan sebuah kecupan yang mereka bagi, diantara kerlip lampu dan perasaan hangat yang melingkupi.
OooO
.
Seperti janji Ino dulu, perayaan hari ulang tahun mereka menjelma menjadi sebuah tradisi.
Dirayakan secara besar-besaran atau sederhana pun—itu tak terlalu penting. Yang terpenting adalah bagaimana mereka mengapresiasi, sebagai bentuk rasa syukur masing-masing bahwa mereka masih ada disini. Masih bisa bersama-sama kembali menyambut hari penuh berkah ini.
Ino di tanggal 23 September. Dan Sai di tanggal 25 November.
Dan Ino juga tak pernah alpa mengucapkan kalimat "Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini, Sai" setiap kali ia berulang tahun. Meski Sai sejujurnya masih belum mengerti seberapa penting esensinya.
Tradisi itu terus mereka lakukan, bersama-sama. Hingga tanpa sadar, tahun demi tahun pun silih berganti.
Sampai akhirnya mereka menikah.
Dan tepat hari ini adalah tanggal 23 September.
Tentu mereka akan merayakannya seperti biasa.
Namun untuk yang kali ini, mereka tak hanya berdua. Ada dua rekan setim Ino, Shikamaru dan Chouji, bersama dengan keluarga mereka masing-masing, Temari dan Karui yang akan menghadiri perayaan ulang tahun Ino.
Ino baru saja hendak mengangkat nampan berisi kue-kue kering yang ada di meja untuk dibawa ke pelataran, ketika tiba-tiba ada tangan yang menghentikannya dan menyambar nampan itu terlebih dahulu.
Ino lantas mendongak.
"Aku kan sudah bilang biar aku saja,"
Suara itu lembut, tapi kentara benar nadanya mengomel.
Ino tertawa kecil karenanya, "Aku hanya ingin membantu,"
Alis Sai terangkat tinggi, "Kau ingat kata Sakura? Wanita hamil tidak boleh terlalu banyak mengangkat-angkat beban,"
Ino mencebik, kedua tangan disilangkan di dada, main-main. "Tapi itu kan ringan. Sama sekali tidak berat,"
Kepala Sai tergeleng, tegas. "Tidak," ia tak menerima penolakan, "Biar aku saja yang mengurus semuanya. Kau duduk dan nikmati saja pestanya. Aku tidak mau kau kelelahan,"
Ino mengulum senyum. Tanpa sadar satu tangannya merambat, beristirahat di perutnya yang membesar. Kandungannya sudah mencapai usia 6 bulan.
Selama 6 bulan terakhir ini juga, Sai menjadi sangat protektif kepada Ino. Ia berusaha semaksimal mungkin memenuhi segala kebutuhan Ino dan calon bayi mereka. Membantunya bekerja, melarangnya melakukan aktivitas berat, menyediakan makanan dan minuman bergizi, lengkap dengan vitamin-vitaminnya. Bahkan tak pernah absen untuk memijati kakinya sebelum tidur. Semua Sai lakukan untuk membuatnya merasa nyaman selama kehamilannya.
Ino bisa merasakan gerakan kecil di dalam sana, diikuti oleh sebuah tendangan kecil di sisi perutnya. Mungkin permintaan si jabang bayi untuk menuruti perintah sang Ayah saja.
Ino akhirnya menghela nafas, mengalah saja, "Ya ya, baiklah, anata. Aku serahkan padamu,"
Sai tersenyum, puas dengan jawaban sang istri.
Bersama-sama keduanya kembali ke pekarangan untuk menemui teman-teman mereka. Ino dan Sai memang sengaja menyelenggarakan sebuah pesta kebun di sebelah green house keluarga Yamanaka untuk merayakan hari ulang tahun Ino yang ke 22.
Ketika mereka keluar, mereka bisa melihat Chouji tengah asyik memakan camilan yang disediakan, Karui tengah menggendong Chocho yang tertidur di pelukannya. Shikamaru tengah bersandar di bawah batang pohon rindang, kedua tangan disilangkan di bawah kepala, sementara Temari duduk di sebuah kursi tepat di sampingnya, tampak sesekali mengusap perutnya yang sudah mencapai usia kandungan 9 bulan.
