Work Text:
tiga banding satu.
rasio kopi heeseung kuncinya di tendensinya untuk mendorong sebanyak mungkin kafein ke balik pelupuk matanya. dan berkebalikan dengan pandangan miris orang-orang di sekitarnya (“terakhir istirahat kapan, seung?”), sebetulnya yang seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hari-harinya sempurna.
karena: lee heeseung merupakan bagian dari unit reserse kriminal khusus. tidur mungkin jadi opsi yang lebih baik dari pada segelas kopi, tetapi (berkebalikan dengan pandangan miris orang-orang) heeseung menyukai pekerjaannya. pekerjaan yang sama yang mengantarkannya ke porsi tidur kelewat minim dan kurang lebih berhadapan langsung dengan ajal sebagai aktivitas sehari-hari. jadi aman untuk bilang kalau segelas kopi yang sesuai preferensinya adalah sebaik-baiknya stabilitas yang bisa dia dapatkan tiap pagi.
tapi itu di hari-hari yang biasa. bukan di hari-hari yang seperti ini.
yang heeseung maksud adalah hari di mana kantor distrik memutuskan bahwa, setelah sekian belas tahun dan berbagai surat anonim dari polisi yang sehari-harinya bertatap muka langsung dengan kriminal kelas kakap, gedung berusia empat puluh tahun itu perlu diekspansi. karena perubahan-perubahan di beberapa dekade terakhir—keberadaan unit cyber yang dua puluh tahun lalu belum ada, misalnya—yang jelas mengambil ruang terbatas di kantor distrik mereka.
intinya, untuk dua bulan ke depan, memang seharusnya mereka perlu banyak kompromi. karena untuk ekspansi, sekarang dua unit jadi bekerja secara simultan di satu lantai yang sama. tiap langkah yang heeseung ambil di dalam kantor seringkali berarti kaki panjangnya akan menabrak tumpukan laporan rekan detektif satu unitnya (laporannya terpaksa mereka simpan di lantai).
karena lantai ini kelewat penuh. heeseung juga sering menabrak meja-meja yang sebelum proyek ekspansi tidak berada di sana (cara halusnya untuk bilang kalau meja-meja ini bukan milik unitnya, penghuni asli lantai ini). tapi, hey, ini masa-masa kompromi.
lantai unit reserse kriminal khusus setidaknya untuk dua bulan ke depan harus dibagi untuk digunakan bersama unit reserse narkoba. dan di sini lah di mana semua jadi jauh lebih menarik.
sebagai permulaan, siang ini lee heeseung membuat kopi penjemput ajalnya. tiga kopi, satu gula, tanpa krimer. kerjanya pagi tadi adalah menambah mengumpulkan data baru untuk investigasi yang kemarin, jadi sebetulnya holster yang menampung pistolnya di pinggang bukan hanya gaya yang dilebih-lebihkan—tidak ada yang berlebihan dengan membawa pistol ketika mengunjungi situs kriminal yang tidak sampai 12 jam lalu masih aktif, kan?
siang ini, laki-laki 183 senti itu berjalan dengan semena-mena membelah lantai 3 kantor distriknya. karena lee heeseung adalah bagian dari unit khusus, ketiadaan seragam kadang sering dieksploitasi detektif nyaris senior sepertinya dengan sebisa mungkin berpakaian se-semi formal mungkin. karena siapa juga yang mau menggunakan jaket hitam di ruangan dengan pendingin berusia 20 tahun dan jumlah manusia yang dua kali lipat biasanya?
dan meskipun heeseung mengirit tampilannya jadi hanya kemeja kuning muda dan celana hitam, jelas holster-nya belum mau ia lepas. sekali lagi, di sini lah di mana semua jadi jauh, jauh lebih menarik.
karena lee heeseung berjalan membelah lantai 3 kantor distriknya menuju kubikel paling ujung yang masih dibanjiri cahaya dari jendela di sampingnya. padahal waktu hampir menunjukkan jam 3 sore, tapi posisi kubikel yang bukan miliknya itu masih terang benderang.
laki-laki itu melirik sejenak ke kubikel yang ada di ujung ruangan yang lain–kubikel pribadinya. letaknya seperti terlalu dekat dengan dispenser air yang mengeluarkan suara dengung tiap 20 menit sekali. dan logikanya, harusnya ada sedikit kesal di sana. karena bagaimana bisa detektif senior seperti dia harus berkompromi dengan dengung dispenser, sedang polisi lain dari unit yang menumpang di lantainya bisa mendapatkan meja kerja yang paling ideal di lantai yang sama?
jangan pernah lupa kalau di sini lah di mana semua jadi jauh lebih menarik.
masing-masing kubikel mereka tidak lebih besar dari dua setengah meter persegi. map coklat yang ditumpuk di sudut-sudut meja sejatinya ditumpuk lebih dari kapasitas mereka untuk bertumpukan dengan satu sama lain. sudut-sudut mapnya sudah jauh dari meruncing, dengan label yang berisi tulisan tangan dengan huruf kapital yang dibuat dengan penuh amarah.
dan pemandangan ini ada hampir di semua meja. termasuk meja yang satu ini.
heeseung sekarang bertengger di sisi kubikel yang paling dekat jendela. dengan segelas kopi di tangan kiri, dan tubuh yang bertumpu pada sekat antara kubikel milik detektif unit reserse narkoba bernama park sunghoon dengan kubikel milik rekan satu unitnya yang duduk di sebelahnya.
jelas, lee heeseung tidak punya urusan di sini. kalau pun ada, urusannya bisa dilabel nama 'park sunghoon' dengan ukuran tulisan sebesar-besarnya. dengan huruf kapital (bedanya yang ini tidak ditulis dengan penuh amarah).
sementara yang jadi protagonis kedua dalam skenario ini tengah dengan senang hati bersandiwara seolah senior kerjanya itu tidak ada di sana. laki-laki dengan kaki jenjang yang tertekuk lucu (karena kursi kerja mereka memang terlalu pendek) itu tengah membolak-balik kertas laporan di hadapannya. seolah tidak ada laki-laki lain yang tengah membaca deret hitam di atas putih dari sejurus pundaknya.
lee heeseung tau laki-laki ini suka bermain peran, jadi dia menyeruput kopinya dengan suara yang jelas-jelas mengganggu siapapun yang berada di radius satu meter dari posisi berdirinya (park sunghoon dan park sunghoon saja). sebenarnya ada senyum yang tengah ia tahan-tahan karena ia terlalu terhibur dengan bagaimana setelah tiga menit, sunghoon bahkan masih pura-pura kalau tidak ada heeseung di sana.
tetapi di menit ke empat, tentu sunghoon sudah tidak bisa lagi menolak menyadari keberadaan laki-laki yang menjulang tinggi di sisinya kubikelnya. bagaimana juga caranya mengabaikan aroma kopi dan citrus yang dengan nyaman memenuhi olfaktori (yang aromanya sepertinya heeseung dapatkan dari merk deterjen 3in1 yang ia gunakan.
dan kalau sunghoon boleh membela diri sekarang, yang seperti itu bukan dia ketahui karena dia memperhatikan heeseung setiap hari—demi tuhan. sunghoon cuma pernah tanpa sengaja dan tanpa rencana melihat heeseung berbelanja di supermarket dengan pakaian super kasual dan wajah mengantuknya. mengambil deterjen 3in1 berkemasan oranye yang membuat sunghoon waktu itu berpikir kalau, oh, pantas saja ada wangi citrus-nya. yang demi tuhan—lagi, katanya—dia juga tidak tahu kenapa informasi itu bisa bertahan begitu lama di dalam kepalanya).
kepala park sunghoon sedikit menoleh dan ia langsung dihadapkan dengan pinggang lee heeseung yang dipeluk holster kulit dengan pistol hitam di dalamnya—lencana polisinya mengkilat, juga masih disangkutkan di sisi lain pinggang celananya.
“kenapa?” laki-laki (yang juga) jangkung itu menyerah dan akhirnya mengajak tamu kubikelnya itu untuk bicara. bibirnya meniup angin kecil sampai poninya bergeser dari menusuk sudut-sudut kelopak matanya.
“nggak,” balas heeseung. jelas dengan senyum yang sedikit lagi kabur dari bibirnya (yang dia usahakan terkatup rapat), sebelum membuat gerhana di atas senyumnya dengan gelas keramik murah dari dapur lantai 3.
sunghoon tau heeseung siapa. atau setidaknya, mereka pernah bicara karena terjebak di kasus yang sama. sunghoon kala itu pernah tanpa sengaja membuat komentar penuh protes akan banyaknya yang harus dilakukan di kasus mereka. yang membuat heeseung berkomentar, “katanya kamu mantan atlet figure skating pas kecil, ya?” yang dilanjutkan heeseung dengan berasumsi penuh sindiran akan mantan atlet olahraga cantik yang mungkin tidak biasa kerja kotor dan keras.
yang jelas tidak sunghoon terima dengan baik. yang jelas, menjadikan diskusi empat mata mereka berubah jadi sunghoon yang mengatakan kalau dia bisa melanjutkan investigasinya sendiri.
yang ternyata diizinkan kapten kantor distrik karena ternyata, sunghoon punya catatan performa di atas rata-rata. yang berakhir dengan sebuah laporan lengkap profil seorang kriminal dengan tuduhan distribusi narkotika dan pembunuhan berencana di meja lee heeseung (yang kala itu sedang menyeruput kopi sambil menyilangkan kaki panjangnya di meja, selayaknya semua detektif senior di kantor).
yang lalu setelah dibawa ke pengadilan, hasil asesmennya ternyata tajam dan tepat sasaran. empat puluh tahun penjara, untuk laki-laki berusia lima puluh tahun.
itu karya seni park sunghoon yang belum sempat dibalas heeseung dengan terima kasih. (karena tentu saja, sunghoon meletakkan laporan itu di atas meja dengan post-it di sudut map-nya yang bertuliskan ‘ya, sama-sama.’)
“seneng kita jadi selantai?” sunghoon bicara dengan nada datar. sudut sebelah alisnya naik, sedang matanya berfokus ke laporannya.
“ya masa gak seneng?”
ini. mode gak sinkron heeseung yang ini.
“gak ngerti kenapa anda seneng banget, padahal lantai ini jadi overcrowded gini,” sunghoon bicara sambil mengambil pena di sudut mejanya, lalu menarik lengan kemejanya yang sudah digulung sampai 3/4 lengan saja agar semakin naik.
sejujurnya sunghoon juga tidak bodoh. sebagai orang yang hanya hampir bertugas di satu kasus bersama, heeseung terlalu atentif dengan kehadirannya di lantai 3. terlalu antusias dengan kopi-kopi yang kelebihan bikinnya lalu diantar ke meja park sunghoon. terlalu banyak menyapa, untuk ukuran rekan kerja beda unit yang hanya akan satu lantai sampai dua bulan ke depan.
“kenapa ya lo bahkan lebih galak sama gue dibandingkan sama subjek-subjek morka,” heeseung membuat dirinya lebih nyaman dengan menyandarkan pinggangnya di sisi meja sunghoon yang lebih sepi berkas. “padahal kaya, gue polisi baik-baik gitu. gak aneh-aneh. terus morka ya… morka.”
sunghoon menoleh tanpa ekspresi ketika heeseung bilang begitu. matanya dengan dramatis kemudian berpindah ke formulir di hadapannya.
UNSUB; A.K.A 'MORKA'
DRUG RELATED HOMICIDES
JONGNO-GU, SEOUL, SOUTH KOREA
SMPA — SPECIAL CRIME
(CRIMINAL INVESTIGATIVE ANALYSIS)
“ya at least,” sunghoon bicara masih dengan wajah tanpa ekspresinya. “mereka kalo aku tanya, dijawab. belom tentu jujur sih, tapi dijawab.”
skakmat.
ini bukan sekali dua kali sunghoon menodong detektif senior di sisinya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kenapa. kenapa heeseung sering sekali menggoda sunghoon dengan guyonan murahannya. kenapa heeseung sering memilih untuk meminum kopinya sambil bertengger di sekat kubikel sunghoon, padahal ia berdiri tepat di bawah pendingin ruangan yang membuat kopi hangatnya turun temperaturnya tiga kali lebih cepat. kenapa rayuan-rayuannya seperti tidak ingin berangkat ke mana yang lebih serius, tetapi terlalu banyak untuk dibilang hanya main-main saja.
“lagi ngejar deadline ya?” tapi selalu begini. heeseung memilih untuk banting setir ke percakapan yang lain.
“iya,” sunghoon membalas sekenanya saja.
“buat kapan?”
“kamis.”
“masih lama,” lalu lagi, lee heeseung bicara sebelum menyeruput kopinya dengan sikap dan suara yang dilebih-lebihkan.
“ya gak ada urusannya sama anda, lee heeseung,” sunghoon membalas sambil menutup mapnya.
“ada lah,” nada bicaranya sedikit naik di ujung, menandakan kalau ini adalah salah satu dari sekian banyak candaan tak berujungnya. “kan jadi gak enak kalo mau ngegodain gini.”
“ya gak usah godain?” sebelah alis sunghoon, lagi-lagi, naik sekian derajat. heeseung diliriknya penuh tanya, lalu menggeleng sambil membuka map lain yang ada di mejanya.
“gimana caranya ya?” heeseung lanjut bicara. “saya gak tau.”
‘apasih maksudnya heeseung heeseung ini?’ sebuah pertanyaan retoris, karena pertanyaan barusan sejatinya hadir karena frustrasi.
karena kalau ada yang bisa dibanggakan dari park sunghoon, salah satunya adalah intuisi. natural born thinker, kata teman-teman satu divisinya. banting setir karir dari penari es kompetitif jadi polisi, lalu melejit seolah tak pernah ada beban karena perubahan yang banyak dan tiba-tiba di hidupnya. kepalanya seperti cetak biru detektif yang akan punya karir cemerlang. naturally.
dan lee heeseung, mungkin, adalah satu-satunya kasusnya yang belum selesai.
bukan karena sunghoon salah. bukan karena intuisinya keliru. tapi karena tersangkanya belum mau mengaku saja. (anggap saja kalau masalah hubungan interpersonal seperti ini, tidak ada ekuivalen dari pengadilan. jadi kasusnya hanya akan berhenti di sana. dan lee heeseung tidak akan pernah mendapat eksekusi atas rayuan-rayuannya.)
“bercanda,” lalu tiba-tiba yang lebih tua buka suara. “stress banget kayaknya. jadi kepikiran aja, mau ngajak minum abis report yang ini selesai.”
“akhirnya ada tujuannya ya, dateng ke sini,” sunghoon tersenyum sebelum menyadari emosinya itu baru saja ia ekspresikan di wajahnya. sementara lee heeseung tadi malah memperhatikan gelas kopinya karena sejujurnya dia sudah kehabisan akal.
tapi tidak dilanjutkan lagi oleh heeseung. laki-laki yang poninya menutup kening sampai atas mata itu tiba-tiba jadi lebih banyak menghabiskan waktu meminum sisa-sisa kopinya, dan sunghoon sudah lebih paham dengan runtutan sikap heeseung yang setelah ini. paling sebentar lagi dia bilang kopinya sudah habis. lalu setelah itu, dengan seenaknya lagi, dia akan meninggalkan kubikel seolah memang tujuannya ke sana hanya untuk menghabiskan segelas kopi.
“eh, kopinya abis,” kata lee heeseung.
kan.
tangan heeseung memutar gelas yang jelas bukan miliknya berkali-kali di tangannya, sebelum tubuhnya ia hadapkan ke jalanan menuju pantry. tapi bahkan sebelum ia sempat mengambil satu buah langkah, laki-laki di belakangnya tiba-tiba bersuara.
“jadi?” tanya sunghoon.
heeseung berhenti bergerak dan menoleh ke arah kubikel sunghoon di tengah menggulung ujung lengan panjang bajunya. “apa?” balasnya.
“kapan mau ngajak saya minum habis kerja?”
heeseung mengulum senyum.
“deadline assessment report-nya kapan, tadi?” heeseung menyerah. senyumnya ruah karena terpaksa buka mulut buat bicara.
“kamis,” sunghoon melipat kedua tangannya di depan dada. kalau dia masih kuat (mengulum senyum).
heeseung mengerucutkan bibirnya tanda berpikir. pandangannya naik ke langit-langit, sebelum mulutnya membuka seolah mengatakan selasa, rabu, kamis tanpa suara.
“jumat aja sekalian?” heeseung menjuruskan pandangannya ke laki-laki yang kini memandangnya penuh kemenangan. memenangkan apa, dua-duanya juga sudah sama-sama tahu.
“ya udah,” dari sunghoon ditutup dengan senyum; heeseung membalas dengan senyum yang sentimennya yang sama.
tubuh heeseung bahkan belum sepenuhnya kembali terarah ke tujuan jalannya yang sebelumnya, ketika mulutnya kembali membuka. “eh, sunghoon.”
sunghoon yang baru saja mau memfokuskan diri pekerjaannya jadi terdistraksi lagi. “apa?”
“jumat tuh—” heeseung kembali berdiri menghadap sunghoon. “aku ada janji?"
“oh?”
“iya. i have some kind of a date?”
a date.
“oh, iya?” sunghoon membalas dengan hiperbola. tangannya mendorong poninya yang menusuk-nusuk ujung mata agar mundur ke belakang. “didn’t know you’re in a relationship.”
ya siapa juga yang akan menyangka. kan sehari-harinya, heeseung seolah tidak punya tanggungan kerja lain selain investigasi lapangan, interogasi, dan mencari topik bicara dengan park sunghoon dari reserse narkoba.
kemenangan sunghoon jadi perlu ditunda. sementara lee heeseung seolah memang sengaja mengulur waktu buat melanjutkan penjelasannya. (karena sudah punya pacar dan masih menggoda orang lain? yang seperti itu tentu perlu dijelaskan).
heeseung melipat kedua tangannya di depan dada. “i’m not in a relationship, sih. ini baru deket aja. cuma udah janji.”
“anak sini juga?” sunghoon bicara setengah acuh.
“iya,” heeseung pada akhirnya tidak kuat menahan tawanya. “profiler gitu di reserse narkoba. lucu deh anaknya. kaya dingin-dingin gimana gitu, tapi kalo digodain gabisa nahan senyum.”
butuh waktu sekian detik sampai sunghoon menyadari maksud ucapan heeseung barusan.
mereka bertukar pandang jenaka sebelum sunghoon akhirnya merespon. “bisa lebih ngeselin lagi dari ini gak sih?”
“jumat. jangan lupa,” heeseung akhirnya betul-betul berjalan menjauh dari meja sunghoon. langkahnya seperti separuh melompat. bersamaan dengan itu, ada senyum kemenangan di wajah sunghoon yang kini klimaks. paling tinggi, paling mutlak.
masih dengan senyum kelewat lebarnya, sunghoon dengan kaki panjangnya menggeser kursinya supaya tubuhnya bisa mengakses kalender gratisan dari merk sereal favoritnya yang ada di sudut kubikel. melingkari jumat akhir pekan ini.
heeseung baru mengambil tiga langkah ketika suara sunghoon terdengar lantang dan ditujukan kepadanya.
“so it’s a date, pak heeseung?” kontras dengan suara kerasnya, sunghoon bicara seolah tidak sedang mengumumkan apa-apa. dengan biasa saja menggeser kursinya ke posisi semula, mencoret-coret lagi lembar laporannya.
sebanyak empat sampai enam kubikel di sekitar mereka mendadak sunyi karena atensi mereka kini ke dua laki-laki paling jangkung di ruangan yang belakangan ini banyak berduaan di kubikel di sudut ruangan sana. heeseung berhenti melangkah, menoleh ke belakang.
mantan atlet olahraga kompetitif. harus selalu menang, ya?
“iya,” heeseung menjawab dengan senyum kelewat lebar sampai-sampai seolah ujungnya bersentuhan dengan telinganya. “it’s a date, sunghoon.”
lalu setidaknya delapan kubikel di sekitar mereka dipenuhi wajah-wajah menggoda yang menyuarakan vokal O sambil bertepuk tangan, entah sebagai bentuk selebrasi apa.
(sunghoon sendiri menganggap kalau itu buat kemenangannya, tapi heeseung lebih ingat kalau bising sore itu satu ritme dengan detak jantungnya yang cepatnya dua kali lipat dan lututnya yang payah menarik tubuhnya kembali ke kubikelnya.)
