Work Text:
1.
“Bang, gua bakal balik ke Seattle. Limit waktu buat gue bisa debut udah abis dan sekarang gua cuma bisa balik dan nurutin ortu. See you, ntar gua jadi penggemar lo, deh.”
2.
Heeseung Lee alih-alih debut sebagai idol, dia justru menjadi model. Dia juga main dalam beberapa film. Dia menolak tawaran bermain drama, selain karena jadwalnya tajam—Heeseung yakin orang yang berarti untuknya yang saat ini ada di daratan sana tidak akan punya cukup waktu untuk nonton sesuatu yang bersambung. Heeseung tidak gugur untuk menjadi salah satu member grup baru yang akan diluncurkan agensinya, hanya saja debut tanpa Jongseong Park bukan hal yang ingin dia capai. Maaf kalo kesannya geli, Jongseong itu cinta pertamanya Heeseung meski sahabatnya itu engga punya rasa yang sama.
Sudah enam tahun berkarir, sudah ketemu banyak orang, dan belum pernah ketemu fisik sejak terakhir mengantar ke bandara—takhta Jongseong di hati Heeseung belum tergeser. Jongseong masih jadi ayang yang yangkut di bunga mimpi Heeseung. Ingin sebenarnya move on, atau minimal punya relasi rlmantis sama orang lain atau baru. Tapi tiap kali Jongseong ada menghubungi Heeseung untuk topik-topik sederhana, hati Heeseung langsung hangat lagi. Ingin nge-claim eh Jongseong setahun dua kali ngabarin dia putus-nyambung. Kapan Jongseong meliriknya ya. Heeseung memberengut kalo ingat soal kisahnya yang tak sampai.
Getar dari ponselnya terasa di saku baju. Sebuah notifikasi pesan muncul. Itu dari Jongseong karena ada emotikon elang.
“Abang, kayaknya gua tertarik sama cowok deh, sekarang.”
Wat-de-fak.
“Halo hyungnim, saya mau minta cuti. Iya kakak lelaki saya yang tinggal di US baru mematahkan lengannya, dia sendirian dan ayah-ibu saya meminta untuk menemaninya karena dia sekarang kena sindrom kesepian. Iya-iya dua minggu aja. Tolong ya. Makasi.”
3.
Heeseung disambut abangnya di Bandara. Abangnya engga patah tulang lengan. Heeseung sudah minta maaf disertai sogokan yang tidak sedikit akibat sudah pakai nama abangnya. By the way anyway—Abangnya Heeseung juga ambil cuti. Buat liburan, tapi ide yang dipakai adalah Heeseung sangat merindukannya sehingga dia ambil libur beberapa hari untuk waktu berkualitas bersama keluarga—ck saling pakai nama dan cerita karangan buat cuti. Mengantongi hari libur, keduanya dengan paksaan Heeseung (lagi) memilih untuk berlibur di Seattle. Niat Heeseung jelas terbaca dan abangnya ga akan ikut campur semoga.
Heeseung sengaja berangkat ke Seattle buat minta klarifikasi sekalian usaha agar lirikan Jongseong yang mulai ada rasa sama laki-laki pindah ke dia. Please, Heeseung suka Jongseong tapi dia engga punya momen yang tepat selama ini. plus nyalinya baru ada sekarang.
“Jadi, kamu beneran siap buat ngaku ke Jongseongie?”
Heeseung ditanya abang kandungnya itu, jakunnya turun karena nelen ludah. Gugup bro, ditodong pertanyaan kayak gini. Heeseung ngangguk soalnya dia tuh udah mantep.
“Ngaku doang kan?”
Heeseung ngangguk lagi.
“Terus ini, bawa apaan?”
“Hadiah.”
Abangnya Heeseung ga habis pikir. Ini sih kayak mau seserahan pikirnya. Nampaknya abangnya itu perlu menarik ucapan dalam hatinya soal engga akan ikut campur. At least abangnya akan ikut campur perihal pelipur lara dengan ngebooking beberapa layanan rekreasi habis ini. Jaga-jaga jalan cinta adiknya ga mulus dan berakhir patah hati.
4.
Heeseung menekan bel rumah Jongseong. Kalau hari sabtu dan minggu, Jongseong akan menginap di rumah orang tuanya. Heeseung pernah ke sini dua kali waktu masa trainee. Tiket dibayarin ayahnya Jongseong tentu aja. Dulu dia cuma siswa kere dengan uang tabungan terbatas.
“Halo, selamat pagi ... Mr. Park.”
Yang buka pintu itu Jongseong.
“Hmmmpt bang lu jadi pengantar paket apa gimana?”
Di tangan Heeseung ada dua papper bag besar menggantung di lengan baju. Serta sebuah kotak dilapis kain satin yang berisi makanan kesukaan mamanya Jongseong yang dibawa Heeseung dari Korea.
Jongseong ketawa kecil, tapi tetep mendekat ke arah Heeseung dan kasih dia pelukan dari depan. “Di sini kita ngucapin salam pake pelukan.”
“Eh bukan deng,” pipi Heeseung dikecup. “Pake kecupan kita mah.”
Jongseong menyengir, diambilnya bungkusan dari tangan Heeseung. Agaknya cukup puas lihat sahabatnya yang sudah lama engga ketemu mematung di pintu masuk.
“YA! Ga gitu ya gua juga tau.”
“Wkwkwkwk Abang Hee udah ga bisa dikibulin.”
Tawa Jongseong bergema lagi, jadi ingat masa lalu saat tubuh Heeseung mengeras karena Jongseong kasih peluk. “Ini tuh greetings. Memang kamu ga pernah dapet?”
