Work Text:
Silahkan mendengarkan playlist sambil membaca cerita berikut: Bersemi playlist
***
MAAF adalah satu dari kata ajaib yang dapat memberikan ketenangan hati. Namun, tidak begitu untuk Benedict saat mendengarnya keluar dari belah bibir seorang lelaki yang berdiri di hadapannya. Meskipun ada perasaan bersalah yang turut muncul di wajahnya, Benedict tetap tak bisa membohongi dirinya.
“Maafin gue,” katanya lagi. “Tapi gue gak bisa terima itu, Ben.”
Sebuket bunga mawar putih yang dibelinya dengan uang hasil menabung berbulan-bulan kembali ke genggamannya. Benedict tak begitu peduli soal uang —tapi rasanya tetap saja nyeri. Kepalanya terlanjur mengangguk karena tidak punya respon apa-apa lagi. Dia memang sempat berpikir mungkin cintanya akan ditolak, tapi saat bayangannya terjadi begitu nyata, dia tak mampu menanganinya.
“Gue benar-benar minta maaf, Ben.”
“Iya, Kak.” Sekali lagi dia mengangguk. “Kak Jani berhak untuk nolak juga, kok. Makasih, ya. Maaf kalau confess gue ini bikin lo jadi kepikiran atau terbebani — i wish i could hold it alone, ”
Pria itu, Janitra Aditya namanya, menggeleng dan memberi tepuk ringan di pucuk kepala Benedict. “Gue yang terima kasih lo suka sama gue sampai berani nyatain gini. If there should be an apology, it should be me. Maaf gue nolak orang sebaik lo,”
Rasa penasaran di dadanya mencuat. “Boleh tahu kenapa?”
Sempat ada jeda yang canggung di antara keduanya. Janitra hanya diam dengan tatap mata kosong. Seolah-olah tak lagi berada di detik-detik mereka bicara sore ini. Namun, Benedict masih bisa menunggunya sampai kapanpun.
Sebab dari pengamatannya, Benedict ingin percaya diri untuk menarik kesimpulan bahwa pria yang lebih tua darinya ini berada pada garis dan area yang sama dengannya. Pada dunia dengan warna yang serupa dan kisah menuju akhir yang sama.
Benedict menggigit bibir sebelum bertanya dengan suara kecil dan payah, “ Am i not good enough? Maksudnya, apa karena umur gue lebih muda dibanding Kak Jani, makanya mau sampai kapanpun, kakak gak bakal bisa melihat gue sebagai pria? No pressure, though. Gue cuma penasaran aja, serius.”
“Gak ada alasan khusus,” jawabnya kemudian. “ It’s sad to be said, tapi gue gak punya perasaan yang sama itu ke lo, Ben. Maaf,”
“Beneran cuma itu?”
Janitra mengangguk pelan. Berusaha meyakinkan. “Iya.” Dia lantas tersenyum kecil. “Tapi kita masih teman, ‘kan? Atau, kalau lo butuh waktu untuk sendiri karena merasa sedih, gak apa-apa jika mau menjauh dulu, Ben. But we’re always friends, right?”
“Iya, dong. Kalau gitu, gue ijin lima hari, ya?”
“Oke,” sahutnya. “Maaf sekali lagi,”
Jabat tangan sore itu; lebih dingin dari hembusan angin.
***
MESKI tetap berteman adalah permintaan yang keluar dari belah bibir Janitra pada sore itu; nyatanya, malah lelaki itu yang seolah pergi entah kemana. Bukannya sulit temukan lelaki itu dari jarak pandangnya. Tubuh tinggi besarnya masih bisa masuk ke dalam daya tangkap mata Benedict —masih sama indahnya.
Namun, rasanya justru lain. Benedict benar-benar sudah tidak apa-apa kalau Abang yang telah disukainya sejak lama itu tak punya perasaan yang sama untuknya. Itu wajar dalam dunia cinta. Bukan suatu kewajiban untuk membalas semua pernyataan suka, dan dia tidak mau memaksanya sama sekali.
