Work Text:
°°°
"Hei, tetangga baru"
Mark nyaris menjatuhkan gelasnya mendengar sapaan itu. Pagi ini dia hanya berniat membuka jendela balkon kecil kamarnya. Bukannya mendapat sapaan dari sosok yang diam-diam diperhatikannya kemarin sore.
"Ha—hai" Mark balik menyapa. Merutuk dirinya sendiri yang terdengar begitu gugup.
"Kamu mengintipku kemarin" ucapnya.
"A—aku tidak! Aku hanya tidak sengaja melihat! " Oh. Tidak seharusnya Mark bersuara sekeras itu. Jendela balkon mereka hanya berjarak tiga meter dengan pagar pembatas teras nyaris dua jengkal orang dewasa.
"Tidak sengaja melihat dan kamu malah menikmatinya. Dan ketika tertangkap, malah sembunyi" balasnya terdengar ketus.
"Maaf aku—tidak akan mengulanginya lagi" Mark berusaha agar terdengar begitu menyesal. Entahlah. Apa terdengar cukup menyesal. Mungkin. Karena yang Mark lihat sosok itu tengah terkekeh dengan suara renyahnya.
Rambut hitamnya bergerak tertiup angin. Kulit sewarna madu yang tertimpa matahari pagi. Dia bersinar. Kenapa terlihat begitu indah?
"Mark? Sedang apa? "
Mark menoleh dan menemukan kakak iparnya berdiri di pintu kamar dengan nampan di tangan.
"Uh. Hanya menikmati matahari pagi" jawabnya. Malu mengakui dirinya mengobrol dengan tetangga dan terpesona hanya karena tawa renyahnya.
"Jangan terlalu banyak bergerak okey. Kakimu belum sembuh. Ingat kata dokter" peringatnya sembari menata sarapan untuk Mark di atas meja.
"Dimengerti kakak iparku yang paling cantik" jawab Mark disambut kekehan wanita cantik itu yang berusaha membantu Mark untuk duduk di sofa.
"Kak Chitt, sudah berkunjung ke rumah tetangga sebelah? " tanya Mark menyempatkan melihat ke jendela. Tapi dia sudah tidak ada disana.
"Belum. Rencananya besok sore sehabis kakakmu pulang. Kenapa? Mau ikut? Jangan dulu ya. Istirahat saja. Masih banyak waktu untuk berkenalan dengan tetangga... " ucap Chitta. Dirinya hanya ingin Mark banyak istirahat untuk saat ini. Kakinya belum sembuh akibat dari kecelakaan yang dialaminya satu bulan yang lalu.
"Tapi bosan di rumah terus" keluhnya menghempaskan punggung ke sandaran sofa.
"Kan kemarin keluar rumah"
"Maksud kakak keluar rumah untuk pindah kesini? " dengus Mark jengkel mendengar tawa kakak iparnya.
"Kamu bebas pergi kemanapun ketika sembuh nanti. Jadi, sekarang habiskan sarapanmu dan istirahat. Okey, big boy?"
Helaan nafas terdengar berat. Mark menatap kakinya dan terlihat cukup buruk. Kata dokter tulangnya retak. Kembali merutuki pemilik mobil ugal-ugalan yang menabraknya di pertigaan jalan. Seharusnya dia mendengarkan kakak iparnya sore itu.
Kalau kata kakaknya, Johnny, "Masih untung retak, kalau patah gimana? Bagus kalau bisa diperbaiki. Kalau tidak? Mau cacat seumur hidup? Lain kali dengar kata kakak iparmu" dan Mark masih ingat penggalan ceramah panjang kakaknya itu.
"Mark? Hei! "
"Huh? Ya, kak? "
"Jangan lupa obatmu diminum. Kakak ke bawah dulu" ucap Chitta menyempatkan mengusap rambut Mark.
Mark trsenyum kecut melihat obat di samping menu sarapannya. Boleh dibuang tidak?
°°°
Mark terbangun ketika mendengar suara piano dan nyanyian merdu. Pukul lima sore. Apa Johnny dan Chitta sedang di rumah tetangga sebelah? Bertanya-tanya Mark meraih tongkatnya dan melangkah pelan menuju jendela. Disana sang pemilik kulit sewarna madu tengah terpejam menghayati permainannya.
Dan Mark hampir terjungkal ketika mata itu terbuka dan menatapnya tanpa ekspresi. Tidak sempat menutup tirai dan sembunyi di balik tembok seperti kemarin. Karena sosok itu sudah menyongsong ke jendela berjarak tiga meter mereka.
"Kamu mengintip lagi" ucapnya berkacak pinggang.
"Uh— Kupikir itu tidak masuk ke dalam kategori mengintip. Karena aku tidak melihatmu secara sembunyi" membela dirinya sendiri, Mark berusaha suaranya tidak terdengar gugup seperti kemarin pagi.
"Oh. Kupikir kamu akan menyesal dan minta maaf seperti kemarin" balasnya mencibiri pembelaan Mark.
"Suaramu bagus" Mark berharap pujiannya terdengar tulus. Karena yang ingin diucapkannya adalah "Suaramu sangat indah. Boleh kudengar sekali lagi? " Mark tidak ingin terdengar seperti laki-laki penggoda di hadapan sosok yang bahkan masih menggunakan seragam sekolahnya.
"Uh. Terimakasih? "
"Sama-sama" balas Mark. Seharusnya tidak secanggung ini. Seharusnya Mark bertanya siapa namanya. Atau seharusnya Mark memperkenalkan dirinya. Bukannya bertanya tentang kunjungan kakaknya.
"Apa kakakku berkunjung? "
"Ya. Mereka datang sebelum aku pulang. Sempat berkenalan dan kupikir sekarang mereka sudah di rumah lagi" balasnya sembari menyender di bingkai jendelanya. Mark mengangguk mengerti. Dan kemudian hening.
"Mark! "
Seruan itu mengagetkannya.Menoleh dan menemukan Johnny di pintu kamarnya.
