Work Text:
"Nao...." Kulihat perempuan tepat di depanku berderai air mata dan terisak.
"Jahat. Miho, kamu jahat." Kugenggam ponselku kencang. "Tega."
"Aku gak mak-"
"KAMU TEGA MIHO!" Aku berteriak sambil terisak, "Kenapa aku harus tau kabar kamu dari internet??? Dari blog kamu???"
Aku jatuh terduduk, masih menangis kencang. Miho memelukku. Tangisannya sama kencangnya denganku.
"Maafin aku Nao.... Maafin...."
"Kamu sebenernya nganggap aku apa sih, Mi?"
Saat ini aku berada di Apartemen Miho. Ia berjanji akan menjelaskan semuanya jika aku mengikutinya. Aku berhak atas penjelasannya, dan ia wajib menjelaskan padaku. Namun, perempuan itu kini tengah menunduk saat aku bertanya.
"Miho."
"Aku gak bisa bilang."
"Kenapa gak bisa? Kamu ke yang lain bisa cerita duluan. Tapi kenapa ke aku gak bisa? Kamu tau 'kan kabar ini lambat laun aku pasti tau."
Miho mulai terisak lagi, "Sebenernya aku mikir ini udah dari jauh-jauh hari. Umurku udah 22 tahun dan aku mikir jalan apa yang mesti aku pilih. Kata-kata 'kelulusan' adalah paling sering muncul dalam pikiran aku. Aku pengen banget bisa diskusi soal ini sama kamu, tapi waktunya kurang tepat. Kamu sakit dan mutusin buat istirahat total—"
"Keputusan aku untuk istirahat total itu kamu duluan yang tau, Miho. Sumpah rasanya gak enak, tau soal ini bukan dari mulut kamu sendiri. Padahal kita gak pernah putus kontak, tapi aku gak tau apa-apa."
Miho mendekatiku, memelukku sambil masih terisak, "Maafin aku Nao. Aku gak mau membebani kamu sama soal ini. Aku ingin kamu fokus sama diri kamu sendiri, fokus sama kesembuhan kamu."
"Apapun tentang kamu bukan beban buat aku. Jadi kenapa hal sekrusial ini kamu gak cerita sama aku? Kamu ini anggap aku apa?"
"Ya karena itu kamu, Nao. Karena seorang Nao, yang aku sayangi lebih dari sahabat. I love you as a woman loves a woman. I'm falling for you that's why I can't be honest, about my feeling and about that graduation announcement with you."
Oh sial, apa-apaan dengan pengakuan cintanya di situasi seperti ini.
"Pengakuan kamu ini apa gunanya, Mi? Aku balik dan kamu pergi. 'Stay be by my side.' yang kamu maksud itu ketikan doang ya? Hahahaha."
Miho menggeleng kencang, "Ngga gitu Nao..."
"If you are falling for me, you must know that I'm falling harder. I'm falling harder and harder for you. You are the first one who make me feel so loved and appreciated."
Aku bereskan barang-barangku, bersiap untuk pergi, "Kasih aku waktu buat mencerna semua ini."
"Tung—"
"Please, Miho. Kasih aku waktu."
"Aku anter pul—"
"Jangan. Aku naik taksi aja."
Aku pergi dari Apartemen Miho. Kularang ia untuk mengantarku, bahkan hanya sampai lobi depan. Karena, Demi Tuhan, aku butuh waktu sendirian. Beruntungnya, ada taksi yang sedang menurunkan penumpang, jadi aku langsung bisa menaiki taksi itu. Kembali menangis dalam diam.
Sebenarnya hanya butuh waktu sebentar untuk menerima semua keputusan Miho, namun butuh waktu kurang lebih dua minggu untuk bisa melihat wajahnya. Bahkan aku tidak membuka semua pesannya dan tidak mengangkat telpon darinya. Untung kegiatanku belum terlalu banyak semenjak konser kemarin, meskipun aku kembali didapuk menjadi center. Kuputuskan untuk ke Apartemennya saja.
