Work Text:
It’s just another ordinary day.
Hanya hari-hari biasa yang dihabiskan Minghao dengan monoton tanpa ledakan semangat di dada.
Rutinitas hariannya dimulai dengan menempuh perjalanan satu jam menuju kantornya di bilangan Sudirman, sampai di kantor pukul setengah 8 pagi dengan paper cup berisi kopi yang dibelinya di lobi, menyantap bubur di pantry sembari scrolling sosial media dalam keheningan, kemudian kembali ke kubikelnya pukul 8 tepat.
Lalu kembali lagi bekerja.
Tidak ada yang istimewa, tidak ada ingar bingar, tidak ada kejutan.
Biasa saja.
Bekerja sampai jam 12, istirahat, makan siang, kemudian diisi dengan sesi merokok di smoking area setelahnya.
Menjelang pukul lima sore, Minghao akan membereskan mejanya. Mematikan laptop, menaruh gelas kotornya di pantry, menyimpan berkas-berkasnya di laci meja, kemudian meraih postman bag cokelatnya.
Semua dijalani tanpa berpikir, semacam autopilot, seperti sudah seharusnya.
Seperti bernapas.
Dan siklus itu terus berulang setiap harinya, lima hari dalam seminggu.
And that’s the thing about working.
It made you stuck in groundhog day and took you into a vicious repetitive cycle.
Mungkin inilah alasan mengapa sebagian besar orang selalu berkata, hati-hati dengan 8-5 trap — working on a job you hate, 5 days a week, from 8 to 5.
Oh, koreksi.
Minghao tidak sepenuhnya benci dengan pekerjaannya.
After all, the pay and incentives are good — super good actually.
Seluruh kenyamanan dalam hidupnya yang ia nikmati saat ini adalah buah dari pekerjaan yang ia sebut membosankan ini.
Sesekali ia melambai pada rekan kerjanya dengan sopan. Kemudian berjalan menuju lift bersama dengan beberapa karyawan dari departemen lain.
Turun dari tempat kerjanya di lantai 24 is another struggle.
Lift selalu penuh dan aktivitas menunggu di depan pintunya sangatlah tidak menyenangkan.
Rekan kerja yang saling berkomentar satu sama lain, terjebak basa-basi yang basi, keluhan mengenai hari, and worst—kalau ada seseorang yang menyapa serta mengajaknya berbicara.
Ia tidak punya energi untuk itu.
Begitu sampai lobi, Minghao biasanya akan berjalan ke utara, menuju stasiun MRT yang akan membawanya kembali ke rumah.
Melalui barisan gedung, bersamaan dengan langkah berbalapan para pekerja.
Hari ini juga begitu.
Kemudian, di tengah hiruk pikuk kemacetan jalan, bunyi klakson mobil yang tak sabaran, serta deru rendah kendaraan, Minghao berhenti di depan trotoar bersama puluhan orang lainnya. Menunggu lampu penyeberangan berubah menjadi hijau.
Ia menengadah.
Sore ini, langit sedang cantik-cantiknya.
Merah dengan semburat awan berwarna oranye.
Terbentang luas, megah, seolah ingin memamerkan pesonanya pada para pekerja ibukota yang tengah berlomba untuk sampai ke rumah.
Dan bersama dengan senja, sebuah ingatan terlintas di benak Minghao.
“Hao, lo tau ngga, sih? Antoine de Saint-Exupéry di buku The Little Prince pernah bilang ‘When a person very, very sad, they like sunsets.’”
“Terus?”
“You like sunset.”
“And your point?”
“Are you sad, then?”
Minghao pertama kali berbagi kenangan dengannya pada suatu hari, di tanggal 21 Desember.
Di jalur yang sama, yang selalu ia lalui setiap hari—pagi dan sore—untuk menuju dan meninggalkan gedung kantor.
Di trotoar yang sama.
Di depan lampu penyeberangan yang sama dan di belakang garis tunggu yang sama.
Lelaki itu berdiri santai dengan setelan semiformalnya—kemeja rapi yang digulung sesiku, celana bahan yang membingkai kaki-kakinya yang jenjang, serta ransel yang disampirkan asal di salah satu pundaknya.
Tangan kanannya sibuk memegang ponsel sementara tangan kirinya tersimpan rapi di dalam saku celana.
Rambutnya hitam pekat, dengan anak-anak rambut yang menutupi dahinya.
