Work Text:
Musim hujan bukanlah sesuatu yang dapat Soonyoung syukuri ketika sebagian besar orang beranggapan bahwa turunnya hujan membawakan rezeki. Soonyoung lelah berpura-pura senang ketika hujan turun, terutama ketika: 1) Ia baru saja meninggalkan pakaian yang baru saja ia gantung pada tali jemuran di loteng rumahnya, 2) Koneksi internet yang memburuk acap kali hujan turun, dan 3) Suara tetesan air mendarat tepat pada ember yang telah ia jajakkan di titik-titik biasanya, kerap menjadi pengiring di tengah kesibukannya mengerjakan paper dengan tenggat waktu yang sudah mencegatnya agar ia berhenti menghindar.
Belum lagi Soonyoung perlu menangani keluhan ibunya yang tengah menikmati video singkat dari TikTok, mulai terhambat dan terputus-putus, hingga akhirnya sang ibu merasa kesal dan meminta putranya untuk pergi mengisi pulsa.
“Bu? Ini lagi hujan. Liat tuh ke luar, hujan ‘kan? Apa kurang deres lagi tuh air bocor di kamar Ade?”
“Gak usah manja, kamu tuh laki. Keujanan, kebecekan dikit gak akan kenapa-napa. Payung ada, jas ujan ada. Sekalian tuh pas beli pulsa di warungnya si Wonwoo, minta tolong sepupunya, si Mingyu yang bisa benerin ini-itu. Nanti Ibu kasih gocap mah buat upah benerin genteng.”
Waktu yang terbuang, rasa tidak nyaman ketika perlu mengenakan sendal dan membiarkan percikan dari genangan air kotor membasahi telapak kakinya, dan terakhir Wonwoo. Hal-hal tersebut sangat mengganggu ketenangan Soonyoung di hari di mana ia berencana menyelesaikan tugas-tugasnya.
Berdiri di hadapan kios kecil milik keluarga tetangganya, yang juga merupakan sahabat karib Soonyoung sejak mereka menjalin pertemanan mulai dari 14 tahun yang lalu, tepat ketika memancing kecebong atau ajang berebut layangan masih menjadi permainan favorit kala itu. Saat itulah Soonyoung dan Wonwoo berkawan hingga dewasa ini.
Soal Wonwoo, Soonyoung enggan menemuinya hari ini karena masih tersinggung soal masalah kecil beberapa hari ke belakang, membuat mereka berhenti berbicara hingga hari ini.
Maka, dengan membeli pulsa di kiosnya, Soonyoung perlu mematahkan ego dalam dirinya perlahan-lahan.
“Nu, beli pulsa lagi.”
Orang itu tak jauh dari etalase, dapat nampak Wonwoo yang tengah berjaga di atas hamparan karpet bersama laptop di samping kanan, serta ponsel dengan game RPG yang sedang ia mainkan di tangannya.
“Yang biasa?” Tanpa menoleh pada Soonyoung, Wonwoo berdiri dan bersandar pada etalase untuk mendekat.
“Buat Ibu yang nomor XL.”
Celoteh Wonwoo memang tak sebanyak Soonyoung seperti pada umumnya. Lelaki jangkung berkacamata dengan kaos Gildan favoritnya itu menyerahkan ponsel miliknya pada Soonyoung, “Lanjutin dulu bentar.”
Soonyoung masih dalam kecanggungan mengambil alih permainannya dan membiarkan Wonwoo mengisi pulsa.
“Mingyu ada?”
“Gak tau.”
“Si Ibu minta tolong benerin genteng bocor. Kalau bisa tuh anak suruh ke rumah gue. Nanti diongkosin gocap. Kasih tau, jangan lupa.”
Nada dering atau bunyi apapun itu muncul dari ponsel candybar yang tengah Wonwoo pegang. Disusul dengan decak kesal dari lelaki penjaga kios itu.
“Kenapa? Bisa gak?”
“Udah mainin dulu itu, jangan mati, awas.”
Keduanya masih menunduk pada gawai yang mereka pegang masing-masing.
“Anjing, dibilang jangan mati!” Suaranya yang pelan, tidak menggema, dan datar itu terdengar sebagai bentakan yang cukup kasar dari yang biasa Soonyoung kenali. “Ini lagi gangguan juga, gak bisa isi pulsa.”
Melihat sikapnya, Soonyoung kembali tersulut emosi dan menghantam permukaan kaca dari etalase untuk mengambil perhatian Wonwoo dari ponsel-ponsel yang ia pegang.
“Lo tuh kesel sama gue? Harusnya gue yang marah sama lo perihal omongan lo yang gak ngenakin! Aneh, malah ikut-ikutan marah.” Soonyoung akhirnya memuntahkan kekesalannya pada Wonwoo dengan etalase yang memberi mereka jarak.
“Omongan yang mana lagi, anjir? Gue aja gak inget.”
“Ya iya, lo kalau ngomong gak pernah difilter dulu. Ngaco.” Ibu menunggu di rumah, Soonyoung malah beradu argumen dengan Wonwoo selagi hujan turun semakin deras. “Udah bisa belum pulsanya?”
“Omongan yang mana sih, Nyong?”
Pikiran Wonwoo masih berputar-putar seperti ikon buffering pada video di internet.
“Lo bilang ke gue, kalau gue ngapain naik GrabCar pas ujan-ujan karena lo mikir gue gak bakal ada duitnya, tolol.”
“Oh, itu pas gue bilang, ‘lo ngapain naik mobil? Kayak ada duitnya aja’, gitu? Ya gue minta maaf, maksud gue sayang aja gitu duit segitu bisa lo hemat, neduh bentar, abis tuh baru balik.” Jelasnya datar dan polos sambil membukakan jalan untuk Soonyoung agar bergabung ke dalam kiosnya sejak sedaritadi Soonyoung melekatkan dirinya rapat-rapat pada etalase agar tidak terkena cipratan air hujan dari luar. “Sini masuk dulu sambil neduh, gue coba isiin pulsanya lagi.”
Belum puas rasanya bagi Soonyoung ketika ganjalan dalam hatinya masih tersisa, sehingga ia menerima tawaran Wonwoo untuk masuk dan duduk di atas karpet bersamanya.
“Mau dibawain handuk gak?” Lirik Wonwoo melihat tumit hingga betis Soonyoung yang basah.
“Mau.” Jawabnya ketus.
Wonwoo masuk ke rumahnya dengan kilat, kemudian kembali dengan serbet dapur yang kondisinya tidak begitu bersih. “Adanya ini.” Wonwoo melemparkan kain itu agar Soonyoung berhenti cemberut dalam kesendiriannya.
“Ini punya Mamak lo? Gak marah dipake ngelap kaki?”
“Santai, gak akan tau kok.”
Soonyoung ingin menahan tawa, namun ia perlu bertahan untuk sejenak dan kembali dengan mode seriusnya ketika menghadapi Wonwoo. “Gue gak suka cara ngomong lo, seolah-olah merendahkan gue yang gak akan mampu pesen ojek mobil.”
Wonwoo mengerti. Terlihat dari anggukan kecil dan wajahnya yang tak banyak berekspresi, namun itulah caranya menerima teguran dari kawannya. Untuk beberapa saat, Wonwoo membiarkan Soonyoung menenangkan dirinya setelah mengeringkan kaki dengan serbet dapur hingga ia melirik kembali lelaki di sampingnya. Itulah saatnya Wonwoo angkat bicara.
“Gue bisa nyeplos begitu tuh karena gue pikir we’re in the same boat, Nyong, kecuali gue lebih tajir, punya mobil, terus kemana-mana pake mobil tanpa ngajak lo bareng. Ngomong kayak gitu, itu baru mungkin kalau niat gue lagi ngerendahin lo.” Wonwoo belum selesai, dengan tangannya yang masih berusaha melakukan percobaan ulang untuk mengisi pulsa, ia melanjutkan, “Tapi maksud gue gak sampe situ kok. Gue mah cuma berniat ngebagi cara yang sama supaya bisa ngehemat di bulan-bulan ini. Yah, tapi gue akuin cara penyampaiannya emang jelek. Gak seharusnya gue ngomong kayak gitu.”
“Lo kalau ngomong spontan, kadang lucu banget. Kadang bisa bikin orang gedek sampai pengen nonjok.”
“Ya maaf, Nyong. Namanya juga manusia. Ngomong-ngomong, sejak lo dateng kok jadi bau ya?”
“Ini lagi, baru aja minta maaf. Pengen banget gue tonjok?” Soonyoung malah terkesiap dengan ulah Wonwoo yang mengendus-endus tubuh Soonyoung dekat-dekat seperti seekor kucing yang menangkap aroma amis dengan penciuman tajamnya. Soonyoung mendorongnya, tidak tahan dengan gejolak dalam dadanya tiap kali Wonwoo mendekat seperti tadi. Yah, gejolak itu sudah sering berkunjung sejak Soonyoung menyadari sesuatu yang berbeda di bangku SMAnya.
“Hmm, ketahuan nih, bau dari mana.” Wonwoo beranjak untuk menggunting cairan pewangi pakaian dari juntaian produk yang tergantung di kiosnya. Kemudian ia berikan pada Soonyoung sebanyak 5 biji. “Bonus, supaya baju lo gak bau apek.”
Wonwoo mendapatkan sachet-sachet itu mendarat di wajahnya dengan cukup kencang, namun tak cukup kencang untuk membuatnya meringis kesakitan. Ia malah tertawa, tawanya yang bodoh dan kaku, membuat lawan bicaranya ikut tertawa seperti hal yang menular.
“Bego! Ini gara-gara setiap kali gue ngejemur baju malah hujan.”
Tring.
“Udah masuk tuh pulsanya.”
Soonyoung merogoh saku dan memberi uang padanya, “Ini bonus ya?” Ia memastikan sekali lagi ketika mengklaim pewangi yang ia dapat secara cuma-cuma.
Wonwoo mengangguk yakin sembari mempersilakan Soonyoung pergi. Sambil melihat Soonyoung berjalan keluar, membuka kembali payungnya, ia masih berdiri untuk menemani Soonyoung.
“Nyong, beneran. Gue minta maaf ya.”
Nadanya melembut, tenang. Raut wajah Soonyoung pun tak lagi penuh dengan warna suram.
“Gue juga minta maaf, Nu, karena udah kekanakan kayak gitu.”
“Bukan salah lo, Nyong. Salah gue.”
Keduanya terkekeh lagi sembari melemparkan tatapan yang berarti bagai sebuah segel. Bahwa hubungan mereka akan tetap baik-baik saja.
“Kalau si Mingyu gak bisa. Gue aja yang ke rumah nanti.”
“Emangnya lo bisa?”
“Demi duit gocap mah, bisa, Nyong.”
Soonyoung berjalan menjauh dan berteriak, “Yaudah gue tunggu! Kalau beneran bisa gue tambahin dulu lobang bocornya!”
Wonwoo tersenyum dan tak menghiraukan lagi karakternya yang mati di permainan dalam ponselnya tadi. Hati kecilnya ikut berdenyut, sedikit perih ketika sadar bahwa ucapannya tempo lalu telah melukai perasaan Soonyoung.
Padahal yang gue maksud hari itu, lo neduh dulu aja sama gue, pulang bareng gue, temenin gue. Jangan pulang sendirian.
Entah apa yang merasuki Wonwoo sejak hari itu, ia mulai bercita-cita berdagang lebih giat lagi supaya mampu mencicil mobil yang paling tidak, target angkanya tidak terlalu memberatkan.
“Ngapain lo?”
Soonyoung berkacak pinggang ketika Wonwoo otomatis merebahkan dirinya di atas kasur Soonyoung setelah berkontribusi dalam memperbaiki genteng yang bocor, tentu dalam keadaan bersih.
Wonwoo tak merespon dan hanya berkutat pada ponselnya yang ia pegang dengan posisi horizontal.
“Gak balik lo?”
“Ngusir gue?” Barulah ia menoleh. Soonyoung kemudian duduk di sampingnya dengan laptop di pangkuan.
“Ya enggak, sih. Kalo gak balik temenin gue nugas aja.” Sekali lagi, Soonyoung memastikan Wonwoo yang enggan beralih dari gamenya. “Tugas lo gimana?”
“Nanti subuh gue lanjut.”
“Gila.”
Soonyoung sibuk mengetik kata demi kata dengan kedua telunjuk yang ia punya, berbeda dengan jari jemari Wonwoo yang selalu lihai dengan perangkat keras, teknologi terbaru, atau gawai tercanggih.
“Mau gue ketikin kagak?”
“Lo beneran nawarin buat gue? Gue jadi baper njir!”
“Gak tahan, dengerin ketikan lo lemot banget. Sini gue aja yang bantu ketikin.”
“Bangsat.”
Keduanya bagai dua kutub yang berlawanan. Seperti pagi dan malam, kadang pula seperti air dan api. Dan siapapun tahu masing-masing peran mereka.
Oh, si Wonwoo? Anak yang kurus jangkung kacamataan, yang sekarang jaga warung itu kan? Dulu mah tingginya cuma segede gini, sepinggang saya, masih kecil suka lari-larian sama si Soonyoung. Sobatan si Soonyoung banget dia nih. Dulu kan Wonwoo masuk ke got gara-gara rebutan layangan sama si Soonyoung. Berantem lah mereka. Tapi sampai sekarang awet betul itu berdua, gak bisa dipisahin.
Itu menurut salah satu tetangganya yang fasih tentang seluk-beluk latar belakang warga di daerah mereka.
“Itu lo yang mulai!”
“Ya namanya anak kecil, Nyong.”
“Lo ngerebut layangan yang gue tangkep, padahal gue udah lari sama ngecup duluan.”
“Ya maap, jangan diambil ke hati napa? Kan itu udah bertahun-tahun yang lalu.”
Namun ada pula tanggapan warga lain soal pertemanan mereka yang kadang kala mengharukan.
