Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-04-04
Words:
1,308
Chapters:
1/1
Kudos:
28
Bookmarks:
2
Hits:
280

He Who Is the Brightest

Summary:

Dengan tampang babak belur seperti itu menambah skenario bayangan apa yang terjadi pada Jungwoo di kepala Jaehyun.

Mungkinkah Jungwoo adalah salah satu anggota Yakuza seperti Genji? Membayangkan begitu saja membuat Jaehyun bergidik ngeri.

But wait, Jaehyun baru sadar bahwa tampang bocah itu tidak buruk. He's cute. Very very cute. Kalau saja tidak ada memar di wajahnya, Jungwoo bisa saja dianggap trainee atau bahkan idol.

"I love dancing, hehe. Tidak kelihatan ya? My dream is to be performer in the future. Dan sekolahmu salah satu penghasil terbaik di negeri ini." Jungwoo tersenyum memandang ke langit sore.

Jaehyun tertegun. Ia rasa baru kali ini berjumpa dengan seseorang yang sungguh bermimpi.

"Jangan pernah berubah ya Jungwoo, i'll be waiting for you."

Work Text:

Suasana bising menyambut Jaehyun setelah lebih masuk kedalam kawasan padat industri yang jaraknya beberapa menit dari sekolahnya. Bau makanan pinggir jalan juga tidak kalah menggoda. Berapa kali pun kesini Jaehyun tidak pernah merasa bosan. Dia hidup dan dibesarkan dikeluarga berada yang sering keluar negeri hanya untuk berlibur, jadi jalan-jalan ke pinggiran kota adalah hal yang selalu membuat Jaehyun tertarik.

Sore ini dia memang memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki sendirian tanpa pengawasan siapapun. Hanya berbekal masker hitam yang sudah ia tanggalkan beberapa waktu lalu. Toh disini, tidak akan ada yang bakal mengenalinya sebagi salah satu trainee agensi besar kan? Berbeda dengan lingkungan sekolah yang memang diisi oleh trainee, he's kind of famous there. Orang-orang luar juga mendapat akses lebih mudah saat jam pulang tiba.

Fiuh, Jaehyun menghela napas. Di satu sisi menjadi trainee terkenal itu menguntungkan karena saat Jaehyun debut nanti pasti sudah memiliki fanbase, sebagai gantinya ia harus mengucapkan selamat tinggal pada privasi. Penggemar itu kadang mengerikan, mereka bisa mendapatkan informasi yang mereka mau dengan segala cara. It's either will make you more famous or be the doom of you.

Sudahlah, lebih baik Jaehyun memikirkan hal lain. Krucuk. Pas sekali, rupanya perutnya meminta atensi Jaehyun untuk segera diisi. Dia mampir ke minimarket ujung jalan. Hawa dingin seperti ini cocok sekali makan ramyun dengan kimchi segar. Masuk ke minimarket, Jaehyun disapa oleh Bapak kasir penjaga yang kelihatannya terlalu mengantuk untuk mengucapkan selamat datang. Matanya menelisik rak mencari bagian makanan instan yang sudah ia idamkan tadi. Menoleh ke bagian samping kimchi kalengan, Jaehyun mendapati kimbap kemasan isi tuna tinggal dua buah. Makanan itu salah satu favorit Jaehyun, tapi agak sulit dibeli karena sering ludes seketika. Dengan antusias dan raut sumringah Ia menambahkan pada belanjaannya lalu bergegas membayar ke kasir.

"Ahjussi." Panggil Jaehyun sambil mengetuk meja kasir untuk membangunkan Paman penjaga. Yang dipanggil hanya bergumam, membuka matanya kemudian memproses barang Jaehyun.

"Totalnya 36 Won." Jaehyun mengeluarkan lembaran 50 Won. Begitu lelaki paruh baya itu menyerahkan kembalian, Jaehyun bergegas menuju ke dispenser untuk menyeduh Ramyun.

Setelahnya, Jaehyun duduk di bangku dekat jendela yang langsung mengarah ke jalanan. Padat sekali orang lalu lalang. Sementara di dalam minimarket cukup hening. Jaehyun jadi berpikir, saat ini dia seperti pengandaian majas pertentangan. Maklum hari ini majas adalah salah satu materi yang dia dapat di sekolah.

Di rasa mie yang ia seduh sudah matang, Jaehyun membuka cup ramyun dan mengambil sumpit. Mulutnya kembali tertutup, hampir melahap suapan pertama ketika ada pelajar dengan kondisi babak belur masuk minimarket.

"Ahjussi! Air mineral satu!" Bocah itu berteriak sampai Jaehyun agak meringis mendengar suaranya. Keliatannya si bocah memang tipe berandalan preman sekolah. Pasti habis ribut dengan geng sebelah.

Sebenarnya Jaehyun hanya sok tahu. He don't know shit about normal school life. He kind of curious though. Dari cerita yang pernah Jehyun dengar, itu jauh lebih seru daripada kehidupan sekolah dan trainingnya. Tentu saja, mereka lebih bebas.

Hah mari abaikan, lebih baik dia lanjut makan, pikir Jehyun

Tak berapa lama konsentrasi makannya lagi-lagi terpecah karena bangku sebelahnya ditarik oleh bocah tadi kemudian dia duduki. Jaehyun merasa tidak nyaman, Dia sedang malas berinteraksi dengan manusia lain apalagi bocah berandal yang sedang menoleh ke arahnya.

"Woahhh, tidak mungkin." Kata bocah itu dengan ekspresi terkejut. Jaehyun mengumpat dalam hati, apakah dia dikenali? For god sake, apa dia tidak bisa tenang dan menjadi murid normal untuk sesaat.

"Kau pasti sekolah di SOPA kan? Wow, aku gak nyangka bisa ketemu salah satu dari kalian di sini. You all are damn cool bro!" Oceh bocah dengan bersemangat.

Eh? Dia tidak mengenali Jaehyun. Syukurlah. Tapi ada apa dengan anak ini. He acted like he met his Idol when he just met an art school student. Jika dia perempuan mungkin Jaehyun bisa mengerti. Many of kpop fans are girls after all, or boys who obvious. Masalahnya bocah ini tidak seperti mereka.

"Thank you."

"Nope! Ahh, kenalkan Kim Jungwoo!"

"Jeong Jaehyun."

Jaehyun membalas uluran tangan Jungwoo dengan ragu-ragu . Jauh dari ekspektasi Jaehyun, anehnya dia tidak berlaku seperti berandalan. He is friendly and cheerful.

"Salam kenal Jaehyun. Namamu terdengar keren! Anyway, kamu kelas berapa?"

"Second year."

"Benarkah?! Aku juga loh. Emang kebetulan yang lucu ya, hahaha."

"Hmm." Respon Jaehyun. Dia merasa sangat canggung, tapi tertarik mendengar lebih lanjut. Ternyata, mengobrol dengan Jungwoo tidak seburuk yang dia bayangkan.

"Maaf aku tidak mengenali seragammu."

"Santai saja. Aku memang bersekolah di Gimpo hehe. Tentunya kau baru pertama melihat seragam ini." Oceh jungwoo sambil membuka botol lalu menenggaknya hingga tersisa setengah.

Dia pasti sangat kehausan. Lagipula bagaimana bisa Jungwoo berkeliaran dari Gimpo hingga ke Seoul sepulang sekolah. Dengan tampang babak belur seperti itu menambah skenario bayangan apa yang terjadi pada Jungwoo di kepala Jaehyun.

Mungkinkah Jungwoo adalah salah satu anggota Yakuza seperti Genji? Karena dia sendirian jadi tidak bisa mengalahkan geng lawan dan memilih untuk kabur sejauh yang Jungwoo bisa tempuh.

Hiii.. membayangkan begitu saja membuat Jaehyun bergidik ngeri. Bukannya dia tidak 'lakik', tapi tetap saja bertarung dengan orang bar-bar sebanyak itu agaknya berpotensi membuat nyawa melayang. Demi apapun Jaehyun belum siap, he's not even debuted yet!

