Actions

Work Header

Defalarca

Summary:

Defalarca (n.) dalam bahasa Turki berarti "terus berulang." Sebab Ran Haitani berulang kali jatuh cinta pada Takashi Mitsuya.

Notes:

Ran Haitani & Takashi Mitsuya © Ken Wakui

Work Text:

Ran Haitani tidak pernah segusar ini dalam hidupnya, bolak-balik membuka layar ponsel untuk melihat apa ada notifikasi yang tertera dari dia yang dicinta. Selalu nihil yang didapat, hanya ada pesan dari nomor tidak dikenal yang menawarkan cara mendapatkan uang goib.

Per hari ini, tepat satu minggu ia tidak melihat rupa sang kekasih. Ia dilarang untuk bertandang ke butik karena kekasihnya sedang benar-benar tidak bisa diganggu, dan tidak ingin diganggu. Sebab seorang Ran Haitani tidak akan bisa diam jika melihat rupa Takashi Mitsuya ada di dekatnya.

Sulung Haitani itu menopang dagu di atas meja makan, menggigit roti panggangnya dengan malas. Manik violetnya menatap kosong ke layar ponsel yang ia letakkan di samping piring, masih mengharapkan ada pesan masuk dari Mitsuya yang tidak kunjung memberi kabar sejak kemarin siang.

Hari minggu biasanya mereka habiskan untuk quality time, meskipun hanya sekadar menonton film berdua di apartemen kecil milik Ran. Itu sudah cukup. Melihat eksistensi Mitsuya hadir di dekatnya, itu sudah lebih dari cukup. Ran tidak butuh apa-apa lagi, tidak butuh yang lebih dari itu, ia hanya ingin terus bersama dengan Mitsuya Takashi, selamanya.

Tapi seminggu belakangan, Mitsuya disibukkan oleh pekerjaan di butik karena mendapat pesanan untuk acara besar yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi di semua detail. Jika Mitsuya sedang serius, maka tidak ada satupun yang boleh memecah fokusnya, termasuk Ran yang sudah tiga tahun menjalin kasih dengannya.

Ran menghembuskan nafas, rindunya sudah berada di titik paling tinggi, ia tidak bisa menahan lebih lama lagi. Roti panggang yang baru tiga kali digigit ia letakkan di atas piring, beralih mengambil ponsel dan mencari kontak Mitsuya, menekan ikon video di kolom yang kemudian menampilkan gambar dirinya diiringi suara dering yang panjang.

Satu minggu tidak melihat rupa dia yang terkasih itu sungguh menyiksa, tahu.

Dering itu terus berbunyi dua puluh detik lamanya, sebelum kemudian terputus otomatis. Ran mendengus, ia kembali melakukan hal serupa sampai setidaknya empat kali. Dipanggilan ke lima, layar yang menampilkan dirinya berubah menjadi kecil lalu menyusut ke pojok kanan atas, bergantian dengan rupa Mitsuya yang hadir di layar yang lebih lebar.

Dua sudut bibir Ran tertarik lebar, hatinya bagai ditumbuhi ribuan bunga, manik ungunya melihat sang kekasih yang baru selesai memasang earphone wireless, baru memusatkan pandang pada layar untuk melihat dirinya.

Apa? Aku lagi sibuk.

“Aku kangen banget, Cuyaaa.” Ran memajukan bibir bawah, memasang wajah sedih.

Lima hari lagi selesai, nggak bisa ditunda, acaranya mepet.

“Lima hari lama, tau. Aku kangen, mau peluk cium kamu.”

Nanti kalau aku udah selesai.

“Aku ke butik kamu, ya? Boleh, ‘kan?” Manik ungunya berbinar, menatap penuh harap.

Mitsuya menggeleng, “Nggak! Kamu nanti rese.

“Nggak rese! Nggak akan ganggu! Aku cuma mau liat pacar aku yang udah seminggu nggak bisa ditemuin,” Ran masih memasang wajah penuh harap, berharap bisa meluluhkan Mitsuya di sebrang sana.

Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya embusan nafas Mitsuya terdengar, “Janji jangan ganggu? Aku beneran marah, ya, kalau kamu rese. Kamu cuma boleh liatin aja, nggak boleh ajak ngobrol.

Ran kembali mengembangkan senyum, sangat lebar hingga setengah kelereng ungunya tertutup. Ia mengangguk semangat, “Ayay, Capt! Aku mandi dulu, mau pake pomade sama jas putih, terus pake parfume satu botol.”