Siang-siang gitu, ba’da dzuhur, saya pernah liat Soonyoung nyamperin si Wonwoo. Dia tungguin orangnya keluar tuh lama banget, sampai saya tanya ke dia ada apa. Katanya Wonwoo lagi ngambek, terus Soonyoung cuma nungguin depan rumah sambil mainin batu, bikin rumah-rumahan pake daun yang dia pungutin di halaman rumah Wonwoo. Habis itu saya kasih tau lah sama Ceu Jeon, itu anakmu ditungguin anak Ceu Kwon, saya bilang begitu. Soonyoung langsung salam sama Ceu Jeon sambil nitipin maafnya dia ke Wonwoo, terus dia juga nangis. Saya sebagai orang tua, agak terharu. Anak saya mah, si Jihoon mana berani kayak gitu.
“Tau gak sih, si Jihoon,” Daripada berdiam diri menunggu Wonwoo mengetik salinan rangkuman untuknya, ia memulai pembicaraan lain. “Dia katanya mau dilamar sama anak lurah. Anaknya Pak Choi yang baru lolos CPNS itu.”
Wonwoo membelalakkan matanya, “Jihoon? Dilamar?”
“Hu’uh. Gue dikasih tau Ibu. Katanya cuma Ibu sama Ibunya Junhui yang dikabarin. Soalnya Jihoon belum ngasih jawaban. Katanya.”
“Buset.” Wonwoo sedikit terkejut mendengar kabar tentang salah satu teman sepantaran mereka yang cukup dekat sejak menduduki bangku SMP. “Sejak kapan tuh mereka ada hubungan? Gue jadi penasaran.”
“Nah itu dia. Gue penasaran reaksi dia, padahal anaknya diajak ini itu ogahan, di rumah mulu. Dulu juga pelit kagak pernah ngasih liat PR-nya.”
“Dongo, yaiyalah mintain PR. Mana mau si Jihoon ngasih secara cuma-cuma ke lo.” Wonwoo kemudian mengembalikan laptop ke pangkuan pemiliknya. “Tuh udah, cek lagi aja takut ada yang salah. Tapi, harusnya sih akurat soalnya gue jago.”
Soonyoung masih tersenyum persis seperti yang Wonwoo kenali ketika pertama berkenalan dengannya. Ketika Soonyoung menawarkan pasta coklat ketika siang bolong di hari mereka berpuasa menahan lapar dan dahaga, senyum jahil, pipi yang menggembung lengkap dengan sekeliling mulutnya yang belepotan karena coklat yang ia miliki.
“Lo sempet tertarik nyari pasangan gitu gak sih, Nu?”
Kini, keduanya beristirahat di atas kasur sambil mendengarkan radio. Bersamaan dengan udara dingin pasca hujan yang menyelinap masuk melalui ventilasi berkawat kasa ke dalam kamarnya.
“Atau jangan-jangan lo nunggu ada yang ngelamar lo kayak Bang Seungcheol ke Jihoon gitu?”
“Gue sih milih nyamperin duluan, daripada disamperin.”
Soonyoung mengangguk, membulatkan mulutnya. “Gue baru tau kalau lo tipe orang yang begitu.”
“Kalau lo mah maunya disamperin, kan?”
“Idih, kata siapa? Gue siap ngajak dan siap diajak. Fleksibel gue tuh, gak kayak lo yang kaku kayak kanebo kering.”
Wonwoo terkekeh, “Orangnya ada yang mau gak? Itu masalahnya.”
“Ngaca, nyet.”
.
.
Gue kan beda kampus nih sama sepupu gue si Bang Nu. Otomatis lingkungan pergaulan kita juga beda dong? Nah, sekali-kali tuh waktu nongkrong di ruang rapat RT gue tawarin amer pas tinggal anak-anak mudanya aja. Iya amer. Maklum, namanya anak baru masuk kuliah, masih ingin coba ini-itu. Gue tau kalau Bang Nu ini gak ngerokok atau minum. Jadi gue cuma nawarin ke Bang Nyong sama si Minghao. Gak lama, Bang Nu nyeret Bang Nyong ke luar. Gue nguping, Bang Nu tuh nasehatin Bang Nyong supaya gak kegoda. Nasehatinnya cuma sebentar, kesananya mereka malah curhatin masalah hidup. Sejak hari itu, gue sadar kalau Bang Nu ini orangnya perhatian dan bijak banget. Sayangnya dia kayak gitu cuma terjadi di depan Soonyoung. Kalau ke gue mah. Boro-boro.
Wonwoo menyadari bahwa Soonyoung cukup kewalahan dengan tugasnya hari ini. Kesadarannya pun melemah hingga ia tertidur pulas di sampingnya dengan posisi senyaman-nyamannya.
Wonwoo pun beranjak untuk mematikan lampu, menutup jendela serta tirainya. Tak lupa menyelimuti Soonyoung dengan selimut bermotif klub bola yang tidak Soonyoung sukai. Kisahnya, ibu Soonyoung berpikir bahwa anak lelakinya itu menyukai sepak bola dan dengan bangga diberikannya selimut bermotif logo klub Manchester United kepada Soonyoung. Dengan wajah horror serta teriakan frustrasinya, ia mengadu pada Wonwoo ketika ia menerima selimut itu dan membiarkan hari-harinya dihantui oleh klub bola yang merupakan rival dari klub favoritnya.
Soonyoung membuka mata dengan setengah kesadarannya. “Balik?”
“Iya, ini mau balik.” Wonwoo masih memastikan bahwa tubuh Soonyoung terselimuti dengan baik. “I-ini gue selimutin supaya lo gak masuk angin.” Jelasnya, bahkan tanpa Soonyoung minta. Sang pemilik kamar tidak lagi merespon membuat Wonwoo berspekulasi bahwa Soonyoung telah jatuh lebih lelap ke alam mimpi.
Lelaki lainnya berlalu dari kamar, kemudian segera berpamitan dengan ibunda dari sahabatnya. Sesuai janji, ibu Soonyoung memberikan uang jajan atas bantuannya tadi.
“Gak usah, Bu. Udah, gak apa-apa.”
“Eh, kan udah janji, ke Soonyoung juga udah bilang.”
“Gak apa-apa Bu, beneran. Belanjain aja ke warung Onu buat nanti.” Wonwoo bersalaman selayaknya anak kepada orang tuanya.
Sementara kenyataannya Soonyoung masih dengan kesadarannya yang separuh, dikelilingi dengan perasaan yang mendebarkan. Lagi-lagi perasaan itu.
Setiap kali Wonwoo datang memberi perhatiannya, kekhawatirannya, hingga banyak perhatian lain yang menjalar baik kepada orang tuanya, kakak perempuannya, hingga peralatan elektronik miliknya yang juga Wonwoo perhatikan supaya berfungsi dengan awet dan tahan lama—semua hal itu selalu menggugah hati Soonyoung.
Gue bohong. Sebetulnya gue lebih suka diajak duluan daripada mengajak. Mungkin kalau orangnya mau, kalau lo mau, gue udah ngomong saat itu juga. Kalau gue mau sama lo.
Sayangnya gue gak berani.
Episode lain dari keseharian mereka, kadang dipenuhi dengan guyonan hanya-mereka-yang-mengerti, cerita tentang orang-orang disekitar mereka, keluhan hidup, hingga angan-angan yang mereka miliki.
“Kata Mamak lo pengen beli mobil?”
“Nyong, gue tuh cuma nyeplos ke Mama. Diaminkan lebih bagus, cuma masalahnya bokap nyokap malah nganggap serius, ngomongin tanah di kampung mau dijual lah. Padahal gak urgent banget.”
“Wuih, asik dong kalau gitu. Gue bisa nebeng naik mobil nanti.” “Mobil apa sih?” “Sini gue bantu cariin di fjb-fjb gitu.”
Setelah surfing melalui ponsel Wonwoo, keduanya berkalkulasi. Bedanya, Wonwoo berhitung lebih cepat dan Soonyoung menyerah di tengah jalan.
“Gue harus punya gaji paling enggak sepuluh juta per bulan buat nyisihin tabungan. Dunia mana yang ada freshgraduate dari kampus grade C kayak kita sekarang bisa dapet gaji segitu?” Wonwoo lantas tertawa miris dan Soonyoung hanya ikut terbawa suasana dengan tetap menjaga perasaan kawannya. “Karena ini nih, Mama sampai ngomong mau jual tanah. Gak tega gue, Nyong. Tau gitu kagak usah bilang-bilang.”
Soonyoung bergerak membelakanginya hanya untuk bersandar pada punggung Wonwoo sambil menyaksikan layangan yang berpacu dari rukun warga sekitar. “Lo bisa dapet segitu buat ukuran freshgraduate, kalau bikin bisnis kuliner. Gak ada yang gak mungkin tau, Nu.”
“Modalnya dari untung ngewarung, gitu?”
“Selama bisa diolah? Kecuali kalau memang kagak bisa.”
“Bisa sih, tapi gak sekarang. Kan gue tinggal sama keluarga besar. Hasil warung juga buat keperluan sehari-hari, kadang juga ngebantu keluarga Tante. Gitu lah, Nyong. Lo juga tau sendiri. Plus plos.”
“Dulu gue pikir, enak ya tinggal bareng anak-anaknya Om Tante, bisa kenal deket sama sepupu-sepupu lo. Setelah dewasa baru lah keliatan ga enaknya di mana.”
“Ya, begitulah.” Wonwoo sering kali mendapatkan situasi yang membuatnya mengalah lebih dulu. Sebagai kakak pertama dari saudara kandungnya, cucu pertama, sepupu tertua di keluarganya, Wonwoo sudah terbiasa mengalah untuk keluarganya yang lebih muda.
Wonwoo dipercaya untuk menjadi lebih dewasa sedini mungkin, bahkan saat usianya masih belia. Walaupun begitu, sikap kekanakannya lebih sering tampak di depan sahabatnya. Ya, itulah salah satu dari sekian alasan mengapa Wonwoo teramat nyaman belasan tahun menjalin hubungan pertemanan dengan Soonyoung.
Di suatu saat, Wonwoo berpapasan dengan Jihoon dan menepi di sebuah gazebo bersama di lingkungan warga. Wonwoo pun tak pikir panjang untuk menanyakan kabar yang sedang hangat-hangatnya itu.
“Emak-emak emang hobi gosip ye.” Jihoon mulai menyalakan gulungan kertas berisi tembakau yang telah ia jepit dengan bibirnya. “Kagak mau nyoba lu?”
“Udah gue bilang gue gak mau, Ji.” Jihoon hanya mengangguk dingin sambil membuang muka tapi Wonwoo masih banyak pertanyaan dalam kepalanya, “Terus lo terima gak?”
“Ya gue terima lah. Cuma gue belum bilang ke emak gue.”
“Sejak kapan lo deket sama Bang Seungcheol?”
Jihoon mengernyitkan dahinya, “Sejak gue memutuskan untuk menyerah?”
Menyerah, Jihoon bilang.
“Lu bisa leluasa sekarang, gak usah mikirin gue.” Lanjutnya.
Satu hal penting yang perlu diketahui adalah, Wonwoo juga pernah mengalah pada salah satu kerabatnya, Jihoon. Tentu percakapan itu ada kaitannya dengan Soonyoung.
“Gue juga tau kok Nu, kalau alasan lo sampai sekarang jomblo terus itu karena Soonyoung.”
Ucapan Jihoon dahulu kala itu masih terngiang-ngiang. Rasanya rahasia terbesar Wonwoo telah terekspos oleh seseorang mungkin dapat dikatakan cukup pintar dan cermat dalam mengamati Wonwoo yang sudah susah payah menyembunyikan perasaannya.
“Gue tau, karena gue juga maunya sama Soonyoung.”
Potensi persaingan kala itu membuat Wonwoo mundur dan memilih untuk bergerak sunyi senyap dengan langkah pendekatannya pada Soonyoung. Alasan yang klise, bahwa Wonwoo hanya ingin menjaga pertemanan antara dirinya, Soonyoung, dan juga Jihoon.
Kini, Jihoon melontarkan kalimat menyerah adalah sesuatu yang cukup menggugah kembali semangat yang pernah hidup pada Wonwoo.
“Kok bisa nyerah?”
“Ya iya lah! Lu mah gak pernah ya, ngerasa jiper setelah ditolak?”
Tunggu. Ditolak?
Wonwoo kembali menunjukkan wajah penasaran bercampur bingung dari maksud perkataan Jihoon.
“Pasti nih si Soonyoung kagak cerita apa-apa sama lu. Gue pikir lu pasti udah tau, ternyata enggak ya?”
Ditolak.
Ditolak.
Ditolak!
Wonwoo tak berhenti membayangkan Soonyoung, lagi dan lagi. Entah antara sebuah emosi yang memuncak atau perasaan lega ketika mengutip perkataan Jihoon kemudian mentranslansikannya, bagaimana Jihoon pernah menyatakan perasaannya pada Soonyoung—atau mengajaknya berkencan—atau bahkan mengajaknya lebih dari sekedar berkencan?
Ditengah perasaan tadi, Wonwoo juga memiliki rasa tercurangi sebab ialah satu-satunya yang tak mengetahui kejadian ini.
“Si Jum tau kok padahal.”
Betul, hanya Wonwoo seorang yang tak tahu akan fakta ini.
Soonyoung kembali mendatangi warung sebagai alasan untuk mengonfrontasi Wonwoo dalam suasana canggung untuk kesekian kalinya.
Nihil tentunya, Soonyoung malah menemukan sepupunya yang masih duduk di bangku SMP untuk berjaga.
“Dek, si Wonwoo mana?”
“Lagi ke rumah Bang Jum. Gak tau masih di sana apa enggak, soalnya udah agak lama.”
Jum, alias Junhui. Soonyoung segera tergerak untuk melangkahkan kakinya ke rumah teman yang satu itu.
“Loh, Bang Nyong. Kagak jadi beli?”
“Kagak.”
