Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-03-07
Words:
1,711
Chapters:
1/1
Kudos:
17
Hits:
86

Falling

Summary:

Miho's POV. Strangers to lovers trope, a cliché one lol.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jika bukan karena sahabatku memaksa untuk pergi ke tempat ini, mungkin saat ini aku masih bersantai di rumah. Sisa cutiku tinggal sehari lagi. Sialan memang Nibu Akari.

"Ini minuman lo." Akari membawakan segelas cappuccino panas untukku. Aneh, kenapa hanya membawa satu gelas saja?

Kusesap cappuccinoku dan memandang Akari yang masih berkutat dengan ponsel pintarnya, "Sebenernya ada apa lo ngajak ke sini?"

Dengan malu Nibu menjawab, "Gue mau ketemu sama cowok Tinder Mi hehehe. Tapi takut sendiri jadi gue paksa lo untuk ke sini. Gapapa 'kan?"

"Gapapa kok. Mulai main Tinder lagi ya?"

"Iya, gabut sih. Dapet match yang nyambung juga. Dia ngajak ketemu yaudah gue iyain, dia juga yang reservasi di sini."

"Kayaknya niat nih cowo sama lo. Udah deket berapa emang?"

"Kurang lebih 3 bulanan lah."

"Yaudah deh gue tunggu di sini. Meja lo sama dia dimana?"

"Untungnya dia mesen di pojok sana, tapi dari meja sini sih masih keliatan. Jadi lo mantaunya enak. Kalo seiyanya zonk lo bisa bawa gue cabut dari sini."

Benar kata Akari, "Oke deh gue tunggu di sini. Keliatan kok."

"Yaudah gue ke meja gue dulu."

Memang terlihat jelas meja Akari dari mejaku, terlihat gugup. Beberapa menit kemudian, datanglah lelaki yang ditunggu Akari. Pantas saja Akari suka, memang ini tipe yang diidamkannya.

Sambil memantau Akari, aku menyesap kembali cappuccinoku seraya melihat penampilan dari penyanyi jazz lokal. Semakin malam, semakin ramai. Aku lihat Akari masih saja mengobrol dengan lelaki itu, senyuman Akari menjadi pertanda jika pertemuan mereka berjalan dengan lancar. 3 orang perempuan melewati mejaku dan menduduki meja depan panggung. Salah satunya menarik perhatianku.

Perempuan itu, memakai long dress bermotif bunga-bunga—entah apa nama bunganya. Dan semerbak harumnya menancap di pikiranku. Berambut sebahu berwarna coklat, mukanya putih pucat. Aku tidak lagi memantau Akari, juga tidak menikmati penampilan di panggung. Aku hanya memandangi perempuan itu, yang sedang mengobrol dengan yang kuyakin itu adalah teman-temannya.

Mendapati balasan dari Akari, memberitahu bahwa ia akan pergi bersama lelaki itu, yang berarti tugasku sudah selesai. Beranjak dari mejaku, meninggalkan tempat.

Apakah ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya?


Kembali menjalani rutinitas seperti pekerja kantoran pada umumnya. Memakan sandwichku, aku setengah berlari menuju lift yang hampir penuh itu. Menuju ruangan, disambut dengan pertanyaan seputar pekerjaan. Tidak apa, lebih baik daripada pertanyaan soal cutiku.

"Kak Miho, tadi lo dicari sama Bu Kumi."

Jika Bu Kumi mencariku maka pasti ada sesuatu, "Oke makasih udah kasih tahu. Kalian jalanin sesuai brief gue, nanti saling back-up. Gue ngadep Bu Kumi dulu."

Bu Kumi dengan sumringah menyambutku dengan pelukannya. Memang, pasti ada sesuatu. Aku dipersilakan duduk oleh Bu Kumi.

"Miho, nanti ada Specialist yang baru. Nanti kamu yang langsung urus ya. Saya bentar lagi meeting soalnya."

"Loh gimana Bu dia 'kan Specialist gimana saya mau urusnya? Ibu belum ketemu juga 'kan?" Tentu saja aku bertanya-tanya, ini 'kan tanggung jawab Bu Kumi sebagai Manajer. Kenapa dibebankan kepadaku?

"Tenang, saya udah kenalan sama dia pas kamu cuti kemarin. Saya baru jelasin dikit, sisanya kamu ya. Kamu udah paham seluk beluk di sini, supaya dia cepat beradaptasi juga. Saya minta tolong banget."

Kalau begini mau bagaimana lagi.

"Oke kalau gitu saya aja yang handle."

"Thank you so much! Sekarang saya harus naik dulu."

Bu Kumi meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. Baru akan beranjak, Bu Kumi berteriak,

"MIHO INI SPECIALISTNYA!!!"

Meninggalkan ruangan Bu Kumi, hal pertama yang aku lihat bukanlah Bu Kumi, juga bukan para staf.

