Actions

Work Header

Igloo

Summary:

Hari itu, musim salju sedang berlangsung. Benar-benar cuaca yang cocok untuk membangun sebuah Igloo.

"Mari, akhiri saja.."

"Tidakkah kau percaya barang sekali saja, bahwasanya hubungan kita bisa kembali? Seperti sebuah Igloo yang dibangun lagi?"

Tapi, benar. Sewaktu-waktu Igloo dapat mencair.

Notes:

Saya nulis ini dengan ide yang teramat mentok.
Mungkin saya kena writer block.

Seperti buku sebelumnya, buku ini saya labeli dengan 15+

 

- penulis, @yrsfh_

Work Text:

"Bukankah ini rasanya seperti mengucapkan selamat tinggal pada musim dingin?"

-

"Kalau begitu, haruskah aku bertahan, Kanda?"

_

"Bisakah kita membangun Igloo kembali, seperti dulu?"

 

Hari itu, memasuki musim dingin. Salju menari menuju tanah dan menghiasinya dengan warna putih suci. Suara cekikkan dan sorak sorai menyambut musim dingin terdengar dari alun-alun kota. Seorang pria dengan surai kuning kecokelatannya menghiraukan kehadiran salju yang turun di musim dingin ini. Dirinya tengah menanti seseorang. Seseorang yang teramat cantik di matanya, juga orang yang ia cintai sepenuh hati. Muda-mudi, lansia, anak-anak, orang dewasa mengerumuni alun-alun dengan hebohnya, selayaknya menyambut penemuan langka yang baru saja ditemukan peneliti tersohor. Kanda menoleh, masih mencari kehadiran Gundou ditengah kerumunan yang sesak. "Kanda." Sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil ditengah keramaian, namun dirinya tak bisa melihat figur si pemanggil nama. Salah dengar? Mungkin saja sih, batin Kanda. Matanya menghiraukan keadaan sekitar, hanya terfokus pada ponsel yang ia genggam. "Kanda." Namanya dipanggil kembali oleh entah siapa. Jika harus jujur, Kanda merasa terganggu dengan si pemanggil nama yang tak kunjung muncul batang hidungnya di hadapannya.

Seolah itu adalah guyonan untuk memulai musim dinginnya.

"Kanda!"

Pekikkan itu merebut atensi Kanda, giliran sosoknyalah yang hadir di hadapan Kanda. Hoshikawa Sara, teman akrabnya dengan Gundou. "Aduh-aduh tampaknya kau dan Gundou akan berkencan di musim dingin ini?" goda Hoshikawa tanpa malu. Dirinya itu terkadang dengan lantang mengatakan bahwa Kanda dan Gundou adalah kekasih mesra yang serasi. Namun, hal itu tak bisa disangkal, keduanya memang nampak seperti sepasang kekasih yang memiliki niat untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius dari ini. Pada kenyataannya pun, Kanda akan melangkah lebih dahulu untuk menawarkan Gundou sebuah tawaran, yang tidak akan ia ulangi selama hidupnya. Sebuah tawaran krusial yang menentukan hubungannya dengan Gundou kedepannya. "Benar, ya? Kau kemari untuk mengajak Gundou kencan? Hee.. Tapi ini musim yang cocok untuk 'menghangatkan' diri, ya?" Pipi Kanda memerah sebab suhu dingin dan godaan Hoshikawa. Tapi, Kanda. Semua itu ada benarnya, bukan?  Tak sepenuhnya salah apa yang diucapkan Hoshikawa tadi. Hanya Kanda saja yang malu-malu mengiyakannya. "Kau diamlah," desis Kanda yang sebal lantaran Hoshikawa masih menggodanya.

Meski begitu, hatinya berdebar tiap kali mendengar nama Gundou Mirei yang disebut-sebut. Wanita yang ia cintai. Juga wanita yang ingin ia nikahi. Dirinya percaya, suatu saat nanti, ada kalanya keinginan itu menjadi kenyataan. Dan ia masih menunggu keajaiaban itu hadir. "Karena aku tidak mau jadi nyamuk di antara kalian yang bermesraan, aku akan pamit. Sukses kencannya!" Hoshikawa memekik di keramaian dengan lantang, tentu saja mengundang sorotan mata banyak orang. Sosok Kanda kembali berdiri sendiri. Di sekelilingnya, muda-mudi dimabuk cinta pada musim dingin lalu lalang di dekatnya. Sembari berpegangan tangan, sembari bercerita dan mendongeng, sembari memadu rasa. Ah, Kanda.. itu keinginanmu, bukan? Bersama Gundou di bawah langit musim dingin, menceritakan betapa besarnya cinta kalian masing-masing. Lalu, mengakhiri kencan dengan romantisnya. Bukankah itu semua yang kau harapkann kedepannya bersama Gundou? Kau boleh berharap kepada dewa selepas ini. Tapi, bukankah ada kemungkinan terburuk dari semua peristiwa, kan? Kanda?

"Kanda.."