"Apa? " tanyanya ketus.
"Aku bilang, dokter memajukan jadwalmu jadi besok pagi. Tidak dengar, ya? " tanya Johnny lagi dan menatap Mark yang tengah berdiri di jendela kamarnya.
"Dengar kok"
"Oh. Jangan lupa obatmu. Kamu tadi tidur. Pasti belum minum" ucap Johnny.
"Iya-iya. Nanti diminum"
"Sekarang Mark"
Mendengus mendengar perintah itu, Mark tetap beranjak menuju nakas di samping tempat tidurnya dan mengambil obat untuk diminum.
"Ingin cepat sembuh, kan? "
Tentu saja Mark ingin cepat sembuh.
°°°
"Tadi pagi jadi ke dokter? " tanya si kulit madu ketika melihat Mark sudah duduk di kursi teras balkonnya dengan gitar di tangan. Kali ini Mark tidak terkejut kok. Dia sudah sempat melihatnya masuk ke dalam kamar dengan keripik di tangan.
"Jadi kok" jawab Mark memetik gitarnya pelan.
"Apa kata dokter? Dan kenapa kaki kamu bisa begitu? "
"Kata dokter sembuhnya masih agak lama karena retaknya lumayan. Kalau kata kak Johnny sih aku begini karena durhaka tidak dengar nasehat kak Chitta. Kecelakaan. Seharusnya aku diam saja di rumah sore itu" ucap Mark mengenang kejadian satu bulan yang lalu.
"Lain kali dengar nasehat yang lebih tua. Rugi sendirikan" ucapnya menatap kaki Mark prihatin.
"Ya rugi, aku tidak bisa lompat ke balkon kamarmu" balas Mark terkekeh melihat ekspresi aneh anak itu mendengar ucapannya.
"Apa sih? Rumahku masih ada pintunya. Kenapa juga harus lompat balkon? "
"Supaya lebih mudah. Kalau kamu lagi menari atau menyanyi, aku bisa langsung lihat. Lewat pintu nanti lama. Kamu keburu selesai" jawab Mark yang ujung-ujungnya merutuk dalam hati. Kenapa dirinya terdengar seperti sedang menggoda tetengganya?
"Apasih? Kalau mau lihat, nanti bisa datang ke sekolahku. Kami akan mengadakan festival" ucapnya secara tidak langsung mengundang Mark.
"Kamu ikut festival sekolah? " tanya Mark. Oh! Tidakkah ini terdengar terlalu antusias? Tolong Mark, biasa saja. Kepalanya bersuara kemuadian.
"Iya. Aku anak teater ngomong-ngomong" jawabnya memberi tahu. Mark mengangguk paham. Pantas saja bisa menari dan menyanyi. Oh. Dia lebih dari bisa. Mark menambahkan dalam hati.
"Aku ingin sekali datang" ucap Mark menatap kakinya penuh sesal sekali lagi. Memang seharusnya dia dengar nasehat Kak Chitta.
"Makanya. Cepat sembuh ya, Kak Mark..." balasnya. Mata Mark membola. Cepat sembuh Kak Mark, katanya. Cepat sembuh. Kak Mark. Kak Mark. Kak Mark. Dia tahu namaku! Ya Tuhan, dia tahu namaku! Mark berteriak dalam kepalanya. Entah kenapa terdengar begitu lembut kala bibir itu terucap namanya. Dan Mark tak dapat menahan senyum lebarnya. Tak apa dikatakan aneh oleh tetangga manisnya. Manis. Manis. MA—NIS—NYA.
"...Mark! Hei! "
Mark menoleh dan menemukan Johnny menghela nafas menatapnya.
"Apa, Kak? " tanyanya.
"Aku dan Chitta mau mengunjungi ayah dan ibu. Sekalian nanti ke rumah sakit. Ingin ikut? " tanya Johnny terdengar sangat hati-hati.
"Kakak dan Kak Chitt pergi berdua saja. Aku— Aku akan berkunjung nanti" jawab Mark setelah Johnny menunggu cukup lama.
"Okey. Kakak akan telepon Jeno dan memintanya kesini untuk menemanimu" putus Johnny tersenyum kepada Mark yang juga tersenyum penuh permohonan maaf.
Jeno datang setengah jam kemudian. Menemukan Mark masih bersama gitarnya duduk di teras balkon kecil kamarnya. Ikut duduk disana menatap jendela balkon kamar seberang.
"Mau menyelesaikan Road Trip? Biar kubantu. Katanya ini untuk hadiah ulang tahun" ucap Jeno dalam keheningan mereka. Dan gelengan diterimanya.
"Belum bisa. Bukan. Tidak bisa. Atau mungkin aku akan menyelesaikannya nanti" jawab Mark.
"Atau mau kumainkan penggalan Road Trip yang sudah jadi? " tanya Jeno mengambil gitar dari tangan Mark.
"Mainkan yang lain saja" Mark menolak. Jeno menyetujui untuk memainkan lagu lainnya. Lagu favorit mereka. Dan Mark mendengar Jeno bergumam menyanyikan lirik dengan suara beratnya.
"Kenapa tidak mau ikut Kak John dan dan Kak Chitta? Tidak rindu? " tanya Jeno masih terus memetik gitar milik Mark.
"Kamu tahu alasannya, Jeno. Jadi jangan tanyakan hal yang sama lagi" Mark mendengus. Banyak yang bertanya hal yang sama. Dan selalu dijawab dengan alasan yang sama. Jadi Mark ingin mereka berhenti menanyakan hal yang sama kepadanya. Seharusnya mereka tahu seberapa banyak Mark merindu.
•••
"Kupikir Kak Mark akan datang. Padahal sudah kuundang" ucapnya dipenghujung sore kesekian setelah undangan untuk datang ke festival ketika mereka kembali mengobrol dari teras balkon.