Aku melihat perempuan itu. Perempuan long dress bermotif bunga-bunga dengan rambut sebahu dan kulit putih pucat yang kulihat tempo hari.

Ia perlahan mendatangiku yang tengah mematung, mengenalkan dirinya,

"Saya Kosaka Nao, Specialist baru di sini. Ini dengan Bu Miho?"

Oh, namanya Kosaka Nao. Semerbak sekali. Ingatanku masih menyimpan harumnya itu.

"I-iya saya dengan saya sendiri. Ayo sambil duduk."

Aku mengajak perempuan yang bernama Kosaka Nao menuju Lounge untuk berbicara sambil duduk, masa aku harus membiarkan ia berdiri sih?

"Silakan duduk."

"Makasih Bu Miho."

"Panggil aja Miho."

"Kata Bu Kumi, Bu Miho lebih tua dari saya jadi kurang sopan jika saya manggil nama langsung."

Astaga Bu Kumi kenapa mesti bilang.

"Loh emang umur berapa?"

"Saya 26 tahun."

"Oh cuma beda dikit, panggil aja Miho ya."

"Kalo Kak Miho aja gimana?"

"Yaudah senyamannya—saya panggil Nao aja boleh?"

"Boleh!"

"Oke deh Nao. Hari ini paling saya cuma ngenalin lingkungan kantor sama workflow di sini. Mungkin untuk tugas sudah dijelaskan sama Bu Kumi 'kan?"

"Sudah Kak Miho."

"Bagus kalau gitu. Tinggal adaptasinya aja. Yuk kita keliling."

Mengajak Nao berkeliling kantor, mengenalkan kepada para staff yang tentu senang dengan hadirnya Nao dengan harapan bisa mengurangi beban kerja, kemudian membantu membereskan meja yang akan ia pakai.

"Besok langsung start aja ya? Di sini kayak santai tapi beban kerja gak main-main, jadi saya harap secepatnya kamu bisa beradaptasi ya."

"Baik Kak Miho, terima kasih banyak."

"Kalau ada apa-apa bisa minta bantuan saya atau yang lainnya."

"Siap Kak!"

Baru saja akan beranjak, Nao menarik pelan bajuku.

"Kenapa Nao?"

"Kak saya boleh ngobrol atau nanya di luar pekerjaan gak sama Kakak?"

"Boleh-boleh. Emang mau nanya apa?"

Pertanyaan selanjutnya membuatku terkejut.

"Kakak yang kemarin duduk sendirian pas hari Kamis di Restoran Zzy 'kan?"

Kembali menelusuri ingatan, aku yakin ia tidak pernah menatapku.

"Kok kamu bisa tahu ada saya di situ?"

"Jadi Bu Kumi tuh nunjukkin foto Kak Miho sebelumnya, jadi pas saya lewat meja Kakak di situ saya langsung ngeh. Tapi saya gak berani negur soalnya kita belum kenalan dan katanya Kak Miho masih cuti."

Jadi Bu Kumi selain membocorkan usia, foto, dan cutiku lalu apalagi yang ia bocorkan?

"Wah kebetulan banget ya? Hahaha. Masih inget muka saya."

"Mungkin gak kebetulan juga Kak. Soalnya kita sekarang sekantor. Dan saya gak mungkin lupa sama wajah Kak Miho."

Membayangkan apa yang akan terjadi jika aku bisa berbicara dengannya di Restoran itu. Apakah akan sama? Padahal hanya berjarak 4 hari saja. Senyuman Nao setelah mengatakan itu membuatku menyadari sesuatu.

Aku jatuh suka kepadanya.


Waktu demi waktu dihabiskan dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Perlahan aku dan Nao mulai dekat, selain karena pekerjaan kami yang bersinggungan, juga ternyata kami satu frekuensi. Kadang dia mengajakku pergi di akhir pekan, dan aku selalu mengiyakannya. Aku suka berada di dekatnya. Tapi apakah ia suka?

"Aku suka sama perempuan."

Entah apa yang ada di pikiran Nao saat berkata seperti itu. Padahal kami sedang memakan Ramen di Kedai Ramen dekat kantor. Aku terdiam.

"Yes I am coming-out to you Kak."

Apakah ini yang namanya harapan? Aku selalu mengira Nao hanya menyukai laki-laki.

"Kenapa tiba-tiba bilang gitu?"

"I don't know," Nao mengendikkan bahunya, "mungkin karena aku merasa Kak Miho adalah my safest place."

Aku kembali terdiam, mencerna my safest place yang diucapkan oleh Nao. Apakah aku boleh berharap lebih? Aku sangat menyukainya. Tapi apa ia menyukaiku? Menyukai perempuan belum tentu menyukaiku.

"Apa Kakak terganggu sama pengakuanku tadi?" Muka Nao mendadak muram, aku tidak suka Nao muram seperti ini.

