Work Text:
Gini ya, gini deh Akito mau kasih tahu kalian semua.
Sebelum cerita ini dilanjut, Akito mau klarifikasi: ia pria baik hati, dengan segala formalitasnya. Toleran terhadap sesama, hampir tak pernah memandang bulu pada orang (yang baru kenal). Tapi serius, Akito tak terlalu bisa senang pada dua tipe orang. Yang pertama: orang licik biang keladi yang selalu saja memperkeruh suasana dengan segala isengnya. Yang kedua: orang alay berisik yang tidak bisa menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi.
Singkat kata: Akito anti pada dua biji pasangan edan yang namanya beken seantero sekolah, sebut saja Kamishiro Rui dan Tenma Tsukasa.
Makanya–sumpah, ingin rasanya Akito menangis darah tatkala realita atas nama gilanya kegiatan bercandaan tanggal satu April ini malah mempertemukan mereka berempat. Empat, ditambah Touya. Untung masih ada Touya. Bisa gila ia jika dikeroyok duo henjin ini sendirian.
“Fufufu, lucu juga ya, kita berempat begini jadi seperti Telewtabwis~”
“Hah kok Teletabes si??”
“Ya kan cocok gitu nanti Tsukasa-kun jadi Poo, paling mini gitu.”
“Ah benar juga–Kamishiro-senpai jadi Tinker Wonker? Lalu aku jadi siapa?”
“Jadi Dipsh*t cocok kok, Aoyagi-kun. Kan paling tinggi nomer dua.”
“Begitu kah? Berarti Akito jadi aLayLay?”
Amit-amit jabang bayi, belum-belum pembicaraan mereka sudah ngaco. Touya juga tolong… yang dua boleh sinting. Tak masalah. Tapi kamu jangan ikutan juga dong ah!!!
“Gini ya,” Akito urut kening. Ayo cepat selesaikan sebelum urat kesabarannya putus, “Kalau kalian ga ada niatan nyanyi, fix gw mau cabut.”
Akito sudah sok wah nampang bak protagonis drama Koriya. Sok judes putar tumit, tak lupa tangannya sok posesif tarik-tarik pergelangan Touya untuk dibawa menjauhi para hama. Ceritanya sih supaya kelihatan kayak adegan dramatis gitu mah. Tapi sayang lawan mainnya kurang kooperatif. Apa-apaan ini, kenapa Touya enggan beranjak–kenapa Touya!? Apa benar kau memilih kedua pria tak waras ini ketimbang partnermu yang ganteng dan (yang terpenting) masih punya akal sehat ini!?
“Jangan, Akito!” Jangan jangan kau menolak cintaku–elah, Akito nyaris keceplosan nyanyi. “Kita tidak boleh lari dari kolaborasi menyanyi ini! Seiyuu kita sudah dibayar untuk menyanyikan lagu random dalam rangka menghibur jiwa-jiwa yang kelaparan akan pemuda-pemuda tampan yang bersatu!!!”
Lho lho kok breaking the 4th wall gini omongannya? Wah mampus, Touya sudah gila. Kini tersisa Akito sendiri di dunia.
“–begitu benar tidak, senpai ?”
“Wah Touya pintar sekali, aktingmu sudah penuh emosi! Good job , penggemar nomer duaku memang hebat!!”
“Keren, keren! Aoyagi-kun mengucapkan dialognya dengan baik! Pasti Shinonome-kun juga senang melihatmu bertindak intens seperti tadi~!”
…kurang ajar, rupanya yang tadi skenario kerjaan dua manusia aneh alay lebay kamseupay ini.
Tapi susah memang–apalagi ketika Touya sudah buka kartu soal dimensi keempat begini. Mau tak mau Akito banting bokong (anggap sinonim banting setir), Ia duduk sambil menyilangkan kaki. Biar kayak pak bos gitu mungkin– “Akito, kakinya yang bagus. Ada para senpai harus jadi anak sopan.”
Dih–iya deh iya, nih Akito duduk manis. Senang kan, senang gak, Touya???
“Terus maunya nyanyi lagu apa?”
“Apaan ya–TONDEMO WONDERZ gimana? Biar seru dan pastinya biar semua tahu kehebatanku HA HA HA!!!”
Lagu yang vibe koreografi dansanya mirip-mirip goyang berbi dicampur senam SKJ itu? “Ide lain.”
“Kita baru pertama ini bernyanyi berempat… pastinya butuh banyak adaptasi dan penyesuaian nantinya. Mungkin memilih lagu yang simpel dan lembut seperti Mirai akan membantu?”