"Kamu tahu keadaan kakiku" Mark memelas. Oh. Dia ingin datang kok. Tapi kaki ini akan menyulitkannya untuk berjalan.
"Kan bisa ajak teman. Mungkin yang kemarin kulihat duduk bersama disitu" balasnya menunjuk dengan bibir hatinya.
"Oh. Jeno? " tanya Mark mengingat kemarin yang datang menemuinya adalah Jeno.
"Aku tidak tahu. Kan tidak berkenalan" jawabnya.
"Dia bisa dan mau saja menemaniku. Tapi dia ada kencan hari ini. Pacarnya nomor satu dan aku bahkan tidak ada dalam daftar" Mark seakan mencibiri Jeno yang berubah menjadi budak cinta sejak berkencan empat bulan yang lalu.
"Jadi Kak Mark bukan tipe pacar yang akan jadi budak cinta, ya? "
"Tidak tahu. Aku tidak punya pacar" jawab Mark. Tidak bohong kok. Dirinya memang benar-benar tidak punya pacar. Terakhir putus seingatnya ketika dia akan naik ke kelas dua. Dan sekarang sudah lulus dan akan masuk kuliah beberapa minggu lagi. Oh. Ternyata dia sudah tidak berkencan selama itu. Tapi jika diingat lagi, dia dulu tidak setergila-gila itu dengan mantan pacarnya.
"Kupikir Kak Mark salah satu cassanova di sekolah dulu" ucapnya menaikkan sebelah alisnya meminta persetujuan.
"Tidak! Aku bukan tipe yang seperti itu" sangkal Mark. Oh, tidak ingatkah dirinya yang sempat merayu untuk melompati balkon sore itu?
"Ya ya aku percaya" balasnya nyaris lebih terdengar seperti ejekan.
"Bagaimana festivalnya? " tanya Mark kemudian sekedar mengalihkan.
"Sangat sukses. Aku tampil sebagai penutup membawakan lagu yang Kak Mark dengar waktu itu. Aku menerima banyak sorakan dan tepuk tangan" jawabnya terdengar begitu antusias. Kentara sekali dia sangat bahagia untuk pencapaiannya.
"Boleh kudengar sekali lagi? " dan kemudian Mark menyesal bertanya. Tidakkah itu terdengar begitu memelas meminta untuk dikabulkan?
"Bagaimana dengan Kak Mark bermain gitar dan aku menyanyi? " dan dia menawarkan hal lain yang tidak pernah Mark duga. Sebuah duet.
"Boleh. Ingin lagu apa? " Mark meraih gitarnya dan memetik sedikit untuk pemanasan.
"Aku ingin I like me better. Boleh? " tanyanya.
"Tentu saja boleh! " tapi seruan ini hanya ada dalam kepala Mark. Dia tidak menjawab dan hanya langsung memetik gitar. Suara merdu itu menyambut kemudian. Ingin sekali Mark berucap, aku juga suka diriku ketika bersamamu. Dan Mark tidak akan bohong jika dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan tetangga manisnya, pemilik suara penghantar untuk tidur lelapnya.
Mark terbangun ketika jam sudah menunjuk angka delapan dengan gitar masih di pangkuan. Langit sudah gelap dan tak ada bulan maupun Bintang. Tubuhnya terasa kaku ketika mencoba bangkit dari kursi di teras balkon kamarnya. Ditatapnya piring kecil kosong di atas meja yang sebelumnya berisi obat. Mark selalu bertanya, bolehkah sekali saja tidak diminum? Mark hanya tidak ingin tertidur setelahnya dan terbangun untuk kembali sendirian.
°°°
"Kamu meninggalkanku tertidur kemarin" ucap Mark ketika mereka memutuskan melihat bintang bersama dari teras balkon kamar masing-masing.
"Aku hanya tidak tega membangunkan" balasnya. Karena nyatanya tidur Mark memang sangat lelap sore kemarin.
"Uh. Harusnya aku berhenti meminum obat yang diberikan Kak Chitta. Itu membuatku mengantuk" rutuk Mark menyalahkan kakak iparnya. Bukankah seharusnya menyalahkan dokter? Atau bahkan dirimu sendiri? Duh, ya ampun Mark! Kepalanya kembali bersuara.
"Berhenti menyalahkan orang lain untuk kesalahanmu sendiri, Kak" ucapnya mencibiri kaki Mark yang cidera.
"Oh, terimakasih sudah mengingatkan" sarkas Mark disambut kekehan gelinya yang terdengar begitu candu.
"Kudengar tiga minggu lagi perkuliahan akan dimulai. Jadi Kak Mark ada di fakultas apa? " tanyanya terdengar penasaran
"Aku mengambil Ekonomi Bisnis. Tebak cita-citaku jadi apa? " Mark bertanya padanya dengan senyum dan binar di mata berharap mendapat jawaban yang benar.
"Pengusaha? " tebaknya dengan nada bertanya tak yakin.
"Deng! Penulis. Aku ingin jadi penulis" ucap Mark yang disambut teriakan tak terima dari teras balkon kamar seberang. "Kak, dari Ekonomi Bisnis menjadi penulis itu jauh sekali tahu! Kamu pasti bohongkan?! " dan Mark tertawa karenanya.
"No! Aku benar-benar ingin jadi penulis. Membuat sebuah novel terdengar keren. Aku sudah membayangkannya sedari kecil" ucap Mark disela tawanya yang disambut tatapan kesal bercampur tak percaya si manis.
"Kupikir Kak Mark ambil musik. Soalnya terlihat suka sekali dengan musik. Oh! Aku juga tidak sengaja dengar kalian, kamu dan Jeno bicara tentang penulisan lagu di situ"
"Oh! Ketahuan kamu menguping! " seru Mark menggoda.
"No! Hanya tidak sengaja dengar, Kak Maaaarkkk" rajuknya.
