Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-03-22
Words:
1,145
Chapters:
1/1
Kudos:
28
Bookmarks:
2
Hits:
592

First View Of Tokyo

Summary:

Pertemuan Donghyuck dan Renjun berpotensi menjungkirbalikkan dunia. Atau, pilihannya, hati mereka berdua saja?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Penulis:

Carmelize

Akun Twitter:

@jemputkematian

Kode Prompt:

F06


 

FIRST VIEW OF TOKYO

 

Buih-buih ombak menggulung kalih pasir di ujung pesisir. Satu demi satu, tetapi beranak pinak. Riuh rendah pesta teradakan sukaria dalam kontradiksi; antara hijau ganggang bertubrukan dengan beril akuamarin. Ibarat sajian daun lempuyangan terbabat klandestin. Cocok dibalur lalapan langit kebelauan tambah asam manis rawi. Benar-benar racikan pas mengguggah selera netra. Gempuran arus Kuroshio menyeruakkan terumbu karang hangat, cumi kunang-kunang, dan gerombolan ikan bersirip kipas. Hiru-biru merias Amaterasu pada cermin laut tak tertuai jaraknya. Lembut dan nyaman membau perisa teh hijau.

Penyuguhan relief begitu dinikmati kendati Donghyuck saksikan dari atas tebing sini. Semenanjung di negeri sakura yang ia sambangi punya gestur bebatuan bordir. Menjorok ke laut. Suara deburan air masih merambati telinganya. Muka Donghyuck tidak terdecak kagum maupun kecewa, hanya mendatar. Tatapannya jatuh ke belasan meter di bawah sana. Mengabaikkan kemolekkan alam, Donghyuck bagai mengukur jaraknya. "Coba lihat. Ini pelarian besarku untuk kamu."

Bersamaan dengan bisikan pada air payau itu, Donghyuck terjun dari atas tebing.

<><><><> 

Biru.

Tubuh Donghyuck dilahap biru. Tiap-tiap ia memutuskan untuk bersitubuh dengan laut; menyelami samudra lewat lengan-lengan terbatasnya, Donghyuck selalu dibuat kagum pada satu warna. Biru melulu temani dia menjarah seisi perairan dangkal. Hutan karang membeliakkan penghuni: siput air, kuda laut, ubur-ubur, bulu babi, teripang dan banyak organisme lain. Donghyuck terbiasa amati mereka dari dekat. Membuatnya menekuri profesi oseanografi biologis sepanjang hayat—diembannya betah berlama-lama di bawah air ketimbang darat. Sayang, semua tidak termasuk biru yang amati ia dalam lekat. Setiap menyelam Donghyuck merasa terawasi oleh sepasang mata wilis misterius. Entah milik lelembut atau ikan, Donghyuck sebatas yakin ia ada. Tidak pernah ia dapati keseluruhan sosoknya. Kedapatan tepergok sesekali. Alih-alih ngeri, Donghyuck justru merasa lain. Jadi ia tidak kabarkan perihal dimata-matainya ia ke rekan-rekan. Laut luas, dan sepasang mata buat Donghyuck mewawas.

Terlalu sinting. Berbekal keyakinan sepasang manik mata, Donghyuck berakhir jemput kenekatan dia. Menjatuhkan diri ke laut bukan tanpa alasan. Donghyuck sekiranya ingin buktikan. Akankah eksistensi itu raih dia yang tak berdaya? Dirinya tenggelam, tenggelam, dan terus tenggelam. Kegelapan pekat menyergap sumbu pijar di kelopak mata. 

"Selamat datang di kota bawah air, eh? Kamu manusia gila." Pandangan Donghyuck mengerjap. Samar-samar, setelah kesadarannya bangkit dari semaput dibabat banyu, Donghyuck dapati dirinya telah hilang akal. Air asin menyergap paru-paru, tetapi Donghyuck saksikan mulutnya menghembuskan udara. Dia pelan-pelan bisa menghirup air. Fisiknya beradaptasi mengecap butiran bening tersebut menjadi oksigen. Donghyuck jelas kaget. Ia bakal meronta kalau saja seluruh tubuhnya tidak ataksia. Di hadapannya ada pelaku biru yang selama ini Donghyuck cari. Seorang pria berwajah manis, rambut cyan pendek terurai tipis di air seperti kipas geisha, wujud manusia hingga pinggang dan setengah ikan. Peradaban terpendam membingkai sosoknya. Bebatuan ketel tersusun rapih bentuk puri; titik-titik cahaya berpendar: sebuah kota.

Demi Tuhan, Donghyuck sepertinya gila dua kali.

"Katakan siapa namamu, manusia." Ia berenang mengelilingi Donghyuck yang terikat dengan posisi terbalik pada sebuah tiang. Semestinya bukan masalah, sebab keduanya sepenuhnya terendam air. Donghyuck akan terbawa arus kalau dia tidak ditambatkan. "Saat mengawasimu, aku selalu kepingin membunuhmu, tahu. Namun kuurungkan karena sesuatu hal. Tidak disangka kamu pendek otak. Menjeburkan diri dari ketinggian dua puluh kaki? Menggelakkan perut. Kamu pikir dirimu setengah ikan sepertiku?" 

"Donghyuck." Seruan singkat tersebut memotong ocehan. Yang sedari tadi bicara beralih diam. Donghyuck kelihatan ragu untuk melanjutkan. "Katakan balik siapa namamu ... ikan? Yang membuntutiku?"

Muka makhluk itu mengerut tidak terima. Ia berenang terbalik agar sejajarkan diri bersama Donghyuck. Rautnya jelas tersinggung. "Hey, jangan menyebutku ikan!"