Ketika Soonyoung sampai di depan pagar rumah Junhui tanpa memakan waktu yang lama, ia bisa memantau sendal Eiger milik Wonwoo ada di depan pintunya. Kemudian, ia hanya mengandalkan suaranya sendiri untuk memanggil Junhui ketika ponselnya sengaja tak ia bawa hari itu.
“Eh Nyong. Sini masuk. Ada Wonwoo juga di dalem, lagi bantuin gue input data.”
“Mau.” Soonyoung malu-malu memasuki kediaman Junhui dan mengekori penghuni rumah yang mengantarnya masuk ke dalam kamar. Tentunya, Wonwoo ada di sana, tanpa memberi sepatah kata untuk menyapanya. Yah, walaupun hal tersebut sudah biasa terjadi, namun kali ini Soonyoung paham betul sikap dan perlakuan ‘dingin’ yang ia tunjukkan berbeda dari biasanya.
Soonyoung duduk di samping Wonwoo yang sibuk berkutat dengan laptopnya dan laptop milik Junhui secara bersamaan. Untuk menekankan presensinya hadir saat itu, Soonyoung berdeham supaya satunya menoleh, menjawab, menyapanya atau apapun itu.
“Nyong, ngopi kagak?” Tanya Junhui dari ambang pintu menggagalkan upaya Soonyoung untuk mengambil perhatian kawannya.
“Kagak Jum, belum makan, nanti maag gue kambuh.”
“Yaudah, mau apa atuh?”
“Mie rebus boleh gak?” Cengir jahilnya membuat Junhui berdecak, permintaan Soonyoung yang kadang membutuhkan effort lebih itu sudah jadi hal lumrah diantara mereka. Semalas apapun Junhui, ia tetap memasak untuknya yang merupakan prinsip keluarga Wen bahwa tamu perlu dijamu.
“Pake telor?”
“Pake, kalau ada sawi boleh juga.”
“Serah.”
Kembali pada sepasang sahabat yang lagi-lagi sedang berada dalam masa tak akur itu, Soonyoung menyadari Wonwoo tengah menatapnya dalam diam.
Soonyoung mencoba menerka-nerka sebelum ia memborbardir lelaki dihadapannya dengan banyak pertanyaan. Tapi, Wonwoo mulai lebih dulu dan melemaskan keberanian Soonyoung untuk mengonfrontasi lebih awal.
“Kok belum makan?”
Soonyoung sedikit gagap untuk merespon pertanyaan yang satu itu. Sungguh, beberapa waktu sebelumnya Wonwoo hendak mengabaikan kerabatnya itu dan tak lama, ia malah menaruh perhatian yang entah mengapa berakhir membolak-balikkan hati Soonyoung seenaknya.
“Udah gitu makan mie lagi, mie lagi.”
“Ya terus lo mau ngasih makan gue? Ngasih Nasi Padang atau makan Lamongan gitu? Mau emang?“
“Ya … kalau lo kosong malem ini, ayo.” Wonwoo selalu begitu, berucap tanpa menatap lawan bicaranya dan lebih memilih untuk fokus pada hal lain di depan matanya. Menurut Soonyoung, hal itu sangatlah menyebalkan dan atraktif di satu waktu yang sama.
“Tapi gue kan udah minta dibuatin mie ke Ijum.”
Soonyoung hanya memanyunkan bibirnya dalam suasana yang canggung di antara mereka.
“Setelah nge-mie juga lo bakal kelaperan kayak belum makan 3 hari.”
Kali ini, Wonwoo mulai meliriknya baik-baik dan memberi jeda dari apa yang ia kerjakan. “Mau gak? Sekalian ada yang mau gue omongin.”
Soonyoung gagap lagi. Ia salah tingkah dengan sikap Wonwoo yang bisa seketika menjadi wahana adrenalin yang menggoncang debaran di dadanya.
“Y-ya mau!” Soonyoung mendengus membuat Wonwoo (akhirnya) terkekeh. “Mau ngomongin apa sih lo? Rahasia-rahasiaan begini ya sekarang?”
“Ya ada lah. Nanti aja, jangan sekarang.” Sikapnya mulai acuh tak acuh kembali. Soonyoung beraksi dengan menutup layar laptop di hadapan pemuda berkacamata itu.
“Lo tuh hari ini kenapa sih, Nu? Heran, senengnya bikin gue sepor jantung!”
“Masa iya?” Polosnya Wonwoo hanya melemparkan tatapan datarnya dalam jarak yang lagi-lagi amat tipis dengan Soonyoung yang masih memberengut.
“Siapa yang bikin jantungan?” Junhui tak lama datang membawa mie rebus panas dengan asap mengepul, memotong pembicaraan Wonwoo dan Soonyoung yang mulai cair. “Ada kah yang bikin Soonyoung jantungan? Kamu lagi jatuh cinta kah, Nyong?“
Kedua pemuda tadi segera memperbaiki posisi duduknya. Kemudian Soonyoung tak sabar menggapai mangkok berlukiskan ayam jago dan menggulung-gulung mie dengan garpunya. “Gak jelas lo, Jum! Gue makan ya—aduh, aw!”
“Masih sepanas jahanam lo main suap aja sih, Nyong.” Junhui menggeleng dan kembali pada kesibukannya bersama Wonwoo sebelum Soonyoung menyambar kamarnya.
Wonwoo hanya mencuri pandangan melalui pantulan layar laptopnya untuk memandangi Soonyoung yang sibuk melahap mie panas dengan pipi menggembung.
Senyuman tersungging secepat kilat pada wajah Wonwoo dan segera ia sembunyikan kegirangan dalam hatinya.
“Jadi gak nih ngomongnya?”
Soonyoung menagih janji di hadapan lauk-lauk dan lalapan, penjual makanan kaki lima, serta Jihoon dan Junhui yang tak disangka-sangka akan bertemu untuk makan malam di sana.
Wonwoo mengernyit dan berbisik, “Nanti aja deh ya? Gak di sini.”
Soonyoung awalnya ingin mengutuk, tapi sadar akan atmosfir yang tidak kondusif—juga seharusnya Soonyoung sadar diri karena Wonwoo yang membayar pecel lele pesanannya.
“Oke deh. Hehe.”
Lagi-lagi, Soonyoung tersenyum seperti pipinya akan meledak. Matanya menyipit dan hidungnya mengernyit. Selain cukup gembil, makanan yang masih ia kunyah membuat senyumannya terlihat lebih merekah. Sehingga Wonwoo merasa raganya terangkat ke langit akibat pemandangan itu.
“Nu mau sambelnya,”
“Nu,”
“Woi Jeon Wonwoo!” Jihoon menyentaknya dengan menyorotkan mata yang tajam. “Kuping lo bersihin napa.”
Wadah sambal di hadapan Wonwoo pun Soonyoung oper ke tempat di mana Jihoon duduk dengan terkekeh.
“Gak kedengeran Ji, berisik tuh tadi suara knalpot brong.”
“Ck, mulut lo knalpot brong.”
Soonyoung dan Wonwoo berakhir berduaan di jalanan menuju rumah mereka masing-masing. Untungnya Junhui dan Jihoon berpisah dengan motor untuk segera kembali.
Dengan menenteng makanan titipan Mingyu, Wonwoo memperlambat ritme langkah. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mempertahankan waktunya bersama Soonyoung.
“Nyong, kok lo gak bilang sih?”
“Mulai nih. Pasti mau ngomongin ini kan tadi?”
“Iya lah. Gak enak tadi ada Jum sama Ji,” Wonwoo menarik tangan Soonyoung ke bangku beton di tepian lapangan voli daerah mereka. “Sambil duduk.”
“Ih, gak apa-apa tuh Mingyu ntar nungguin?”
“Gak apa-apa, kalem aja.”
“Yaudah—Bilangin soal apa tadi?”
Wonwoo menelan ludah, melancarkan tenggorokannya sebelum berbicara lagi. “Soal Jihoon pernah nembak sampai lo nolak dia.”
Soonyoung ataupun Wonwoo sama-sama sadar kalau wajah mereka memanas seketika topik itu terangkat. Respon berikutnya yaitu Soonyoung menundukkan kepalanya.
“Udah tau ya lo.” “Maaf ya gak bilang-bilang.” “Lo marah ya sama gue?”
“Eh—Gak gitu Nyong. Gue cuma pengen nanya aja soal itu. Gue gak marah kok.”
“Tapi, lo kayak sempet bete gue liat.”
Terlalu keliatan jelas, pikir Wonwoo. “Ya sekarang kan enggak. Tadinya cuma kaget aja gue gak tau hal penting dari idup lo.”
“Gak penting kok.”
Soonyoung kembali melirik Wonwoo dengan wajahnya yang agak kelimpungan. “Gak penting. Soalnya gue gak mau jadi gimana-gimana kalau sama Jihoon. Dia kan temen. Kalau nanti berubah, gimana?”
“Maunya jadi temen aja?”
“Bakalan jadi temen gue, sampai kapanpun.”
Wonwoo mulai merasakan dadanya memanas dan di waktu yang bersamaan, kulitnya terasa amat dingin. Temen doang ya?
“Kalau bukan temen lo, ada kemungkinan Jihoon lo terima gak?”
“Gak tau juga.”
“Terus lo maunya sama siapa kalau gitu?”
Soonyoung memerah.
“Apaan sih? Ya gak tau lah.” Ia beranjak dari duduk dengan tergesa-gesa. “Lo buruan pulang gih daripada nanyain gue soal ginian. Makanannya keburu dingin.”
“Nyong,” Wonwoo ikut berdiri dan menjangkau sahabatnya. “Menurut lo, kita bakalan temenan terus atau enggak?”
Sejujurnya, Wonwoo menyesal setengah mati karena membuat suasana di antara mereka canggung lagi dan lagi. Tapi ia tahu kalau Soonyoung akan berusaha menjawabnya jika kondisinya Wonwoo berdiri di depannya, menyorotinya dengan tatapan yang serius.
Soonyoung hanya bisa memalingkan pandangannya, “Yang pasti gue bakal sama lo terus. Lebih lama dari Jum atau Jihoon.”
Intinya, temenan atau enggak?
“Udah yuk, takut Ibu nyariin.”
Soonyoung melangkah lebih dulu meninggalkan Wonwoo dengan banyak tanda tanya. Hari-hari berikutnya, Wonwoo merasa lebih pesimis tentang perasaan berlebihnya kepada Soonyoung, tampaknya tidak mungkin kalau memenangkan hatinya dengan titel sahabat yang tak bisa lepas dari dirinya.
Tidak banyak yang terjadi selain orang-orang semakin sibuk dengan dunianya hingga hari kelulusan tiba. Betapa beruntungnya Wonwoo dan Soonyoung dapat merayakan wisuda di hari yang sama. Goals pertemanan yang didambakan banyak orang bukan?
Tidak banyak yang mereka lakukan sejak teman-temannya berkumpul dan memperkecil kesempatan untuk keduanya memiliki waktu.
Kecuali ketika tengah malam tiba, tersisa Wonwoo dan Soonyoung yang masih terjaga di antara kawan-kawannya yang sudah terlelap.
Tanpa banyak bicara, keduanya otomatis mendekat dan duduk di teras rumah.
“Eh sebentar.”
Soonyoung masuk sejenak dan kembali membawa selimutnya. Mengenakannya untuk berdua.
“Kalo masuk angin nanti repot.”
Wonwoo memperbaiki kacamata dan membiarkan Soonyoung menutupi tubuh mereka bersamaan.
“Congrats ya, bro.”
“Sama-sama.”
“Seneng gak?”
“Karena udah kelar? Seneng lah. Gak ada beban lagi. Tapi jadi takut soalnya gak tau mau kerja di mana.”
Wonwoo mengangguk atas jawaban Soonyoung tadi.
“Sama gue juga.”
Keduanya terkekeh dan berlanjut membicarakan apa yang mereka tahu soal teman-teman, keluarga, atau dunia. Waktu-waktu berharga itu selalu keduanya nikmati setelah persahabatan yang mereka jalin sejak kecil.
“Lo ngantuk?”
“Belum. Tadi ngopi sih, cuma badan capek aja.”
Wonwoo menepukkan bahunya, “Sini.”
Yang dimaksud Wonwoo ialah mempersilakan Soonyoung untuk bersandar di bahunya. Sudah berkali-kali mereka menghabiskan waktu berdua sampai tidur bersama, tawaran Wonwoo tadi tetap saja membuat Soonyoung gugup. Apa faktor cuaca? Jam-jam yang sentimental? Atau nada bicara Wonwoo yang terlampau lembut dari biasanya?
Soonyoung hanya bisa bersandar dengan leher yang tegang, Wonwoo jelas bisa merasakannya. Ia juga sama gugupnya. Namun, Wonwoo masih punya keinginan untuk membuat Soonyoung nyaman di sisinya.
“Kayak di film-film ye.”
“Apaan?”
“Sandaran kayak gini.”
“Haha.”
Keduanya masih melanjutkan beberapa obrolan sebelumnya hingga keduanya kembali kehabisan topik akibat posisi yang membuat mereka sama-sama malu.
Kadang kala, pikiran dan hati miskomunikasi. Konflik pada penyampaian pikiran ke hati membuat manusia melakukan tindakan-tindakan ceroboh. Yang tadinya Wonwoo hendak merangkul Soonyoung agar sahabatnya bisa lebih rileks,
Wonwoo malah mengecupkan bibirnya pada puncak kepala Soonyoung.
Butuh beberapa waktu untuk keduanya kembali ke alam sadar. Akhirnya momen itu tak berlangsung lama dan keduanya segera duduk tegap seperti sebelumnya.
Debaran dada berlomba-lomba hingga pikiran mereka kacau untuk mengucapkan satu patah kata pun.
Untuk sesaat, tak ada satu pun yang berbicara ataupu bergerak dari tempat itu.
Pilihan Wonwoo hanya dua, lari atau terlanjur basah—alias mengakui perlakuannya tadi.
“Maaf ya.”