"Iya-iya tidak sengaja" kekeh Mark tidak tahan ingin sekali melompat ke teras balkon kamar seberang untuk mencubiti pipi berisi itu. "Aku dan Jeno punya band di SMA. Namanya NightMare. Anggotanya lima. Jeno bermain gitar, kadang drum. Aku juga bermain gitar dan kadang jadi vokalis" Mark menjelaskan.
"Kenapa namanya NightMare? "
"Jeno yang memberi nama. Katanya berkumpul bersama kami itu seperti mimpi buruk" jawab Mark diiringi kekehannya. Ya, seperti mimpi buruk ketika menghadapi sifat teman-temannya yang lebih dari kata aneh.
"Boleh kudengar Kak Mark menyanyi? " tanyanya lagi.
"Boleh... " dan Mark menemukan binar senang di sana. "Tapi jadi pacarku dulu" sambungnya dan binar senang itu berubah seketika.
"Jangan bercanda. Kak Mark mau dipukul, ya? " rengutnta.
"Sunshine, aku serius. Setelah kakiku sembuh, ku ajak kencan ya" itu sebuah pernyataan dan Mark serius kok. Tapi yang tadi tidak terdengar seperti menggoda, kan?
"Tidak tahulah, Kak" gumamnya membawa rona merah di wajah dan meninggalkan Mark sendirian di sana.
Dan Mark berpikir untuk berterimakasih pada Tuhan untuk Bintang malam ini. Pada Johnny untuk rumah ini. Oh! Mungkin juga untuk teras balkon kamar ini. Dan membisikkan, "Kaki, cepat sembuh, ya" kemudian.
"Mark! Dengar tidak sih?! " setak Chitta menepuk pundak Mark.
"Uh, ya kak? " tanyanya linglung.
"Tidak dengar ya dari tadi kakak suruh masuk? " tanya Chitta.
"Uh, sorry... "
"Ayo masuk. Sudah malam. Tutup jendelanya juga. Tidak dingin dari tadi disana terus? " Chitta meraih lengan Mark untuk dirangkulnya masuk ke kamar.
"Sudah biasa. Jadi tidak terasa" jawabnya mengiringi langkah Chitta.
"Istirahat Mark. Sembuh itu butuh istirahat. Minum obat juga"
"Iya Kak Chitt, iya... "
"Tapi dilanggar terus. Kapan sembuhnya kalau begitu? " cicit Chitta yang masih didengar baik oleh Mark.
"Maaf ya, Kak Chitt... "
°°°
"Sunshine sedang tidak ada" ucapnya yang muncul tiba-tiba dari balik tirai. Mark kaget sungguh. Baru saja dia keluar ke teras balkon sudah disambut seperti itu.
"Maaf membuatmu kaget" kekehnya.
"It's okey. Aku hanya kaget sedikit" balas Mark.
"Aku Renjun, teman Sunshine. Dia baru saja keluar. Aku tinggal di seberang sana, jadi sering melihat kalian mengobrol disini" ucapnya menunjuk rumah seberang. Mungkin dia bisa melihat dari kamarnya, pikir Mark.
"Aku Mark... "
"Tahu kok. Sunshine–mu sering bercerita. Katanya ada tetangga baru yang ketahuan mengintip dua kali. Kata Sunshine kakimu sedang cidera dan karena itu kalian sering mengobrol disini. Dan kata Sunshine, Kak Mark mengajak kencan setelah kakimu sembuh. Dan Sunshine bercerita itu sekitar satu bulan yang lalu. Jadi sudah diajak? " tanya Renjun seperti tengah menggodanya dengan entah berapa kata Sunshine keluar dari mulut itu. Uh, Mark memang sering memanggilnya Sunshine sejak melihat bintang bersama malam itu. Dan Mark belum sama sekali membicarakan tentang ajakan kencan spontannya itu lagi disela obrolan mereka dari teras balkon. Cidera kakinya sudah membaik. Kata dokter hanya jangan terlalu kelelahan dan perkuliahan juga sudah dimulai sejak satu minggu yang lalu. Diingatnya pacar Jeno sempat membicarakan pasar malam dua hari yang lalu di kampus. Haruskah dirinya ajak kesana saja? Tidak terlalu burukkan? Mungkin nanti mereka bisa naik bianglala sambil dia menyatakan cinta. Ah! Kenapa agenda kencanmu biasa sekali Mark Lee?! Ayo pikirkan satu yang romantis lainnya.
"...Mark! Hei, Kak Mark! "
"Uh, ya? Renjun? "
"Kamu melamun. Aku memanggilmu dari tadi" ucap Renjun menghela nafas.
"Aku hanya teringat sesuatu" gumam Mark.
"Jangan melamun terus, Kak Mark. Dan aku harus pergi sekarang. Aku sudah menemukannya" Renjun memperlihatkan barang di tangannya dan Mark hanya mengangguk menanggapi. "Dan uh, jendelanya kututup ya, Kak Mark. Sunshine belum kembali... " lirihnya meminta persetujuan Mark.
"Ya, Renjun. Kamu bisa tutup jendelanya. Aku juga akan masuk sekarang" Mark memberi persetujuan dan berbalik dengan masih mendengar ucapan, "Sunshine menunggu, jadi sampai jumpa, Kak Mark"
"Sampai jumpa" balasnya dalam hati.
°°°
"Kamu cerita dengan Renjun ya, kalau kita sering mengobrol disini? Dia juga tahu panggilan Sunshine. Tidak mungkinkan dia bisa dengar dari sana" ucap Mark menunjuk rumah Renjun di malam berikutnya ketika mereka mengobrol dengan kursi menempel pada pagar pembatas balkon masing-masing.
"Renjun? Kak Mark kenal Renjun? " tanyanya dengan telinga memerah. Mungkin merasa malu sudah ketahuan sering cerita dengan sahabatnya.
"Kami berkenalan dua hari yang lalu. Dia muncul disana waktu kamu tidak ada" jawab Mark menunjuk teras balkon kamar seberang dengan dagunya.
