Work Text:
Matahari sudah mengintip malu-malu dari peraduan, namun lelaki bersurai abu itu masih ribut dengan segala pemikiran rumit di kepalanya. Gram belum tidur semalaman—lebih tepatnya tidak bisa tidur. Pesan teks terakhir yang dikirimkan Black tadi malam terus menghantui juga menimbulkan banyak spekulasi dalam benaknya. Bahkan sekujur tubuhnya bereaksi cukup berlebihan kali ini. Bagaimana wajahnya memerah seperti kelopak mawar yang merekah, dentuman jantungnya yang ricuh, dan bibir tidak ada lelahnya mengulas senyum. Gram mengira dirinya mungkin berada di tahap nyaris gila sungguhan hanya karena pesan teks.
Bisa dikatakan dia tidak begitu sering berbalas pesan dengan Black di luar kepentingan perkuliahan atau urusan gang. Jadi ketika tadi malam mereka menghabiskan berjam-jam untuk sekadar berbicara hal-hal abstrak sampai merembet pada urusan pribadi, mustahil Gram tidak merasa kegirangan—juga sedikit bingung di saat yang bersamaan.
Black: Kalo butuh waktu buat sendiri ya gapapa, asal bilang dulu
Black: Jangan nanti tiba-tiba ilang gitu aja
Black: Tapi emangnya lo bisa jauh dari gue? Haha
Gram: Lo sendiri bisa gak jauh dari gue?
Black: Bisalah
Black: Tapi jangan sampe kejadian sih
Gram ingin menampar Black, mengonfirmasi apakah dia dalam keadaan sadar total ketika berbicara demikian atau tidak. Tetapi di sisi lain Gram juga ingin memeluk lelaki itu, mengistirahatkan kepala di bahunya dan menatap mata tajamnya seharian penuh. Andai kata dia punya kekuatan membaca pikiran, pasti seisi kepala Black sudah Gram telusuri sejauh mungkin demi mencari jawaban dari setiap kata-katanya. Tidak perlu lagi menebak-nebak yang mana itu akan membuat kepala berputar serta timbul banyak cabang kemungkinan.
Masa iya Black juga suka sama gue?
Masa iya perasaan gue nggak bertepuk sebelah tangan lagi?
Atau dia cuma berempati sama gue?
Gram meraih kunci motor yang tergeletak di atas meja belajar, mengganti pakaiannya, lalu berhenti sejenak di hadapan cermin. Oke, tampangnya sangat menggambarkan seseorang yang belum tidur semalaman. Gram meringis. Dia melangkah ke kamar mandi, membasuh wajah kantuknya dengan air, lalu menyisir rambut abunya ke belakang melalui celah-celah jari. Masih terlalu pagi untuk bertamu, namun Gram tidak peduli. Gerungan motor kemudian terdengar bising. Kediaman Black menjadi tujuannya saat ini.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di depan pintu kayu kediaman Black. Suasana di sini senyap, belum terlihat banyak aktivitas selain satpam yang berjaga dan burung-burung gereja yang bertengger nyaman. Gram sepenuhnya yakin lelaki di dalam sana belum terbangun, apalagi hari ini adalah Hari Minggu.
Tiga kali pintu diketuk, namun Gram belum mendapatkan respon apapun.
“Black,” panggil Gram untuk kesekian kalinya. Pasti nanti Black akan mengomel akibat telah mengganggu waktu berharga tidur lelapnya. Biar saja, toh Gram juga tidak keberatan. Suara Black adalah kesukaannya. Walaupun terdengar sinis, menjengkelkan, atau membuat telinganya berdengung, Gram tidak pernah tidak suka. He loves Black that much, head over heels for him.
Pintu terbuka. Black muncul dengan muka bantal dan mata yang menyipit. Rambut mencuat kesana-kemari mengundang tangan Gram untuk menyentuhnya. Sedikit dia sentuh pada ujung-ujungnya, membuat si pemilik semakin melayangkan tatapan tajam yang sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi Gram.
Senyumnya mengembang lebar. “Pagi, Black.”
“Ngapain?” tanya Black langsung tanpa butuh basa-basi. Dia sudah berjanji dalam hati akan menendang lelaki di hadapannya ini jika jawaban yang diberikan tidak berguna sama sekali.
“Numpang tidur,” balasnya impulsif. Namun alasan yang Gram katakan tidak sepenuhnya salah. Dia tidak bisa tidur semalaman dan yang jadi penyebab semua itu adalah Black. Anggap saja ini sebuah bentuk dari pertanggungjawaban. “gue belum tidur sama sekali. Ngantuk.”
Gram menempatkan lengannya pada bahu Black dan membawanya masuk sebelum dia sempat melayangkan protes dalam bentuk apapun. Kediaman Black bukan sesuatu yang asing baginya, melainkan sesuatu yang terasa dekat. Pada kubikel sederhana ini Gram menemukan apa yang banyak orang sebut sebagai tempat pulang. Rumah nyaman yang ingin ia tinggali sampai tua, berwujud seorang manusia dengan gelap yang menariknya untuk menetap.
