Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Olk Series
Stats:
Published:
2022-03-20
Words:
1,359
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
33
Bookmarks:
2
Hits:
271

Pesan Rindu dari Pulau Jeju

Summary:

Satu bulan setelah Jaemin pergi berlibur, sebuah paket datang untuk Renjun; kotak berwarna ungu yang berisi 8 botol pesan rindu.

Notes:

Untuk event pelanginya renjun yang diadakan jaemrentalk di twitter

Day 4: ungu

Para tokoh bukan milik saya, saya hanya punya plot dan ide cerita saja. Segala sesuatu yang ada dalam cerita hanya fiksi.

Cerita ini terinspirasi dari mv lovelyz-for you

Selamat membaca^^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tepat satu bulan Jaemin pergi dengan keluarganya meninggalkan daratan Olk. Satu bulan itu juga Renjun tidak mendengar kabar apapun dari Jaemin. Renjun bahkan belum memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Jaemin lantaran si pemuda Na berangkat sebelum matahari terbit tepat di hari ulang tahun lelaki itu. Renjun masih menyesal, tentu saja. Seperti, mengapa ia tidak memberi Jaemin ucapan malam sebelum tanggal 13 padahal keduanya bersama hingga pukul sembilan saat itu? Sebuah kotak kado dengan bungkus kertas putih yang sebelumnya sudah Renjun beri gambar semenarik mungkin juga masih berada di atas meja belajarnya.

Ada perasaan sedih setiap Renjun melihat kotak itu. Namun hari ini, rasa rindu lebih mendominasi saat Renjun menatap kotak kado untuk Jaemin. Terhitung sudah hampir sepuluh menit ia berdiam diri di dalam kamar.

Hari ini, Donghyuck dan Jeno mengajaknya pergi ke bukit di dekat kantor pemerintahan. Tapi, Renjun menolak. Ia hanya ingin berdiam diri di rumah sambil memikirkan bagaimana keadaan Jaemin yang sebulan lalu pamit kepadanya untuk pergi ke Jeju, tempat yang indah di Korea, kata Jaemin waktu itu.

Renjun tidak pernah pergi meninggalkan Olk. Ia tidak tahu seindah apa tempat itu. Baginya, Olk saja sudah indah. Tapi kata Jenoㅡlelaki itu mendapat cerita dari sang ayah yang sering bolak-balik ke Korea, Jeju memang indah. Indah sekali. Membuat Jaemin semakin bersemangat untuk pergi berlibur sebagai hadiah di ulang tahunnya yang ke-18.

"PAKET UNTUK HUANG RENJUN! PAKET UNTUK HUANG RENJUN!"

Renjun melongok dari jendela kamarnya. Melihat Paman Jang berdiri di depan pintu maple sambil membawa sebuah kotak besar di tangannya, membuat senyum Renjun melebar.

Renjun buru-buru turun sebelum mama mendahuluinya dan berkata pada Paman Jang kalau ia tidak ada di rumah.

"Terima kasih Paman Jang," ucap Renjun sambil menerima sebuah kotak warna ungu dari Paman Jang. Kedua sudut bibirnya masih saling menjauh. Pipinya sudah terasa sakit, tapi Renjun masih ingin tersenyum. Tidak ada alasan untuk membuatnya tidak tersenyum saat ini.

"Kata petugas Choi, Jaemin sendiri yang mengantarnya dan ia titip pesan, ada surat di dalamnya. Baca dulu suratnya, ya."

Renjun mengangguk dan sekali lagi mengucap terima kasih sebelum Paman Jang pergi.

"Dari Jaemin ya? Mau ikut buka dong!" Donghyuck dan Jeno datang entah dari mana. Mengikuti langkah Renjun menaiki tangga untuk sampai ke rumah.

Renjun berhenti saat ketiganya sampai di lantai dua. Rumah Jeno ada di lantai ini, omong-omong.

"Nggak boleh. Kata Jaemin, aku harus buka sendirian. Nggak boleh sama orang lain, apalagi kamu."

"Jaemin nggak akan tahu kalau aku ikut buka paketnya. Pasti di dalem situ juga ada oleh-oleh buat aku."