"Oh, waktu dia mengambil buku" gumamnya yang didengar Mark.
"Jadi kamu memang sering cerita? Dia juga bertanya tentang ajakan kencan" kekeh Mark seperti tengah menggoda.
"Kak Mark, kalau lain kali bertemu Renjun lagi, tidak usah dengar ocehannya, ya" pintanya dengan wajah memerah.
"Kenapa tidak boleh? " tanya Mark kembali menggoda.
"Malu tahuuu... " cicitnya menutupi wajah dengan tangan.
"Sunshine, tahu tidak? Aku serius tentang ajakan kencan waktu itu. Begitu juga perihal menjadi pacar" ucap Mark menjaga nada suaranya agar terdengar serius. Mark memang serius. Dia sudah jatuh terlalu dalam dan tak tahu sampai kapan bisa menahannya.
"Kalau aku jadi pacar Kak Mark, nanti dapat apa? " tanyanya setelah hening beberapa saat.
"Apapun. Apapun, Sunshine... " jawab Mark.
"Kalau begitu, boleh aku lompat kesana sekarang? " tanyanya lagi mengejutkan Mark hingga berdiri dari duduknya. "Mau peluk. Mau dengar Kak Mark menyanyi juga..." sambungnya sebelum Mark sempat bersuara.
"Kak Mark sudah janji waktu itu" senyumnya merekah membuat Mark taj dapat berkata-kata mengingatkannya akan ucapan satu bulan yang lalu. Perihal dia akan menyanyi kalau sudah menjadi pacar.
"Jadi boleh kesana sekarang? " kembali bertanya ketika Mark tak kunjung bersuara.
"Kamu benar-benar mau lompat? " tanya Mark akhirnya.
"M-hm. Kalau Kak Mark yang kesini, nanti cidera lagi" jawabnya menatap kaki Mark yang belum sembuh sepenuhnya.
"Nanti kalau kamu jatuh bagaimana? " Mark bertanya khawatir.
"Just give me your hand" balasnya dan Mark menjulurkan tangan meraih ketiaknya ketika dia menaikkan kaki ke pagar pembatas balkon. Terkekeh senang kemudian setelah berhasil berdiri di teras balkon milik Mark.
"Jadi boleh kudapat pelukkanku sekarang?" tanyanya menatap Mark yang lebih tinggi beberapa centi. Mark membentangkan tangan dan menerima sebuah pelukan kemudian.
"Jadi sudah boleh kupanggil pacar? " tanya Mark dalam pelukan mereka.
"Aku lebih suka dipanggil Sunshine" balasnya.
"Padahal aku sudah merancang satu yang paling romantis untuk momen ini" ucap Mark teredam anak-anak rambut yang diciuminya. Kalau dipikir-pikir cara mereka saat ini memang tidak ada romantisnya sama sekali.
"Oh ya? Boleh kutahu? " suaranya begitu antusias penasaran dan kemudian mengurai pelukan mereka.
"Aku sudah memesan tempat untuk makan malam di restoran tepi pantai. Kita bisa menikmati matahari terbenam sebelum makan malam. Juga iringan piano ketika kita makan" jelas Mark.
"Terdengar romantis" bisiknya.
"Aku juga sudah menyiapkan kata-katanya..." tambah Mark.
"Boleh kudengar sekarang? " tanyanya.
"Oh, aku harus bersiap kalau begitu" Mark mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kemudian. "Apa aku harus berlutut? " Mark malah bertanya pertanyaan bodoh yang dihadiahi tawa kemudian.
"No. Kamu bukan lagi lamar aku, Kak. Just hold my hand" ucapnya mengulurkan tangan yang disambut genggaman lembut oleh Mark.
"Sunshine, maybe our first meeting wasn't the best. You just found me watching you dance secretly. I thought you would be angry then. But you laughed so softly after greeting me. And I find myself admiring you . Asking myself, why he's so beautiful? And I know I'm in love. We only talk through the balcony terrace. Hear your voice. Hear your laugh. See your smile. I'm lost in your world. I found again that you are so beautiful. And I did fall in love. Imagining you singing to my lullaby sounds so perfect. And I'm never wrong, I fell asleep then. Imagining your skin on my fingertips, you in my arms, sounds too perfect too. Again, you are just too beautiful. And I fell in love so deeply. So let me fall even deeper. And sunshine, will you accompany me?" Mark berucap dalam suara paraunya. Matanya terasa begitu panas. Dia memang hanya sedang jatuh Cinta begitu dalam.
"Kamu tidak sendirian, Kak. Aku juga jatuh. Jadi akan kutemani sedalam apapun kamu jatuh... " balasnya meraih wajah Mark dan menghapus air mata itu. "Jangan menangis. Nanti aku menangis juga... " kekehnya kemudian.
"Air matanya keluar sendiri... " ucap Mark meraih tangan yang masih sibuk mengusapi air matanya.
"Apa-apaan air mata keluar sendiri. Sudah, ah! Aku mau dengar Kak Mark menyanyi sekarang untukku" cebiknya dan Mark tertawa.
Berakhir dengan mereka duduk bersama di teras balkon. Mark menyanyikan lagi I like me better bersama iringan gitarnya. Dan lagu-lagu lainnya sebelum mereka beranjak ke kasur.
"Boleh kuminta makan malam di tepi pantai itu sebagai kencan pertama kita? " tanyanya mengingat kembali perihal tempat yang sudah dipesan Mark.
"Tentu. Aku akan menjemputmu di rumah dua hari lagi" balas Mark.
"I love you, Kak Mark... " bisiknya di penghujung malam dan Mark menjawabnya dengan sebuah ciuman sebelum mereka jatuh tertidur kemudian. Dia akan mimpi Indah malam ini, kan?
"Mark... Wake up. Hei..."
"Ugh... Kak Chitt? " suara paraunya mendengung menemukan Chitta duduk di tepi ranjang. "Jam berapa? " tanyanya kemudian.