"Engga kok. Aku juga suka perempuan."


Sudah enam bulan semenjak Nao bekerja di sini. Setelah pengakuan itu, kami berdua semakin dekat dan terbuka. Satu hal yang kusukai adalah Nao tidak segan melakukan kontak fisik denganku. Entah itu pelukan atau rangkulan. Atau cubitan di pipi. Paling parah adalah dia mencium pipiku ketika aku membelikan satu set komik kesukaannya. Dan coba tebak apa yang terlontar dari bibirnya yang manis itu?

"Makasih banyak Kak Miho! Cuma Kak Miho aja yang aku giniin."

Aku mungkin tidak berhak merasa geer saat ia melakukan itu kepadaku tapi rasanya hati ini ingin menaikan harapan. Apakah aku bisa menjadi lebih dari ini dengannya?


Kuputuskan untuk mewujudkan harapan itu. Iya atau tidak sama sekali.

Aku mengajak Nao untuk makan malam di Restoran Zzy. Benar, restoran pertama kali kami bertemu. Bukan bertemu juga sih, dia yang pertama mengenaliku. Nao pun setuju.

Restoran Zzy pukul 19.00

Memakai pakaian semi formal, mungkin ini penampilan terbaikku. Nao datang dengan short dress berwarna putih.

"Nao you look so good with that white dress. Cantik sekali." Tentu saja ku memujinya.

"Kakak juga cakep, beda pas aku pertama kali lihat Kakak."

"Apa bedanya sama yang pertama?"

"Rahasia." Nao menjulurkan lidahnya tanda meledekku. Aku tertawa membalas ledekkannya.

Menikmati sajian yang dihidangkan sembari melihat penampilan musik lagi. Hanya bedanya aku bersama Nao. Aku menunggu saat yang tepat, untuk mewujudkan harapan.

Saat itulah tiba

"Jika ada yang ingin menyumbangkan suaranya bisa langsung naik panggung ya!" Ujar salah satu staf di restoran itu

Dengan sigap aku bangkit menuju panggung. Mengambil gitar akustik dan menghadapi para pengunjung restoran yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tapi, Nao kebingungan. Lucu sekali muka kebingungannya itu.

"Oke Kak mau bawain lagu apa?" Staf tersebut mendadak jadi MC di panggung.

"Saya mau bawain Jatuh Suka."

"Lagu dari album Tulus yang baru itu 'kan? Kenapa gak bawain Hati-hati di Jalan aja biar galau bareng?"

"Saya yang lagi jatuh cinta ini masa bawain lagu sedih?"

Suara MC dadakan itu mendadak melengking, "Ternyata Kakaknya lagi jatuh cinta ya! Langsung mulai aja!"

MC dadakan itu kemudian turun. Aku menatap Nao dengan mukanya yang masih kebingungan.

"Saya kira saya yang pertama kali melihatnya, mengenalnya. Tapi ternyata dia duluan yang melihat dan mengenal saya. Dia juga yang pertama kali mengajak saya berbicara. Namun untuk kali ini, saya duluan yang menyatakan."

Kupetik gitarku, dan mulai bernyanyi.

Bila kau berkenan, biarkanku di sampingmu
Berkuranglah satu jiwa yang sepi
Ini semua bukan salahmu
Punya magis perekat yang sekuat itu
Dari lahir sudah begitu
Maafkan
Ini semua bukan salahmu
Punya magis perekat yang sekuat itu
Dari lahir sudah begitu
Maafkan
Aku jatuh suka
Aku jatuh suka


Aku dan Nao berada di mobilku. Diam dengan pikiran masing-masing. Apakah ideku terlalu buruk? Apakah ia membenciku?

"Maaf."

Aku memecahkan keheningan itu. Jika ia tidak menyukainya kata apalagi yang pas selain 'Maaf'?

"Jangan minta maaf."

"Kenapa?"

Nao menjawab dengan terisak, "Karena aku pun jatuh suka—atau mungkin jatuh cinta sama Kakak."

Aku memeluk Nao yang masih terisak. Ada apa dengan situasi ini? Kami saling menyukai tapi kenapa penuh derai air mata?

Tangisannya berhenti, lalu aku memberikan kotak mungil kepada Nao. Munculah kalung setelah Nao membukanya. Ia tersenyum, walaupun mukanya merah karena menangis tadi. Aku pasangkan kalung tersebut. Pas sekali. Aku bersumpah kepada Tuhan, perempuan yang berada di hadapanku ini cantik sekali.

"Nao maaf tapi you are so fucking beautiful and I love you more than everything in my life."

Dengan kilat Nao mencium bibirku. Apa-apaan dia ini? Ciuman sepersekian detik namun terasa manis.

"Thank you so much and I love you too, Kak Miho."

Notes:

Stream Jatuh Suka by Tulus.