Suara itu. Alunan lembut dari Gundou yang ia tunggu-tunggu. Sorot matanya tak berhenti melihat detail figur Gundou yang semakin mendekatinya. Apa yang terjadi jika ia memeluk Gundou, sambil berkata, 'Kau lama sekali, aku jadi sedikit rindu. Tapi sekarang, aku bisa melihatmu lagi, sayangku'? Tampaknya, pria yang satu ini tidak bisa berhenti memikirkan kejadian romantis yang ia idam-idamkan bersama dengan sang terkasih. "Menunggu lama?" tanya Gundou, tangannya membetulkan syal yang menganggu lehernya. "Tidak." Untukmu-khusus untukmu-aku bahkan rela menghabiskan satu tahun penuh menunggumu hadir tertangkap manikku. Jawaban manis nan romantis itu tertahan karena rasa malunya. Apa kau yakin tidak akan menyesal, jikalau kau tidak mengucapkan hal itu sekarang? "Ayo, sekarang kita menghangatkan diri dulu." Maksud dari menghangatkan diri pun tidak sesuai dengan bayangan Hoshikawa. Tentu saja, Kanda pun belum siap jika ia harus melakukan apa yang dimaksud Hoshikawa tadi. 

Figur Gundou berdiri di samping Kanda, menambah debaran jantung Kanda yang semakin tak terkendali. Dirinya-Kanda-bisa saja meledak jika Gundou lebih mendekat lagi dari posisi ini. "Kau mau makan ramen?" tanya Kanda. Otaknya kini buntu mencari ide kencan musim dingin yang romantis untuk Gundou. Pipi Gundou yang bersemu karena suhu dingin menambah kesan manis dan imut bagi sosoknya yang terkesan dewasa. "Boleh," balas Gundou. Suara itu serupa dengan semilir angin yang berhembus pelan. Selembut bunga cosmos yang mekar di bawah terik matahari. Sesuatu yang mampu menambah frekuensi debaran jantung Kanda. Kapan lagi mereka seperti ini? "Akhir-akhir ini, apa kau sibuk, Gundou?" Kanda yang berharap di bulan depan bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Gundou bertanya. Wanita itu termenung sejenak, memikirkan jadwalnya di tahun depan-berhubung ia seorang guru-yang cukup sibuk, lantaran tahun itu memasuki semester dua. Tahun yang sibuk bagi siswa memperbaiki dan meningkatkan nilai. Maka dari itu, Gundou harus bekerja lebih keras lagi. "Mungkin lebih sibuk dari sebelumnya, tapi akan ku usahakan untuk menyelesaikan agenda secepat mungkin." 

"Apa kau mau mengajakku jalan-jalan?"

"Tentu! Kalau kau yang meminta akan ku kabulkan, apapun itu."

Mendengar hal itu, Gundou terkekeh. Pria di sampingnya itu amat romantis, meski terkadang terlalu romantis dan berisik. Seorang pria yang akan berada di sampingnya juga, ketika dirinya sudah berada di altar.

Betapa romantisnya ini. Yang terpenting adalah kalian yakin terlebih dahulu, dan apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah ujian untuk kalian.

Langkah mereka membelah keramaian, berjalan menuju kedai ramen terdekat untuk sekedar menghangatkan diri. Tangan Kanda menggenggam tangan Gundou, mencegah Gundou tertinggal jauh di belakangnya. Juga, menggambil kesempatan merasakan kulit halus Gundou. Kali ini, kau menang banyak, ya, Kanda? Untuk sekarang nikmati saja apa yang kau bisa dapatkan. Karena kesempatan kedua punya kemungkinan yang kecil untuk hadir. Lama berjalan menyusuri keramaian, mereka berhasil menemukan kedai ramen yang buka dan cukup sepi. Kanda menyibak kain yang ditaruh di pintu masuk kedai. "Selamat datang." Sambutan khas toko terdengar begitu figur Kanda dan Gundou masuk. 

"Silakan dilihat dahulu."

Salah satu pekerja lain memberi selembar kertas yang dilaminating bertuliskan menu yang tersedia. "Kau pesanlah terlebih dahulu." Kanda menerapkan sistem ladies first, terlebih lagi ketika bersama Gundou. Begitu semua selesai memesan dan pesanan datang, yang ada hanyalah kedua hati insan tersebut menghangat. Karena ramen yang disediakan panas-panas dan kedekatan mereka yang semakin jelas. Seperti sebuah Igloo yang dibangun, untuk menangkal suhu dingin.

 

"Jadi begini, rasanya membangun rasa cinta?"

 

Keduanya berjalan keluar kedai setelah membayar dua porsi ramen masing-masing. Destinasi selanjutnya, tidak ada. Mereka hanya berjalan-jalan di alun-alun kota dan menghabiskan waktu sampai tengah malam. "Mau main salju?" Gundou menarik ujung mantel Kanda, hendak mengajak pria itu bermain salju. Alun-alun ini dipenuhi gundukan salju yang teramat tebal. Mungkin para pekerja yang bertugas mengeruk salju per hari sedang malas dan mengambil cuti. "Iya, tentu." Jika kau yang meminta, aku akan mengabulkannya tanpa pikir panjang sekali pun. Untuk wanita yang akan menemaninya di masa depan. Mereka menyambut lapangan luas bertaburkan salju. Berbaur dengan kelompok lain. Ada yang membuat ai-ai gasa di atas salju sambil cekikikan, membangun manusia salju dengan bahan seadanya. Hidungnya bukan terbuat dari wortel, tapi sejumlah sumit yang diikat menjadi satu. 

"Kau mau membuat apa memangnya?" Gundou meminta saran kepada Kanda.

"Igloo saja."

"Kenapa Igloo?" 

"Tampaknya ide itu jarang muncul, mari membuat sesuatu yang baru ada di sini!" Anggap saja, Igloo itu sebuah tempat yang melindungi cinta kita, melindungi kita dari dinginnya kenyataan yang bisa saja menghancurkan hubungan kita berdua, Gundou. 

Salju yang ditumpuk, membentuk sebuah kubah cukup besar dengan celah yang hanya bisa dimasuki oleh dua ekor anjing besar dibuat susah payah. Tangan mereka bekerja dibalut dengan sarung tangan khusus musim dingin. Salju yang semula masih berada di atas tanah, kini sedikit demi sedikit mementuk setengah Igloo yang cukup cantik. Setidaknya, dengan ini mereka bisa menaruh rasa cinta mereka di dalam Igloo. Agar tetap hangat seperti sedia kala. "Apa menurutmu ini terlihat seperti sebuah Igloo?" Gundou mempertanyakan bentuk Igloo yang mereka bangun itu. Kenampakkannya tidak memiliki proporsi yang sempurna. Bagian belakang dari kubah Igloo itu penyok, seperti sabun yang tak sengaja membentur lantai karena licin. Bentuk yang menciptakan perbedaan terjal dengan bentuknya jika dilihat dari depan. "Mari anggap saja ini mirip dengan Igloo pada umumnya," sanggah Kanda, kemudian tertawa karena bentuk Igloo yang abnormal ini. "Tapi setidaknya, ini bagus juga-jika dilihat dari arah depan," komentar Gundou. Kanda menoleh mendengar apresiasi dari Gundou. 

"Kau harus lihat dulu siapa yang membuatnya dong!" 

Dengan bangga ia membusungkan dada, menunjuk dirinya dan tersenyum lebar, bangga dengan pencapaian sederhananya. "Wah, wah. Jadi bukan kita berdua yang membuatnya, nih?" Goda Gundou. Tubuhnya sedikit mendekat ke arah Kanda, benar-benar mencobanya untuk menggoda Kanda dengan niatan bercanda. "O-oi, jangan terlalu dekat!" Kanda lantas panik begitu Gundou membuat gestur yang terkesan menggodanya. "Wah! Kau tersipu!" Lalu Gundou terkikik melihat reaksi Kanda. Kalau pun Gundou serius hendak menggoda Kanda, percayalah Kanda akan pingsan saat itu juga. "Aku hanya bercanda kok, jangan diambil serius. Seru sekali bisa menggodamu," celoteh Gundou. Hanya sebuah candaan dan Gundou sendiri tidak terlihat tertarik dengan Kanda meski mereka cukup dekat. Saking dekatnya, sampai-sampai Hoshikawa sering menjodoh-jodohkan mereka berdua. Apa hatimu sakit Kanda? Tenang saja. Itu bukan sesuatu yang bisa membuatmu langsung sakit hati dan frustasi. 

Masih ada satu kejutan lagi untuk musim dinginmu, Kanda. 

Satu-satunya hal yang mampu membuatmu ingin jungkir balik. 

Apakah kau penasaran, Kanda?

"Bagaimana menurutmu tentang Igloo ini?" 

Gundou terus mengamati Igloo yang mereka buat bersama. Cantik. Bagaimanapun ia melihatnya, Igloo itu akan tetap cantik di mata Gundou. Bukan kenampakannya, tapi kenangannya. Ini musim dingin pertama yang mereka lewati bersama-tanpa Hoshikawa-dengan kesederhanaan yang membalut. "Ini cantik! Aku suka!" ucap Gundou dengan sedikit memekik. Tidakkan lebih cantik figurmu di musim dingin ini, ketimbang Igloo yang berdiri di hadapan kita? batin Kanda. Dia tidak bisa lagi menahan rasa cintanya. Rasa yang meluap bersamaan dengan turunnya salju. Dengan begini, tempat mereka melindungi cinta mereka sudah sempurna. 

Tanpa sadar, langit malam semakin menggelap.

 

"Igloo itu sudah mencair."

 

Libur Natal dan tahun baru sudah berakhir. Bulan Januari sudah menyambut, Gundou disibukkan dengan semester dua yang padat, murid-murid yang semakin ditekan belajar untuk ujian akhir tahun. Benar-benar sesibuk bar pada malam hari. "Selamat pagi, sensei." Sapaan umum siswa kepada gurunya menjadi hal wajar yang biasanya ia dengar begitu memasuki selasar lantai satu. Berbeda dengan hari ini. Ia tidak mendengar kata-kata manis seperti itu di pagi hari. Hanya sebuah lirikan keji dan bisikan aneh, seolah ia berada di sebuah ring gulat. "Selamat pagi, Bapak dan Ibu," sapa Gundou sesopan mungkin. Yang ada hanya hawa menusuk yang dingin. Lebih dingin daripada suhu saat ini. Juga helaan napas berat yang terdengar pasrah. Ada apa dengan suasana ini? Kenapa semuanya terasa berat? Gundou membatin begitu sadar, suasana ini terasa ganjil. Ada yang menyebarkan sesuatu, dan itu berkaitan dengannya. Jika atmosfernya sudah begini, artinya seseorang menyebar sesuatu yang tidak pernah diharapkan Gundou sendiri.

Apa yang orang itu sebarkan?

Rahasia semengerikan apa yang bisa jatuh ke tangan orang licik seperti ini?

"Ano, sebenarnya ada apa, ya?" Sesopan mungkin ia bertanya kepada rekan kerjanya yang lebih senior daripadanya. Orang itu hanya diam, namun tampak dari matanya ia terlihat ingin membeberkan apa yang telah terjadi. Tidak ingin memaksa wanita paruh baya itu untuk menjawab pertanyaannya, Gundou mengangguk kecil. Tanda paham bahwa wanita itu tidak bisa memberinya jawaban untuknya sementara waktu. Atmosfer itu bertambah berat ketika Gundou hendak mengambil tumpukkan agenda dan lembaran silabusnya. Dia amat tidak nyaman berada di ruang guru, ditambah dengan tekanan tak jelas entah apa alasannya. Tak lama, bel homeroom pertama menggema lewat pengeras suara yang dipasang di penjuru ruangan. Gundou berdiri mempersiapkan diri menuju kelas untuk menyapa muridnya di kelas. Setidaknya ia punya alasan alami yang mengharuskan ia keluar dari ruang guru yang diliputi atmosfer berat itu. 

Selasar lantai satu sepi, tidak ada yang berlalu lalang kecuali dirinya. Kegaduhan dari dalam kelas menguar sampai ke ujung selasar. Homeroom di kelas berlangsung dibimbing wali kelas, Gundou meraih pintu kelas kemudian menggesernya. Kelas yang semula berisik dengan semua percakapan khas anak SMA kini terdiam sejenak lalu suara bisikkan muncul. Ada apa dengan kelas ini? Semuanya terasa sama dengan di ruang guru, Gundou resah. Dirinya tak tahu apa yang terjadi dan diharuskan untuk bersikap normal ketika keresahan itu mulai menguat. Kepalanya sedikit berat begitu naik podium. Ia merasa seolah murid-muridnya yang tengah menatapnya itu melempari banyak benda kepadanya sambil berkata, 'apa sensei masih punya muka untuk datang dengan raut polos begitu?'. Baginya, itu sebuah hal yang mengerikan.

"Saya tidak tahu topik apa yang sedang kalian bahas, tapi tolong untuk saat ini sampai jam homeroom selesai, hentikan pembicaraan kalian dahulu."

"'tapi tolong'.. sensei masih saja bicara dengan santai setelah ketahuan, ya?"

Meski itu sebuah bisikan dari bangku tengah, Gundou bisa mendengarnya dengan jelas. Suara centil disusul cekikikan khas siswi yang mengira dirinya sendiri itu paling cantik dan bergaya, menganggu pendengaran Gundou. Tapi bagaimana pun dia adalah murid Gundou, tidak mungkin baginya melontarkan perkataan yang membuat sang muird melapor kepada atasannya karena perilakunya yang kasar. Di sisi lain, Gundou yakin, bahwa dialah-sang murid-yang punya hubungan besar dengan apa yang terjadi di pagi hari ini. Selanjutnya, apa yang akan kau lakukan, Gundou?

Homeroom singkat selesai tanpa disadari, hanya membahas hal yang sama berulang-ulang kali. 'Karena ini semester dua, tolong tingkatkan lagi belajar kalian dan pertahankan nilai kalian yang sudah sempurna', jika disimpulkan bahasan homeroom hanya seperti itu, tapi ini juga dilakukan demi kebaikan muridnya semata. "Untuk Kitahara, saat pulang sensei tunggu di gerbang, oke?" Sebisa mungkin ia harus tetap ramah, walau harus menghadapi murid yang kurang ajar. "Haduh... Baik sensei," keluhnya. Mendengarnya saja sudah dipastikan, ia hanya seorang siswi yang modal tampang saja. Begitu keluar kelas, yang hanya bisa Gundou lakukan sekedar menghela napas pasrah dan lelah. Kenapa ini terjadi? Kenapa harus kepada ku? batin Gundou bertanya-tanya. Tampak seperti pertanyaan yang mendramatisir.

Ini sebuah pertanda, bahwasanya akan ada yang melelehkan Igloo.

