Actions

Work Header

two ships in the night

Summary:

You don't meet people by accident. There's always a reason. A lesson, or a blessing.

Residen tahun kedua Lee Donghyuck yang bertemu dengan cara tidak biasa dengan residen lainnya bermarga Lee. Ternyata dunia punya rencana lain untuk mereka, in one way or another.

Notes:

hello!!! i'm summerboys (or sevendreamies as well in ao3) fics posted under this pseuds will be focused on my works in bahasa! will be crossposting my fic from writeas & notion with the same username! there'll be lots of medical jargons, but i'll provide explanations by the end :D buckle up and enjoy the ride!! lots of love 💚

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Lorong rumah sakit sudah berubah gelap saat Donghyuck akhirnya bisa keluar dari gedung instalasi bedah sentral. Tubuhnya sudah bekerja tanpa henti hari ini, dimulai sejak menginjakkan kaki pertama kali di rumah sakit pukul 3 subuh sampai ia diharuskan untuk menjadi asisten prosedur VATS(1) yang ternyata berlangsung lebih lama dari perkiraan. Ia hampir terlena dengan rasa lega yang ia rasakan ketika salah satu konsulen yang ia bantu hari ini akhirnya menyatakan bahwa seluruh jaringan paru mati dari pasien telah seluruhnya diangkat dan mereka bisa untuk mulai menutup rongga dada pasien. Donghyuck sudah membayangkan kasurnya yang nyaman dan hangat di apartemen, bahkan menghangatkan sup kimchi hangat yang ibunya bawakan beberapa hari yang lalu untuk makan malam. Kelegaan itu tentunya tidak bertahan lama karena saat operasi akhirnya selesai dan mereka semua dibubarkan, salah satu koas yang ia tugaskan untuk menjaga ponselnya menginfokan bahwa ia baru saja mendapatkan panggilan dari Instalasi Gawat Darurat.

Oh, ya. Donghyuck hampir lupa kalau ia ada jadwal jaga hari ini.

Dengan langkah gontai, diseretnya tubuh lelahnya menuju gedung dimana IGD berada, tidak lupa membelokkan tubuhnya ke salah satu lorong rumah sakit terlebih dahulu. Lorong khusus dimana vending machine yang menjual snack favoritnya berada.

Ada satu orang lainnya yang sedang berdiri di depan mesin tersebut, baju scrub biru khas residen mengintip dari balik jas putih pendek— yang dilihat dari warnanya, bisa ditebak bahwa jas itu telah melewati banyak rintangan hidup bersama pemiliknya. Keliatannya sih, residen senior, pikir Donghyuck, walaupun ia tidak bisa menebak pasti siapa karena orang tersebut berdiri membelakanginya. Sebagai umat manusia yang beradab dan taat peraturan, Donghyuck mengambil tempat di belakang orang tersebut untuk mengantri, berniat memejamkan matanya sejenak untuk sebuah power nap selagi ia menunggu residen di depannya selesai memilih snack yang ia inginkan.

“Ahelah, ini mesin kenapa lagi sih?!”

Donghyuck membuka satu matanya, ah, mesinnya berulah lagi sepertinya. Donghyuck mendengar orang di depannya menggerutu mengenai bagaimana mesin ini sudah rusak dan seharusnya diganti, membuat Donghyuck mengambil inisiatif melangkah maju dan memberi vending machine itu pukulan ringan di beberapa titik yang sudah ia hafal luar kepala. Tidak lama kemudian, suara sebungkus keripik kentang yang jatuh ke boks pengambilan memenuhi lorong yang hening.

Pria berponi hitam legam di depannya refleks memekik senang dan langsung membungkukkan tubuhnya untuk mengambil pesanannya tadi sebelum berdiri lagi. “Terima kasih bantuannya...” kata-kata pria itu terhenti sementara matanya bergerak mencari sesuatu yang tersemat Donghyuck, “Terima kasih bantuannya, dokter Lee.”

Ah, mencari nametag.

“Sama-sama, dokter,” Donghyuck menjawab sopan sebelum bertanya basa-basi, “Long shift, dok?” Sekarang saat akhirnya Donghyuck berhadapan langsung dengan dokter tersebut dan bisa melihat langsung wajahnya, Donghyuck tidak ingat ia pernah melihat dokter ini di sekitar rumah sakit...

Yeah,” dokter itu membalas, “Not exactly that, but what’s new?”

Donghyuck hanya terkekeh pelan, because really, what’s new from their inhuman work hours? Pria tersebut menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Donghyuck memakai vending machine itu selanjutnya. Ekor mata Donghyuck sedikit menangkap nama yang tertera di nametag dokter tersebut, 'Dokter Lee'. Ooh, another Lee. Otaknya langsung bekerja, berusaha mengingat-ingat nama tersebut. Donghyuck sudah cukup lama mengenyam pendidikan di rumah sakit ini dan walaupun banyak marga Lee yang ia temui, bagaimana ia bisa tidak tahu mengenai pemilik marga Lee yang satu ini? Setelah beberapa detik dan tetap tidak menemukan jawaban, akhirnya otak Donghyuck menyerah karena terlalu lelah. Ia memutuskan untuk memikirkannya lagi besok.

Ia punya hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan sekarang, yaitu... memilih antara keripik kentang atau.. cheetos. Donghyuck suka berpendapat kalau keripik kentang sediiiiiikit lebih sehat daripada cheetos. Tetapi bila kembali ke preferensi, makanan ringan favorit Donghyuck adalah cheetos. Bahkan vending machine ini memiliki rasa crunchy cheese yang sangat sulit ditemukan di supermarket dan juga, kebetulan rasa favorit Donghyuck (how can the hospital get their hands on that when they should be about healthy diet and whatevs, Donghyuck never knows). Tetapi, menilik kembali ke riwayat konsumsinya hari ini, Donghyuck sudah memesan dua buah hamburger untuk makan siang dan itu sudah disebut junk food. Apakah harus ia makan junk food dua kali dalam sehari?

Perdebatan yang terjadi di dalam kepalanya terpaksa harus terhenti sementara saat Donghyuck merasakan tepukan ringan di bahunya. Saat ia menoleh, dokter (other) Lee sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh tanya, “Dok... nggak papa? Tadi saya liat dokter bengong, saya kirain tidur..?”

“Menurut dokter, keripik kentang atau cheetos, dok?”

“Hah?”

“Saya tadi barusan mikir, mau ambil keripik kentang atau cheetos ya, dok, untuk makan malam?”

Dokter (other) Lee terdiam sejenak, entah karena terkejut akibat pertanyaan tidak terduga itu atau karena ikut berpikir. Tak lama kemudian, dagunya ia tumpukan ke tangannya— ternyata ikut berpikir keras. Alisnya bahkan bertautan satu sama lain seperti sedang dalam konsentrasi penuh untuk menemukan jawaban mengenai penyelesaiaan masalah di dunia.

“Kayaknya saya bakal milih cheetos, dok. Mereka bahkan punya rasa yang jarang ditemuin disini,”

Senyum Donghyuck merekah mendengar jawaban tersebut keluar dari mulut dokter (other) Lee, akhirnya mendapatkan pencerahan yang ia tunggu-tunggu. It’s true what they said, intellectuals do think alike. Jarinya bergerak refleks untuk menekan tombol cheetos, dan tidak lama kemudian, bunyi menyenangkan satu bungkus cheetos yang jatuh ke boks pengambilan kembali memenuhi lorong rumah sakit yang semakin sepi itu. “Sepertinya kita memilih pilihan yang benar, dok. Terima kasih,”

Cheetos selalu menang, dok,” dokter (other) Lee menimpali, “Residen tahun berapa, dok?”

“Baru aja banget masuk tahun kedua, kalau dokter?” Dokter (other) Lee baru saja ingin menjawab ketika nada dering ponsel Donghyuck mendahuluinya. Tanpa perlu melihat dari siapa, Donghyuck sudah tahu. “Dok, saya harus pergi dulu kayaknya. Sekali lagi makasih bantuannya, ya, dokter (other) Lee,”

Sebelum dokter (other) Lee bisa menjawab apa-apa, kaki Donghyuck sudah membawanya pergi dari sana. Donghyuck sedikit kecewa ia tidak bisa tinggal lebih lama untuk mengobrol— mungkin untuk menanyakan nama dokter (other) Lee, mungkin untuk menanyakan departemen tempat ia belajar. Siapa tahu, mereka bisa punya kesempatan bekerja sama di kemudian hari. Tetapi, tugas adalah tugas dan ia punya satu pasien yang menunggu evaluasi darinya.

Lebih cepat di evaluasi, lebih cepat selesai, dan lebih cepat juga Donghyuck bisa melakukan apa yang ia ingin lakukan pada awalnya.

Pada akhirnya, satu bungkus Cheetos Rare Crunchy Cheesenya dengan terpaksa harus menunggu sejenak.

--

“Hyuck, lo persis kayak zombie,”

Donghyuck hanya menghela napasnya sebelum mengambil kursi di samping Renjun, “Selamat pagi juga kepada anda residen Renjun,” balasnya sambil memberikan tatapan tajam yang bila diartikan kurang lebih seperti ini; “Apa yang lo harapkan dari seseorang yang sudah bekerja 36 jam berturut-turut dan masih harus lanjut kerja lagi sampai 12 jam ke depan sebelum bisa pulang?

“Rame ya, jaganya?”

“Nggak juga, sih. Cuma kayaknya lebih capek karena VATS baru selesai jam 8 malem. Habis itu lanjut jaga lagi,” jawab Donghyuck sambil memposisikan tubuhnya lebih nyaman di kursi empuk ruang ilmiah departemen, sedikit bersyukur jadwal pagi ini dimulai dengan laporan mingguan yang membuatnya bisa istirahat sejenak sebelum memulai tugas hariannya yang lain. Dan sebenarnya, kalau Donghyuck boleh jujur, ada alasan lain juga, yaitu...

“Nih, gue simpenin satu kotak buat lo. Hari ini isi kotakannya kue kesukaan lo,”

Yap, itu dia. Makanan gratis yang dibagikan setiap laporan mingguan, bagaikan oasis di tengah padang pasir untuk residen tahun dua yang hampir selalu tidak sempat makan seperti Donghyuck.

“Njun, lo life-savior banget, sumpah,” Energi Donghyuck mendadak terisi penuh hanya dengan melihat kue favoritnya terhidang di hadapannya, apalagi mengingat benda berupa makanan yang terakhir masuk ke perutnya adalah cheetos yang ia beli di vending machine semalam. Omong-omong soal itu...

“Njun,” panggil Donghyuck, yang hanya dibalas dengan gumaman Renjun, mengisyaratkan bahwa ia memperhatikan walau matanya masih fokus ke ponselnya. “Lo ada tau residen senior di sini yang nama depannya Lee? Dokter Lee?”

“Lah? Ya banyak?”