Hanya ada 6 orang disana, namun tak kalah ramainya.
Mereka berbagi canda dan tawa. Sesekali Ino, Karui, Sai, dan Temari, sahut-sahutan melontarkan komentar blak-blakan. Keempatnya sama sama punya karakter yang berani dan proaktif, tak takut mengutarakan pendapat. Sering kali mereka kontra pendapat, yang kadang membuat Chouji dan Shikamaru panik bukan kepalang. Namun mereka semua tahu, itu tak berarti apa apa. Mereka semua adalah keluarga, lagipula.
Di satu momen kala kue ulang tahun akan didistribusi, Temari mendadak merintih, menunduk sembari mendekap perutnya.
Ino bisa melihat wajah Shikamaru langsung berubah pucat pasi, hampir sepucat suaminya. Bahkan Choji juga. Mungkin Sai sama, tapi kulitnya sudah pucat dari sananya jadi Ino tak yakin.
Sesaat, mereka semua membeku di tempat. Tak ada yang bergerak.
Sampai akhirnya Temari merintih lebih keras, dan Ino pun langsung tersadar.
Naluri medic-nya terpantik, dan ia pun berteriak kepada para pria untuk "Segera bawa Temari ke rumah sakit dan kalian jangan diam saja disitu, bodoh!"
Laksana sebuah ultimatum, mereka semua bergerak.
Shikamaru segera pergi ke sisi Temari untuk memberinya sandaran dan dukungan, sementara Sai bergerak untuk membuat burung Choju Giga yang akan mengantar Temari ke rumah sakit. Karui menggendong Chocho yang mulai menangis, menemani di samping Ino yang memberi mereka instruksi.
.
Semua terjadi begitu cepat.
Sedikit menggelikan juga, kalau Ino boleh jujur.
.
Pesta Ino lalu ditinggalkan begitu saja.
.
Namun tak ada yang peduli.
Yang mereka pedulikan sekarang adalah keadaan Temari dan sang jabang bayi.
.
Dan di tanggal 23 September itu, bersama-sama, mereka pun menanti.
OooO
.
Nara Shikadai lahir 11 jam kemudian.
.
Pembukaan Temari maju sedikit demi sedikit. Shikadai benar-benar mengambil waktunya untuk lahir.
Bahkan medic-nin harus memecah ketubannya untuk mempercepat proses bukaan. Temari hanya memutar mata dan mendengus geli,
"Tipikal Nara, memang. Pemalas,"
.
Nara Shikadai akhirnya resmi lahir pukul 8. 15 malam, tanggal 23 September.
Bertepatan dengan hari ulang tahun Ino.
.
Ino tentu senang bukan main, karena ia bisa berbagi ulang tahun dengan keponakannya.
Sai sebenarnya tidak terlalu mengerti kenapa Ino menyebut Shikadai sebagai keponakannya, padahal mereka tak berbagi darah yang sama. Tapi mungkin karena Ino sudah menganggap Shikamaru layaknya seorang kakak laki-laki, maka otomatis menjadikan Shikadai sebagai keponakannya.
Ino tampak begitu bahagia, terutama ketika ia bisa membawa Shikadai ke dalam dekapannya. Sai setia berada di sampingnya, sesekali mengingatkannya untuk berhati-hati. Bersama mereka menunduk, mengamati Shikadai yang ada di dekapan Ino.
"Ia mirip sekali dengan Shikamaru," komentar Ino dengan nada mengawang.
Sai mengangguk setuju. Bayi laki-laki itu kecil, tampan, dan rambutnya berwarna hitam seperti sang Ayah. Ia seperti replika mungil Shikamaru.
Shikadai kini tertidur pulas di pelukan Ino. Desah nafas kecilnya mengalun halus, kelopak matanya tertutup, menyembunyikan bola mata jade yang diturunkan sang Ibu.
