Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-03-22
Words:
5,077
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
53
Bookmarks:
4
Hits:
1,222

After All, It’s Always You

Summary:

“Kamu ngehindarin aku, kan? Kenapa? Aku ada salah?”
“Aku ngga ngehindar dari kamu, kok. Aku emang mau ke toilet. Masalah aku bawa tas aku, itu hak aku dong. Aku bebas ngelakuin apa aja. Toh ini barang-barang aku. Udah ya, Ren. Aku ke toilet dulu.”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Penulis:

 elf_starlights

Akun Twitter:

@mommy_Njun

Kode Prompt:

H12


 

AFTER ALL, IT'S ALWAYS YOU

 

"Renjun Ge!"

Renjun melambai pada Chenle yang baru turun dari mobil yang mengantarnya. Menunggu adiknya itu bergabung bersamanya. Chenle dan dirinya saat ini ada jadwal untuk latihan. Bersama dengan Haechan juga sebenarnya. Hanya saja saat ini Haechan masih harus menyelesaikan jadwalnya yang lain.

Renjun, Haechan dan Chenle akan mengeluarkan mini album dibawah nama NCT Dream. Album ini merupakan bagian dari project 13th Anniversarry NCT Dream. Selain mini album yang berisi lagu yang hanya dinyanyikan oleh mereka bertiga, NCT Dream juga akan merilis mini album lain yang diisi oleh rapper line.

Ge, kenapa aku merasa gugup?”

Renjun tertawa mendengar perkataan Chenle itu.

Mereka memang sudah lama berkecimpung di dunia entertainment. Sudah 13 tahun berlalu sejak mereka debut dibawah bendera NCT Dream. Tapi ini kali pertama mereka mengeluarkan album yang benar-benar hanya diisi oleh mereka bertiga. Mempromosikan lagu hanya dengan mereka bertiga berdiri diatas panggung.

Selain itu, tahun terus berlalu. Suka atau tidak, sebagai pria yang tinggal di Korea Selatan, berwarga Negara Korea, sebagian dari member NCT harus menjalani kewajiban mereka. Selama beberapa tahun ini, dimulai dari Taeil, satu per satu member NCT menjalani wajib militer. Member NCT 127 sudah hamper semua menjalani wajib militer, sudah pasti waktu bagi Jeno, Haechan, Jaemin dan Jisung menyusul mereka semakin dekat. Maka dari itu, album kali ini terasa lebih spesial bagi mereka.

“Santai aja, Le. Anggap aja ini kayak persiapan kita biasanya. Yang kita siapin bertujuh, bukan cuma kamu, aku dan Haechan.”

“Tapi kan, Ge, ini bisa dibilang kayak album terakhir sebelum nantinya mungkin kita akan vakum karena jadwal wajib militer Jeno Hyung, Haechan Hyung, Jaemin Hyung juga Jisung.”

Memang benar. Renjun juga tahu itu. Waktu 2 tahun tidak bisa dibilang sebentar, walau tidak akan terasa lama juga.

“Semua bakal baik-baik aja, Le. Dua tahun nggak akan terasa. Dalam kedipan mata, nanti kita udah kumpul lagi, udah sibuk lagi nyiapin album bareng.”

Chenle hanya mengangguk. Ya, 2 tahun itu akan berlalu dengan cepat. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan.

<><><><>

Renjun melepas jaket yang ia kenakan. Mendudukkan dirinya di sofa yang ada di apartment mereka. Ah, sudah sejak 2 tahun ini mereka semua tidak lagi tinggal di dorm Dream. Perusahaan membebaskan mereka jika ingin memiliki tempat tinggal sendiri. Yang diikuti oleh member. Hanya saja, baru beberapa bulan mereka tinggal terpisah, Renjun, Jeno, Jaemin dan Jisung memutuskan untuk kembali tinggal bersama. Sepertinya mereka sudah terlalu biasa tinggal bersama, hingga rasanya aneh harus menempati sebuah unit apartment seorang diri.

“Udah pulang, Ren?”

Renjun menoleh kea rah Jeno. Jeno terlihat baru saja selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah. Kalau Jaemin melihat hal itu, sudah bisa dipastikan Jeno akan menerima banyak omelan.

“Seperti yang kamu lihat.”

“Capek banget kayaknya.”

Renjun tertawa pelan. Lelah, itu sudah pasti. Selain karena dirinya masih harus memenuhi jadwal lainnya disela waktu mereka mempersiapkan album, ada hal lain yang sejujurnya mengganggunya sejak beberapa bulan belakangan ini.

“Haechan masih nyuekin kamu?”

Ya, Lee Haechan. Salah satu teammate nya. Juga kekasihnya. Tentu saja tidak banyak yang tahu mengenai fakta terakhir itu. Hanya member dan beberapa staff yang memang selalu bersama mereka. Sikap Haechan berubah padanya selama beberapa bulan belakangan ini.

Haechan yang ia kenal, sebagai kekasihnya, merupakan sosok yang sangat perhatian. Jika mereka sedang tidak ada jadwal bersama, Haechan akan selalu memberinya kabar. Apa yang sedang ia lakukan, kegiatan apa saja yang ia lewati hari itu. Juga selalu menanyakan keadaan Renjun. Jangan ditanya bagaimana jika mereka bersama. Member yang lain sampai sebal melihat Haechan yang selalu menggelayuti Renjun dimanapun. Dimana ada Renjun, maka disanalah Haechan berada.