"Jam sebelas. Tidur jam berapa semalam? " Chitta balik bertanya dengan tangan yang sibuk merapikan rambut berantakan Mark.
"Tidak ingat" balasnya.
"Cuci muka sana. Terus turun ke bawah untuk sarapan" Chitta beranjak dan memberi kecupan sebelum keluar.
"Iya, Kak..."
"Oh! Nanti kita mau ke tempat ayah dan ibu. Kebetulan kakakmu pulang cepat hari ini. Setelah itu ke rumah sakit. Mau ikut? " tanya Chitta dari ambang pintu mengingat kembali agenda kunjungan mereka.
"Aku— harus menyelesaikan sesuatu. Jadi mungkin lain kali, Kak... "
"Okey. Lain kali kamu ikut ya. Mereka pasti rindu... " lirih Chitta sebelum menutup pintu kamar Mark.
"Aku juga rindu, Kak Chitt... " balas Mark menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.
°°°
"Kamu meninggalkanku untu bangun sendirian tadi pagi" ucap Mark ketika melihat pacarnya mendekati pembatas teras balkon dengan masih menggunakan seragam sekolah.
"Kamu tidur nyenyak. Jadi aku tidak tega" balasnya setelah duduk di kursi dan menumpu dagu di pagar pembatas.
"Sunshine, jangan bilang kamu kembali kesana dengan melompat lagi! " serunya berharap mendapat jawaban tidak.
"Kalau aku pulang lewat pintu dan bertemu Kak Chitta atau Kak Johnny bagaimana? Aku tidak mau disangka aneh-aneh ya, Kak"
"Tinggal katakan kamu pacarku"
"Malu tahu, Kakkkk" rajuknya dan Mark tertawa. Kenapa dia terlihat begitu menggemaskan?
"Can I touch you? " tanya Mark kemudian. Dan dia mengulurkan tangan agar bisa Mark sentuh dan genggam. "Aku sekarang masih berpikir kalau semua ini mimpi. Yang terjadi semalam sebenarnya hanya mimpi. Tapi setelah merasakanmu dalam genggamanku lagi, aku percaya kalau ini nyata. Kamu nyata dan kamu milikku... "
"I love you, Kak Mark... " bisiknya dan Mark semakin percaya kalau ini nyata.
"I love you too, Sunshine... "
Dan air mata Mark berderai setelahnya. Tak lagi sanggup menahan sesuatu yang terasa begitu menghimpitnya dari dalam. Terisak keras dan dan menggumamkan I love you too sebanyak yang dia bisa.
"Kamu tahu seberapa banyak aku cinta. Kamu tahu, Sunshine... " raungnya kepayahan dalam tangis.
"Kak Mark, hei... "
Mark menoleh setelah merasakan tarikan kuat di lengannya dan menemukan Renjun disana yang langsung membawanya dalam sebuah pelukan.
"Bernafas Kak Mark. Bernafas... " bisiknya setelah tahu Mark kepayahan dalam nafasnya. "Pelan-pelan... " dan dia memberi usapan penenang di punggung laki-laki itu.
"Kamu melamun lagi menatap jendela seberang tadi, Kak. Aku lihat dari kamarku. Dan kamu menangis. Biasanya tidak begitu. Aku khawatir. Aku langsung kesini dan bertemu Kak Jeno di depan. Katanya Kak Chitta dan Kak Johnny pergi ke tempat ayah dan ibu kamu dan mau ke rumah sakit juga..." Renjun berucap menatap Jeno yang berdiri kaku di sebelah mereka. Laki-laki itu teringat kembali tangisan dan raungan yang sama waktu itu.
"Ayo pergi... " lirihnya tersendat kepayahan dalam pelukan Renjun.
"Kemana? " Renjun bertanya hati-hati.
"Ayo pergi... Atar aku. Antar aku menemui ayah dan ibu... Menemui Haechan juga... " tangisnya kembali pecah setelah tak pernah menyebut nama itu nyaris enam bulan.
"Iya, ayo pergi... " tangis Renjun ikut pecah kemudian setelah mendengar Mark menyebut nama Haechan. Ketakutan terbesarnya. "Kak Jeno yang akan antarkan kita kesana... " Renjun melirik Jeno yang diam-diam menghapus air matanya.
"Ayo... " Jeno merangkul Mark dan membantunya berjalan keluar. Bersyukur tadi dirinya menerima permintaan Johnny untuk menemani Mark. Jika tidak, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
———
Masih segar dalam ingatan Mark ketika dia mengajak Haechan pergi menjemput ibunya ke bandara sore itu. Bagaimana laki-laki itu mengatakan rasa gugupnya ketika melihat ibunya melambai pada mereka. Bagaimana ibunya menyapa dengan nada menggoda, "Jadi ini Sunshine yang kakakmu ceritakan?". Bagaimana Haechan menunduk menahan malu sebelum ditarik ibunya dalam sebuah pelukan dan bertanya, "Mark memperlakukanmu dengan baikkan? ". Bagaimana ibunya membawa Haechan dalam gandengannya menuju mobil dan meninggalkan dirinya sendirian menarik koper di belakang. Bagaimana ibunya menyukai Haechan dalam sekali pertemuan. Bagaimana mereka menertawai masa kecilnya setelah ibunya bercerita. "Jadi Kak Mark suka kentut sembarangan? ", bagaimana Haechan tertawa geli padanya setelah ibunya mengatakan keburukan yang lainnya. Bagaimana dirinya menarik pipi berisi itu ketika ejekannya tak berhenti.
Semua bagaimana sebelum sebuah mobil mengahantam mobil mereka dengan kuat. Bagaimana kemudian teriakan ibunya dan Haechan sebelum mobil mereka terbalik. Bagaimana kemudian usahanya untuk menoleh hanya untuk menemukan darah mengaliri wajah Haechan dan ibunya yang terjepit badan mobil di belakang. Bagaimana kemudian dia meraung berusaha melepas sabuk pengaman sebelum gelap menjemputnya.
