Work Text:
Mereka bilang memiliki soulmate adalah hal langka. Apalagi di masa sekarang, di mana keselamatan dan kesejahteraan individu lebih penting dibandingkan memiliki pasangan. Kau tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan pasanganmu, lebih baik mengkhawatirkan bagaimana bertahan hingga esok hari.
“Hanya ini yang kita dapat?” tanya Doyoung memperhatikan peti metal di hadapannya. Dari laporan yang diterima, mereka berhasil menjarah persediaan makanan, obat-obatan serta persenjataan dari markas pemerintah.
Haechan mengangguk. “Sungchan sedang membawa sisanya.”
Doyoung memandang kembali peti metal itu selama beberapa saat. “Oke, bawa ke dalam dan bagikan kepada yang lain.”
Haechan kembali mengangguk lalu meminta anggota lain untuk membantunya, sementara Doyoung berjalan menuju tenda utama, tempat biasa mereka mengadakan rapat.
“Pasukan Haechan sudah kembali?” tanya Taeyong ketika menyadari kehadiran Doyoung. Pemuda berambut hitam itu mengangguk.
“Apa saja yang didapat?”
“Seperti biasa, makanan, obat dan senjata,” balas Doyoung menaikkan bahunya. Ia berjalan mendekati kursi kosong. “Kurasa cukup untuk beberapa minggu ke depan.”
Taeyong bergumam pelan, matanya kembali fokus pada radio yang sejak beberapa jam lalu coba diperbaiki.
“Separah itukah?” tanya Doyoung memandang ke arah benda elektronik tersebut.
“Tidak begitu, tapi jangkauan sinyalnya masih pendek. Tidak ada siapapun yang menjawab panggilan kita di sekitar radius ini.”
“Kau memang mau menghubungi siapa?”
“Kun.”
Sebelah alis Doyoung naik, mengingat pertama kali ia mendengar nama tersebut, posisi orang itu jauh dari tempat mereka berada.
“Kun bukannya ada di sisi selatan? Apa tidak terlalu jauh?”
“Aku tahu, tapi siapa tahu masih ada anggotanya di sekitar sini. Kau ingat Hendery datang mengunjungi kita 2 minggu lalu?”
“Ah, iya!” sahut Doyoung antusias, lalu dahinya berkerut. “Bukannya Hendery memberi kita alat komunikasi?”
“Well...” Taeyong melirik ke arah kirinya. Di sebelah radio yang sedang diperbaiki terdapat alat komunikasi, tergeletak begitu saja dan tampak usang.
Tidak ada hal yang baru dengan tampilan barang usang atau berdebu, semua yang ada di tempat ini memiliki tampilan seperti itu. Mereka menggunakan barang yang masih bisa dipakai dari distrik yang tidak terurus. Tidak hanya barang, wajah dan tangan pun dipenuhi noda atau debu, entah berasal dari udara atau kurangnya air bersih. Bertahun-tahun mereka hidup seperti ini, fasilitas bagus hanya bisa didapatkan di kota pusat.
Mereka yang hidup di pinggiran dianggap sebagai sumber kemiskinan dan penumpukan populasi. Oleh karena itu, pemerintah mencoba menguranginya, dengan cara membasmi daerah yang dianggap beban.
Doyoung tentu saja tidak bisa menerima.
Sejak awal ia berusaha bertahan, melawan itu semua, berusaha menyelamatkan orang-orang, bertemu dengan Haechan lalu berkenalan dengan Taeyong. Tak disangka, Taeyong telah menyelamatkan banyak orang dan mereka berencana untuk bergabung dengan pasukan dari sisi lain kota, berusaha menggulingkan pemerintah dan keputusan bodoh mereka.
Salah satu kabar yang paling sering didengar adalah tentang pasukan Kun. Dia merupakan salah satu buronan yang dicari pemerintah dengan harga tinggi. Bisa dilihat jelas, Kun menjadi ancaman untuk pemerintah. Berkomunikasi dengan Kun juga tidak semudah itu, mereka memiliki jalur komunikasi sendiri agar tidak disadap.
“Alatnya rusak juga?” tanya Doyoung menunjuk alat komunikasi tersebut.
“Ya, begitulah,” jawab Taeyong sambil meringis.
Dia berjalan mendekati meja Taeyong, melihat alat itu dengan seksama. Doyoung memang tidak begitu ahli soal reparasi, tapi untuk yang simpel-simpel dia cukup paham.
“Baterainya tidak ada,” tunjuk Doyoung membuka tempat penyimpanan baterai.
Taeyong mengerjapkan matanya dengan tampang polos.
“Pasti kupindahkan untuk yang lain!”
Ia mengacak rambutnya dengan gusar. Tatapannya bergerak liar mencari barang elektronik lain di dalam tenda tersebut.
“Saat kau mabuk? Nice,” cibir Doyoung yang mendapat delikan dari Taeyong.
Ia pun menoleh ke arah luar, di sana melihat Haechan dan Sungchan yang sedang bersenda gurau. Kadang Doyoung tidak mengerti entah apa yang mereka lakukan, seperti bergulat dan berusaha memukul satu sama lain, tapi tidak ada yang berhasil.
“Terkadang aku tidak paham apa yang mereka berdua lakukan,” komentar Doyoung sambil berkacak pinggang.
Taeyong mengikuti arah pandang Doyoung lalu tertawa pelan. “Soulmate things.”
“Hah?”
“Kau tahulah, Soulmate. Mereka tidak bisa saling menyakiti satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja.” Taeyong menaikkan bahunya, masih bergerak di sekitar tenda untuk mencari baterai.
“Kukira hanya mitos.”
“Ya dan mitos itu ada di depan matamu.”
Wajahnya sumringah ketika menemukan sebuah benda, tapi kembali muram ketika tidak ada baterai di dalam itu.
“Lalu?”
“Lalu apa?” tanya Taeyong masih fokus mencari baterai.
“Apa kau memiliki soulmate?”
Taeyong terdiam untuk beberapa saat, bukannya menjawab pemuda itu balik bertanya. “Kau sendiri?”
Doyoung menghela nafas, kedua tangannya terlipat di depan dada. “Tidak tertarik. Aku bisa bertahan sampai saat ini saja sudah syukur.”
Taeyong tersenyum tipis, entah karena dia menemukan baterai yang dimaksud atau karena ucapan Doyoung.
“Ketemu!” sahutnya riang.