Gram menjatuhkan diri ke atas ranjang setelah melepas rengkuhannya pada bahu Black. Sementara Black masih berdiri menyilangkan lengan, matanya mengunci segala gerak-gerik lelaki yang mengambil alih teritorinya.
“You ruined my Sunday morning. Gue masih mau tidur asal lo tau,” gerutu Black.
“Tinggal tidur lagi apa susahnya,” Gram menggeser tubuhnya semakin jauh dari tepi ranjang, kemudian menepuk-nepuk bagian kosong di sebelahnya. “Sini, sekalian temenin gue tidur,”
Hari libur adalah hari paling tepat bagi Black untuk mengistirahatkan total tubuhnya setelah dikuras penuh oleh aktivitas yang cukup banyak, apalagi dia sering melibatkan fisik. Dan waktu istirahatnya sekarang telah dikacaukan. Black bisa saja menarik paksa Gram lalu mendorongnya jauh-jauh ke luar pintu, namun dia memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Perlahan Black menaiki ranjang, merebahkan tubuh di ruang kosong yang Gram sediakan. Meskipun diawali dengan decakan sebal dan tatapan malasnya, tetapi Black memilih untuk membiarkan, sekaligus memenuhi permintaan yang Gram utarakan.
“Kenapa?”
“Hm?” Gram membuka kembali kelopak matanya (dia benar-benar mencoba untuk tidur), kemudian menoleh ke arah Black yang memusatkan seluruh atensinya pada langit-langit kamar.
“Kenapa nggak tidur semaleman,”
“Oh itu,” Lagi-lagi bibirnya menorehkan senyum kecil. “jantung gue tiba-tiba detaknya cepet banget, jadi nggak bisa tidur.”
Kepala Black langsung menoleh secepat cahaya. “Lo sakit?” Tatapannya melunak, begitu juga dengan suaranya. “Tadi malem lo nggak bilang apapun,”
Mata bertemu mata, Gram menahan napasnya sepersekian detik tanpa sadar. Dia berusaha keras untuk bersikap biasa. “Gue nggak sakit. Kejadiannya memang habis kita chatting,”—dan semua itu gara-gara lo.
“Harusnya lo bilang,”
“Kalau gue bilang apa lo bakalan langsung datengin gue?” Bibir Black mengatup rapat setelah Gram berujar demikian. “Lo … bakalan langsung dateng?” ulangnya sekali lagi.
Cepat-cepat Black menggelengkan kepala. Terlalu kentara bagi Gram jika lelaki di sampingnya ini terlihat sedikit gelisah. “Enggak,” tukas Black. “tapi mungkin gue bisa mundurin waktu tidur gue tadi malem.”
“Untuk?”
“Talk with you a little longer, idiot.”
Gram ingin meledak. Senyuman lebarnya tidak bisa ditahan sekuat apapun dia berusaha. Mengetahui fakta bahwa Black peduli padanya seperti ini sudah lebih dari cukup mengisi kadar kebahagiaan Gram selama seharian penuh—atau bahkan untuk tiga hari ke depan.
“Sebagai gantinya jadi sekarang aja gimana?”
“Katanya ngantuk,” Black kembali menatap langit-langit kamar, kemudian menghirup udara dalam-dalam. Dia menyukai atmosfer ini. “Tidur, Gram.”
Kelopak mata Black perlahan menutup, satu tangannya berpindah ke belakang kepala, dada naik-turun dengan teratur; semua itu tidak luput dari perhatian Gram. Terlebih siluet yang tercipta jika dilihat dari samping, mengundangnya untuk melimpahkan banyak pujian lagi. Dia bisa bertahan selama berjam-jam mengamati Black yang sedang tertidur seperti sekarang. Pemandangan ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
“Black,” panggilannya hanya dibalas dengan dehaman ringan. Lelaki itu rupanya belum tidur. “Nanti sore lo mau ngapain?”
“Nggak tau,”
“Motoran yuk sama gue. Mau?”
Black kembali menjawab dengan dehaman. Tampaknya dia benar-benar akan tertidur.
Gram terkekeh sejenak. “Gue anggap itu iya.”
Andai saja menanyakan perihal perasaan semudah mengajak Black untuk menyusuri jalan dengan gerungan sepeda motor yang beriringan. Mungkin Gram tidak perlu repot-repot mengatasi rasa takutnya yang menjelma jadi kekhawatiran berlebih akan kehilangan. Mungkin keberanian itu sebenarnya sudah ada, namun sedang terkubur dalam-dalam oleh segala pikiran buruk yang berkelana di otaknya. Dalam beberapa kesempatan, Gram merasa payah. Sangat payah.
Hening cukup lama menyelimuti keduanya. Gram memiringkan tubuh ke arah Black dan sebelah tangan dijadikan bantalan. “Sorry for ruining your day,” bisiknya pelan. Jemarinya terangkat merapikan helaian rambut Black yang menutup dahi. “Have a good sleep, Black.”
Gram mulai menutup kedua matanya, mengatur napas, dan semakin dalam menjelajah alam bawah sadar—tanpa tahu lelaki yang disangkanya telah tertidur lebih dulu kini menaikkan sedikit sudut bibirnya.
Not really tho. Sleep tight, Gram.