Dari tempat Minghao berdiri, ia bisa melihat raut wajahnya berubah seiring dengan konten yang tengah dilihatnya di layar.
Sesekali senyumnya terulas, memamerkan kedua gigi depannya yang runcing.
Namanya Mingyu.
Anak baru Marketing, lulusan Penn Uni, dan menjadi karyawan termuda di departemen itu.
Minghao tahu karena namanya sering muncul di tengah percakapan rekan kerjanya di lift.
Nama yang terus bergaung, riuh, bahkan jauh sebelum Minghao mengetahui eksistensinya.
Semua orang berlomba-lomba ingin melihat Mingyu, mengetahui segala hal tentang Mingyu, dan bahkan berharap bisa mengenal Mingyu lebih dekat.
Minghao juga begitu.
Dalam diam, ia mengumpulkan informasi-informasi tentangnya (Mingyu suka tongseng di gedung sebelah. Mingyu selalu membawa botol minumnya sendiri setiap makan siang. Mingyu punya 1 adik perempuan.)
Dalam diam, ia mengagumi rekan kantornya. Menikmati setiap momen yang tanpa sengaja tercipta bersama—saat mereka satu lift, saat mereka bertemu di lobi tanpa sengaja, saat Minghao harus mampir ke lantai departemen Mingyu—sedikit berharap untuk bisa melihatnya atau bahkan berpapasan.
Minghao tahu, Mingyu sama sekali tidak sadar dengan keberadaannya dan mungkin, baginya, Minghao hanyalah satu dari sekian banyak karyawan yang ada di gedung ini.
Yang takdirnya tanpa sengaja beririsan, yang hanya menjadi figuran.
Tapi, pemeran utama juga bisa bersinar karena bantuan dari pemeran figuran.
Biarlah Minghao menikmati perannya sebagai figuran, yang akan membuat Mingyu, sebagai pemeran utama, semakin bersinar.
Pagi itu juga demikian.
Minghao ingat, ketika ia melihat Mingyu di depan trotoar, ia pikir hari itu tak ada bedanya dengan hari-harinya yang biasa.
Dan di tengah segala keriuhan, ketika lampu penyeberangan sudah berubah warna, banyak kenangan yang melintas di benak Minghao.
Tentang ia yang berusaha melebarkan langkah, berusaha menyusul Mingyu yang sudah berjalan jauh di depan sana.
Tentang ia yang dalam diam mengamati setiap langkah Mingyu dari belakang, bagaimana caranya berjalan, dan bagaimana aroma parfumnya yang terbawa angin pagi.
Tentang Minghao yang pelan-pelan berusaha menyamakan setiap langkahnya dengan langkah Mingyu.
Dan pada satu ketika, Mingyu menoleh.
Sepasang matanya menangkap kedua mata Minghao yang tengah terarah padanya.
Minghao ingat, semua hal di sekitarnya berhenti pada momen tersebut. Pasalnya, sesuatu pada matanya—pada binar-binar ekspresifnya, yang hangat, dan juga lembut—berhasil membuat gaduh hati Minghao yang sebelumnya sepi.
Kemudian, sebentuk senyum terulas di bibirnya.
Yang dibalas Minghao dengan senyum rikuh.
“Oh, we work in the same building,” katanya. “Saya di lantai 20.”
“Saya di lantai 24.”
“Human Capital?”
Minghao tertawa kecil. “Yep.”
“Scary.”
“Said someone who works in Marketing.”
Mingyu menatapnya dengan setengah tidak percaya. “You know me.”
“Perks of working in HC, I guess,” balas Minghao.
“Masuk akal.”
“Then again—siapa yang nggak kenal Mingyu? Lulusan Penn Uni, karyawan termuda di Marketing, yang penuh dengan ide-ide gila buat campaign kantor, dan pernah magang di Google.”
Sebentuk senyum terulas di wajah Mingyu. “Wah, jadi bahan gosip di HC ya gue.”
“Now you know.”
Entah bagaimana, keduanya kini berjalan beriringan menuju lobi. Tidak jelas siapa yang melambatkan atau mempercepat langkah, sebab saat ini kedua kaki mereka melangkah bersamaan dengan tempo yang serupa.
