Actions

Work Header

Notice Me (Enchanted)

Summary:

(Local settings)
Yuuji ingin pergi ke anime expo bersama kakak kelas favoritnya, akan tetapi ponselnya rusak. Satu-satunya jalan adalah dengan meminta bantuan Sukuna, abangnya yang super menyebalkan.

---

Notes:

Fiksi pertamaku di ao3 dan fandom jjk. Aku cuma pengen nyoba fitur post-nya sih, malah jadi one shot begini haha.
Umur Sukuna di sini 17 tahun dan Yuuji 15 tahun.

Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Wajah cemberut Yuuji yang sedang menelepon seseorang di ruang tengah adalah pemandangan yang pertama kali Sukuna lihat sepulang dari ekskul basketnya di Jumat petang yang melelahkan.

Yuuji memang sering sekali bertindak ceroboh sehingga kesialan seolah tidak mau jauh-jauh darinya. Minggu lalu saja bocah itu harus mengganti rugi kaca jendela ruang kepala sekolah yang rusak karena lemparan bisbolnya terlalu jauh. Entah, masalah apa lagi yang menimpa si bungsu saat ini. Tapi Sukuna tidak mau repot-repot bertanya, toh kalau sudah mentok, anak itu akan curhat sendiri kepadanya.

"Please, ma. Mama atau papa besok pulang ya… Yuuji enggak hafal jalan kalau pergi sendirian."

Sukuna mendengar beberapa keluhan yang dilontarkan sang adik kepada lawan bicara yang tidak lain adalah ibu mereka, Kaori. Di sudut ruangan, anak itu sedang memilin kabel telepon rumah dengan tampang memelas. Seolah-olah ibunya mempunyai mata batin untuk bisa melihat puppy eyes-nya dan kemudian luluh.

Yuuji belum sadar akan kehadiran Sukuna.

Yang lebih tua kemudian melewati ruang tengah menuju kamar setelah sebelumnya menaruh sepatu dan tas. Sukuna tidak langsung merebahkan dirinya di kasur melainkan berbelok ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang penuh dengan peluh setelah berjam-jam berjibaku dengan bola basket.

Beberapa menit berlalu, sehabis mandi dan ganti baju, Sukuna pun memutuskan untuk beristirahat sambil membaca komik yang ia pinjam dari rak buku sang adik. Perhatiannya teralihkan tatkala kenop pintu dibuka dari luar, disusul Yuuji yang masuk ke dalam kamar dengan muka yang masih lesu seperti tadi.

Bocah berambut pink itu melirik kehadiran Sukuna yang sedang rebahan nyaman di atas kasur, pandangannya turun ke komik ninja dalam genggaman si kakak. Biasanya Yuuji akan mengomel jika Sukuna meminjam buku-bukunya tanpa izin terlebih dahulu, namun kali ini anak itu tidak begitu mempermasalahkannya.

"Abang udah pulang." Daripada pertanyaan, nada suara Yuuji lebih ke mengatakan pernyataan.

Sukuna hanya menjawabnya dengan gumaman singkat, lalu lanjut membaca komik. Sedangkan sang adik tidak bertanya lebih lanjut dan lebih memilih untuk berjalan menuju meja belajar, kemudian menyalakan laptop yang ada di sana. Tidak untuk mengerjakan PR melainkan membuka salah satu media sosial dengan ikon burung berwarna biru.

Suasana hening menyelimuti kamar dua putra Itadori Jin, yang ada di sana hanyalah suara kertas yang dibalik dan beberapa kali helaan napas Yuuji. Sebenarnya Sukuna tidak tahan dengan tingkah si bungsu yang sok-sokan galau, tapi tentu saja harga dirinya lebih tinggi untuk sekadar bertanya "Ada masalah apa, dek?" pada Yuuji. Dan mungkin Yuuji pun sama-sama gengsi untuk menumpahkan keluh kesahnya pada Sukuna, abang yang menurut Yuuji paling menyebalkan sedunia.

"AHH AKU MENYERAH!"

Mungkin tidak Juga, karena di detik berikutnya, si bungsu berjalan mendekati Sukuna. Tubuh yang lebih pendek itu kemudian bersimpuh di atas kasur, kedua telapak tangannya disatukan ke depan—gestur memohon.

Sungguh pemandangan yang amat sangat langka.

"Abang, please. Besok anterin aku ke konter HP terdekat ya!"

"Huh?" Sukuna menutup komik yang baru ia baca setengah, menatap Yuuji penuh tanya.

Yuuji dengan telapak tangan yang masih menyatu kembali berujar, "HP-ku tiba-tiba mati, enggak sengaja terbanting. Please please please!"

"Pergi saja sendiri."

"Aku enggak tahu konter terdekat di sini, abang tahu sendiri kan aku baru pindah dua bulan yang lalu. Mama dan papa enggak bisa pulang karena tugas yang menumpuk di rumah sakit, dan besok siang aku ada acara penting sekali."