Sudah lewat dari lima hari ijin yang diminta Benedict untuk ruang sendiri menggalau, tapi jarak bisu itu justru menjadikannya semakin menjauh. Kala Benedict memberi pesan singkat untuk ajak kakak tingkatnya makan bersama, atau berkeliling sore menaiki motor untuk beli jajanan pinggir jalan, selalu ada kata maaf yang diakhiri kegagalan. Meninggalkan Benedict yang hanya bisa bengong di dalam kamarnya sambil memainkan gitar dengan asal.
Termasuk hari ini, ketika dia secara tiba-tiba untuk memberi satu kejutan kecil di depan rumah Janitra. Orang bilang, sesuatu yang direncanakan akan mudah hancur, tetapi spontanitas punya peluang lebih besar untuk terjadi. Lagipula, ini hari Minggu. Kecuali lelaki itu punya acara keluarga, seharusnya bisa diajak pergi.
“Ben?” tanyanya bingung dan kaget. “Kok lo main ke sini? Gak bilang-bilang dulu?”
“Sengaja, hehe. Biar surprise aja gitu tadinya,”
“Dasar.” Suara tawanya sungguh candu. Begitu mudahnya memberi rasa lega dalam dada Benedict yang dipenuhi rindu. “Mau masuk dulu, Ben? Kasihan, jauh-jauh sampai ke sini.”
Benedict tersenyum malu. “Mau ngajak jalan sih, Kak. Kalau lo lagi luang aja, sih. Emang mendadak, soalnya biasanya kalau yang dadakan tuh seringnya jadi,” kemudian dia tambahkan penjelasannya dengan cepat, “Tapi no pressure, kok. Ini impulsif juga gue ngajak,”
“Oh … gitu, ya.”
Pada detik yang sama, Benedict memperhatikan sosok keren Janitra yang terbalut dalam pakaian rapi. Kemeja flanel berwarna merah maroon dan celana jins. Dia bisa menghidu aroma khas dari tubuhnya. Perpaduan serasi antara lavender, raspberi, dan delima segar serta pekat kulit jeruk yang menyelinap. Harum yang biasa muncul ketika lelaki itu bersiap-siap akan pergi.
Maka Benedict yang lebih dulu menangkap sinyal. “Lo mau ada acara, ternyata?” dia tersenyum kecut dan mengibaskan tangannya, berkata dengan suara normal. “Santai aja. Gue juga yang gak bilang duluan. Ini impulsif doang, sumpah. No hard feelings. Gue juga ada rencana mau ke tempat temen juga deket dari sini kalau emang sama lo gak bisa.”
Sorot mata Janitra mendung. “Maaf, Ben.”
“Gak apa-apa, asli,” tepuk ringan mampir di bahu Janitra. Juga tawa renyah yang menutupi sedikit nyeri. Benedict merasa segalanya jadi terasa aneh sejak dia mengungkapkan perasaannya sore itu, dan tak ada yang bisa diubahnya mulai sekarang. “Masih ada banyak waktu, ‘kan? Selama kita masih dikasih hidup, tenang aja.”
Janitra mengerutkan dahi. “Ngomongnya jangan serem,”
“Kaga,” dia tertawa lagi. “Tapi ‘kan emang bener kalau kita gak pernah tahu kapan kita bakalan pergi. Ini bukan ancaman, sumpah. Cuma pengingat aja. Supaya selalu bersyukur sama waktu yang udah di kasih sama Tuhan —gitu maksudnya, Kak. Jangan mikir aneh,”
“Iya, tahu. Tapi lo ngomong begitu gue jadi semakin merasa bersalah. Maaf, ya, Ben. Gue nyadar kok kita semakin jarang ketemu atau pergi bareng. Tapi serius, it’s not what you think, ”
“Emangnya gue mikir apa?”