“Ih, ya gue tau! Tapi yang baru-baru aja dateng gitu? Soalnya gue nggak pernah lihat sebelumnya beredar di sekitar sini, deh,”

“Beredar lo kata majalah,” Renjun mendengus, “Residen di divisi kita maksudnya?”

“Nggak harus, sih,” Donghyuck menggeleng, “Bisa dari divisi lain juga. Selama gue disini kayaknya gue nggak pernah liat residen ini..”

“Kalau dari divisi lain mungkin aja sih kita jarang liat, apalagi kalau udah senior tahun akhir. Biasanya kan sibuk tesis. Emang kenapa lo tiba-tiba nanya? Naksir?”

“Yeee, enggak!” Respon Donghyuck cepat, walau dalam hati ia juga tidak memungkiri kalau memorinya semalam dapat dipercaya, residen (other) Lee bisa dibilang cukup tampan. Apalagi suaranya yang rendah itu. Oh, belum lagi tawanya yang seperti kicauan burung gereja... Tidak, tidak, Donghyuck! gerutunya sambil menggelengkan kepalanya, berusaha membuang pikiran itu dari dalam kepalanya.

“Lah, terus kenapa?”

“Nggak apa.. Gue ketemu aja sama residen namanya dokter Lee semalam, tapi gue nggak pernah liat sebelumnya—“ ucapan Donghyuck tiba-tiba terhenti ketika mendengar kehebohan yang muncul dari beberapa residen seniornya yang duduk beberapa baris di depannya. Mereka seperti sedang bersuka cita menyambut seseorang, tetapi Donghyuck tidak bisa melihat jelas siapa yang mereka ributkan karena sosok tersebut tertutup oleh barisan residen lain yang sepertinya sedang memeluk orang ini secara bergantian.

Kerumunan akhirnya sedikit mereda ketika salah satu pembimbing laporan mingguan departemen memasuki ruangan untuk memulai agenda ilmiah hari itu. Setelah hampir seluruh residen telah kembali ke tempat duduk masing-masing, barulah Donghyuck dapat melihat sosok tinggi yang disambut meriah tadi. Donghyuck bahkan tidak perlu dibuat penasaran terlalu lama mengenai wajahnya, karena sosok itu mengedarkan pandangan sekeliling ruangan sampai akhirnya bertemu tatap dengan Donghyuck.

Oh shit.

Melihat kedua mata sosok tersebut yang juga refleks membesar saat menangkap sosok Donghyuck, ia bisa menilai kalau sosok itu sama kagetnya dengannya. Dengan cepat, Donghyuck membungkuk sedalam yang ia bisa di kursinya untuk menunjukkan hormatnya dan juga, menyembunyikan wajahnya yang sudah semakin memerah karena malu.

Yang ia tidak lihat adalah, sosok itu tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya seperti tidak percaya.

“Hyuck, lo kenapa sih?” Bisik Renjun, menyenggol pelan Donghyuck dengan sikunya, tapi Donghyuck masih belum punya keberanian untuk mengangkat wajahnya untuk menghadapi dokter (other) Lee. Ya, sosok tadi tidak lain tidak bukan adalah dokter (other) Lee yang ia temui semalam. Dokter (other) Lee yang ia tanyai pendapatnya soal keripik kentang atau cheetos. Dokter (other) Lee yang ternyata adalah senior di departemen yang sama dengannya.

Astaga, mau ditaruh dimana muka Donghyuck setelah ini? Bisa-bisanya ia tidak mengetahui kalau dokter (other) Lee adalah seniornya? Bisa-bisanya juga pertemuan pertama mereka berjalan sekonyol itu? Pasti dokter (other) Lee sekarang berpikir bahwa Donghyuck adalah juniornya yang hanya bisa memikirkan makanan?

“Hyuck,” bisik Renjun lagi, tetapi masih Donghyuck abaikan.

“Hyuck,” kali ini Renjun berbisik lebih kencang, membuat Donghyuck sedikit menggerutu, apakah Renjun tidak sadar ia sedang dalam sebuah mental breakdown disini?!

Sebuah cubitan keras di paha sebelah kirinya yang datang tiba-tiba hampir membuat Donghyuck berteriak kencang di tengah ruangan diskusi yang tenang karena semua orang (kecuali Donghyuck pastinya) sedang fokus mendengarkan presentasi kasus yang berjalan di depan, untung saja ia dapat menahan dirinya tepat waktu.

“Lo ada masalah apa sama gue, sih, Njun?” Desis Donghyuck tertahan, satu tangannya mengusap-usap pelan pahanya yang masih nyeri, cubitan Renjun memang lebih pedas dari omongan mertua (padahal tau apa Donghyuck soal omongan mertua, but that’s not the point here.)

Renjun hanya menatapnya dengan pandangan dingin kebanggaannya, mengedikkan dagunya ke arah depan, “Lo nggak liat presentasi di depan udah hampir beres dan lo belum siap-siap? Giliran lo laporan jaga semalam abis ini,” Donghyuck mengalihkan pandangannya ke depan, dan benar seperti kata Renjun, salah satu seniornya sudah hampir selesai menjelaskan kasus terakhir yang ia dapat.

“Astaga!” Donghyuck cepat-cepat mengeluarkan laptop dari tasnya, untuk sejenak lupa dengan masalah hidupnya yang terbaru, “Gue belum nulis terapi terakhir pasien yang masuk tadi pagi,” Sambil menunggu laptopnya memuat lembar presentasi yang sudah ia buat dengan mata 5 watt semalam, ia berbisik pelan di samping Renjun, “Salah nggak sih, Njun, gue doain Prof. Han agak cerewet di kasus terakhir ini supaya gue punya waktu baikin ppt gue?”

“Kualat baru tau, lo!”

“...untuk sementara keadaan pasien masih stabil dan pasien dirawat di ruang inap biasa, sambil menunggu jadwal MRI(2) cardiac besok,” Donghyuck menyelesaikan penjelasannya dengan tenang, matanya awas memperhatikan para guru-gurunya berdiskusi pelan dengan satu sama lain. Ia menghela nafas lega karena ternyata doanya barusan tidak berakhir menyerang dirinya (much to Renjun’s dismay, padahal ia sudah menanti-nanti pemandangan Donghyuck dibabat habis oleh Professor Han). Tapi sepertinya mood Professor Han sedang bagus hari ini karena penemuan kasus yang cukup jarang ini. Kasus yang ia temui malam lalu memang cukup unik, sesuatu yang ia kira hanya akan ditemukan di buku teks.

“Kasus Myxoma(3) ini sangat bagus, Donghyuck,” sebut Professor Han, “Karena kasus ini unik, saya jadikan ini tugas kamu, ya. Kamu ikuti perkembangan pasiennya dari awal sampai akhir, kamu buat rencana terapinya sampai pendekatan operasi yang bisa kita lakukan,”

Donghyuck hanya bisa mengangguk, pasrah dengan tambahan tugas baru padahal yang apa yang sudah ada saja hampir tidak bisa ia tangani. Bersyukur, Donghyuck, bersyukur. Katanya mau jadi dokter bedah thoraks yang baik, ucapnya berulang-ulang dalam hati. “Baik Prof, terima kasih Prof,”

“Kalau kesusahan, kamu minta bantu sama seniormu,” lanjut Professor Han lagi lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan, “Kemarin siapa ya, yang laporan kasus tugas akhirnya juga soal keganasan di jantung? Dokter Lee yang senior bukan, ya? Udah balik belum dia?”

Donghyuck menatap dengan horror ketika sebuah tangan muncul dari tengah barisan residen senior, diikuti dengan berdirinya pemilik tangan itu, “Sudah, Prof. Benar itu saya, Prof, yang kemarin juga mengerjakan tugas dengan tema yang sama.”

Out of all residents in the room, it really has to be THAT person. Dunia sepertinya sedang senang melihat Donghyuck menderita.

“Nah, kamu, bantuin juniormu, ya,” perintah Professor Han, “Kan lumayan kalau masuk jurnal, namamu bisa ikut terpublikasi. Baik, ada lagi yang mau ditanyakan sebelum saya bubarkan? Siapa yang ikut operasi saya hari ini? Gimana pasiennya?”

Kali ini giliran Renjun yang mengangkat tangan, “Saya, Prof. Tadi pagi saya sudah follow-up dan kondisinya baik, Prof. Saya juga sudah mengkonfirmasi ke IBS(4) kalau pasiennya sudah siap, Prof.”

“Baiklah kalau gitu. Karena tidak ada pertanyaan lagi, kalian semua saya dismissed. Dokter Lee junior, dokter Lee senior, nanti kalian bicarakan sendiri ya soal diskusi kalian,”

Dalam hitungan detik setelah Professor Han keluar dari ruangan, ruangan diskusi pun sudah hampir kosong dan hanya menyisakan Donghyuck dan Dokter (other) Lee. Usaha Donghyuck untuk menahan Renjun berakhir sia-sia, tetapi ia tidak bisa menyalahkan temannya itu karena ia harus mengikuti operasi dengan Professor Han. Masalahnya adalah, Donghyuck tidak siap ditinggal berdua saja dengan dokter (other) Lee. Tidak siap menghadapi kebodohannya sendiri, maksudnya. Donghyuck dapat merasakan tatapan dokter (other) Lee ke arahnya, tetapi ia berusaha mengabaikannya dengan menyibukkan diri membereskan alat-alat presentasi tadi.

“Ehm,” Suara dehaman seseorang membuat Donghyuck terlonjak kaget. Terlalu fokus berusaha mengalihkan perhatiannya, Donghyuck malah tidak sadar kalau dokter (other) Lee sekarang sudah berdiri di dekatnya. “Nggak nyangka bakal ketemu disini lagi, dokter Cheetos,”

Dear, God. Harus banget kejadian tadi malam dibawa-bawa? Donghyuck menggigit bibirnya sambil menatap langit-langit ruang diskusi dengan pasrah. Cepat atau lambat, mau tidak mau, pada akhirnya ia harus mengkonfrontasi kejadian memalukan itu dengan seniornya.

Setelah menarik nafas panjang, dengan penuh tekad akhirnya Donghyuck memberanikan diri memutar tubuhnya untuk menghadap dokter (other) Lee, dengan cepat ia susul dengan membungkuk sembilan puluh derajat. “Dokter, maafkan saya karena telah kurang ajar tidak mengenali dokter semalam dan juga menanyakan pertanyaan konyol tentang keripik kentang dan cheetos. Saya benar-benar tidak pernah melihat dokter sebelumnya, walaupun itu tidak bisa menjadi alasan karena seharusnya saya mengenali semua senior saya,” ucap Donghyuck cepat dalam sekali nafas.

Hening.

Tidak ada reaksi apa-apa.