Pembahasan antarkeduanya pun sederhana. Seputar menu paling enak di kantin kantor, menu sarapan yang wajib dicoba, sudut-sudut di gedung kantor yang hanya diketahui oleh anak lama, rahasia kecil yang tidak diketahui oleh anak baru, dan masih banyak lagi.
Dan ketika lift yang mereka naiki hendak tiba di lantai 20—departemen Mingyu, lelaki itu menoleh.
“Extension number lo berapa deh?”
“89. Buat apa?”
“Just in case. Kalo gue butuh intel dari HC.”
This guy…
Minghao membalasnya dengan tersenyum tipis.
“Eh iya, nama lo siapa?”
“Hao. Minghao.”
“Okay Hao from HC. See you later!”
Sejak hari itu, tanggal 21 Desember dan tanggal-tanggal berikutnya tidak pernah sama lagi.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Minghao untuk dekat dengan Mingyu.
Bermula dari sapa, bermuara di lembah erat.
Telepon-telepon dengan intensitas yang semakin sering, kemudian berujung pada pertukaran nomor whatsapp.
Email yang muncul secara random, berisi link youtube, tiktok, atau bahkan twitter.
Meme aneh yang terkadang tidak dipahami konteksnya oleh Minghao, atau bahkan rekomendasi-rekomendasi kuliner yang entah datang dari mana.
Minghao tidak terlalu suka dengan kuliner, or memes in general—tapi karena ini Mingyu, he’s up for anything.
Lucu.
Iya, orang yang jatuh cinta memang selucu itu.
From: Mingyu
Subject: Please check this out!
Message:
Hao! Plis liat video ini hahaha kocak deh. Gue nemu di twitter and I think you’ll gonna loveee this
Ps: Cobain rekomendasi darihaltekehalte yuk. After office?
From: Mingyu
Subject: Kaastangel Cake?
Message:
Keajaiban dunia nomor 8 ternyata ada dalam bentuk Kaastangel Cake. Wajib coba gak sih?
From: Mingyu
Subject: Cuti
Message:
Gue ambil unpaid leave hari Senin, 7 Feb! Rencananya mau cuti ke Bandung, in case you’re wondering hehe.
Ps: masih nyari temen jalan. Hmu on whatsapp kalo lo mau ikutan cuti :)
Dan di sini lah ia.
Mengambil cuti satu hari dari jatah cutinya yang hampir tak pernah tersentuh, duduk di bawah pepohonan, di salah satu sudut bukit Jayagiri.
Menghabiskan tiga jam mendaki—hiking, lebih tepatnya, dan kini kaki-kakinya terasa pegal bukan main.
Ia tidak suka mendaki, tapi Mingyu suka.
Ia tidak suka aktivitas yang membuatnya berkeringat, tapi Mingyu suka.
Ia tidak suka duduk di rerumputan karena gatal, tapi Mingyu suka.
Minghao tidak suka semua itu, tapi ia suka mempelajari hal-hal hal yang disenangi oleh Mingyu.
Dan ia selalu suka melihat binar penuh gairah dan penuh semangat yang muncul di wajah Mingyu setiap kali melakukan sesuatu. Then everything doesn’t matter anymore.
“Kapok nggak, kalo gue ajak hiking lagi?” tanya Mingyu.
Yang kemudian dibalasnya dengan gelengan kecil. “I don’t really like hiking, to be honest. Tapi ternyata seru juga meski kaki gue rasanya kayak mau copot,” jawabnya jujur. “Count me in, then. Kalo lo ada plan mau hiking lagi.”
“Haha okay!” balas Mingyu. “Anyway. Gue tuh selalu suka momen hening kayak gini. Di jam-jam nanggung antara siang menuju sore, duduk di alam bebas, nikmatin embusan angin, doing nothing. Nggak mikirin apa-apa,” lanjutnya sembari menyenderkan punggungnya di permukaan batang pohon.
“Sewaktu lo kuliah di Penn, apa lo sering hiking kayak gini?” tanya Minghao.
“Mana ada. Paling cuma duduk-duduk di taman aja sampe ketiduran.”
“Bisa-bisanya…”
Mingyu tertawa, kemudian menatap Minghao tepat di kedua manik matanya. Mengunci pandangannya, seolah tak ada hal lain di sekitar mereka.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
“How about you then, Hao? Apa yang lo suka?”
Apa yang lo suka?
Apa yang ia suka?
Minghao tertegun.