"Kak Mark, sudah sampai... " ucap Renjun pelan pada Mark yang terisak di sampingnya. Jeno membuka pintu kemudian dan membantu Mark melepas sabuk pengamannya.
"Pelan-pelan. Aku pegang kamu, jangan khawatir... " Jeno merangkul Mark dan menuntunnya berjalan pelan-pelan. Tujuan mereka sudah di depan mata dan hal itu hanya membuat tangis Mark semakin terdengar.
"Kita akan menunggu disana. Take your time, Kak Mark... " ucap Renjun meletakkan masing-masing satu buket bunga yang sempat mereka beli disana. Menarik Jeno agak menjauh kemudian.
Mark berjongkok menutupi wajah menangisinya. Kembali bernafas kepayahan dan Renjun datang menghampiri mengusap punggungnya membimbing untuk bernafas.
"Bisa temani aku disini? " pintanya tersedak dalam tangis. Dan Renjun menjawab ya untuk permintaan sederhana itu. Meminta Jeno untuk ikut mendekat kemudian.
"Tenang, Mark... Pelan-pelan saja... " bisik Jeno menenangkan. Dia mengerti ini sulit. Tapi Jeno bersyukur setidaknya Mark sudah berusaha melawan rasa sakitnya. Ketakutannya. Rasa bersalahnya.
"Selamat sore, ayah ibu... Aku datang... " bisiknya mengusap hati-hati dua batu nisan itu. "Maaf baru berkunjung sekarang. Setiap bulan Kak John dan Kak Chitt selalu mengajak. Tapi aku selalu menolak. Aku takut—" dan kembali tersedak dalam tangisnya.
"—Aku ketakutan. Aku sudah membuat ayah kecewa. Kesalahanku tidak termaafkan. Dulu aku pernah berjanji pada ayah akan menjaga ibu, bahkan dengan nyawaku sekalipun. Tapi lihat yang kulakukan. Maafkan aku... Maafkan aku... " Mark tersedu berlutut di samping nisan ayahnya. Diingatnya kembali lima tahun yang lalu ketika ayahnya di rawat di rumah sakit. Bagaimana pria itu menitipkan wanita yang dicintainya untuk dijaga. Tapi lihat yang dilakukannya.
"Ibu... " Mark bergeser dan kembali mengusap penuh sayang nisan ibunya seolah-olah wajah wanita itu.
"Maafkan aku. Aku bukanlah anak yang bertanggung jawab. Aku bukanlah satu yang bisa dibanggakan. Maafkan aku sudah membuatmu terluka. Maafkan aku sudah membuatmu kesakitan. Maafkan aku sudah membuatmu pergi... " raung Mark menciumi nisan ibunya. Dia ingat ketika terbangun di hari berikutnya Johnny menghampiri dengan wajah sembab dan berkata, "Ibu sudah tidak ada". Telinganya berdengung saat itu dan dia kehilangan suara hanya untuk sekedar berteriak. Dia ingat ketika berlari hanya untuk tersungkur di lorong rumah sakit. Dia ingat ketika Johnny meraihnya dalam pelukan dan mereka meraung bersama disana. Dia ingat ketika Chitta berlutut di samping mereka dan ikut merangkul dalam tangisnya.
Dan Mark menghabiskan waktunya berbicara tentang rasa bersalah, ketakutan, dan penyesalannya di makam kedua orangtuanya.
"I love you. Both of you... " bisiknya mencium kedua nisan itu. "Aku harus menemui Haechan. Aku akan datang lagi besok... " dan kali ini dia tersenyum.
"Bolehkah aku menemui Haechan sekarang?" tanyanya pada Renjun setelah berdiri dibantu Jeno.
"Tentu, Kak Mark. Tentu... " balas Renjun tersenyum bahagia setelah sekian lama tidak mendengar nama itu disebut Mark dalam hari-harinya.
———
Kali kedua Johnny melihat adiknya bersujud di kaki ayah dan ibu Haechan setelah nyaris enam bilan lamanya. Didengarnya bagaimana Mark meraung memohon permintaan maaf untuk hal yang bahkan tidak dilakukannya. Didengarnya bagaimana Mark menyampaikan ketakutan dan rasa bersalahnya dalam tangis. Dilihatnya bagaimana ayah Haechan meraihnya agar berdiri dan memeluknya kemudian. Dan juga dilihatnya bagaimana Jeno dan Renjun diam-diam menghapus air mata mereka.
"Bukan salah kamu, Mark. Jadi berhenti terus menyalahkan dirimu. Berhenti terus merasa ketakutan untuk melihat Haechan. Tidakkah kamu rindu? Ayo temui dia. Sunshine merindukanmu... " ucap Ayah Haechan menepuk-nepuk punggungnya menenangkan.
"Aku juga rindu... " bisik Mark dalam tangisnya.
"Kalau begitu ayo temui Sunshine" ibu Haechan menghapus air matanya dan menuntun Mark memasuki ruangan itu.
Mereka mengikuti di belakang. Dan kembali mendengar tangisan Mark pecah tatkala mendapati Haechan di dalam. Duduk dan terisak di atas ranjang rumah sakit dengan pakaian pasiennya. Wajahnya pucat dan pipinya tidak seberisi dulu.
"Sunshine... " lirih Mark tak mampu lagi menahan kakinya untuk berdiri. Dia meraung keras bersahutan dengan Haechan disana.
"Haechan sudah bangun sejak lima hari yang lalu. Kakakmu melarang untuk memberi tahu dan kami mengerti. Kami juga takut kamu seperti dulu lagi jika membahas Haechan. Kami pikir Haechan harus kembali sehat dulu untuk bertemu kamu, Mark. Tapi nyatanya kamu sekarang disini... " dengan menggenggam kedua tangan Mark ibu Haechan berusaha menjelaskan. Masih diingatnya hari itu ketika Mark berlari menghampiri dan lantas bersujud di bawah kaki mereka untuk kali pertama. Meraung memohon pengampunan maaf. "Bukan salah kamu, Mark... " hanya itu yang dikatakannya saat itu setelah meraihnya untuk berdiri. Wajah itu begitu sembab dan berantakan. Ditebaknya saat itu dia langsung berlari ke rumah sakit setelah pemakaman ibunya melihat pakaian hitam yang masih melekat. Dan dia tahu sebanyak apa anak itu terluka.