Yuuji tidak berbohong. Dibandingkan dengan Sukuna yang memang sudah tinggal di kota ini sejak SMP, Yuuji sejak kecil tinggal bersama kakeknya di desa. Barulah 2 bulan yang lalu ia pindah ke sini untuk melanjutkan SMA di kota, juga karena Itadori Wasuke harus bolak-balik ke rumah sakit karena kesehatannya mulai terganggu. Jadi wajar kalau Yuuji belum hafal jalan di daerah tempat tinggal barunya tersebut.

Oke, Sukuna mencoba luluh untuk kali ini.

"Katakan, sepenting apa acara yang kamu maksud itu?"

"Aku… besok aku berencana pergi ke pusat kota untuk menghadiri anime expo, bareng kak Satoru."

Yuuji mengusap tengkuknya, menatap Sukuna ragu-ragu. Biasanya kakaknya itu akan langsung memberengut ketika Yuuji menyebut nama kakak kelasnya itu.

Dan benar saja, Sukuna langsung memutar kedua matanya lalu berbalik memunggungi Yuuji.

"Oh."

"Ih, abang! Kalau ponselku rusak aku enggak bisa menghubungi kak Satoru!"

"Memangnya masalah buatku?"

"Tolonglah, sekali ini saja. Kalau ada bang Choso aku enggak bakal minta tolong sama bang Una."

Yuuji mengguncang tubuh Sukuna yang masih memunggunginya. Percuma saja, dibilang seperti itu malah makin membuat Sukuna malas untuk menuruti permintaan Yuuji. Mood-nya sudah keburu jelek.

Enak saja, mana mau Sukuna membantu adiknya itu membenarkan ponsel jika ujung-ujungnya dia bersenang-senang dengan orang lain. Terlebih lagi orang itu adalah Gojo Satoru. Si ketua OSIS sok keren yang selalu caper kepada adiknya sejak pertama kali mereka bertemu. Sukuna tidak suka dengan interaksi mereka berdua.

"Enggak mau."

"Please."

"Kalau begitu minta saja Satoru untuk mengantarmu sekalian."

"Enggak mau, masa aku harus merepotkan kak Satoru? Paginya juga dia ada rapat OSIS, aku enggak bisa tiba-tiba memintanya untuk menemaniku."

"Dan malah memilih untuk merepotkanku, begitu? Kalau dia ada rapat bisa saja dia sibuk dan membatalkan acara ketemuan kalian."

"Jangan mendoakan yang enggak bener deh! Kamu kan abangku, lagian abang sendiri juga besok tidak ada kegiatan kan?"

Bersamaan dengan adu bacot mereka, sebuah pesan masuk di ponsel Sukuna. Pemuda itu kemudian merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang mengirimkan chat. Senyumannya melebar kala Sukuna membaca barisan kalimat dan nama pengirim yang menyertainya.

"Siapa bilang aku enggak punya kegiatan?"

Dengan muka sombong, Sukuna berbalik badan menghadap Yuuji sambil menunjukkan layar ponselnya. Si adik yang semula sibuk mengguncang lengan Sukuna pun ikut terhempas di atas dada bidang itu karena gerakan yang tiba-tiba, tetapi mereka tidak menghiraukan gestur trivial yang terjadi.

Yuuji dengan seksama membaca pesan yang tertera di sana, kemudian memasang muka masam.

 

From: Fushiguro Megumi

To: Ryoumen Sukuna

Sukuna, besok ayo kita hang out.

 

Pesan ajakan yang singkat, padat, dan menyayat.

"Memangnya kalian mau berangkat jam berapa sih? Abang kan bisa mengantarku dulu ke konter paginya."

"Kalau aku bilang enggak mau ya enggak mau."

"Serius deh, lebih prioritas mana—ADIKMU yang bisa saja nyasar di tempat asing atau hang out bareng Fushiguro?" Yuuji menatap Sukuna yang ada di bawahnya dengan serius, kedua tangan bertumpu memenjara di antara tubuh Sukuna, menantang sang kakak.

Sementara itu Sukuna tidak mau kalah dan balas menatap Yuuji. Seringai kejam merekah di sudut bibirnya, satu tangan besar memegang lengan Yuuji.

"Tanpa ditanya pun seharusnya kamu tahu jawabannya, dek."

Mendengar retorika Sukuna, Yuuji berdecak kesal dan memutus kontak mata mereka. Si bungsu lalu bangkit berdiri, menyerah untuk mengeluarkan argumen lebih lanjut karena kalau Sukuna sudah menyebut-nyebut nama Megumi, ia tidak akan bisa menang untuk mendapatkan sekadar simpati dari sang kakak.

"Fine. Aku benci Sukuna!" Yuuji mendesis kesal.

"Oi, kamu mau ke mana? Kamarmu kan di sini?"

"Aku mau tidur di kamar bang Choso!"

Gubrak. Suara pintu dibanting keras.

Sukuna menghela napas panjang. Oke, Yuuji benar-benar ngambek padanya.

.

※ Notice Me ※

.

Sabtu pagi yang seharusnya cerah ceria sepertinya tidak berlaku di kediaman Itadori, karena sekarang suasana di dalam sana terutama di ruang makan yang berisi 3 orang laki-laki yaitu Sukuna, Yuuji, dan Wasuke—sang kakek—benar-benar seperti sedang ditimpa mendung yang kelam. Ketiganya menyantap sarapan dalam diam, tetapi si bungsu tidak menyembunyikan rasa kesalnya terhadap sang kakak yang duduk berseberangan. Pipi yang sudah tembam itu tambah menggembung lucu.

Berita pagi yang menampilkan ramalan cuaca memperkirakan kalau hari ini cuacanya akan berawan—itu sama sekali tidak membantu dan malah makin membuat mood bungsu Itadori makin jongkok.

Jam 10 pagi, Yuuji dengan sweatshirt oversize berwarna abu-abu dan celana hitam panjang berjalan keluar rumah. Sebelumnya ia sempat mencuri pandang ke arah Sukuna yang saat ini sedang duduk di sofa, menonton televisi.

Kentara sekali kalau adiknya itu sedang mencari perhatian.

"Yuuji, kamu mau ke mana?" Tanya Wasuke yang kebetulan lewat sambil membawa cangkir kopi.

"Aku mau ke konter HP." Yuuji menjawab pelan.

"Enggak minta Sukuna buat nganter?"

"Enggak."

Dan dengan jawaban terakhir itu, Yuuji benar-benar meninggalkan kediaman Itadori seorang diri.

Setelah memandang kepergian salah satu cucunya, Wasuke pun menoleh ke arah Sukuna heran.

"Kalian lagi marahan?"

"Enggak." Jawab Sukuna datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

Itadori Wasuke menggeleng atas respon kedua cucunya yang cuek. Dasar, bocah zaman sekarang.

.

※ Notice Me ※

.

Lima belas menit telah berlalu dan urat-urat ketenangan Sukuna seolah putus karena memikirkan adik satu-satunya. Serius, walaupun Sukuna tidak mau mengakuinya secara gamblang, tetapi hal itu sangat mengganggunya ketika Yuuji sudah dalam mode ngambek. Terkadang si bungsu bisa sangat cuek dan nekat. Jika Sukuna sudah bilang bahwa ia tidak mau mengantar, seharusnya Yuuji tidak memaksa pergi seorang diri kalau tidak tahu jalan. Bagaimana jika anak itu benar-benar tersesat dan ada orang jahat yang menculiknya? Ditambah lagi anak itu kan sedikit bodoh.

Sukuna mengibaskan tangannya ke udara ketika pikiran konyol itu hinggap di otaknya. Sungguh bukan karakternya sekali.

Mungkin karena udara di sekitarnya terasa panas walaupun ramalan cuaca mengatakan hari ini hanya berawan, Sukuna jadi ingat kalau stok cola di kulkas sudah habis. Maka dari itu ia pun beranjak keluar rumah untuk membeli minuman dan snack di minimarket. Seingatnya juga, di dekat situ ada konter HP yang beroperasi sebagai tempat reparasi benda elektronik. Sukuna barangkali bisa 'memastikan' bahwa Yuuji ada di sana.

Baru saja kaki Sukuna melangkah keluar gerbang rumah, pandangannya sudah disuguhi oleh punggung lebar Yuuji. Di depan gerbang, adiknya itu sedang berjongkok memunggunginya sambil mencoret-coret tanah dengan batu.

Begitu menyadari ada orang di belakangnya, sontak Yuuji pun berbalik dan langsung berdiri. Ekspresinya setengah terkejut dan setengah tidak—seolah kehadiran Sukuna memang ia harapkan.

Yang lebih tua bersedekap dada kemudian.

"Sudah pulang dari konter?"

Padahal baru ditanya seperti itu, tetapi telinga Yuuji sudah memerah.

"G-gimana bisa aku ke konter kalau tidak tahu jalan?!"

"Lalu, kenapa malah berjongkok di sini?"

"....."

Yuuji tidak menjawab pertanyaan Sukuna dan malah menundukkan kepalanya, memainkan kedua jempolnya.

Bocah. Jika begini, Sukuna malah makin merasa gemas.

"Kalau enggak tahu jalan tinggal buka maps atau pesan ojol."

"Jangan konyol, mana bisa aku mengakses aplikasinya sedangkan smartphone-ku rusak Sukunaaaa?!"

Dengan helaan napas jengah, si kakak kemudian mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya. Pemuda itu berniat memesankan ojek online untuk mengantar sang adik ke konter HP terdekat. Baru saja aplikasi dengan ikon berwarna hijau dibuka, akan tetapi Yuuji menarik tangannya dengan tiba-tiba.

"Hei kenapa tiba-tiba menarikku?"

