Actions

Work Header

Ingatan, Legenda, dan Janji

Summary:

Saat menaiki kereta untuk pulang, Dokja bertemu seorang pria yang tak dikenalinya.

"Tidak apa-apa jika kau belum ingat denganku, Kim Dokja. Aku akan menunggu hingga ingatanmu kembali. Dan kuharap kau masih ingat dengan janji kita."

Janji apa yang dimaksud pria itu? Kenapa pria itu berkata seolah-olah mereka sudah lama saling mengenal...

Notes:

Disclaimers: Semua karakter yang dipakai dalam fanfiksi ini bukanlah milik saya. Mereka adalah milik Sing-Shong, Sleepy-C, Umi. Namun karya fanfiksi ini adalah sepenuhnya milik saya.

Relationship: Joonghyuk×Dokja. Slight, Dokja×Sooyoung—just friend.

Genre(s): Drama, Hurt/Comfort.

Status: Oneshot

PERINGATAN: fanfiksi ini bertema Boys Love; yang menampilkan hubungan laki-laki dan laki-laki. Sedikit OOC, tapi diusahakan tetap In Chara. Jangan salahkan saya, karena saya sudah memperingatkan kalian. Tidak menerima apresiasi negatif atas semua hal yang sudah saya peringatkan.


Work Text:

"Kau tahu besok tanggal berapa?"

Dokja melirik sekilas. Ia tahu pertanyaan itu ditujukan padanya, karena kedua alis Sooyoung terangkat, menunggu jawaban.

"Empat belas maret." Jawaban dilontarkan dengan nada datar. Dokja kembali fokus ke buku yang sedang dibacanya.

Wanita bertubuh mungil yang duduk di depannya tersenyum. Dia bersedekap, sembari mendekatkan wajahnya ke arah Dokja yang duduk berhadapan dengannya. Berusaha menarik atensi pria berkacamata itu dengan senyumannya yang kini sudah lebar hingga nyaris mencapai telinganya. Jelas saja Dokja kembali terusik. Pasti ada maunya, pikirnya dalam hati.

"Kau tahu besok hari perayaan apa?" Sooyoung kembali bertanya.

"Tidak tahu." Dokja menjawab cepat tanpa berpikir dua kali, karena memang terlalu malas untuk memikirkan hari apa besok.

Sooyoung mendengus. Buku yang sedang dibaca Dokja akhirnya disambar, sebelum pria bersurai eboni itu sempat menduga. Sepasang pupil hitam dibalik lensa kacamata sontak melotot. Ekspresinya yang tadi datar berubah jadi jengkel.

"Kembalikan buku itu, Sooyoung!"

Sooyoung menggeleng, "Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku tadi."

"Aku tidak tahu." Dokja berdecak, sambil berusaha mengambil kembali buku yang baru setengah dibacanya.

"Kau pasti tahu!" Wanita itu memaksa. Buku di tangannya sengaja dia taruh di atas kursi; terjepit di antara kursi dan pantatnya.

BRAK!

"Aku benar-benar tidak tahu!" Menjerit tertahan, Dokja menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya. Alhasil, ia meringis karena merasakan perih yang menggigit.

Kedua mata Sooyoung menatap Dokja setengah terpejam malas. Padahal IQ Dokja setahunya bukan satu digit, tapi malah tidak ingat dengan hari perayaan di tanggal empat belas Maret besok. "Baiklah, akan kuberitahu hari perayaan apa besok..." melipat kedua tangannya di depan dada, Sooyoung melanjutkan, "White day."


***