Seulas senyum nampak di wajah Doyoung, ia pun berjalan mendekati Taeyong.
“Sekarang, waktunya menghubungi Hendery.”
* * *
Malam itu hujan turun disertai petir yang menggelegar kencang. Meski hujan bisa mengurangi polusi udara dan membawa hawa sejuk, tapi tidak ada yang tahu apa yang dibawanya, terkadang es, kadang pula asam. Para pengungsi memilih berdiam di dalam tenda, tidak nampak cahaya penerangan menandakan mereka sedang beristirahat, hanya satu tenda yang masih terlihat terang.
Tenda utama tempat Taeyong berada.
Di sana berkumpul beberapa orang, termasuk Doyoung untuk membahas rencana mereka selanjutnya.
“Tempat Kun berada di sisi selatan,” tunjuk Taeyong di atas peta. “Dengan kendaraan yang kita punya butuh 3 hingga 4 hari untuk sampai sana, prioritas kita membawa ibu dan anak-anak.”
“Sisanya?” tanya Doyoung.
“Jalan kaki?” tebak Haechan.
“Tidak ada yang bisa melindungi mereka kalau kita ketinggalan.”
“Kalau memakai bus?” usul Sungchan. “Ada beberapa bus yang tidak terpakai di jalanan sana, sebagian bisa ikut di dalam untuk melindungi dan sisa kendaraan bisa untuk pasukan, melindungi sekitar bus.”
Mereka saling berpandangan hingga Taeyong membuka suara. “Kau yakin bus-bus tersebut masih bisa digunakan?” tanyanya ke arah Sungchan.
Sungchan mengangguk. “Aku sempat memeriksanya kemarin setelah menjarah.”
“Oke, berarti kita perlu memeriksa ulang untuk perawatan dan mengisi bahan bakarnya. Sungchan, kau ajak pasukanmu besok.”
“Siap, hyung!” angguknya sambil memberi hormat.
“Apa ada cara untuk menghindari sensornya?” tanya Doyoung, mengingat pergerakan para pemberontak masih dipantau penuh oleh pemerintah, ada helikopter yang berkeliling untuk berpatroli dan beberapa sensor di jalanan. Mereka bisa menghindari yang di darat, tapi untuk yang di udara butuh alat ekstra.
“Kita pakai ghost-mode,” ujar Taeyong.
“Tapi alat kita cuma sedikit.”
“Hendery mengirimkan beberapa supply dan barang tersebut akan sampai besok pagi. Jika besok kita bisa membereskan ini semua, lusa malam kita berangkat.”
Taeyong memandang setiap orang yang ada di ruangan itu dengan tatapan penuh keyakinan, berharap ini terakhir kali mereka berada di wilayah tersebut.
“Laksanakan?”
“Siap, laksanakan!” sahut mereka dengan lantang.
* * *
Esoknya, Doyoung datang ke tempat Sungchan berada, membawa sebuah kotak besar yang baru diantar oleh kurir Hendery. Alat yang mereka butuhkan untuk membuat bus-bus tersebut tidak terdeteksi sensor. Jalanan tampak lengang, tidak ada lagi penduduk yang berlalu-lalang, rata-rata mereka sudah berada di kamp pengungsian.
Tempat ini pun awalnya rawan akan patroli, tapi pasukan Taeyong berhasil mengamankan. Tidak semua dari mereka adalah tentara, hanya beberapa—seperti Haechan dan Sungchan—sedangkan sisanya adalah orang-orang yang berusaha bertahan hidup, seperti Doyoung ini.
“Sungchan, aku datang membawa alatnya,” sapa Doyoung ketika melihat sosok Sungchan di dalam salah satu bus.
Pemuda jangkung itu tersenyum cerah meski wajahnya penuh dengan noda.
“Terima kasih, hyung! Kau bisa letakkan di sana,” tunjuk Sungchan ke belakangnya, ia tampak sibuk merakit sesuatu di bagian kemudi. Doyoung pun mengangguk dan meletakkan kotak tersebut.
“Semua busnya bisa dipakai?” tanya Doyoung duduk di salah satu kursi penumpang.
“Bisa, hanya butuh bahan bakar dan perbaikan sedikit,” jawab Sungchan mulai berkomunikasi dengan anggotanya melalui walkie talkie.
“Ngomong-ngomong, aku belum sempat bertanya.” Ada jeda sejenak hingga Sungchan perlu menoleh ke arah Doyoung. “Kalau boleh tahu, berapa umurmu?” tanyanya ke arah pemuda itu.
“21 tahun, hyung,” jawab Sungchan sambil tersenyum.
Doyoung mengangguk. Umurnya masih muda dan anak ini harus melakukan banyak hal untuk bertahan hidup.
“Kau pasti cukup terkenal di militer, bisa melakukan banyak hal,” canda Doyoung yang membuat Sungchan tertawa.
“Hahaha tidak hyung.”
Rasanya Doyoung bisa melihat semburat merah di wajah pemuda itu. Mungkin tidak terbiasa dipuji.
“Aku di bagian pelayanan masyarakat.”
“Public service?” tanya Doyoung heran, mengingat kebanyakan yang Sungchan lakukan adalah hal-hal yang biasa ditemui dalam praktik militer, ia bahkan handal menggunakan senapan.
Sungchan mengangguk, masih fokus merakit sesuatu di depan sana.
“Tapi kakakku banyak mengajarkan taktik militer, dia juga yang mengajariku menembak.”
Wajahnya tampak berseri ketika menceritakan sosok tersebut, juga sendu di saat yang bersamaan.
“Dia pasti orang yang hebat.”
Sungchan mengangguk setuju. “Iya, dia orang yang hebat.”
“Siapa namanya?”
“Jaehyun.”
Dari cerita yang Doyoung dapat, saat opresi yang dilakukan pemerintah dimulai, seharusnya Sungchan beserta Jaehyun ikut melaksanakan tugas dikarenakan status mereka. Namun, Jaehyun serta beberapa tentara lain berusaha melawan, sempat terjadi pemberontakan dalam tubuh militer sendiri. Mereka berusaha kabur dan bertahan hidup, karena siapapun yang memberontak akan disiksa atau dibunuh. Tidak banyak yang bisa Sungchan ingat, semua terasa samar-samar, ia hanya ingat terpisah dari kakaknya hingga Haechan datang menyelamatkan.
“Saat itu kalian sadar bahwa kalian soulmate?” tanya Doyoung menyerahkan sebuah alat kecil, entah apa gunanya.