"Jadi abang peka sedikit dong. Pokoknya bang Una yang harus nganterin aku ke konter, titik."

Entah dapat kekuatan dari mana padahal tubuh Sukuna lebih besar, Yuuji menarik paksa lengan kakaknya itu dan membawanya berjalan melewati komplek dengan muka bersungut-sungut. Yeah, Sukuna di belakangnya tidak benar-benar melawan ketika jari-jari itu melingkar erat di pergelangan tangannya dan berusaha menyeret tubuhnya. Malahan ingin sekali Sukuna terkekeh karena tingkah sang adik.

"Lagian, katanya kamu enggak tahu letak konternya.. kok main seret aja?"

"Biarin, kalau enggak begini abang pasti bakalan kabur."

Hmm, sepertinya sudah cukup untuk menggoda si bungsu. Sukuna pun mengatur kendali tubuhnya yang semula diseret Yuuji untuk ikut berjalan di sampingnya. Kali ini ia yang memimpin jalan.

"Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi enggak lama, kalau lama aku mungkin akan pulang duluan."

"Enggak akan lama!"

.

※ Notice Me ※

.

"Jadi kenapa ponselnya bisa sampai mati?"

Sesampainya di konter HP yang dituju, Yuuji pun segera menyerahkan ponsel rusaknya kepada tukang reparasi. Diketahui bahwa pria dewasa yang tadi bertanya itu bernama Jogo, dia sedang melihat-lihat ponsel dengan layar hitam milik Yuuji.

"Aku tidak sengaja menekan opsi aneh dan ponselku jadi blank, saat aku mengutak-atiknya aku malah menjatuhkannya ke tanah dengan bunyi yang lumayan keras."

"Hmm, susah juga ya…"

"Kira-kira berapa lama ini diperbaiki?"

"Paling cepat 24 jam, tapi kalau rusaknya parah bisa memakan hari."

"Eh, tidak bisa 2 jam saja?"

"Kita bahkan belum tahu apa yang rusak, nak."

Yuuji langsung merosot lesu di depan konter begitu mendengar penjelasan pemilik toko. Padahal kebutuhan ponsel sangat urgent, terlebih hari ini di mana Yuuji membutuhkan benda itu untuk memastikan Satoru, kakak kelas yang lumayan dekat dengannya agar bisa menghubunginya mengenai rencana ke anime expo. Kapan lagi ia bisa pergi bersama ketua OSIS yang amat populer di sekolahnya itu. Walaupun mereka berdua sudah membuat janji untuk bertemu pukul 2 siang, tetap saja Yuuji khawatir kalau-kalau Satoru mengubah jadwal ketemuannya.

Sementara itu Sukuna yang duduk di samping Yuuji sedari tadi memperhatikan lewat ekor mata. Tangannya lalu mengusap puncak kepala Yuuji, mencoba menyalurkan rasa simpatinya.

Pria itu sempat bercakap-cakap singkat dengan pemilik toko mengenai beberapa hal tentang perbaikan ponsel, ia kemudian menuliskan rentetan nomor pada kertas yang disuguhkan oleh Jogo.

"Pak Jogo fokus saja membetulkan ponselnya, kalau ada apa-apa bapak bisa menghubungi nomor ini. Oh, dan kalau bisa dipercepat akan lebih baik. Saya bisa membayar lebih."

"Baiklah."

Urusan ponsel sudah diserahkan kepada ahlinya, kini Sukuna yang gantian menyeret Yuuji untuk ikut dengannya ke minimarket yang ada di seberang jalan tidak jauh dari konter tadi. Sedari awal, tujuan Sukuna memang hendak membeli camilan kan?

Saat ini mereka berdua tengah duduk di kafe kecil yang tersedia di dalam minimarket tersebut. Satu long black iced coffee untuk Sukuna dan satu matcha frappe untuk Yuuji tersaji di atas meja bundar. Kedua pemuda itu sibuk dengan pikirannya masing-masing, Sukuna yang asyik menyeruput kopi hitamnya dan Yuuji yang masih galau.

Sebenarnya mereka berdua bisa saja langsung pulang ke rumah karena menunggu ponsel yang perbaikannya memakan waktu pun percuma. Akan tetapi kakak beradik itu terlihat enggan memecah keheningan. Sampai tiba-tiba smartphone Sukuna berdering. Pemuda itu melihat nomor tidak dikenal terpampang di layar ponsel, ia sempat menimang-nimang untuk menggeser ikon merah ke atas tapi pada akhirnya telepon itu diangkat juga.

"Halo?"

/"Halo, apakah ini nomor Ryoumen Sukuna kakaknya Yuuji?"/

Sukuna sempat melirik adiknya sekilas sebelum kembali berbicara. "Ini siapa?"

/"Aku Gojo Satoru."/

"Gojo Satoru?"

"Kak Satoru!?"

Mendengar nama kakak kelasnya disebut, Yuuji sontak bereaksi cepat dengan memajukan tubuhnya berusaha meraih ponsel milik kakaknya itu. Tetapi refleks Sukuna terlalu baik sehingga ia langsung menjauhkan muka Yuuji dengan telapak tangannya yang bebas, menghalangi sang adik bahkan untuk sekadar menguping pembicaraan mereka.

/"Benar. Apa kau sedang bersama Yuuji sekarang? Kalau iya, bisakah kau berikan ponselmu sebentar kepadanya? Aku ingin berbicara dengan adikmu."/

Che, apa-apaan gaya bicara itu? Sukuna paling benci ketika diatur-atur seseorang, dan orang asing bernama Gojo Satoru ini sungguh lancang dengan tiba-tiba menyuruhnya. Persetan walaupun adiknya amat mengidolakan pemuda ini.

Sukuna berniat mematikan panggilannya secara sepihak akan tetapi ketika melihat muka memohon Yuuji, ia mendengus jengkel dan menyerahkan ponsel miliknya kepada sang adik yang langsung disambut dengan gembira.

Ekspresi Yuuji yang semula muram menjadi cerah seketika.

"Halo kak Satoru, ini Yuuji."

/"Halo Yuuji, maaf meneleponmu lewat kakakmu. Aku baru tahu kalau ponselmu rusak, jadi aku meminta nomor kakakmu dari Megumi."/

"Enggak apa-apa kak, lagian harusnya aku yang minta maaf karena enggak sempat ngasih tahu. Jadi, ada apa ya?"

/"Yuuji belum bersiap-siap pergi ke anime expo, kan?"/

"Belum, bukannya kita bakal pergi jam 2 nanti?"

Di seberang telepon, Satoru tidak segera menjawab pertanyaan Yuuji. Dari jeda tersebut pemuda Itadori merasakan ada firasat tidak mengenakkan yang tiba-tiba datang. 

Yuuji berusaha menepis pikiran negatifnya. Akan tetapi kata-kata Satoru selanjutnya meruntuhkan sisa-sisa harapan Yuuji tentang rencana bagus hari Sabtu yang sudah disusunnya sedemikian rupa.

/"Begini, aku—hari ini tidak bisa menemani Yuuji ke anime expo."/

"Eh?"

/"Rapat OSIS tadi belum selesai dan setelah ini kami akan melakukan kunjungan ke SMA tetangga. Keputusannya baru dibuat tadi, jadi aku baru bisa menghubungimu. Maaf, Yuuji."/

Dari nada bicaranya, tampak sekali bahwa Satoru sendiri juga sangat menyayangkan pembatalan ini. Ia benar-benar terjebak oleh tugas sebagai ketua OSIS.

Yuuji menghela napasnya, mencoba untuk tersenyum ikhlas.

"Begitu ya. Mm, Jangan dipaksain kak, aku enggak masalah kalau memang kakak berhalangan."

/"Maafin aku, ini semua juga mendadak. Tapi aku janji, sehabis ini akan menemani Yuuji ke tempat manapun yang kamu mau. Ya?"/

Yuuji terkekeh mendengar Satoru yang mencoba menghiburnya. "Santai saja. Lagian, event kayak gini bakalan ada lagi kak. Kalo gitu aku tutup teleponnya? Kakak mungkin masih sibuk, kan?"

/"Sekali lagi maaf, Yuuji."/

"Iya, enggak apa-apa. Dah.."

Setelah menutup telepon dari Satoru dan mengembalikan benda persegi panjang itu ke Sukuna, Yuuji beringsut menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya di atas meja. Ekspresi ceria yang sempat datang tadi sirna, dan mood suram yang hilang beberapa menit lalu kembali menyelimuti dirinya.

"Hari ini parah banget!" Erang Yuuji kemudian.

Sementara itu Sukuna yang keberadaannya tadi terabaikan hanya bisa menggelengkan kepala, betapa sial nasib adiknya itu.

Perhatiannya sempat teralihkan pada ponsel yang kembali berbunyi menandakan pesan masuk. Kali ini dari Megumi. Ah, rupanya anak itu sudah mengirim pesan 2 jam yang lalu tapi Sukuna belum sempat membacanya dan kini pemuda berambut hitam itu sudah mengirimkan pesan lain (bahkan pesan yang semalam pun Sukuna lupa membalasnya karena malam itu ia hanya menggertak Yuuji dengan chat dari Megumi tersebut).

 

From: Fushiguro Megumi

To: Ryoumen Sukuna

Maaf tadi malam aku ketiduran dan belum sempat mengatakan detailnya. Hari ini rencananya kita akan pergi makan-makan untuk merayakan ultah kak panda. Aku, Kugisaki, dan beberapa kakak kelas mengajakmu. Ajak Yuuji juga, aku tahu kalau ponselnya rusak jadi aku hanya bisa menghubungimu. JANGAN LUPA ajak Yuuji.

 

Pesan selanjutnya,

 

Kau dan Yuuji jadi ikut tidak?

Balas oi.

 

Sukuna mendengus ketika membaca rentetan pesan dari Megumi. Apa ini, ternyata si sleepy hair tidak mengajaknya hang out berdua. Yeah, mana mungkin pemuda sedingin es itu ada niatan untuk sekadar mengajaknya makan berdua, mengobrol pun mereka jarang sebenarnya. Megumi memang sulit didekati, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membuatnya mau membuka diri.

Pemuda bersurai darker pink pun mengetikkan balasannya untuk pesan Megumi.

 

From: Ryoumen Sukuna

To: Fushiguro Megumi

Maaf baru sempat balas pesan. Aku dan Yuuji hari ini enggak bisa ikut, ada urusan lain.

 

Sukuna menaruh ponselnya di atas meja, kembali menatap Yuuji yang saat ini sedang meminum matcha frappe-nya dengan mata yang hampir berkaca-kaca. Menyadari kakaknya sedang memperhatikan, kelereng coklat itu balik memandangnya.

"Aku dan kak Satoru batal ketemuan."

"Aku tahu."

Yuuji gusar dengan jawaban flat dari sang kakak. Sukuna memang punya rasa simpati setipis kertas, seharusnya Yuuji tidak mengharapkan orang itu untuk sekadar menghiburnya.

Yuuji sempat memikirkan untuk mengajak Junpei pergi ke anime expo bersamanya, tapi lagi-lagi ia ingat kalau dirinya tidak bisa menghubungi temannya itu karena ponsel yang masih berada di tukang reparasi.

Haaaah, padahal Yuuji sangat menantikan untuk datang ke anime expo yang hanya digelar satu minggu dan ini adalah hari terakhirnya. Kalau ia membatalkan, sama saja Yuuji harus menunggu lama lagi untuk event berikutnya. Pun mamanya mana mungkin mengizinkan anak 15 tahun pergi ke pusat kota seorang diri (ditambah ingat, Yuuji buta arah). Mungkin hari ini memang bukan harinya, huft.

"Jadi gimana, mau pulang?" Yuuji kembali bertanya.

Sukuna masih dengan ekspresi datarnya mengangkat bahu, pemuda itu lalu meminum sisa kopi yang ada di gelas plastik miliknya.

"Habiskan minumanmu." Perintah dari yang lebih tua.

"Aku juga sudah selesai."

Dua kakak beradik itu keluar dari mini market. Baru dua langkah mereka berjalan, Sukuna kemudian menggandeng tangan Yuuji. Si empunya tangan hanya bisa kebingungan karena dengan tiba-tiba dirinya ditarik menuju terminal bus.

"O-oi!"

Tanpa banyak bicara Sukuna membawa Yuuji untuk ikut masuk ke dalam bus dan duduk bersamanya. Setelah bus yang mereka tumpangi mulai berjalan, barulah Sukuna melepaskan genggamannya dari lengan Yuuji.

"Kita mau ke mana?" Untuk ke sekian kalinya, Yuuji bertanya.

Sukuna menghela napas jengah atas kelemotan si bungsu. "Sudah jelas kan, kita akan ke anime expo."

"HA?!" Yuuji sontak berseru atas ujaran kakaknya. Sukuna mengusap telinganya yang berdengung akibat teriakan cempreng bocah Itadori.

"T-tapi aku belum siap-siap," Yuuji melihat-lihat penampilannya sendiri yang menurutnya tidak keren. Sweatshirt kebesaran dan celana rumahan, pakaian yang bukan untuk hang out sama sekali. "Lagian, aku enggak bawa uang banyak, uangku cuma cukup buat beli satu nendoroid!"

"Tsk, berisik banget deh! Memangnya kamu mau jajan berapa barang eh?"

"Emm, belum tahu sih… tapi kita mesti keliling ke beberapa spot kan? Dan makan-makan juga."

Sukuna memalingkan wajahnya dari muka Yuuji, ia memilih untuk memperhatikan pemandangan yang tersaji di luar kaca jendela bus. Menopang dagunya dengan sebelah tangan, lalu berujar pelan.

"Aku yang bayar."

Yuuji seperti berada di festival kembang api begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sukuna. Yeay, senangnya!

.

※ Notice Me ※

.

Setibanya di anime expo, Yuuji pun langsung membaur di keramaian dengan tampang sumringah. Wajah galau yang menjengkelkan itu hilang entah ke mana, tergantikan dengan senyum semangat secerah mentari pagi. Sukuna diam-diam ikut tersenyum melihat tingkah Yuuji yang seperti kera dilepas ke habitat aslinya. Ia berkali-kali menyeret bocah hiperaktif itu agar tidak hilang ditelan hiruk-pikuk manusia yang ada di sana. Yuuji pun sadar diri akan keterbatasannya membaca arah jalan, maka dari itu sesekali ia menggunakan fabrik jaket yang dikenakan Sukuna sebagai pegangannya agar tidak jauh-jauh dari si kakak.