Setelah beberapa detik menunggu dan masih tidak mendapatkan reaksi, Donghyuck akhirnya membuka matanya dan menegakkan tubuhnya dengan hati-hati, berusaha menerka-nerka reaksi seniornya. Sesuatu yang tidak ia duga adalah, wajah seniornya yang merah padam karena menahan tawa.

“Dok, kok malah ketawa sih!” Seru Donghyuck refleks karena kesal, sebelum sadar akan ucapannya dan kembali membungkuk untuk meminta maaf. Donghyuck, stop embarassing yourself, can you?/

Suara tawa dokter (other) Lee adalah satu-satunya suara yang mengisi ruang diskusi sekarang, dan Donghyuck bahkan masih belum berani untuk menegakkan tubuhnya— just in case he embarrasses himself again. “Dok, udah nggak usah nunduk-nunduk gitu, kayak sama siapa aja,” ucap dokter (other) Lee setelah akhirnya dapat meredakan tawanya. “Saya bahkan nggak tau yang kamu anggap salah itu dimana, di saya jatohnya malah lucu,”

Ya lucu buat anda, dok, batin Donghyuck dalam hati, deg-degan buat gue.

“On second thought, jangan manggil dok, deh. Gue-lo kayak biasa aja? Dipanggil gitu bikin berasa tua banget. Gue tau gue sudah cukup tua tapi jangan diingetin juga,” dokter (other) Lee menambahkan.

Donghyuck hanya bisa mengangguk pelan, sebelum memberanikan diri untuk menatap dokter (other) Lee secara langsung, “Terima kasih, dokter Lee,”

“Mark,”

“Hah?”

“Nama gue Mark,” ulang dokter (other) Lee lagi, “Jangan panggil gue dokter (other) Lee, malah ngingetin sama bapak gue. Bukan bilang bahwa itu sesuatu yang buruk, cuma kita santai aja kayak yang gue bilang tadi. Lagipula kita bakal bekerja sama untuk waktu yang cukup lama, lebih enak kalau santai, kan?”

“O—oke, Kak Mark. Gue belum perkenalkan diri gue juga, nama gue Donghyuck,”

“That sounds more like it!” Mark tersenyum, “Jadi, kita mau mulai bahas kasus ini mulai kapan, Donghyuck?”

--

Mereka tidak ada berbicara lama dengan satu sama lain lagi sampai beberapa hari setelahnya. Pertemuan mereka hanyalah sebatas saling menyapa singkat saat bertemu di lorong atau gedung IBS. Mark sibuk dengan tugasnya sebagai residen tahun terakhir, dan Donghyuck... sibuk dengan apapun yang dilemparkan kepadanya.

Donghyuck menemukan dirinya duduk di ruang tunggu kamar operasi IGD pada suatu Sabtu sore. Saturday was supposed to be his off days after the daily rounds is done, tetapi ia sudah terlanjur membuat janji pada Mark untuk mulai berdiskusi tentang kasus yang ia dapatkan kemarin. Ia pikir, yasudahlah, toh ia juga tidak ada keluarga atau pasangan untuk menghabiskan akhir minggunya bersama, jadi lebih baik ia isi dengan kegiatan bermanfaat.

Semuanya harusnya berjalan dengan lancar kalau saja Mark tidak lupa kalau ternyata... ia punya jadwal jaga di hari Sabtu.

Mark hanya bisa melemparkan senyuman penuh maaf saat melihat Donghyuck duduk dengan buku catatannya di sofa ruang tunggu, “Maaf ya, Hyuck, habis gue pasang chest tube untuk satu pasien ini dan satu pasien lainnya. Bentar aja, kok, paling, gue harap,”

Donghyuck menggelengkan kepalanya santai, “Gue nggak apa sih, Kak. Cuma heran aja kok bisa lo lupa satu-satunya jadwal jaga lo bulan ini...”

“Hehe, justru karena cuma satu-satunya jadi gue lupa...” kilah Mark. Percakapan mereka terinterupsi sesaat saat seorang petugas masuk untuk mengabarkan Mark bahwa salah satu pasiennya sudah siap untuk dioperasi. Setelah memastikan bahwa Mark akan menyusul dalam beberapa menit, petugas itu pamit keluar ruangan.

“Lo tungguin disini aja berarti?” tanya Mark lagi, memastikan.

“Iya, gue udah terlanjur kesini juga. Kalau pulang lagi nanti gue yang males jadinya, Kak,”

Mark hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Donghyuck. Tangan Mark baru saja ingin meraih gagang pintu ruang tunggu, ketika sebuah ide muncul di otaknya, “Karena lo bilang udah terlanjur kesini, gimana kalau sekalian lo bantuin gue? Kalau dikerjain berdua berarti bisa lebih cepat selesai, kan?”

Donghyuck tidak tahu ada ilmu hitam jenis apa di dalam ajakan Mark yang membuatnya sudah berganti pakaian menjadi scrub hijau kamar operasi lima menit kemudian, dan berdiri di depan pintu salah satu kamar operasi dengan atribut lengkap. Tidak lama kemudian, Mark ikut berdiri di sampingnya, “Lo udah tau ini pasien apa?”

“Tadi sempat baca rekam medisnya, laki-laki, 45 tahun, kecelakaan sepeda motor. Datang dengan keadaan sadar, sesak napas yang progresif. Sempat di foto x-ray, paru kanannya hampir nggak keliatan sama sekali karena perselubungan. Di IGD sempat di pungsi, yang keluar darah,”

“Diagnosis?”

“Hematothorax (4), 99% sure,”

“Rencana lo kira-kira apa?”

“Pasang chest tube, drainase, evaluasi,”

“Lalu?”

Donghyuck menolehkan kepalanya ke arah Mark, “Lihat jumlah drainasenya, kalau memang lebih dari 1500 ml dalam 24 jam, atau lebih dari 200 ml dalam satu jam, kita usulkan operasi eksplorasi,” jawab Donghyuck mantap.

Mark memberikan tepukan tangan pelan sebagai apresisi, “Can’t say I’m not impressed, doctor Lee. Gue yakin lo udah hapal mati gimana caranya pasang chest tube, jadi gue delegasikan tugas ini ke lo, ya? Gantiin gue,”

“Eh?” Mata Donghyuck melebar karena kaget.

“Ada masalah, Hyuck?”

“Eh-eh, enggak sih, Kak. Tapi gue baru residen tahun dua dan ini pasien lo. Lo yakin ngebolehin gue buat ngelakuin prosedurnya?”

“Gue nggak akan kasih kalau gue nggak yakin sama lo, kali, Hyuck,” Mark menepuk kepala Donghyuck ringan, senyumnya mengembang untuk menyemangati. “Makanya gue tanya-tanya dulu tadi. Gue yakin di tahun kedua ini, lo belum banyak dapat kasus seperti ini, kan? Makanya gue kasih ke lo buat belajar.”

“Nggak usah khawatir, gue di ruang sebelah ngerjain perbaikan A/V fistula. Kalau ada apa-apa, panggil gue dan akan gue intervensi,” lanjut Mark lagi, berusaha meyakinkan, “Atau lo mau kasus yang A/V fistula aja?”

“Eits, nggak, nggak, Kak. Gue yang ini aja!” Jawab Donghyuck cepat sebelum membalikkan badannya menuju tempat cuci tangan. Langkahnya terhenti sejenak untuk menoleh ke Mark dengan senyuman lebar, “Thank you by the way, Kak!”

Donghyuck keluar kamar operasi sekitar setengah jam kemudian dengan langkah ringan. Seperti yang diinginkan, pemasangan chest tube berjalan baik, saluran yang ia pasang pun lancar mengeluarkan cairan tanpa adanya sumbatan, dan keseluruhan hemodinamik pasien stabil— semua sesuai dengan apa yang Donghyuck harapkan. Setelah menuliskan rencana pengobatan dan permohonan pemeriksaan lain di rekam medik pasien, Donghyuck tersadar bahwa Mark sendiri belum selesai dengan pasiennya. Secara diam-diam, Donghyuck menyelinap ke dalam ruang operasi dimana Mark berada.

Tidak ada suara lain di ruangan itu selain suara Mark— entah meminta pergantian instrumen bedah atau meminta bantuan dalam membersihkan lapang pandangnya dari darah. Donghyuck menemukan dirinya menatap wajah Mark lekat-lekat, melihat lagi wajah penuh konsentrasi seperti yang ia lihat malam itu di pertemuan pertama mereka. Kalau sedang serius seperti ini, Donghyuck akui Mark memang terlihat sedikit ‘dingin’, sangat berbeda kalau ia sudah tersenyum atau tertawa melihat hasil kejahilannya.

Sejujurnya, terkadang Donghyuck masih merasa sedikit canggung ketika berinteraksi dengan Mark— terlepas seniornya itu sudah mengatakan bahwa mereka bisa bersikap kasual pada satu sama lain. Tetap saja, pada akhirnya Mark adalah seniornya, dan ada batasan yang Donghyuck tidak ingin langgar. But Donghyuck got to admit, it’s easy to be comfortable around Mark.

Donghyuck tidak tahu seberapa lama ia larut dalam pikirannya sendiri sampai ia akhirnya ditarik kembali ke dunia nyata oleh lambaian tangan tepat di depan wajahnya. Donghyuck mengerjapkan matanya, “Udah selesai, Kak?”

“Udah, lo juga?”

Donghyuck mengangguk, “Udah gue resepin antibiotik juga, minta pemeriksaan cairan drainase, dan suruh telpon lo kalau misal jumlah drainasenya nambah,”

“Bagus, gue percaya sama lo, Hyuck,” puji Mark seiring mereka berjalan keluar dari kamar operasi, membuat Donghyuck sedikit tersipu malu. Mereka berdua berganti baju dalam diam, dan Donghyuck berusaha tidak melirik berkali-kali guratan tinta hitam yang menghiasi pundak dan tulang selangka Mark (Renjun benar, Donghyuck sudah menjomblo terlalu lama. Ia bahkan tidak bisa menjaga denyut jantung dalam batas normal ketika melihat pria lain berganti baju di depannya).

“Gue minta maaf juga, ya, udah bikin lo kerja di sabtu gini, Hyuck,” ucap Mark, “Gue pikir bakal lebih cepet beres aja kalau lo ikut bantu,”

“Butuh bantuan atau lo cuma mau ngetes, kak?” Serang Donghyuck balik dengan nada bercanda, yang disambut tawa renyah dari Mark. “Hmm, mungkin itu juga. Tapi, beneran, gue minta maaf,”

“Sekali lagi, nggak apa, Kak. Gue kan emang niatnya hari ini mau belajar sama lo, yaudah ini masuk dalam salah satu pembelajaran itu,”

Mark melirik ke layar ponselnya, jam yang tertera sudah menunjukkan pukul 7 malam. Waktu berjalan cukup cepat ketika kamu sedang berada di dalam ruang operasi. “Udah masuk jam makan malam dan kita belum makan. Mau diskusi sekalian makan malam?”

