Actions

Work Header

Alexithymia

Summary:

Changbin memiliki alasan tersendiri mengapa dia memilih untuk tidak mengungkapkan perasaannya secara pasti ke Seungmin, pria yang telah 13 tahun berteman dengannya. Bahkan jarak Jakarta-Jogja yang membatasi keduanya urung membuat Changbin melakukan apa yang sering di sarankan oleh temannya. Hingga memasuki tahun kedua kuliah, segala hal yang di khawatir kan Changbin dari jarak yang memisahkan, satu persatu mulai muncul ke permukaan seperti lubang yang siap mengikis hubungan tak bernama antara dirinya dengan teman kecilnya itu.

Notes:

Ini adalah part narasi dari au alexithymia di Twitter. Untuk baca lebih lengkapnya silahkan ke Twitter @brokenrecorde

Chapter 1: Jolly roncher

Chapter Text

18:59

Changbin merapikan rambut dan menempelkan punggung tangan ke hidung, sekadar memastikan apakah wajahnya berminyak atau tidak, lalu sekali lagi menyingkap lengan kaos hitamnya bergantian. Seharusnya dia terlihat cukup tampan, mengenakan kaos hitam lengan panjang yang dia tarik hingga hampir mencapai siku, berikut celana hitam dan Converse hitam kesayangannya. Man in Black. Pun itu sebenarnya gara-gara ucapan Chan tadi sore, mengerecoki penampilannya yang memang dia tidak tahu bagaimana terlihat stylish. Selera berpakaiannya cukup payah, tapi karena malam ini hatinya terketuk untuk berpenampilan menarik di depan Seungmin, ia pun mencoba mengandalkan selera payahnya memilih satu dari tumpukan dan gantungan baju yang memenuhi lemari.

"Ganteng, Mas Abin mau kemana?" Begitu komentar Pak Mus tadi ketika Changbin akhirnya keluar menemuinya.

"Ketemu Seungmin, Pak, yuk berangkat."

"Oh gitu. Tumben ganteng banget, hehe .." Komentar Pak Mus, supir pribadinya dari sejak dia masih bocah itu, cukup untuk menyakinkan Changbin bahwa malam itu dia berhasil terlihat 'ganteng banget'. Sekarang dia hanya perlu menunggu Seungmin yang baru saja berkata dia hampir sampai untuk janji makan malam mereka.

"Bin!!"

Suara familiar yang terdengar memanggil namanya itu, sontak membuat Changbin memutar pandangan mencari si pemilik, namun lengannya disambar lebih dulu dalam gelayut ringan dari arah belakang. Seungmin menengadah memandangnya dengan senyum lebarnya yang cantik.

"Hei," Changbin ikut tersenyum menatap kehadiran teman dari masa kecilnya itu.

"Udah lama, Bin?"

"Dari gue chat lo terakhir, 10 menitan lah," jawabnya.

"Ya udah, sambil jalan yuk, gue laper," kata Seungmin, mengayun pelan lengan Changbin dalam gamit lengannya.

"lya, iya," kemudian teringat tas yang dia bawa di tangan yang lain, dia pun mengulurkannya pada Seungmin. "Oh iya, nih, dari Mama."

"Ha?" Seungmin menerima tas karton mungil berwarna hitam itu dengan kening mengerut, lalu menengadah memandang kembali padanya.

"Mama bilang buat lo. Kado ultah."

"Ah ... makasih banget, Bin. Tante nih mesti repot-repot kasih kado," ujar Seungmin, melepas kait lengannya di lengan Changbin, melanjutkan, "Bin, harusnya tadi ngajakin Tante, Om sama Kak Younha juga, ya?"

"Mama-Papa ada acara juga sih malam ini" jawab Changbin menggaruk belakang telinganya sekilas.

"Oh gitu," gumam Seungmin, lalu menunduk untuk melihat ke dalam tas karton di tangannya. Dia membelalak melihat kotak coklat polos berpita "Bin.....ini apa?"

Changbin memandang Seungmin yang mengeluarkan kotak berpita itu, dari sebuah brand ternama, lalu menjawab dengan gerakan sekilas pundaknya. Karena dia memang tidak tahu hadiah apa yang disiapkan mamanya untuk teman kecilnya itu. "Nggak tau, buka aja."

"Seriusan, Bin."

Dengan hati-hati dibukanya pita yang terikat pada kotak itu. Sebuah kartu terselip dalam wadah itu bertuliskan 'Selamat ulang tahun, Seungmin' dan tampak sebuah kamera polaroid keluaran terbaru.

"Bin seriusan ini buat gue?"

"Ya masa nyokap gue bercanda, Min..."

"Aduh makasih banget. Ntar gue telfon Tante deh, mau bilang makasih, makasih banyak. This is beautiful and I don't think I deserve this"

"Tsk!" Changbin berdecak pelan, mengetuk keningnya lembut, "it's your birthday, you deserve the best gift anyways."

Mengelus keningnya sendiri, Seungmin tersenyum. 

"Yang lain beneran nggak ikut, Bin? Tega banget gue ultah malah kabur sendiri sendiri," ujar Seungmin kemudian, sambil keduanya melangkah menuju restoran yang telah dipesan.

