Work Text:
Adakah hal yang lebih menyenangkan dari pesta di akhir pekan? Terlebih jika kemeriahan itu menjadi suatu perayaan bagi sebagian orang.
Mengapa hanya sebagian?
Karena sebagian yang lain antara memilih untuk tidak merayakan, atau perayaan merupakan bagian dari rutinitas pekerjaan.
Sebagai seorang disjoki, Yamaguchi Tadashi sudah terbiasa memandu riuhnya gemerlap malam di Jakarta. Baginya, yang membedakan malam satu dengan lainnya hanyalah dresscode dan jumlah bayaran yang ia terima. Tadashi memang mencintai pekerjaannya, namun semakin sering jasanya digunakan, semakin sulit baginya mencari sesuatu yang mampu menyenangkan batinnya.
Namun tak seperti permintaan klien pada umumnya—entah mereka menyuruhnya memakai sesuatu yang mencolok, super minim, atau bahkan keduanya; Kitsune Bar and Bistro mengusung 'matchmaking night' sebagai tema utama acara di malam hari kasih sayang nanti.
"Terserah lo sih, Yams. Mau pakai baju hitam atau putih, mending yang casual santai aja gitu." Ucap Akaashi Keiji, sales marketing Kitsune Bar yang juga mantan senior Tadashi di perguruan tinggi.
Bila membahas perihal matchmaking night, aturannya bisa dibilang sederhana; cukup pakai baju hitam jika ingin didekati oleh pengunjung bar yang lain, atau pakai warna putih bila tidak ingin berinteraksi dengan siapapun pada saat acara berlangsung. Sebagai dalang dibalik keberhasilan Kitsune Bar, Akaashi ingin agar hari Valentine bisa dinikmati oleh siapapun yang berkunjung ke sana—baik yang sudah memiliki pasangan, atau masih dalam misi pencarian.
"Tapi kalo gue pake baju putih, gue bisa deketin siapapun yang pake baju hitam nggak?" lanjut Tadashi yang sibuk merapikan baju-baju serta tas belanjaan yang berserakan di lantai apartemennya, “Sorry ya, Kash, gue masih unpacking habis sebulanan dari Bali kemarin. Jadi maklumin ya kalo berantakan.”
“Santai,” Akaashi mengangkat pundaknya dan menerima sekaleng bir dingin yang diulurkan Tadashi, "You do you, Yams. Tapi inget, lo di sana untuk kerja. Nanti bakal ada dua sesi dengan durasi 60 menit per sesinya, terus ada break 15 menit dari sesi pertama ke sesi kedua. Setlist nya bebas sih, tapi kalo bisa ya love song gitu."
Tadashi menggigit pelan bibirnya, mencari celah untuk bernegosiasi, "15 menit doang?"
"Lo punya waktu dari habis session lo kelar sampe closing buat hookup sepuas lo."
Dengan cepat Tadashi terduduk lesu di sofa, “yaaah, jam segituan mah orang-orang udah pada wasted, Kash. Masa lo tega sih liat gue dipojokin drunkard yang isinya kalo nggak sambat ya horny doang." Mata Tadashi nanar, berusaha memperlihatkan raut wajah memelas seperti anak kucing yang meminta untuk diadopsi.
Akaashi memicingkan mata, sadar akan segala trik Tadashi dan ke mana arah pembicaraan ini bermuara, "Oke, fine. 30 menit. Tapi per-sesi jadi 75 menit. Nggakpapa kan?"
“Aww, tenchuuu, Kash.” Sambung Tadashi girang, “setelah setahunan Kitsune buka, akhirnya bisa main di sana juga.”
Akaashi menahan sendawa akibat tumpukan karbonasi di ujung kerongkongannya, “Schedule lo padat banget, anjir. Gue bela-belain sampe nyamperin ke sini biar bisa langsung dapet slot, kalo nunggu waiting list keburu tua deh pasti.”
“Ya gimana, gue akhir-akhir mainnya kontrak sih. Jadi kalo event lepasan gini udah jarang ambil.”, jawab Tadashi yang kini mulai beranjak dan membuka lemari es, “Wanna drink something stronger?”