Pertanyaan itu sederhana, tapi rasanya seperti memecahkan soal matematika yang perlu rumus khusus untuk menjawabnya.
Apa yang ia suka?
Minghao tahu kalau ia suka segala hal tentang Mingyu. Ia suka dengan rutinitas. Ia suka dengan hari-harinya yang berjalan biasa, monoton, tanpa kejutan.
Namun selain itu, apa lagi yang ia suka?
Ia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya.
Minghao terbiasa ikut arus, bukan memegang kontrol.
Ia terbiasa mengikuti ke mana kehidupan akan membawanya, tanpa pernah melawan gelombang.
Di saat semua hal di sekitarnya berjalan dengan cepat, berkejaran dengan waktu, seolah hidup adalah sebuah kompetisi di mana yang paling cekatan akan menjadi pemenang, Minghao terbiasa dengan hal-hal yang berjalan lambat.
Ia lebih senang berjalan dibanding berlari.
Ia lebih senang menikmati hal-hal yang sifatnya permanen, karena ia selalu takut dengan perubahan.
Tapi, di saat bersamaan, Minghao juga tersadar.
Ada satu hal yang disenanginya. Yang selalu dinantinya setiap hari, lima hari dalam seminggu.
Momen ketika pulang kerja, di tengah hening, dan mendongak menatap langit.
Momen ketika matahari terbenam.
“Sunset,” jawabnya pelan. “Gue suka sunset.”
Kedua alis Mingyu terangkat—takjub, seolah tidak memercayai hal yang keluar dari mulutnya. “Oh? Kenapa?”
“Karena cantik? Dan dramatis? Nggak peduli di mana pun lo atau dari sudut pandang mana pun lo melihatnya, sunset akan tetap sama?” jawab Minghao. “Dan karena sunset merupakan sebuah reminder, at least buat gue, kalo hari lo—mau seberat atau seburuk apa pun—akan berakhir, so get over it, take some rest, then be ready to fight again tomorrow.”
Minghao tidak pernah sejujur ini di hadapan orang lain.
Tapi di hari itu, ia membiarkan Mingyu melihat ke dalam dirinya, melongok ke sudut paling dalam di hatinya, tanpa filter apa pun.
“Gue suka perspektif lo,” kata Mingyu pada akhirnya, setelah hening cukup lama. “Tapi, Hao, lo tau ngga, sih? Antoine de Saint-Exupéry di buku The Little Prince pernah bilang ‘When a person very, very sad, they like sunsets.’”
“Terus?”
“You like sunset.”
“And your point?”
Mingyu menatapnya dengan penuh makna. “Are you sad, then?”
Gotcha.
People always said, kenali dirimu sendiri.
Butuh waktu yang lama bagi Minghao untuk mengenali dirinya, mengetahui masa lalunya—apa yang ia tidak sukai dan hal-hal yang membuatnya traumatis, apa yang selalu memenuhi pikirannya sepanjang hari, dan sebagainya.
Tetapi Mingyu, yang bukan siapa-siapa, yang baru mengenalnya selama dua bulan, really gets him. Bahkan lebih mengenal Minghao dibanding ia mengenali dirinya sendiri.
“Maaf kalo gue lancang,” ujar Mingyu. “Tapi gue selalu menangkap kesan ini dari lo. Kayak, lo itu hidup di dalam bubble lo sendiri, nyimpen semua hal rapat-rapat, dan nggak membiarkan siapa pun untuk dekat ke lo. Dan itu yang membuat gue bertanya-tanya, memangnya semesta sudah sejahat apa sama lo—sampai lo sebegininya, menutup diri, dan memasang tembok setinggi ini buat melindungi diri lo.”
Mingyu memahaminya.
Mingyu mengenalnya—bukan hanya tentang nama, tapi ia sebagai individu.
As a person.
Kedua mata Minghao memanas.
Mungkin, jika ia tidak berada di ruang terbuka seperti ini, tidak tengah duduk di atas rerumputan yang membuat kulitnya gatal, atau tidak berada di tengah percakapan dengan seseorang yang baru saja mengulitinya sampai bagian terdalam, ia akan menangis.
“Gue mau lo bahagia, Hao. Mungkin nggak harus selalu, tapi cukup.”
Secukupnya.
Tidak selalu, tidak berlebihan. Seperlunya.
Lagi, Mingyu berhasil membuat hati Hao menghangat.