"Kamu sendiri terus-terusan sebut aku manusia. Aku harus apa sebenarnya?" kilah balik Donghyuck yang merasa dirinya ditindas.

"Ya, ya. Terserah. Panggil aku Renjun," sahutnya ketus sembari mengerlingkan bola mata. Donghyuck acapkali terjerat dua pukat wilis itu. Senantiasa memikat. Tanpa berlama-lama, Renjun menjentikkan kuku-kuku jari lentiknya. Mula-mula Donghyuck kebas, sebelum akhirnya terbebas dari naungan ataksia. Renjun sigap mengudarkannya dari ikatan, menggenggam kesepuluh jemarinya, mengajari Donghyuck berenang kecil di kedalaman seusai kuasai kembali raganya. "Seperti yang kamu dengar tadi, aku menawanmu bukan tanpa tujuan. Kamu akan jadi samas penebus manusia. Pematik penghancur dunia kamu di tanganku."

Penuturan Renjun bersisa pelik bagi Donghyuck. Ia terpaksa memburaikan kembali. "Aku akan mengirimkan kiamat pada duniamu dan kamu kuncinya, apa lagi? Kalian sudah terlalu banyak populasi. Sampah, jelantah, amarah. Kalian benar-benar tidak becus memegang bumi. Tumpukan keresek berarak menuju laut. Bahkan penyu, hewan yang selalu tersenyum, pudar melengkung saat mengira plastik adalah ubur-ubur. Banyak saudara kami yang kamu racuni."

Donghyuck terdiam sejurus kemudian. Lewat di pikirannya tentang kunarpa ikan-ikan di sisi pantai tak terjamah. "Aku tidak pernah membuang sampah di laut."

"Begitulah, bodoh! Tidak ada jaminan sampah yang kamu buang sembarangan tidak sampai di laut juga. Nyatanya aku mendapati tutup-tutup botol menggenang di insang ikan. Jahat kalian." Gelembung udara meletup-letup ke atas menggambarkan kemarahan Renjun. "Lagi pun, tidak usah naif. Aku tahu kamu meraup pelukan laut bukan hanya karena aku 'kan? Kamu akan tetap melakukannya walaupun aku tidak akan menyelamatkanmu. Momok apa yang manusia lain lakukan pada kamu, ha?"

Donghyuck tersenyum samar membuat Renjun bergidik. "Ketika mengawasi, kamu bilang kamu ingin sekali membunuhku? Lain halnya dengan yang aku rasakan. Saat kedapatan bersama sepasang matamu, aku jatuh hati."

<><><><> 

Protes Renjun tidak menyandung misi jatuh ke tangannya. Ia sesalah satu dari bangsanya yang begitu memendam kesumat pada manusia. Memburu satu buat Renjun tergoda membunuhnya saat itu juga. Donghyuck terlihat seperti insan dengan kubangan masalah takkan pernah surut. Tangannya meraup getir. Matanya membius kesedihan busuk dan berkarat. Dia tipe ideal untuk dipengaruhi. Kata-kata persuatif sedikit, jiwanya akan langsung menyemai pada kaum Renjun. Nyatanya justru menghabiskan waktu bersama Donghyuck buat Renjun tercenung berkali-kali. Menelusuri kota di bawah air; rasa penasaran Donghyuck, menjajal tunik bangsanya, mengicipi kuliner lumut mereka. Donghyuck gila dan Renjun suka.

Kehadiran Donghyuck berbalik memanusiakannya.

"Manusia saja tidak bisa memanusiakan sesamanya. Apa yang kamu harap dari isu-isu dunia?" tanya Donghyuck ketika kebingunan kepalang remat dia. Di tangannya sudah ada trisula. Ia siap menjadi kunci pemicu bencana yang akan mereka jejalkan pada kehidupan di atas sana. Keduanya berenang rendah di atas riak air bergejolak. 

"Aku tidak bisa. Menyapu bersih mereka dan menutup kemungkinan ada orang sepertimu di antaranya."

Keduanya saling berpandangan. Kesepuluh jari saling ditautkan seperti sediakala. Kedua rupa buat sesama tak bisa memalingkan wajah. Renjun dan Donghyuck punya satu hal yang terus berputar-putar dalam tempurung kepala mereka. Pemikiran menyengat seperti arus listrik. "Sekarang, masihkah cinta bisa menaklukkan segala?"

Trisula dilepas asal. Renjun dan Donghyuck bersamaan menjerumuskan diri ke riak air. Ratusan gelembung menyambut mereka. Dasar laut menyintas; merekah dan membelah, mengirim mereka ke atas langit. Donghyuck jelas mengenalinya. Langit Tokyo. Selebrasi kembang api tengah di gelar dan mereka berdua menjelma titik jatuh di antara gugus bintang. Renjun jatuh terlebih dahulu. Sedikit lagi, Donghyuck berusaha menggapainya. Ketika tangan mereka saling menggenggam, ekor ikan Renjun lamat mengering jadi dua buah kaki. Donghyuck kembali rasakan sensasi udara melesak ke paru-parunya.

"Hanabi," bisik Donghyuck pada hujaman tatapan bertanya Renjun akan kemilau cantik di sekelilingnya. "Dan aku akan mengajarimu berjalan. Sepertinya, kesakitan berguling di atas tanah akan jadi nomor satu yang diprioritaskan."

- Selesai -

Notes:

hai! untuk sender prompt F06 ini, aku harap ceritaku memenuhi ekspetasi. terima kasih sudah biarin aku kembangin idenya. nyadar nggak sih, kalian, kalau cerita ini justru rasa-rasa anime, haha? sekali lagi, selamat ulang tahun ya, renjun!