Ucapan maaf adalah satu-satunya yang terlontar dari seorang Jeon Wonwoo yang kini memijat dahinya.
“Kenapa maaf?”
Wonwoo cuma diam.
“Jadi itu kesalahan, gitu, Nu?”
“Seharusnya temen kan gak gitu.” Jawab Wonwoo. Soonyoung menggigit bibirnya. Ia hanya tertawa kaku.
“Iya, bener juga.”
Wonwoo berdiri lebih dulu, kepalanya menoleh kesana kemari dengan kikuk. “Gue tidur duluan ya.”
“Iya.”
Hari di mana Jihoon mengutarakan perasaannya pada Soonyoung, bukanlah hari yang mudah baginya.
Rasa mengejutkan seperti hantaran listrik di sekujur tubuhnya adalah sensasi yang ia dapatkan ketika mendengar sebuah kata cinta. Perasaan. Pengakuan. Permintaan.
Awalnya, Soonyoung selalu memegang teguh prinsip bahwa sepasang teman akan bertahan lama jika jauh dari terlibatnya asmara di antara mereka.
“Jihoon, gue gak bisa pacarin temen sendiri.”
Itulah jawabnya.
“Soalnya gue gak siap kalau kehilangan temen gue untuk jadi sosok yang lain.”
Halusnya, Soonyoung menolak Jihoon. Walaupun pernyataannya terdengar kokoh, kini ia kembali mempertanyakan prinsipnya setelah berhari-hari berlalu, ketika pikirannya masih terpaku dengan perlakuan Wonwoo.
Gue udah cukup dewasa untuk menerjemahkan aksi dia malem itu. Apa artinya dia punya potensi ngeliat gue lebih dari temen?
Kayak Jihoon ke gue?
Pikiran Soonyoung terpecah belah dengan informasi bahwa Wonwoo mulai bergerak untuk bersiap melamar pekerjaan. Bertolak dengan pernyataannya malam itu.
Rasa takut akan tertinggal mulai menyumbang kegelisahan bagi Soonyoung. Ia ragu tak ragu untuk menyiapkan dirinya mencari pekerjaan. Berkutat dengan pertanyaan, sebetulnya apa yang dia mau? Apa yang mau Soonyoung lakukan setelahnya? Mau jadi apa?
Kegelisahan seperti ini biasanya ia bagi bersama Wonwoo.
Tapi akhir-akhir ini, Wonwoo tampak semakin jauh. Soonyoung pun begitu, di mata Wonwoo.
Keduanya masih saling berbicara, namun atmosfir canggung yang luar biasa berbeda dengan biasanya itu menghambat sepasang kerabat untuk berkeluh kesah sebagaimana biasanya.
“Mau kemana?”
“Tambal ban doang, lo?”
“Ke warteg, titipan si Ibu.”
“Yaudah, hati-hati.”
“Lo yang tiati.”
Beberapa kalimat cukup meramaikan pertemuan mereka pada saat berpapasan di perempatan jalan itu. Wonwoo membawa motornya tanpa menggunakan helm, Soonyoung dengan sendal capitnya.
Cukup dengan begitu, mereka masih bisa mempertahankan hubungan di tengah momen besar walaupun hanya komunikasi seadanya.
Tentang malam itu, belum pernah mereka bicarakan lagi. Soal sikap Wonwoo dan mengapa Soonyoung tampak kecewa.
“Gue mau nanya dong, Nyong.”
“Napa, Jum? Jangan tiba-tiba serius dong, bukan lo banget. Jadi takut.”
“Eh sialan, padahal gue cuma mau nanya. Gue masih penasaran kenapa lo nolak Jihoon. Tuh anaknya siap-siap mau dinikahin orang.”
Alasan pertama tentu sudah dijelaskan. Tapi setelah prinsipnya goyah akhir-akhir ini, mungkin alasan yang paling tepat adalah,
“Gue gak ada rasa ke Jihoon sejauh itu.”
Dan mungkin, orang yang gue mau bukan dia.
Mungkin prinsipnya bisa menambahkan pengecualian untuk satu nama tertentu. Walaupun hatinya pun memiliki keraguan besar, bahwa: Wonwoo berprinsip yang sama.
Wonwoo membawa kabar baru setelah bulan-bulan berlalu, ia menghampiri Soonyoung di depan rumahnya.
“Gue keterima kerja.”
Dengan catatan, hubungan pertemanan mereka masih stagnan tanpa membicarakan hal-hal yang sensitif.
“Oh, iya. Selamat.” Ucapan selamat yang seadanya dari Soonyoung yang sibuk menundukkan kepala.
“Nyong—“
“Iya. Selamat buat lo. Start baru, lingkungan baru, orang-orang baru, mulai lagi dari awal. Semangat.” Jelasnya terdengar sedikit ketus dengan wajah yang rautnya tak dapat teridentifikasi. Wonwoo tak paham dengan sikapnya, Sooyoung pun sama.
“Lo marah … sama gue?”
“Buat apa gue marah?” Soonyoung mengunci pandangan pada ibundanya yang berjalan menenteng plastik berisi air kelapa menuju pintu rumahnya. Hingga ibunya sampai, Soonyoung masih terlihat murung dan acuh tak acuh pada sahabatnya di depan muka.
“Ade kenapa Wonwoo gak disuruh masuk? Anaknya baru keterima kerja loh ini. Sini Nu, masuk.” Ibunya menyapa ramah hanya kepada Wonwoo sambil masuk ke dalam rumahnya. Dengan jarak yang tidak begitu jauh, suara ibunya masih terdengar. “Wonwoo tuh lulus barengan. Kok gak bisa dapet kerja barengan? Kapan kamu mau ngelamar kerja lagi? Rebahan mulu.”
Wonwoo sedikitnya mengerti perasaan Soonyoung saat itu. Ia pun menolak tawaran dengan halus dan berusaha pergi bersama Soonyoung untuk menghindarinya menangkap ucapan-ucapan yang kurang menyenangkan dari sang ibunda.
"Apa sih, pegang-pegang tangan?" Wonwoo menyeretnya keluar pagar dan berjalan kaki di sekitaran rumah mereka.
"Ya jalan bentar, gak di depan rumah kayak gini ngobrolnya. Gak enak."
Soonyoung menahan langkah, "Emang apa yang perlu diobrolin? Ngobrolin hidup gue yang gini-gini aja? Atau lo yang selangkah udah lebih maju? Atau ini?" Soonyoung melirik pergelangan tangannya yang masih terkunci oleh jari-jari kurus milik Wonwoo.
"Kenapa lo jadi sensitif gini sih, Nyong? Gue cuma mau ngabisin waktu sama lo, sebentar aja bisa gak?"
Yang ia maksud, ia selalu ingin merayakan setiap milestone yang telah berhasil ia capai bersama Soonyoung sebesar apapun, sekecil apapun.
"Gue juga gak mau banding-bandingin apapun sama lo. Gue mana bisa kayak gitu sama lo, Nyong. Gue cuma ... pengen lo tau, pengen lo ngerti gimana deg-degannya gue, takutnya gue, proyeksi gue ke depannya bakal gimana."
Wonwoo tak melihat Soonyoung berniat untuk meresponnya sama sekali. Saat itulah ia membawanya kembali ke lapangan voli dan duduk di tepian.
"Nyong, jangan cemberut gitu napa. Kita udah gede. Ngomong sama gue." Wonwoo berujar setelah Soonyoung membungkam cukup lama sambil menonton anak-anak dengan rentang usia 7-10 tahun bermain ucing-ucingan di hadapan mereka.
"Kita dulu kayak mereka, cuma ngerti main lari-larian, petak umpet, nyari kecebong. Sekarang udah beda."
"Ya karena udah beda, kita udah pinter, Nyong. Kalau lo pengen ngomong, omongin, supaya gue ngerti. Bukan manyun kayak gitu." Wonwoo mengapit pipi Soonyoung dengan kedua jarinya yang kemudian ditepisnya oleh pemilik wajah. Soonyoung pun terkekeh malu sambil menyenggol pundak.
"Lo bilang, lo gak tau mau kerja di mana. Ternyata keterima juga."
Wonwoo tersenyum pada pemandangan riuh anak-anak kecil. "Yah, gimana lagi. Sebagian besar karena disuruh, ditagih, beban pikiran, sisanya hoki." Lambat laun senyumnya memudar menjadi semu, "Gue juga takut ngadepin dunia baru, walaupun ada senengnya banyak pas denger gue di acc. Makanya gue langsung pengen mengadu ke lo."
Kini matanya menemui milik Soonyoung yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri, "Tapi maaf kalau gue malah bikin lo gak nyaman."
Soonyoung mengangguk pelan setelah ingatan ujaran ibundanya tadi. "Kok minta maaf. Masa orang keterima kerja minta maaf. Aneh." Ia tahu yang ia rasakan hanyalah insekyuritas yang tak mendasar pada Wonwoo. Sikap yang ia miliki sebelumnya, hanya membuat orang yang hendak berbahagia berkecil hati. Soonyoung juga sudah cukup tercerahkan dengan penjelasan Wonwoo akan perasaannya saat itu.
Soonyoung pun akhirnya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
"Lo gak usah takut. Pada akhirnya lo selalu bisa pecahin masalah sebesar apapun, kan ada gue." Ucapan itu secara spontan terlontar bersamaan dengan sebuah pelukan yang melingkar pada leher dan bahu Wonwoo. Angin sore yang hendak menyelinap pun terhalang oleh rengkuhan Soonyoung. Sedikit menghangatkan, pikir Wonwoo. Tapi pipinya terasa terbakar, apalagi ketika anak-anak kecil beberapa langkah di sekitar mereka mulai bersiulan dan mengucapkan kata-kata usil.
Sebelum Soonyoung melepasnya, Wonwoo menenggelamkan kepalanya pada pundak Soonyoung.
"Bener ya? Ada lo terus."
Soonyoung kelimpungan sebab anak-anak itu tidak ada hentinya menggoda kedua orang dewasa yang berpelukan di pinggir lapangan. "I-iya bener. Udah dulu, malu anjir."
Wonwoo melepaskannya dan keduanya memarahi anak-anak kecil yang menggoda mereka. Alhasil, Soonyoung maju dan mengejar mereka dengan suara cekikikan yang mengisi sore hari itu.
Betul juga, Wonwoo pikir, untuk apa ia merasa takut selama hari-harinya selalu berhasil terlewati, terutama ketika ada Soonyoung yang sehangat lembayung senja, selembut angin, semenyenangkan sore di hari libur.
Soonyoung kembali dari lapangan dengan sedikit keringat yang membasahi pelipisnya dan kembali duduk mengatur napas, tawanya juga belum habis sepenuhnya.
"Tapi janji ya lo juga bakal ada terus."
Ucapan sore itu tidak lah sekali atau dua kali terdengar. Dalam banyak masa yang telah mereka lewati bersama, janji itu telah lama tertanam untuk mengantisipasi berbagai badai kehidupan. Kehadiran mereka untuk satu sama lain, sudah sekrusial sebuah emergency call.
Hingga keduanya sadar bahwa kecuali satu hal yang tak pernah menjadi bahan urgensi untuk mengadu satu sama lain,
ialah perkara asmara.
Soal asmara, setiap hari, setiap waktu, setiap sorenya perasaan mereka selalu bertambah. Tumbuh menunggangi akar yang telah kokoh tertanam dalam hati setiap kali rasa percaya, kagum, dan banyak hal lain semakin besar berkembang. Wonwoo telah tumbuh menjadi pria yang cermat, tenang, hangat walaupun sisi itu hanya untuk beberapa golongan tertentu seperti anak-anak, orang tua, dan yang terakhir, Soonyoung. Wonwoo, sebagai anak yang dituakan juga bagaimanapun memiliki sikap dan banyak tindakan yang lebih rasional, sistematis, strategis. Di sisi lain, Soonyoung juga tumbuh menjadi sosok yang merangkul sesama, walau tak secermat Wonwoo, namun ia tahu betul bagaimana cara berempati, bagaimana ia menerima berbagai kemungkinan sebelum menghakimi sesuatu. Menggunakan perasaan sebagai suatu keahliannya, itulah Soonyoung.
Soonyoung, menjadi tempat di mana Wonwoo bisa seirasional mungkin, sekanak-kanak mungkin. Soonyoung akan selalu menerimanya, sebagaimana ia selalu mengenal dan memahaminya.
Wonwoo menyadari hal itu, namun ia tak pernah mengutarakannya. Hingga beberapa kesempatan, Wonwoo membiarkan sikapnya yang berbicara.
Begitu pun dengan Soonyoung.
Maka setiap hari pun, keduanya semakin mempertanyakan soal perasaan yang terus tumbuh bersamaan dengan bertambahnya usia mereka, apakah layak untuk perasaan itu diutarakan?
Soonyoung sudah mendapatkan jalur, yang lagi bukan suatu kekhawatiran orangtua keluarga Kwon setiap mereka melihat anak tetangganya menempuh dunia kerja. Tapi realita selalu mendesak kehidupan anak. Setelah kerja, pernikahan—berkeluarga adalah target selanjutnya.
Dengan keadaan rumahnya yang semakin ramai dengan kakaknya yang dikaruniai anak, yang sejauh ini sudah berusia tujuh bulan. Soonyoung sebagai paman yang baik dan penyayang, membiarkan setiap waktu liburnya habis untuk membiarkan kakaknya istirahat, dan mengambil alih untuk menjaga keponakannya.
Sisa waktu yang ia miliki, semakin sempit untuk ia gunakan bersosialisasi, mencari orang baru, atau bahkan kencan buta.
"Jadi, jangan tanya kenapa sampai sekarang Ade belum punya calon."
Satu waktu, Soonyoung dan Wonwoo di irisan waktu kosong yang mereka miliki, keduanya habiskan untuk makan bersama di tempat yang tak lagi ala kadarnya. Dengan kemampuan finansial yang cukup terbantu dengan gaji bulanan, setidaknya untuk satu dalam 30 hari rasanya tidak merugi apabila mereka keluarkan di sebuah tempat BBQ atau shabu-shabu. Saat itulah, keduanya tersadar bahwa begitu lama perjalanan mereka hingga bisa ada di titik ini. Soonyoung pun mulai memberanikan diri, mempertanyakan sebuah pertanyaan yang lumrah terutama di saat keduanya tidak pernah ada bahasan lagi soal asmara.
"Lo udah punya pacar belum?"
"Hah? Pacar? Ngarang."
Soonyoung terkekeh, "Kalau pun ada, mau itu cuma suka atau gebetan doang, lo pasti ngomong sama gue. Iya kan?"
Wonwoo mengangguk ragu sambil sibuk menggeser-geser daging di atas pemanggang.
"Lo bakal ngomong kan?"
Sudah dua puluh tiga tahun usianya berjalan, Wonwoo pikir ada saatnya ia perlu membuat segalanya lebih jelas dengan sebuah ucapan. Seperti yang ia yakini, sebab dirinya sudah dewasa, apapun bisa dibicarakan.
"Gue bakal ngomong. Lebih tepatnya, udah ada orang di kepala gue yang pengen gue omongin sejak lama."
Sejak lama.
Daya pikir Soonyoung mulai terganggu, setiap segala kejadian yang telah terlewat ia coba ingat kembali untuk menebak-nebak siapa yang akan ia bicarakan. "Ya omongin sekarang aja kenapa? Kok pake pengen diomongin dari lama? Emang faedahnya apa kalau lo tutup-tutupin dari gue?"
"Tapi lo nya siap atau engga? Gue takutnya kalau ngomong, malah ngerusak suasana." Wonwoo berusaha bersikap tenang walaupun dalam dirinya sudah seperti daging yang mengerut di atas mentega panas yang meletup-letup.
"Y-ya omongin aja sih, gue gak bakal iri kalau lo udah deket sama orang—"
"Yaudah. Orangnya itu lo, Soonyoung."
Soonyoung pun bukannya merasa pesimis. Namun, ia memang mengharapkan nama lain yang disebut dibandingkan namanya sendiri. Karena ternyata, menghadapi sebuah pengakuan tak terduga itu sangat sulit untuk menjaga sikap dan merapikan pikirannya yang kusut.
Alasan lain, Soonyoung begitu kewalahan dengan rasa bahagianya ketika kemungkinan besar ia tak sendiri dalam menjaga perasaan yang telah lama tertimbun itu. Kemudian, alasan yang lebih lain lagi adalah: Gue takutnya kalau ngomong, malah ngerusak suasana.
Soonyoung bukannya tidak optimis, tapi persahabatan dan hubungan asmara adalah dua hal yang berbeda. Kedua hal yang juga memiliki ujung yang berbeda, ujung yang bercabang-cabang.
"Bagus sih kalau lo gak sadar, tapi siapa lagi kalau bukan lo. Makanya sampai sekarang gue masih sendiri aja."
Soonyoung memukuli meja pelan berkali-kali sambil menyembunyikan wajahnya. Akhirnya, reaksinya hanya sekadar berteriak yang ia redam supaya tak mengganggu pengunjung lain. Kakinya tak juga berhenti bergerak dan terhentak-hentak. Wonwoo merasa malu, namun reaksi Soonyoung tak kalah malu itu membuat hatinya sedikit tenang, rasanya tidak begitu buruk kalau harus mengakui perasaannya pada Soonyoung. Untung orangnya Soonyoung.
"Nyong, ngomong dong. Jangan kayak lumba-lumba gitu."
"Wonwoo gobloook, kenapa harus ngaku di sini sih?"
"Kan ... Lo yang suruh."
Soonyoung menyeruput teh manis free flow sampai dirinya cukup tenang. "Terus gimana? Kok gue sih?"
Wonwoo menggaruk tengkuk, juga menyembunyikan wajah dengan lengan satunya. "Ya nyamannya sama lo. Bingung gue juga."
"...Sama."
"Sama apa? Bingungnya?"
"Nyamannya."
Wonwoo memiliki kilas balik dalam kepalanya, lagi-lagi soal pengakuan dan ditolaknya Jihoon yang telah usang itu.
"Oh, terus jadi lo suka sama gue juga gitu? Emang gak apa-apa?"
"Ya terus gimana dong? Sukanya sama lo."
"Tapi lo nolak Jihoon gara-gara dia temen."
"Jangan sebut Jihoon, orangnya udah kawin."
Keduanya tertawa, hingga tawanya kembali kikuk.
"Tapi lo juga bilang kalau temen gak gitu setelah tiba-tiba cium-cium jidat gue? Gue butuh pertanggungjawaban sikap dan omongan lo malem itu."
"Ciumnya cuma sekali."
"Ya tetep aja!"
Keduanya tak berhenti beradu mulut setelah saling mengakui perasaan satu sama lain, sepulang makan bersama pun, topik pembahasannya masih sama. Alih-alih menjadi canggung, keduanya semakin banyak bercanda di perjalanan pulang, terutama mengungkit prinsip yang sudah-sudah.
"Emang boleh gue jadi pengecualian?"
"Ya boleh lah, soalnya gue suka..."
"Kalau gak suka sih pasti udah ditolak kayak Jihoon, ya?"
Soonyoung menendangnya pelan dari belakang. "Kalau perasaan gue waktu itu belum cukup kuat, mungkin aja gue terima Jihoon."
"Kenapa?"
"Soalnya, gue penasaran rasanya pacaran. Disayang-dan-menyayangi tuh gimana rasanya. Tapi setelah gue sadari, gue gak perlu cari tau itu lewat pacaran. Soalnya gue tau rasanya menyayangi orang itu gimana. Disayangi juga, walaupun awalnya gue pikir lo cuma sayang sebatas sahabat dari orok." Soonyoung menghentikan langkahnya di bawah penerangan jalan sambil berputar sesekali mengitari tiang. "Menurut gue, hal yang menakutkan dari macarin sahabat sendiri itu cuma satu. Takut kalau pacarannya gak berjalan baik, sahabatannya malah ikutan kena."
"Gue ngerti, Nyong."
"Tapi, lo punya gak sih keinginan yang menggebu-gebu buat dapetin hati lebih dari sahabatan aja? Gue maksud, gue bisa sebut lo sebagai banyak sebutan yang orang-orang harapin mereka punya. Kayak, lo tau kan kalau ada orang nanya, mana calonnya? Mana gandengannya? Mana masa depannya? Lo bisa dengan bangga sebut nama pasangan lo karena orang pacaran punya hubungan sangat jelas untuk disebut-sebut kalau ada pertanyaan tadi."
"Iya, gue ngerti banget kok, Nyong. Serius."
Wonwoo bersandar pada tiang penerangan jalan sambil menatap Soonyoung yang juga memeluk tiang dengan satu tangannya.
"Kalau lo ngerti, apa menurut lo gak ada salahnya dijalanin dulu? Walaupun gue takut banget bakal kehilangan lo gara-gara misal gue malah gak bisa nyenengin lo sebagai pacar—" Soonyoung berhenti bicara, memutuskan untuk memandangi Wonwoo yang tersenyum dimabuk asmara dengan tampilan kemeja dan rambutnya yang berantakan, dengan pencahayaan hangat yang membuatnya terlihat lebih mempesona dari hari-hari biasanya. Soonyoung pun merona. Sudah sejak lama Soonyoung ingin lebih terbuka dengan kekaguman dan rasa sukanya pada Wonwoo. Pada akhirnya, Wonwoo yang sedang asyik mendengarkan celotehan Soonyoung tadi tertegun sesampainya bibir Soonyoung mendarat pada miliknya. Walau perbedaan tinggi yang tidak cukup jauh, Soonyoung tetap berusaha berjinjit kecil untuk menggapainya. Soonyoung melepaskan bibirnya dengan binar pada matanya yang belum padam.
"Udah lah, lo pacaran aja sama gue. Udah sama-sama tau suka juga. Bisa gila gue kalau sampai enggak."
Wonwoo yang gila sekarang. Sikap Soonyoung yang selalu banyak spontan dan impulsif itu membuat Wonwoo membuka kacamatanya dan mengacak-acak rambutnya. Kini ia berjongkok malu, kemudian kembali bangkit untuk menghadap Soonyoung.
"Mau gak lo?"
Wonwoo meraihnya kembali ke dalam peluknya, juga mengacak-acak rambut Soonyoung untuk melampiaskan perasaannya yang begitu menggebu. "Gue gila di tempat kalau sampai nolak lo, Nyong."
Kakak, hingga kedua orang tua Soonyoung teramat geli sekaligus tercengang ketika Soonyoung mendeskripsikan pasangannya kini, yang ujung-ujungnya ia ungkapkan bahwa orangnya adalah Jeon Wonwoo. Seorang anak yang awalnya dikenal sebagai penjaga kios, Wonwoo warung, Wonwoo pulsa, Wonwoo anak pak Jeon. Seorang yang terlalu familiar untuk keluarga mereka hingga pada ujungnya mereka lebih mudah menerima daripada sibuk mencari tahu seluk beluk latar belakang seperti yang telah terjadi pada kakaknya sebelum menikah dan berkeluarga seperti sekarang.
"Seneng kamu De sama Wonwoo?"
"Ya seneng lah, seneng banget."
"Bu, kalau gitu jangan biarin Wonwoo nginep di kamar Ade mulai sekarang, haha!"
Hari-hari Soonyoung terasa lebih enteng dengan hubungannya yang masih hangat dengan Wonwoo. Teman-teman lainnya juga tak kalah geli dengan fakta terbaru itu. Jihoon bahkan tidak terkejut mendengarnya. Membuat Soonyoung segera ingin bertemu dengan Wonwoo dengan langkah gembira seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
"Gimana? Keluarga kaget gak lo sama gue pacaran? Ibu, bapak, kakak, semuanya ketawa-ketiwi tau gue pacarannya sama lo. Tapi mereka kayak gitu bukan karena ngejek sih, lebih ke lucu aja karena gue sama lo udah kenal dari jaman bau matahari."
"Gitu ya, Nyong? Gue belum sempet cerita sih sama keluarga, tapi ujung-ujungnya mereka pasti tau juga, apalagi bisa denger dari ibu-ibu gosip depan warung, atau dari si Mingyu. Macem-macem sumber lah pasti."
Wonwoo membiarkan Soonyoung bersandar di pundaknya, membagi keluh kesah hari-harinya, kadang kala keduanya lebih berani untuk memberi afeksi melalui sentuhan, lebih dari biasanya. Hal-hal baru itu membuat judul diantara mereka lebih jelas dan berbeda dari sekadar bersahabat yang dikhawatirkan orang-orang.
Emang bakal ada bedanya pacaran sama enggak?
Lo mah sama Wonwoo bukannya udah lengket dari lama? Nanti rasanya gimana kalau jadi pacar? Kayak temenan dong?
Soal itu, tidak ada satupun yang lebih tahu selain Soonyoung dan Wonwoo sendiri.
Sisi lain, ada hal yang hanya Wonwoo sendiri ketahui. Hari itu, dari pada mendapat respon yang serupa seperti keluarga Soonyoung, Wonwoo memilih untuk membungkam soal apa yang ibundanya pikirkan soal hubungan asmara mereka.
"Apa gak cari orang lain aja, nak? Bagusnya hubunganmu sama Soonyoung itu dijaga untuk jadi sahabat aja."
Wonwoo hanya ingin menyimpan luka itu sendirian. Tidak ada bagusnya jika sampai Soonyoung tahu. Wonwoo pikir, semuanya akan baik-baik saja, lama kelamaan, orangtuanya akan menerima seiring berjalannya waktu. Ia pikir begitu.
Namun hari makin hari, Wonwoo menerima rekomendasi orang A, B, dan C untuk dinikahkan suatu saat nanti. Tidak satupun dari mereka adalah Soonyoung. Bukan itu yang Wonwoo inginkan. Rasanya, dengan asupan pagi, siang, dan malam dengan hal seperti itu hanya membuat hari-hari Wonwoo bertambah runyam. Ia semakin jauh dari keluarganya, semakin dekat dengan Soonyoung.
Ketika itu, rasanya dunia enggan memihak padanya. Tidak adil. Soonyoung dengan senyuman secerah hari biasanya begitu membuat Wonwoo semakin tertutup, untuk menutupi fakta hubungan mereka tidak disetujui untuk tujuan yang lebih jauh.
"Ma, biarin Wonwoo milih sendiri. Wonwoo tau mana yang Wonwoo tau."
"Mama, Ayah, cuma mau yang terbaik buat kamu, nak. Kami juga gak mau melarang kalian buat terus bersahabat. Kami tau Soonyoung dan kamu udah seperti saudara."
Dua bulan, lima bulan, tujuh ... hingga angka tahunan, Wonwoo masih menyembunyikan fakta itu. Kadang nasihat kedua orangtuanya enyah seperti keduanya telah lupa bahwa Soonyoung dan Wonwoo masih berhubungan, sejak Wonwoo semakin jarang menyempatkan berkumpul dengan keluarga atau menghabiskan waktu untuk berbicara bersama mereka. Kadang kala, nasihat itu juga selalu sempat hadir di tengah-tengah kesibukannya.
Setiap kali merasa lelah, Wonwoo pergi bersandar di atas pangkuan Soonyoung. Dalam pangkuan Soonyoung, Wonwoo memejamkan matanya untuk selalu mendengar ucapan yang menghangatkan hatinya dan membiarkannya berlari dari banyak beban kehidupan yang bertengger di pundaknya. Kadang ia bercerita, kadang ia bergumam tentang rencana aktivitasnya yang akan mendatang, atau kadang ia bernyanyi. Cukup dengan begitu, Wonwoo mengembalikan nyawanya. Ekstra energi jika Soonyoung mengecup atau membelai rambutnya.
"Nu, boleh gak aku tanya?"
"Hmm?"
"Akhir-akhir ini keliatannya lagi ada masalah ya?"