Gak gak gak gak bisa dong Touya, jangan kamu korbankan focus song kamu yang indah selembut bola salju itu buat dinyanyiin bareng duo aneh ini! Gak bisa Touya, itu lagu suci titik pokoknya!! “Ada saran lain, Touya?”
“Uh… Cinema?”
YA JANGAN LAGUNYA AKITO JUGA DONG ELAH JAHAT AMAT SIH, “L-lainnya?”
“Gimana kalau–”
“Gak.”
“Ih Shinonome-kun gini amat, kan aku belum bilang usulan lagunya. _(:3 ” Monmaap kalau Rui pasti sarannya aneh-aneh. Inpalid .
“Akito nggak boleh gitu….” Apasih Touya kenapa kamu belain Rui KENAPA PASANG MUKA SEOLAH-OLAH AKITO ANAK BADUNG YANG TERTANGKAP BASAH HABIS BULI BOCIL GINI!? YANG SALAH KAN RUI YANG ANEH BUKAN AKITO YANG BERAKAL DAN BERAKHLAK INI– “Y sory dh.”
“Sebenarnya aku ingin usul kalau lebih baik kita gacha saja lagunya.” Wah ternyata mantap betul saran Rui. Memang ya generasi jaman ima pasti tak akan lepas dari namanya perbudakan gacha.
“Ooh, ide bagus!! Jadi lebih adil kalau begitu–semuanya, tulis satu lagu yang ingin kalian nyanyikan, nanti kita undi!” Tsukasa langsung rogoh hati kita–maksudnya rogoh kantong celananya. Lucunya, ada pulpen dan sebuah buku catatan kecil di sana. Wah, sungguh jiwa yang bagaikan emak-emak nerd–selalu bawa pulpen dan buku saku untuk catat belanjaan serta nama akun olshop yang mau flash sale kapanpun dan dimanapun.
Keempatnya hening dan melongo–ya gimana mau nggak melongo, ini pulpen Tsukasa cuma satu jadi nulisnya gantian bro! Segera setelah Tsukasa menulis lagu ajuannya dan melipat kertasnya jadi bentuk bangau mini (bentar, memangnya harus dilipat model origami???), ia pun mengoper pulpennya ke adik-adikan kesayangannya. Touya terlihat senang luar biasa saat menyentuh pulpen bekas tangan Tsukasa–waduh gila partner gue mulai nge- frik , batin Akito. Tak lupa Touya melipat kertasnya menjadi bentuk perahu setelah selesai menulis.
“Ah, itu agak kurang rapi lipatannya–sini kubetulkan.” Akito modus bantuin Touya. Lho bentar memangnya seriusan kertasnya harus dibentuk origami kah!?!??!!?”
Rui tertawa-tiwi sambil comot pulpen dari tangan Touya yang secara kalkulatif lagi diraba-raba Akito–kan ceritanya modus bantu lipetin kertas gitu. Tak sampai sepuluh detik, origami Rui kelar. Bentuk mawar. Wah edan kok bisa–
“Yuk tulis Shinonome-kun, pacarannya dilanjut nanti saja hehe.” Hehehe–sialan, ganggu waktu mesra orang aja ini senpai satu. Akito pun langsung menyahut pulpen dari Rui, kemudian sekedar melipatnya jadi dua setelah ia selesai menulis.
“Lah gimana sih kok ga niat gini origaminya?” Tsukasa protes.
“Lho ini namanya origami bentuk persegi panjang. Senpai nggak tahu? Kan ini bentuk yang populer dan beken karena stylish dan simpel.”
Akito ngeles. Tsukasa (dan Touya) percaya. Rui nahan ketawa.
Ya sudahlah. Biar tidak makan durasi terlalu lama, Tsukasa pun memasukkan kertas-kertas itu ke dalam sweater-nya. Ia kemudian meraba, merogoh, dan membelai-belay kertas-kertas tersebut. Begitu satu kertas ditarik, yang keluar bukan berwujud origami lagi melainkan gumpalan bola kertas. Lho kok bisa!?
“Tsukasa-kun rabanya terlalu semangat tuh, jadi lecek semua origami-nya.”
“Hah? Waduh iya juga, ngulang lagi?”
“Gak gak GAK udah buka aja itu kertas terus baca isinya apa!” Gila saja. Kalau bikin lagi nanti dia harus buat origami bentuk apa coba? Segi enam sama sisi?
Tsukasa pun bacot, tapi ia menurut. Dibukanya lembaran kertas lusuh itu, kemudian membaca keras-keras judulnya. “IFUUDOUDOU, GUYS.”
“Oh.”