Lagi, Mingyu berhasil membuatnya jatuh, entah untuk keberapa kalinya.
Dan Minghao tidak peduli, jika pada akhirnya ia harus menanggung perasaan ini sendirian.
Berita itu sampai di telinga Minghao pada suatu pagi di bulan April.
Ia tengah menjerang air dari termos untuk membuat kopi, ketika kedua koleganya masuk ke area pantry. Asyik berbincang, tanpa menyadari kehadiran Minghao di sudut ruangan.
“Gimana sama Mingyu?”
“Alah susah. Nggak ada progres, susah dideketin cuy anaknya.”
“Mundur aja gue bilang. Saingan lo Jeonghan.”
“Serius lo? Ngeri amat.”
“Serius. Gue juga baru denger dari anak legal kemarin. Katanya, Jeonghan lagi deketin Mingyu. Ya kalo dipikir-pikir, cocok sih. Jeonghan dulu di Penn State Law, kan?”
“Anjir. Anak universitas negeri kayak gue mending mundur dah, bener.”
“Elo bahkan bukan anak universitas negeri ya, tapi institut.”
“Hahaha brengsek.”
“Even lo lulusan ITB, tapi tetep ya kayak ketampar realita. Mingyu mana mungkin berakhir sama orang kayak kita hahaha.”
“Sialan lo emang haha. Eh tapi—bukannya Mingyu lagi deket sama anak HC?”
“Hah siapa?”
“Mingh—“
“Oh shhh woy ada orangnya!”
Kedua rekannya tersenyum canggung begitu mendapati Minghao tengah mengaduk kopinya dan tanpa sengaja bertatapan.
Minghao mengangguk sopan sembari berjalan meninggalkan pantry, seolah tak mendengar percakapan antar keduanya, atau bagaimana namanya nyaris disebut.
Melakukan sesuatu yang dikuasainya sejak lama: berpura-pura.
Berpura-pura biasa saja.
Berpura-pura hal tersebut tidak mengganggunya.
Berpura-pura bahwa ada kesempatan bagi figuran untuk menjadi bagian sentral dari kisah pemeran utama.
Berpura-pura bahwa kelak, ada kisah romansa manis yang terjadi antara dirinya dan Mingyu.
Yang omong-omong, tidak akan terjadi.
Sebab apalah artinya ia jika dibandingkan dengan Jeonghan?
Apa yang Mingyu lihat dari dirinya, yang super membosankan, jika dibandingkan dengan Jeonghan yang penuh kilau dan merupakan epitome dari kehidupan yang sesungguhnya: menyenangkan, penuh kejutan, dan juga tidak habis-habis untuk dieksplorasi?
Apa kata semesta, jika Mingyu yang lebih segala-galanya, yang dipuja banyak orang, berakhir dengan orang sepertinya?
Minghao belum siap jika hatinya harus patah entah untuk kesekian kalinya. Ia juga tidak siap dengan penolakan—dan mungkin tidak akan pernah siap.
Sosok pemeran utama sudah memasuki panggung cerita ini dan sudah saatnya bagi Minghao, si pemeran figuran, undur diri.
Maka, hal yang ia lakukan adalah ini: mundur.
Lalu menarik diri.
Memberikan kesempatan pada dua pemeran utama untuk menemukan jalan takdirnya masing-masing.
Tapi, Mingyu adalah Mingyu.
Yang selalu peduli pada semua orang, termasuk pemeran figuran yang perannya sama sekali tidak penting.
Yang seberapa pun berusahanya Minghao untuk menghindarinya, selalu punya cara untuk melibatkan Minghao dalam kesehariannya.
Sampai puncaknya adalah sore hari itu, ketika ia tengah berdiskusi dengan Junhui di lantai 20.
Mingyu melewati ruang meeting yang dihuninya, kemudian mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.
“Udah selesai meeting? Gue ada perlu sama Minghao, sebentar,” kata Mingyu kepada Jun.
“Oh, udah kok. Ini gue lagi ngetik MoM aja.”
Mingyu menarik kursi dan duduk di hadapan Minghao. “Ke mana aja? Gue nyariin lo tau. Diajak makan siang bareng susah banget lo sekarang.”
Sibuk, adalah alasan yang digunakan Minghao untuk menghindar dari cecaran pertanyaan dari Mingyu.