"Capek aja, sayang."
"Mau apa dong biar gak capek? Bobo bareng mau?"
Soonyoung berhasil membuat Wonwoo tertawa terbahak-bahak. "Serius tau, aku ngajak bobo bareng."
"Mana bisa? Pacaran di rumah mana mungkin."
"Emang di rumah kamu gak boleh?"
Wonwoo berusaha mencari alasan selogis mungkin, "Gak lah, sama aja kayak di rumah kamu gimana."
Soonyoung berdecak sambil memainkan rambut Wonwoo, "Tau gitu kita gak usah ngaku pacaran ke orang rumah."
"Kamu sih..."
Wonwoo kembali memejamkan matanya, namun kata 'rumah' itu terlanjur kembali hadir di pikirannya. Ingatan tentang orangtuanya yang menentang hubungan mereka secara perlahan itu selalu melukai dan membinasakan semangat Wonwoo.
"Emang kenapa sih sama Soonyoung? Kurang baik apa Soonyoung sama Wonwoo? Sama keluarga kita? Keluarganya juga selalu baik sama kita."
"Mama cuma mau yang terbaik..."
Soonyoung lah yang terbaik untuknya. "Nyong ... Jangan pergi ya."
"Hmm? Ya gak akan pergi kemana-mana. Aku mau kemana? Orang kamu tiduran di atas paha aku, mana bisa aku pergi."
"Janji ada terus, supaya aku kuat ngadepin apapun."
Soonyoung selalu sadar, selalu paham dengan kelopak mata Wonwoo yang terlihat lebih sayu dari biasanya. Apapun itu, masalah pekerjaan atau hari-harinya, Soonyoung sadar ada yang sedang mengganggunya. "Kalau ada masalah, kamu ceritain aja kalau kamu mau ya? Nih, kuping aku ada dua. Dua-duanya buat dengerin kamu. Mantep kan?"
"Peluk aku aja..."
Sebuah hubungan, kebanyakan orang meyakini bahwa pasti akan ada akhirnya. Untuk sebuah sepasang kekasih, selalu memiliki dua akhir. Pisah atau menikah.
Wonwoo tentu menginginkan akhir yang bahagia. Berpisah sama sekali bukan ending yang ia cita-citakan. Jauh dari tata rencana kehidupannya. Sejak Soonyoung dan dirinya mulai serius menjalani hubungan, Wonwoo menata karir dan banyak kalkulasi kehidupan berkeluarga yang ia rencanakan baik dalam kepala maupun tertulis. Apa yang akan ia korbankan demi hidup untuk keluarganya kelak, semuanya telah tertuang sejak Soonyoung menunjukkan lampu hijaunya.
Walau kerikil hubungan selalu ada, hal itu tak cukup kuat untuk merontokkan fondasi harapan dan rencana hubungan mereka di masa yang akan datang. Semakin harinya, Wonwoo dan Soonyoung semakin yakin.
Walau semakin kuat pula orangtua Wonwoo menentang.
"Loh, kamu udah mau berangkat?"
"Belum, Wonwoo mau ke rumah Soonyoung dulu. Pamitan."
"Mau sampai kapan kamu keras kepala, Wonwoo?" Ibunya yang semakin berumur pun, semakin keras dengan kemauannya. Kriteria-kriteria yang diharuskan ada pada seorang calon menantu yang ideal menurutnya, terucap dengan mudah bagai label pada sebuah benda. "Mama lihat kamu sama Soonyoung makin susah dipisah-"
"Ya harusnya emang gak dipisah dong, Ma? Gak semua yang Mama mau ada di Soonyoung atau di Wonwoo. Kalaupun Wonwoo gak sama Soonyoung, gak segampang itu cocok-cocokan sama orang! Sekarang siapa yang keras kepala sih? Saya gak bakal pisah sama Soonyoung mau gimana pun Mama bilang. Saya gak peduli sama tanggapan keluarga besar, gak peduli apa kata kerabat Ayah atau Mama. Wonwoo udah punya pilihan sendiri, titik."
Wonwoo juga semakin dingin dan keras, tanpa memikirkan perasaan ibundanya. Sebelum kepindahan dinasnya selama tiga bulan ke luar kota, Wonwoo memilih untuk berpamitan dengan puas pada Soonyoung dan orangtuanya yang lebih menerimanya dengan tangan terbuka.
"Udah jangan murung gitu, seminggu sekali, setiap weekend juga aku pulang kok." Wonwoo membelai Soonyoung yang tak kunjung melepaskan pelukannya sebelum berpisah, "Bawa oleh-oleh yang banyak kok nanti."
"Oleh-oleh ya. Aku mau dodol yang banyak."
Wonwoo tak akan pernah bisa menyerahkan Soonyoung pada siapapun, pada apapun. Presensinya teramat besar, teramat penting sejak kehadirannya hampir mengisi seumur hidupnya. Hingga pada akhirnya, berbicara dan bertemu dengan Soonyoung adalah cara untuk ia selalu yakin dengan pilihannya dan melupakan apa yang dipilih oleh orangtuanya.
Soonyoung dengan hari-hari yang masih sama sibuknya, mulai merasakan kekosongan merana. Jarak diantara mereka tidak lagi bisa membuat Soonyoung sesuka hati menemui Wonwoo di lapangan voli atau di taman baru pada malam hari, atau saat jam makan siang, atau makan malam bersama. Panggilan video pun menjadi satu-satunya jalan, walaupun tak senyaman berjumpa tatap wajah. Bahkan terkadang satu di antara mereka tidak punya waktu untuk melakukan panggilan.
Ini yang orang-orang sebut jadi dewasa, Soonyoung pikir.
Belum lagi, menjadi orang dewasa artinya juga harus banyak menerima kenyataan-kenyataan pahit. Menerima, melupakan, dan membiarkannya. Tidak sederhana memang. Realitanya Soonyoung sulit untuk melupakan dan membiarkan jalan berlubang dalam hidupnya. Ketika ia mulai menerima, ia akan tenggelam dalam banyak pikiran buruk. Pikiran buruk yang mencekik, menakutinya di tiap malam. Kemudian di keesokan paginya, ia harus menjalani hidup sebagaimana mestinya, sebagaimana manusia normal pada umumnya.
Soonyoung selalu menatap mata banyak orang tiap pagi pada angkutan umum, atau bus. Melihat mata-mata lelah setiap orang yang menyimpan kegelisahannya masing-masing dari orang yang duduk di hadapan, di samping kanan atau kiri. Di kala Soonyoung sempat menemukan para penimba rezeki di jalanan dengan senyuman lebar, binaran mata penuh harapan setiap harinya, membuat banyak spektrum dalam kehidupan yang Soonyoung semakin ia pahami. Bahwa hidup dan matinya, akan selalu diikuti dengan dua elemen penting. Ketakutan dan harapan.
Jadi, Soonyoung pikir, ia masih bisa menggenggam erat harapan ketika jalan berlubang perlu ia lewati dengan langkah besar atau jembatan panjang.
Soonyoung udah tau belum ya kalau keluarganya kurang setuju sama dia?
Tembok kampung halaman berbicara, begitu orang bilang. Cepat atau lambat, cerita tiap-tiap rumah tangga selalu menyebarDesas-desus itu cukup membuat Soonyoung paham dengan mata sayu dan pandangan kosong Wonwoo di hari-hari sebelumnya. Ia paham bagaimana Wonwoo bersusah payah menjaga Soonyoung dari fakta itu. Ia juga paham betul bagaimana Wonwoo teramat menyayangi Soonyoung dengan caranya menjaga hati Soonyoung. Dengan begitu instan sebuah bola harapan selalu lahir dalam diri Soonyoung untuk menghadapi hari-harinya, atau berjuang dengan lebih baik, lebih keras.
Sebuah ambisi pun terlahir, gue bakal jadi orang terbaik buat Wonwoo.
"Soonyoung, besok aku pulang ya?"
"Gak usah—uhuk—Besok juga mendingan kok. Kayak lupa aja aku tuh kebal banget."
"Akhir-akhir ini kamu cepet tumbang. Kebal apanya?"
"Cuma flu doang. Masih bisa kerja, masih bisa goreng tahu, masih bisa nyapu. Udah ya, gak usah sampe pulang gitu. Nanti kamu yang sakit kalau harus bolak-balik."
"Itu tuh kamu istirahatin. Bukan malah dipaksain kerja. Makanya kamu cepet sakit, gak sembuh-sembuh."
"Iya, Jeon Wonwoo. Abis ini deh, istirahat ya."
"Soonyoung, sekarang."
"Iya—uhuk—sekarang."
Hingga saat ini pun, hanya-dan-masih Wonwoo yang terbaik dalam hidup Soonyoung. Yah, mungkin sudut pandang mereka berkata lain. Tapi yang jelas, Soonyoung yakin kalau Wonwoo juga akan selalu menorehkan nama Soonyoung dalam dunianya.
Firasat.
Firasat selalu terasa bagi siapapun yang cukup kuat untuk merasakannya. Wonwoo, sejak kecil selalu dikenal oleh teman-teman lingkungannya sebagai orang yang punya banyak cerita soal firasat.
Usia dua belas tahunnya, Wonwoo menangkap firasat buruk ketika mendengar suara burung uncuing pada dini hari. Seharian ia terus menggumamkan rasa gelisah kepada teman-temannya hingga firasatnya terjawab. Sebuah berita duka datang.
Usia lima belas tahun, Wonwoo bermimpi bertemu seorang bayi sebatang kara di sarang burung raksasa dan menganggapnya sebagai firasat baik. Di lusa kemudian hari, seorang tetangganya memenangkan undian sepeda motor dari sebuah merek sabun cuci.
Mulai dari Mingyu, Junhui, Jihoon, hingga Soonyoung selalu mempercayakan firasat Wonwoo di kala bermain sebuah game ataupun ujian. Tapi sekali lagi, tak semua praduganya sesuai. Jihoon yang lebih suka menganggapnya kebetulan, sementara Junhui akan percaya seratus persen.
Sudah lama ini, Wonwoo dewasa mengabaikan hal semacam firasat atau mitos dan lebih bergantung pada rencana, strategi, dan peluang. Mendengar Soonyoung dengan berbagai kabar-kabar kurang beruntungnya, ia mulai gelisah dan merindukan kampung halamannya dengan jarak yang cukup jauh untuk ditempuh pulang-pergi jika harus membayar kerinduannya. Terlebih dengan bermodal sepeda motor, perlu tenaga serta fokus ekstra untuk menempuh perjalanan panjang seorang diri. Di akhir dari hari kerjanya Wonwoo akan menyempatkan diri untuk pulang. Menjumpai keluarga, kerabat, terkhusus lagi Soonyoung.
Wonwoo dengan tergesa-gesa pergi ke rumah sakit sesampainya di kotanya. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeluk kekasihnya di ruang tunggu.
"Gimana, si kecil udah ada kabar baik?" Raut Wonwoo begitu khawatir tergambar. Soonyoung perlu meyakinkannya bahwa keponakannya masih perlu menunggu hasil pemeriksaan setelah diagnosa beberapa hari yang lalu. "Semoga gak apa-apa ya."
Soonyoung mengangguk, "Kamu gak ke rumah dulu ya?" Melihat Wonwoo masih membawa tas kerja bersama isi lain untuk menginap yang membuat tasnya membengkak. "Udah kubilang nanti aja, ketemunya di rumah."
"Abisnya kamu bilang, kamu jagain anak kakak setiap malem. Kalau ketemu di rumah, harus nunggu besok pagi."
Soonyoung kembali memeluk Wonwoo, menciumi aroma tubuh khas miliknya bercampur dengan keringat serta aroma perjalanan yang masih menempel di kemeja dan jaketnya. "Dedek gak akan apa-apa kan, Nu?"
"Gak akan kenapa-napa, Soonyoung. Firasatku bilang begitu."
"Dedek sembuh kan, Nu?"
"Sembuh, Soonyoung."
Wonwoo sekali lagi tidaklah mengandalkan firasatnya untuk hal apapun. Tapi sejak kepercayaan orang menempel padanya, ia gunakan hal itu untuk menenangkan kegelisahan mereka, sekaligus memanifestasi harapan dan doa mereka melalui ucapannya.
Beberapa hari kemudian operasi berjalan lancar dan Soonyoung kembali merasa lega atas hal tersebut. Senyum kembali tersungging, Soonyoung tak lagi mengerutkan dahi dengan pikiran kosong di sela-sela waktunya.
Namun, perasaan dan firasat yang tak nyaman di hati Wonwoo belum juga hilang.
Akhirnya penantian Soonyoung, serta keluarga berakhir ketika Wonwoo mengakhiri pekerjaan beberapa bulan di luar kota dan kembali bekerja di kantor pusat di kotanya. Semua berjalan seperti biasa lagi. Wonwoo dengan tubuhnya yang mulai ringkih berbaring cukup lama di sofa rumahnya. Ah, kios keluarganya telah lama tutup sejak Wonwoo memiliki pekerjaan dan kini tempatnya menjadi garasi motor. Maka dari itu, Wonwoo lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya di bandingkan kiosnya sekarang ini.
Walau banyak argumen terjadi, Wonwoo masih menjaga hubungan baik dengan keluarganya, terutama ibundanya sendiri. Dengan membawakan segelas teh manis, ia menghampiri Wonwoo yang tengah beristirahat.
"Capek ya, nak?"
"Lumayan, Ma."
"Minggu lalu, Soonyoung main ke rumah. Katanya kangen warung."
"Haha, terus gimana? Dia ngapain?" Wonwoo membayangkan wajahnya dan tingkah lakunya yang kadang konyol di halaman rumahnya. "Mama gak ngomong yang macem-macem kan sama Soonyoung?"
"Dia bawain bolu marmer kesukaan Mama. Cuma ngobrol biasa aja, Mama juga tau kalau Soonyoung sahabat kecilnya kamu. Tau betul Soonyoung itu anaknya gak neko-neko dan tulus kalau dia bawain sesuatu."