Mitsuya tergelak, “Nggak usah aneh-aneh atau aku suruh satpam usir kamu.

“Kan biar keliatan rapih di depan pacar aku.”

Ngapain coba? Kayak baru pacaran seminggu aja.”

Jawaban itu membuat Ran tersenyum miring, “Iya juga, ya. Ngapain rapih-rapih, ‘kan sama-sama pernah liat pas telanjang.”

Mendengar itu, Mitsuya langsung menautkan alisnya, “Kak! Tuh, ‘kan, males ah. Nggak usah ke sini!

Gantian Ran yang tergelak, lucu melihat reaksi kekasih ungunya tiap membahas hal yang mengarah ke urusan ranjang. Mitsuya mengarahkan ponselnya pada langit-langit, si empunya menghilang dari layar, yang Ran yakini pipinya sedang memerah dan tidak ingin dilihat.

“Dua puluh menit lagi aku berangkat. Mau liat pacar aku dulu, dong, sebelum aku mandi. Mana sini, uuu gemesnyaaa kalau lagi malu,” Ran masih terkekeh.

Nggak.

“Aaa Cuyaaa, jangan gemes gemes, dong, nanti aku culik ke apartku, nih.”

Kamu jadi ke sini apa nggak?! Buruan sebelum aku berubah pikiran.

“Mau. Tapi mau liat kamu dulu sebelum mandi. Ayoo, sayang. Mana mukanya?”

Gambar di layar kembali bergerak, perlahan menampilkan sosok Mitsuya yang pipinya bersemu merah, tepat seperti dugaan Ran tadi.

Cepetan, ih, lama. Aku mau balik kerja lagi.

Ran membentuk senyum, tatap matanya begitu teduh melihat si surai ungu di sebrang sana. Bagaimana bisa ia jatuh cinta berulang kali pada sosok Mitsuya? Sihir apa yang dipakai sampai membuatnya jatuh sedalam ini?

“Iya, sayang. Makasih udah izinin aku ke sana.”


Ran duduk manis di sofa kulit, sebelah tangannya bertumpu pada pembatas sambil menopang kepala. Kaki kanannya berada di atas kaki kiri, bulan sabit tak kunjung hilang sejak kakinya menapaki lantai dua butik sang kekasih yang digunakan sebagai ruang kerja.

Sepasang manik ungunya tidak melepas pandang dari Mitsuya yang sedang berkutat dengan manik-manik untuk dijahit pada gaun yang terpasang di patung manekin. Poninya yang menutupi kening ia sampirkan ke samping, menjepitnya dengan jepitan milik sang adik yang tertinggal di butik.

Sudah satu jam Ran tiba, ia benar menuruti ucapan Mitsuya untuk tidak menganggu dan hanya boleh melihat dari pojok ruang. Tidak ada obrolan sejak awal, hanya suara alunan musik akustik bervolume kecil yang memenuhi ruang. Namun tak apa, sungguh tak apa, sebab melihat Mitsuya ada di depan mata sudah lebih dari cukup.

Setidaknya untuk saat ini.

Ran berdeham, ia menyeka rambutnya ke belakang sebelum berdiri, membuat gestur seolah sedang meluruskan otot-otot yang pegal. Ia mulai berjalan menuju meja kerja Mitsuya, melihat banyaknya manik-manik dan berbagai macam potongan kain yang berserakan.

Tapi bukan itu tujuan sebenarnya, ia semakin bergeser mendekati si pemilik butik yang membelakanginya. Kemudian,

Cup.

Mencuri satu ciuman di pipi kanan. Membuat sang empu menghentikan gerakan tangan untuk menatap padanya, “Jangan ganggu. ‘Kan tadi udah janji.”

Ran hanya menampilkan senyum tanpa rasa bersalah, sedang Mitsuya kembali fokus menata manik-manik di gaun. Dengan teliti ia memilih bentuk untuk diselaraskan dengan yang lainnya, menjahit satu persatu untuk membentuk motif bunga yang berkilau saat terkena cahaya lampu.

Ran memerhatikan dari belakang, melihat bagaimana kekasih ungunya begitu telaten dan bekerja dengan sepenuh hati menuruti permintaan client. Ia bangga pada Mitsuya yang mampu menggapai mimpi, ia bangga pada Mitsuya yang berhasil sampai di titik ini setelah banyaknya peluh yang berceceran di waktu lalu. Ran sudah membersamai Mitsuya dari titik paling awal.

Namun meski begitu, Ran datang ke sini karena rasa rindunya sudah tidak lagi terbendung. Adalah bohong saat ia menyanggupi untuk duduk manis di pojok ruang dan hanya diam memerhatikan tanpa boleh mengganggu. Bukan Ran Haitani namanya kalau bisa menahan diri untuk tidak menyentuh tubuh Mitsuya.

Ran sedikit menunduk, meniup leher belakang yang lebih muda kemudian memberi satu kecupan.

“Kak!” Mitsuya menaikkan bahu, kepalanya mendongak ke atas–geli. “Diem, ih! Aku lagi kerja. Sana, balik duduk di sof–ah.”

Ucapan itu berganti lenguhan karena yang lebih tua kembali mendaratkan kecupan di leher, titik paling sensitif Mitsuya. Hanya kecupan biasa, tanpa berniat memancing lebih jauh–kalaupun terpancing, itu berarti bonus.

Kemudian Ran melingkarkan lengan di pinggang Mitsuya, memeluknya dari belakang, melabuhkan kepala di perpotongan leher untuk menghirup aroma anggur yang dihasilkan dari sabun.

“Kaaak! ‘Kan, aku bilang jangan gangg–”

“Sebentar. Sebentar aja, Cuya. Tolong biarin kayak gini sebentar aja, aku kangen.”

Nada bicara yang begitu rendah membuat Mitsuya terdiam, ia tahu tidak akan ada kebohongan jika Ran sudah berbicara dengan intonasi begitu. Hening satu menit sebelum akhirnya Mitsuya meletakkan semua manik-manik dan jarum yang dipegangnya ke atas meja, menepuk lengan Ran yang masih melingkar di perutnya–minta dilepaskan.

Mitsuya membalikkan badan setelah pelukan itu dilepas, “Aku kasih waktu lima belas menit buat kamu, tapi abis itu diem lagi, ya? Atau aku beneran panggil satpam buat usir kamu.”

Bagai anak kecil yang diberi hadiah, senyum secerah mentari pagi terbit di birai yang lebih tua. Diberi lampu hijau begitu, tanpa menunggu lama ia memulai aksinya. Menghimpit tubuh Mitsuya ke meja, mengurungnya di sisi kiri dan kanan, wajahnya semakin merendah untuk melabuhkan bibirnya di milik Mitsuya.

Ah, sudah berapa lama gumpalan lembut itu tak bersua? Sudah berapa lama lidah mereka tidak bergulat untuk saling mendominasi?

Sebelah tangan Ran terangkat, memegang leher Mitsuya dengan ibu jari yang mengusap pipi sang kekasih dengan lembut. Pagutan itu terlepas setelah dua menit lamanya, kembali membuat benang berwarna bening yang membentang.

“Kak–”

“Aku kangen. Maaf ganggu waktu kerja kamu,” Ran mengusap bibir Mitsuya, ranum serupa dengan zat adiktif yang membuat candu.

“Maaf, seharusnya aku bisa luangin waktu buat kamu juga. Maaf, kak,” Mitsuya menyeka rambut Ran, turun membelai pipi yang membuat si empunya memejamkan mata menikmati sentuhan.

Ran merunduk, mengusalkan wajah di pundak Mitsuya. Mengaup sebanyak-banyaknya aroma anggur yang menguar, sebelum akhirnya kembali mengangkat wajah dan mencuri satu kecupan di pipi. Ditariknya tubuh yang lebih muda ke dalam dekapan, menyelipkan jari di antara helai ungu muda yang mulai memanjang.

Ran tidak meminta lebih dari ini. Tidak ada lagi hal yang ingin ia pinta pada Yang Maha Kuasa, sebab kehadiran Mitsuya dalam hidupnya adalah hadiah paling istimewa. Bersama Mitsuya, ia berani berdiri tegak di dunia yang penuh sandiwara. Takashi Mitsuya adalah denyut nadinya.

Ran Haitani tidak pernah tahu bagaimana bisa ia berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama. Namun jika boleh jujur, ia senang karena orang itu adalah sosok yang saat ini sedang berada di dekapannya.

Takashi Mitsuya, terima kasih telah lahir ke dunia.


 

Series this work belongs to: