Work Text:
Aku terjaga usai memimpikan—lagi—sebuah kisah romansa melankokis. Ingatanku samar, akan tetapi masih terbayang jelas gurat senyum si gadis pirang pemilik manik sebiru permata. Bayang-bayang yang masih tersisa, ialah di hamparan kebun mawar yang rimbun, aku menggenggam tangannya, kemudian aku mengecup punggung tangan si gadis.
Ada aroma mawar yang melekat, aku masih mengingat harumnya kendati seluruh potret film rusak itu hanya ada pada bunga tidurku. Aku memanggilnya dengan sebutan 'Tuan Putri'. Tanpa sadar, senyumku mengembang. Aku pun bangkit dari sofa; beranjak menuju ruang dapur seraya memanaskan air dalam termos listrik. Kemudian, aku menyeduh teh panas dengan dua sendok teh gula. Membayangkan rasanya menikmati acara minum teh seperti dalam mimpiku, membuatku ingin kembali pada semesta yang ada di sana.
Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Masih ada sisa waktu sekitar tiga jam untuk mandi dan bersantai di ruang tengah sembari meminum teh dengan beberapa camilan sebelum berangkat ke kantor. Namun, belum sempat aku mengambil handuk, aku mendengar suara bel.
Ah, ada apa gerangan? Siapa tetangga yang tengah mencariku pagi-pagi buta?
Maka, sembari menenteng secangkir teh, aku beranjak ke ruang tengah, kemudian membukakan pintu untuk tamu pertama yang berkunjung hari ini.
"Selamat pagi! Maaf mengganggu pagi-pagi, Tuan."
Begitu ucap sosok asing yang baru pertama kali kulihat di kompleks apartemen ini. Tapi ... tunggu .... Surai pirang bergelombang, binar sebiru permata, aroma mawar yang melekat—
Napasku mendadak tertahan. Sosok ini ... sama persis dengan seorang putri kerajaan yang ada dalam mimpiku. Ia membawa sosok lelaki bersurai legam pemilik manik berma. Sosok yang tak kalah familier. Lelaki itu turut tersenyum. Sementara wanita itu membawakan sepiring kue makarun di tangannya.
"Ah, ya ... tidak masalah," ucapku seraya menggaruk tengkuk.
Aku pun meletakkan cangkir tehku di atas nakas yang terletak di samping kosen pintu.
"Apa kalian baru saja pindah ke sini?"
"Ya, benar. Tempat tinggal kami di sana," ucap si pria seraya menunjukkan pintu bernomor 146 yang hanya berjarak sekitar lima langkah dari tempat tinggalku.
"Namaku Athanasia, dan dia suamiku, namanya Lucas. Kami baru saja menikah dan ini adalah pertama kalinya kami tinggal berdua. Salam kenal dan semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik," ucapnya sembari tersenyum lebar. "Ini ada sedikit camilan untukmu, err ... Tuan—"
"Panggil saja Izekiel. Salam kenal juga dan terima kasih banyak."
Aku membalas senyum Athanasia seraya menerima sepiring makarun tersebut. Jemariku tak sengaja bersinggungan dengan punggung tangannya yang lembut.
Oh, Tuhan ... perasaan apa ini? Dadaku sesak, kendati aku baru saja berkenalan dengannya. Sebab, dalam bunga tidurku ... aku adalah sosok yang jatuh cinta pada sang putri—Athanasia de Alger Obelia.
Di kehidupan sekarang pun, sepertinya nasibku tak jauh berbeda.