“Gue minta waktu lo 15 menit, then. Oke?” pinta Mingyu setelah Jun keluar dari ruangan. “Ada beberapa pertanyaan buat lo. Lo boleh jawab, boleh nggak.”
Minghao mengangguk.
“Pertama, lo ngehindarin gue, ya?”
“Nggak.”
“Nggak percaya. But okay,” pangkasnya. “Pertanyaan kedua. Lo tuh punya pacar nggak, sih?”
Minghao tertawa. Pertanyaan macam apa? Justru hal ini lah yang ingin ditanyakan Minghao ke Mingyu. Tapi, mana mungkin seorang Mingyu tidak punya pasangan? “Nope.”
“Ada orang yang lo suka?”
Ada. Lo.
Tapi, alih-alih mengaku, Minghao justru menggeleng. Iya, ia memang sepengecut itu. Ia memang tidak seberani itu untuk mengakui bahwa dirinya menyimpan rasa pada teman kantornya ini. “Nggak ada.”
Minghao bisa melihat raut kecewa di wajah Mingyu, entah untuk alasan apa. “Oh, gue pikir—”
“Iya, beneran nggak ada kok. Gue lagi nggak suka sama siapa-siapa,” pangkas Minghao cepat.
Konon, ketika seseorang sedang berbohong, kalimat yang terlontar akan semakin panjang dan cepat. Entah, mungkin salah satu alasannya adalah untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa kebohongan yang diucapkan adalah sesuatu yang nyata. “Lo sendiri sama Jeonghan gimana?” tanya Minghao.
Satu sisi di sudut hatinya retak begitu melihat sedikit keterkejutan di wajah Mingyu. “Mas Han—No, I mean, Jeonghan from Legal?”
Mas Han, katanya.
Minghao tersenyum pahit. “Iya. Dia bukannya lagi deket sama lo?”
“Denger dari mana?”
“Semua orang juga tahu, Mingyu.”
Mingyu tertawa gugup. “Bukan deket namanya kalo cuma satu pihak yang ngejar.”
“Maksudnya?”
“Ya dia aja yang suka tapi gue nggak.”
“Why not?” tanya Minghao heran.
“Mmm. Just because,” jawab Mingyu pelan. “Mungkin karena gue tertarik sama orang lain?”
Kalau boleh jujur, ada harapan yang menelisik di dalam sudut hatinya begitu Mingyu mengucapkan kalimat itu.
Ada sedikit sangka, bahwa momen yang selama ini tercipta antara mereka berdua bukanlah sekadar imaji di dalam benak Minghao.
Ada buih-buih keinginan, yang menjelma menjadi asa, bahwa orang lain yang dimaksud Mingyu adalah dirinya.
Tetapi, itu merupakan hal yang tidak mungkin, kan?
Harapan bisa menjadi hal paling menyakitkan dan Minghao tidak ingin terlalu banyak berharap.
“Lo berdua cocok, by the way.”
“Kenapa lo bisa mikir gitu?”
“He’s handsome,” jawab Minghao jujur.
“Lo juga kok.”
“Not as handsome as him,” pangkas Minghao. “Dia juga berprestasi. And smart af. Mirip banget sama lo. You two look cute together.”
“Lo juga pinter.”
“Mingyu, let’s face it—gue sama lo nggak akan pernah jadi. Kayak air sama minyak—sama-sama benda cair tapi nggak akan bisa nyatu.”
There.
Pecah juga akhirnya.
Terlontar juga ketakutan yang selama ini dirasakan Minghao.
Bahwa ia dan Mingyu memang seperti ini dinamikanya.
Serupa, tetapi tidak sama. Mau bagaimanapun diusahakannya, tetap tidak akan pernah bersatu.
Minghao dengan segala ketidakpercayaan dirinya dan Mingyu dengan segala euforia dan hal-hal baik yang disematkan padanya.
“Hao—”
“Lo pantes dapetin yang terbaik, Mingyu. Yang seperti Jeonghan. Bukan orang kayak gue.”
“Gimana kalo gue nggak mencari yang terbaik? Kalo seandainya yang gue mau adalah lo?”
Minghao tersenyum pahit. “No you don’t.”
“Bisa nggak sih, lo tuh jujur sama diri lo sendiri, kali ini aja?” tantang Mingyu. “Coba lo tatap mata gue, ngomong yang jelas, kalo lo beneran nggak ada rasa sama sekali? Ke gue?”