Mereka berdua mengunjungi beberapa spot yang menjual barang-barang otaku seperti nendoroid, kaus anime, dan dvd blue-ray. Terkadang Yuuji akan berceloteh tentang ke-wota-annya dan Sukuna akan menanggapinya dengan ekspresi yang seolah-olah tidak tertarik. Toh Yuuji tidak mempermasalahkannya, karena mereka sama-sama tahu bahwa keduanya sangat menikmati kebersamaan itu.

"Ayolah, abang pasti bisa. Semangat semangat!"

Kali ini Yuuji dan Sukuna sedang berada di area crane game yang tersedia di sana. Pemuda yang lebih tinggi mencoba keberuntungannya yang keempat kali setelah percobaan ketiga gagal. Adiknya itu memaksa Sukuna untuk memainkan mesin capit yang di dalamnya terdapat berbagai macam boneka pokemon.

Urat kesabaran Sukuna seperti copot karena fokusnya harus terbagi antara tuas game dan bocah berisik di belakangnya.

"Dipikir mengambil boneka ini gampang, huh? Dan juga, bukannya kamu udah beli boneka pink bulat itu?!" Sukuna mengomel dengan wajah sewot.

"Beda banget, abang. Ini Kirby, dia bukan bagian dari pokemon!" Celetuk Yuuji.

"Kalau begitu jangan berisik, aku enggak bisa fokus."

Dibilang begitu, Yuuji pun langsung mematuhi perintah kakaknya dan berdiri dengan tenang sambil memeluk boneka pink bernama Kirby itu. Sukuna lanjut menggerak-gerakkan tuas pada mesin boneka yang ada di depannya. Pemuda itu mengincar boneka pokemon berbentuk setengah telur yang memang paling dekat dengan lubang keluar. Mesin berhasil mencapit perut boneka lalu Sukuna menggeser tuasnya ke kiri, tidak sadar bahwa napasnya ikut tertahan karena terlalu fokus menggeret benda empuk itu keluar. Syukurlah dewi fortuna berada di pihaknya kali ini. Saat mencapai lubang, Sukuna melepaskan capitan mesin dan, tuk, satu boneka pokemon berhasil didapatkan. Yuuji bersorak gembira di belakangnya.

"Kita dapat Togepi, mukanya mirip sekali dengan abang kalau sedang cemberut hehehe."

"Cih, bukannya ini mirip denganmu, Yuuji?"

Sukuna mengulurkan tangannya berniat memberikan boneka itu kepada Yuuji. Tetapi bukannya menerima boneka, si bungsu malah melingkarkan jemarinya di pergelangan tangan Sukuna dan menariknya ke tempat lain.

"Ayo kita foto-foto bareng cosplayer!"

Entahlah, agaknya Sukuna menyesali ikut bersama Yuuji sampai sini dan bukannya menunggu di area parkiran. Tapi ia tidak menyesal telah mengembalikan mood bahagia sang adik di wajah manisnya itu (dan jangan paksa Sukuna untuk mengakuinya secara verbal, oke. Biarkan saja kesannya itu cukup dirasakan dalam kesadaran Sukuna seorang).

Tidak terasa jam terus berjalan dan kakak beradik itu menghabiskan waktu mereka sampai sore hari. Omong-omong, konter HP yang menangani ponsel Yuuji bilang kalau benda persegi panjang itu sudah selesai diperbaiki karena kerusakannya tidak terlalu parah. Mereka bisa mengambilnya kapan saja.

Sekarang Sukuna dan Yuuji sedang menunggu bus datang, di samping kanan kiri mereka penuh dengan tas-tas berisi 'panen jajanan' dari event anime expo.

Sambil menunggu bus, Yuuji sibuk melihat-lihat hasil selfie yang ia ambil bersama para cosplayer menggunakan ponsel milik Sukuna. Beberapa kali kakaknya itu ia seret untuk ikut berfoto bersamanya.

Tidak dipungkiri bahwa Sukuna sangat keren dari segi penampilan, hari ini saja beberapa wanita dan bahkan laki-laki ada yang melirik ke arah mereka, terutama dengan tatapan kagum. Walaupun Sukuna dan Yuuji mempunyai gen yang sama, tapi entah kenapa kakaknya itu mempunyai aura yang lebih badass dibandingkan dengan dirinya yang sering dibilang imut. Bukannya Yuuji iri atau apa, malahan ia juga ikut kagum. Hanya saja, ada perasaan aneh ketika kakaknya itu didekati oleh orang lain dengan maksud tertentu apalagi sampai membuatnya mengabaikan Yuuji.

Tapi biarlah, Yuuji cukup menyimpannya dalam hati. Karena ia tahu, ia tidak bisa mengendalikan orang-orang yang dengan mudahnya menyukai Sukuna. Yuuji hanya seorang adik, bisa menempel sedekat ini dengan Sukuna saja sudah seperti privilege baginya. Jika dibandingkan dengan orang lain yang memang susah mendekati si abang yang mood-nya lebih dominan ke tukang mencak-mencak, sungguh Tuhan maha adil dengan menciptakan kekurangan dari wajah tampan kakaknya itu.

"Oh, selfie yang ini bagus juga. Nanti kalau ponselku sudah benar, tolong kirimin foto-fotonya ke aku ya, Sukuna."

Dengan mata yang masih terfokus ke layar ponsel, Yuuji menunjuk sebuah selfie dirinya dan Sukuna yang memakai filter kucing.

Pemuda yang lebih tinggi sempat melongok untuk ikut melihat gambar yang ditunjuk Yuuji, ia kemudian mendengus geli. "Males banget, paling nanti langsung ku hapus."

Bohong.

Yuuji menoyor lengan kakaknya dengan kedua bola mata yang berputar malas. "Please deh, jangan ngeselin."

"Iya-iya, kalau perlu nanti abang pajang di kamar kita buat poster. Puas?"

Mendengar sarkasme Sukuna, Yuuji malah tertawa terbahak-bahak karena itu terdengar seperti candaan yang payah. "Pffft ahahaha ternyata seorang Sukuna juga bisa melawak hahaha." Ia dengan susah payah menekan perut yang kram karena terlalu banyak tertawa, satu tangan yang lain sibuk menyeka air mata yang muncul di pelupuk matanya.

Sukuna yang merasa tersinggung pun bereaksi dengan mengacak-acak surai pink sang adik yang memang sudah berantakan.

"Aku enggak sedang melawak, bocah!"

Tidak berapa lama kemudian, bus yang mereka tunggu pun datang. Sukuna dan Yuuji mengangkut barang-barang mereka (termasuk camilan toserba yang tadi siang dibeli dan sempat ditaruh ke tempat penitipan barang).

Suasana kali ini tampak lebih tenang setelah mereka duduk nyaman di kursi penumpang, Yuuji sempat menguap tertahan. Ia pasti kelelahan setelah melewati hari yang hampir seperti rollercoaster baginya itu.

Disadari atau tidak, Yuuji beringsut mendekat ke sisi kakaknya yang duduk di samping kanan. Kepalanya yang terasa berat membuat Yuuji menyerah untuk tetap duduk tegak, ia pun perlahan menyandarkan kepalanya pada lengan Sukuna ketika kantuk mulai datang.

"Hari ini enggak terlalu buruk, malahan bagus banget. Siapa yang mengira kalau bang Una yang menemaniku di anime expo.." Yuuji bergumam lirih.

Tidak disangka, Sukuna tidak menyingkirkan kepala Yuuji yang bersandar nyaman padanya. Ia justru menanggapi gumaman sang adik dengan elusan di kepala.

Tetapi satu ingatan yang sempat terlupakan tiba-tiba muncul di kepala Yuuji. Membuat bocah itu kembali duduk tegak seketika.

"Eh, bukannya abang ada janji dengan Fushiguro?!"

Sukuna menelengkan kepalanya, "Kamu baru tanya sekarang?" Kemudian tangan besarnya menangkap kepala Yuuji untuk kembali bersandar di bahunya.

"Hang out-nya enggak jadi, aku sudah chatting dengan Megumi saat kita di minimarket tadi siang."

"Oh, baiklah.."

Yuuji balik menyamankan diri dalam sandaran Sukuna dan elusan di rambutnya, tidak melawan ketika mimpi mulai menyelimuti alam bawah sadarnya detik itu.

Tentu Sukuna tidak menjelaskannya secara detail kalau sebenarnya mereka berdua diajak untuk hang out secara grup. Anggaplah itu sebagai keegoisannya, tetapi Sukuna lebih memilih menghabiskan waktu berdua bersama Yuuji seperti ini yang selalu ia rindukan, karena makin ke sini mereka berdua makin sibuk dengan urusan dan temannya masing-masing. Sukuna pun bukan tipe orang yang dengan mudah mengungkapkan afeksinya dengan kata-kata, terlebih lagi kepada Yuuji. Entah kenapa…

Masa bodoh jika keesokan harinya Megumi melaporkan bahwa Yuuji sempat diajak hang out olehnya, mungkin Sukuna dapat menggunakan alasan itu untuk terus bisa berdebat dengan Yuuji, menikmati segala macam gestur yang diekspresikan oleh adiknya itu.

Hasrat bodoh.

Untuk sementara waktu, biarkanlah mereka bersandar pada keegoisan masing-masing seperti ini.

Sukuna ikut menyandarkan kepalanya di samping Yuuji yang terlelap, berbagi kehangatan di petang yang menenangkan.

Notes:

Judul enchanted di sini aku tambahin cuma karena bikin sambil dengerin Taylor Swift - Enchanted, cocok juga buat bgm mereka. .·´¯`(>▂<)´¯`·.
Anyway, ilustrasinya aku posting di twitter @CoffeeChaCha.