Actions

Work Header

Eternal Sunshine

Summary:

Yang datang akan selalu pergi, namun Johnny tak pernah mau membayangkannya.

 

Tidak, sampai Tuhan mengambil Yuno dari sisinya. Dan setelah beberapa waktu ia lalui tanpa keberadaan Yuno, takdir mempertemukannya dengan anak magang baru di kantornya yang berhasil membuatnya mempertanyakan kewarasan dirinya.

Dia... Jeong Jaehyun si anak magang, yang mengingatkannya pada mendiang suaminya yang telah meninggal.

Notes:

Kuharap ini bisa menyakiti hati kalian, karena aku tidak mau sakit hati sendirian saat menulisnya LMAO
Bercanda. Tapi, serius. Aku harap, kalian bisa terbawa suasana saat membaca ini. Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Getting over it

Chapter Text


 

“Sayang?”

Suara bisikan kecil serta guncangan ringan  didapat oleh Johnny. Ia bergumam pelan sebagai respon, matanya masih terasa berat untuk dibuka.

“Ayo bangun.”

“Lima menit lagi.”

Ia begadang tadi malam gara-gara bosnya yang tak berperikemanusiaan itu. Bisabisanya ia mendesaknya untuk menyelesaikan laporan keuangan bulan lalu di malam itu juga. Padahal, dia sudah merencanakan hal yang menyenangkan dengan suami tercintanya.

“Nanti sarapannya dingin. Cepat bangun.”

Dengan kesadaran yang masih terkumpul setengahnya, Johnny mencoba melawan daya tarik gravitasi yang sedari tadi menekannya untuk terus tiduran di kasurnya. Matanya yang masih mengantuk menangkap bayangan lelaki yang masih setia berdiri di pinggir ranjang, menunggunya untuk terbangun.

Lelaki itu mengusap lembut rambutnya, kemudian menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.

“Cuci muka dan sikat gigi dulu, baru kuberi ciuman selamat pagi.”

Tersenyum sumringah, Johnny segera beranjak dari kasurnya menuju ke kamar mandi.

.

.

"Happy birthday!"

Sup rumput laut dan sebuah kue ulang tahun kecil tertata rapi di atas meja. Johnny sudah mendudukkan dirinya di depan mangkuknya, memandang lurus ke arah nasi yang sudah tersaji di dalamnya.

Supnya terlihat enak. Masakan Yuno selalu terlihat enak. Johnny tak pernah mau membuang waktunya sepersekian detik pun untuk termenung di hadapan makanan yang sudah dimasak oleh Yuno.

"Cepat dimakan, John Hyung."

Johnny memejamkan mata, kemudian menghela napasnya. Genggamannya pada sendok yang tengah ia pegang mengerat. Ia kemudian menyendokkan makanan itu ke mulutnya.

Rasanya hambar, dan juga hampa.

Apa yang tengah ia lakukan? Membohongi dan menipu dirinya sendiri. Faktanya, ia memasak semua ini sendiri. Ini bukan masakan Yuno.

"Enak?"

“E-Enak... sangat enak,”

Suara dentingan sendok yang bertemu dengan mangkok keramik itu terdengar nyaring setelahnya, disusul dengan isakkan yang memilukan, memenuhi seisi ruang makan di rumah ini.

.

.

.

“Kita ke rumah ibu, yuk?”

“Besok? Kau tidak kerja?”

Johnny menggeleng. “Cuti. Besok ‘kan,  malam natal, jika kau lupa,”jelasnya.

“Oh, iya.”

Yuno tampak berpikir untuk sejenak, sebelum akhirnya ia menyetujui ajakan Johnny. “Aku ingin mengajakmu ke pantai sebentar. Kau mau menginap di rumah ibu, atau langsung pulang?”tanya Johnny lagi.

“Langsung pulang saja. Aku mau membantu Taeyong Hyung dengan pesanan natalnya, kasihan dia mengerjakan semuanya sendirian.”

“Baiklah.”

Yuno bangkit dari duduknya, kemudian berkata, “Kalau begitu, bantu aku membuat kue kesukaan ibu. Ibu pasti senang kalau tahu anak kesayangannya ini memasak untuknya setelah sekian lama.”