Donghyuck bahkan belum sempat mengatakan apapun ketika perutnya mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Mark dengan sebuah suara yang menggema keras di dalam ruang ganti, membuat Donghyuck merutuki dirinya sendiri karena mempermalukan diri untuk entah keberapa kalinya di depan Mark.

“Gue anggap itu sebagai jawaban lo,” Mark terkekeh sebelum melingkarkan satu lengannya di leher Donghyuck, “Lo mau makan malam apa? Gue mau traktir karena lo udah bantuin gue hari ini,”

“Kak, nggak usah repot-repot,” tolak Donghyuck sopan, “Gue bisa nanti aja kok beli makan malam. Beli diluar atau beli sesuatu di vending machine yang biasa,”

“Tapi gue memang mau traktir lo!” Paksa Mark, sebelum menambahkan, “Lo mau beli makanan di vending machine apa lagi? Cheetos lagi? Nggak baik makan junk food terus, Hyuck. Udah, ikut gue aja ya, gue tau tempat makan enak di sekitar sini. Tempat ini favorit gue sama residen yang lain,”

Pada akhirnya, Donghyuck hanya bisa mengangguk pasrah, memangnya ia mampu merubah keputusan Mark? “Tapi gue yang bayar makan di diskusi kita selanjutnya ya, Kak,”

Mark melemparkan senyum lebarnya ke Donghyuck— senyum begitu lebar yang membuat kedua matanya hampir hilang di balik poni rambutnya, “Gue nggak janji, tapi gue iyain dulu supaya lo setuju!”

--

Donghyuck berharap ia punya kemampuan super untuk menghilang sekarang.

Ia mempercepat langkahnya menuju ruang residen yang terletak di belakang rumah sakit, dalam hati berharap ia tidak bertemu dengan teman ataupun gurunya sepanjang perjalanan— Donghyuck benar-benar tidak bisa berhadapan dengan mereka sekarang.

Air mata sudah mengancam untuk keluar dari kedua ujung matanya, tetapi ia berusaha menahannya sekuat yang ia bisa. Pikirannya kalut, memori di PICU(5) beberapa saat lalu terus berputar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak. Tangannya masih bergetar sebagai efek dari kerja keras yang ia lakukan barusan.

Donghyuck tidak tahu bagaimana ia sampai di ruang residen di tengah pikirannya yang kacau, yang ia tahu hanyalah untuk berlari sejauh mungkin dari PICU. Diketuknya pelan pintu kamar residen sebelum ia masuk, bersyukur dalam hati ketika tidak ada yang menjawab atau merespon— kamar residen yang kosong adalah sesuatu yang ia benar-benar butuhkan sekarang.

Donghyuck mendudukkan dirinya di salah satu tempat tidur yang ada, kedua tangannya refleks memeluk tubuhnya sendiri yang sudah bergetar hebat. Ya Tuhan, Donghyuck tidak tahu kalau semua ini akan sesakit ini...

“Hyuck? Donghyuck, itu lo?” Sebuah suara yang tiba-tiba datang membuat Donghyuck refleks menghapus air mata yang sudah terlanjur berhasil keluar menuruni pipinya. Saat ia menoleh, ia dihadapkan dengan Mark yang memasang muka khawatir.

“He—hei, Kak, kok lo disini?” Donghyuck memaksakan dirinya tersenyum, walaupun ia yakin akan terlihat sangat aneh bagi siapapun yang menyaksikan. Melihat reaksi Mark, Donghyuck tahu usahanya tidak berhasil.

“Hyuck, ada apa?”

Hanya dengan satu pertanyaan yang terlontar dari mulut Mark, pertahanan Donghyuck runtuh. Seluruh air mata yang sebelumnya ia tahan langsung mengalir deras, tubuhnya bergetar hebat karena intensitas dari isakannya. “Kak—,” isaknya dengan suara parau, “Kak, gue nggak tau kalau sakitnya bakal kayak gini..”

Donghyuck merasakan satu pasang lengan segera menariknya untuk bersandar ke tubuh hangat tidak lama setelahnya, disusul dengan sebuah tangan hangat yang mulai mengelus kepala dan punggungnya pelan secara bergantian. “Kak, gue nggak bisa nyelamatin dia kak... Nggak bisa nyelamatin Sejeong kak...”

“Hyuck..” bisik Mark pelan, “Lo tenangin diri lo dulu, ya. Nangis aja dulu sebanyak yang lo mau, abis itu lo cerita. Gue nggak mau lo nyakitin diri lo sendiri kalau maksa cerita sekarang, ya...”

Mengikuti perintah Mark, Donghyuck akhirnya berhenti berusaha bicara. Lidahnya terasa sangat-sangat kelu— lidah yang sama yang mengumumkan kematian Sejeong. Mengingat nama itu lagi, tangis Donghyuck berubah semakin keras. Pelukan di sekitarnya berubah menjadi semakit erat, “Tenang aja, gue nggak kemana-mana, Hyuck,”

Donghyuck tidak tahu seberapa lama ia menangis, sampai akhirnya ia bisa sedikit lebih tenang. Donghyuck menarik tubuhnya pelan, melepaskan diri dari dekapan hangat Mark. Ia yakin wajahnya merah padam dari rasa hangat yang ia rasakan di kedua pipinya karena melihat bercak gelap yang sekarang terbentuk di kemeja Mark, “Kak, sorry baju lo jadi basah....”

“Nggak usah dipikirin, Hyuck. Gue nggak masalah,” Mark menyerahkan satu botol air mineral yang entah ia dapat dari mana ke Donghyuck, “Minum dulu, tenggorokan lo pasti nggak enak banget,”

Mereka menghabiskan beberapa detik dalam sebuah keheningan yang nyaman. Donghyuck sudah merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, tetapi isakan-isakan kecil terkadang masih berhasil lolos dari mulutnya. Ia sangat berterima kasih akan gestur Mark yang dengan sabar menunggunya bercerita.

“Gue ketemu pasien ini waktu gue baru-baru aja masuk residensi. Bayi cantik, manis, dan mungil namanya Sejeong, Kak,” Donghyuck memulai, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya mengingat memori pertamanya dengan Sejeong, “Dia dateng waktu gue yang jaga. Sesak berat sampai sekujur tubuhnya membiru. Untung saja saat itu, kita masih bisa menyelamatkan dia.”

“Sejeong ternyata punya kelainan Tetralogy of Fallot(6), Kak. Bahkan sudah sempat dioperasi paliatif(7) nggak lama setelah dia lahir. Dia bener-bener definisi a fighter since she was born,” Saat itu, Professor Woo yang menangani Sejeong memutuskan dia masih belum cukup fit untuk bisa dilakukan operasi koreksi total karena berat badannya masih rendah. Setelah keadaannya stabil, Sejeong diperbolehkan pulang terlebih dahulu,”

“Awalnya gue biasa-biasa aja, tapi entah kenapa, setelah pertemuan gue sama dia pertama kali di IGD saat itu, gue jadi sering banget ketemu dia. Kadang di poliklinik rawat jalan, saat dia datang untuk kontrol bulanan. Kadang di IGD juga, kalau sesaknya menjadi cukup berat sampai tidak bisa ditahan lagi. Mungkin itu yang bikin gue jadi sedikit lebih attached sama dia dibanding pasien lain? Selain karena gue kagum dia udah jadi pejuang sejak sesaat setelah dia lahir,”

“Sejak itu, setiap gue tau kalau dia lagi di rawat di rumah sakit, gue selalu sempetin buat menjenguk dia. Bahkan walau gue bukan dokter residen yang jadi penanggung jawabnya,” Donghyuck menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, “Beberapa hari yang lalu, gue ketemu dia dan orang tuanya di poliklinik rawat jalan. Muka ibunya berseri-seri, ngabarin gue kalau Sejeong akhirnya memenuhi kriteria untuk bisa dioperasi,”

“Gue jelas ikut seneng, dong, Kak. Gue ngeliat gimana perkembangan Sejeong dari minggu ke minggu, selama beberapa bulan terakhir. Sejeong bener-bener ngingetin gue tentang kenapa gue memilih jadi dokter bedah toraks dan kardiovaskular, supaya bisa memberi kesempatan untuk anak-anak seperti dia kesempatan untuk hidup lebih lama,”

“Sejeong akhirnya dioperasi satu minggu yang lalu. Gue nggak ikut operasinya sejak awal, tapi gue berusaha hadir disana setelah gue selesai sama tugas harian gue,” Donghyuck menghela napas, “Waktu dia keluar kamar operasi, kondisinya cukup ideal. Ia masih butuh monitoring beberapa hari di PICU, sebelum akhirnya kita bisa mulai melepas alat-alat bantu yang ia gunakan,”

“Beberapa hari pertama tidak ada masalah dengan Sejeong. Kalau bisa dibilang, semuanya berjalan sesuai yang diharapkan. Sampai dua hari yang lalu, Sejeong mulai menunjukkan tanda-tanda komplikasi,” suara Donghyuck sudah semakin menipis. Sebuah tangan hangat meraih satu tangannya untuk membawanya ke dalam sebuah genggaman erat, “Waktu gue sampai di PICU tadi, ekg Sejeong tiba-tiba flatlining(8)....”

“Gue udah coba resusitasi, gue udah coba masukin obat, nggak ada yang berhasil,” Donghyuck memejamkan matanya, “Gue cuma berniat menjenguk dia untuk lihat keadaannya dia hari ini, Kak. Yang nggak gue sangka adalah gue akan jadi orang yang mengumumkan kematiannya...”

Donghyuck menundukkan kepalanya kembali, pertahanannya runtuh untuk yang kedua kalinya. “Gue ngerasa gagal, Kak. Gagal terhadap Sejeong, gagal terhadap diri sendiri. Seperti— setiap detik yang udah gue habiskan belajar selama pendidikan semuanya sia-sia, karena gue nggak bisa kasih kesempatan Sejeong untuk hidup,” Tangisnya sudah tidak sekeras tadi, tapi justru rasa sakit yang ia rasakan di dadanya terasa semakin tajam. Donghyuck merasakan usapan halus ibu jari Mark di telapak tangannya, berusaha menenangkannya.

“Gue tau apa yang lo rasain, Hyuck.” Mark memecah keheningan di antara keduanya tidak lama kemudian, “Gue pernah menghadapi beberapa kasus yang sama seperti lo, tapi ada satu kasus yang bener-bener membekas banget buat gue. Gue boleh cerita?”

Penasaran dengan arah ucapan Mark, Donghyuck hanya mengangguk pelan.