5.
Heeseung dibawa ke ruang keluarga. Mr. dan Mrs. Park memeluknya bergantian. Mereka sangat senang bisa melihat Heeseung mampir jauh-jauh dari Korea. Heeseung kembali pakai nama abang (sudah bayar pinjam nama perlu dimanfaatkan dengan optimal), dia bilang dia diminta ortunya untuk mengunjungi abang kandungnya yang bermukim di US sekalian liburan sebelum menggarap proyek film baru. Heeseung sering dapat pekerjaan di US tapi tidak pernah ada kesempatan untuk mampir. Mau extend pun jadwalnya mendadak padat sehingga niat-niatnya untuk menyelinap gagal dan terkubur lagi.
Baru kali ini berhasil tiba di kediaman Park. Tentunya dengan usaha keras—sampai mengarang cerita ini dan itu. Mr. Park sebenarnya ingin ngobrol lebih banyak tapi entah mengapa Jongseong langsung kasih gestur kalo dia ingin bicara berdua aja sama Heeseung. Waduh walah wadidaw, ngomong sekarang mumpung sepi atau ntar gabisa ngomong karena dirinya sudah ditarik bergabung untuk bbq dadakan yang dicetuskan Mr. Park.
“Mau nemenin ke Target ga? Buat beli daging dan lain-lain.”
“Ah-eh iya hayu.”
“Kok gugup, Bang?”
“Jet lag, kayaknya.”
“Mau dibikinin sup anti pengar?”
“Kamu yang bikin?”
“Ya ... aku bisa masak. Kenapa minta tolong yang lain kalo sahabatmu ini chef yang hebat abanggg.”
“Boleh bikinin satu? Tapi aku mau ikut ke dapur.”
“Skuyyyy.”
Jongseong tertawa kecil karena dalam pemikirannya Heeseung nampak seperti anak ayam yang ingin mengekori kemanapun induknya bergerak.
“Jay ....”
“Ya?”
“Kamu beneran suka cowok sekarang?”
Jongseong terdiam, lalu menoleh ke arah Heeseung yang fokus ke arahnya. “Yes?“
“Udah pacaran?”
“Aku sama Jakey, baru pendekatan doang. Papa sama mama suka anaknya, jadi kayaknya tinggal nunggu momen yang tepat aja kita bareng. Kenapa bang?”
“Ayah ibu kamu kayaknya suka aku.”
“Ya tentu aja, mereka kan udah kenal kamu bang.”
“Mereka kenal aku sebagai temanmu, tapi aku gamau itu.”
Jongseong berhenti meramu bahan, dia menatap Heeseung dengan fokus penuh saat ini.
“Terus maunya apa?”
“Aku suka kamu Jongseong, dari enam tahun yang lalu.”
“Melihat kamu sama perempuan bikin aku mundur. Begitu kamu bisa tertarik sama laki-laki. Aku langsung ambil cuti padahal selama enam tahun ini aku giat banget kerja, ga pernah absen kalo ga masuk rs.”
“Ah parah nih jet lag-nya. Ga banget.”
“Aku ga jet lag, seenggaknya untuk momen ini bukan karena jet lag Jay ;–;”
“Jangan nangis, bang.”
Heeseung ga bisa balas ucapan Jongseong karena air mata benar-benar sudah meluncur di pipinya.
“Aku beneran punya rasa sama kamu Jay. Tolong beri aku kesempatan.”
Jongseong mendekat, tangannya udah dicuci sebelum menyapu air mata di muka Heeseung.
“Kalo mau nembak aku jangan nangis.”
Heeseung cepet-cepet seka wajahnya pakai ujung kemeja yang dia pakai.
“Aku udah ga nangis, jadi kamu mau pertimbangin aku Jay?”
“Emang abang pengen banget?”
Heeseung ngangguk cepet. Ingus nyaris keluar dari lubang idung kalo ga dia bisap lagi akibat kepalanya yang angguk-angguk cepat.
“Lebih dari pengen Jay, mau banget. Bahkan kalo kamu izinkan aku bisa sekalian lamar. Please aku beneran sayang banget sama kamu Jay. Aku ga bisa dengan konsep masa depan di mana kamu hidup bahagia sama laki-laki yang bukan aku.” Heeseung nangis lagi. Emosinya yang dia pendam selama enam tahun, luluh lantah. Membuat tiap kata-katanya diiringi dengan air mata yang meluncur di pipi.
“Cup cup, laki aku jangan nangis gini nanti idungnya merah dan aku ejek pasti gamau kan?”
“Asal ujungnya dikasih kesempatan buat bareng Jay, dihujat juga gapapa.”
“Wkwkwkwk, bulol amat bang.”
Jay menggenggam kedua tangan Heeseung sehingga lelaki yang selisih usianya sedikit itu menatapnya tepat di kedua mata.
“Yaudah iya, boleh suka sama aku. Ntar aku juga belajar buat suka sama abang.”
Momen penuh air mata itu kemudian terpecah karena panggilan dari Mrs. Park.
“Jongseongiee, itu Jake ada telepon kamu.”
Tangan Heeseung yang digenggam tangan Jongseong tiba-tiba balik menggenggam, nampak teragitasi dengan nama Jakey. Merasakan itu, senyum kecil terulas di wajah Jongseong. Dikecuplah pipi Heeseung.
“Tenang ya, aku kan udah janji mau belajar suka sama abang. Aku angkat telponnya Jake dulu ya. Mau ngabarin kalo aku have an important date with you bang.”
fin.