Dengan getir, dengan sedikit keberanian yang entah datang dari mana, Minghao menatap kedua manik mata Mingyu. Ada rasa kecewa di sana, yang berusaha diabaikan oleh Minghao.
“Gue nggak suka lo, Mingyu,” kata Minghao perlahan. Menghayati setiap kata per kata, seperti mantra, dengan harapan bahwa kalimat tersebut akan menjelma nyata. “Nggak suka sama sekali. Sekarang, saran gue adalah give it a try. Sama Jeonghan. You have my blessing. Dia orang baik dan gue yakin dia sayang banget sama lo.”
Ada gemuruh di dalam hati Minghao yang datang bersamaan dengan gurat-gurat halus di hatinya. Patah, sudah pasti. Tapi, hidup harus berjalan terus, bukan?
Mingyu memandangnya lama, dengan tatapan yang tidak bisa diterjemahkan sama sekali.
“Alright kalau begitu. Kalau memang gue nggak ada kesempatan sama lo, then I’ll think about it. Gue dan Jeonghan,” ujar Mingyu pada akhirnya, sembari berjalan keluar dari ruang meeting, meninggalkan Minghao yang masih berjibaku dengan dirinya sendiri.
Memikirkan kesempatan yang baru saja dilewatkannya.
It’s just another ordinary day.
Seperti hari-hari pada umumnya yang dijalani oleh Minghao tanpa semangat atau luapan kegembiraan di dadanya.
Tiga bulan telah berlalu sejak obrolan terakhirnya dengan Mingyu dan garis takdir mereka tak pernah bersisian lagi.
Minghao juga tidak pernah mencari tahu segala hal tentangnya.
Hingga pagi ini.
Kedua matanya menangkap sosok Mingyu yang berdiri tak jauh di depan sana.
Di jalur yang sama, yang selalu Minghao lalui setiap hari—pagi dan sore—untuk menuju dan meninggalkan gedung kantor.
Di trotoar yang sama.
Di depan lampu penyeberangan yang sama dan di belakang garis tunggu yang sama.
Namun sekarang, Mingyu tak sendiri.
Tangan kanannya yang biasa sibuk memegang ponsel, kini menggenggam tangan mungil milik Jeonghan.
Sebaris senyum terulas di wajah Mingyu saat Jeonghan membisikkan sesuatu di telinganya.
And just like that.
Minghao kembali diingatkan oleh perannya dalam kisah ini.
Ia hanya figuran—sementara pemeran utamanya adalah Mingyu dan Jeonghan.
Dalam hening, ia memilih untuk menunggu jauh di belakang—sekitar lima atau sepuluh langkah dari mereka berdua.
Menatap punggung mereka, melihat setiap interaksi kecil yang tertukar antar keduanya, sembari memunguti keping-keping hatinya yang patah.
Minghao merasakan ada yang asing dan menyesakkan di dadanya. Menelisik perlahan-lahan tanpa ia sadari kapan awal mulanya.
Entah, mungkin sebentuk penyesalan?
Mungkin, kalau Minghao sedikit lebih berani di sore hari itu, keadaan akan berubah.
Mungkin, kalau Minghao berani jujur dengan perasaannya sendiri, tangannya lah yang kini akan digenggam Mingyu.
Mungkin, kalau Minghao lebih percaya dengan dirinya sendiri alih-alih merasa rendah diri, semesta akan berbaik hati padanya dan memberikan akhir kisah yang berbeda.
Mungkin—
Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang tidak akan pernah terjawab.
The could have been. The almost there.
Tapi, hidup adalah serangkaian dari keputusan-keputusan serta kesempatan yang kita ambil atau memilih untuk dilewatkan.
Ketika lampu penyeberangan sudah berubah warna, Mingyu menoleh dan menatap Minghao. Bibirnya mengucapkan kata “terima kasih” tanpa suara.
Minghao melambai kecil ke arah Mingyu dan membalasnya dengan senyum.
Dalam hening, Minghao menggumam.
Selesai.
Mungkin kisahnya dan Mingyu memang cukup sampai di sini saja.
Seperti senja pada hari itu, yang muncul sebentar kemudian menghilang.
Sesederhana itu.
🎶 Life was warm then life was cold
It gets harder, yes, you'll see
But were we ever meant to be?