"Aku juga." Jeno ikut menyahut.

Renjun menggeleng. "Tetap nggak boleh. Udah, sana kalian pergi ke bukit aja, jangan ganggu aku."

Kaki-kaki Renjun kembali melangkah menuju lantai lima. Dua sahabatnya yang juga menjalin kasih sejak setahun belakangan itu tetap mengekor di belakang. 

"Berat ya? Mau aku bantu bawa?" Jeno memberi tawaran.

"Boㅡ"

"Nggak gratis ya. Bayarannya, nanti kita ikut lihat juga. Kasihan tangan my baby Jeno bawa kotak berat tapi nggak dapat bayaran."

Renjun mendengus mendengar ucapan Donghyuck.

"Nggak jadi. Aku bisa sendiri. Sana pergi, jangan ikutin aku lagi!"

 

 

 

Renjun membuka kotak paket dari Jaemin dengan pelan. Kedua matanya berbinar dengan senyum merekah melihat 8 jar di dalamnya dan secarik kertas cokelat yang dilipat dua.

Renjun buka terlebih dahulu suratnya seperti pesan Paman Jang.

 

Untuk yang tersayang, Huang Renjun
di Olk

Hai Renjun, apa kabar?

Udah sepuluh hari aku di Jeju. Cantik banget, lebih cantik dari yang Jeno bilang. 

Aku udah pergi ke berbagai tempat di Jeju. Banyak pantai cantik juga di sini. Aku pengen kamu juga ngerasain indahnya pantai di Jeju.

Jadi Renjun, bisa tolong kamu buka jar yang tutupnya warna ungu? Ada tiga oleh-oleh dari pantai di Jeju buat kamu.


Renjun membuka satu jar dengan tutup berwarna ungu. Sebuah foto pemandangan pantai membuat senyumnya semakin lebar. Ah, Renjun jadi ingin merasakan bermain air dan pasir pantai.

Di bawah bagian foto tertulis "nanti kita ke sini bersama, ya".

Pipi gembilnya panas hanya dengan membaca satu kalimat yang Jaemin sematkan di dalam foto pantai di Jeju.

"Iya," jawab Renjun kemudian meski Jaemin tidak akan mendengarnya.

Kemudian ia beralih dengan jar kedua. Berisi air yang hanya mencapai satu per lima jar. Di luar jar Jaemin turut menyematkan tulisan, "air pantai, segar banget seperti wajah kamu di pagi hari."

Renjun menelungkupkan wajahnya di bantal sambil tertawa. Dasar Na Jaemin!!!

Sebelum kembali membaca surat dari Jaemin, Renjun ingat masih ada satu jar dari pantai Jeju yang belum ia buka. Seruan kagum terlontar tanpa sengaja dari belah bibirnya saat melihat jar berisi sedikit pasir dan banyak cangkang kerang. Benar-benar cantik. Renjun suka. Tidak seperti jar berisi air pantai, jar kali ini tidak ada pesan tangan dari Jaemin. Tapi Renjun tidak kecewa.

Ia beralih kembali pada sepucuk surat yang sempat terabaikan.

 

Kamu suka Renjun?

Aku ambil semua itu sebelum matahari terbenam. Aku juga punya rekaman suara ombak di pantai, nanti kita dengerin bareng ya setelah aku pulang ke Olk.

Tiga jar yang tutupnya warna merah, boleh kamu buka setelah ini. Isinya aku ambil ketika pergi ke berbagai tempat. Nggak seperti sebelumnya yang aku ambil saat berlibur ke pantai. Ada banyak tempat dan banyak juga hal cantik yang ingin aku beri buat kamu.

Kamu bisa buka tiga jar tutup merah gambar bunga sekarang.

Renjun menurut. Jar pertama yang ia ambil berisi kembang api yang masih menyala. Lucu sekali. Ada catatan tertulis di kertas yang digantung dengan tali rami yang dijepit dengan tutupnya, "Kembang api abadi, nggak akan mati. Sayang banget papa nggak kasih izin buat bawa kembang api ke Olk."