“I don’t know,” jawabnya ragu. “Barangkali lo mikir gitu, dan pasti begitu, ‘kan? Gue juga merasa gitu, soalnya. Tapi gue gak bisa bilang apa-apa selain minta maaf ke lo. Maaf, ya.”
Fakta bahwa Janitra berpikir bahwa situasi mereka terasa agak berbeda sudah cukup untuk Benedict. Meskipun tidak menemukan jawaban atau solusi, kejujuran dirasa sudah cukup. Benedict berikan anggukkan kepala dan tersenyum menerima. “Gak apa-apa, serius. Kalau gitu, gue lanjut ke kosan temen sekarang, ya?”
“Hati-hati, Ben.”
“Selalu, kok. Tenang aja,”
Perjalanannya sepi dan membingungkan.
.
.
AWALNYA INGIN sendirian saja dan lanjut menggalau, Dion; sahabat karibnya —sekaligus tempat alternatif seusai penolakan kesekian kalinya oleh Janitra, mengajaknya pergi ke mall dan mencari angin segar dengan berkeliling. “Jelek lu kalau galau begitu, padahal diem aja udah jelek banget.”
“Iye, thanks, bro. ” Benedict mendengus kesal dan lanjut minum milkshake coklat yang baru saja dibelinya. “Lu doang paling ganteng,”
Dion terbahak keras. Tak peduli dengan lirikan pengunjung mall lain yang berada di dekat mereka. “Padahal gua gak memuji diri sendiri, tapi lu yang bilang. Thanks, ”
“Udah napa, geli banget ini cowok muji-muji. Ganti topik!”
“Lu biasanya muji Kak Janitra tiap detik kaga geli?”
“Ya itu sih beda. Dia pantes dipuji,”
Jika membicarakan tentang ‘lelaki paling dicinta Benedict’, maka akan selalu ada pengecualian untuknya. Dion sudah terbiasa dengan tingkah payah kawannya yang terlanjur mendapatkan kisah roman kepada kakak dua tahun lebih tua itu. Bisa dibilang, dia nyaris muak jika mendapati Benedict lompat ke kasurnya untuk menceritakan kisah penting-tak penting yang dilaluinya bersama Janitra.
Akan tetapi, Dion selalu mendengarkannya dengan seksama. Sebab dia tahu, perasaan tulus itu menyenangkan. Menghidupkan.
“Loh, itu bukannya Kak Randu, ya?”
Kini pandangannya beralih pada arah telunjuk Dion pada satu titik di antara lautan manusia yang membanjiri food court. Lelaki tampan yang duduk sendirian sambil makan dan bermain ponsel, mengundang bingung sekaligus antusias pada Benedict yang tidak menyangka akan melihatnya pada momen kebetulan.
“Bener, gak sih? Sepupu lu, ‘kan?”
“Iya. Lu inget aja, deh.”
“Dia ‘kan pernah nganterin kita pas mau lomba ke SMAN 1 pake mobil. Gua gak akan lupa sama pewanginya yang apel merah itu. Enak tapi gak bikin mual,” Dion masih mengingat detail kecil yang dilaluinya. “Mau ke sana atau gimana?”
Refleknya berkata dia juga mau menghampiri kakak sepupunya yang terlihat sendirian, tapi urung saat melihat lelaki familiar datang mengelap tangannya yang nampak basah. Menempati kursi kosong di hadapan Randu dan menerima uluran mangkuk yang diberikan olehnya. Ada senyum yang bertransaksi di atas meja. Menjadikan niat Benedict urung melangkah mendekat.
Sama seperti Dion yang hanya melirik sahabatnya dengan rasa khawatir sambil menggaruk kepala. Bingung harus mengatakan apa.
Sebab segalanya sama persis.
Masih dengan kemeja flanel merah maroon dan celana jins.
Bedanya, Benedict kalah cepat untuk mengajak lelaki itu pergi.