"Gundou-san," panggil seseorang.

Sosok itu tak lain adalah rekan Gundou yang berada di sampingnya saat di ruang guru. "Iya? Ada apa, Tsukiho-san?" Gundou memasang senyum, melangkah mendekati figur tersebut. Tsukiho-san. Guru yang lebih senoir dibanding Gundou. "Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, Gundou-san," ucapnya dengan nada serius, meski begitu nadanya tak menyaratkan intimidasi sedikit pun. Hanya dengan ucapannya itu, Gundou mengangguk, mengikuti langkah Tsukiho yang membawanya ke lapangan baseball untuk bicara. Lapangan besar dihiasi salju putih. Tidak ada tanda lapangan ini akan dikeruk saljunya begitu sudah menumpuk. 

"Ini, hal yang menyangkut sifat pribadi. Jadi mungkin akan sensitif."

Tsukiho mengeluarkan ponsel dari kantung tuniknya, kemudian mengoprasikannya dan menunjukkan sejumlah gambar yang entah bagaimana bisa didapat. Bukan hanya satu atau dua gambar, tapi lebih dari lima gambar bisa lihat dari galeri ponsel Tsukiho. Begitu melihatnya, yang bisa dirasakan adalah rasa pusing dan berkunang-kunang yang hebat. Kebetulan pahit atau bagaimana, semua itu gambarnya dengan Kanda yang sedang jalan bersama. Dia dan Kanda yang sedang pergi ke toko buku, dia dan Kanda yang sedang berpegangan tangan setelah pergi ke bioskop. Latar musim panas, gugur, semi dan dingin. Lengkap. Seolah sang tersangka sengaja mengamatinya dari setiap musim. Betapa brengseknya orang itu. 

Dan gambar terakhir, gambarnya dengan Kanda yang saling mendekatkan wajah disaat kembang api dilepaskan di atas langit. Mungkin jika lebih dekat lagi, bibir mereka hampir bersentuhan. 

"Siapa dan bagaimana ia mendapatkannya?"

Suaranya gemetar dan menyedihkan. Air matanya bisa turun kapan saja saat ia berkedip. "Aku sudah menyudutkan pelakunya, dia muridmu. Kitahara." Dugaan Gundou tepat mengenai sasaran. "Saya sudah menduga ia yang melakukannya karena gerak-geriknya yang aneh saat homeroom tadi, bisa Tsukiho-san kirim semua foto itu kepada saya? Saat pulang sekolah nanti saya akan membicarakan hal ini dengan Kitahara secara langsung," ucapnya. Di sisi lain, Tsukiho ragu, akankah perbincangan ini berjalan lancar? "Baiklah, akan ku kirim. Semoga hasil pembicaraannya sesuai harapanmu, Gundou." Doa itu diaminkan Gundou. Dirinya tidak mau kehilangan Kanda kanrena tingkah kurang ajar siswi yang ia didik selama hampir satu tahun itu.

"Aku mengerti kau dan orang itu saling mencintai, jadi, kita terpaksa memutus hubungan pun rasanya sia-sia sekali. Bukan hanya kau yang merasakan sepi dan sedih, tapi orang itu juga akan merasakan hal yang sama denganmu. Berdoalah yang terbaik demi hubungan kalian. Setelah gambar ini tersebar di penjuru sekolah, banyak yang bertanggapan negatif. Desas-desus tak jelas dan rumor kusut jadi perbincangan banyak orang di sini. Ku harap kalian-terutama kau-bisa tetap bertahan."

Kalau takdir berkata lain, apa kau akan tetap memaksa untuk bertahan dengannya, Gundou? 

"Ya, terima kasih atas doanya, Tsukiho-san." 

Gundou berbalik, pamit dari lapangan baseball meninggalkan Tsukiho yang masih khawatir. Bisakah ia lari dari masalah ini? Yang dia inginkan hanya memiliki hubungan mulus dengan Kanda. Itu harapan kecil Gundou, untuk tetap mempertahankan apa yang mereka susah payah bangun. Sama halnya dengan Igloo yang mereka bangun di alun-alun kota dengan bersusah payah, tapi mereka tetap menikmati kehangatan yang timbul. Bisakah Igloo itu bertahan lebih lama lagi? Supaya cinta yang tersimpan bisa lebih banyak lagi? 

Dinginnya suhu di musim ini, dan matahari dengan cahayanya, perlahan mencairkan Igloo mereka.

Meretakkan hubungan mereka, juga, membuat mereka harus mengucapkan 'selamat tinggal, sayangku' seperti halnya musim dingin yang berganti.

Hanya karena satu orang. Gundou menyenderkan punggungnya ke dinding sekolah, dirinya berada di halaman belakang sekolah yang tak jauh dari lapangan baseball sebelumnya. "Oh terima kasih dewa, nasibku jadi seperti ini," gumamnya satir. Karena Igloo itu mencair, cinta mereka tidak bisa dilindungi lagi. 

 

"Sudah tidak ada tempat untuk cinta kita, Kanda."