Ino masih saja betah mengamati Shikadai di gendongannya, menimang-nimangnya. Air mukanya damai, dan sorot matanya begitu lembut. Senyumnya juga tak henti-hentinya luntur.
Sesaat, Ino tampak... bercahaya.
Hati Sai berdesir menyenangkan. Melihat bagaimana Ino menggendong Shikadai penuh kasih sayang.
Pikirannya berkelana, dan ia mulai lancang membayangkan Ino dengan bayi mereka kelak.
Bagaimana Ino akan dengan telaten merawatnya, menggendongnya dan memberinya afeksi tanpa batas. Gambaran itu membawa hasrat yang tak bisa ditahannya, rasa tidak sabar ingin segera menimang bayi mereka juga.
.
"Ia adalah kado terbaik di hari ulang tahunku kali ini," ucap Ino padanya.
Sai melihat bagaimana Ino lantas membawa Shikadai lebih dekat ke wajahnya, tersenyum simpul pada sang bayi,
"Selamat datang, Shikadai," bisik Ino di telinga mungilnya, dengan kelembutan tiada terkira,
.
"Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini..."
.
OooO
.
Sai menghela nafas.
Kepalanya terdongak, memandangi langit malam yang saat ini memayungi.
Sai kini duduk di atas pohon besar di hutan Kirigakure, menyandarkan punggung pada batang besar pohon di belakangnya.
Malam ini kebetulan adalah jatahnya berjaga.
Baru saja lewat tengah malam. Hari pun berganti. Resmi berganti menjadi tanggal 25 November.
Yang itu artinya, hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 23.
Sayang, ia tak bisa melakukan tradisinya merayakan ulang tahun bersama Ino seperti biasa, karena ia harus pergi misi keluar desa. Akibatnya, mereka pun harus terpisah fisik selama beberapa waktu.
Kemarin ketika Sai diberikan amanat misi oleh hokage keenam, jujur ia ragu menyanggupi.
Alasan utamanya adalah karena Ino sudah mencapai trimester ketiga. Yah, walaupun HPL dari healer mengatakan Ino akan melahirkan di akhir Desember dan misinya hanya perlu waktu sekitar 2 minggu saja—bahkan mungkin bisa lebih cepat jika semua urusan telah selesai. Jadi sebenarnya Sai tak perlu cemas ia tak bisa mendampingi persalinan Ino. Semuanya akan baik baik saja.
Namun tetap saja, Sai khawatir. Hatinya mau tak mau jadi gelisah sendiri.
Kakashi mengatakan bahwa ia tak punya pilihan lain menugaskan Sai. Meski sang Hokage tahu itu berat, mengingat istri bawahannya itu saat ini tengah hamil besar. Rasanya tidak etis kalau mengirimnya keluar desa, memang. Tapi mau bagaimana lagi? Sai adalah salah satu ninja elite yang ahli dalam misi penyamaran. Dan misi kali ini benar benar urgent dan membutuhkan kemampuannya. Terlebih SDM yang ada sangatlah minim untuk saat ini. Kebanyakan ninja sedang sibuk-sibuknya dengan tugas masing-masing untuk kemajuan desa yang lebih baik. Jadi Kakashi terpaksa.
Melihat Kakashi yang merasa bersalah, tetapi juga menatapnya penuh harap, dan berbekal dari kata-kata Ino yang berusaha meyakinkannya bahwa, "Aku akan baik baik saja, Sai. Misimu kan hanya memakan waktu 2 minggu. Lagipula aku punya Kaa-san dan teman teman lain yang akan menemaniku. Aku tak akan sendirian," Ino tersenyum menenangkan kala itu, "Kau tidak perlu cemas. Fokus saja pada misimu dan kembalilah dengan selamat, oke? Kami akan menunggumu,"
—maka akhirnya Sai pun menerima misi itu.
Walau harus dengan berat hati.
Ini adalah hari kedua misi, dan ia sebagai ketua tim memerintahkan rekannya untuk beristirahat dulu di hutan sebelum mereka melanjutkan perjalanan esok hari. Mereka butuh mengisi energi.