***
SENYUM Randu hangat saat membuka pintu dan temukan sosok yang akrab. Dia tertawa meskipun kaget tak mengira akan menemukannya mengetuk dan ucap salam, bersama sekantung martabak telur dengan isian kornet. Randu bercanda merasa dirinya seperti sedang disogok untuk melakukan sesuatu. “Masuk dulu, Ben.”
“Kok di rumah sepi, Mas?” tanya Benedict setelah masuk ke dalam rumahnya. “Bude lagi pergi, ya?”
“Iya. Arisan sih, katanya. Aku lagi work from home aja,”
“Selalu keren emang Mas Randu. Kerjanya bisa dari rumah gitu, nanti kalau aku udah lulus, mau kayak Mas juga deh. Biar gak buang ongkos kalau ke kantor, hahaha.”
Randu tersenyum gemas selagi memindahkan martabak telur yang dibawa adik sepupunya ke atas piring besar. “Tergantung kantor dan kerjaannya apa, sih. Kebetulan ‘kan kalau aku kerjanya masih bisa di -handle dari rumah. Tapi, gak enaknya, kalau kerja dari rumah itu bikin males. Bawaannya mau tiduran aja terus,”
“Tetep paling keren, Mas!”
“Kamu bisa aja,” Randu membuka kulkas dan mencari sesuatu untuk disuguhkan, lalu mengeluarkan sebotol jus jeruk. “Kamu ke sini mau ada perlu atau lagi gabut aja pingin main?”
“Gabut aja, sih. Pingin ke kamar Mas, dong?”
“Ya udah, gih. Aku bikinin makanan dulu. Kamu mau apa?”
Benedict menjawab dengan suara jenaka, “Mas bikinin mie goreng juga aku doyan, kok!” kemudian berlari menaiki tangga dan menuju destinasi yang membuatnya penasaran.
Jujur saja, dia tidak tahu bahwa dia bisa seberani ini. Menyelinap masuk ke dalam kamar abang sepupunya hanya untuk mengobati rasa penasarannya yang payah. Padahal sebelum ini, dia sudah meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya ikhlas menerima. Akan tetapi, dia malah semakin ingin tahu sejak pertemuan tak diduga itu.
“Nyari apa, Ben?”
Pertanyaan yang muncul tiba-tiba itu mengagetkan Benedict saat masih memindai kamar sepupunya. Mungkin gerak-geriknya tampak mencurigakan. Dia juga tidak menyadari sejak kapan Randu sudah ada di ambang pintu. “Uh… nyari …. potongan kuku?”
“Tapi kuku kamu gak lagi panjang, tuh?”
Terkadang Benedict lupa kalau kakak sepupunya ini adalah pria paling detail yang pernah dikenalnya. Dulu, dia sering memanggil Randu dengan ‘detektif’ setelah dia menonton animasi Detective Conan bersamanya. “Oh! Mas Randu beneran masakin mie, ya?”
Hanya pengalihan isu yang bisa dilakukan Benedict saat ini. Duduk di lantai dan menyiapkan meja lipat untuk meletakkan dua piring mie, sepiring martabak, dan dua gelas jus jeruk. “Wanginya enak banget, nih, Mas!”
Alih-alih ikut duduk bersamanya, Randu beranjak mengambil barang dari lemarinya untuk ditunjukkan. “Benedict nyari ini, ya?”
Lantas matanya terbelalak. Kaget dan bingung. Dia tidak sebut tujuannya ke mari, tetapi Randu seakan mampu membaca semuanya begitu mudah. Seolah-olah terlalu canggih untuk mengetahui isi kepala Benedict —atau dia yang transparan?
“Mas, maaf.” Benedict tahu tingkahnya menyebalkan dan cukup impulsif. Sangat tidak sopan menggeledah kamar orang, meskipun dia tak membuatnya berantakan. “Waktu itu Ben lihat Mas,”
Akhirnya Randu duduk bersamanya. Memberikan selembar kertas yang diambilnya untuk Ben. “Oh, iya? Sebenarnya dia juga cerita kalau ada yang ngajak pergi, tapi keduluan sama aku. Tapi aku gak tahu kalau Ben ada di mall juga. Itu yang bikin kamu penasaran?”
“Iya,”
“Kenapa gak nanya langsung aja?”
“Malu,” Benedict menunduk. “Tapi kayaknya udah jelas, sih. Ben ngerti kenapa Ben ditolak waktu itu. Kayaknya dia juga udah cerita ke Mas Randu, ya? Maaf, ya, Mas. Ben gak tahu kalau—”
Namun Benedict tidak melanjutkan ucapannya. Terlalu sakit dengan fakta baru yang agak mengejutkan. Menjadikannya bungkam kehabisan kata. Sekaligus merasa bersalah. “Mas,”
“Ya?”
“Maaf Ben suka sama pacar Mas,”
Senyumnya terbit. “Mau Mas ceritain sesuatu, gak?”
“Apa?”
“Sambil makan, yuk?” kata Randu mengangkat garpu. “Tapi janji, habis ini kamu harus semangat, ya?”
.
.
GENDANG TELINGA yang dibisukan oleh dentum keras musik lewat earphone tetap sanggup mencuri dengar suara langkah kaki yang berderap. Cukup kencang seperti buru-buru, saat Benedict coba menerka. Namun, yang didapatkannya hanyalah deru napas Jantira yang terengah-engah di hadapannya.
“Kak?” dia bangkit dari duduknya dan menatap heran. Terlebih, saat ada satu paper bag berukuran kecil yang diberikan padanya. Dia tidak mengerti, tetap tetap menerimanya. “Kenapa, Kak?”
“Permintaan maaf,”
“Maaf? Tapi … kenapa? Seinget gue, kita gak lagi berantem,”
“Emang gak, tapi gue tetap egois belakangan ini.” Janitra usap tengkuknya sendiri selagi melanjutkan, “Ini bakal kedengaran kayak gue kepedean, tapi gue pikir, lo kesepian atau sedih sejak gue sering nolak saat lo ajak pergi. Alasan kedua adalah karena gue bohong,”
Benedict berkedip lambat, memproses ucapan Janitra yang baru masuk. Namun tetap tidak mengerti. “Bohong apanya?”
“Waktu itu gue sengaja,”
“Bukan karena lo sibuk?”
Ada senyum kecut di wajah Janitra. Begitu persis mengingatkan Benedict pada sore terik di taman kampus ketika pertama kali dia ungkapkan perasaan lebih. “Gue emang gak mau ketemu lo,”
“Oh … okay, ”
“Tapi habis itu gue dimarahin,”
“Hah? Dimarahin siapa?”
Janitra menyunggingkan bibirnya malu. Merasa tidak pantas untuk berdiri di hadapan adik tingkatnya sekarang. “Gue pikir, lima hari yang lo minta itu gak bakal cukup buat mengembalikan semua yang udah terlanjur terjadi, Ben. Maksud gue, lo gak bakal semudah itu berhenti suka gue — yes it sounds cocky, tapi gue cuma gak mau kalo ini bikin semuanya lebih rumit,”
“Karena lo mantan Mas Randu, ‘kan?”
“Itu—” Janitra kehilangan semangat bicara dan juga keberanian yang susah payah dikumpulkannya, tapi kemudian mengalah dan mengangguk. “Iya. Gue minta maaf. Gue ngerasa gak pantes kalau situasi dan latar belakangnya kayak begitu. Gue malu, Ben.”
“Kalau sejenak aja lo anggap gue orang asing, ” tawar Benedict padanya menyuarakan ide. “Bisa gak lo cerita ke gue; dari perspektif lo sendiri, tentang kenapa lo merasa malu soal itu? I won’t stand as The Benedict for minutes, lo bisa bebas ngomong, Kak.”
Sejak awal dia sudah menyiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk ketika mulai menyinggung soal masa lalunya, jadi Janitra beri ruang sebelum menjelaskan, “Ini bakal kedengaran payah—”
“Gue gak bakal judge apa-apa, promise. ”
“Makasih,” sahut Janitra yang merasa lebih baik dengan asuransi kepercayaan sederhana darinya. “Gue gak enak aja sama kalian,”
Janitra bilang, “Mau bagaimanapun, kalian tetap keluarga. Bisa ketemu kapan aja. Mungkin di arisan, atau acara lain. Bayangan kalo suatu saat, misalnya, gue pergi sama lo ke acara keluarga dan ketemu sama Kak Randu, wouldn’t it be awkward?”
“Kalian putusnya gak baik-baik?”
“Baik, kok.” Janitra menggeleng kecil. “Gue sama dia udah gak punya perasaan yang sama lagi. Bosan. Gak nemu sesuatu yang bikin geli lagi meskipun lagi kencan. Tapi, kita gak ada masalah waktu putus. Gak ada selingkuh atau main macem-macem. Kak Randu yang emang sibuk ngejar karir, dan gue yang sibuk bimbel persiapan kuliah. Emang udah gak nemu sparkle apa-apa lagi, tapi kalau pergi sebagai temen, masih nyaman. Kayaknya, emang itu udah cukup,”
Namun itu tidak cukup untuk mengusir pikiran-pikiran buruk yang tidak punya kepentingan dalam kepala Janitra. “Gue merasa kayak piala bergilir kalau jadian sama yang punya hubungan kayak kalian. Gue tahu lo gak mungkin mikir begitu soal gue, i know you have a pure and beautiful heart, tapi gue malu aja. Ini bukan karena lo yang gak cukup untuk bikin gue sayang —tapi gue yang gak percaya diri.”
Hanya angguk paham yang bisa diberikan Benedict. Meskipun dia sudah mendengarnya saat makan mie bersama kakak sepupunya beberapa hari lalu, dia lega bisa mendengarnya langsung dari mulut Janitra tanpa bumbu. “Masih ada yang mau dijelasin?”
“Lebih tepatnya, masih ada satu kebohongan lagi yang harus gue lurusin ke lo, Ben.”
“Dan itu adalah?”
“Waktu gue bilang; kalau gue gak punya perasaan yang sama,” tak ada lagi yang ingin Janitra tutupi sekarang. “Gue sayang juga sama lo. Perasaan itu sama, Ben. Bahkan kalau boleh jujur, perasaan yang bikin bingung ini mulai muncul sejak rasa bosen gue ke Kak Randu. Tapi waktu itu gue gak mau dengerin apa-apa. Kalau gue cuma ikut kata hati, gue bakal jadi orang brengsek. Kak Randu baik banget ke gue, dan di sisi lain, gue juga gak mau nyakitin lo.” Ada helaan napas keras darinya. “Untuk semua itu, gue minta maaf.”
Benedict membuka paper bag dan menemukan tupperware yang ada di dalamnya, untuk menemukan kue putu yang masih hangat dan mencipta uap basah. Senyumnya lebar. “Dimaafin, Kak.”
“Serius …?”
“Makasih karena udah jujur,” katanya. “Waktu itu gue ngobrol sama Mas Randu dan sempet kilas balik soal lo. Tapi setelah denger lo cerita sendiri, rasanya lebih baik. Bonusan kue putu ini yang bikin gue terenyuh juga —poin tambahan! Jadi, gue maafin.”
Apabila sudah tidak ada kesalahpahaman tak terucap, Janitra senang. Dia bukan hanya ingin lepaskan sesak dada oleh penjelasan yang tertahan, tapi juga memberi nyaman untuk Benedict yang dia sayangi. Janitra bisa tersenyum lega sekarang. “Jadi … kita gimana?”