“Wanita ini awalnya mendapatkan diagnosis kanker payudara beberapa tahun sebelumnya. Ia sudah menjalani operasi demi operasi, bahkan juga menjalani kemoterapi. Tapi bukannya berkurang, sel kankernya sudah terlanjur menyebar ke organ tubuh lainnya. She was in massive, massive, pain, karena kankernya bahkan sudah sampai ke tulang belakangnya. Segala obat anti nyeri yang ada di buku sudah dicoba, dari yang paling lemah sampai yang paling poten. Tapi tidak ada satupun yang bisa membantu meringankan gejalanya. Gue hanya bisa terdiam pasrah setiap kali ia memohon obat anti nyeri dinaikkan dosisnya lagi. Padahal dosis yang ia dapatkan sudah paling tinggi,”

“Setelah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit, pada suatu Sabtu siang, wanita ini pergi meninggalkan dunia selama-lamanya dalam tidur tenangnya, dikelilingi oleh suami dan anak-anak yang ia cintai. Dan lo tau, Hyuck? Mereka nggak ada yang nangis. Sama sekali. Mungkin di awal-awal aja karena kaget, tapi setelahnya nggak ada,” cerita Mark membuat Donghyuck mendongakkan kepalanya, ekspresi wajahnya bingung, “Kok bisa?”

“Gue nanya ke mereka langsung, karena itu keliatan nggak biasa banget, kan? Bahkan, mungkin imajinasi kita sudah berlarian kesana kemari membuat skenario-skenario yang bisa jadi adegan suatu drama makjang—“

“Gue nggak, kok, Kak,” potong Donghyuck cepat, membela dirinya. Mark hanya terkekeh ringan sebelum melanjutkan, “Mereka bilang, mereka nggak nangis karena mereka bahagia untuk istri dan ibu mereka. Karena pada akhirnya, ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa rasa nyeri. Paling tidak, sebut mereka, penderitaannya akhirnya menemui titik akhir. Mereka sudah mempersiapkan diri sejak lama, bagi mereka ini semua jauh lebih tidak menyiksa daripada melihat orang yang mereka sayang kesakitan sementara mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuatnya merasa lebih baik,”

“Jadi, Chan, inti dari cerita gue adalah.. there’s only so much we can do as a doctor. Pada akhirnya, semua keputusan baik kesembuhan ataupun kematian, akan kembali ke tangan Tuhan. Dan wajar, kok, wajar banget kalau lo merasa putus asa,” Mark mengangkat kepalanya untuk menatap Donghyuck tepat di matanya, “Tapi jangan khawatir, karena yang paling penting adalah kita sudah melakukan yang terbaik.Then any effort, even in the smallest form, will never go to waste.

--

“Kerja bagus hari ini, dokter Lee,” puji Professor Han, yang Donghyuck balas dengan membungkuk sejauh yang ia bisa dengan tubuh yang terbalut gaun operasi lengkap. “Terima kasih, Professor Han. Terima kasih juga atas kerja keras anda hari ini,” Donghyuck bisa menangkap senyum Professor Han dari balik masker yang ia kenakan, sebelum akhirnya keluar dari kamar operasi.

“Tolong forcep sama needle holdernya, Kak,” pinta Donghyuck sopan kepada scrub nurse yang berdiri di sisi lain pasien. Sudah seminggu terlewati semenjak kematian Sejeong, and Donghyuck is picking himself up. Setelah cerita dan nasehat Mark hari itu, Donghyuck tahu cepat atau lambat ia harus mencari cara untuk menyembuhkan dirinya dan kembali fokus. Apalagi ia diberi kesempatan untuk ikut menyelesaikan kasus unik yang ia temukan beberapa waktu lalu, ia menerjunkan dirinya ke dalam banyak operasi, membaca lebih banyak jurnal, berdiskusi lebih panjang dengan para gurunya, apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya sejenak.

Donghyuck selesai menutup rongga dada pasien sekitar satu jam kemudian, meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah gerakannya dibatasi oleh gaun operasi dan antek-antek alat pelindung diri lainnya selama berjam-jam. Setelah memastikan seluruh dokumen pasca operasi pasien sudah ia lengkapi, Donghyuck berpamitan kepada seluruh perawat yang sudah membantunya hari ini sebelum mendorong pintu kamar operasi untuk keluar menuju lorong.

Sebuah sensasi dingin dari benda yang ditempelkan di pipinya menyambutnya secara tiba-tiba, membuat Donghyuck terlonjak kaget di tempatnya berdiri. Ketika menoleh untuk melihat siapa pelakunya, ia menemukan Mark yang bersandar santai pada dinding di dekatnya sambil mengapit sebuah map. “Lo kok disini sore-sore, Kak?” Tanya Donghyuck sambil meraih sekaleng milo dingin yang Mark ulurkan.

“Gue tadi habis ketemu Professor Han,” jawab Mark seiring menyamakan langkahnya dengan Donghyuck menuju lift, “Terus gue liat lo asistensi, jadi sekalian gue tungguin lo selesai nutup deh,”

Ting!

Pintu lift terbuka dan menampilkan lift yang penuh walaupun hari sudah beranjak cukup sore. Sepertinya semua orang memaksimalkan hari kerja terakhir di minggu ini agar dapat bersantai penuh di dua hari selanjutnya. Donghyuck mengenali beberapa wajah familiar yang menyapanya dengan lambaian tangan kecil dan senyuman. Beberapa orang bergerak untuk menyisihkan tempat agar Donghyuck dan Mark bisa masuk. Walaupun pada akhirnya, space yang ada mengharuskan Donghyuck untuk berdiri diapit dinding dan Mark yang berada di belakangnya.

Pintu lift tertutup dan ekor mata Donghyuck menangkap satu lengan Mark terulur dari samping kiri kepala Donghyuck ke dinding di depan Donghyuck untuk menumpu tubuhnya. Donghyuck tahu hal itu dilakukan untuk menjaga posisi tubuhnya agar tidak— secara tidak sengaja— menindih Donghyuck, tetapi seluruh fungsi indera Donghyuck malah seperti teramplifikasi dengan dekatnya jarak mereka sekarang. Ia bisa mendengar deru nafas Mark, merasakan hembusan nafasnya di tengkuk lehernya, bahkan hangat tubuhnya.

Ya Tuhan, sejak kapan perjalanan dari lantai 3 menuju lantai 1 menjadi selama ini, sih?

Ting!

Bunyi lift yang menandakan mereka sudah mencapai lantai tujuan membuat Donghyuck akhirnya menghembuskan napas yang ia tidak sadar ia tahan. Satu persatu pengguna lift turun dengan langkah ringan, saling bercengkrama satu sama lain tentang apa rencana mereka untuk akhir minggu. Donghyuck dapat merasakan presensi Mark yang akhirnya dapat menyamai langkahnya setelah Donghyuck meninggalkannya untuk keluar lift secepat yang ia bisa tadi, “Lo ada jadwal apa hari ini, Hyuck?”

“Nggak ada sih, Kak. Paling cari makan, terus pulang, terus istirahat, terus belajar lagi,” Donghyuck mengedikkan bahunya, “Operasi kasus myxoma-nya dijadwalkan minggu depan. I don’t think I’m ready, yet.”

“Oh iya, ya. Tapi kita udah bahas semua kan kemarin, sampai kemungkinan komplikasi dan juga tatalaksananya?”

Donghyuck mengangguk, “Sisa gue aja ulang-ulang lagi, Kak. Biar hapal, hehe,”

“Lo tadi bilang mau cari makan, kan?” Tanya Mark sambil membuka lokernya untuk mengambil baju ganti, “Mau bareng?”

Tidak sampai lima belas menit kemudian, Donghyuck sudah berada di dalam mobil Mark yang melaju pelan keluar rumah sakit menuju kegelapan malam. Jalanan sudah terlihat sangat ramai, jelas dipenuhi oleh orang-orang yang sudah tidak sabar untuk melepas penat yang didapat selama lima hari terakhir. Donghyuck tidak ingat kapan ia terakhir kali melakukan ini, mengitari kota untuk menikmati rasanya melebur bersama di tengah keramaian.

“Waktu lo ngajak makan bareng, gue nggak nyangka malah diajak ke McD sih, Kak,” ucap Donghyuck saat menyadari Mark membelokkan mobilnya ke restoran cepat saji tersebut. Mark hanya tersenyum simpul, “Gue tau obat dari sebuah minggu yang melelahkan adalah a good familiar junkfood. Lo nggak usah pura-pura nggak suka, deh. Padahal udah mikirin mau pesen apa,”

Donghyuck tergelak, “Lo tau aja deh, Kak,” Ia mengalihkan perhatiannya ke dalam restoran dan mendesah sedih ketika melihat keramaian di dalam restoran melalui dinding kaca, “Kak, tapi kayaknya rame banget, deh. Apa kita drive-thru aja?”

Mark berhasil menemukan tempat parkir di suatu sudut lahan tempat restoran itu berada, akhirnya Donghyuck dapat melepaskan sabuk pengamannya dan fokus pada beberapa bungkusan kertas coklat yang mengeluarkan aroma sedap di pangkuannya. Mereka akhirnya memutuskan untuk membeli melalui layanan drive-thru, tidak ingin menambah kelelahan mereka dengan mengantri berjam-jam. Lagipula, kalau dipikir, Donghyuck lebih memilih makan dengan tenang di dalam mobil ini dibandingkan hiruk pikuk di luar sana.

Tidak perlu waktu lama sebelum mereka dapat menggenggam burger masing-masing dan mulai sibuk mengunyah. Panel dashboard yang memisahkan tempat duduk mereka berdua sudah berubah fungsi menjadi meja makan dadakan tempat mereka meletakkan saus tomat dan saus sambal di atas kertas minyak pembungkus.

“Kak,” Donghyuck memecah keheningan terlebih dahulu, “Lo pernah nggak sih ngerasa selalu kurang, kayak apa yang lo lakuin nggak pernah cukup, mau sebagaimanapun lo berusaha?”

Mark terdiam sejenak, seperti memikirkan baik-baik jawaban yang mau ia berikan. Sebelum ia menjawab, Mark balik bertanya terlebih dahulu, “Lo lagi ngerasa gini, Hyuck?”

Donghyuck mengela nafasnya panjang, burger di tangannya sudah ia abaikan. “Gue juga nggak tau, Kak. Yang gue tau, gue capek, tapi gue nggak boleh capek karena masih banyak hal yang harus gue baikin,” Donghyuck tertawa miris, “Ya ampun, gue nggak tau diri banget ya cerita ini sama residen tahun akhir. Padahal gue baru aja masuk tahun kedua, bahkan belum setengah jalan,”

“Hyuck, rasa capek lo itu valid kali,” Mark menjawab dengan raut serius, “Dan untuk menjawab pertanyaan lo sebelumnya, ya, pastinya gue pernah ngerasa kurang. We’re not infallible superheroes, Hyuck. We will always have our own flaws to overcome. We make mistakes, yes. But that gives us room to grow because not everyone is perfect nor a genius with superhuman abilities,”

Donghyuck masih terdiam, kalut dengan pikirannya sendiri. Seperti bisa membaca pikirannya, Mark bertanya, “Lo masih kepikiran Sejeong, ya, pasti?”