Akaashi menggeleng setelah tertahan beberapa detik—memandang sebotol Jose Cuervo dan sekantung jeruk nipis yang baru saja dikeluarkan sang pemilik apartemen, “Gue nyetir, Yams, dan habis ini gue balik ke Kitsune lagi.”
“Oh, right. Next time mampir dalam rangka main ya, ajak pacar lo sekalian.”
“Jangan bilang lo minta dikenalin temennya Kuroo, ya.” Sambar Akaashi melipat kedua tangannya.
Tadashi mendengus mendapati tujuannya terbongkar, “ya kali aja gue bisa dapet lawyer juga kayak lo, Kash.”
***
Kitsune Bar and Bistro, 14 Februari 2022.
Mengingat ini kali pertama dirinya memutar piringan hitam di sini, keramaian bukan hal yang asing bagi Tadashi. Dengan pembawaannya yang manis dan enerjik, ia mampu menyihir pengunjung dengan alunan lagu-lagu familiar menggunakan sentuhan baru yang menyegarkan.
Sesekali ia mengajak para pengunjung untuk mengerumuninya, bernyanyi dan melepas penat bersama, dengan sesekali melempar mikrofon dan mempersilahkan salah satu di antara mereka untuk menyanyi beberapa bait lirik tembang populer seperti 'Kamulah Satu-Satunya' dan 'Hanya Memuji'.
Namun ada momen di mana Tadashi berusaha meredakan situasi yang berapi-api dengan memainkan iringan nada indah nan menenangkan milik Nujabes, memberi jeda untuk mereka agar kembali duduk dan memesan apapun yang ingin dipesan, sebelum akhirnya kembali menyulut kobar semangat pengunjung dengan tembang cinta hits lainnya.
Dan di momen ini lah, Tadashi melempar pandangannya ke penjuru ruangan. Meski pilihannya terbatas hanya pada mereka yang mengenakan pakaian hitam, tapi bukankah itu lebih baik dari tidak ada pilihan sama sekali?
Sejauh matanya menginspeksi, hanya ada satu pria yang menarik perhatiannya.
Terbalut dengan kaos hitam dan celana jeans, pria bertubuh bidang itu terlihat menyendiri di ujung bar dekat pintu dengan iPad yang ada digenggamannya. Rasa penasaran Tadashi menguat kala sesekali mata pria itu tepat mengarah ke dirinya.
Keduanya saling mengunci pandang—pria itu pun menyimpul senyuman di wajahnya. Sebentar memang, namun cukup membuat konsentrasi Tadashi buyar selama beberapa saat.
Tadashi memanggil salah satu staff di sana, "satu gin and tonic buat cowok yang di ujung itu dong. Yang lagi pegang iPad."
Staff itu pun terdiam sejenak dan memandang Tadashi dengan bingung, "yang itu kak? Yakin?"
"Iyaaaaa, kenapa emang?"
Staff itu pun menggeleng dan memberi tanda untuk menunggu pesanan tersebut.
"All good, Yams? Kalo butuh apa-apa bilang aja ya.” Bisik Akaashi tepat di telinga, berusaha untuk tidak mengganggu laju acara.
"Nggak ada sih, cuma space yang lo kasih sempit banget, buset." Tukasnya kepada Akaashi, sembari menunjuk ke arah meja di depannya.
“Sorry ya, Yams. Rencana awal si owner emang nggak ngejadiin Kitsune sebagai tempat dugem, jadi ya emang kami nggak bisa prepare banyak."
Tadashi menggeleng, "santai sih. Anyway, owner-nya yang mana sih?"
Akaashi menunjukkan kepada Tadashi tanpa menunjuk dengan tangannya, "arah jam 1, Yams. Yang pegang iPad. Namanya Osamu."
"Holyshit, you're lying."
Akaashi memicingkan matanya, "no, it's not. Gue bahkan kaget karena doi jarang banget kesini." Ia menyambung kalimatnya dengan rasa penasaran, "kenapa emangnya? Wait, he's looking at us!"
Tadashi menenggelamkan kepalanya ke pundak kiri Akaashi, "gue tadi curi-curi pandang gitu sama dia. Dan lo liat sendiri kan barusan."
"Ih yaudah, habis ini kan break tuh. Samperin aja, sekalian bawa loveshot. Doi pake baju item tuh."
"Hah? Loveshot?" Tanya Tadashi heran.
"Lo tadi dapet kupon kan dari pegawai yang pake kostum cupid di depan pintu? Nah, lo tukar aja di bar, ntar dapet free Jameson shot."
"Oh, okay. Harusnya tuh shot-nya pake Tequila, pasti lebih seru."
"Ah itu mah kesukaan lo," timpal Akaashi, "lagipula kalo pake Tequila, ntar pada sange dong."
Tadashi terkekeh, "that's the point, Kash! Ah, udah ah, mau ngaso dulu."
Blak-blakan bukanlah sifat natural Tadashi. Selama ini dirinya cenderung menutup diri akan sesuatu yang teramat asing baginya, atau setidaknya ia menunggu untuk didekati terlebih dulu.
Ia menyadari jika ada beberapa pasang mata yang memandangnya, berharap untuk bisa mendekat—walau tak lama niat itu urung kala menyadari warna helai kain yang menempel di tubuhnya. Namun sepasang mata itu tetap menyala ketika Tadashi menyambut tatapan itu dengan balik menatapnya.
Ada sedikit penyesalan terbesit di benak Tadashi, kenapa aku harus memilih untuk pakai baju putih? Bukankah berarti satu-satunya cara agar aku mengenalnya adalah dengan menghampirinya?
Ia tuang penuh pitcher berisi bir ke dalam gelas kosongnya, lalu dengan lugas ia teguk bir itu hingga gelasnya kembali kosong.
Sisi lain batinnya berkata, fuck it. Sekarang atau tidak sama sekali.
"Slow down, motherfucker." Tegas Akaashi yang menambah beragam hidangan dan minuman sebagai jamuan ke meja Tadashi.
Tak peduli dengan apa yang baru saja ia dengar, Tadashi meraih sloki berisi whiskey yang ada di tangan Akaashi. "Tadi lo nyuruh gue buat nyamperin dia, ya ini gue lagi ngumpulin tekad buat kesana!"
Akaashi yang terkejut melihat tingkah Tadashi seketika memijat pelan pundak Tadashi, "Ohh! Okay you got this, Yams."
Setelah ia merasa tubuh dan pikirannya menjadi ringan berkat semua alkohol yang disesapnya barusan, dan dengan tarikan napas kuat, ia berjalan menuju ujung ruangan—di mana Osamu masih sibuk memeriksa layar jutaan warnanya itu.
"Hey there, stranger." Sapa Yamaguchi membuka obrolan.
'Hey there, stranger', really? Ugh so dumb.
Osamu mematikan iPad nya dan menjawab dengan nada panjang, "Heeeeyyy… Ada yang bisa kubantu?"
"Mungkin."
"Mungkin?" Tanya Osamu mengangkat salah satu alisnya.
"Mungkin kamu bisa bantu dengan jawab pertanyaanku," sambung Tadashi memposisikan kursi bar yang ia duduki ke arah Osamu, "kenapa kamu sendirian aja di sini? Aku liat kamu loh dari sana."
Okay, Tadashi, you're quite chatty. Keep it going.
"Well, aku ke sini cuma buat ngecek kerjaan aja sih. I'm Miya Osamu, by the way," ucap Osamu mengulurkan tangan kanannya, "You're a great DJ. Jarang banget nemu yang bisa ngatur flow acara gini. And oh, thanks for the drinks!"
"Aww, thanks. I'm Yamaguchi—tapi panggil aja Yams. Aku udah tau namamu kok dari Akaashi."
"Oh, dia bilang apa tentang aku? Bos pelit yang nggak pernah istirahat?"
Suara tawa terselip dari bibir manis Tadashi, "Dia cuma kasih tau namamu dan bilang kalo kamu jarang ke sini sih, tapi kalo begitu caramu ngeliat dirimu sendiri ya aku bisa apa?"
Osamu berusaha menutupi wajah tersipunya dengan mengayunkan tangan ke udara, memberi isyarat kepada salah satu staff untuk mencatat pesanan yang akan ia minta. "Kamu mau apa?"
"Tebak dong." Tadashi tertawa kecil, "harusnya kamu tadi tanya dulu baru pesan."
"Mmmm… Martini?"
Tadashi menggeleng.
"Jagerbomb?"