“Tidak.” Sungchan tertawa pelan seraya menerima alat tersebut.
“Kami berusaha membunuh satu sama lain.”
Dahi Doyoung berkerut, bingung mendengar cerita sejoli tersebut.
“Lebih tepatnya, berusaha melukai Haechan hyung.”
“Kenapa?”
“Karena kukira dia musuh dan aku tidak percaya omongannya tentang pasukan Kapten Taeyong.”
“Hingga dia membawamu kepada Taeyong, baru saat itu...”
Sungchan mengangguk. “Haechan hyung sendiri tidak tahu kalau kami soulmate. Taeyong hyung yang memberi tahu kami.”
Doyoung bergumam, membentuk huruf O dengan mulutnya.
“Apa ada yang berbeda setelah kalian tahu tentang satu sama lain?”
Pemuda 21 tahun itu tampak berpikir sebelum menggeleng. “Tidak ada, hyung. Hanya karena kalian soulmate bukan otomatis langsung menyukainya.”
“Kalian tidak saling menyukai?” tanya Doyoung makin heran.
“Bukan begitu hyung.” Sungchan tertawa, meski begitu tangannya tetap aktif untuk memasang alat kamuflase lalu berpindah ke bus lain. “Mungkin butuh waktu untuk sampai tahap itu.”
“Tahap apa?”
“Mencintai satu sama lain,” jawab Sungchan menoleh ke arah Doyoung sambil tersenyum.
“Memang sekarang kalian di tahap mana?” Doyoung ikut memasuki bus lain dan memberikan peralatan yang dibutuhkan Sungchan.
“Tidak ingin kehilangan satu sama lain.”
Apa bedanya? Pikir Doyoung heran. Makin tidak mengerti hubungan sejoli ini, bukankah itu sudah bisa dianggap kalau saling memiliki perasaan?
Sungchan yang menangkap kebingungan di wajah Doyoung hanya tersenyum tipis. “Nanti juga hyung tahu.”
“Hahaha iya, iya.” Doyoung tertawa datar.
Sungguh ia belum memikirkan sampai sana, hanya penasaran karena melihat contoh nyata berada di hadapannya. Mereka tidak memiliki tanda satu sama lain atau sesuatu yang dapat menghubungkan, tapi kenapa mereka bisa yakin kalau ditakdirkan untuk bersama? Aneh bukan.
* * *
Ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam, kelompok tersebut mulai bergerak dipimpin oleh Taeyong. Tiga bus melintasi jalanan malam, di tiap sisinya ada kendaraan berupa jeep terbuka yang mengiringi, melindungi mereka apabila ada serangan.
Beberapa jam setelahnya, bus berhasil melewati kota yang mereka tinggali, baik para pengungsi ataupun prajurit menghela nafas lega. Keluar dari kota adalah hal pertama yang perlu dilakukan, sisanya mereka perlu waspada tentang medan di luar. Taeyong sudah menandai beberapa wilayah yang perlu diwaspadai, sesuai pesan dari Hendery.
Doyoung sedikit merapatkan selimutnya, berusaha untuk tetap terjaga. Ia tidak tahu pukul berapa sekarang, tapi melihat langit gelap mulai tergantikan dengan warna biru cerah, Doyoung tebak sekarang sudah subuh.
Jalanan yang mereka lalui terbilang sepi, hanya ada gedung dan rumah yang tidak berpenghuni di sisi kanan dan kiri. Beberapa wilayah menjadi kota mati sejak opresi itu terjadi, korban jiwa banyak berjatuhan apalagi pemerintah mulai menggunakan robot sebagai pasukan tambahan. Mereka bukan manusia yang memiliki akal, mereka hanya benda besi yang melakukan perintah, tidak peduli bagaimana keadaan korban saat itu.
“Sepertinya aku melihat sesuatu,” bisik Sungchan yang berada di sebelahnya. Doyoung segera berbalik mengikuti arah pandang Sungchan.
“Apa yang kau lihat?” tanya Doyoung.
Baru saja Sungchan akan menunjuk, sebuah misil datang mengarah pada mereka. Seketika rasa kantuk Doyoung hilang, matanya membulat lebar.
“HYUNG AKTIFKAN BARRIER!” teriak Sungchan pada Haechan yang berada di dalam bus. “ADA SERANGAN DATANG!”
Semua terjadi begitu cepat, bus yang berada di depan berusaha menghindar, membuat dua bus yang di belakangnya ikut membanting setir. Namun, mereka kalah cepat. Misil tersebut mengenai barrier dari bus terdepan dan menimbulkan ledakan keras. Barrier itu hanya pelindung sementara dan mampu menahan serangan peluru, tapi jika ada serangan misil lagi, Sungchan tidak yakin apa pelindung itu bisa bertahan lama.
Asap dari ledakan cukup menghalangi pemandangan, masing-masing menyipitkan matanya, menunggu sesuatu dibalik kepulan asap. Benar saja, tak lama datang serangan peluru. Taeyong segera memerintahkan dua mobil jeep untuk berpindah ke bagian depan sebagai tameng dan berteriak agar perjalanan tetap lanjut. Mereka perlu keluar dari kota mati ini.
Matahari menyapa mereka di ufuk timur, udara pagi yang harusnya terasa sejuk, kini menyesakkan apalagi dengan suara tembakan yang tidak henti terdengar. Musuh mereka kali ini bukan manusia, melainkan pasukan robot, sangat merepotkan. Butuh peluru ekstra untuk melumpuhkannya.
“Apa ini robot semua?!” teriak Doyoung menembak satu robot yang mendekati mobil mereka.
“Tidak tahu, hyung!” balas Sungchan sibuk menembaki robot-robot lain.
“Apa kalian melihat manusia di antara robot-robot itu?” tanya Taeyong melalui alat komunikasi.
“Belum!” balas Doyoung menyentuh telinganya, tempat alat komunikasi mereka berada.
Tiap pasukan robot yang datang menyerang, setidaknya membutuhkan beberapa tentara untuk mengendalikan. Mereka hanya perlu menemukan orang tersebut untuk menonaktifkan serangan para robot.
Robot-robot itu tidak hanya menembaki mobil dan bus, mereka juga berusaha menerobos masuk ke dalam bus. Teriakan panik dapat terdengar dari dalam bus, pasukan yang berada di dalam kendaraan itu berusaha mengenyahkan tiap robot yang mendekati.