Jar dengan tutup senada selanjutnya yang Renjun buka tidak berisi gelembung yang juga tidak pecah. Jaemin juga menyisipkan pesan catatan, "Kata Mama, gelembungnya nggak akan pecah. Semoga aja begitu. Kamu harus tahu, kalau aku susah payah masukin gelembung ini ke jar. Semoga suka:)." Renjun suka, suka sekali.

Oleh-oleh dari Jaemin selanjutnya membuat Renjun bingung. Jar yang ia pegang saat ini kosong. Tidak ada apapun. Lantas Renjun membaca pesan di kertas, "Angin pulau Jeju, hehe. Bukan kosong, coba kamu buka, gimana rasanya?"

Renjun terkekeh kecil. Ada-ada saja. Tapi ia tetap membuka tutupnya. Tidak ada rasa apa-apa. Anginnya bukan angin abadi seperti kembang api dan gelembung sepertinya. Tapi Renjun tetap tersenyum saat membayangkan cara Jaemin menyimpan angin dari Pulau Jeju hanya untuknya.

Setelah menutup jar angin Jeju, Renjun kembali membaca surat Jaemin.

 

Renjun, masih sisa 2 jar. Tutupnya sama, hanya aja aku tambahkan gambar bentuk hati di salah satunya. Bisa kamu buka itu terakhir? Buka dulu tutup biru tanpa gambar hatinya, ya.

Renjun kembali menurut. Ia angkat jar dan menemukan bunga putih kecil yang ia sendiri tidak tahu apa namanya. Pesan catatan Jaemin kembali menjawab pertanyaannya, "Namanya hareuga, tumbuh di mana-mana tapi di Olk nggak ada. Lucu, kecil, mirip kamu."

Jaemin kembali membawa rona merah di kedua pipi Renjun. Tahu betul pemuda Na itu kalau si kekasih hati mudah sekali tersipu meski hanya dengan satu kata manis.

Masih tersisa satu jar lagi. Renjun menjadi sangat penasaran. Dengan hati-hati ia ambil dan angkat hingga berada di depan wajahnya. Kosong lagi. Tapi kertas pesan yang tersemat lebih besar dan dilipat menjadi empat bagian. Pesan catatan kali ini lebih panjang juga, "Renjun, yang terakhir ini bukan kosong. Bukan nggak berisi apa-apa. Tapi semua rasa rinduku ada di dalam jar ini. Dari aku berangkat, rasanya aku udah kangen kamu. Waktu sampai Jeju, yang aku ingat cuma kamu. Semua keindahan yang aku lihat di sini, selalu ngingetin aku sama kamu. Kamu nggak nahan rindu sendirian, Renjun. Aku pun begitu."

Iya, pasti begitu. Renjun juga tahu kalau ia tidak menahan rindunya sendiri. Jaemin pasti juga merindukannya. Jaemin sendiri juga meyakinkannya lewat pesan di jar beeisi rindu yang tidak terhingga itu.

Dengan itu, semua jar telah Renjun terima.

Namun, pesan di secarik surat Jaemin masih belum berakhir.

 

Jeju memang indah, Renjun. Tapi kamu lebih indah. Semua keindahan yang aku lihat, selalu buat aku ingat kamu. Tapi, aku juga selalu bandingin keindahan ini dengan kamu. Kamu tetap juaranya. Jeju cantik, Olk pun begitu, tapi semuanya akan lebih berarti kalau ada kamu. Lain waktu, kita pergi sama-sama, ya. Ke manapun kamu mau, kita ke sana. Bersama. Rasanya, aku nggak sanggup lagi buat nahan rinduku. Setelah kamu terima semua pesan rindu dari Jeju ini, semoga kita bisa segera jumpa.


Dari yang menyayangimu,

Na Jaemin♡


.
.
.
.
.


Fin

Notes:

Nggak tahu ini masuk fantasi atau bukan, saya nggak kasih tag fantasi tp aduh bingung juga.

Omong-omong, waktu nulis ini saya banyak senyum-senyum sendiri, ngerasa manis banget haha.

Terima kasih yang sudah berkenan baca^^

Series this work belongs to: