Actions

Work Header

QB

Summary:

Jean tidak ingat kapan magma ini mulai bergejolak di relungnya, makin panas, makin liar setiap harinya. Namun, ia akan selalu ingat abu yang ditinggalkannya.

Notes:

This is a part of my tweet fic / socmed AU posted on my Twitter: Click here.

But this can be read as a standalone!

Chapter 2 is coming soon.

Chapter 1: (Bukan) Awal Mula pt. 1

Chapter Text

Tahukah dia

bahwa aku menatap matanya

hanya untuk mencari surga?

—7 November 2014

 

Jika ditanya, Jean masih bisa merunut rutinitas paginya ketika duduk di bangku SMA, hampir menit demi menit.

Biasanya, pukul 5:40 pagi, ia sudah bangun dari tidurnya yang masih genap 7 jam itu. Walau seringnya kelopak mata Jean masih menolak membuka, guyuran air dingin saat mandi cukup untuk menyadarkan diri sepenuhnya. Ketika sampai lagi di kamar, seragam sekolah untuk hari itu sudah terlipat rapi di tumpukan paling atas lemari Jean — masih hangat habis disetrika Ibu. Begitu jam di dinding berdenting pertanda pukul enam, bauran aroma mentega, telur, dan tomat mulai merebak masuk ke kamarnya. Tanda bahwa sudah waktunya keluar kamar dan bersiap menyantap omelet favorit buatan Ibu.

"Jean sayang, makan yang banyak, ya. Hari ini basket, kan? Ibu juga udah siapin bekal biar nanti nggak banyak jajan," ujar Ibu sembari membuka ritsleting ransel Jean untuk memasukkan kotak bekal ke dalamnya.

 

"Iya, Bu. Makasih."

 

Ibunya tersenyum dan mengacak pelan rambutnya. 

 

"Yah, Ibu. Kan jadi berantakan lagi. Habis keramas nih," gerutu Jean.

 

"Ah, anak Ibu mah mau diapain juga tetep ganteng," senyum ibunya merekah, menegaskan garis-garis halus di sudut matanya.

 

Sebagai satu-satunya anak yang dilahirkan ibunya, sejak ia kecil perhatian Ibu tak terpecah dan hanya tertuju pada Jean seorang. Ia bersyukur akan hal itu — terutama saat mendengar pisuhan-pisuhan Sasha tiap orang tuanya lupa datang ke sekolah untuk mengambil rapornya, atau tentang kelima adiknya yang bandel dan bikin rumah gaduh minta ampun. Jean juga cukup yakin tidak bisa hidup tanpa Ibu, terlalu terbiasa apa-apa berdua. Apalagi setelah Ayah meninggalkan mereka. Selalu Ibu dan Jean melawan dunia.

Akan tetapi, di lain waktu, tak dipungkiri ia juga kerap merasa sendirian. Masih ada hal yang Jean pilah-pilah ketika menceritakan harinya ke Ibu sepulang berkegiatan. Utamanya, seperti lazim pada anak-anak, tentu karena bertahun-tahun usia yang menjadikan lembah curam antara ibu dan anandanya. Namun, selain itu juga ada hal-hal yang Jean tinggalkan dari ceritanya karena takut akan mengusik bagaimana Ibu memandangnya — merisak perasaan Ibu terhadap anak semata wayangnya. Belum saatnya Ibu tahu.

"JAAAAAAAAN, AAAYOOOOOOOK! BERANGKAAAAAAAAT!” Teriakan nyaring dari luar rumah yang (kemungkinan besar) memekakkan telinga tetangga sepanjang gang itu biasanya baru tiba sekitar pukul 6:20 pagi.

Bukannya kesal, Jean seringnya tersenyum kecil pada diri sendiri. Tidak mau mengakui bahwa tiap pagi ia menantinya — tapi jika lengkingannya mulai terdengar, maka bahagia rasanya. Walau sudah dengar dari kecil (meski sudah beda nada sejak keduanya balig), tubuh Jean selalu menghangat tiap suara Eren menggelitik gendang telinga. Beribu terima kasih ia ungkapkan ke ibunya setiap hari (dalam hati, tentunya) karena dari dulu sudah akrab dengan keluarga dokter tiga rumah di sebelah. Otomatis, Jean dan Eren pun lengket bak getah karet sejak orok. Sebagai sesama anak tunggal, problematika yang serupa bisa Jean bagikan kepada Eren, dan Eren pada Jean. Sama-sama mengerti rasanya sendirian di kamar setelah dimarahi ibu, sama-sama mengerti tekanan dan cita-cita orang tua yang terlalu tinggi, sama-sama mengerti rasa kesepian yang timbul tenggelam. Let’s be alone together, kalau kata lagu-lagu.

Dari balik tirai, Jean bisa melihat Eren dengan seragam putih abu yang kemejanya (sengaja) keluar, lengkap dengan ransel biru dongker andalannya dari SMP. Sambil menunggu Jean, Eren terlihat menyibukkan dirinya dengan menendang-nendang kerikil di depan rumah Jean yang lapisan aspalnya sudah lama rusak. Sol sepatu Converse belelnya pun jadi mengabu oleh debu karenanya. Sehabis salim sama Ibu, Jean bergegas menuju pintu depan.

"Heh, udah jangan ditendang-tendang, Ren. Kalo sepatunya kotor nanti dimarahin Pak Erwin lagi, disuruh jalan jongkok lagi. Bajunya juga masukin," ujar Jean sambil menutup pintu di belakangnya. Eren sekonyong-konyong melesakkan kemejanya asal-asalan dan berdiri tegap sampai kedua sepatunya beradu. Tok! Tangannya lalu ditempatkan seiris tegak lurus di depan keningnya.

 

"Siap, Pak Jan!" seru Eren lantang, diberat-beratkan. 

 

Jean cuma nyengir dan melengos ke arah halte bus di ujung gang. Langkahnya tak terlalu terburu-buru karena tahu angkutan feeder nomor 8E yang mengarah ke sekolah baru akan berangkat paling cepat 10 menit lagi.

 

"Anjing. Baju lu juga keluar, goblok," tambah Eren, sadar.

 

Sambil kembali membebaskan kemeja dari celananya (“Biar tetep keliatan bandel dan nggak kayak anak mama,” ujarnya), Eren lompat-lompat kecil ke arah Jean untuk menyamakan langkah dengannya. Setengah perjalanan menuju halte mereka habiskan dalam diam. Jean tahu bahwa Eren paham dirinya tidak suka banyak-banyak bicara sebelum jam 7 pagi. Belum sepenuhnya on, katanya dulu. Namun, akhir-akhir ini sejak sekolah mereka mewajibkan lari pagi jam 5 setiap hari Jumat, Jean sebenar-benarnya sudah tidak terlalu terganggu lagi oleh pagi buta. Malah, ia mulai bisa menyadari hikmah dan berkatnya.

Ya, ia tidak masalah juga kalau Eren nyerocos tak henti-henti. Baik curhat tentang masakan ibu kantin penjual katsu yang makin lama makin hambar, atau cerita penuh semangat tentang sesi CS-nya tadi malam dengan Connie dan kawan-kawan lainnya. Namun, di waktu-waktu seperti ini — pukul 6:20 hingga 6:40 pagi — Jean biarkan diam itu terjadi, tak memaksakannya untuk melahirkan bunyi. Ini adalah salah satu momen langka dalam dua puluh empat jam di hari-hari Jean di mana ia bisa, dan punya alasan, untuk menghayati waktunya bersama Eren, hanya berdua saja.

Bagi Jean, Eren akan selalu menjadi adik kecil yang tak pernah ia miliki. Walau hanya beda waktu lahir beberapa bulan di tahun yang sama, semua tahu bahwa dalam hubungan mereka berdua, Jean lah yang lebih ‘matang’ dan Eren lah yang tak pernah belajar dewasa.  Jean yang selalu mengingatkan Eren untuk menyelesaikan tugasnya ketika jam 1 pagi Eren masih ketahuan main game. Jean yang menenangkan Eren ketika temannya itu sekonyong-konyong menantang Porco, ketua geng sekolah sebelah, untuk berkelahi satu lawan satu di parkiran sekolah — iseng, katanya. Jean yang menarik tangan Eren ketika sedang pelesiran sore cari jajan di alun-alun dan Eren malah main HP sampai langkahnya bergeser terlalu jauh ke tengah jalan. Mungkin karena hubungan keluarga keduanya, Jean terkadang merasa wajib untuk menjaga dan mengayomi Eren.

Namun, seiring berjalannya waktu, Jean menyadari sepercik kecil yang berbeda dari caranya merasa akan semua-semua yang Eren — perasaan yang Jean cukup yakin bukan familial ( tidak ada kakak yang tiba-tiba ingin mengecup bibir saudaranya, kan? ). Terjadinya pelan-pelan, Jean pun lupa kapan. Bukan tiba-tiba satu pagi bangun lalu menganggap Eren surga di dunia. Rasanya bertumbuh — mengakumulasi — di tiap pertemuan, di tiap notifikasi “Jean, main yuk” yang tiba-tiba datang, di tiap sentuhan, yang Jean sadari makin panas di tiap-tiapnya. Dulu, hanya hangat ketika tubuh mereka saling bergesekan di tengah bus yang sesak. Sekarang, di dalam bus yang kosong dan kaca yang berembun pun, hanya menepuk bahu untuk membangunkan Eren saja Jean rasanya sudah mau terbakar. Terbakar cinta? Cintakah ia? Jawabannya tidak tahu dan tidak mau tahu. Jean tidak mau menamai rasanya. Yang pasti, Jean senang bersamanya.

Dalam heningnya pinggiran kota yang sejauh mata memandang hanya bergelar sawah keemasan, Jean dan Eren cuma dikawani sepoi angin pagi yang menghembus dedaunan kering ke segala arah. Seakan semesta tahu Jean ingin lebih lama bersamanya, satu helai pun membantu mengulur waktu dengan hinggap di rambut Eren. Dari sudut matanya, Jean bisa melihat temannya menggerutu pelan dan susah payah mencoba mengambil daun yang tersangkut di antara helai-helai rambutnya. Jean cuma tertawa kecil dalam hati. Sehabis puas mencuri pandang dengan sembunyi-sembunyi, Jean memberanikan diri untuk berhenti dan menengok ke kanan.

Tolehannya disambut oleh dahi Eren yang mengernyit dan bibirnya yang hampir membentuk huruf U terbalik. Bola matanya melirik ke atas, mencoba mencari-cari rasa janggal di atas kepalanya. Gemas , pikir Jean. Andaikan Jean tiba-tiba nekat, rasanya ingin langsung mendekap tubuh Eren dan mengusap rambut hitam pekatnya itu. Tapi ia tentu berhasil menahan. Masih terlalu banyak ketidakpastian. Yang sekarang bisa Jean lakukan hanya meraih daun kekuningan yang bertengger kontras di dekat telinga Eren dan dengan hati-hati mengurainya. Sekelibat, Jean seperti mendengar nafas Eren tercekat. Udara di sekitar mereka pun seketika terasa menyesakkan ketika punggung tangan Jean tak sengaja menyapu pipi Eren. Jean hampir tak berani menghela nafas. Hingga—

 

6:40. Tsssssss.

 

Suara bus 8E berhenti di kejauhan, memecah apa-apa yang dari tadi menggantung tak terselesaikan. Eren dan Jean pun refleks lari sekencang-kencangnya mengejar tumpangan mereka di ujung gang.

Ah, Eren. Selalu begini. Jean yang adalah petualang tak berkawan, meniti jembatan lapuk di atas ngarai berapi yang ia tak tahu seberapa lebarnya, dan di mana ujungnya. Saat-saat seperti ini, ketika lahar di bawahnya terlihat tak seberbahaya biasanya, yang membuat Jean tetap menggebu, mendamba, (mencinta?). Melihat Eren bahagia, membantu Eren seadanya, asalkan bisa selalu di dekatnya.

Jean tidak ingat kapan magma ini mulai bergejolak di relungnya, makin panas, makin liar setiap harinya. Namun, ia akan selalu ingat abu yang ditinggalkannya.