"lya soalnya udah pada ngatur schedule sendiri-sendiri."

"Chan?"

"Kencan dong, jangan ditanya lagi,"

"Nonton film, udah planning dari minggu lalu katanya, makanya nggak bisa batalin."

"Emang nonton film apa sih?"

"Kenapa? Mau nonton juga?"

"Tanya doang."

"Ya kan terakhir kita nonton Transformer 3D trus ketiduran itu skenario paling nggak lucu." Seungmin spontan tertawa.

"Parah sih!"

"Padahal 3D loh, bisa gitu ketiduran," Changbin ikut terkekeh.

"Bodo amat diinjek Megatron, hahaha ." Mengingat kegelian itu, Changbin menepuk kening Seungmin yang masih tertawa.

Dan seperti diingatkan pada sesuatu, Seungmin pun menahan lengannya hingga langkah mereka terhenti. "Oh iya, Bin."

"Hng?"

"Buka mulut lo dong, Aaaa yang lebar"

Seungmin mengeluarkan permen jolly roncher 3 biji dari saku jaketnya.

"Beneran gue cuma dikasih 3 biji?" ujar Changbin tak percaya.

"Kan aturannya tetep 3 biji Jolly roncher"

"Setelah 13 taun?"

Seungmin mengangguk. "Setelah 13 taun."

"Jiah .. dasar pelit," ujar Changbin mengacak puncak kepala Seungmin gemas.

"Eh tapi beneran udah 13 taun, Bin?" tanyanya kemudian, melanjutkan langkahnya setelah ritual kecil pertemanan mereka yang ditandai dengan 3 biji Jolly roncher itu.

"lya, sejak pertama kita ketemu waktu itu."

"Wah .. lama juga ya, gue aja udah lupa-lupa inget."

"Gue sih nggak bakalan lupa sama 'kata Papa kalo lagi sakit nggak boleh makan permen, jadi ini buat aku aja ya'. Pertama kalinya gue dimodusin dalam idup."

Seungmin tertawa menanggapi ucapan Changbin. "Ya trus kenapa waktu itu lo kasih?"

"Min. bukan kenapa waktu itu lo kasih, tapi lihat dong gue; udah kerempeng, kaki dibebat, eh, masih ditipu permen. Bukti kekejaman rezim Seungmin pada masanya."

"Heh! Tapi gue kejam juga lo pura-pura sakit biar Papa bawa gue dateng ke rumah lo lagi, iya 'kan?" tukas Seungmin tak mau kalah.

"Ha? Kapan??" Changbin merasakan panas menjalari wajahnya seketika.

"Ya elah, nyokap lo cerita, tau!"

"Kapan? Enggak kok."

"Ngeles!"

"Enggak!"

"Enggak ngeles berarti bener, oke."

Dengan gemas Changbin menyentuh puncak kepala teman kecilnya itu dan menekannya lembut.

Akan selalu menyenangkan untuk diingat. Pertemanan semasa kecil mereka, bagaimana mereka pertama bertemu, juga Jolly roncher yang mengawali pertemanan itu.

Changbin tidak akan pernah lupa.


"Changbin... Om Dokter udah dateng, nih." Terkesiap mendengar papanya menyebut kata 'dokter, sosok kecil 6 tahun dirinya pun spontan bangkit dan bersembunyi dibalik punggung mama nya yang menemaninya di tepi ranjang.

Papanya masuk bersama seorang pria seusianya, menggandeng seorang anak laki-laki kecil berpipi bulat.

"Abin kenalin dulu, ini Om Farrel," ujar papanya, menunjuk pada pria itu, lalu anak kecil di sebelahnya,

"dan ini Seungmin."

"Halo, Abin salam kenal ya," ujar pria bernama Farrel itu, sebelum kemudian berkata pada jagoan kecilnya, " Seungmin ayo kenalan dulu."

Pria kecil itu melambaikan satu tangannya singkat pada Changbin sambil berkata, "Halo, aku Seungmin"

"Gemes banget." Mama Changbin meraih tangan Seungmin dan lembut menariknya mendekat.

"Seungmin, ayo ucapin salam" kata Dr. Farrel.

"Halo, Tante.. nama aku Seungmin"

"Seungmin sama Changbin seumuran ya?"

"Bulan depan Seungmin genap 6 tahun," jawab Dr. Farrel.

"Seumuran berarti," sahut papa Changbin mengulurkan tangan dan mengusap lembut rambut Seungmin.

"Lucu banget, gemesin," kata mamanya, lalu menoleh pada Changbin, "Bin, ayo kenalan sama Seungmin"

Changbin menangkap tatapan mata bulat pria kecil itu padanya, berkata pelan, "Halo, Seungmin."

Dr. Farrel, adalah teman semasa sekolah papa Changbin. Lama tidak berkabar, mereka bertemu pada reuni sekolah menengah beberapa waktu lalu.

Kurang lebih, itulah yang ditangkap oleh Changbin dari pembicaraan orang tuanya dengan Dr. Farrel. Dan pria kecil itu adalah putranya.