"Kak Mark... " suara lemah itu memanggil dalam tangisnya. Dia seseguakan dan Mark tak sanggup melihatnya.
"Pergi hampiri Sunshine-mu, Mark" ucap ibu Haechan membantunya berdiri dan Mark melangkah pelan setelahnya. Dan Mark sadar setelah nyaris enam bulan batapa dia merindukannya.
"Kak Mark... " lirihnya lagi dan mengulurkan tangan yang tak tebalut selang infus. Mark menyambutnya dan lantas berlutut di bawah ranjang menciumi punggung tangan itu. Menggumamkan banyak kata maaf dalam tangisnya.
"Sunshine... Maaf aku baru datang padamu. Maaf tidak menemani dalam pesakitanmu. Maaf meninggalkanmu sendirian. Padahal akulah yang memberikanmu luka. Maaf... Maaf... "
"Bukan salah kamu, Kak. Tolong berhenti meminta maaf. Tolong berhenti merasa bersalah. Tolong berhenti merasa ketakutan... " pintanya lirih meraih wajah sembab Mark dan menghapus air mata itu. "Bisa aku dapat sebuah pelukan? ", tanyanya kemudian. Dan siapa mark hingga sanggup mengatakan tidak. Dia duduk di tepi ranjang dan meraih tubuh itu dengan hati-hati untuk dipeluknya.
"Sudah ya, Kak... Kamu menangis terlalu banyak hari ini. Tidak sakit matanya bengkak begitu? " tanya Haechan mengusap punggung Mark saat telinganya masih mendengar isakan lirih itu.
"Kamu juga menangis... " lirih Mark.
"Aku tadi dengar suara Kak Mark di luar. Menangis keras sekali. Rasanya dadaku sangat sakit. Dan aku mengerti. Aku merindukanmu begitu banyak... " ucapnya dan Mark mengerti, dirinyalah penyebab tangisan itu.
"Aku juga rindu, Sunshine... " bisik Mark mengurai pelukan mereka dan meraih wajah tirus itu untuk diciumnya. Tak peduli mereka yang tengah tersenyum bahagia di belakang sana.
Karena mereka tahu. Mereka mengerti sebanyak apa Mark terluka. Sebanyak apa Mark ketakutan akan rasa bersalahnya. Mereka bahagia setidaknya Mark sudah berjuang mencoba untuk berdamai.
Dan Johnny adalah yang paling bahagia. Masih segar di ingatannya ketika dirinya tahu mark dan Haechan menjalin hubungan. Sore itu dia tidak sengaja menangkap adiknya menarik wajah anak tetangga mereka dari balik pagar pembatas teras balkon dan menciumnya. Bertanya, "Apa yang kau lakukan? ", yang jelas mengejutkan mereka. "Mencium pacarku. Apalagi? ", dan Mark menjawabnya dengan wajah tak berdosa. Dirinya juga masih ingat dengan jelas betapa merah wajah Haechan saat itu.
Sekarang Johnny mengerti sedalam apa Mark terjatuh untuk anak tetangga mereka yang dipanggilnya Sunshine itu. Dan Johnny tak ingin lagi mengingat ke belakang. Ketika dia harus menemukan Mark nyaris overdosis obat tidur. Ketika Mark harus melewati konsultasi bersama dokter spesialis. Ketika Mark harus meminum obat untuk membuatnya rileks dan banyak beristirahat. Ketika Mark harus disadarkan saat sudah termenung menatap jendela kamar seberang yang selalu tertutup. Dia ingin Mark bahagia.
°°°
Let's go on a road trip
To place only we know
I'll go anywhere
Holding your hand tightly
Thousand of miles, nothing is decide
Lead by our hearts
Let's not stop, let's go anywhere
You and me in this time we'll follow together
For as long as always
We just need to share together like this
Somewhere, us together
I want to treasure this moment
Countless paths stretched out ahead of us
A map just for you and i
Let's go on a road trip
To place that's more like a dream than a dream
I want to share many more moments with you
Let's go on a road trip
Every moment by your side
"Happy birthday, Sunshine... Cepat pulih, ya. Supaya bisa pulang ke rumah dan mengobrol lagi di teras balkon kamar seperti biasa" ucap Mark setelah satu lagu dinyanyikannya dengan iringan gitar sebagai hadiah ulang tahun Haechan. Lagu yang diciptakannya.
"Terimakasih, Kak Mark. Jangan suka menangis diam-diam lagi, ya pacarnya Sunshine... " kekeh Haechan melihat wajah terkejut milik Mark. "Kak Chitta yang beri tahu" sambungnya kemudian.
"Renjun juga. Katanya Kak Mark menangis di depan pintu kamar sebelum masuk kemarin. Sudah ya, Kak Mark... Aku tidak apa-apa. Ibu kamu juga pasti bahagia di surga. Jadi, kamu juga harus bahagia disini" Haechan meraih wajah itu dan mengusapnya lembut.
"Nanti ayo mengunjungi ayah dan ibumu setelah aku pulang ke rumah. Aku ingin berterima kasih karena sudah membesarkan anak yang luar biasa ini" tambah Haechan setelah melihat Mark kembali berkaca-kaca.
"Iya, ayo nanti berkunjung. Aku juga ingin memperkenalkan sosok luar biasa yang kucintai ini kepada mereka"
Dan Haechan tertawa karenanya. "I love you, Kak Mark" ucapnya kemudian.
"I love you too, Sunshine... "
—Kkeut! —