Wonwoo tersenyum ringan dengan banyak paruh dalam dirinya merasa bangga memiliki Soonyoung.
"Tapi nak, Mama masih mendoakan kamu untuk dapet jodoh yang paling baik dan cocok untuk kamu. Itu yang bisa Mama ucapkan untuk sekarang."
Wonwoo masih tidak peduli apapun yang telah menjadi pupuk setiap harinya. Soonyoung tetaplah takdir untuknya. Percakapan itu tidak berlangsung lama atas alibi Wonwoo yang ingin beristirahat.
Setiap kali memejamkan matanya, Wonwoo terpikirkan dirinya berlari sekencang mungkin dalam terowongan panjang nan gelap, hingga kemudian cahaya putih tertangkap oleh netranya hanya untuk berlari semakin kencang, kemudian memeluk sosok di hadapannya seerat-eratnya. Kemudian terowongan panjang di balik tubuhnya itu terhempas bagai abu setelah ia sadar bahwa Soonyoung lah yang ada dalam rengkuhannya.
Ia kembali bangkit, menjalani aktivitas seperti biasanya. Sapaan dari tetangganya setelah lama tidak berjumpa.
"Lo panglingan deh Nu, agak berisi sekarang. Muka lo makin cerah juga."
Kemudian di malam harinya, Soonyoung akan menunggunya di bawah penerangan lapangan. Mengajaknya untuk saling bersandar di atas bangku beton favorit mereka.
"Nu, akhir-akhir ini aku kangen banget sama semuanya."
"Hmm, tau."
"Kangen sama rumahku yang sering bocor, jadi ada alesan buat minta benerin ke kamu."
"Hahaha, aneh."
"Kangen beli pulsa ke warung, bela-belain jalan kaki hujan-hujanan demi ketemu kamu."
"Sekarang kan gampang kalau mau ketemu, Nyong."
"Kangen dibecandain kamu sampai aku ngambek beneran, soalnya besoknya kamu nawarin nugas bareng supaya aku gak marah lagi."
"Mana sanggup bikin kamu marah kalau sekarang."
"Aku cuma kangen waktu kita lagi sahabatan, kayak anak kecil, kayak anak puber, kayak anak kuliahan pada masanya."
Wonwoo belum bisa menelaah gumaman-gumaman asal yang keluar dari mulut Soonyoung. Sudah lama sejak mereka membahas soal persahabatan mereka, rasanya Wonwoo sudah melupakan itu dan lebih sering menganggapnya sebagai pasangan, atau yang lebih tepatnya
soulmate?
Raut Soonyoung kembali seperti dahulu, sulit untuk Wonwoo terjemahkan. Terlalu banyak emosi, tapi terlalu semrawut untuk ia lihat.
"Aku tau kalau Mama kamu gak mengharapkan aku buat jadi menantunya." Soonyoung akhirnya berhenti membuat Wonwoo bertanya-tanya hingga sepasang mata kecil miliknya mulai berkaca-kaca. "Aku gak pengen nyerah, Nu. Cuman, aku kangen aja, sama hari-hari aku sama kamu gak dikelilingin sama tembok yang ngebatasin kita. Rasanya pengen deket sama Mamak, kayak jauuuh banget. Awalnya aku ngerasa Mamak bisa lebih kerasa deket kayak ibu sendiri. Tapi, perasaan aku sekarang campur aduk. Di mata beliau, aku masih Soonyoung kecil yang suka main ke rumah kamu. Itu aja."
Soonyoung menutup wajahnya setelah air mata mulai menyelinap keluar. "Cuma kangen aja."
Sekujur tubuh Wonwoo bergetar, ia meraih Soonyoung dengan tubuhnya yang lemas. Ia melepas kacamatanya yang sudah basah dan kembali bersandar pada Soonyoung.
"Maafin aku, Soonyoung. Maafin aku." Suaranya juga ikut bergetar. Soonyoung terus menggeleng dan tersenyum untuk Wonwoo.
"Gak usah minta maaf. Aku gak nyalahin kamu, atau Mama kamu, atau Ayah kamu. Aku sayang sama kalian semua, gak pernah berkurang kok. Aku cuma sedih karena aku kangen situasi yang dulu." Soonyoung membalas pelukannya, sesekali mengusap lembut punggung kurus Wonwoo. "Aku ingin kamu tau soal perasaan aku sekarang ini, supaya nanti, kamu juga bisa biarin aku tau risau hati yang ngeganggu harinya kamu. Kamu gak perlu lagi tutup-tutupin semuanya dari aku. Kan aku udah janji, aku bakal ada terus?"
Siapa lagi kalau bukan Soonyoung? Sampai detik ini pun selalu Soonyoung.
Soonyoung,
Soonyoung,
dan Soonyoung.
Wonwoo tidak akan pernah melepaskan namanya, sedetik pun dari banyak waktu yang masih miliki di dunia. (Setidaknya yang ia tahu seperti itu.)
Sayangnya Wonwoo perlu mengoreksi pikirannya. Sedikit dari firasat buruk yang telah lalu, terjawab ketika ia menemukan dirinya di ruangan bersama pencahayaan terang menusuk, beberapa orang keluar masuk dari sudut pandangnya mengenakan busana hijau laut, bersamaan dengan pisau dan alat-alat yang terhubung ke tubuhnya. Sejenak, ia perlu meluruskan ingatannya yang mulai berantakan.
Sepulang kerja di hari yang hectic pada biasanya, Wonwoo menyempatkan diri untuk membeli bolu marmer kesukaan ibundanya.
Caranya kamu berjuang, yaitu selalu jaga hati kamu dan hati keluarga kamu. Satu hal penting yang harus kamu inget, Nu. Memenangkan hati orangtua kamu untuk percaya, caranya gak beda jauh seperti kamu menangin hati aku. Kalau kamu anggap mereka musuh, semakin sulit juga mereka akan percaya sama pilihanmu. Jaga hati dan hubungan kalian. Inget itu, ya?
Soonyoung selalu punya hati seluas samudera untuk membuat akalnya lebih sehat. Wonwoo dengan keadaan dan kesadarannya yang lebih tenang, menuliskan sedikit surat untuk diselipkan ke dalam bungkusan bolu yang akan ia pulang. Ia juga yakin, hari demi hari ia akan mampu melewati cobaan sebelum pada akhirnya menginjak milestone selanjutnya dalam kehidupan.
Wonwoo sedikit angkuh, mungkin itulah salahnya. Sedikit angkuh soal bagaimana masa depan akan menyambutnya dengan baik sejak semangatnya kembali terkumpul dengan sempurna setelah percakapan malam itu bersama Soonyoung.
Masa depan malah menyambutnya dengan hantaman keras yang membuatnya terpental jauh terpisah dengan kendaraannya, dengan bolu dalam kantong yang awalnya telah terbungkus rapi, dan juga helm pelindungnya.
Kesadaran Wonwoo tidak cukup untuk menyadari apa dan siapa, hingga mengapa pada akhirnya ia tak mampu menggerakkan tubuhnya di atas aspal kasar yang membuat pipinya terasa terbakar. Wonwoo hanya mengandalkan penglihatannya di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya hilang.
Terakhir kali wonwoo melihat sekitarnya, dunia tampak asing. Lantai dingin, gelap, dan kesunyian di sana membuatnya kelimpungan—setidaknya dengan mengingat Soonyoung, cukup untuk meredakan rasa sakitnya. Saat itulah matanya terpejam.
Hidupnya, telah berputar 180 derajat dari beberapa menit yang ia harapkan akan membaik. Seharusnya Wonwoo sadar, bahwa musuh sebenarnya adalah kenyataan.
Apa yang Soonyoung pandang di hadapannya, membuatnya pusing dan mual.
Tangis tersedu-sedu hingga tangis histeris keluarga di ruang tunggu, adik serta seorang ayah dengan wajah pucat, kemudian Mingyu yang terbangun dari tidur setelah berhari-hari duduk terjaga di ruang tunggu hanya untuk mendengar kondisi Wonwoo yang tak kunjung membaik.
Soonyoung merasa kesal.
Beberapa waktu silam, Wonwoo hadir di sana. Lelaki yang meyakini keadaan akan berjalan membaik dan memeluknya, menenangkannya. Soonyoung merasa Wonwoo telah mengejeknya untuk ucapannya saat itu, belum lagi janjinya untuk selalu ada.
Kenyataannya, Soonyoung malah menemukan Wonwoo dengan alat-alat khusus yang membantunya untuk tetap bertahan, berdetak.
Mingyu berjalan dan memeluk Soonyoung dengan tangisnya.
"Nyong, lu harus kuat, lu harus tabah."
Kuat mereka bilang. Soonyoung adalah satu-satunya yang tidak menitikkan air mata di tempat itu. Ia hanya kembali dengan langkah gontai, memilih untuk pulang dan memejamkan matanya di atas kasur.
Besok semuanya bakal baik-baik aja. Besok bakal kembali membaik.
Yang ia temukan di keesokan hari hanyalah surat yang dititipkan dari Mingyu sebelum mereka berangkat. Berangkat ke mana? Soonyoung pikir begitu. Ia keluar dengan pakaian rapi, bersiap untuk kerja. Jihoon, Junhui, juga Seungcheol yang tidak biasanya menyambut Soonyoung pagi-pagi. Apa mereka gak kerja? Soonyoung pikir begitu.
Wajah mereka sama pucatnya seperti orang-orang di ruang tunggu saat itu. Hidung dan mata mereka yang merah, membuat Soonyoung ragu untuk melangkah melewati pintu pagar.
"Soonyoung, kita cuma bakal berangkat sama lo." Ujar Junhui.
"Mau kemana sih, Jum? Emangnya sekarang libur?"
Soonyoung juga masih merasa kesal sampai hari itu. Sebab Wonwoo tak menghampirinya seperti apa yang teman-temannya lakukan.
"Kita mau samperin Wonwoo. Ayo, sekarang, ya?"
Soonyoung menaruh tasnya, kemudian tanpa banyak melawan Jihoon yang sudah angkat bicara, ia mengikuti langkah mereka menuju mobil. Entah kemana ia akan membawanya. Soonyoung hanya memandangi langit mendung yang tak biasanya.
Wonwoo pasti lagi berharap ujan gak turun, soalnya dia naik motor.
Hingga mereka harus turun melihat orang-orang berkumpul, diikuti langkah orang-orang lainnya menuju suatu titik yang belum terlihat. Soonyoung hanya melihat batu-batu yang tertata rapi dengan nama-nama yang ditorehkan di atasnya. Ia masih tidak merasakan apapun. Jihoon dan Junhui terus menemani Soonyoung, sesekali mereka memeluknya di belakang kumpulan orang yang berkerumun mengelilingi sesuatu, Soonyoung belum melihat apa yang mereka pertontonkan.
Ia menyadari gemuruh dan rintik hujan mulai mendarat di puncak hidungnya, kemudian di puncak kepalanya, dan seterusnya hingga semua berkumpul di bawah pohon, sebagian lagi berlindung di bawah payung yang telah mereka siapkan.
"Gue mau pulang."
"Soonyoung," Mingyu menahan Soonyoung yang hendak pergi. "Apa lu gak mau ketemu Wonwoo?"
Mingyu yang menuntunnya hingga menembus kerumunan tadi hanya mempertemukan Soonyoung dengan tumpukan tanah basah segar. "Mana Wonwoonya?"
Pertanyaan itu mengambil perhatian seorang ibunda yang tak ada hentinya memeluk sebuah bingkai foto. Kemudian yang Soonyoung kenal ialah ibunda Wonwoo datang menghampiri dan memeluknya.
"Maafin Mama, Maafin Mama..." Ujarnya sambil memeluk Soonyoung. Ia mencari-cari sosok lain di antara orang-orang itu, hingga akhirnya matanya bertemu dengan mata ibunya yang juga sembab.
Ibu ngapain di sini? Mama Wonwoo kenapa meluk gue? Apa gak salah orang? Kalau ibu gue salah paham gimana?
Soonyoung masih berdiri mematung, beberapa orang kembali memeluknya, wajah mereka kabur sejak hujan semakin deras. Beberapa lagi mengucapkan ucapan duka, menyuruhnya untuk bersabar, hingga semua orang berjalan pergi meninggalkan tempat. Kecuali Soonyoung.
"Lo di mana sih, Wonwoo?" Soonyoung berjalan mengambil foto yang tertinggal di atas tumpukan pasir. "Kenapa disimpen di sini sih? Jadi kotor."
Kemudian rintikan air berhenti membasahi tubuh Soonyoung, kecuali tempat lainnya. Ia mendongak, berharap menemukan sosok Wonwoo, tapi lagi-lagi ia menemukan Mingyu dengan payung yang melindungi mereka. "Ke sini lagi nanti, Bang. Nanti lu masuk angin."
"Suruh siapa gue ke sini? Suruh siapa juga gue pergi?"
"Wonwoo. Semua Wonwoo yang minta."
"Terus kalau gitu orangnya mana? Seenaknya nyuruh-nyuruh gue!"
"Wonwoo tuh udah gak ada, Bang! Wonwoo udah tidur, kagak akan bangun lagi! Ngerti gak sih lu?" Mingyu kembali merengek seperti anak kecil yang tantrum, meneriaki Soonyoung hingga ia membungkam. "Lu nangis, lu marah, lu ... ngomong dong, Bang. Gue sakit banget liat lu begini. Wonwoo udah gak ada, Bang. Wonwoo udah gak sama kita."
Padahal, Wonwoo berjanji untuk selalu ada. Ingatan Soonyoung kembali pada saat malam, pada saat Wonwoo menumpahkan segalanya. Ingatannya semakin mundur, setiap kecupan yang ia terima, berubah menjadi pertengkaran kecil di antara mereka, di kepalanya, usia mereka pun semakin muda. Dari masa-masa kuliahnya, Soonyoung bisa menggambarkan dengan jelas dalam kepalanya bagaimana Wonwoo dan dirinya masih mengenakan seragam sekolah, putih-abu, putih-biru, hingga putih-merah. Wonwoo selalu tersenyum setelah situasi apapun. Segala tentangnya tergambar begitu indah di memori Soonyoung.
Kenakalan remaja yang pertama kali mereka coba, salah satu ingatan yang teramat berkesan. Lainnya lagi, ketika Wonwoo mengutarakan perasaan padanya. Semakin ia ingat, semakin indah perjalanan yang ia tempuh bersama Wonwoo.
Hingga sebuah kabar membuat Soonyoung jatuh-sejatuh-jatuhnya sore itu. Kecelakaan berat terjadi tidak jauh dari daerah mereka tinggal. Semua terjadi begitu cepat hingga Soonyoung menemukan Wonwoo dengan banyak balutan perban di tubuhnya. Soonyoung memandanginya dari jauh, berteriak dalam hati menyuruhnya untuk bangun.
Di malam sebelum semuanya memburuk, Wonwoo membuka matanya perlahan, Soonyoung bukan satu-satunya yang ada di hadapannya. Namun hal itu cukup membuatnya untuk menyunggingkan senyuman, untuk terakhir kalinya. Dengan keadaan tubuh yang tak berdaya, Wonwoo masih meninggalkan senyuman setelah banyak situasi yang menimpanya.
Soonyoung tidak percaya, bahwa hari itu akan tiba. Soonyoung hanya kecewa, teramat amat sangat kecewa dengan kenyataan Wonwoo akan mengingkari janjinya. Bahwa ia tidak akan ada lagi di sisinya.
"Cih. Gue udah capek-capek nungguin lo, Nu. Gue sama Mingyu bahkan gak pernah ninggalin ruang tunggu. Lo tuh bener-bener ngecewain banget."
"Lo malah gak balik-balik."
"Lo gak kasian apa sama Mamak? Sama Ayah? Sama Adek lo, tante lo, sepupu-sepupu lo, om lo, yang udah nungguin lo bangun."
"Lo kebo banget, malah gak bangun-bangun."
"Katanya lo cuma mau balik terus beli bolu. Lo beli bolu kemana sampe segitunya?"
"Nu, sialan lo."
"Wonwoo, jawab gue, jawab. Jawab gue..." Soonyoung akhirnya meluapkan apa yang membuatnya kesal, menghantam keras gundukan pasir yang akhirnya sebagian kembali menjadi gumpalan lumpur. "Gyu, pinjem payungnya. Lo balik aja. Kasian kalau keujanan."
Mingyu yang menangis hebat melihat Soonyoung itu, akhirnya menuruti dan pergi membiarkan Soonyoung dengan waktunya.
"Lo tuh ya, Nu, jarang-jarang bikin gue kesel sampai segininya."
"Gue salah apa sih? Gue salah ngomong kah malem itu?"
"Lo kalau marah, mending marahin gue depan muka. Jangan tinggalin gue kayak gini."
"Jangan tinggalin gue, Nu."
"Gue mohon."
"Gue mohon." Isak Soonyoung di kursi tunggu. Setiap perawat dan dokter yang berlalu-lalang selalu memberikan kejutan kecil di dada Soonyoung. "Gue mohon, semuanya bakal baik-baik aja."
Soonyoung selalu ada bersama keluarga Wonwoo menunggu setiap jawaban, setiap pergantian kabar. Soonyoung kadang kala duduk bersama sang ibunda, menceritakan beberapa tingkah laku Wonwoo yang membuatnya terkesan dan takjub. Membagi sudut pandangnya mengenai Wonwoo, bagaimana Wonwoo selalu ada di hidupnya selama ia tumbuh menjadi seorang yang dewasa.
Terkadang Soonyoung berbicara dengan keluarga dari pasien lain yang sama-sama sedang menunggu, membagi kisahnya tentang Wonwoo.
Soonyoung selalu membawa Wonwoo bersamanya, dalam setiap ceritanya.
Lingkungan perumahannya masih dalam suasana berkabung. Walau matahari telah muncul, rasanya hari-hari selalu redup. Pandangan iba dari penghuni di rumah Soonyoung tak kunjung lepas. Setiap kali berpapasan dengan siapapun, Soonyoung selalu mendapat tepukan di pundaknya.
Soonyoung tertawa kencang ketika kembali berkumpul dengan teman-temannya, ketika salah satu dari mereka menceritakan kembali soal Wonwoo.
"Jum, lagi dong! Wonwoo pernah ngapain lagi? Gue pengen denger tingkah konyol dia ... Lo juga Ji, coba ceritain apapun soal Wonwoo."
Soonyoung masih terbahak-bahak yang Jihoon pikir, keadaannya masih belum membaik. Junhui tetap menjaganya agar terhibur dengan kenangan-kenangan mereka bersama Wonwoo. Ketika Wonwoo tak sengaja meminum tiner dari botol plastik dan memuntahkannya, atau Wonwoo yang selalu berusaha berguyon namun berujung tidak ada yang tertawa. Soonyoung betul-betul terhibur karenanya.
"Wonwoo pernah kena hukum guru BK gara-gara ujung kemejanya gue coret-coret pas dia tidur. Bayangin, dia lari-lari gak pake baju di lapangan. Gue masih inget banget anjir!"
Junhui dan Jihoon menyeka air matanya sambil tertawa, Soonyoung pun sadar.
"Apanya yang sedih sih? Lo semua aneh banget malah nangis."
Junhui merangkul Soonyoung erat-erat. Jihoon memalingkan wajahnya untuk berlanjut menangis.
"Lo gua anter balik ya, Nyong?"
Soonyoung tidak berhenti membaca percakapan dalam ponselnya bersama Wonwoo. Ia menggulir halaman hingga percakapan bertahun-tahun lalu kembali terbaca. Belum lagi foto-foto yang ia kumpulkan dari tahun ke tahun. Ia tertawa dan bermonolog setiap kali menemukan ingatan lain bersama Wonwoo.
Kakak perempuannya masuk ke kamar, mengingatkannya untuk makan, untuk berolahraga, untuk beraktivitas lain. Soonyoung tidak peduli. Hal itu membuat keluarganya teramat pilu, hingga kakaknya menyadari keadaan meja kerjanya yang belum berubah sejak hari Wonwoo tiada.
"Kamu gak mau baca suratnya, De?"
Soonyoung pun melirik, "Gak ah. Kalau isinya gue diajak putus gimana?"
"Gila, gak mungkin lah Wonwoo minta putus. Apalagi lewat surat gini. Dia kan sayang banget sama kamu?" Kakaknya pun mengambil dan mengangkat kertas yang terlipat itu. "Apa mau kakak bacain?"
Soonyoung berlari dan mengambil kertas itu, merebut kepunyaannya dengan wajah memberengut. "Sana! Jangan ganggu Ade. Biar Ade baca sendiri aja."
Hingga akhirnya pintu tertutup untuk memberi ruang pada Soonyoung seorang di kamarnya. Soonyoung dengan tangan gemetar memegang kertas kecil itu, duduk perlahan di atas kursi. Wonwoo, hanyalah harapan yang ia miliki. Ia tidak ingin mengakui bahwa kenyataannya Wonwoo telah pergi meninggalkannya, pergi bersama janji dan rencana mereka untuk hari-hari yang akan datang.
Rasa takut itu, menghambat Soonyoung untuk membuka kertas dan membacakan isinya.
Hari-hari sebelumnya, ibunda Wonwoo datang untuk berbicara empat mata dengan Soonyoung. Ia menjelaskan bagaimana rasa bersalahnya pada Wonwoo selalu mencekik setiap kali ia mengingat anak sulungnya, bagaimana Wonwoo selalu memihak pada Soonyoung, hingga bagaimana Wonwoo mengutarakan bahwa Soonyoung lah yang mengajarkannya untuk kembali mendapatkan hatinya. Ia teramat menyesal telah memberi banyak beban pikiran serta kegelisahan terhadapnya, terhadap hubungan mereka. Yang kini ia harapkan adalah, Soonyoung untuk tidak melupakan anak sulungnya. Ia mengharapkan Wonwoo selalu hidup di dalam hatinya, di dalam hati mereka.
"Kamu jaga dirimu baik-baik ya, nak. Mama gak mau kehilangan anak Mama lagi. Kamu harus sehat, selalu hati-hati di mana pun kamu berada. Mama cuma bisa bilang itu selain minta maaf sama kamu, Soonyoung."
Soonyoung membuka kertas itu perlahan, namun, ternyata surat itu tidak ditujukan untuknya. Melainkan untuk sang ibunda, tentangnya.
Wonwoo, sambil menunggu jam pulangnya tiba, merobek kertas dan memikirkan sesuatu. Rasanya geli, seperti membuat secarik surat cinta untuk seseorang. Namun tepatnya, ia membuat surat berisi pengakuan hati, yang seharusnya sudah jelas, kalau ia teramat menyayangi Soonyoung.
Ia menuliskan bagaimana ia merasa menyesali sikapnya akhir-akhir ini kepada keluarganya, menyesal bahwa ia tidak menghabiskan waktu bersama mereka, dan menyesal bahwa ia tidak memperkenalkan hubungannya yang baru dengan Soonyoung lebih baik lagi. Wonwoo juga menjabarkan bagaimana Soonyoung mendobrak berbagai jalan buntu dalam hidupnya, Soonyoung lah matahari yang ia miliki, yang ia punya untuk menjadi energi tak terbarukan.
Dalam surat itu, Wonwoo mengharapkan ibundanya akan mengerti bagaimana pandangannya tentang Soonyoung sebagai sahabatnya, sebagai pasangannya, sebagai penyemangat hidupnya. Sejak ia tak pernah seterbuka itu pada anggota keluarganya, maka menulis surat seperti itu adalah hal baru yang membuat perutnya terasa tergelitik.
Wonwoo berharap, apa yang ia tuliskan akan sedikit membuka hati keluarganya, kepadanya, juga kepada Soonyoung.
Dari seluruh kalimat yang Soonyoung baca malam itu, dengan tangis yang meluap tak tertahankan, Soonyoung terus mengulang kalimat yang berisi:
Menurut Wonwoo, harapan Mama untuk Wonwoo udah terkabulkan. Menurut Mama, apa Soonyoung bukan yang terbaik ketika udah menyadarkan Wonwoo kalau cinta yang harus Wonwoo tanam lebih besar itu untuk kalian? Untuk keluarga sendiri? Apa Soonyoung masih belum yang terbaik? Wonwoo udah berkali-kali diselamatkan Soonyoung dari hari-hari buruknya Wonwoo. Sekarang Wonwoo boleh minta izin Mama gak? Wonwoo mau jadi langit yang luas untuk Soonyoung, bantu dia untuk nyebarin kebaikannya dia ke seluruh penjuru dunia kalau bisa. Sayang banget, kalau cuma Wonwoo yang bisa rasain hangatnya kebaikan Soonyoung. Jadi, boleh ya, Ma? Aku cerita gini lagi soal Soonyoung? Masih banyak tentang dia yang pengen Wonwoo ceritain. Kalau Tuhan izinkan Wonwoo, lain waktu pasti Wonwoo akan ceritain lebih banyak!
Soonyoung, Wonwoo, hingga orang-orang lain yang berperan dalam hidup mereka lengah bahwa Tuhan punya rencana lain untuk mereka. Namun tak seburuk itu, Soonyoung pikir. Soonyoung menjadi bunga terindah yang pernah Wonwoo lihat hingga akhir hayatnya. Walaupun Wonwoo telah mengakhiri perjalanannya lebih awal, Soonyoung yakin, ia berharap harapan dan rencana mereka tetap terwujud suatu saat nanti. Bagaimana mereka berharap menghidupi seorang anak dengan banyak pelajaran hidup yang akan diwariskan untuk buah hati mereka. Soonyoung hanya perlu meneruskan tongkat estafet milik Wonwoo untuk kehidupan selanjutnya, membiarkan Wonwoo hidup dalam hatinya, dalam kebiasaan sehari-harinya, dalam angin malam yang menjadi penutup hari.
Hingga suatu hari nanti, akan ada kaki dan tangan kecil yang bertanya kepada Soonyoung setelah mendengar banyak cakrawala kehidupan melaluinya. "—Dan semua waktu itu dihabiskan bersama seorang lelaki yang sekarang menjadi langit bersama bintang-bintang di atas sana."
Kemudian si kecil akan membalas, "Dia menjadi langit, yang artinya dia orang hebat, sehebat dewa-dewa di buku cerita? Apa dia bisa bikin petir?"
"Gak sehebat itu, sih. Tapi dia bisa buat hati ayah kayak taman bunga. Banyak bunga bermekaran, kupu-kupu, burung semuanya berkumpul."
"Dia kayak peri."
"Mungkin peri? Intinya dia orang yang hebat. Oh, dia juga bisa bikin hujan berhenti."
"Baguslah! Artinya dia betul-betul jadi langit, Yah!"
Itulah yang terbayangkan oleh Soonyoung untuk menghiasi hari-harinya. Setiap malam pun, Soonyoung hanya perlu menengadah ke arah langit untuk menunjukkan rasa rindunya pada Wonwoo di atas bangku beton lapangan voli yang selalu menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Seekor kucing duduk di samping Soonyoung dan mulai menjilati bulunya tanpa menghiraukan kehadiran Soonyoung. Ia pun kembali menengadah, membayangkan bintang-bintang membentuk sebuah senyuman yang tersungging. Malam itu pun, Soonyoung merasa ia tak pernah benar-benar sendiri. Baik dalam bentuk memori indah, cerita orang, kebaikan dan kebiasaan Wonwoo yang telah mengalir dalam dirinya, cuaca dan langit cerah, atau tempat-tempat penuh cerita, selalu bersama menemaninya, menjadi kehadiran Wonwoo yang abadi.
"Ternyata aku salah, Nu. Kamu gak pernah ingkar, karena kamu pun ternyata gak pernah pergi."