Sungchan tentu saja tidak tinggal diam, ia melompat ke atas bus di mana Haechan berada, mulai memukul mundur robot-robot tersebut.
Doyoung pikir anak muda itu gila, tapi ia akui terkadang itu yang kita butuhkan di saat genting seperti ini. Saking sibuknya melawan para robot, Sungchan tidak melihat satu robot yang mengarah padanya, menyerangnya hingga jatuh dari atas bus.
“SUNGCHAN!” Haechan dan Doyoung teriak bersamaan.
Doyoung memegang erat senapannya. Otaknya berpikir keras mencari cara untuk menyelamatkan pemuda itu, sementara Haechan meronta dari dalam bus agar bisa keluar. Dari interkom, ia dapat mendengar perdebatan antara Taeyong dan personil lain tentang menolong Sungchan. Tentu saja, suara Haechan terdengar keras memaki mereka yang ingin meninggalkannya.
“Aku saja, mobil kami paling dekat dengan titik jatuhnya,” sela Doyoung melalui interkom.
Doyoung menarik nafas dalam, kakinya sudah berada di ujung mobil, bersiap untuk melompat. Detik itu, ekor matanya menangkap sesuatu, sebuah motor melewati mobil mereka menuju tempat Sungchan. Dari pakaian yang dikenakan, Doyoung menebak bahwa itu tentara dari pihak pemerintah. Tanpa ragu ia membidik ke arahnya. Sayang, peluru itu meleset, hingga Doyoung perlu membidik papan iklan agar pengendaranya terjatuh. Doyoung pun melompat dari mobil, berlari cepat sebelum pengendara itu bangkit dan mencuri motornya.
Adrenalin berpacu cepat dalam tubuhnya. Tidak peduli bagaimana keadaan pengendara itu atau sudah sejauh mana ia tertinggal dari rombongan, yang ada di benak Doyoung sekarang adalah menyelamatkan Sungchan.
Dari kejauhan ia bisa melihat Sungchan yang kewalahan menghadapi beberapa robot. Meski agak sulit membidik dengan posisinya, Doyoung berhasil menjatuhkan satu robot, sisanya ia menabrak robot-robot itu dengan motor.
“Ayo naik Sungchan!” ajaknya sambil mengulurkan tangan. Sungchan menyambut uluran tangan tersebut dan segera naik ke atas motor.
“Kau terluka?”
“Ti-tidak seberapa hyung,” ringis Sungchan.
Mungkin di dunia ini tidak hanya soulmate yang ada, tapi juga karma. Jika kau mencuri, pasti ada harga yang perlu kau bayar, seperti saat ini. Pria yang tadi Doyoung tembak, sekarang berdiri tegak di tengah jalan. Tidak melakukan apapun, bahkan musuh tidak mengarahkan senjatanya kepada mereka, Doyoung pikir akan mudah untuk melewatinya. Namun, tebakannya salah. Pria itu dengan mudah menghentikan motor yang dibawa Doyoung dalam sekali gerakan, membuat keduanya terjatuh dari kendaraan roda dua itu.
Apa dia manusia atau robot? Pikir Doyoung heran. Ia meringis, badannya terasa sakit karena menghantam aspal. Belum ada lima menit mengumpulkan tenaga, pria itu menyeret Sungchan. Entah mau dibawa ke mana.
“Hei!” Doyoung terus memanggil orang itu, tapi ia terus berjalan tidak mengindahkan panggilan Doyoung. Mau tidak mau Doyoung perlu merebut Sungchan, karena usaha untuk melumpuhkannya dengan senapan malah meleset. Apa kemampuan membidiknya menurun?
“Hei!” panggil Doyoung lagi, ia berusaha melepaskan Sungchan dari cengkeraman pria itu. Baru saja berhasil menarik si tentara muda, pria asing itu segera menoleh dan menembakkan peluru ke arah Doyoung. Jarak yang begitu dekat, otomatis membuat Doyoung melindungi dirinya. Ia menutup mata, menunggu serangan yang datang.
Hening.
Tidak terjadi apapun.
Doyoung membuka matanya, ia tidak terluka, Sungchan juga tidak terluka. Apa pelurunya meleset?
“Aku seharusnya terkena peluru, tapi ... kenapa?” Doyoung mendongak ke arah lawannya itu. Ia bisa melihatnya dengan jelas sekarang, kain yang tadi menutupi wajahnya mulai longgar. Tatapannya nampak kosong, tapi Doyoung bisa melihat ekspresinya yang kebingungan.
Pria itu mencoba memukul Doyoung, tapi entah reflek apa yang dimiliki. Doyoung bisa menghindar, bahkan setelah beberapa pukulan.
Sungchan yang sejak tadi memperhatikan dua orang di hadapannya, tidak mau membuang kesempatan. Ia mengambil senapannya dan menembak pria asing itu. Satu peluru telak bersarang di pahanya, membuatnya jatuh tersungkur.
“Sungchan!” pekik Doyoung kaget. Tidak menyangka soal serangan tersebut.
Erangan bisa Doyoung dengar dari lawannya, serta noda darah yang perlahan muncul. Sebelum dia bangkit berdiri, Sungchan memukul kepalanya dengan bagian bawah senapan. Tak ayal, pria itu jatuh pingsan.
“One down,” gumam Sungchan dengan nafas tersengal.
* * *
Posisi mereka yang terlampau jauh dari rombongan membuat Doyoung dan Sungchan memutuskan beristirahat di area pertokoan. Alat komunikasi yang mereka miliki tidak bisa menjangkau, hingga Sungchan perlu mencari benda yang bisa mengoptimalkannya.
Doyoung memandang ke arah musuhnya itu. Dia masih belum sadarkan diri setelah diobati. Beruntung pendarahannya tidak parah, meski sempat meronta ketika pelurunya diambil. Tatapannya mengarah pada kaki pria tersebut, bertanya-tanya kenapa Sungchan bisa melukainya sementara Doyoung tidak.
Aneh.
Doyoung merasa aneh sejak pertama melihat motor pria itu melintas di dekatnya.
“Masih ada makanan yang belum kadaluwarsa, hyung,” ucap Sungchan memecah keheningan. Ia datang membawa beberapa kaleng makanan serta minuman.
Doyoung tersenyum melihat itu. “Apa sudah menemukan benda yang kau cari?”
“Belum, tapi aku menemukan radio. Sudah kucoba mengirimkan pesan ke Taeyong hyung,” ujar Sungchan seraya meletakkan kaleng-kaleng makanan tersebut di lantai. “Kuharap mereka mendapat pesannya.”
Selama beberapa menit mereka habiskan untuk makan, sesekali melihat ke arah tawanan yang masih tertidur.
“Dia bahkan tidak bangun dengan aroma makanan ini,” gumam Sungchan sibuk mengunyah makanannya.
“Sisakan saja untuknya,” balas Doyoung tertawa pelan.
“Ngomong-ngomong, hyung, kau hebat juga bisa menghindari pukulannya!”
Doyoung tersenyum kikuk. “Itu sebenarnya bukan menghindar....”
“Lalu?”
“Entah bagaimana, dia tidak bisa melukaiku,” jawab Doyoung memandang ke arah pria asing itu.
Sungchan berkedip beberapa kali. “Hyung, apa kau sempat menembaknya?”
“Sempat, tapi selalu meleset.”
Tak lama, ekspresi Sungchan berubah seakan menyadari sesuatu. “Hyung, jangan-jangan...”
Doyoung tidak mau mendengar itu, ia sudah menebaknya sejak tadi. Namun, tidak yakin kalau itu benar. Bagaimana kau bisa mengkonfirmasinya? Tidak ada tanda apapun selain kalian tidak bisa saling melukai.
“Tidak mungkin, ah!” sanggah Doyoung.
“Mungkin saja?”
“Jangan mengada-ada, hanya karena aku tidak bisa melukainya belum tentu kalau kami soulmate–“
“Sebenarnya ada satu lagi tandanya, hyung.”
Mulut Doyoung terbuka lebar. Sungchan tidak menceritakan ini tempo hari!
“Bohong!”
Sungchan pun menggulung lengan bajunya, menunjukkan sebuah tanda di pergelangan tangan kanannya. “Haechan hyung punya tanda seperti ini di tangan kirinya.”
“Berarti dengan tanda ini lebih mudah ketahuan?”
“Belum tentu. Tanda ini hanya muncul jika kalian berdua sama-sama mengakui.”
“Mengakui apa?”
“Kalau kalian soulmate.”
Hening kembali merasuki tempat itu, Doyoung melirik ke arah pria yang masih tertidur itu. Apa betul mereka soulmate? Terdengar menggelikan, apalagi di tengah keadaan seperti ini.
“Menolak atau menerima, tidak berpengaruh apa-apa pada keadaan ini,” ujar Doyoung.
Sungchan mengangguk, memahami maksud perkataan Doyoung. Ia pun bangkit berdiri, berjalan mendekati tawanan itu. Apa tentara ini tidak memiliki tanda pengenal? Dog tag misalnya. Jemarinya mulai menyingkap kerah pria tersebut, bagai robot yang memiliki reflek, pria itu terbangun dan menahan tangan Sungchan. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Doyoung kaget dan bersiaga dengan senjatanya.
Iris coklat dengan kantung mata yang tebal, memandang bingung ke arah dua orang asing di hadapannya. Ia berusaha mencerna keadaan yang terjadi, badannya terikat ke salah satu tiang tembok dan ia tidak mengenali tempat ini. Berusaha mengingat pun tidak baik untuknya, kepalanya langsung merasa sakit.
“Kalian ... siapa?” Suaranya terdengar parau, seakan sudah lama tidak mengucapkan sepatah kata dari bibir itu.
Dua orang itu saling berpandangan heran. Mereka berbicara layaknya bisikan, hingga salah satu di antaranya meletakkan senjata dan mencoba menyentuhnya. Ia hendak menepis, tapi ada sesuatu dalam tatapan pemuda itu yang membuatnya mengurungkan niat. Pemuda itu menyentuh kalungnya, tanda pengenal yang dimiliki para tentara. Sentuhannya terasa lembut dan hati-hati.
“Johnny.”
Suara itu bergema dalam pikirannya, mengingatkannya pada seseorang, tawa seorang gadis dan bagaikan kunci yang menyingkap mimpi buruk. Sekelebat kenangan datang seperti rentetan peluru, mulai dari pertama ia masuk militer, memiliki kekasih, terjadi kerusuhan dan bagaimana pemerintah menjadikannya objek penelitian hingga membuatnya harus menyaksikan gadis itu mati di tangannya sendiri.
“ARGH!” Johnny berteriak kencang memegang kepalanya, ia mengingat semuanya sekarang. Mengingat kenapa dia bisa berada di sini. Rasa bersalah kembali menggerogoti, seperti parasit yang menjelajah di sekitar tubuhnya.
“Hei, hei, tidak apa-apa.” Pemuda itu menyentuh lengannya, mengantarkan usapan lembut untuk menenangkan kepanikan yang tengah dihadapi Johnny. “Kau aman di sini.”
Butuh beberapa menit bagi Johnny untuk menenangkan diri dan berbicara dengan dua tentara asing di hadapannya. Mereka mengenalkan diri sebagai Doyoung dan Sungchan. Johnny ingat kenapa ia menargetkan pemuda bernama Sungchan, perintah yang diberikan adalah untuk mengambil lebih banyak tentara sebagai bahan penelitian.
“Jadi, kalian menyerang kami untuk mengambil Sungchan?” tanya Doyoung usai mendengar cerita Johnny.
“Bagianku untuk mengambil anak itu,” angguk Johnny.
“Ba-bagaimana dengan robot-robot itu?” Kembali Doyoung bertanya.
“Mereka dikendalikan dari jarak jauh, ada pangkalan militer dekat sini.”
Segera setelah mendengar itu, Sungchan mendekati Johnny dan merogoh sakunya untuk mencari alat komunikasi. Dengan paksa ia merebut alat tersebut dan menghancurkannya. Kilatan amarah nampak di sorot mata pemuda itu.
“Kita harus menyusul Taeyong hyung, bahaya jika mereka juga diincar!” sahut Sungchan gusar. Ia segera membereskan alat makan mereka yang berserakan dan pergi untuk memeriksa pesan yang tadi dikirim.
“Apa tidak apa-apa?” tanya Johnny ragu.
“Justru jika kau ikut, kau bisa memberitahu banyak info pada kami,” jawab Doyoung melepas ikatan tersebut dan menggantinya dengan borgol untuk tangan Johnny. Samar-samar Johnny ingat pertarungannya tadi, ia tidak bisa menyakiti pemuda di hadapannya dan cukup membuatnya kebingungan untuk mencari cara mengalahkannya.
Satu jam setelahnya, mereka bersiap-siap untuk berangkat. Sungchan telah mendapat pesan balasan dari Taeyong, meski mereka belum bisa berkomunikasi melalui alat komunikasi. Motor yang tadi dipakai, tidak bisa untuk tiga orang hingga mereka perlu mencari kendaraan lain dan menyabotasenya agar bisa menyala.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan yang tertukar, masing-masing tenggelam dalam pemikirannya. Pemandangan kota yang sepi akan penghuni, bagai objek paling menarik untuk saat ini. Ironis rasanya membayangkan bahwa tiga tahun lalu tempat ini masih ramai akan kehidupan. Kini semuanya ditinggalkan begitu saja.
Tidak ada yang baik dari perang, mau itu dengan negara lain atau dengan rakyatmu sendiri.
* * *
Setelah melewati perjalanan selama satu hari dan menghindari titik-titik bahaya—sesuai yang diingat Johnny, mereka sampai di titik koordinat yang diberikan Taeyong. Matahari mulai tenggelam di ujung langit sana, dari kejauhan terlihat perkemahan serta beberapa kendaraan yang terparkir.
Saat ketiganya tiba, sambutan yang didapat merupakan senyuman dan pandangan heran ke arah Johnny. Haechan yang paling dramatis, ia segera menghamburkan diri ke dalam pelukan Sungchan, mengetahui bahwa belahan jiwanya tidak apa-apa dan hanya mengalami luka kecil, seakan menambah umur Haechan 10 tahun ke depan. Doyoung yang melihat itu, tanpa sadar menghela nafas lega.
Usai bercengkrama dengan para pengungsi, Doyoung berjalan menuju tenda tempat Taeyong berada. Pemuda itu baru mengakhiri panggilannya dengan seseorang.
“Syukurlah kalian selamat!” sahut Taeyong sambil merentangkan tangannya, memberi pelukan singkat pada Doyoung. Ia pun mengalihkan atensinya pada orang asing yang dibawa Doyoung.
“Siapa dia?”
“Ini Johnny.”
Taeyong memandang Johnny dari ujung kepala hingga kaki, pandangannya begitu menelisik apalagi ketika menyadari seragam yang dikenakan Johnny. Ia sangat mengenal seragam tersebut.
“Kau membawa tentara pemerintah?” bisik Taeyong.
“I-itu sebenarnya agak sedikit rumit.”
“Explain.”
Doyoung menjelaskan tujuan Johnny menyerang Sungchan dan kemungkinan pemerintah melakukan cuci otak kepada pria jangkung itu. Dilihat bagaimana saat Doyoung menghadapi Johnny tadi, tidak tampak ekspresi sedikit pun hingga pria itu tersadar. Untuk saat ini, Johnny berada dalam kesadarannya sendiri.
“Boleh saya berbicara sebentar dengan Doyoung?” Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan secara tidak langsung perintah bagi Johnny untuk keluar dari tenda. Pria itu cukup peka untuk menangkap sinyal dari Taeyong. Ia mengangguk lalu berjalan keluar.
“Dia.itu.musuh.Doyoung,” ucap Taeyong dengan penekanan di tiap katanya. Manik coklat itu menatap serius, ada kekhawatiran yang Doyoung tangkap.
“Aku tahu, tapi kita bisa mengorek informasi juga dari dia!”
“Bagaimana kau yakin kalau ini bukan akal-akalan dia?”
“Aku...” hanya tau.
Kata-kata itu mengganjal di tenggorokan. Tidak yakin apa Taeyong akan menerima alasannya yang terbilang tidak masuk akal.
Hanya tahu.
Hanya tahu karena apa? Karena dia soulmate-mu? Hahaha, ini seperti membawa perasaan ke dalam medan perang dan itu tidak akan berfungsi. Jika pemerintah punya perasaan, sejak awal mereka tidak melakukan hal seperti ini kepada rakyat.
“Percaya padaku untuk kali ini,” ujar Doyoung menatap lurus ke arah Taeyong, penuh keyakinan.
Taeyong akhirnya mengangguk lalu kembali memanggil Johnny ke dalam tenda. Mereka mulai berbincang tentang misi yang diberikan pada Johnny dan apa yang dilakukan pihak pemerintah kepadanya, Taeyong juga bertanya perihal alasan mengapa pria tersebut mau membeberkan ini semua.
Alasannya simpel, Johnny muak terperangkap menjadi senjata pemerintah. Mereka juga yang membuat Johnny harus kehilangan gadis yang disayanginya. Kekasihnya itu sempat berusaha untuk menghentikan Johnny, tapi ternyata gagal dan membuat nyawa perempuan itu hilang di tangannya sendiri.
Ada perasaan aneh yang hinggap di dasar hati Doyoung saat mendengar itu semua. Seakan seseorang baru memukul palu keras ke arah dadanya.
Johnny ternyata sudah memiliki kekasih.
Dunia bisa selucu ini.
“Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya. Kalian bisa beristirahat,” ucap Taeyong mengakhiri diskusi dadakan tersebut. “Sementara kau bisa tinggal di tenda Doyoung, untuk berjaga-jaga.”
Meski sempat kaget, Doyoung ikut mengangguk lalu berjalan keluar tenda bersama Johnny.
“Terima kasih,” gumam Johnny sambil tersenyum tipis.
“Untuk?”
“Mengobati dan membawaku kemari.”
“Ah, tidak perlu.” Doyoung mengibaskan tangannya, berusaha menahan senyum.
“Sungguh! Jika ada yang bisa kubantu, akan kubantu,” ungkap Johnny penuh kesungguhan.
Tentu selain dua alasan tadi, ada alasan tersendiri mengapa ia perlu berterimakasih. Entah dengan cara apa Doyoung berhasil menyadarkannya. Jika tidak, Johnny rasa ia masih terperangkap sebagai mesin pembunuh.
“Kalau begitu, bagaimana dimulai dengan membangun tenda?”
Usai membangun tenda bersama Doyoung, keduanya berkumpul untuk makan malam bersama pengungsi lain. Keadaan normal yang sudah lama tidak Johnny rasakan. Ia tidak tahu bagaimana menghabiskan waktunya sebelum ini. Apa seperti para robot, tertidur jika tidak dipakai?
Johnny hanya ingat bagaimana ia menjalankan misi, melukai banyak orang tidak bersalah dan bertindak sesuai perintah. Meski begitu, hatinya menjerit untuk bisa lepas dari jeratan ini. Beberapa saat lalu, ada yang sempat menolongnya dan berusaha membantu untuk bisa mengendalikan diri, tanpa perintah siapapun. Usaha itu berhasil setelah melalui beberapa percobaan, tapi praktik tersebut diketahui pemerintah dan Johnny tidak tahu bagaimana nasib orang itu sekarang.
Ia hanya berharap tidak mendengar suara-suara itu.
Suara yang dapat membuatnya hilang kendali.
.
.
.
Tepat tengah malam, Johnny terbangun tiba-tiba. Tatapannya kembali kosong dan ia mengambil senjata Doyoung yang terletak tak jauh dari situ. Doyoung yang menyadari pergerakan aneh itu, membuka matanya dan memperhatikan gerak-gerik Johnny. Bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan pria itu?
Doyoung mengikutinya perlahan dan saat menyadari ke mana Johnny pergi, pemuda itu berlari menghadang Johnny, menahannya agar tidak mendekati tenda milik Taeyong.
“Apa yang kau lakukan?!” bisik Doyoung gusar.
Johnny tetap diam dan terus berjalan, ia berusaha mengenyahkan Doyoung, entah mendorong atau memukulnya, tapi pemuda itu selalu berhasil menghindar. Bukan kemauan Doyoung juga, karena memang Johnny tidak bisa menyakitinya.
Ini sama seperti waktu itu. Johnny tidak mau mendengarnya. Bukan, Johnny tidak bisa mendengarnya.
“Kau ingin melukai Taeyong? Apa dia targetmu sekarang?!”
Deru nafas Doyoung terdengar cepat, tatapannya penuh kekhawatiran. Khawatir seseorang akan menemui mereka, khawatir Johnny akan menyerang pimpinan mereka dan khawatir mereka akan menyerang Johnny balik.
Kekhawatiran itu terjawab cepat.
Seorang prajurit yang berjaga melihat Johnny dan ia menodongkan senjata ke arah pemuda itu. Tanpa basa-basi Johnny segera menembaknya, membuat siapapun yang ada di perkemahan itu terbangun. Tak butuh waktu lama bagi prajurit lain untuk datang, berteriak meminta Johnny untuk berhenti pun terasa cuma-cuma. Baku hantam terjadi hingga Taeyong datang, beberapa prajurit berusaha menahannya, tapi Johnny adalah seorang petarung yang handal, ia balas memberontak.
“Apa yang terjadi?” tanya Taeyong heran.
“Aku tidak tahu ... sepertinya Johnny kembali dikendalikan!” jawab Doyoung.
“How? Mereka memantaunya?!” Nada berbicara Taeyong naik, berusaha meredam amarah yang muncul.
“Entahlah, padahal kami sudah menyita alat komunikasinya,” geleng Doyoung cemas.
“Kenapa tidak kau hentikan?”
“Aku tidak bisa Taeyong.”
Taeyong memandang heran ke arah Doyoung. Ini penolakan pertama yang didengarnya selama bersama pemuda itu.
“Dia tidak mau mendengarkan.”
“Kau bisa memukul atau menembaknya!”
Doyoung kembali menggeleng. “Aku tidak bisa!”
“Kau–“ Taeyong masih memandang ke arah Doyoung, lalu bergantian ke arah Johnny. Dari tatapan yang diberikan Doyoung, pemuda itu akhirnya paham. Belum sempat Taeyong mengatakan apapun, Johnny yang menyadari keberadaannya segera menembakkan peluru. Reflek Doyoung mendorong pimpinannya itu untuk menghindar.
Dirasa usahanya gagal, Johnny menerobos kerumunan prajurit dan berjalan cepat ke arah Taeyong. Sorot matanya begitu tajam dan kelam. Tidak segan untuk melukai siapapun yang menghalangi.
Johnny pun menodong senjatanya ke arah Taeyong, bersiap untuk menarik pelatuknya. Namun, Doyoung segera menghadang tepat di moncong senapan Johnny.
“Minggir.”
“Tidak. Tembak kalau kau mau.”
Johnny menggeram. Meski dibawah kendali, impuls dalam otaknya mengirim sinyal bahwa dia tidak bisa melukai orang di hadapannya. Entah karena alasan apa.
“Minggir.”
“Tidak.”
Perlahan Doyoung menyentuh senjata yang dipegang Johnny. “Hentikan, Johnny. Kau bukan alat mereka.”
Selama beberapa saat Johnny tampak kebingungan lalu mundur beberapa langkah, pijakan tempatnya berdiri terasa berputar-putar. Beragam memori melintas di benaknya secara acak, dari yang baik hingga buruk. Dari semuanya, kata-kata pemicu itu menggema keras dan berusaha untuk mendominasi. Dia tidak tahu mana suara asli dan mana suara yang berasal dari ingatannya.
“Bius dia.”
Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena setelahnya ada gelap yang menanti Johnny dan ia ambruk ke tanah.
.
.
.
“Bagaimana dia bisa dikendalikan?”
“Alat komunikasinya sudah kalian sita, bukan?”
“Ada chip di dekat telinganya, hyung. Mungkin itu penyebabnya.”
“Sial! Ini GPS juga.”
“Kita bisa mencabutnya?”
“Kita tidak punya alat operasi di sini.”
“Kita harus cepat menemui Kun, mungkin di sana mereka punya alatnya.”
“Bagaimana kalau mereka menemukan kita?”
“Kita harus segera pergi dari sini. Kita berpacu dengan waktu.”
.
.
.
Entah siapa yang berbicara, Johnny hanya samar-samar mendengar mereka. Ketika matanya terbuka, pemandangan yang pertama dilihat adalah jalanan gelap dan beberapa prajurit yang segera menatap ke arahnya. Ia menoleh dan mendapati Doyoung duduk di sebelahnya menahan kantuk, sementara keadaannya kembali seperti saat pertama bertemu dengan pemuda itu. Terikat dan terborgol.
“Ini ... di mana?” Suara parau Johnny cukup membuat Doyoung tersentak, menyadarkannya dari rasa kantuk.
“Kau sudah tersadar,” gumam Doyoung.
Johnny mengangguk. Butuh beberapa saat hingga ingatannya tentang kejadian semalam pulih. Meski saat ini ia sepenuhnya sadar, tapi ia mengingat jelas apa yang telah diperbuat. Dia mengingat Doyoung yang berusaha menghentikannya, prajurit-prajurit yang dilawannya dan Doyoung yang berdiri di hadapannya. Tidak gentar meski Johnny akan menyakitinya.