Sayangnya, semua itu tidak terlihat beberapa bulan belakangan ini. Tidak ada lagi Haechan yang menanyakan keadaannya, memberinya pesan random, atau perhatian-perhatian lainnya. Mereka memang masih berkomunikasi, hanya saja rasanya hanya Renjun yang membangun komunikasi. Selalu Renjun yang memulai obrolan singkat mereka, yang selalu berakhir pesan Renjun hanya dibaca begitu saja oleh Haechan.

“Mungkin dia lagi capek aja, Jen. Jadwal dia juga padat banget, kan? Jadi DJ, belum lagi shooting untuk program games juga jadwal lainnya.”

“Kayak baru sekarang aja jadwal Haechan padat begitu, Ren. Kita udah lama lho aktif disini, masa cuma karena kayak gitu aja dia sampe ngga bisa bales pesan kamu.”

“Mungkin dia udah bosen,” lirih Renjun.

Jeno terdiam. Ia tak tahu harus membalas seperti apa. Siapa yang tahu apa yang ada di kepala Haechan.

Renjun langsung membereskan barang-barangnya. Membahas Haechan hanya membuatnya bersedih. Ia sudah cukup lelah hari ini. Yang harus ia lakukan saat ini adalah tidur. Siapa tahu saat terbangun nanti, semua kembali seperti semula. Semoga.

“Aku ke kamar ya, Jen. Mau istirahat.”

<><><><>

Di lain tempat, Haechan dan Chenle sedang dalam perjalanan. Lokasi mereka paling jauh dari perusahaan, membuat sampai saat ini mereka masih belum sampai, padahal tubuh mereka sudah sangat lelah.

Haechan terlihat membolak balik kertas yang ada ditangannya. Itu script yang harus ia pelajari untuk jadwalnya besok. Sedangkan Chenle sibuk bermain ponsel. Menggulir akun weibo miliknya, untuk melihat apa yang sedang dibicarakan fans mereka. Setelah lelah melihat layar ponselnya, Chenle melirik Haechan.

Hyung sibuk banget ya? Besok masih ada jadwal?”

Haechan mengangguk.

“Besok sebelum latihan, Hyung masih harus shooting buat satu program, Le.”

Hyung ngga capek? Tadi aja Hyung keliatan capek banget. Bukan cuma Hyung sih. Renjun Ge juga keliatan capek. Tapi kayaknya Hyung yang lebih capek. Sekarang Hyung udah jarang main ke rumahku, padahal biasanya Hyung sering main. Mama sampe nanyain Hyung ke aku.”

Haechan terkekeh. Meletakkan script tadi ke dalam tasnya. Mengarahkan seluruh fokusnya pada Chenle. Chenle merupakan adik kesayangannya. Oh, tapi rahasiakan ini dari Chenle dan Jisung ya. Bisa repot kalau mereka berdua tahu.

“Maaf ya, Hyung sibuk banget belakangan ini. Mau gimana lagi, Hyung mau nyoba banyak hal baru. Kebetulan kesempatannya datang sekarang.”

Chenle hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tapi Hyung harus tetep jaga kesehatan, ya. Jangan sampai sakit.”

“Kenapa? Ngga mau ya liat Hyung sakit?” goda Haechan.

Chenle mencibir.

“Ngga tuh. Hyung kalo sakit ngerepotin. Belum lagi nanti pasti Renjun Ge khawatir. Dan mulai cerewet ke Hyung. Aku ngga mau ya selama promosi kita denger kecerewetan Renjun Ge dan manjanya Hyung.”

Haechan hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Chenle. Mendengar nama Renjun disebut, membuatnya merindukan rubahnya itu. Biasanya jika seperti ini, Haechan pasti sedang berbalas pesan dengan Renjun. Membicarakan hal apa saja sampai ia tiba di apartmentnya. Haechan rasa dirinya sudah gila. Menjauh dari rubahnya itu karena pikiran konyol di kepalanya.

“Haechan, sudah sampai.”

Perkataan manager mereka membuyarkan lamunan Haechan. Ia memandang sekeliling. Mereka memang sudah sampai di loby apartmentnya. Ia pun langsung membereskan barang-barangnya. Menggumamkan ucapan terima kasih pada manager dan berpamitan pada Chenle.

“Haechan Hyung.”

Haechan menoleh, menunggu Chenle melanjutkan ucapannya.

“Jangan Hyung kira aku ngga tahu ada apa antara Hyung dan Renjun Ge. Aku percaya, Hyung bisa selesaikan semuanya tanpa nyakitin Renjun Ge atau Hyung sendiri.”

Haechan terpaku sejenak. Tak lama ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

<><><><>

Haechan sedang melakukan peregangan di ruang latihan mereka. Hari ini mereka ada jadwal berlatih. Memang bukan berlatih dance, secara lagu yang mereka bawakan genre ballad. Haechan hanya mengisi waktu sambil menunggu waktu latihan mereka yang masih satu jam lagi.

Haechan masih mengikuti tarian dari lagu yang terputar di ponselnya saat ruang latihan terbuka. Ia langsung menghentikan gerakannya saat melihat siapa yang datang. Renjun. Yang saat ini berdiri menatapnya dari pintu ruang latihan adalah Renjun.

Haechan memperhatikan Renjun sesaat. Ia baru sadar betapa dirinya merindukan sosok mungil itu. Walaupun mereka sering bertemu belakangan ini, tapi tidak pernah ada interaksi lebih diantara mereka. Sebisa mungkin Haechan akan menghindari berada dalam suatu ruangan hanya bersama dengan Renjun.

Renjun berjalan mendekati Haechan. Membuat Haechan tersadar dari lamunannya dan melangkah menuju sudut ruangan, tempat dimana ponselnya berada. Ia mengambil ponselnya. Mematikan lagu yang masih terputar. Masih ada banyak waktu sebelum jadwal latihan mereka.

“Kamu dari tadi disini, Chan?”

Haechan mengangguk. Membereskan barangnya, berniat meninggalkan ruangan itu.

“Kamu mau kemana?”

Haechan tidak langsung menjawab. Kepalanya berputar mencari alasan apa yang bisa ia katakana pada Renjun.

“Ke toilet. Aku mau ke toilet.”

Renjun tersenyum. Semakin mendekati Haechan yang mempercepat gerakannya.

“Kamu ke toilet bawa semua barang kamu? Mau ngapain? Kita latihan kan di ruang sebelah, kamu bisa tinggalin dulu tas kamu disini. Kita bisa nunggu Chenle bareng-bareng disini.”

Haechan menelan ludah gugup. Tidak tahu harus memberi alasan apalagi agar bisa keluar dari ruangan.

“Kamu ngehindarin aku, kan? Kenapa? Aku ada salah?”

“Aku ngga ngehindar dari kamu, kok. Aku emang mau ke toilet. Masalah aku bawa tas aku, itu hak aku dong. Aku bebas ngelakuin apa aja. Toh ini barang-barang aku. Udah ya, Ren. Aku ke toilet dulu.”

Dengan itu, Haechan berhasil melarikan diri dari Renjun. Meninggalkan Renjun yang menatap sedih kepergian Haechan. Renjun benar-benar tak tahu kenapa Haechan bertingkah seperti ini. Seingatnya hubungan mereka baik-baik saja. Tidak ada keributan besar yang membuat Haechan bersikap dingin padanya.

<><><><>

Hari ini seluruh member Dream berkumpul. Sore ini mini album main vocal Dream akan rilis. Mereka sepakat akan berkumpul di apartment Dream sambil menunggu lagu rilis. Ruang tengah kini sudah terlihat berantakan. Bukan hal aneh. Walau umur mereka makin dewasa, entah kenapa tingkah mereka masih sama seperti awal mereka debut.

Chenle datang dengan membawa banyak camilan untuk mereka. Jaemin juga sudah menyiapkan makanan kecil untuk menemani mereka menunggu. Sambil menunggu, mereka berbincang segala macam. Mulai dari persiapan mini album dari rapper line sampai ke wajib militer member Korea di Dream.

“Jisung bareng sama Hyung yang lain aja wamilnya, biar cepet selesai.”

“Ide bagus, biar vakumnya sekalian ya,” sahut Jisung.

“Kalian bertiga, kapan mau masuk? Tahun ini kalian udah harus masuk kan?”

“Kami udah ngomongin ini sama agensi, Hyung. Kemungkinan sih setelah project ini selesai.”

“Kalo gitu ngga sampe 3 bulan lagi?”

Jeno mengangguk. Project anniversary mereka ini akan menjadi project terakhir 00line, selain Renjun, sebelum wajib militer.

Membahas wajib militer, membuat mereka mulai membicarakan apa yang akan dilakukan selama mereka vakum sebagai grup. Dan perbincangan mereka kembali mengalir dari satu topik menuju topik lainnya.

Diantara keributan yang tercipta, Renjun terlihat berdiam diri. Kepalanya menyusun banyak skenario. Beberapa bulan lagi Haechan akan jauh dari dirinya. Tapi sampai saat ini hubungan mereka masih tidak jelas. Dibilang putus, tidak ada kata putus diantara mereka. Dibilang masih berpasangan, rasanya semua sudah terasa sangat hambar.

Renjun bangun dari duduknya saat melihat Haechan berjalan ke arah dapur. Mengikuti Haechan dalam diam. Renjun perlu kejelasan. Sebelum nantinya mereka akan dipisahkan oleh jarak.

“Haechanie.”

Haechan hampir saja menjatuhkan gelas yang ia pegang karena terkejut. Bukan hanya kedatangan tiba-tiba dari sosok Renjun saja yang mengejutkannya, tapi keberadaan mereka yang hanya berdua di dapur membuat Haechan dilanda rasa gugup dan takut. Entah kenapa ia harus merasa seperti itu.

“Maaf, aku nggak bermaksud bikin kamu kaget,” sesal Renjun.

Haechan menggeleng.

“Nggak apa-apa. Kamu perlu apa? Biar sekalian aku ambilin.”

Renjun menarik nafas.

“Aku perlunya kamu, Chan.”

Perkataan Renjun itu membuat Haechan terdiam. Ia sama sekali tak mengira hal itu yang akan dikatakan Renjun. Kini ia tak tahu harus membalas apa. Satu-satunya yang ada di pikirannya saat ini adalah dirinya harus segera pergi dari dapur.

“Ah, aku ke depan sekarang ya. Tadi Jisung minta diambilin gelas sekalian. Dia pasti udah nungguin.”

“Kamu beneran ngehindarin aku ya? Kamu benci sama aku? Sampe ada di satu tempat cuma berdua aja kamu nggak mau.”

Perkataan Renjun itu membuat langkah kaki Haechan terhenti.

“Kalo aku ada salah sama kamu, tolong kasih tahu aku, Chan. Kalo kamu udah ngga ada perasaan apa-apa sama aku juga tolong bilang. Aku nggak akan ngerti kalo kamu nggak ngomong apa-apa ke aku. Kamu cuma terus menghindari aku. Pesan aku nggak pernah kamu bales. Kamu berharap aku bisa paham apa yang kamu mau dengan kayak gitu.”

“Nggak ada yang salah dari kamu, Ren.”

Renjun tertawa mendengar perkataan Haechan.

“Ren? Bahkan sekarang kamu manggil aku kayak gitu. Ternyata aku udah ngga spesial di mata kamu, ya. Kayaknya di mata kamu aku sekarang cuma sekedar teman satu grup kamu. Sebatas rekan kerja.”

Haechan kelabakan mendengar itu. Ia menggenggam tangan Renjun.

“Nggak gitu, Ren. Aku sayang sama kamu. Aku …”

Renjun melepas genggaman tangan Haechan.

“Aku capek, Chan. Aku capek sama sikap kamu yang kayak gini. Kamu bilang kamu sayang sama aku, tapi sikap kamu ngga nunjukin itu. Apa yang kamu lakuin berkebalikan dari ucapan kamu.”

Renjun menarik nafas panjang.

“Aku rasa kita perlu waktu buat sendiri. Kamu bisa pikirin lagi apa yang hati kamu mau. Kita jaga jarak dulu ya, Chan. Setelah kamu dapet jawaban buat semuanya, kamu bisa bilang ke aku. Apapun keputusan kamu nanti, aku akan terima.”

Setelah mengatakan itu, Renjun berjalan meninggalkan Haechan yang mengacak rambutnya frustasi. Sama sekali tak mengira semuanya akan menjadi seperti ini.

<><><><>

Hari ini merupakan hari terakhir masa promosi tim ballad NCT Dream. Disusul minggu depan giliran rapper line yang akan promosi di music show. Mereka sangat bersyukur album mereka diterima sangat baik oleh fans juga masyarakat luas. Rasanya semua rasa lelah yang mereka rasakan selama proses pembuatan album dan juga masa promosi, terbayarkan melihat antusiasme terhadap album mereka.

Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Inkigayo. Renjun duduk disamping manager mereka, sedangkan Haechan dan Chenle duduk di bangku tengah. Tak ada suara apapun di mobil. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Mencari berita terbaru terkait diri mereka di sosial media.

Hingga gerakan tiba-tiba dari Renjun mengejutkan mereka semua.

“Kenapa, Ren?” tanya manager. Khawatir terjadi sesuatu pada anak asuhnya itu.

Renjun tidak menjawab apa-apa. Ia langsung menolehkan kepalanya ke bangku tengah. Menatap tajam kearah Haechan. Haechan yang tidak mengerti ada apa hanya menatap bingung Renjun.

“Kenapa, Ge? Kok sampe ngeliatin Haechan Hyung kayak gitu.”

“Ada yang kamu sembunyiin dari kami?”

Renjun tidak mengindahkan pertanyaan manager dan Chenle. Tatapannya hanya tertuju pada Haechan.

“Sembunyiin? Maksud kamu apa, Ren?”

Renjun menunjukkan ponselnya pada Haechan. Chenle yang penasaran ikut mencondongkan tubuhnya, ingin melihat ada apa di ponsel Renjun. Ponsel Renjun menunjukkan halaman dari sebuah artikel. Artikel itu berisi pernyaataan dari agensi mereka jika Haechan akan memulai wajib militernya bulan depan. Yang artinya hanya tinggal dua minggu sebelum bulan berganti.

“Eh?!? Hyung? Ini benar?”

“Kalian belum tahu?”

Pertanyaan manager itu membuat Renjun makin tidak habis fikir. Apa hanya mereka yang tidak tahu mengenai hal ini?

Manager Hyung tahu?” tanya Chenle.

“Tentu saja. Hyung kira Haechan sudah memberi tahu kalian.”

Manager menatap Haechan dari rear view mirror. “Kamu bilang mau ngomong sendiri sama yang lain kan, Chan. Kamu belum sampein ke  member lain?”

“Maaf Hyung. Aku belum sempat bilang ke yang lain.”

Manager menggeleng mendengar cicitan Haechan.

“Lee Haechan, kau ini apa-apaan? Hal sepenting ini ngga langsung kamu kasih tahu ke kami. Oke, ngga masalah kalo kamu ngga bisa langsung bilang. Tapi apa harus kami tahu soal ini dari media? Apa kami ngga ada arti apa-apa buat kamu?”

Haechan menelan ludah takut. Kemarahan Renjun adalah salah satu hal yang sangat ia hindari. Renjun memang sering kesal jika ia menggodanya, tapi Renjun tidak pernah marah padanya. Kali ini sepertinya Haechan benar-benar membangkitkan singa tidur dalam diri Renjun.

“Ngga gitu, Ren. Aku mau bilang ke kalian, cuma aku belum nemu waktu yang tepat.”

Suasana dalam mobil seketika menjadi tegang. Renjun benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Haechan.

“Waktu yang tepat? Kapan? Media aja udah rilis artikel soal ini, Chan. Sedangkan kami? Sepatah kata aja dari kamu sama sekali ngga ada.”

Mobil yang membawa mereka telah sampai di apartment Dream. Tanpa berkata apapun, Renjun langsung keluar dari mobil. Haechan menarik nafas melihat hal itu.

“Kenapa Hyung ngga pernah bahas soal ini sama kami? Seenggaknya sama Renjun Ge, kalo emang Hyung belum bisa cerita sama kami.”

Haechan menoleh ke arah Chenle.

“Maaf ya, Hyung tahu Hyung salah. Hyung akan jelasin semuanya. Malem ini kita nginep disini ngga masalah kan?”

Chenle mengangguk. Ia membereskan barang-barangnya dan keluar meninggalkan mobil.

“Maaf untuk keributannya, Hyung. Terima kasih sudah mengantar kami. Aku akan bertanggung jawab dan menyelesaikan semuanya malam ini. Aku juga udah hubungin Mark Hyung untuk datang.”

Manager hanya mengangguk. Ia percaya, mereka sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Selain itu ada Mark. Ia bisa mempercayai Mark untuk membuat situasi tetap kondusif dan terkendali.

<><><><>

Suasana di dalam apartment Dream terlihat tegang. Jisung yang tidak tahu apa yang terjadi menatap tak mengerti kearah Chenle dan Haechan. Sejak Renjun datang dan langsung masuk ke kamarnya dengan sedikit kesal, Jisung tak berani mengganggu. Belum lagi pintu kamar yang terkunci, membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Haechan sudah mencoba mengetuk pintu kamar Renjun, tapi sama sekali tak dipedulikan oleh Renjun.

“Bisa tolong jelasin ini ada apa? Kalian bertengkar? Di hari terakhir promosi kalian?”

“Kamu ngga buka media sosial?”

Jisung menggeleng. Sejak tadi ia belum membuka media sosial sama sekali. Sebenarnya dirinya belum lama terbangun dari tidur siang. Jeno dan Jaemin seingatnya pergi keluar sebentar. Dapur mereka kosong, jadi duo J itu memutuskan pergi ke bawah untuk membeli beberapa keperluan. Maka dari itu hanya tinggal dirinya yang ada di apartment.

“Ada yang harus Hyung jelaskan, Ji. Tapi tunggu Mark Hyung, Jeno sama Jaemin dateng, ya. Siapa tahu ada dari mereka yang bisa bujuk Renjun buat keluar juga.”

"Haechan Hyung berantem sama Renjun Hyung?"

"Lebih tepatnya Renjun Ge marah ke Haechan Hyung."

Jisung menatap tak mengerti ke arah Chenle. Renjun marah pada Haechan? Jisung tahu ada yang aneh dengan hubungan kedua Hyungnya itu. Tapi sampai membuat Renjun marah? Hal apa yang sudah dilakukan Haechan.

Baru saja Jisung ingin kembali membuka mulutnya, suara pintu yang terbuka mengalihkan atensinya. Begitu juga dengan dua orang lainnya. Tidak lama Mark muncul bersama Jeno dan Jaemin.

Mark melihat ruang tengah apartment dan tidak menemukan keberadaan Renjun disana. Ia mengisyaratkan kepada Jeno dan Jaemin untuk duduk.

"Aku akan memanggil Renjun. Lee Haechan, siapkan penjelasanmu."

Mark dan karismanya selalu membuat member Dream terdiam patuh. Begitu juga dengan hari ini. Haechan hanya mengangguk. Menghindari tatapan mengintimidasi yang dilayangkan Jeno dan Jaemin.

"Renjunie, ini Mark Hyung. Kamu ngga mau buka pintu buat HyungHyung udah jauh-jauh kesini lho, masa kamu mau diem aja di kamar. Kamu tega sama Hyung."

Tidak perlu menunggu lama pintu yang sejak tadi tertutup kini telah terbuka. Mark tersenyum teduh melihat Renjun. Walau adiknya itu terlihat sedikit berantakan. Matanya terlihat sembab dan merah. Begitu juga dengan kedua pipinya. Terlihat jelas jejak air mata di wajah Renjun.

"Kita dengerin penjelasan Haechan dulu ya? Dia pasti ngga bermaksud nutupin soal ini dari kita. Dia pasti punya alasan tepat ngelakuin ini. Hyung yakin, kamu lebih tahu gimana Haechan kan? Jadi, ayo ikut Hyung, kita sama-sama denger apa yang mau Haechan sampein ke kita."

Demi menghormati Mark, Renjun pun mengangguk. Sebelumnya ia meminta izin membasuh wajahnya yang tentu saja diizinkan oleh Mark.

~~~

Haechan tertunduk setelah menjelaskan semuanya. Ia benar-benar merasa bersalah sudah membuat kekacauan seperti ini. Belum lagi saat melihat wajah Renjun yang terlihat sembab. Rasa bersalah itu semakin memuncak.

"Jadi Hyung akan mulai wajib militer dua minggu lagi? Dan baru bilang ke kami sekarang?"

"Hyung minta maaf, Ji.”

“Tadinya aku mau kasih tahu malam ini, setelah promosi selesai. Tapi ternyata agensi udah ngasih tahu media duluan. Ya bukan salah agensi juga, sih. Pasti mereka pikir aku udah ngomong ke kalian. Sekali lagi aku minta maaf.”

“Lagian kenapa ditahan-tahan, sih Chan. Ini penting lho.”

“Aku cuma ngga mau nanti malah jadi ganggu masa promosi, Jen. Maksud aku biar fokus dulu ke promosi album kita.”

Haechan memang ada benarnya. Tapi mengetahui hal sepenting ini dari media tetap saja terasa menjengkelkan.

"Yaudah, jadi udah clear kan? Haechan emang salah, tapi dia udah ngakuin kesalahan dia. Selain itu udah kejadian juga, kita ngga bisa ngapa-ngapain lagi. Yang terpenting sekarang untuk Haechan, jangan diulangin lagi, paham? Yang lain juga. Memang ada hal yang harus kita prioritaskan, tapi jangan sampai kejadian kayak gini keulang lagi. Diskusiin bener-bener ke agensi sama staff."

Haechan dan yang lain mengangguk. Sekali lagi Haechan menggumamkan kata maaf. Yang disambut ucapan tidak apa-apa dari member lain.

"Udah kan? Aku mau istirahat. Capek."

Tanpa menunggu jawaban dari yang lain, Renjun berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.

"Susul sana. Wajar dia marah, Hyuck. Hal besar kayak gini kamu ngga cepet kasih tahu. Hubungan kalian juga masih gantung, kan? Diselesaikan sebelum kamu fokus sama kewajiban kamu nanti."

“Kita dukung dari sini, Chan. Kalo Renjun marah-marah, dengerin aja. Aku aja rasanya pengen mukul kamu pas liat artikel tadi. Dia pasti bakal ngelampiasin semua yang dia tahan selama ini.”

Haechan mengangguk mengerti. Langsung berjalan menyusul ke kamar Renjun, yang ia yakini tidak akan terkunci seperti tadi.

<><><><>

Suara pintu kamar yang terbuka membuat Renjun makin menenggelamkan dirinya dibalik selimut.

"Aku beneran mau istirahat, Hyung. Tolong jangan ganggu dulu."

Tanpa melihat siapa yang datang, yang Renjun pikir adalah Mark, Renjun langsung mengatakan itu. Untuk saat ini Renjun sedang tak ingin diganggu. Perasaannya campur aduk. Sedih, kecewa, marah. Semua bercampur menjadi satu.

Sedangkan Haechan, sosok yang masuk ke dalam kamar malah makin mendekat. Mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur Renjun. Merasa menyesal telah membuat rubahnya itu bersedih.

"Fox, maaf udah bikin kamu marah, kesel, sedih kayak gini."

Tubuh Renjun menegang begitu mendengar suara Haechan. Belum lagi panggilan itu.

"Maaf buat semua sikap aku ke kamu belakangan ini. Aku tahu aku bodoh. Aku cuma ngga tahu harus gimana. Sejujurnya, aku ngga siap jauh dari kamu."

Renjun membalikkan tubuhnya. Kedua matanya terlihat basah. 

"Kamu kira cuma kamu doang yang ngerasa kayak gitu. Aku juga, Chan. Aku sadar, cepet atau lambat kamu pasti nyusul yang lain wajib militer. Aku pikir kita bisa habisin waktu bareng sebelum kamu pergi. Tapi apa? Kamu malah ngejauh dari aku."

“Bukan cuma kamu yang ngga siap, Chan. Bukan cuma kamu yang ngga tahu harus gimana kalo kita jauh nanti. Kamu harus inget, bukan cuma kamu yang jalanin hubungan ini. Ada aku juga disini. Apa yang kamu khawatirin, yang kamu pikirin, aku juga mikirin itu. Aku juga ngga bisa jauh dari kamu, Chan. Tapi aku berusaha ngerti, ini kewajiban kamu. Seberat apapun aku ngelepas kamu nanti, aku tetep harus lakuin itu. Aku selalu mensugesti diri aku, 2 tahun itu nggak lama. 2 tahun itu cuma sebentar. Aku nggak akan terlalu ngerasa kamu jauh dari aku.”

Renjun menarik nafasnya. Dadanya terasa sesak karena bicara sambil menangis.

“Tapi kayaknya cuma aku yang mikir kayak gitu ya, Chan? Cuma aku yang mikir hubungan ini kita jalanin berdua. Bukan cuma kamu sendiri atau aku sendiri.”

“Aku nggak bermaksud gitu. Aku bener-bener bingung harus gimana, Fox. Begitu tahu sebentar lagi aku harus pergi wajib militer, aku ngga bisa berfikir positif. Pikiran jelek langsung berlomba-lomba menuhin kepala aku.”

Renjun menghapus air mata di wajahnya. Tersenyum pada Haechan. Yang malah membuat Haechan merasa seperti ada yang menusuk jantungnya.

“Tolong jangan kayak gini, Chan. Komunikasi. Itu kunci sebuah hubungan. Kamu juga tahu itu kan? Gunain waktu kamu di camp buat pikirin ini, ya. Gunain waktu kamu disana buat renungin semuanya. Kamu perbaiki diri disana. Aku juga akan ngelakuin hal yang sama disini. Kita sama-sama belajar dan perbaikin diri.”

Renjun menengadahkan kepalanya. Berusaha menahan air mata yang akan kembali jatuh.

“Kita udahan ya, Chan. Kita sampe disini aja. Daripada kita malah saling nyakitin.”

Haechan terdiam mendengar permintaan Renjun. Hal ini sungguh jauh dari bayangannya. Ia sama sekali tak menduga Renjun akan meminta mengakhiri hubungan mereka. Tidak masalah. Haechan akan menerima keputusan Renjun. Ia sadar, semua ini karena kesalahannya juga. Mungkin Renjun benar. Mereka masih sama-sama perlu belajar menjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah. Mereka masih sama-sama perlu memperbaiki diri mereka.

“Boleh aku peluk kamu? Terakhir kali, sebelum aku ngelepas kamu.”

Renjun mengangguk. Bersamaan dengan jatuhnya air mata yang sejak tadi ia tahan.

Haechan menggumamkan beribu kata maaf saat memeluk Renjun. Menyampaikan berjuta penyesalan yang tak bisa ia rangkai dalam kata.

"Maaf, Foxie. Maaf."

Malam itu dilalui dengan dekap penuh kehangatan dari keduanya. Menyalurkan sejuta rasa yang tak dapat mereka deskripsikan. Juga harapan agar semuanya bisa membaik seiring berjalannya waktu.

<><><><>

Hari keberangkatan Haechan akhirnya tiba. Member Dream yang mengantar kepergian Haechan berkumpul di dalam satu mobil. Sebelum Haechan resmi masuk ke camp tempatnya, seperti idol lainnya, Haechan akan mengucapkan sepatah dua patah kata di depan media. Kebetulan masih ada waktu sebelum mereka harus bertemu media, mereka habiskan waktu yang tak banyak itu dengan candaan di dalam mobil.

Topik yang menjadi bahan obrolan mereka siang ini adalah potongan rambut terbaru Haechan. Member lain, terutama Chenle yang tidak akan menjalani wajib militer, tidak henti menkjadikan potongan rambut Haechan sebagai bahan candaan.

"Hyung ingat, sewaktu kita akan promosi album kedua kita, Renjun Ge sudah menggunakan potongan rambut seperti ini."

"Dan fans langsung heboh saat melihat Renjun Hyung muncul dengan tampilan seperti itu. Banyak yang bilang Hyung semakin tampan."

"Bagaimana denganku sekarang? Apa aku semakin tampan."

"Tidak."

Tanpa berfikir, Chenle dan Jisung langsung menjawab seperti itu. Disusul suara tawa kedua maknae itu. Membuat Haechan dan yang lain pun tertawa.

"Ayo, Haechan. Sudah waktunya."

Perkataan manager membuat mereka sadar, waktu mereka semakin sempit.

"Sebentar, Hyung."

Haechan menatap ke arah Renjun yang berada disampingnya. Member lain langsung menyibukkan diri mereka masing-masing saat melihat Haechan sepertinya akan bicara serius dengan Renjun.

"Aku tahu, sekarang antara aku dan kamu cuma sekedar rekan kerja aja. Ngga ada hal spesial lagi diantara kita. Tapi aku mau kamu tahu satu hal. Aku sayang sama kamu. Rasa sayang itu belum berubah dan nggak akan berubah.Kamu mau nunggu aku kan?"

Renjun tersenyum.

"Aku nggak akan kemana-mana, Chan. Kalo kamu lupa, aku masih terikat kontrak sama agensi."

Terdengar tawa tertahan dari bagian belakang mobil. Haechan mendelik pada duo usil itu. Renjun pun hanya tertawa melihatnya. Begitu juga Mark, Jeno dan Jaemin.

"Kamu tenang aja. Jalanin aja kewajiban kamu sebaik mungkin. Seperti yang aku bilang, gunain waktu ini buat kita sama-sama belajar dan memperbaiki diri. Aku akan ada disini. Dan selalu disini."

"Uh, ini kita ngga bisa keluar dari mobil duluan apa."

Celetukan Jeno itu berhasil membuat semua yang ada di dalam mobil tertawa. Haechan lagi-lagi mendelik kesal pada membernya yang selalu menggodanya. Renjuntersenyum dan menggenggam lembut tangan Haechan, meyakinkan Haechan akan ucapannya tadi.

 

2 tahun kemudian

Seperti yang sering dikatakan banyak orang. Waktu berlalu tanpa terasa. Waktu 2 tahun berlalu begitu cepat. Rasanya belum lama Haechan menjalankan kewajibannya sebagai warga negara Korea. Hari ini ia kembali. Hari ini ia telah menuntaskan kewajibannya itu.

Kepulangan Haechan tentu disambut dengan antusias oleh fans mereka. Dengan kembalinya Haechan, berarti hanya tinggal 3 member lagi, Jeno, Jaemin dan Jisung. Setelah mereka juga kembali, yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan jadwal kepulangan Haechan, maka seluruh member NCT sudah selesai melaksanakan kewajiban mereka. Bisa kembali lagi beraktifitas sebagai grup secara lengkap.

Hari ini hanya ada member dari NCT 127 yang menjemputnya.

Dream udah nganter kamu, sekarang biar kami yang jemput kamu.

Itu kata Doyoung. Padahal Haechan sama sekali tidak terlalu perduli siapa yang akan menjemputnya. Oh kecuali jika Renjun yang menjemputnya. Ia akan dengan sangat senang hati menyambut kedatangan rubah kecilnya itu.

Ah, apa ia masih bisa menganggap Renjun sebagai rubahnya? Setelah apa yang terjadi pada mereka berdua 2 tahun lalu. Tapi Haechan perlu bersyukur. Walau mereka tidak lagi menjadi sepasang kekasih, hubungan mereka masih baik-baik saja. Mereka, terutama dirinya, menepati apa yang mereka ucapkan 2 tahun lalu. Mereka sama-sama membenahi diri mereka selama jarak memisahkan mereka.