 

Langit sore begitu gelap, Gundou berdiri di depan gerbang menantikan Kitahara datang di hadapannya. Namun, orang itu tidak datang meski sudah ditunggu. Seolah sengaja, sengaja menghancurkan hubungannya dengan Kanda, sengaja mempermalukannya di hadapan sekolah, dan sengaja membuat pikirannya kacau seharian penuh. "Sensei masih kukuh dengan ucapannya sendiri, ya?" Kitahara datang dengan nada bangga tak bermoralnya, membusungkan dada seolah ia seorang pemenang di ring gulat. "Kitahara, sudah tahu ini 'kan, ya?" Gambar yang seharusnya bersifat pribadi itu dihadapkan ke wajah Kitahara. Bukan gentar arau panik, yang ada pada raut wajahnya adalah kesombongan.

Hanya karena ini, Gundou terkena skandal di lingkungan sekolah.

Tentu saja sekolah akan menolak guru yang terkena skandal, karena dicap buruk, mendapat pandangan 'memangnya guru seperti itu akan mengajari murid apa?', dan menurunkan kualitas sekolah itu sendiri.

"Tentu saja. Saya tahu betul itu, kok."

"Lantas kenapa kau menyebarnya?"

"Karena sensei pantas mendapatkanya."

Pantas? Sebenarnya apa yang pantas aku dapatkan dari hubunganku dengan Kanda ini? batin Gundou tak percaya. Salah seorang muridnya menaruh dendam kepadanya. Apa salahnya? "Masa setiap gaduh hanya aku yang dimarahi." Anak itu mengerucutkan bibirnya, memasang muka ngambek yang sok imut sambil mengelus ujung rambutnya. Berlebihan, semua ini berebihan. "Hanya itu yang ingin sensei tanyakan, selanjutnya terserah kau mau bertindak bagaimana. Setelah ini sensei tidak memikirkan kau, Kitahara." Lagipula ia sudah mengundurkan diri, besok adalah hari terakhirnya mengajar. Kenapa menyerah? Apa kau mau menanggung malu yang besar? Apalagi terkait dengan hubungan percintaan. Itu sebuah skandal besar yang mampu membuat seseorang kehilangan karirnya. Seolah kata tersebut pengganti kata 'selamat sore, pulanglah dengan hati-hati', Gundou hengkang dari gerbang. Mengankat kakinya dari tempat ia dipermalukan.

Salju masih turun, perlahan-lahan menambah jumlahnya di atas tanah. Menumpuk seolah akan mengubur Igloo.

Mata Gundou menyayu, lelah dengan hari ini. Rasanya, hal ini terasa tidak nyata. Benar-benar diluar dugaan. 

Bagaimana selanjutnya? Dan selanjutnya apa? 

"Oh, Gundou! Kau kemari?" 

Suara Kanda yang menenangkan terdengar sampai ke telinga Gundou yang sedang resah. Tapi, rasanya bukan saatnya untuk saling menjalin jiwa atas nama cinta. Sudah tidak ada tempat untuk melindungi cinta kita, Kanda. Sayang sekali.. batin Gundou dengan senyum getirnya. Benar-benar menyedihkan. "Kanda," panggil Gundou sambil menggengam salh satu tangan Kanda. Pria itu mendadak gugup ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Gundou. "Ada apa... ya?" Terdengar sedikit bergetar. Detak jantungnya juga terasa lebih cepat dari sebelumnya. 

"Mari, akhiri saja.."

Detak jantungnya yang tadinya berdetak cepat kini serasa dipukul keras. Tidak, pasti salah dengar, seperti waktu itu, Kanda berusaha menenangkan dirinya yang sudah lebih dahulu berpikir negatif. Pasti hanya salah dengar. Kanda hanya mengulang kalimat itu di kepalanya. "Kenapa?" Karena, jika kau tetap mejalin hubungan denganku, bisa saja kau kena getahnya. Mulut Gundou kelu, tidak bisa mengeluarkan jawabannya untuk meluruskan isi pikiran Kanda. "Karena, ini sudah saatnya untuk mengakhirinya. Tidak ada alasan lagi tentang mengapa aku seenaknya berkata demikian," jawab Gundou. Jawaban yang berbeda dengan apa yang telah dipikirkannya. "Tidakkah bisa kau memikirkannya ulang, Gundou?" Kanda mengharapkan kesempatan kedua baginya. Namun tampaknya sulit, bukan? "Tentu! Kalau kau yang meminta akan ku kabulkan, apapun itu." Bukankah kau sendiri yang mengatakan hal itu kepada Gundou? Apapun itu. Berarti hal ini juga bisa termasuk dalam apapun yang ia minta. Betapa menyedihkannya kalian berdua, pasangan yang diikat cinta, kemudian diputuskan oleh hama. Ini adalah saat yang tepat bagi kalian mengucapkan terima kasih setelah menjalani hubungan bertahun-tahun lamanya. 

Maka, ucapkanlah, seakan-akan mengucapkan selamat tinggal pada musim dingin yang tak kan pernah datang lagi. 

