Work Text:
Sepertinya langit sedang bersedih. Hujan yang turun cukup deras membasahi kota Malang membuat suhu di daerah itu semakin rendah. Tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang akibat guyuran air dari langit tersebut.
Matahari masih berada dalam rumahnya dan belum terbangun untuk menyapa pagi. Tetapi tidak untuk beberapa insan yang sudah melakukan aktifitas di dalam rumah mereka masing-masing. Termasuk Chan, yang kini sedang menahan sakit tubuhnya sembari melihat keluar jendela kamarnya.
Memperhatikan bagaimana titik-titik hujan turun membasahi tanah dengan cepatnya. Matanya sesekali terpejam, meringis kecil saat merasakan nyeri yang cukup hebat pada kepalanya. Sementara tubuhnya masih betah diam dalam lilitan selimut tebal.
"Chanie, sayang."
Lelaki itu berjengit kecil saat tubuhnya dipeluk dari samping. Ia mengerjapkan matanya, ah, ia lupa bahwa kini Chan tidak tidak tinggal sendiri di rumah itu. Ada sosok lain yang bersedia menemaninya melewati hari-hari bersama. Tubuh kurus namun cukup lebar dan besar dari ukuran tubuh lelaki itu ikut membalut Chan dengan pelukan hangatnya.
"Masih pusing? Ada yang nyeri?" Hanya anggukan yang Chan sanggup berikan. Bibirnya masih terlalu malas untuk ia buka.
"Aku bawain teh hangat tuh, minum dulu ya? Mumpung masih hangat." Chan mengangguk kecil membuat sang kekasih terkekeh pelan lalu mengusap surai berwarna hitam milik Chan.
"Gemes. Mau aku bantu nggak duduknya? Atau bisa sendiri hm?"
"Bantu..." Ah, Seungsik semakin tidak tega. Melihat kesayangannya terbaring lemah dengan segala rasa sakit yang ditanggung membuat lelaki itu berulang kali kedapatan menghela nafasnya berat. Ia berharap rasa sakit Chan dapat berpindah sedikit atau banyak kepada dirinya sehingga Seungsik tidak lagi melihat Chan kesakitan.
Kedua lengannya membantu Chan untuk duduk dan bersandak pada headboard kasur mereka. Sebelumnya, Seungsik sudah terlebih dahulu membuat tumpukan kecil dari bantal di belakang tubuh Chan agar lelaki itu dapat bersandar dengan nyaman. Setelah memastikan Chan berada dalam posisi yang nyaman, Seungsik mengambil gelas pada meja kecil di samping kasur mereka dan memberikannya pada Chan.
"Pelan-pelan minumnya, sayang."
Seungsik tersenyum tipis saat Chan mulai menyesap teh hangat buatannya.
"Babe." Panggilan Seungsik membuat Chan sedikit tersipu dan enggan menolehkan kepalanya. Ia pura-pura sibuk meminum cairan hangat di gelas berwarna putih itu.
"Bah, di kacangin nih aku?"
"Apa sih?"
"Mau makan apa sayang? Jangan irit lagi makannya kayak kemarin."
"Pizza."
"Ngawur kamu. Eh ya udah boleh pizza, tapi aku cium."
"Kamu yang ngawur kalau gitu." Seungsik terkekeh pelan.
"Makanya jangan aneh-aneh. Sup ayam mau?"
"Nggak."
"Bakso? Mie ayam?"
"Mana ada pagi-pagi gini..."
"Bubur aja deh, bubur mau ya?"
Terlihat Chan menimbang-nimbang jawaban yang akan ia berikan. Namun belum sempat Chan berbicara, Seungsik terlebih dulu mengecup pipinya dan bangkit berdiri.
"Okay, bubur."
Chan mengerang kecil. Bisa-bisanya Seungsik masih menjahili dirinya ketika ia sedang sakit. Ingatkan Chan untuk mencubit pinggang lelaki itu.