"Hei.. Jaehyun-a jangan melamun." Jentikan jari Jungwoo membubarkan mimpi siang bolong Jaehyun. Dia mengangguk dan melanjutkan melahap ramyun dan kimbap. Jaehyun melihat Jungwoo yang hanya duduk dan sesekali bersenandung mengetukan jari-jarinya di atas meja. Pandangannya kemudian teralih pada satu kemasan kimbap tuna yang masih utuh.

"Eum, kau mau?" Tawar Jaehyun menyodorkan bungkusan berbentuk segitiga.

"Kimbap? Bolehkah?" Jungwoo malah balik bertanya, rupanya dia agak sungkan untuk menerima.

"Tentu, ambil saja." Jungwoo segera menyaut kimbap dengan ekspresi berbunga-bunga.

Jaehyun baru sadar bahwa tampang bocah itu tidak buruk. He's cute. Very very cute. Kalau saja tidak ada memar di wajahnya, Jungwoo bisa saja dianggap trainee atau bahkan idol. Posturnya yang tinggi ramping juga menambah nilai plus, if he ever choose to be an idol. Jaehyun jadi iba.

"Ahhh, kenyang. Terima kasih ya." Ucapnya setelah bersendawa dan mengelap mulut menggunakan lengan yang terbalut seragam.

"Hm. Bagaimana bisa kau sampai sini?"

"Oh itu, ada keributan kecil karena sekelompok orang yang tidak mau tanggung jawab. Kebetulan aku didekat situ dan kena getahnya. Aku berusaha menghindar dan cling✨ malah terdampar." Jungwoo menjawab dengan muka datar.

"Huh? Kau bisa kabur begitu saja? Apa tidak takut konsekuensinya?" Kata Jaehyun heran.

"Hahaha santai... Di SMK ku tidak seperti sekolahmu. Bahkan lebih chill dari SMU jika kau tidak tahu. Murid-murid yang membolos hanya disuruh bersih-bersih bonus omelan guru. Mereka terlalu lelah untuk memberi hukuman yang lebih." Tawa jungwoo renyah.

"Oh." Jaehyun was too stunned to speak.

"Wah wah kau polos sekali Jaehyun, baru dengar sekolah yang seperti itu?"

"Ya. Lalu kau, bagaimana bisa tau tentang sekolahku?"

"I love dancing, hehe. Tidak kelihatan ya? My dream is to be performer in the future. Dan sekolahmu salah satu penghasil terbaik di negeri ini." Jungwoo tersenyum memandang ke langit sore.

Jaehyun tertegun. Ia rasa baru kali ini berjumpa dengan seseorang yang sungguh bermimpi terjun ke dunia hiburan yang abu-abu. Sangat murni tanpa terlihat ambisius seperti teman-temannya disekolah. Senyuman jungwoo seakan memberi tahu, bahwa dia menginginkan jalan yang pasti akan memberinya kebahagiaan, tidak peduli pada hal licik yang kerap mewarnainya.

Ya.. bocah ini terlalu naif. But it makes jaehyun want to protect him.

"Then let's meet in the future!" Jaehyun beranjak dari bangku, merapikan tas dan jas nya.

"Huh, kau sudah akan pergi?" tanya Jungwoo heran.

"Jangan pernah berubah ya Jungwoo, i'll be waiting for you." Kata jaehyun sembari membuka pintu minimarket, menyunggingkan senyuman tipis lalu berjalan keluar.

"Okay!!" Jawab Jungwoo lantang meski agak kebingungan.

Di perjalanan pulang Jaehyun bertanya-tanya, berapa lama lagi sampai dia bertemu lagi dengan bocah berandal imut itu. And wondering wether his smile will be still shining bright in the next time. Yang pasti Jaehyun berharap, dia masih bisa bertemu Jungwoo.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa tahun kemudian sosok yang dengan malu-malu mengetuk pintu ruang latihan SM adalah bocah berandal imutnya Jaehyun. Terlebih tidak ada yang tahu, mereka akan debut digrup yang sama. Sungguh kebetulan yang luar biasa.