Ia kembali berbaring setelah Dr. Farrel selesai memeriksanya dan berpesan untuk banyak beristirahat. Changbin merasa sedikit demam. Atau kata mamanya, itu adalah efek setelah dia terjatuh dari sepeda yang membuat kaki kirinya mengalami cedera ringan.

Dengan sedikit bosan ia mengganti channel tv dengan remote control di tangan.

Mendengar suara langkah kaki mendekati kamar, Changbin pun menegakkan kepala untuk memastikan bahwa itu adalah mamanya.

Tapi ternyata bukan. Karena yang muncul di pintu kamarnya adalah pria kecil bernama Seungmin itu. Dia melambaikan tangan sebelum melangkah masuk dan mendekatinya.

"Hai," ujar Seungmin pelan.

"Hai," jawab Changbin ragu-ragu. Pria itu menumpukan kedua lengan di tepi ranjang kemudian menunjuk pada kaki Changbin yang dibebat.

"Kaki kamu kenapa?"

"Jatuh dari sepeda."

"Oh." 

"Aku juga bisa naik sepeda. Tapi yang rodanya empat." Changbin yang percaya bahwa bisa mengendarai sepeda roda dua adalah tanda bahwa dia sudah besar dan sepeda roda empat adalah sepeda untuk anak-anak, sontak tertawa lirih.

"Kamu harus belajar naik yang rodanya dua. Biar nggak diejekin nanti pas masuk SD, karena itu berarti kita udah gede."

"Tapi kata Papa nggak apa-apa kok naik yang rodanya empat," Seungmin menukas.

"Kamu pasti takut jatuh."

Seungmin mengangguk cepat. "Kan kalo jatuh sakit," jawabnya, kembali menunjuk pada kaki Changbin.

Seungmin lalu menoleh pada stoples Jolly roncher di meja di samping tempat tidur dan berkata, "Kamu nggak makan permennya?"

Changbin mengangguk. Itu adalah permen yang tadi dibawakan oleh Dr. Farrel untuknya.

"Kamu suka permen ini?" Seungmin bertanya lagi.

Terdiam sejenak, Changbin mengangkat pundaknya sekilas. "Aku jarang makan permen kok."

Raut wajah Seungmin seketika terlihat antusias. "Kalo gitu kamu mau makan permennya sekarang nggak?"

 Changbin menggeleng.

"Loh, kata Mama, kalo kita punya makanan dan ada temennya, kita mesti sharing."

"Sharing?"

"lya, berbagi. Dan karena ada aku, jadi permennya dibagi sama aku ya," ujar Seungmin seraya meraih stoples permen itu ke dalam dekapan.

"Aku buka, ya." Changbin nyaris merajuk melihat Seungmin membuka stoples permen itu begitu saja.

"Loh, kok?"

"Nah," Seungmin mengambil beberapa biji permen dari dalam stoples dan mengulurkannya pada Changbin yang menatap bingung, ".. ini buat kamu, yang lainnya buat aku."

"Loh, kan itu punya aku? Kata Om Dokter kan itu buat aku?!" ujar Changbin memprotes.

Seungmin berjingkat meletakkan telunjuk mungilnya di bibir Changbin dan berdesis pelan, "Sssh. kata Papa, kalo lagi sakit nggak boleh makan permen. Jadi, ini buat aku aja, ya."

"Kok gitu?!"

"Sssh .. kamu mau tukeran nggak? Aku punya sesuatu," kata Seungmin sembari merogoh kantong nya.

"Apa?" 

Sebuah stiker tato dengan karakter pochacho yang lucu.

"Kamu mau nggak?"

Changbin pun mengangguk cepat. "Mau."

"Lucu kan? Aku tempelin ya."

Tangan mungil Seungmin bergerak cepat membuka stiker itu dan merentangkannya.

"Ditempel di mana?" tanyanya pada Seungmin.

Seungmin tampak memperhatikan wajahnya sekilas, ada goresan kecil di pipinya yang dia dapat juga karena terjatuh dari sepeda. Anak itu pun mengambil lengan kirinya dan menempelkan stiker pochacho di sana.

"Nah, jadi kita tukeran ya. Jadi sekarang permennya buat aku aja, karena aku sukaaaa banget sama permen ini. Boleh, ya?"

Changbin masih berpikir.

"Seungmin!! Sayang di mana?" Suara panggilan yang tiba-tiba terdengar itu membuat keduanya tersentak.

"Hah, aku dipanggil Papa," ujarnya, setengah panik, tapi kemudian dia mendekat, menangkup kedua sisi wajah Changbin dengan tangan mungilnya, mengusap lembut dan berkata, "Kamu cepet sembuh, ya."

"Seungmin sayang!" Suara Om Farrel kembali terdengar.

"Sampai ketemu lagi, Changbin" ujar Seungmin, melambaikan tangan seraya berlari keluar dengan mendekap stoples Jolly roncher yang seharusnya menjadi milik Changbin.

Itu adalah pertama kalinya mereka bertemu. Hingga beberapa waktu berselang, Changbin sempat bertanya pada mamanya,

"Ma, Om Dokter kapan kesini lagi?"