Donghyuck tersenyum getir, bibirnya bergetar saat ia membuka mulutnya untuk berbicara, “Kadang gue keingetan aja, Kak. Andai gue bisa ngelakuin yang lebih baik lagi buat Sejeong,”

“Hyuck, lo nggak bakal bisa ngelakuin hal yang lebih baik lagi karena gue dan lo sendiri tau, kalau lo udah ngelakuin yang terbaik yang lo bisa,” ucap Mark sebelum melanjutkan, “Dan lo juga akan melakukan yang terbaik buat pasien myxoma lo karena lo udah belajar, kita udah ulang-ulang teorinya sampai mulut kita berbusa. Dan inget juga, Hyuck, lo nggak sendirian,”

“Lo selalu tau ya, Kak, apa yang harus diucapkan,” Donghyuck akhirnya bisa tertawa kecil, beban berat di dadanya akibat kekhawatirannya terhadap operasi besar yang akan ia jalani minggu depan seperti sedikit berkurang mendengar kata-kata Mark. “But thank you, I appreciate that a lot,”

“You better do!” ucap Mark iseng, “Udah ah, sedih-sedihannya! Kan maksud gue mau ajak lo makan diluar hari ini supaya lo nggak gugup dan kepikiran, malah jadi kebawa lagi, deh,” seru Mark, satu tangannya terulur ke depan untuk menaikkan volume radio. “Nih dengerin lagu aja, biar nggak sendu,”

“Oke, oke, gue ganti topiknya deh,” Donghyuck mengubah posisi duduknya agar dapat menghadap Mark secara penuh, “Gue penasaran, kak, kenapa lo memilih bidang ini buat jadi spesialisasi lo? Ceritain dong,”

Mark baru saja ingin menjawab tetapi sesuatu yang ia lihat menangkap perhatiannya terlebih dahulu, “Hyuck, sebentar ya, lo jangan gerak,” ucapnya seiring mencondongkan badannya ke arah Donghyuck dan berhenti ketika jarak wajah mereka hanya tersisa 5 cm dari satu sama lain. Gerakan tiba-tiba Mark tentu tidak diduga oleh Donghyuck, yang tanpa sadar menahan nafasnya— seluruh dunia seakan berubah blur di sekitarnya, dan yang bisa Donghyuck fokuskan hanyalah wajah Mark dan lagu dari radio yang sepertinya menggambarkan apa yang sedang ia rasakan;

I like you, i like you, i like you,

Sorry, I never meant to

“Ada saus tomat di ujung bibir lo,” bisik Mark pelan sebelum Donghyuck merasakan usapan hangat ibu jari Mark di ujung bibirnya. Tidak lama setelahnya, Mark sudah kembali duduk di kursinya, membersihkan ibu jarinya dengan santai seperti ia tidak baru saja membuat jantung Donghyuck hampir berhenti beberapa detik lalu.

“Eh, lo tadi tanya apa, Hyuck? Kenapa gue mau milih bedah thoraks ya? Jadi waktu gue koas dulu—“

Seluruh ucapan Mark bagaikan masuk dari telinga kanan hanya untuk keluar dari telinga kiri Donghyuck, sang pemilik masih terpaku untuk menenangkan denyut jantungnya yang sudah tidak beraturan. Donghyuck bersyukur mereka memutuskan makan di mobil, paling tidak merah di wajahnya tidak akan terlihat jelas dibawah pencahayaan minimal di dalam mobil. Donghyuck menolehkan wajahnya untuk menatap Mark, yang masih dengan semangat menceritakan cerita zaman sekolahnya, tangannya bahkan bergerak kesana-kemari penuh semangat, benar-benar seperti tanpa menyadari efek dari apa yang baru saja ia perbuat ke Donghyuck

But who’re we kidding, it wasn’t like I had a say

One look at you and I wouldn’t have it any other way

Donghyuck never relates to a song this much for his entire life.

--

“Gue liat lo deket juga ya sama senior yang baru muncul itu,” Renjun berkata sambil mengambil tempat duduk di seberang Donghyuck. Yang diajak bicara masih khidmat menyandarkan kepalanya di atas meja dengan mata tertutup. Ia baru saja menyelesaikan tugas hariannya hari ini, dan berharap bisa mengisi energi terlebih dahulu di ruang residen sebelum pulang.

“Gue liat juga lo sepertinya nggak pernah, ya, nyapa yang bener,” Donghyuck menjawab sarkas, “Selalu dimulai dengan ngomentarin gue,”

That’s how real friends are, Hyuck. Lo mau gue gimana? Selamat sore wahai Tuan residen Lee. Dalam beberapa hari terakhir saya memperhatikan anda terlihat cukup dekat dengan residen senior Lee yang baru saja kembali beberapa minggu yang lalu. Apakah benar, tuan? Lo mau gue gitu?”

Donghyuck hanya mendengus, kesal karena Renjun selalu punya jawaban untuk segala macam argumen. Sayangnya, hari ini energi Donghyuck sedang tidak cukup banyak untuk membalas Renjun balik. Diubahnya posisi tubuhnya agar kali ini kepalanya bertumpu pada salah satu tangannya, “Senior yang baru muncul yang mana? Kak Mark?”

“Hmm, hmm,” respon Renjun dari balik gelas kopinya.

“Yah, dia baik. Ternyata asik juga diajak ngobrol macem-macem. Dan pastinya lebih loyal daripada lo yang selalu ninggalin gue buat pacaran sama Jeno,” Donghyuck memutar matanya, “Lagipula, lo ngarep apa? Gue nggak akur sama dia? Sementara lo liat sendiri Professor Han nyuruh dia buat bantuin gue ngerjain tugas laporan kasus?”

“Woah, woah, woah,” Renjun dengan cepat mengangkat kedua tangannya, seperti memberi sinyal menyerah. “Nggak perlu defensif banget gitu juga kali, Hyuck. Beneran suka, ya, lo?”

Mendengar pertanyaan Renjun membuat Donghyuck berpikir. Ia tidak pungkiri kalau semenjak hari dimana Donghyuck menangis dan membuka hatinya di depan Mark, Mark sepertinya menjadikan “hibur Donghyuck” sebagai salah satu misinya. Terkadang ia menemukan Mark muncul— entah dari mana, dengan dalih mengajaknya berdiskusi pasien, yang selalu diakhiri dengan memesan makan malam dan menyantapnya bersama sambil menyampaikan interpretasi masing-masing dari jurnal yang mereka baca. Kadang disaat Donghyuck tahu Mark sedang sibuk dengan tesis atau apapun yang harus ia kerjakan sebagai residen tahun akhir, keberadaannya digantikan oleh botol minuman penambah energi atau kotak kopi dengan catatan kecil yang ditempelkan di depannya, memastikan tidak ada yang mengambilnya selain Donghyuck.

Mark doens’t really have to go for the extra miles, but Donghyuck appreciates the gestures. So much.

Mark bisa menjadi sangat lucu, banyak omong, bahkan kadang berisik. Sedikit berbeda dari senior-seniornya yang lain, yang kadang selalu terlihat serius dan menyeramkan. Bahkan sedikit berbeda dari Renjun yang tidak terlalu banyak omong ketika ia tidak merasa ada yang perlu dibicarakan. Mereka juga menemukan kesukaan yang sama dalam musik, perjalanan mereka ke McD minggu lalu berakhir di noraebang terdekat yang membuat Donghyuck baru sampai ke apartemennya pagi-pagi buta— badan lelah tetapi merasa sepenuhnya bahagia setelah sekian lama.

Mark suka bermain basket, sementara Donghyuck tidak bisa memainkan olahraga dengan bola apapun itu. Hal itu membuat Mark memutuskan untuk menyeret Donghyuck suatu hari ke game arcade terdekat untuk berlatih basket. Sebagai gantinya, Donghyuck mengajak seniornya itu ke sebuah PC bang untuk menantangnya bermain Overwatch— hanya untuk kalah telak dari tim Mark pada akhirnya.

Donghyuck merasa ia kembali ke masa-masa universitas dulu, dan ia menyukai setiap detiknya.

Mark membuat Donghyuck bersemangat untuk pergi ke rumah sakit— mungkin disini ia mengerti mengapa Renjun seperti selalu punya energi tambahan walaupun tugas yang ia miliki sama banyaknya dengan Donghyuck. Donghyuck dan Mark berbagi semangat dengan satu sama lain dalam bentuk senyuman yang dilemparkan satu sama lain saat berpapasan di kamar operasi, beberapa inside jokes yang hanya mereka berdua mengerti, atau terkadang gestur sederhana seperti tepukan ringan di punggung saat berpapasan.

Di lain sisi, Donghyuck senang memiliki seseorang untuk berbagi beban dalam menangani sebuah kasus berat dengan tingkat pemahaman yang sama. Ia bisa membicarakan apa yang ia temui hari itu, dan juga mendapatkan feedback. Ia tidak perlu takut mencari topik lain— seperti yang ia lakukan dengan beberapa orang yang pernah dekat dengannya. Walaupun Donghyuck sudah terbiasa dan tidak menyalahkan siapapun, it’s a different kind of feeling now.

And it’s a nice one.

“Njun, gimana caranya lo yakin saat itu, kalau lo suka sama Jeno?”

--

Hari besar yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari dimana operasi pasien Donghyuck yang sudah ikuti dan pelajari selama beberapa minggu terakhir akan dilaksakan. Seluruh anggota tim yang terdiri dari dokter dari berbagai bidang sudah melakukan rapat briefing terakhir kemarin sore, dimana Donghyuck dengan lugas memaparkan perjalanan dan perkembangan pasien dari hari ke hari, diikuti dengan rencana pendekatan tindakan yang sudah ia bahas dengan kritis bersama Mark.

Donghyuck sedang berusaha menenangkan diri di depan ruang operasi saat ia merasakan seseorang menepuk bahunya dari belakang. Saat ia memutar tubuhnya, ia dihadapkan dengan sosok yang sudah sangat amat familiar baginya, Mark. “Hei,” sapa yang lebih tua terlebih dahulu.

“Kak,” senyum Donghyuck merekah, “Kok lo disini?”

“Kan mau semangatin lo,” jawab Mark santai. “Kak, lo nggak usah repot-repot,”

“Hyuck, gue kesini bukan karena gue harus kok. Tapi karena gue mau,” satu tangan Mark terangkat untuk mengacak rambut Donghyuck— mengacak jantung Donghyuck di saat yang sama—, ”Nggak usah tegang, you got this,”

Sebuah panggilan dari dalam ruangan operasi menginterupsi mereka berdua, ternyata seluruh anggota tim diminta berkumpul untuk melakukan brifieng terakhir. Mereka akan meninjau lagi satu persatu langkah prosedur yang akan mereka lakukan secara singkat sebelum operasi sebenarnya dimulai. Donghyuck memutar tubuhnya sekali lagi untuk menghadap Mark setelah menginfokan bahwa ia akan menyusul sebentar lagi, “Kak, gue masuk duluan, ya,”

“Hyuck, jangan lupa, ya. Remember that any effort..”

“..even the smallest ones, will never go to waste,” potong Donghyuck di tengah, menyaksikan sebuah senyum muncul di wajah Mark melihat dirinya yang penuh percaya diri sekarang. Sangat berbeda dengan Donghyuck yang penuh rasa ragu terhadap dirinya, berbeda dengan Donghyuck yang selalu memandang rendah kemampuannya. Mark menarik Donghyuck ke dalam sebuah pelukan, mengeratkannya sekali sebelum melepaskan Donghyuck.

“Semoga berhasil, dokter Lee,”

--

Matahari sudah mulai turun untuk kembali ke tempat peristirahatannya di ufuk barat ketika Donghyuck merasakan kehadiran Mark yang mengambil tempat duduk di sampingnya, wangi parfumnya sudah sangat familier untuk Donghyuck sekarang. “Pantes dicariin kemana-mana nggak ada, ternyata disini...”

Donghyuck hanya tersenyum simpul, tatapannya masih terpaku pada pemandangan kota Seoul di sore hari yang sibuk. “Bagus juga ya, Kak, pemandangan dari atas rooftop rumah sakit. Gue nggak pernah tau dari dulu ternyata bisa nenangin banget,”

Mark tidak menjawab, hanya menggeserkan tubuhnya lebih dekat ke Donghyuck dan memandu kepala yang lebih muda dengan satu tangannya untuk diletakkan di pundaknya. “Kak—“

“Lo pasti capek, kan?” Potong Mark cepat, “Udah istirahat dulu aja,”

Donghyuck merasakan rasa hangat yang sudah lama ia tidak rasakan menyeruak ke seluruh rongga dadanya bagaikan sebuah pelukan hangat. Ia memejamkan matanya, membiarkan dirinya rileks seutuhnya setelah menjalani sebuah hari yang panjang dan berat. “Makasih ya, Kak,”

“Kok makasih ke gue?”

“Terima kasih udah bantuin gue ngerjain kasus ini sejak awal, udah bersedia nemenin gue diskusi panjang yang kayak nggak ada ujungnya, bahkan udah ngebantu gue untuk bangkit lagi setelah hampir putus asa karena kematian Sejeong, dan lagi, lo harusnya nggak perlu datang hari ini tapi lo dateng buat nyemangatin gue,”

Donghyuck menarik napas panjang sebelum menghembuskannya dengan tanpa beban, tidak dapat menahan sebuah senyuman yang muncul di wajahnya, “Operasinya lancar, Kak. Bahkan hemodinamik pasiennya stabil waktu kita bawa ke ICCU(8). Professor Han bilang kita hanya tinggal tunggu pasiennya sadar sambil evaluasi, berharap nggak ada komplikasi selama masa pemulihan,”

“Gimana perasaan lo sekarang?”

“Nggak tau pasti,” Donghyuck menjawab, “Senang, bangga, excited, semua jadi satu? Tapi yang gue tau pasti adalah gue lega, Kak, karena gue sudah melakukan yang terbaik. Dan karena itu, apapun hasilnya nanti, gue merasa damai lahir dan batin,”

“Selamat, ya, Hyuck. Lo nggak perlu bilang terima kasih ke gue, karena itu semua adalah hasil dari kerja keras lo sendiri,” Suhu di luar sudah terasa semakin dingin, tetapi Donghyuck masih tidak ada niatan untuk kembali masuk ke rumah sakit. “Kak, nanti makan malam sama gue, ya. Tapi gue yang bayar, anggap aja perayaan tentang hari ini,”

“Sama ada sesuatu yang pengen gue kasih tau sama lo,”

Mark menggumamkan sesuatu yang Donghyuck tidak dapat dengar secara pasti, tapi yang Donghyuck tahu, satu tangan Mark terulur untuk melingkari pundak Donghyuck, menariknya lebih dekat untuk berbagi panas tubuh. “Lo tidur aja dulu, nanti gue bangunin satu jam lagi. Gue juga ada yang mau gue kasih tau ke lu,”

Sesaat setelah Donghyuck memejamkan matanya untuk membiarkan suara statik dari lalu lintas yang sibuk di bawah sana membawanya ke alam mimpi, ia merasakan sebuah beban ringan familier yang Donghyuck tahu tanpa ragu, adalah kepala Mark yang di tumpukan ke puncak kepalanya, “Selamat tidur, Kak,”

--

”Njun, gimana caranya saat itu lo yakin saat itu, kalau lo suka sama Jeno?”

Mendengar pertanyaan Donghyuck, Renjun meletakkan gelas kopinya kembali ke meja. Sebuah senyuman yang jarang muncul di wajah Renjun hari ini menunjukkan keberadaannya, “Gue bakal terdengar sangat amat cringey sih, Chan. Tapi jawabannya sederhana, gue tau gue tambah bahagia setelah ada Jeno,”

Donghyuck menaikkan alisnya, “Gitu aja?”

Renjun mengangguk dengan yakin, “Gue tau mungkin gue jarang banget nunjukin gimana gue sama Jeno— kecuali sama lo karena kita udah deket banget. Tapi gue bisa pastiin, kalau gue bisa ngelewatin hari-hari penuh stress ini— all thanks to him,”

”Lo tau sendiri kan, Chan. Doing this alone is hard enough, having someone else to share the burden with, and that someone understands... The feeling is beyond words,”

Donghyuck mengangguk-anggukkan kepalanya, berusaha memproses seluruh hal yang Renjun katakan. “Tapi menurut lo, misal nih ya, misal, gue nyatain perasaan gue ke Kak Mark minggu depan. Apa menurut lo terlalu cepat? Kita baru kenal satu sama lain sekitar.. tiga bulan?”

”Well, if you put it that way,” Renjun berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Lo sendiri belum terlalu yakin sama perasaan lo, ya, Hyuck? Makanya lo nanya,”

Diamnya Donghyuck sudah cukup menjadi jawaban untuk Renjun. Ia baru saja ingin menjawab tapi suara notifikasi dari ponselnya tiba-tiba memenuhi ruangan, Renjun mendesah kesal setelah membaca apapun itu yang tertera di layar ponselnya. “Hyuck, gue balik ke NICU dulu, ya. Ada yang lupa dikerjain,”

”Oh iya, Hyuck,” Renjun menghentikan langkahnya menuju pintu untuk kembali menatap Donghyuck, “Kalau memang lo belum yakin, jangan terlalu terburu-buru. Nggak bakal baik untuk lo, dan untuk senior Lee juga. Pastiin dulu perasaan lo, ya?”

”Hyuck, udah pesen makanan?” Suara Mark yang baru kembali dari kamar kecil memotong alur pikiran Donghyuck yang sedang memutar kembali percakapannya dengan Renjun beberapa minggu yang lalu. Donghyuck dan Mark sudah berpindah tempat ke sebuah restoran di dekat rumah sakit mereka, restoran favorit Mark, juga tempat mereka makan malam bersama untuk pertama kali dulu.

Pikiran Donghyuck berkelana kembali melihat Mark masih sibuk memilih menu, apakah ia akan menyatakan perasaannya hari ini? Apakah ia sudah benar-benar yakin dengan perasaannya? Apa ini benar-benar rasa suka atau hanya sekedar rasa nyaman? Bagaimana kalau Mark tidak mempunyai perasaan yang sama dan pengakuan Donghyuck hanya akan membuat hubungan di antara keduanya menjadi canggung? Donghyuck jelas tidak ingin mengacaukan apa yang sudah mereka punya sekarang, Mark adalah teman yang baik, senior yang sangat mengayomi— ia tidak mau kehilangan itu.

Astaga, kepala Donghyuck mau pecah rasanya. It’s not rocket science, but why is it even harder to process than a VATS procedure?

“Hyuck,” panggil Mark, “Serius banget, sih, mukanya. Lo tadi bilang lo mau ngomong sesuatu sama gue, soal apa?”

Donghyuck meringis dalam hati, pertanyaan Mark tepat sasaran sekali dengan badai yang ada di dalam kepalanya. Dear God, bisakah Engkau kasih Donghyuck petunjuk untuk jawaban dari seluruh gundah gulananya? “Lo duluan deh kak, lo juga katanya ada sesuatu yang lo mau kasih tau ke gue kan?”

Kasih gue waktu berpikir lagi sebelum—

“Gue keterima fellowship(9), Chan,” ucap Mark, wajahnya berseri-seri, “Di Kanada,”

Ah.

Ketika Donghyuck berdoa beberapa saat lalu agar Tuhan memberinya petunjuk, ia tidak menyangka jawabannya akan datang secepat itu. Mendengar berita bahagia itu dari mulut Mark, melihat rona bahagia itu di wajah Mark, Donghyuck rasa persoalan perasaannya sekarang bisa menjadi urusan paling akhir. “Kak, bentar-bentar—“

“Gila!!! Gue bangga banget sama lo, Kak!!!” Seru Donghyuck setelah beberapa detik berusaha mencerna informasi baru yang ia terima.

Mark tergelak, “Gue pun sampai sekarang kadang masih nggak percaya, Hyuck. Gue bakal sanggup nggak ya...”

“Kak, kalau ditanya siapa yang pantas dan akan sanggup menjalankan fellowship ini, everyone knows it has to be you.” ucap Donghyuck dengan penuh keseriusan, “Kak, I’m really really happy for you,” lanjut Donghyuck lagi. Dan itu benar, ia benar-benar bahagia secara tulus untuk Mark, seratus persen.

Pujian Donghyuck sepertinya cukup membuat Mark tersipu malu, berusaha mengembalikan fokus kembali ke Donghyuck, “Udah, udah, cukup soal gue. Sekarang giliran lo, lo mau kasih tau gue apa tadi?”

“Hah? Apa ya? Gue udah lupa kak,” jawab Donghyuck. Sebuah kebohongan, ia tahu. Tapi ia sudah yakin dengan keputusannya.

He's not going to confess tonight.

“Lah? Yang bener aja, Hyuck,”

“Bener, deh kak! Udah lah, nggak penting, kok!” Donghyuck berusaha mengalihkan pembicaraan Mark, walau sepertinya tidak semudah yang ia harapkan karena ekspresi di wajah Mark yang masih menunjukkan ekspresi tidak percaya, “Beneran, Kak. Buktinya aja gue sampai lupa, beneran nggak penting artinya,” Donghyuck meyakinkan sekali lagi.

Seperti sudah direncanakan untuk membantu Donghyuck, pada saat itu juga makanan yang mereka pesan datang. Kepulan asap dan bau sedap yang menyeruak sudah membuat air liur Donghyuck menetes, perutnya ikut berbunyi untuk menunjukkan rasa senang mereka karena akhirnya akan diisi setelah 12 jam. “Lo bakal berangkat kapan, Kak?”

“Masih bulan depan, kok,” Mark menjawab, “Lo jangan kangen-kangen sama gue, ya,”

“Yee! Kegeeran amat lu, Kak! Seneng kali, nggak ada yang suka nyeret-nyeret minta ditemenin makan pas gue mau pulang,”

No, Kak, I’m going to miss you a lot.

“Ngomongnya aja gitu. Tapi setiap gue yang ajak makan, lo yang makan paling banyak,”

Mereka jatuh ke dalam percakapan penuh senda-gurau mereka yang biasa— membicarakan soal baju scrub operasi kekecilan yang Mark gunakan tadi pagi, membicarakan cuaca yang sudah semakin dingin akhir-akhir ini— menandakan musim dingin akan segera datang, membicarakan penelitian Mark, membicarakan serial drama televisi baru yang Donghyuck ingin tonton tapi ia tidak sempat, dan topik-topik tidak penting lainnya. Terkadang Donghyuck melihat Mark meletakkan potongan daging ekstra ke piringnya saat yang lebih tua mengira Donghyuck tidak melihat. Donghyuck diam-diam membalasnya dengan menyisakan lauk favorit Mark dan membiarkan seniornya itu mengambilnya, mengatakan bagaimana ia akan sangat merindukan makanan itu saat ia di Kanada nanti.

Ia merasa ada benarnya apa yang Renjun bilang, kalau memang ia masih ragu, lebih baik ia tidak terburu-buru atau tindakannya akan berakibat fatal bagi hubungan baik yang ia sudah bangun dengan Mark. Takdir memang mempertemukan mereka malam itu di lorong rumah sakit yang sepi, takdir jugalah yang membuat mereka harus bekerja sama. Mungkin Mark memang dihadirkan dalam hidup Donghyuck untuk membantunya. Tapi sekarang di saat tugasnya itu sudah selesai membawa Donghyuck ke tujuannya, menyadari betapa berharga dirinya, mereka langsung harus dihadapkan dengan perpisahan. Apakah Donghyuck sedih? Jelas, bagaimanapun Mark sudah menjadi seseorang yang melihatnya di kala ia merasa paling rendah, dan bersedia membantunya untuk bangkit kembali. Apakah Donghyuck kecewa ia tidak dapat menyatakan perasaannya? Mungkin... sedikit? Bayang-bayangan kencan lucu dan panggilan khusus untuk satu sama lain mendadak buyar dari pikirannya. Tapi rasa takutnya kehilangan Mark, walau hanya sebagai teman, jauh lebih besar daripada itu. Kemungkinan Mark tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya tetap ada, dan sepertinya Donghyuck masih belum punya cukup keberanian untuk mempertaruhkan apa yang mereka sudah punya.

Tidak pernah akan ada yang bisa menebak masa depan. Mungkin mereka akan tetap menjadi tidak lebih dari sekedar teman. Mungkin Donghyuck sendiri akan pelan-pelan melupakan Mark dan membuka hati untuk orang lain, atau mungkin Mark yang akan datang dengan kabar bahwa ia menemukan tambatan hati di negeri daun maple sana. Mungkin juga mereka akan bertemu lagi setelah Mark kembali dari Kanada, menyadari mereka mempunyai perasaan yang sama, dan menjadi sepasang kekasih. Kemungkinan terburuk, mereka tidak akan bertemu dengan satu sama lain lagi setelah Mark pergi untuk fellowship, menemukan jalan masing-masing yang jauh berbeda setelah sempat bertemu untuk sejenak di sebuah titik masing-masing di kehidupan mereka— layaknya dua kapal yang bertemu di malam hari, menyalakan lampu sebagai sapaan mereka terhadap satu sama lain, sebelum akhirnya berpisah dan tidak pernah bertemu lagi.

Atau bahkan... dalam satu bulan salah satu dari mereka akhirnya menyatakan perasaan dan memutuskan untuk hubungan jarak jauh? Tapi Donghyuck pikir, usia perkenalan mereka yang baru hitungan bulan, belum tentu bisa menahan beratnya hubungan jarak jauh.

Semua probabilitas itu ada.

Mark pernah menjadi orang yang muncul di hidupnya untuk membantu Donghyuck— itu sendiri sudah menjadi memori yang indah baginya.

Dan Donghyuck rasa itu cukup, untuk sekarang.


--

How could I know

One day I’d wake up feeling more

But I had already reached the shore

Guess we were ships in the night

--

EPILOG

Suasana bandara yang hiruk pikuk harus membuat Donghyuck sedikit mendekat ke Mark, takut kehilangan sosok seniornya itu di tengah kerumunan banyak orang. Banyak orang sepertinya sudah mencuri start untuk menghindari musim dingin dengan berangkat ke negara tropis. Donghyuck menghela napas, andai ia juga bisa liburan seperti orang-orang disekitarnya ini. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia menginjakkan kaki di bandara kalau bukan karena Mark.

Hari ini adalah hari keberangkatan Mark ke Kanada, dan sebagai residen junior yang baik, Donghyuck menyanggupi permintaan Mark untuk mengantarkannya ke bandara hari ini. Seniornya itu sendiri sedang sibuk mengeluarkan apa yang ia perlukan untuk keperluan boarding, tidak menyadari kalau kupluk rajut yang ia kenakan di kepalanya sudah miring kesana kemari— membuat anak rambutnya mencuat kemana-mana.

Donghyuck terkikik pelan, “Kak, sini deh bentar hadep ke gue,” pinta Donghyuck. Saat Mark hanya menatapnya dengan pandangan penuh tanya, Donghyuck mengulurkan kedua tangannya untuk merapikan rambut Mark kembali ke dalam kupluk, “Lo tuh ya, lebih tua dari gue tapi kok rasanya kadang kayak anak kecil,”

“Lo yakin bisa bertahan hidup tanpa gue kan, kak, di Kanada?”

“Gue udah tinggal di dunia ini 34 tahun sebelum ketemu lo, kali, Chan,” balas Mark sambil memutar matanya malas, membuat Donghyuck tertawa lagi karena argumen Mark hanya semakin membuktikan poin yang Donghyuck katakan— kalau Mark adalah anak 5 tahun yang terperangkap dalam tubuh manusia berusia 34 tahun. “Iyadeh, gue tau. Kayaknya yang bakal kangen gue aja nih, ya,”

Of course, I’m going to miss you too, Hyuck,gumam Mark pelan, Donghyuck hampir tidak mendengarnya kalau saja ia tidak fokus pada Mark. “Belum tentu disana ada residen yang dimintai pendapat kira-kira enakan keripik kentang atau cheetos buat makan malam,”

Mendengar kejadian memalukan di pertemuan pertama kali mereka kembali diungkit, Donghyuck dengan refleks mendorong Mark menjauh. “Nggak asik ah, lo, Kak! Dibawa-bawa terus! Udah sana, lo masuk ruang tunggu. Ketinggalan pesawat baru tau lo,”

Reaksi Donghyuck hanya mengundang tawa puas dari Mark, kembali berhasil membuat juniornya itu malu lagi. Padahal, sama seperti yang Mark bilang dulu, ia benar-benar tidak menemukan apapun yang salah dari hal itu. Donghyuck saja yang selalu menganggapnya memalukan. “Tadi aja bilang bakal kangen sama gue, sekarang malah gue diusir,”

Attention please, passengers of Korean Air with flight number KE81 leaving for Vancouver. Please board the aircraft through gate number—

Donghyuck menegakkan badannya, this is the time to say goodbye, “Kak, pesawat lo, bukan?”

Mark melirik jam tangannya, ternyata waktu memang sudah memasuki jam untuk boarding. “Iya,” diputarnya badan untuk menghadap Donghyuck sepenuhnya. Donghyuck melangkah maju untuk menyambut kedua lengan Mark yang terbuka lebar untuk sebuah pelukan perpisahan. “Baik-baik di Kanada, ya, Kak. Please stay alive, itu aja yang gue minta,”

Hanya sebuah senyuman tipis yang Mark berikan sebagai jawaban. “Oh, iya, Hyuck, sebentar,” ucap Mark sebelum merogoh sesuatu dari dalam kantong celananya. Ia mengeluarkan sepucuk kertas yang terlipat rapi, yang ia masukkan dengan cepat ke dalam kantong kardigan Donghyuck. “Lo bacanya nanti aja, ya, pas gue udah masuk ke dalam.”

Terlalu bingung untuk menjawab, Donghyuck akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mark akhirnya meraih koper kabinnya, “Gue masuk ke dalam, ya, Hyuck. Lo jangan lupa jaga diri lo baik-baik, semoga sukses ya perjalanan residennya,”

Donghyuck menunggu sampai ia benar-benar tidak bisa melihat Mark lagi dari balik papan pembatas yang memisahkan ruang keberangkatan dan imigrasi, sebelum ia menarik keluar kertas yang Mark berikan kepadanya tadi. Hanya ada satu kalimat yang tertera disana, sebuah kalimat dari film lama yang Mark memang pernah sebutkan padanya suatu hari—
well, dengan sedikit modifikasi.

But i’m just a boy, standing in front of another boy, asking him to love me.

fin

©summerboys9900

--

Notes:

Glossary untuk kosakata medis di atas!

(1) VATS : Video Assisted Thoracoscopy Surgery
(2) MRI : Magnetic Resonance Imaging
(3) Myxoma : Salah satu bentuk tumor jinak yang ditemukan di jantung
(4) IBS : Instalasi Bedah Sentral
(4) Hematothorax : Dimana rongga antara pleura terisi darah
(5) PICU : Pediatric Intensive Care Unit
(6) Tetralogy of Fallot : Kelainan jantung bawaan dari lahir dimana 4 kelainan terjadi bersamaan (hence the “tetra”)
(7) Operasi paliatif : Operasi yang tujuannya bukan untuk menyembuhkan (kuratif) tapi untuk sekedar meningkatkan kualitas hidup.
(8) Flatlining : Rekam jantung berubah garis lurus, yang artinya jantung berhenti
(8) ICCU : Intensive Cardiac Care Unit
(9) Fellowship : Program yang harus dijalani dokter apabila sudah selesai menjalani program pendidikan spesialis untuk belajar lebih dalam lagi mengenai bidang yang spesifik.

a/n : jangan lupa kasih tau pendapat kamu soal ficnya ya! hehe if you want to hit me up on twt or you want to check out more of my works (especially the tweetfic ones that cannot be crossposted) you can head to summerboys9900 on twt! or curious cat (https://curiouscat.live/summerboys9900)!

oh and also, if you perhaps feels the fic is familiar, it's a remake from my other fics in another fandom so don't be surprised! hehe