"Bukankah ini rasanya seperti mengucapkan selamat tinggal pada musim dingin?"

Ia tidak rela jika hanya dengan alasan itu, hubungannya berakhir. "Tentu, kau sedang mengucapkan selamat tinggal kepada musim dingin yang kemungkinan besar tidak akan kau lihat lagi, Kanda." Jika murid itu tidak menyimpan dendam, jika murid itu tidak berlebihan menganggapi nasihat yang diberikan. Ini semua tidak akan pernah terjadi. Dan mereka bisa berjalan bersama di altar sebagai sepasang kekasih yang dipertemukan untuk selamanya. Dari hidup sampai mati. Hanya harapan kecil, namun tak mudah mencapainya. Tapi bisakah Tuhan mempermudahnya, demi dua hamba-Mu yang sedang frustasi karena cinta? 

"Kalau begitu, haruskah aku bertahan, Kanda?"

Kanda tahu itu berat, bertahan dengan sesuatu yang sudah tidak bisa dijalankan lagi. Tapi, egonya tetap memaksanya. Lebih baik lepaskan Kanda, bukankah ini sama saja seperti menyiksa batinnya? Sesuatu yang kau suka tidak selalu harus dimiliki. Seseorang yang kau cintai tak selalu harus menjadi pasanganmu. Bisakah kita bertahan? Walau hanya sebentar? batin Kanda memohon. Napas berat dan tak kuasa menahan beban pikirannya terdengar diantara keramaian jalan. "Apapun untukmu, Gundou," ucapnya getir. Sebisa mungkin. Sebaik mungkin dan sekuat mungkin, yang harus kau tampilkan ada senyuman ikhlas, Kanda. "Setelah ini, jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu. Sampai jumpa-lagi, jika kita dipertemukan oleh takdir." Senyuman terakhir yang bisa Gundou lihat dari wajah Kanda bukan senyum bahagia, senyuman yang berat dan menyiratkan bahwa dirinya masih belum bisa menerimanya.

 

"Karena takdir mempertemukan kita, ayo habiskan waktu bersama-lagi."

 

Sudah terhitung satu bulan mereka tak bertemu. Saling merindu dari kejauhan, tanpa bisa melihat wajah masing-masing. Disela-sela kesibukan, mereka berharap bisa memperbaiki ini dari awal. Semoga saja, semua ini bisa kembali seperti awal, begitu doa mereka. Terdengar naif, tapi mungkin saja terjadi. Gundou sedang apa, ya? pikir Kanda dari jendela apartemennya. Refleksinya terlihat dari kaca, tumpang tindih dengan pemandangan diluar apartemen. Salju masih turun, bulan ini bulan Februari, tepat saat hari valentine tiba. Salju yang mulai menipis, tampak seperti cinta mereka yang mulai mengabur. Betapa menyedihkanya ini. Keduanya sama-sama kesepian. 

Sama-sama butuh satu sama lain. Untuk sekedar hadir. Mengisi kekosongan hati mereka.

Pada dasarnya, Igloo itu kosong jika tidak ada yang menempati. Tentu saja, semua ruang juga begitu. Sama halnya dengan hati. 

Kanda menompang kepalanya dengan kedua tangannya, nampak frustasi. Kalau saja dia tidak mengiyakan permintaan Gundou untuk mengakhiri semua ini, mungkin ia dan Gundou tak perlu merasa berat juga frustasi. Seharusnya Kanda tahu, Gundou memutuskannya untuk kebaikkannya juga. Mungkin alasan itu terlalu abu meski dijelaskan berapa kali pun. Kanda menatap jendela, berharap menemukan figur Gundou yang tengah lewat. Sama seperti dirinya saat kencan yang lalu, mencari eksistensinya di tengah keramaian. Kali ini, akankah Kanda mampu menemukannya lagi? Berharap saja ditumpukkan salju ini, ada sosok Gundou ditengah-tengahnya. Kalian sangat merindu, ya? Sama-sama ingin kembali seperti dahulu, kalian yang bertemu dalam suasana hati gembira dan hangat. Yang sama-sama memiliki cinta besar untuk satu sama lain. Betapa indahnya cinta itu jika terus berlanjut ke altar. Kau yang akhirnya bisa meliat figur Gundou dalam balutan gaun seputih salju. Juga Gundou bisa menatapmu yang mengenakan tuksedo senada. Berjalan diiringi taburan bunga mawar perlambangan cinta. 

Indah, terlalu indah. Sampai-sampai ada yang menaruh rasa iri begitu melihatnya. 

"Sepertinya aku butuh jalan-jalan sebentar," gumamnya sambil menyambar mantel musim dingin dan syal. 

Di sisi lain, Gundou resah dengan pekerjaannya yang hilang. Tangannya menggenggam secarik kertas bertuliskan tempat-tempat yang menawarkan lowongan pekerjaan. Kalau ia tidak mengundurkan diri karena rasa malu, ia tak perlu repot-repot mencari pekerjaan di tengah musim dingin begini. Ia juga masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Kanda. Kalau saja ini, kalau saja itu, mungkin akan seperti ini atau mungkin seperti itu. Banyak sekali penyesalan yang ada karena satu hal. Tapi mungkin, bagi kalian, satu sama lain saling bergantung, ya? Jadi begitu kalian terlepas, kalian akan kehilangan arah untuk sekedar berjalan. Napas Gundou menjadi kepulan uap dibawah toko buku. Dirinya butuh hiburan juga sesuatu yang melepas penat ini. Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam toko buku, mencari buku yang setidaknya meringankan perasaannya. Lampu yang menyala terang menguarkan suhu panas yang menghangatkan dirinya yang baru saja tiba di dalamnya. Buku-buku dipajang di rak dan etalase dengan bungkus plastik membungkusnya. 

Bagi Gundou, pemandangan seperti ini sudah cukup memulikan penatnya. Tangannya satu per satu menyeleksi buku yang akan ia beli, melihat setiap detailnya. Jika dilihat, dirinya memang fokus kepada buku, namun di dalam benaknya ia tak bisa berhenti memikirkan Kanda. Perkataannya waktu itu terlalu kasar untuk sebuah cara memutuskan hubungan. Ia menyesal, menyesal karena membuang Kanda dengan mudahnya. Pria yang ia sia-siakan, pria yang pernah ia mimpikan mnjadi pasangannya di altar nanti. Kau bodoh, Gundou, batinnya memaki diri sendiri. Ia mengakuinya. Mengaku menyesal, bodoh dan kelewat egois. Hanya untuk dirinya yang tidak ingin mendapat skandal lagi, tapi sisi lain dirinya mengatakan hal ini dilakukan juga untuk melindungi Kanda supaya pria yang masih ia cintai itu tidak terlibat dengan skandalnya. Begitu selesai melihat detail setiap buku, Gundou mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Yang ia temukan adalah Kanda. Pria itu juga terpaku saat Gundou melihat ke arahnya. 

Takdir mempertemukan mereka untuk kedua kalinya. 

Kenapa Gundou di sini? batin Kanda bertanya.

Itu.. Kanda? batin Gundou sedikit tak percaya.

Gundou membatalkan rencananya membeli buku, kemudian melangkah cepat untuk keluar dari toko. Seolah mengajak Kanda untuk juga keluar dari toko buku. Ini kesempatan kedua yang tak boleh disia-siakan, batin Kanda, lalu mengejar langkah Gundou yang keluar toko, mencari-cari figurnya yang ikut berbaur dengan khalayak di jalan. Terus membelah keramaian demi sang tercinta. Karena hari itu valentine, banyak perempuan SMA yang membeludak di toko cokelat hanya untuk memberikan orang yang dicintainya sebuah cokelat. Sedangkan ia dan Gundou yang masih dibingungkan, disusahkan dan dibuat frustasi karena cinta konyol terasa terbakar di tengah musim dingin ini. 

Akhirnya, Kanda menemukan figur Gundou yang berdiri menantinya di alun-alun kota. Tepat dimana mereka membangun Igloo saat kencan. 

"Bisakah kita membangun Igloo kembali, seperti dulu?" 

Tiba-tiba Kanda berkata demikian. Gundou tahu maksud asli dari tawaran itu, dan tentu saja, ia juga ingin. Tapi dirinya bimbang, apakah boleh ia memulai lagi hubungan mereka dari awal yang baru? Selagi menunggu jawaban Gundou, Kanda berjalan mendekat ke arah Gundou lalu mengambil sebongkah salju untuk kemudian ia jadikan Igloo yang baru dari sebelumnya. Igloo yang lebih sempurna lagi dibanding yang dulu. Igloo yang mampu menahan segala suhu dingin, yang mampu menjaga cinta mereka lebih kuat lagi. Selain itu, ini mungkin saat yang tepat untuk Kanda melakukan keinginannya yang sedari dulu ia tahan. Berlutut menghadap Gundou dengan tangannya yang menyematkan cincin cantik ke jari Gundou. Hanya tinggal itu yang belum ia lakukan untuk memenuhi hasratnya.

"Iya, tentu saja."

Hatinya telah mantap untuk benar-benar melaksanakan keinginannya. "Sebelum itu," ucap Kanda dengan akhiran yang sengaja dipotong. Sebuah cincin polos tanpa hiasan, tersemat perlahan ke jari Gundou. Lalu dikecup oleh bibir Kanda. "Mari mulai dari awal lagi, sayangku," lanjutnya dengan nada serius. Pipi Gundou menghangat karena ucapan romantis dari Kanda. "Mohon bantuan, ya, sayang," timpal Gundou dengan bibir yang tersenyum. 

Di bawah langit musim dingin yang menurunkan salju, mereka membangun kembali Igloo yang hancur. Juga memulai hubungan dari awal yang segar. 

"Kali ini, tempat menaruh cinta kita tidak akan ada lagi yang mengusik, sayang."

"Yang ada hanya cintamu dan cintaku, yang akan tetap abadi."

 

 

 

the end.