“Mau gue tembak lagi? Mumpung masih belum kadaluarsa,”
“Dasar,” Janitra mendengus geli. Selalu terhibur dengan ucap konyol adik- nya yang payah. “Gue aja yang nembak lo, deh. Gantian. Benedict Ekawira; gue sayang sama lo.Lo mau jadi pacar gue?”
Tak perlu pikir panjang, Benedict jawab, “Mau, dong!”
Keduanya tertawa renyah menemani desau angin kencang yang berusaha menggulir langit menuju gelap. Janitra mengangguk puas dan tak bisa menghentikan senyum bibirnya. “Gue udah boleh ikut duduk di sebelah lo? Lemes banget ini ngobrol sama lo. Mleyot gue,”
“Lagian siapa suruh berdiri?” Benedict beri ruang di sisinya untuk Janitra. Kini tertular debar jantung menggila ketika berada di sampingnya. Dia membuka tupperware dan mengajak Janitra untuk makan kue putu itu berdua. “Ide banget lo bawain gue begini, Kak. Padahal lo bisa chat gue buat keliling nyari abang gerobakan. Terus kita motoran. Kita makan langsung di tempat,”
“Tapi kalau kayak gitu, gue gak bisa nembak lo kayak tadi. Gue maunya cuma kita berdua —gue ‘kan pengecut, Ben.”
“Hati-hati kalau berduaan, ketiganya itu setan, Kak.”
“Gak kok, itu ada Si Jahe. Kita gak berdua,”
Benedict mendengus. “Ya, itu cuma kucing. Bagus, lah. Kalau beneran ada setannya, gue malah kabur duluan karena gue paling penakut kalau soal hantu-hantu! Hahaha!”
“Emang. Lo mah payah, diajak ke rumah hantu aja teriak-teriak gak jelas padahal masih di pintu masuk. Bikin malu aja,” tambah Janitra saat mengingat lucunya Benedict ketika mengajaknya pergi ke taman bermain di suatu waktu. “Yang lebih lucunya waktu lo nangis karena kaki lo ditahan sama mbak-mbak hantu di wahananya,”
“Ini kita baru jadian loh, ya! Kok udah ngajak ribut?”
Janitra tertawa kecil. “ Sorry. Lo lucu kalau kesel.”
Mereka lanjut makan kue putu, membelah bisu yang tercipta dari semakin berkurangnya jumlah manusia di area kampus. Pada saat-saat seperti ini, mereka menikmatinya. Walaupun hanya sunyi tanpa banyak kata, kehadiran masing-masing sudah cukup.
Penasaran lantas muncul dalam kepala Benedict hingga dia bertanya, “Waktu lo bilang dimarahin; itu Mas Randu? Kenapa?”
“Ya habis gue cerita soal lo yang nembak dan alasan gue nolak sampai ngehindar kayak pengecut. Kata dia; kalau emang suka; terima, bukannya kabur gak jelas. Dia sayang sama lo, dan marah karena gue udah nyakitin sepupu kesayangannya. Gue tuh ragu karena diri gue sendiri —udah jadi kebiasaan, emang. Dan Kak Randu yang bilang buat percaya sama diri sendiri, percaya sama lo, dan percaya sama kesempatan yang ada; sekalipun itu kelihatan menakutkan.” Janitra menghela napas. “Kita sama-sama tahu kalau kakak sepupu lo itu jago bicara dan persuasif, jadi dengan mudahnya, gue yakin. Tapi itu cuma pemicu kecil aja. Bahan berpikir. Setelah gue mikir, baru gue mutusin buat percaya sama lo.” Senyumnya merekah saat menatap mata jernih Benedict. “Maaf ya, gue sempat ragu dan terlalu lambat buat ambil langkah.”
“Gak apa-apa,” balasnya. Jantungnya berisik saat mendapatkan pemandangan terindah . Dia nyaris tidak percaya bahwa lelaki ini; tempatnya menaruh hati sejak lama —adalah tempatnya berlabuh.
Kalimat paling melegakan adalah; “Sekarang gue siap, Ben.”
[ tamat ]