"Seungsik!"
"Apa, mbul?!" Sahut Seungsik dari luar kamar.
"Mau sate usus jugaa."
"Tiga aja ya sayang, jangan kebanyakan!"
Chan mengangguk-angguk yang tentu saja tidak akan dilihat oleh Seungsik. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman mengingat bagaimana Seungsik selalu memperlakukan dirinya dengan penuh perhatian. Entah ia sakit atau sehat, sedang lelah atau sedang bahagia, sedang sedih maupun susah, Seungsik selalu jadi satu-satunya sosok yang mampu menemaninya dengan sabar dan tenang.
Entah bagaimana cara Seungsik dengan segala kemampuannya mendapatkan dua mangkuk bubur komplit yang masih mengepulkan uapnya, lengkap dengan tiga tusuk sate usus sesuai permintaan Chan.
"Aku datang membawa bubur untuk ayang."
Lagi-lagi Chan di buat tersenyum lalu memutarkan bola matanya malas, melupakan rasa sakit yang sedang menyerang tubuhnya. Lelaki itu menggeser sedikit tubuhnya untuk memberikan ruang bagi Seungsik untuk duduk diatas kasur bersamanya.
"Aku suapin mau? Atau makan sendiri, bayi?"
"Bukan bayi."
"Bayi aja lah."
"Kamu kali yang bayi."
"Hah?"
"Hah?"
Keduanya sama-sama terdiam.
"Mending kita makan aja, mana bubur punyaku?" Seungsik memberikan mangkuk bubur itu dengan serbet yang melapisi bagian bawah mangkuknya. Selalu. Seungsik dengan 1001 perhatian kecilnya pada Chan.
"Selamat makan sayang."
Kini hanya terdengar bunyi mesin penghangat di kamar mereka dan dentingan sendok pada mangkuk bubur itu.
"Chan."
"Yaa?"
"Mau dong sate ususnya."
"Aku aja yang di beliin tadi?"
"Iya, buat kamu aja tadi."
"Iih kirain kamu juga beli, sini aaa..."
Seungsik membuka mulutnya bersiap menerima suapan yang Chan berikan. Belum sempat lelaki itu menggigit usus pada tusukan itu, dirinya dibuat terkejut oleh Chan yang tiba-tiba mengecup pipinya lalu menaruh satu tusuk sate pada mangkuknya.
"Selamat makan sate, sayang." Chan tertawa kecil.
"Wah. Wahh... Gawat ini. Wah."
Chan sukses tertawa melihat reaksi Seungsik. Kapan lagi ia bisa melihat Seungsik kelabakan dengan aksi jahilnya yang tak henti-hentinya membuar Seungsik keheranan. Seungsik memang lebih sering dijahili, tentunya oleh Chan, daripada ia yang menjahili Chan.
"Makan dulu itu, ayaang. Satenya nangis lho nanti kalau di diemin aja." Chan menyuap sendok terakhir buburnya dan meminum air yang sebelumnya Seungsik taruh pada nakas.
"Sering-sering ya, Chan." Seungsik kembali melakukan kegiatan sarapannya yang tertunda.
"Sering-sering apaa?"
"Sakit."
"Heh! Amit-amit!" Tangan Chan memukul pelan lengan Seungsik.
"Ooh iya salah, sering-sering cium maksudnya."
"Mauan kamu itu mah."
"Ya emang mau, lagi dong." Seungsik mendekatkan wajahnya menjadi lebih dekat dengan wajah Chan. Kembali, Chan dibuat tersipu dengan aksi Seungsik.
"Habisin dulu itu, baru aku cium."
"Oke"
"Jangan buru-buru nanti keselek!"
"Uhuk!"
"Tuh kan!" Buru-buru Chan menyambar gelas air dan memberikannya pada Seungsik.
Sepertinya sekali lagi Chan dapat melewati harinya tanpa rasa sakit dengan kehadiran Seungsik.