.
"Sai?"
Sai berkedip, kala ia mendengar suara itu tetiba bergema di kepalanya.
"Halo, Sai?"
Sekali lagi ia berkedip, berusaha menyakinkan bahwa suara yang berdengung di kepala itu bukanlah hasil dari halusinasi belaka hanya karena Sai merindukan dia.
"Saiiiii?"
Suara itu berubah penuh urgensi, tak sabaran. Maka ia cepat merespon,
"Ino..."
Sai akhirnya baru benar-benar yakin bahwa ini bukan sekedar bualan imajinasi, tetapi memang benar-benar Ino yang menghubunginya dengan jutsu telepatinya.
Seharusnya Sai tak perlu terkejut. Ino memang terkadang suka menghubunginya via telepati.
Dan beberapa menit yang lalu adalah resmi hari ulang tahunnya. Ia yakin Ino pasti bertekad untuk tetap merayakan ulang tahunnya dengan caranya sendiri, meski mereka harus berjauhan seperti ini. Jarak tak menjadi arang rintang untuk Ino sepertinya.
Sai tak sadar bibirnya melengkung dengan sendirinya, mengingat sang istri yang berada nan jauh disana.
Ino memang punya determinasi tinggi. Ia tak pernah berubah.
"Kau belum tidur?" tanya Sai dengan lembut. Kerutan di dahinya sedetik kemudian muncul, meski Ino tak bisa melihatnya, namun ia yakin sang istri bisa membayangkannya ketika akhirnya ia mewejangi,
"Ini sudah lewat tengah malam. Wanita hamil itu harus istirahat dan tidur dengan baik. Kalau kau tidur terlalu larut, itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kalau alasanmu bangun untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun untukku, kau bisa melakukannya pagi nanti, Ino. Kau—"
Ia mendengar Ino tertawa merdu dari seberang, "Ih, kau ini. Kalau soal begituan bisa jadi cerewet sekali ya," protesnya, "Aku memang ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Tapi ini sebagian besar ulah anakmu, tahu,"
Sai berkedip tak mengerti, "Apa?"
"Iya, tiba-tiba saja ia menendang-nendangku. Cukup keras hingga aku akhirnya terbangun," Ino terkekeh, "Mungkin ia sengaja melakukannya karena ia tahu Ayahnya hari ini berulang tahun. Dan ia membangunkanku agar aku bisa mengucapkan selamat padamu tepat setelah jam 12 terlewat," Ino terdengar menghela nafas,
"Aku rasa ia tahu Ayahnya tidak disini," desahnya di kepala Sai,
.
"Dia merindukanmu juga..."
.
Untaian kalimat itu membuat dada Sai bergemuruh. Bercampur antara perasaan haru, senang, dan sedih.
Haru dan senang karena ia bisa mendengar suara Ino dan mengetahui bahwa mereka bertiga punya ikatan emosional yang kuat sebagai keluarga. Sedih karena ia harus jauh dari mereka berdua sekarang.
"...Aku juga merindukanmu," Sai berkata pelan. Sedikit parau seperti tercekat di tenggorokan. Menahan gelombang emosi yang membanjiri diri, "Aku merindukan kalian," bisiknya.
Sai mendengar Ino terkekeh lagi, suaranya mengalir lembut kala ia akhirnya berkata, "Selamat ulang tahun, Sai,"
Sai kontan tersenyum, "Terima kasih, Ino,"
"Kau saat ini sedang apa?"
"Aku sedang berjaga saja, sementara anggota yang lain tertidur," ia melirik ke arah tenda tenda yang berdiri di bawah sana.
"Ketika nanti sudah bergantian shift, segeralah beristirahat ya. Jangan lupa makan dan jaga kesehatanmu. Kau ini kan sering lupa makan, aku tidak mau kau sampai begitu lagi—"
"Ternyata kau juga sama cerewetnya kalau soal ini," Sai menggodanya, sembari mengulum senyum. Kepalanya terdongak memandang langit malam penuh bintang, "Iya. Aku janji akan menjaga kesehatanku. Kau juga harus janji juga,"
"Tentu saja!"
"Nah, karena kau sudah berjanji menjaga kesehatanmu, segera kembali tidur oke? Kau sudah memberikan ucapan selamatmu kan?"
Ia bisa mendengar Ino menghela nafas, agak tak rela memutus sambungan—Sai pun merasa demikian. Ia masih ingin lebih lama mendengar lantunan suara wanita itu. Suaranya mampu membawa damai yang dibutuhkannya. Namun ia tahu Ino membutuhkan istirahatnya.
"Selamat malam, Ino," bisiknya kepada partikel-partikel udara, seolah berdoa ia bisa ada disana ketika ia mengucapkannya.
"Selamat malam, anata," balas Ino, "Sekali lagi selamat ulang tahun,"
Suaranya mengalun bagai lantunan lagu, melingkupi Sai dengan segala kehangatan yang ia bawa. Ino pun mengucapkan kalimat andalannya, yang menjadi pelengkap tradisi mereka.
.
"...Dan terima kasih sudah terlahir ke dunia ini..."
.
OooO
.
Sepuluh hari setelah itu, Sai tak membayangkan ia akan menyelesaikan misinya lebih cepat.
Ia juga tak membayangkan dirinya akan berlarian di koridor rumah sakit seperti ini. Dengan langkah cepat dan nafas memburu tak terkendali.
Tatapan heran para pengunjung dan medic-nin diabaikannya.
Yang ada di otaknya saat ini hanyalah Ino, Ino, dan Ino.
Sai buru-buru kembali ke desa setelah dihubungi Kakashi bahwa Ino dibawa ke rumah sakit karena ketubannya tiba-tiba pecah. Berita itu seolah seperti bom, memporak-porandakan akal sehatnya dan membuat darahnya seketika beku. Otaknya tiba-tiba berhenti bekerja. Pikirannya kalut begitu saja.
Anggota timnya memberinya izin untuk lebih dulu pulang. Dan tanpa ragu lagi, Sai mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa mencapai desa lebih cepat dengan burung chouju giga-nya.
Ia merutuk dalam hati menyadari betapa jauhnya jarak tempat misinya dengan desa. Apalagi Sai pernah berjanji dia akan mendampingi Ino ketika ia bersalin.
Kenapa bisa? Bukankah kata healer saat check up tetakhir, HPL-nya ada di akhir Desember? Kenapa sekarang sudah akan lahir? Apa sesuatu yang buruk terjadi? Dan kenapa juga ia harus berada diluar desa disaat saat seperti ini?
Sai bisa merasakan dirinya kesal.
Marah. Pada keadaan. Pada dirinya sendiri.
Ketika ia mencapai bangsal maternitas, ia segera menuju ke bagian resepsionis. Dengan nafas yang masih belum stabil, ia pun bertanya, "Ino... Yamanaka..." ujarnya dengan nafas yang masih terputus-putus, "Ino... dia katanya dibawa kesini...dimana dia?" Sai menuntut jawaban, dengan kedua bola matanya yang bergulir gelisah, tapi tajam.
Medic nin yang berjaga bergegas membuka dokumen untuk memeriksa entri pasien hari itu. Namun menurut Sai, ia terlalu lama.
Otaknya meraung untuk segera mendapat jawaban, namun tak kunjung datang. Panik luar biasa membuat kepalanya sakit, dan perutnya serasa dikocok paksa. Ia merasa mual. Pening.
Kedua tangannya tanpa sadar terkepal. Ia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berteriak frustasi dan—
"Sai?"
Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari ujung koridor, membuat kepalanya seketika tertoleh. Kelegaan membanjiri dirinya melihat rekan setimnya menghampirinya,
"Sakura..." lirihnya.
Sakura mengatakan pada medic nin di meja resepsionis bahwa ia yang akan mengurusi ini, sebelum kemudian berkata pada lelaki itu, "Ikuti aku," kata Sakura, kemudian berbalik menyusuri koridor. Sai mengikuti, menyesuaikan langkah sehingga ia bisa berada di sisi Sakura.