Tadashi mendengus mendengar pertanyaan Osamu, "apa aku masih keliatan kayak anak kuliahan? Hmm?"
Osamu menggigit bibirnya, "ugh, sorry I didn't mean that. Gimme one more chance, Yams."
"Sure, go ahead. I can give it all night long if you want to."
Geez, Tadashi. You're such a smooth talker.
"Okay, okay, how about… Margarita?"
"Ding ding ding!" Tadashi menirukan suara bel—membenarkan jawaban pria di samping kirinya.
"One margarita for this cute person."
"Blended!" potong Tadashi cepat, "habis ini aku ada satu sesi lagi. Kalo on the rock nanti aku fix bakal mabuk sih."
"You heard him, right?" Tanya Osamu kepada sang pelayan untuk segera membuatkan pesanan untuk tamu istimewanya.
Tadashi kembali membuka percakapan, "you smell nice. Jadi ingin makan onigiri."
"Oh yeah, it's mirin." Jawab Osamu sedikit kaku, "And I can make you one someday, tunggu aja ya."
"Ha ha ha….." Tadashi terkekeh gugup, "you're joking, right?"
"Loh, bener kok. Tadi pas testing menu baru, ga sengaja numpahin mirin setengah botol. Nih, pas di sini." Ucap Osamu seraya menunjuk paha bagian dalam, "untung udah kering, kalo nggak pasti bakal keliatan kalo habis ngompol."
Yamaguchi hanya mampu menatap mata Osamu hingga ia benar-benar menyadari jika pria itu berkata jujur, "Oh my god, I'm so sorry. Kukira kamu bercanda doang."
"Maaf diterima kalo kamu mau dateng ke soft launching kedai onigiriku nanti." Celetuk Osamu mencairkan suasana.
"Kapan emangnya?"
"Entahlah, nanti akan kukabari lagi."
"Lalu ngabarinnya gimana?" Tanya Tadashi dengan kerlingan genit.
Dengan sigap Osamu mengeluarkan telepon genggamnya, "Nomor WhatsApp, mungkin?"
Tadashi mengambil telepon genggam milik Osamu dan mulai mengetuk nomor pribadinya, "You know what I'm wearing yet you're still hitting up on me? Daring."
Dahinya mengernyit—bingung dengan ucapan yang dilontarkan Tadashi, "there's nothing wrong with what you're wearing though."
Tadashi terhenti sejenak, "wait, kamu ke sini katanya mau ngecek kerjaan kan? Kok kamu pake baju item?"
Osamu mengangkat bahunya, "uh, well, aku nggak sempet pulang untuk ganti baju. Jadi ya aku ke sini pake baju seadanya."
"So you don't know what's going on here, padahal kamu owner Bar ini?"
Bibir Tadashi menganga mendapati Osamu yang menggeleng dan menampakkan ekspresi linglung—ekspresi di mana seseorang benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Belum selesai ia mengetuk urutan nomornya, Tadashi terhenti dan mengembalikan telepon genggam itu kepada sang pemilik, "oh my god, sorry aku harus balik lagi ke sana."
Seketika Tadashi membalikkan badannya dan berjalan lebih cepat dari orang yang sedang berlari santai.
Sial! Sial! Sial! Anjir, Tadashi, sumpah lo malu-maluin banget!
Begitu kutuknya dalam hati.
Osamu yang masih kebingungan pun mendekati staf yang bertugas menjadi cupid untuk ditanyai beragam hal yang mencuat di kepalanya.
"Pak Osamu nggak cek flyer nya di WhatsApp grup?"
"Hah, emang di grup ada apaan?"
Akaashi yang tak sengaja mendengar percakapan mereka pun langsung merangkul Osamu dan mengarahkannya ke flyer yang tertempel di dekat pintu masuk, "black means approachable, white means don't go near me. Apa tulisan segede gitu tuh nggak jelas?"
Osamu menepuk keras jidatnya, "Shit. Gue nggak ngeh."
"Tadi gue liat lo ngobrol asik bener sama si Yams, gimana? Seru nggak?" Senggol Akaashi menggoda.
Hembusan napas berat pun terdengar dari mulut Osamu, "Ya seru, tapi setelah gue bilang kalo gue nggak tau soal dresscode malam ini, dia tiba-tiba ngacir gitu." sambung Osamu yang menggaruk kepalanya tanda putus asa, "mana dia belum kelar ngetik nomornya pula."
Akaashi yang mendengar perkataan Osamu hanya bisa tertawa, lalu menggeleng dan mengepalkan kedua tangannya tepat di wajah. Dengan menggertakkan keseluruh giginya, Akaashi berseru, "MIYA OSAMU!! KALO LO BUKAN BOS GUE, UDAH GUE TELEN LO, ASLIIII!!" lanjut Akaashi dengan tempo bicara cepat dan minim akan gerak bibir, "Gue tadi encourage dia buat deketin lo karena lo pake baju item. Dia aslinya tuh pemalu, Sam."
"Hah? Sumpah?" Kejut Osamu tak percaya.
"Justru tadi gue tanya tuh gue mau tau, percakapan kalian tuh gimana. Bisa ngobrol yang luwes atau trying too hard to be 'luwes' gitu," Akaashi kembali memijat tulang hidungnya dengan kuat, "dia bahkan habis setengah pitcher bir dan 3 shots Jameson cuma buat nyamperin lo."
"Fuck! Is he a lightweight?"
"Enggak sih, kenapa Sam?"
Osamu meraih gelas margarita milik Tadashi yang hanya terisi seperempatnya, "dia barusan habisin blended margarita segini. Sorry, gue nggak tau, Kaz."
Kedua pasang mata mereka kini langsung tertuju pada sang disjoki di lantai dansa, "Wow, he must be pretty drunk." Timpal Akaashi menambahkan, "mobil gue tinggal di sini ya, gue nanti mau nganter Yamaguchi. Dia bawa mobil sendiri soalnya."
Osamu menarik ujung lengan kemeja Akaashi, "wait! Boleh nggak kalo gue yang nganter dia?"
"Boleh." sambung Akaashi dengan tatapan tajam, "tapi pastiin dulu miskom kalian udah selesai."
"Okay."
Kali ini giliran Osamu yang menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya dengan dalam.
"What?" Lirik Akaashi sinis.
"I'm sending you a signal. Hey, look at me. Aku tau kamu nyimpen beberapa di mobilmu."
"What signal—" ucap Akaashi seraya berpaling ke arah Osamu, "NO! You are not wearing Kuroo's clothes."
"C'mon, Kaz. Please. Ukuran gue sm Kuroo hampir samaan, please, lo pengen liat gue bisa baikan sama Yamaguchi kan?" Ujarnya dengan mata nanar.
Akaashi merasa tidak asing dengan cara licik yang dilakukan oleh atasannya ini. "Tapi kayaknya nggak ada yang warna item deh, adanya cuma abu-abu."
"Ngakpapa! Pretty please?" Osamu kembali memasang ekspresi memelas, persis seperti yang dilakukan Tadashi padanya tempo lalu.
"Yooo!! Wassup?!" Seru Miya Atsumu, sang kembar satunya sedari tadi sibuk menancapkan perhatiannya pada seorang pria bersurai kelabu.
Akaashi menoleh, "Tau nih, kembaran lo habis bikin Yamaguchi tengsin karena doi nggak tau soal tema acara malam ini."
Atsumu menggeleng, "Hah?? Elo, Sam, sama Yamaguchi? Dia nih, yang lagi nge-DJ nih?"
Dirinya hanya mampu tertawa terpingkal-pingkal ketika Akaashi berusaha menjelaskan kronologi yang sesungguhnya. Osamu melipat kedua tangannya, dan dengan muka masam ia siap dengan semua untaian kalimat menyakitkan yang akan terlontar dari mulut saudara kembarnya itu.
"Man, you are a fucked. Like, F-U-C-K-E-D!" lanjut Atsumu dengan nada mencemooh, "mungkin Yamaguchi bukan rejeki lo malam ini. Sabar ya, kalo kata ciki gopean mah 'anda belum beruntung' gitu."
Dengan tidak mengindahkan apa yang Atsumu katakan, mata Osamu kembali tertuju pada Akaashi, "Kaz, please?"
"Apaan sih?" Tanya Atsumu mencari tahu.
Akaashi menimpali, "doi mau pinjem kaos laki gue masa?"
"Eww, Sam, lo kan bisa pake kaos gue. Secara ukuran kita juga sama."
"Nope. Baju lo flashy semua, males." Tukas Osamu dingin.
"Wow, so hostile. Sooo Osamuuuhh…" cibir Atsumu yang dengan sengaja menggodanya.
"Eh, by the way, Bokuto-san ke mana, Tsum?" Tanya Akaashi mengalihkan pembicaraan.
Atsumu menunjuk ke arah toilet dengan ibu jarinya, "ke toilet. Tau nggak sih, rasanya tuh pengen banget cakar-cakar wajahnya, tapi ya gue juga pengen nyusul dia ke toilet sekarang dan dan berbuat yang iya-iya di sana."
"Kaz??? Please??? Yamaguchi kelar dari setengah jam lagi." Ambang kesabaran Osamu kini telah berada di titik nadir.
"Iya, iyaaa, terserah. Yang penting dibalikin. Atau ganti 200 ribu."
Tanpa perlu waktu panjang, Osamu bergegas menarik dompetnya dari saku celana belakang dan mengambil dua lembar uang berwarna merah terang, "Nih."
Dengan riang Atsumu menggerakkan kepala seiring dengan alunan musik yang dimainkan oleh Tadashi, "Nah, gitu dong."
Dan dalam kurang dari tiga puluh menit, Osamu berusaha mengubah penampilannya. Selama itu lah Tadashi menyadari pria itu keluar masuk dari pintu utama ke ruang bertuliskan 'staff only', empat kali jumlahnya.
Sesekali Osamu melambaikan tangan dari kejauhan, berharap supaya Tadashi membalas—atau setidaknya, mengakui keberadaannya. Namun Tadashi terlalu malu untuk menambatkan matanya pada Osamu, tak tahan bila harus mengingat tingkah konyolnya sendiri saat berusaha mendekati Osamu.
Mungkin saja keadaan akan berbeda jika ia memilih untuk tidak berpaling, bisa saja dirinya berimprovisasi dan menyelamatkan situasi canggung itu.
Namun kemungkinan terburuk lah yang berhasil menguasai isi kepalanya. Entah Osamu akan ilfeel dengan sikap genitnya yang dibuat-buat, atau ia hanya terlihat baik sebagai bentuk hospitality dari Kitsune. Dirinya bahkan tak sempat menyimpan nomornya di ponsel Osamu, dan tentu saja Tadashi yakin jika pria itu tidak akan mau menanyakan hal serupa untuk yang kedua kalinya.
Dan dari lagu "Berharap tak Berpisah", hingga trek "Luv(sic) pt. 5 instrumental" dari Nujabes yang berputar sebagai penutup acara, Tadashi memilih untuk melayangkan pandangan ke siapapun yang ada di sana, selain Miya Osamu.
Tak selang lama setelah semua pengunjung pergi, dengan segera Tadashi merapikan alat-alat serta instrumen musik miliknya yang terpakai malam ini. Kepalanya pening dan berat, teringat akan berapa banyak alkohol yang sudah beredar di sistem tubuhnya.
Tadashi sadar jika tidak ada satupun yang akan menolongnya, karena sesungguhnya ia juga tidak ingin ditolong oleh siapapun—tidak setelah kejadian di mana salah satu dari instrumen musiknya rusak akibat kelalaian kru acara yang tidak ia kenal, namun Tadashi tak sampai hati untuk memarahinya.
Maka dalam setiap tarikan serta hembusan uap dari vaporizer yang terkalung di lehernya, ada upaya agar kesadaran dan tenaganya tetap terjaga.
Suara langkah terdengar mendekatinya, namun kini Tadashi tak mampu memecah fokusnya lebih dari satu hal.
"Let me help you, Yams."
Tidak ada jawaban di sana. Tadashi tetap bergerak sesuai dengan apa yang biasa ia lakukan di tiap malam—seperti rutunitas yang telah terpatri oleh tubuh dan pikirannya.
Tak ingin kehilangan kesempatan untuk yang kedua kalinya, Osamu kini berusaha untuk membuka obrolan terlebih dulu.
"Vanilla ya?" Tanya Osamu setelah mencium aroma kepulan uap yang dihembuskan Tadashi.
Tadashi merasa sedikit terkejut, namun tangan dan matanya memilih untuk tetap bergerak.
Maksudnya apa? Apa dia pikir, setelah gue samperin dia duluan, lalu dia pikir gue mau gitu one night stand sama dia? Anjirlah, ternyata dia sama aja.
Tadashi berhenti. Ia menaruh apapun yang ada di tangannya kembali di atas meja.
"No." Sekuat tenaga Tadashi mengumpulkan energinya yang tersisa untuk memasang ekspresi dingin di hadapan Osamu, "I like it rough. I'm a pure masochist who like being spanked, choked, and I'm into gangbang as well. I'm the worst person when it comes to sex! Are you afraid now?"
Seketika ruangan yang penuh bising gelas dan piring pun terasa hening.
Mulut Osamu menganga selama beberapa detik, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melangkah maju mendekati laki-laki yang baru saja membentaknya, "what are you talking about? I'm asking about your vape liquid flavour, is it vanilla?"
"Oh…."
Suara Tadashi terdengar lirih, ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa malu yang menyeruak dari dalam batinnya. Matanya berkaca-kaca, entah karena memang sudah tidak tahan dengan perbuatannya sendiri atau karena dorongan alkohol yang membuatnya semakin menjadi emosional.
Tidak ada yang bisa Tadashi lakukan selain berlari, namun ia lupa, jika alkohol juga melemaskan otot-otot di tubuhnya. Bahkan belum sampai di pintu keluar, Tadashi hanya mampu bersimpuh di lantai yang baru saja selesai dibersihkan—sembari menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
Osamu, di satu sisi, dengan segera berlari menghampiri Tadashi dan mengangkatnya hingga ke sofa. "Noooo, don't touch me!"
Tadashi hanya mampu merengek dan berkali-kali memukul pelan dada Osamu, "Rasanya aku mau mengubur diri aja! Aku udah nggak mau lagi ketemu sama kamu!"
"Do you hate me that much?" lanjut Osamu berusaha menenangkan Yamaguchi, "Maaf ya, aku bener-bener nggak tau soal dresscode malam ini."
"Bukan gituuu, aku tuh tertarik sama kamu tapi aku maluuuu…"
Jemari Osamu mencari celah di wajah Tadashi yang tertutup kedua tangannya, "Yams, look. Mau ada dresscode atau nggak, aku seneng ngobrol sama kamu. Dan aku mau ngobrol lagi besok, lusa dan seterusnya. Entah sampai kapan aku ngga tau, yang aku tau, aku pengen kenal lebih jauh tentang kamu."
Tadashi memperlihatkan wajahnya perlahan, dan saat itulah napas Osamu tertahan. Tak disangka olehnya jika seorang laki-laki bisa terlihat sungguh menggemaskan meski sedang berlinang air mata. "Freckles-mu, lucu banget…"
"Osamu-san, ih!" Timpal Tadashi yang kembali menutupi parasnya.
"Can I hug you, Yams?"
"Ya kan ini udah?" respon Tadashi yang merasa jarak mereka sudah terlampau dekat—sudah saling bersentuhan, malah.
"Ya kan baru aku pangku, belum kupeluk."
Mata mereka kini saling menatap, kedua tangan Osamu seketika mengalung di pinggang Tadashi setelah melihat anggukan tanda mengiyakan.
"Wafer creamy." Ujar Tadashi lirih.
"Sorry, what?"
"Kamu tadi tanya soal liquid vape ku, kan. Ya itu, Wafer Creamy." Jawab Tadashi sedikit terbata-bata, "makanya tadi aku kaget pas kamu tiba-tiba tanya 'vanilla' gitu."
Osamu kembali menggigit bibirnya, menahan gemas akan tingkah polos Tadashi, "jadi kamu pikir aku tanya gitu untuk tau sex preference-mu? Dan yang kamu sebutin tadi itu emang bener-bener preferensimu?"
Tadashi menggeleng dengan cepat dan menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Osamu, "kamu percaya nggak kalo aku bilang gitu?"
Jemari Osamu kembali bermain di pipi halus Tadashi, kemudian naik dan memutar beberapa helai rambutnya, "Ya gimana, mau cari tahu bareng gitu?"