“Oya~?”
“Hah.”
HEH GILA SIAPA YANG NGUSUL LAGU PURNOMO BEGITUAN BUAT DINYANYIIN BEREMPAT ASTAGA ITU KAN LAGU EROI KEBANGSAAN AKITOYA YANG DIPENGHULUI SAMA MS KAITO??? GAK YA–ogah, gabisa! Akito nggak mau! yang seksoy biar milik Akito dan cintanya selamanya!
“...siapa yang nulis judul ini. Ngaku.”
Akito refleks tatap Touya. Maaf nih ya…. bukannya curiga, tapi tapi tapi yang pernah nyanyi lagu itu selain Akito kan cuma Touya…. ueueueue Touya apa benar kamu memang mau mengkhianati cinta Akito????
Touya memiringkan kepala ketika ditatap naas oleh pasangan (menyanyi)nya. Kurang paham, kenapa Akito mendadak sedboi begini ya…
“Oh–ini tulisan Rui, sih.” Tsukasa berceletuk setelah menatap kertas di tangannya. Ooo sialan lagi-lagi dia si biang keroknya.
“Hehe. `:3c ”
“Ga setuju pokoknya kocok ulang.”
“Lho mana bisa begitu kan sudah dengan cara yang seadil-adilnya lagu ini terpilih?”
“TAPI INI KAN LAGU GA BENER MASA IYA MAU NYANYI INI!?” Nah kan mulai kesel nih Akito. Kayaknya daripada adu bacot mending mereka mulai adu bogem aja.
“Bukannya Shinonome-kun sama Aoyagi-kun sudah pernah nyanyi ini ya?” Lho kok taw si cie diem-diem ngefans ya, “Lagipula kami lebih tua dari kalian. Apa salahnya?”
Wah kampret mulai nih argumennya jadi ala-ala politikus dicampur kritikus, “Tapi di lagu ini tuh ada bagian–”
“–dan sebagai seorang performer, mana mungkin kita mundur begitu saja ketika dihadapkan dengan tantangan tak terduga seperti ini kan?”
“...ah.”
“Oh!!!”
Arrrgghhh dasar mulut buaya, aligator, biawak!!! Dengan seucap kalimat saja Tsukasa dan Touya auto terpancing. Aduh dasar Tsukasa ogeb, Touya polos!!! (beda kasta beda julukan)
“Kurasa Kamishiro-senpai ada benarnya.”
“Benar! Seorang star yang brilian sepertiku tak akan mungkin lari dari tantangan yang tersaji di depan mata!” Iya deh terserah. Awas aja nanti kalau nyesel. “Ngomong-ngomong, Ifuudoudou itu lagu yang mana memangnya?”
Anjay. ga ngerti lagunya tapi pede amat sok iyain.
Sekalian deh. Biar Tsukasa kapok, Akito auto sodor earbuds . Tanpa banyak berburuk sangka, Tsukasa pun mendengarkan dengan khidmat. Semenit… dua menit…
“....”
“...eh?”
“Gimana?”
“Aa… huh???”
Tadinya sih Akito mau ledekin Tsukasa, tapi begitu lihat calon korbannya gagu sendiri dengan muka merah padam begini, Akito jadi iba juga. Nah lho kan, yang modelan badut seperti si senpai kuning ini mana bisa coba nyanyi yang beginian. Tanggung jawab woi Rui, malah ketawa-tawa sendiri. Dasar sadis. Kalau mau kerjain doi jangan gini lah caranya–kasihan Akito harus sepet lihatnya!!!
“K-kita bakal nyanyi lagu ini?”
“? Kenapa Tsukasa-senpai? Ada bagian yang nadanya susah kah? Waktu kami nyanyikan dulu, rasanya masih aman di melodinya–tapi bisa jadi susah di senpai.”
“HAH–Touya, kamu… pernah nyanyi yang beginian???”
“Hm? Iya, sama Akito.” dan Kaito.
Tsukasa menatap horor ke arah Akito. Lah kok gue–salah apa woi kan cuma nyanyi doang!! Asal tak baper dan berbuat sungguhan ya apa salahnya, ye gak!?!?!?
“Napa senpai? Ga suka?” Nada Akito terdengar malas menanggapi, meski aslinya sih ia siap-siap saja kalau diajak baku hantam sekarang.
“T tt t tapi kan–k-kan di luar liriknya yang begitu ada bagian desah-desahnya juga??? Yang bagian itu masa kita pun–”
Tsukasa bengek, makin panik sendiri dia. Menurut Rui pasti Tsukasa kelihatan lucu sangat, padahal kalau di mata Akito kelihatannya mirip boneka daruma yang kejang-kejang mau jatuh tapi nggak bisa gitu.
“Ya yang itu juga lah, namanya juga coveran.” Tapi lihat Tsukasa panik, lama-lama Akito terhibur juga. Kelihatannya kudu sekalian dipanas-panasi nih–Akito rangkul Touya, “Mau diberi contoh, senpai ?”
Touya langsung berbinar semangat. Niat hatinya sih mulia, membantu Tsukasa-senpai yang kesusahan. Tapi jelas kalau Akito sih niatnya bulus ingin mengintimidasi, kalau bisa sekalian supaya Tsukasa ogah nyanyi ini lagu. Plus modusin Touya. Yah… tujuan utamnya modus sih, jujur. Walhasil, keduanya pun mulai nyanyi. Karena tanpa koreo dansa, jadinya Akito sempat dong ya rangkul-rangkul Touya mesra sambil desah “Ah~ ah~ ah~ ahh~~”
Awokwowkowkowkw anjrit lebay banget Akito desahannya, Rui kontan ketawa sampai nyaris jungkir balik dari kursi yang ia duduki. Nyebelin emang itu satu, dah lah abaikan saja. “Paham, senpai? Jadi waktu desah model begitu tadi. Bisa kan? Wah, bisa nggak tuh ya–”
Aduh gimana ya, masalahnya Tsukasa bingung. Akito desahnya alay tapi Touya desahnya datar. Yang harus ditiru yang mana, woe!?
“Ugh…”
“Bagaimana kalau Tsukasa-senpai coba dulu? Baru bisa kita tentukan apa sudah cocok atau belum.” Saran Touya boleh juga sih. Oke sebentar, Akito mau cari penyumbat telinga dulu. Ogah dengernya, pasti nanti gagal erotis. Yakin dah.
Merasa ditatap penuh ekspektasi oleh Touya (dan Rui), Tsukasa pun tarik napas dalam-dalam. Hah huh hah…. 3, 2, 1…. yuk moan bisa yuk yuk!
"ARRHH ARGGHHH AGGGHH ARGRGGH"
“.....”
"...sianjrit ini desah apa teriakan siksa kubur coba."
“Pfft–”
…ih tega bener malah ngatain ngetawain TSUKASA SUDAH BERUSAHA KERAS NIH DIAPRESIASI DIKIT KEK, KONSOLASI KEK ATAU APA GITU????
“Masih bingung, Tsukasa-kun? Mungkin harus langsung di telinga ya biar paham. Kucoba sini–”
Rui desah mesra. Sebut ‘ah’ empat kali sesuai lagu. Pas di telinga Tsukasa.
“RUIASNAISWY*@&)$)@$*@@Y!??!?!”
Bengek nih. Oke, suara Rui memang cakep. Tapi kalau tiba-tiba desah sensasional gini YA MOHON MAAF JANGAN SALAHIN TSUKASA KALAU TADI REFLEKS TAMPOL RUI PAKAI BUKU NOTES YA SALAH SENDIRI NGAGETIN YE GAK???
Rui terpental epik, sukses jatuh dari bangku betulan. Akito cuma melongo meresapi adegan yang berasa slow motion itu. Tsk sialan nggak sempat rekam di ponsel tadi. Touya? Jelas dia tatap prihatin ke arah Tsukasa.
Gila bro, Kalau Akito jadi Rui pasti sudah auto menangis pilu. Sakit gituloh, lagi sok eroi biar doi deg-degan malah ditampol sampai terlempar pula. Tapi namanya Rui orang aneh, begitu melek dan lihat Tsukasa yang gagap sendiri sambil salting ia pun cengar-cengir sado lagi. Serem, tolong.
“Kenapa Tsukasa-kun? Malu? Lucunya~”
Tsukasa bungkam. Lho kok–biasanya bakal ngomel-ngomel bukan sih? Kok nunduk doang–waduh, apa bercandaan Rui tadi keterlaluan ya… Akibat penasaran, Rui merangkak di lantai. Niatnya sih intip wajah Tsukasa dari bawah gitu. Touya yang kepo pun sampai ikut-ikutan nunduk dari posisi duduknya–ya ditarik Akito sih biar nggak salah urat. “Duduk yang bener, Touya.” Sengaja nih kayaknya lempar balik nasihat partnernya tadi.
Rui senyum-senyum, tadinya pasti mau ledekin Tsukasa yang salting. Tapi anehnya begitu ybs terlentang di lantai–sukses lihat wajah Tsukasa yang sembunyi, susana hening. Akito dan Touya lihat-lihatan, lah kenapa pula ini? mana ketawanya? Mana candaannya? Ini cerita humor tapi kenapa malah sunyi senyap kan aneh nih?
Rui bangkit dari kubur–dari posisi ndlosor, maksudnya. Ia berakhir duduk diam di lantai, Tsukasa sendiri masih nunduk di atas bangku. Eh kok jadi awkward gini–ngomong dong woi, Akito sama Touya jadi berasa nyamuk figuran di film thriller kalau ga ada yang pecah keheningan elah!
“ Senpai ?” Pinter si Touya, cowo ga peka emang cocok kalau dijadikan tumbal buat memecah suasana.
Tapi Rui sama Tsukasa entah kenapa mendadak budeg berdua, Touya jadi auto sedih deh karena panggilannya tidak ditanggapi sama sekali. Dahlah Touya biar Akito aja yang jadi senpai -mu dalam dunia percintaan–ceileh gombal, sayang Akito nggak berani ngomong langsung.
Yah… akibat lama dan bosan, Akito pun lirik si senpai ungu. Tumben sih kok diem kenapa emangnya–habis dipelet si senpai bocil? “ Pai ? Senpai ?”
Oh–Akito baru sadar. ternyata bukan cuma Tsukasa yang bisa salting, Rui pun ikut bersemu merah sekarang! Wah kenapa nih, deg-degan pasca lihat wajah malunya si doi? Hidih cupu benar, memang gak level mereka tuh sama jamet pro macam Akito. Masa gini doang dua-duanya sudah K.O salting?
“ Senpaaaai ? Gimana? Sudah kelar belum tersipu-sipunya?”
Awalnya Akito puas waktu lihat Rui tutup mulut, tapi berubah total semua ketika Rui lepas tangan dan yang nongol malah seringai halu-halu psikompret. Anjae Akito takut–Touya, ayo ngungsi, cepat! Sebelum mereka ikut kena imbas!!
“Ha… hahaha~! Menarik, menarik sekali!!! Aku mau lagu ini–ayo Aoyagi-kun, Shinonome-kun, kita harus mulai coba nyanyi sama-sama sekarang~!” Lah edan gimana mau nyanyi kalau Tsukasa saja masih menggulung diri kayak kepompong di bangku gini. “Tsukasa-kun~? Kamu bisa, kan? Mana… aku mau pertunjukan yang spektakuler dan menggugah birahi dari bintang kita~!”
Mas mas tolong mas disensor bahasanya–duh untung Akito cepat sigap sudah tutup telinga Touya duluan dari tengah kalimat. Memang insting buaya darat selalu jalan kalau ada makhluk sinting bicara kotor begini ya. Bersyukurlah Akito jadi jamed bersertifikasi, bisa lindungi ayang dari segala kekotoran dunia maya ini.
Lucunya Tsukasa langsung angkat kepala, seolah tak mau kalah angkat bicara, “S-siapa takut!! Lihat saja, pokoknya aku pasti bisa desah lebih bagus daripada Rui!”
“Ooh? Yakin kamu bisa? Setelah salah tingkah pasca dengar desahan tidak seriusku?”
“Hah–omong kosong! Aku ini bintang utama! Mana mungkin aku membiarkanmu mengalahkanku dalam seni peran!!!”
“Mhm~? Menarik, aku tunggu Tsukasa-kun~ Semoga saja sampai nanti kamu bisa lebih dari sekedar teriakan siksa kubur, hahaha~!”
Cie cie cie lagi panas ya aura persaingannya–aduh, ACnya butuh diturunin nih suhunya. Yah… kalau dilihat-lihat ternyata begini toh dinamika mereka. Hubungan yang aneh–mungkin agak manis juga? Tapi tentu Akito bodo amat sih ya, yang paling the best ya Akito dan Touya lah!
“Heh. Mau seniat apapun, kalian tetap tak akan bisa mengalahkan kami.”
“Jangan salah, Akito! Aku akan membuatmu tersepona dengan kekerenanku nanti!!”
“Yang benar ‘terpesona’, Tsukasa-kun.”
“....”
Melihat rekan-rekannya bercengkrama, Touya pun tersenyum dalam diam. Uh–sebenarnya sambil berpikir juga, sih.
Semacam… sejak kapan perkaranya malah jadi adu keras dalam desah-mendesah begini ya? Bukannya selain itu ada hal yang harus dikhawatirkan. soal m e n y a n y i , misalnya?
Yah sudahlah. Toh Touya anak baik, dan anak baik tentu tentu sayang semuanya–entah apa relevansinya.