Sebelum kembali ke apartment yang ia tempati, Haechan akan menghabiskan waktunya bersama kedua orang tuanya di SM Café. Bersama member yang menjemputnya tadi. Mereka berbincang mengenai banyak hal.

Setelah orang tuanya kembali, Haechan pun siap kembali ke apartmentnya. Tempat tinggal yang sudah 2 tahun ini tidak ia tinggali. Hanya sesekali orang tuanya datang untuk membantu membersihkan dari debu. Selama mendapat libur dari camp Haechan sendiri memilih pulang ke rumah orang tuanya.

Haechan memasukkan kode pintu apartmentnya. Berharap bisa langsung mengistirahatkan tubuhnya sebelum besok ia harus kembali memulai kegiatannya di dunia entertaintment. Haechan berjalan kearah ruang tengah. Mendudukkan dirinya sejenak di sofa yang ada. Ia mengambil ponselnya. Berniat mengirimkan pesan di grup chat Dream.

Setelah membalas beberapa pesan dari member yang lain, Haechan membawa tasnya dan berjalan kearah kamarnya. Mengernyitkan kening saat melihat pintu kamarnya tak tertutup sempurna. Belum lagi ada setitik cahaya yang tertangkap indera penglihatannya. Apa mungkin tadi orang tuanya mampir dan lupa mematikan lampu kamarnya? Haechan hanya mengangkat bahu dan melanjutkan langkahnya. Ia cukup lelah hari ini. Namun, betapa terkejutnya Haechan saat membuka pintu kamarnya. Renjun berdiri disana.

"Welcome back, Haechan."

"Renjunie? Kamu ..."

Renjun tertawa kecil melihat reaksi Haechan. Ia mendekatkan dirinya pada Haechan yang masih terpaku. Menatap lembut sosok tampan di hadapannya itu.

"Kenapa malah bengong? Kamu ngga mau peluk aku?"

Tanpa disuruh dua kali, Haechan langsung membawa Renjun ke dalam pelukannya. Membuat Renjun terkekeh dalam dekapannya. Haechan sangat merindukan hal ini. Merasakan kehangatan dengan tubuh mungil Renjun yang berada didekapannya.

"Selamat datang kembali, Haechanie."

"Terima kasih udah mau nunggu aku, Fox."

Renjun melepas dekapan Haechan.

"Panggilan itu cuma buat orang spesial, ya, Chan."

Haechan tertawa. Ah benar. Sebelum ia memulai wajib militernya, hubungan mereka sempat kandas. Walau setelahnya hubungan mereka malah menjadi jauh lebih baik. Mereka benar-benar belajar dari kesalahan sebelumnya.

"Sekali lagi aku minta maaf buat kebodohan yang aku lakuin sebelumnya. Kebodohan yang bikin kita terpaksa harus berpisah. Seperti yang kamu minta waktu itu, aku banyak belajar selama kita pisah. Dan sekarang, disinilah aku. Jadi sosok Lee Donghyuck yang lebih baik. Dan juga, seperti yang aku bilang sebelumnya. Rasa sayang aku ke kamu nggak akan pernah berubah.”

Haechan meraih tangan Renjun. Menatap serius Renjun.

“Makasih karena kamu masih mau ngasih kesempatan buat aku. Buat hubungan kita. Aku emang ngga tahu selama 2 tahun ini apa aja yang terjadi sama kamu. Aku juga ngga tahu apa kamu masih punya perasaan yang sama buat aku. Walau aku berharap perasaan itu masih sama. Ngga pernah berubah, sama seperti aku.”

Renjun tersenyum.

“Ngga mungkin ngga ada yang berubah, Chan. Waktu 2 tahun bisa merubah banyak hal. Termasuk rasa sayang aku.”

Renjun menghentikan ucapannya. Memperhatikan wajah Haechan yang terlihat mendung setelah mendengar perkataannya.

“Kamu tahu, aku makin sayang sama kamu. Aku ngeliat gimana kamu berusaha menjadi lebih baik. Usaha kamu untuk memperbaiki hubungan kita. Aku sangat menghargai itu, Chan. Hal itu yang bikin aku makin sayang sama kamu.”

Haechan langsung menghembuskan nafas lega mendengar perkataan Renjun. Membuat Renjun tertawa kecil.

“Ah, kamu ngga tahu seberapa senengnya aku denger kamu ngomong gitu.”

Renjun lagi-lagi tertawa. Haechan kembali menatap Renjun serius.

“Jadi, Huang Renjun, apa kamu mau kembali sama aku? Kita mengulang kisah kita lagi. Kali ini dengan hubungan yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dengan diri kita yang lebih dewasa dari sebelumnya.”

Renjun hanya menganggukkan kepalanya. Saat ini adalah saat yang paling ia tunggu selama 2 tahun ini. Ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya mampu menganggukkan kepalanya.

Haechan kembali membawa Renjun ke pelukannya saat melihat anggukan itu. Ia benar-benar berterima kasih pada Renjun. Pada kepercayaan yang kekasih mungilnya itu berikan. Renjun makin mengeratkan dekapan mereka. Seolah membayar semua rasa hangat yang tak bisa ia rasakan selama beberapa waktu belakangan ini. Jadi, mari kita biarkan kedua sejoli itu menghabiskan waktu bersama.

- Selesai -

Notes:

Maaf kalo cerita ngga sesuai ekspektasi terutama untuk hurt/comfortnya. Maaf juga kalau tidak sesuai dengan keinginan pembuat promptnya. Juga kalo ada kesalahan dalam penulisan atau hal lainnya. Terima kasih sudah membaca ^^