Johnny tersenyum kecil. “Ibu akan semakin senang saat tahu menantu kesayangannya juga ikut membantu anaknya memasak untuknya.”

Yuno mendengus pelan, namun bibirnya mengulas sebuah senyuman.

“Berani bertaruh?”

Yuno dan jiwa kompetitifnya. Johnny hanya bisa tertawa dalam hati, namun tetap mengikuti kemauan suaminya.

“Apa?”

“Ibu lebih rindu aku, atau menantu kesayangannya?”

Kali ini Johnny yang mendengus. “Yang benar saja? Tentu saja ibu lebih rindu dengan menantunya,”ejeknya, sengaja menggoda lelaki yang lebih muda.

Tak mau kalah, Yuno turut mengejek Johnny. Namun, sesaat setelahnya terdengar gelak tawa dari Yuno saat Johnny berakhir menggerayangi tubuhnya, menggelitiki tubuhnya dan ia hanya bisa tertawa sambil mencoba untuk meloloskan diri dari serangan Johnny.

“John Hyung, berhentiii!”

“Tidak, sebelum kau mengakui bahwa aku anak kesayangan ibu.”

“Haha... Tidak akan pernah terjadi—ahahahah! Baiklah, baiklah! Kau menang.”

Sebelum Johnny melepaskan tubuh sang suami dari dekapannya, ia menyempatkan diri untuk meninggalkan sebuah kecupan kecil di pipinya.

“Ayo mulai membuat kue.”

.

.

Johnny menatap tas kain yang ia taruh di tempat duduk penumpang di belakangnya.

Tas itu berisikan roti serta kue kering kesukaan ibu Jeong.

Sementara itu, di samping kursi kemudi diletakkannya rangkaian buket bunga chamomile dan campuran bunga lainnya.

Cantik, segar, dan putih berseri. Mengingatkannya pada sosok Yuno.

Dan ia akan menemuinya hari ini. “Kita akan berjumpa kembali, sayang.”

.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam lamanya, mobil yang dikemudikan oleh Johnny pun tiba di sebuah rumah. Ia memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah yang luas itu, kemudian tak lupa membawa barang-barang yang ia perlukan; termasuk tas kain tadi.

Ia berdiri di samping mobilnya, menatap lurus ke arah rumah dengan tatanan minimalis di hadapannya ini. Beribu ingatan masa lalu langsung memenuhi isi kepalanya, hanya dengan menatap ke arah pintu rumah itu.

Setelah menarik napas dan memantapkan diri, dibawanya tungkai kakinya yang panjang untuk membelah hamparan rumput hijau yang basah. Dinginnya angin musim dingin yang tersisa pun tak membuatnya gentar.

Johnny berhasil. Ia sudah ada di hadapan pintu tersebut. Yang harus ia lakukan selanjutnya hanyalah menekan tombol bel yang sudah terpasang apik di samping pintu.

Ia bisa mendengar suara langkah yang terburu dari dalam sana, dan semakin nyaring saat orang itu sudah mendekati pintu.

Senyuman terbaik ia kenakan saat pintu terbuka. Tak ada sepatah kata pun yang terucap saat ia dan si tuan rumah saling bertukar pandang. Sang tuan rumah tampaknya tersadar dari apapun yang tadi mengganggu pikirannya, dan mempersilakannya masuk.

“Youngho... akhirnya kau kemari. Duduklah.”

Youngho. Rasanya sudah lama sekali ia tak mendengar nama itu disebut. Hanya beberapa orang saja yang memanggilnya dengan nama itu; pertama, orang tuanya.

Kedua, ibu mertuanya.

“Aku membawakan bingkisan kecil untuk ibu,”kata Johnny sembari membongkar isi tas yang ia bawa, kemudian menatanya di atas meja.

“Ah... terima kasih.”

Wanita itu masih terlihat kaget dengan kedatangan Johnny, namun ia mencoba untuk menutupinya sebisa mungkin.

“Maaf, Bu, aku kesini tanpa menelepon dulu. Ibu pasti terkejut, ‘kan?”

“Tidak.. tidak apa-apa, Youngho-ya. Dia pasti senang jika kau... berkunjung. Kau mau mampir ke tempatnya, ‘kan?”