"Kau berhasil sampai ke desa tepat waktu," komentar Sakura.
"Aku mengerahkan chakra-ku semaksimal mungkin untuk bisa segera pulang,"-meskipun Sai harus merasa lelah karena jumlah besar chakra yang harus dikeluarkannya, setelah ia menempuh perjalanan jauh tanpa sekalipun istirahat. Namun ia tak peduli.
Sai menoleh pada Sakura. Dan Sakura yang baru benar-benar mengamati Sai, bisa melihat bagaimana kacaunya rekan setimnya itu sekarang.
Ini adalah kali pertama Sakura melihat Sai kehilangan kendali emosinya.
Alisnya menukik tajam, wajahnya yang pucat tampak layu. Rahangnya mengeras, tegas. Dan sorot matanya gelisah. Ia tampak sangat khawatir.
Sakura terkadang masih suka dibuat takjub akan bagaimana perubahan Sai yang sekarang, jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu saat Sakura pertama kali bertemu dengannya. Sai yang sekarang sudah jauh lebih berkembang ke arah yang lebih baik.
"Apakah mereka baik baik saja?" Sai akhirnya memberanikan diri bertanya. Volume suaranya rendah, namun Sakura masih bisa menangkapnya.
Sakura menghela nafas, "Tadi sempat ada komplikasi saat persalinan, sehingga kami harus membawanya ke ICU,"
Jantung Sai seakan berhenti detik itu juga.
Komplikasi? ICU...?
"Tekanan darah Ino dan saturasi oksigennya tadi tidak stabil,"
Sai merasa mualnya kembali datang. Dan kaki-kakinya serasa gemetar. Tiba tiba saja pandangannya serasa berkunang-kunang.
Kalau saja Sakura tak menahannya, Sai yakin ia mungkin sudah membiarkan dirinya merosot ke lantai dingin rumah sakit. Bayangan visual akan darah, kematian, berkelebat tanpa bisa dicegah di kepalanya.
"Sai, tenanglah. Kau terlihat sangat kacau," Sakura membawanya ke kursi yang tersedia, "Kau pucat sekali. Yah lebih pucat dari biasanya. Coba tarik nafasmu, pelan pelan. Dan cobalah jangan memikirkan apapun saat ini,"
Sai mengangguk tanpa suara. Menutup matanya, lalu mengatur nafasnya, sesuai instruksi Sakura.
Ia memaksa dirinya untuk tenang. Membiarkan dirinya membayangkan Ino, wajahnya, suaranya, dan meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik baik saja. Tarik. Hembuskan. Tarik. Hembuskan. Begitu seterusnya.
Setelah merasa ia akhirnya berhasil menguasai dirinya, ia pun membuka mata. Menemukan Sakura tengah tersenyum kepadanya,
"Bagaimana perasaanmu?"
Sai hanya mengangguk sebagai respon.
Sakura mengangguk, "Kau tidak perlu cemas. Kami tadi memang sempat membawanya ke ICU sebagai prosedur perawatan pemulihan pasca operasi, sekaligus berusaha menstabilkannya kembali," Gadis jelita berambut merah jambu itu lalu tersenyum, "Keadaan Ino sekarang sudah stabil, sehingga ia bisa dipindahkan ke ruang perawatan untuk pemulihan. Sementara bayimu baik-baik saja. Ia ada bersama Ino sekarang, sedang menyusu,"
Sakura mengerling kepadanya, memberinya senyum jahil, "Kuberitahu, bayimu itu punya paru-paru yang bagus. Ia menangis kencang begitu ia mengambil nafas pertamanya. Aku rasa ia mewarisinya dari Ino,"
Sai menghembuskan nafasnya. Kelegaan luar biasa membanjiri relung sanubarinya mendengar perkataan Sakura. Ia lalu bangkit berdiri dari kursinya, meski kakinya masih terasa lemas. Matanya menegas, determinasi memancar jelas.
"Aku ingin melihat mereka,"
Sakura ikut berdiri, memimpinnya menuju ke ruangan tempat Ino berada.
Detik begitu Sai melewati ambang pintu, nafasnya serasa dicuri. Jantungnya berdentum hebat dari balik tulang rusuknya. Rasanya ia ingin merosot ke lantai saja, kalau tak ada Sakura yang memegangi bahunya.
Ia hanya bisa ternganga melihat sang istri yang terbaring di ranjang, punggung menyandar di headboard. Ia juga bisa dengan jelas menangkap buntalan selimut yang Ino tengah dekap ke dadanya.
Ino mendongakan kepala dari bayi di gendongannya. Wajahnya pucat dan sayu, namun binar matanya memancar cerah. Memantulkan kebahagiaan yang membuncah.
"Sai..." suaranya meluncur merdu ke seberang ruangan. Ia mengulurkan satu tangannya yang bebas, melambai ke arahnya untuk memintanya mendekat,
"Kemarilah,"
Sakura mendorong Sai untuk mendekat, sebelum akhirnya undur diri untuk memberikan pasangan itu momen privasi.
Menarik nafas dalam dalam, Sai membawa kakinya mendekat.
Semakin ia mendekat, ia bisa merasakan jantungnya makin menggedor hebat, kakinya mulai terasa gemetar penuh antisipasi. Ino sedikit bergeser, dan memintanya untuk duduk di ranjang bersamanya.
Begitu Sai telah mendudukan dirinya, Ino mengulurkan lengannya dan mempersembahkan bayi mereka yang sedari tadi ia dekap erat.
Jantung dan nafasnya makin berpacu cepat, dan Sai pun terkesiap, kala pandangannya terjatuh pada sang buah hati di gendongan Ino.
Bayi mereka indah.
Hal paling indah yang pernah dilihatnya selama hidup.
Cukup montok. Rambutnya lebat ketimbang bayi pada umumnya. Terlihat lembut, berwarna pirang platina seperti milik Ino.
Pipinya chubby, berwarna kemerahan layaknya buah persik segar, kontras dengan kulitnya yang pucat. Warna kulit yang mana ia warisi dari Sai.
Dan matanya... matanya yang bulat, bergulir ke arah Ino dan dirinya. Penuh rasa penasaran. Penuh rasa keingintahuan akan dunia barunya.
Matanya cantik.
Birunya sebiru samudra. Serona dengan iris milik Ino yang selalu disukainya.
Sai sempat berpikir bayinya adalah perempuan. Ia tampak cantik, mirip dengan Ino sekali. Namun melihat gelang di pergelangan tangan chubby-nya yang berwarna biru, ia tahu ia adalah Ayah dari seorang putra Yamanaka.
Semakin Sai mengamatinya, Sai merasa bahwa bayi mereka punya struktur facial mirip dengannya, namun dengan rambut dan bola mata yang ia warisi dari Ino. Bayi mereka adalah separuh dirinya, dan separuh Ino.
Dengan kata lain, ia sempurna.
Ia merupakan perpaduan sempurna mereka berdua.
Ino yang mengamati bagaimana Sai tampak terpana pun tersenyum, dan menggumam lembut, "Kurasa dia adalah hadiahmu. Hadiah kepulanganmu sekaligus hadiah ulang tahunmu yang sangat terlambat,"
Sai bisa merasakan emosi berkecamuk dalam dadanya. Bahagia, adalah yang paling besar ia rasakan.
Kebahagiaan itu terasa begitu besar, hingga akhirnya tumpah ruah. Satu air matanya lolos, mengalir menuruni pipi.
"Ini adalah hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan dalam hidupku," ucapnya dengan nada gemetar, disela tangisnya.
"Meskipun sangat terlambat?"
Sai mengangguk, masih dengan air mata yang kini mulai turun makin bebas. Ia kembali mengamati bayi mereka, merasakan bibirnya membentuk sebuah senyum, "Meskipun terlambat," bisiknya, lirih, "Tapi hadiah ini sempurna. Dia sempurna,"
Sai tak menyangka ia bisa merasakan sebegitu banyaknya emosi dalam satu waktu. Sensasi hangat yang melingkupi dadanya terasa begitu besar dan mengkonsumsinya tanpa ampun.
"Jangan menangis," Ino terkekeh, mengusap pipi Sai yang basah dengan tangannya yang bebas, "Kau mau menggendongnya?"
Kepala Sai terdongak cepat, menatap Ino tak percaya, "A-aku tidak—" ia menggeleng, putus asa, "Aku tidak bisa,"
"Tentu saja bisa," Ino bersikukuh.
Sai menggigit bibirnya, "Nanti kalau jatuh bagaimana?"
"Tidak akan," kata Ino yakin, "Percayalah pada dirimu. Kau Ayahnya. Aku yakin kau tidak akan menyakitinya,"
Menatap Ino dan bayinya secara bergantian selama beberapa waktu, Sai pun akhirnya mengangguk juga. Ino memberinya petunjuk bagaimana baiknya posisi lengannya untuk menyangga bayi. "Selalu sangga leher dan kepalanya," kata Ino mengingatkan.
Tiba-tiba saja bayi itu sudah berpindah ke gendongan Sai. Bayi mereka terasa ringan, namun juga berat disaat yang bersamaan.
Sai sejujurnya masih takut, salah gerakan sekali saja, ia takut akan menyakiti atau menghancurkan makhluk berharga di tangannya itu.
Namun reasuransi dari Ino membuatnya tenang dan lebih yakin. Ino membuatnya kuat. Selalu begitu.
Maka ia pun mengeratkan gendongannya, mendekatkan wajah bayi mereka yang kini menatap lurus kepadanya, berkedip-kedip dengan kelereng bulatnya. Sai tersenyum sekali lagi. Rasanya begitu mudah untuk tersenyum padanya.
"Siapa menurutmu namanya?" Ino mendadak memecah momen damai yang diciptakan oleh pasangan Ayah dan anak itu.
"Inojin..." Ia memaksa dirinya mengalihkan pandang dari Inojin untuk mengerling pada Ino, "Bagaimana menurutmu?"
Ino tersenyum, "Jin dari homofon kanji Shin?"
Sai mengangguk, tetapi ekspresi wajahnya meragu, "Kalau kau tidak keberatan...?"
"Tentu saja aku tidak keberatan," senyum Ino melebar, telunjuknya terjulur untuk mengusap rambut halus Inojin di kepalanya, "Inojin Yamanaka. Aku menyukainya,"
Inojin Yamanaka.
Sekali lagi Sai menunduk mengamati wajah putranya. Satu tangannya ia gunakan untuk menelusuri wajah Inojin. Dahi, kelopak mata, hidung, bibir—semuanya. Kulitnya terasa sangat lembut di bawah sentuhan jemari Sai.
Jari Sai lalu turun, perlahan lahan. Membelai lengan lalu ke kelima jari mungil Inojin yang terkepal. Ia bermain-main dengan satu tangan Inojin, hingga akhirnya ia bisa merasakan satu jarinya dilingkupi oleh jari-jemari putranya.
Jari bayinya sangat mungil. Gerakannya pelan, lembut dan hati-hati. Genggamannya pun lemah, namun Sai merasa itu adalah salah satu momen terbaik dan paling kuat dihidupnya.
Pelupuk matanya mulai berair kembali.
Dan satu air matanya lolos lagi, jatuh mengenai pipi Inojin hingga bayi mereka itu mengernyit kecil.
Ia mendekatkan wajah Inojin ke arahnya, berbisik di telinga putranya. Melafalkannya dengan penuh rasa syukur tak terbendung—
.
"Terima kasih..." Sai berbisik, kemudian mengecup kening Inojin, lama,
.
"Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini..."
.
Sai baru benar-benar memahami kalimat itu sekarang.
.
.
Terima kasih, Inojin.
.
Terima kasih sudah hadir disini.
Terima kasih juga sudah memilihku sebagai Ayahmu.
.
.
Inojin Yamanaka...
Selamat datang ke dunia.
fin
.