Hal seperti ini terkadang membuat Johnny tidak bisa percaya pada dirinya sendiri.
“Apa aku melukai banyak orang?” bisiknya pelan bak semilir angin yang menerpa wajah mereka.
“Tidak,” geleng Doyoung.
Bohong. Ia ingat menembak salah satu prajurit.
“Jangan bohong.”
“Aku tidak berbohong. Tidak ada dari kami yang terluka parah,” jawab Doyoung memandang ke arah Johnny.
“Tapi–“
“Memang ada yang terluka, tapi tidak parah. Bisa diselamatkan. Kurasa tanpa sadar, kau mengurangi kekuatanmu.”
Benarkah?
“Kita hanya perlu menemukan orang yang dapat melepas chip itu,” tunjuk Doyoung ke bagian bawah telinga Johnny.
Johnny meraba bagian bawah telinganya. Kini ia ingat, dari mana asal suara-suara itu. Chip ini dipasang setelah mereka tahu sejauh apa proses Johnny untuk lepas dari program tersebut, sebagai antisipasi apabila ada orang di sekitarnya yang menyebutkan kata pemicu.
Kata pemicu?
Johnny tidak menyadari selain kata pemicu yang dapat mengaktifkannya sebagai mesin pembunuh, ternyata ada kata pemicu yang bisa menyadarkannya.
“Hei, Doyoung.”
“Hm?”
“Apa kau ingat cara menghentikanku?”
Doyoung tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab, “Aku hanya berdiri di hadapanmu. Bersiap untuk ditembak.”
Tidak, rasanya ada detil yang terlewatkan. Johnny hanya ingat raut wajah Doyoung dan perasaan aneh yang menghalanginya untuk melukai pemuda tersebut.
“Kenapa ... kau nekat?”
“Karena...” Doyoung menggantungkan kalimatnya, tampak ragu untuk mengatakan hal selanjutnya, “kau tidak bisa melukaiku.”
Raut muka Johnny makin nampak heran, seakan ada makna yang tersimpan dibalik ekspresi Doyoung.
“Kau tidak bisa melukaiku, Johnny,” ulang Doyoung lagi sambil tersenyum tipis.
Suara itu bagai gema di telinganya. Perlahan otaknya mulai memutar ulang sebuah kenangan lama. Johnny pernah membahas ini dengan mantan kekasihnya, mitos yang sudah lama sekali terlupakan.
Soulmate.
Pembahasan yang berujung keduanya berpacaran. Mereka merasa bahwa hal seperti itu tidak ada dan tidak pernah menemukan sosok yang seperti itu. Mana mungkin kita tidak bisa melukai seseorang meski itu disengaja?
Meskipun masih terasa sulit untuk dicerna, perlahan semuanya mulai masuk akal. Sejak pertemuan pertama dan alasan mengapa Johnny tidak bisa mengalahkan Doyoung.
“Apa karena kita...” Johnny menunjuk ke arah dirinya dan Doyoung bergantian.
Doyoung mengangguk, samar-samar Johnny dapat melihat semburat merah di wajah pemuda itu.
Keduanya saling berpandangan, mulut Johnny terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi terlalu banyak yang ingin dia sampaikan hingga akhirnya pria itu memilih tertawa, begitu juga dengan Doyoung. Agaknya merasa lucu melihat situasi mereka sekarang.
“Wow, kita...” Johnny mengangguk-angguk, berusaha mencari kata yang tepat.
“Ya, kita...” Doyoung pun ikut mengangguk.
Mereka masih tertawa, sepakat untuk tidak melanjutkan pembicaraan. Keduanya paham maksud masing-masing, sedangkan para tentara yang ada di dalam mobil, hanya memandang heran melihat tingkah aneh mereka.
Tidak ada pembicaraan lagi yang tertukar. Mereka kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati perjalanan. Langit gelap perlahan berubah menjadi terang, cahaya matahari mengintip di balik awan sana. Pagi menyambut mereka dengan ramah.
“Bagaimana kalau aku melukai orang lagi?” tanya Johnny memecah keheningan.
“Karena itu kami mencari cara untuk melepas chipmu.”
“Kalaupun chip ini sudah terlepas, tapi aku belum sepenuhnya bisa bebas ... bagaimana?”
Doyoung memandang Johnny sesaat, lalu menjawab, “Ada aku yang akan menghentikanmu. Aku akan mencari caranya.”
“Apa kau melakukan ini sebagai kewajiban?” Karena aku soulmatemu.
“Entahlah.” Doyoung menghela nafas. Ia pun tidak mengerti, dorongan apa yang membuatnya menjadi lebih peduli. Tiba-tiba saja teringat perkataan Sungchan.
“Mungkin butuh waktu untuk sampai tahap itu.”
“Tahap apa?”
“Mencintai satu sama lain.”
“Memang sekarang kalian di tahap mana?”
“Tidak ingin kehilangan satu sama lain.”
“Aku hanya tidak ingin ... kau berada dalam situasi itu terus menerus.”
Johnny mengangguk, paham dengan perkataan Doyoung. Sekarang pun yang terlintas di benaknya adalah bagaimana mengontrol diri agar tidak lepas kendali dan membuat Doyoung sedih.
Cukup dia kehilangan satu orang berharga dalam hidupnya. Jangan ditambah lagi.
.
.
.
“Kita sudah sampai!” sahut Taeyong membangunkan mereka dari tidur singkat. Ia berjalan mendekati mobil jeep tempat Doyoung berada, memandang ke arah dua orang yang baru terbangun itu.
“Kita sudah sampai,” ulangnya sambil tersenyum.
Ketika Doyoung dan Johnny turun dari mobil, hamparan perkemahan menyapa mereka. Tempat ini mirip pangkalan militer berfasilitas lengkap dan tersembunyi. Mereka kembali berpandangan lalu mengangguk mantap.
“Ayo,” ajak Doyoung.
Di sini pasti ada jawabannya.
Tanpa Doyoung dan Johnny sadari, samar-samar muncul sebuah tanda di pergelangan tangan mereka, tanda yang jika digabungkan akan melengkapi satu sama lain, seolah mengatakan bahwa mereka adalah dua orang dengan satu jiwa yang sama.
Belahan jiwa satu sama lain.
END