Kedatanganku tentu saja disambut dengan pelukan erat darinya. Kali ini tidak ada tangisan, melainkan wajah khawatir seorang Watanabe Miho. Namun, ia tidak banyak tanya dan hanya mengatakan, "I miss you so much."
Kami berdua duduk di sofa, berjarak. Canggung sekali. Kami berdua sama-sama bingung harus memulai dari mana.
"Nao."
"Mi."
"Kamu duluan Mi."
"Keadaan kamu gimana? Baik-baik aja 'kan? You didn't reply to my messages, you rejected my calls. Aku khawatir banget."
"Miho, sini. Duduknya deket aku."
Ia mendekat, kupegang tangannya erat. "Dengerin aku sampe beres ya? Jangan dipotong." Miho mengangguk.
"Sebelumnya, aku mau bilang, selamat ya untuk kamu. Aku harusnya bilang itu pas kita ketemu, tapi saat itu aku sedih, marah, dan kecewa sama kamu. Yang aku lakuin ke kamu tempo hari itu sangat kekanak-kanakan, juga aku masih belum bisa terima. Tapi, setelah aku baca ulang blog kamu, aku berusaha memahami kalau kamu pun sulit membuat keputusan ini. Rasa kecewa dan marah itu hilang, justru senang karena kamu punya impian yang lain meskipun bukan di grup dan aku ingin dukung apapun yang ingin kamu capai. Tapi, masih ada sedih sedikit sih. Wajar 'kan aku sedih?" Miho kembali mengangguk. "Tapi sebagai seseorang yang udah kamu kenal dan dekat sejak lama, aku ingin kamu menghabiskan waktu yang tersisa di grup dengan sebaik mungkin. Both Hiragana Keyaki and Hinatazaka are the treasures that you want to cherish forever 'kan? Apalagi single yang sekarang, aku lagi center-nya. But once again, congratulation! You did well, thank you for all your efforts and hard work you put into the group—"
Aku mencium bibirnya lama, "—and me. Fyi, this is my first kiss and your early graduation gift."
Miho menangis lagi, "Maafin aku Nao......"
"Udah-udah gapapa, aku maafin—kok aku cium kamu malah nangis sih? Lucu banget." Kuusap air mata di mukanya.
"Aku ngerasa gak pantes sama orang sebaik kamu Nao...."
"Ih Miho dengerin!" Kupegang mukanya, "You deserve me. I deserve you. We deserve each other. That's it. Asal kamu gak ulang yang kemarin itu. Aku beneran kecewa berat kalau kamu gak jujur lagi sama aku."
"Iya aku janji." Jawabnya, masih dengan isak tangisnya.
"Tapi Nao, kita kayaknya gak bisa jadi temen lagi." Tangisan Miho sudah berhenti.
"Lho kenapa?"
"You should be my girlfriend instead. Kalo sahabatan 'kan ga cium bibir Naooooo hehehehe." Miho mulai mengeluarkan tatapan tengilnya, berarti ia sudah baik-baik saja.
"Ngajak pacaran kok pas kamu udah mau lulus."
"Aku pastikan setelah keluar dari grup pun, perasaan aku ke kamu gak ada yang berubah. Di antara kita gak ada yang berubah, kecuali nanti aku 'kan jadi mantan member Hinatazaka. Selebihnya sama, rumahku tetep di sini. Kamu bahkan tau pin Apartemen ini. Aku gak akan kemana-mana, masih menjadi Watanabe Miho yang kamu kenal luar dalamnya. Jadi, mau ya?"
Kucium pipinya gembulnya itu, "Kalau kamu manis gini aku bisa apa sih? Mana mungkin aku tolak. Eh inget ada kata 'NaoMiho forever' gak sih Mi?"
"Inget! Kenapa?"
"Nah itu. NaoMiho forever."
Kali ini Miho yang mencium bibirku, dengan sedikit lumatan dan aku merasakan ia tersenyum, "Nao, I love you, so much."
Kulingkarkan tanganku ke lehernya dan menatapnya hangat, "I love you too, Miho."