Johnny mengangguk pelan. “Aku ingin berkunjung ke tempat Yuno,” jawabnya dengan berhati-hati sembari menatap ke arah wanita yang lebih tua, mencari tahu apa reaksinya setelah ini.

Hanya seulas senyum yang Johnny dapatkan. Namun, dari sorot mata jelitanya yang sudah tak lagi muda, ia bisa melihat kesedihan di sana. Ia tahu bahwa ibu mertuanya ini mencoba untuk tegar di hadapannya.

“Kalau begitu, aku pamit dulu, Bu. Aku akan sering-sering kemari.” “Hati-hati, Nak.”

Sebelum Johnny benar-benar pergi, ia mengatakan suatu hal kepada ibu Jeong.

“Jika sewaktu-waktu ibu membutuhkan bantuanku, hubungi saja. Aku masih menantu kesayanganmu, ‘kan?”

Dua insan berbeda generasi itu saling bertukar senyuman dengan mata yang berkacakaca setelahnya.

“Ya... Youngho-ya. Aku masih menganggapmu seperti anakku sendiri.”

.

.

Johnny memarkirkan mobilnya di sebuah lahan kosong yang berada di dekat kompleks rumah penyimpanan abu orang-orang yang sudah meninggal. Tempat ini dulunya merupakan sekolah dasar, begitu kata Yuno.

Tak lupa ia menenteng buket bunga yang sudah disiapkannya. Ia juga membawa lilin aromaterapi kesukaan Yuno.

Ia takkan menangis kali ini. Ia bersumpah ia tidak akan menangis—setidaknya ia akan mencoba untuk tidak menangis.

Kakinya berhenti di depan lemari kecil yang pintunya terbuat dari kaca bening. Ia membukanya, kemudian meletakkan buketnya dengan hati-hati. Setelahnya, ia menundukkan kepala untuk berdoa.

Usai berdoa, matanya menatap lurus ke arah pigura yang berisikan foto Yuno di dalamnya. Suaminya tersenyum secerah mentari pagi, dihiasi dengan dua cacat kecil yang terbentuk di kedua pipinya.

Johnny mencoba untuk tersenyum meski dadanya sudah bergemuruh hebat.

“Hai, aku datang untuk yang pertama kalinya setelah dua bulan berlalu.”

Jeda sejenak, ia mencoba untuk mengatur napasnya.

“Maaf, ya, aku baru punya kekuatan untuk menginjakkan kaki di sini. Kau boleh marah jika kau mau. Aku pantas mendapatkannya.”

Johnny masih tersenyum, kali ini terasa begitu getir. “Kau masih bisa tersenyum seperti itu, huh? Kuharap, senyumanmu abadi. Aku mendoakan kebahagian untukmu di sisi Tuhan.”

“Kemarin... adalah ulang tahunku. Dan sebentar lagi adalah ulang tahunmu. Biasanya, kita akan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan memborong jajanan yang ada diskon karena itu adalah hari valentine.”

Ia terkekeh pelan saat mengingat hal tersebut. Yuno adalah orang yang paling bersemangat untuk berburu diskon khusus hari valentine. Hadiah untuk diri sendiri, katanya.

“Yuno-ya... Jeong Yuno. Aku rindu padamu. Maafkan aku atas semua yang terjadi. Aku tidak bisa menjagamu, dan aku pula yang mematahkan kepercayaan ibumu padaku. Dia menitipkanmu padaku, dan aku tidak bisa melakukannya dengan baik. Maafkan aku, sayang.”

“Ah, aku terbawa suasana. Aku harusnya tidak menangis. Aku sudah terlalu banyak menangis akhir-akhir ini, kau tahu,”gerutunya sembari mengusap air mata yang sempat membasahi pipinya.

“Hari sudah mulai gelap. Aku pamit pulang, sayangku. Aku akan sering-sering berkunjung kemari.”

Apapun yang ia katakan, apapun yang ia lakukan, Yuno akan tetap menatapnya dengan senyuman manis melalui foto yang terpajang di dalam lemari tersebut.

Johnny berharap, ia bisa terus melihat senyuman itu.

Notes:

Twitter