Actions

Work Header

A Late Avowal

Summary:

Dibilang jengkel, Jimin tak membencinya.
DIbilang benci, Jimin lebih banyak peduli.

Atau sejatinya, bukan Taehyung yang memakai guna-guna.
Tapi memang Jimin termakan penyangakalan tentang perasaannya.

Notes:

[ cerita ini merupaka commission ]

Work Text:


Sila mendengar daftar lagu sambil membaca : Avowal: Love playlist  


***

BIBIR Jimin memberengut dalam langkahnya menuju meja paling panas seantero kantor. Memang tidak jauh dari meja kerjanya pula, tapi sekantong paper bag membuatnya kesal dengan cara yang aneh. Ayolah, dia tak dibayar atasan hanya untuk ini. Tapi mau tak mau, dia lakukan ini.

 

Seorang lelaki yang sibuk dengan layar komputernya menoleh saat Jimin meletakkan paper bag itu di mejanya. “Ada apa?”

“Biasa, titipan.” Jimin menunjuk beberapa orang yang masih mengintip di balik pintu ruangan dengan dagunya. “Dari penggemar setia kamu yang gak punya cukup nyali untuk mengantarkan ini,”

“Oh … terima kasih,”

 

Tugasnya selesai, jadi Jimin bergegas menuju mejanya sendiri dan lanjut bekerja. Suasana hatinya memang fluktuatif dan mudah terguncang oleh hal sepele, tetapi dia terlanjur terbiasa. Jaraknya hanya lima langkah. “Lain kali, taruh saja kotak atau kardus di depan pintu buat penggemarmu itu,”

“Maafkan aku,”

“Bukan salahmu.”

 

Jimin jadi merasa bersalah karena marah pada pria itu —yang bahkan tidak pernah meminta semua hadiah itu. Dia menggigit bibir keringnya, dan memprioritaskan laporannya daripada meminta maaf akan ucapan yang mungkin terdengar tak sopan.

Kira-kira sejak pria itu masuk menjadi karyawan tetap di tim user research setelah berkontribusi sebagai bocah magang dengan upah kecil dan segudang tanggung jawab. Pekerjaannya cakap, teliti, dan tanggap terhadap perubahan. Dia mengejutkan begitu banyak pihak di kantor karena pengetahuannya yang luas dan mampu memberi insight baru kepada perusahaan.

 

Awalnya, Jimin merasa tersaingi karena mereka seumuran. Tapi dirinya butuh waktu cukup lama untuk bisa sampai di posisi ini lebih dulu. Sedangkan pria itu —sebut saja namanya; Taehyung, bisa duduk di dekatnya memikul tanggung jawab keren. Padahal, Jimin dengar kalau sebelumnya, pria itu tidak pernah kuliah di bidang teknologi, psikologi manusia, atau matematika. Tapi, bagaimana dia bisa nyaris lebih mahir darinya?

 

Hal yang lebih mengesalkan lagi adalah tentang popularitasnya.

 

Sejak magang, Taehyung tak hanya curi perhatian dengan ide brilian dan pekerjaannya yang cakap, tetapi juga parasnya yang rupawan dan nyeleneh dengan rambut berwarna terang. Seakan-akan tidak peduli pada etika tersirat tentang berpenampilan sopan.  

 

Lantas kepopuleran itu menjadi buah bibir, bertambah semakin ganas sejak dia masuk ke tim inti dan memiliki lanyard resmi. Semua orang dari berbagai tim divisi mampir ke ruangan kerjanya hanya untuk melihat Taehyung bekerja. Menghabiskan banyak waktu di depan komputer, memutar ulang video penelitian dan buat catatan.

Budaya memberikan jajanan manis tercipta sejak seorang pria lajang dari tim developer engineer memberikannya sekuntum mawar segar dan sekotak susu coklat padanya di suatu hari. Taehyung beri senyum manis sebagai rasa terima kasih dan bilang padanya esok hari bahwa dia suka susu pemberiannya. Lalu hadiah demi hadiah berdatangan. Taehyung kadang mengambilnya begitu masuk gedung karena banyak yang meninggalkannya di resepsionis.

 

Payahnya lagi, Taehyung pernah bicara pada salah satu rekan dari tim data analyst yang mengikuti budaya itu, bahwa; lebih baik kau datang langsung saja ke mejaku. Gak apa-apa, kok!

 

Dan itu menciptakan evolusi budaya baru. Orang-orang malah datang ke ruangan kerja mereka hanya untuk memberikan hadiah. Taehyung sudah pernah bilang pada mereka supaya berhenti karena merasa tidak enak, tapi peringatan itu malah jadi bahan bakar untuk ego dan angan-angan mereka memuja Taehyung.

 

Jimin menyimpan draft terakhirnya sebelum mendengus kesal. Merasa capek saat tidak punya ide. Jimin ambil botol minumnya untuk memberi hidrasi, saat menyadari sebungkus coklat berada di ujung mejanya. 

 

Ada catatan kecil yang tertempel; Semangat, ya! 

 

“Dasar,” Jimin tahu siapa pengirimnya. Sebab dia lihat coklat ini masuk ke dalam daftar jajan pada paper bag hari ini. Barusan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

.

 

“TAEHYUNG gak pulang?” 

 

“Iya, sunbaenim. Aku lagi simpan catatan sebentar,” jawabnya beri lambaian tangan pada seniornya yang sudah berjalan pulang lebih dulu. Lantas memeriksa catatannya untuk terakhir kali sebelum mematikan komputer dan memakai jaket. Kemudian ikut pulang mengosongkan ruang kantornya. 

 

Namun, dalam perjalannya, Taehyung sadar dia tak membawa kunci mobilnya. Lantas dia berbalik dan bersiap berlari kembali ke meja kerjanya, sebelum menemukan Jimin berdiri di hadapannya mengulurkan kunci mobilnya. Lengkap dengan tampang jutek yang khas dari seorang Jimin si tukang ngomel.

 

“Kebiasaan suka meninggalkan barang,”

“Terima kasih,” balas Taehyung menerima kunci mobilnya dari tangan Jimin yang dingin. “Untung kamu masih di sini,”

Bola matanya berputar. “Sudah hapal tabiatmu. Kalau saja bisa melepas hidung, mungkin kamu juga bisa meninggalkannya.”

“Yah, kurasa itu benar.” Taehyung tertawa renyah. “Aku sangat pelupa dan payah. Terima kasih, ya, sekali lagi.”

 

Dia sudah akan pergi lagi saat Jimin mengingatkannya, “Tali sepatu kamu lepas, belum diikat dengan benar!”

“Oh,” dia menunduk dan melihat tali sepatunya yang sudah lepas kendali seperti kelelahan. Lalu Taehyung turun berjongkok untuk mengikat tali sepatu. Namun, kurang lengkap jika tidak turut menambah episode kecerobohannya yang lain. Barang-barang dari genggamannya harus ikut terjerembab. “Astaga—”

 

Sesungguhnya, Taehyung tak perlu khawatir sebab Jimin sudah menangkap botol minum dan kunci mobil yang terjatuh. Tentunya dengan omelan yang wajib ada, “Kebiasaan.”

“M-Maaf,”

“Lakukan saja dengan benar,”

“Iya, tunggu sebentar, ya.” Taehyung buru-buru mengikat tali sepatunya dan memastikan ikatannya cukup kuat untuk bertahan, sebelum mengambil kembali barang yang aman dari dekapan Jimin. Dia menunduk dan berkata, “Terima kasih, ya.”

 

Jimin hanya mendengus. Mengangguk singkat. “Kau ini ‘kan teliti saat mencatat hasil penelitian dan menggali data, tapi kalau ini kamu sangat payah, ya? Setiap hari—”

“Dan kamu terlalu baik untuk membantuku di semua waktu itu, Jimin.” Taehyung beri senyum simpul saat menginterupsi. “Aku berterima kasih untuk kesabaran itu.”

 

Kalimat Taehyung yang tenang itu membungkam mulut dan akal sehat Jimin sepanjang perjalanan pulang. Mengalahkan bising kereta dan riuh orang-orang berkeliaran. Isi kepalanya hanya dia.

 

Agaknya, Jimin paham kenapa pria itu memikat.


***

PADA jam lima lewat empat puluh menit, Taehyung mematikan komputernya dan bersiap pulang. Dia mengambil beberapa detik panjang untuk meregangkan tubuh pegalnya yang terpaksa duduk berjam-jam. Ada bunyi kruuuk dari persendian yang kaku, dan Taehyung mendesah lega.

 

Begitu komputer sudah mati total, Taehyung memakai jaketnya dan mengambil botol minumnya. Sudah akan mengangkat bokong, saat suara Jimin muncul untuk menegur, “Kunci mobilnya masih ada di laci. Ambil dulu sebelum turun ke parkiran,”

 

“Oh!” Taehyung tersenyum singkat dan mengambil kunci mobil yang selalu disimpan di laci meja kerjanya. Lalu mengayunkannya di hadapan Jimin. “Terima kasih sudah mengingatkanku,”

Namun itu belum selesai, sebab Jimin masih sempat bilang memberi teguran, “Tali sepatu kamu belum diikat. Tadi habis ganti pakai sandal rumahan,”

“Oh …” Taehyung melirik sepatunya yang kacau. “Terima kasih,”

 

Selagi mengikat tali sepatunya, Taehyung berusaha mengingat-ingat barangkali ada kebiasaan lupa yang dilakukannya. Akan jadi sangat memalukan jika dirinya malah diingatkan oleh orang lain, tapi sepertinya semuanya sudah lengkap. Jadi dia menatap Jimin dan tersenyum manis memberi ucap, “Terima kasih, lagi.”

“Kamu sudah mau pulang sekarang?”

“Iya,”

“Boleh aku nebeng?

 

Pertanyaan itu membuat Taehyung termenung dengan kepala kosong. Mata mengerjap lambat berusaha memproses apa yang baru saja didengarnya. Memang sederhana, tetapi bagi Taehyung, itu jadi salah satu anomali dalam hidupnya. “Tentu, tapi … tumben sekali?”

“Kamu mau berterima kasih, ‘kan? Antarkan aku pulang hari ini dengan mobilmu, Taehyung.”

“Yah, itu tidak masalah,” sahutnya. Masih menyimpan bingung dalam ujung lidahnya. “Tapi biasanya kamu gak pernah mau kalau aku menawarkannya. Dulu sekali, kamu akan mendengus jengkel dan menyuruhku berhenti bicara soal itu, jadi …”

 

Jimin memakai jaketnya. Tidak ada raut gugup, panik, takut, apalagi bingung. Air mukanya tampak tenang selagi dia menyimpan ponsel dalam tas kerjanya. “Gak apa-apa, aku lupa bawa dompet dan T-Money, karena tadi bareng sama adikku. Makanya, butuh tebengan,

“Ah, begitu rupanya. Baiklah, ayo kita pulang bersama.”

“Silakan jalan duluan, Taehyung.”

 

Mereka bukan rekan kerja yang cukup dekat. Jarang mengobrol kecuali tentang pekerjaan, atau hal-hal paling remeh seperti cuaca atau makan siang. Jimin tidak begitu banyak bicara juga dan lebih suka menyendiri, sedangkan Taehyung terlalu takut dengan pria itu. Sama seperti sore ini, mereka hanya ditemani bisu dalam perjalanan ke parkiran kantor. Namun, rasanya tidak buruk juga.

Jimin mendekat padanya usai Taehyung membuka kunci mobil, dan berkata, “Boleh aku pegang kunci mobilmu?”

“Uhm, ya,” sahutnya bingung. Namun, dia tetap memberikan kunci mobil dalam genggaman tangan Jimin. “Untuk apa?”

“Menyetir,”

“Apa? Hei—”

 

Tanpa peringatan lagi, Jimin langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Tak menghiraukan kebingungan dari Taehyung dan hanya menyuruhnya cepat masuk. Taehyung terlalu pusing untuk memahami tingkahnya, tapi cepat-cepat memutar dan masuk untuk duduk di sisinya, lantas bertanya. “Apa maksudnya? Kenapa kamu menyetir? Kamu ‘kan yang menumpang. Gak sopan kalau aku biarin kamu—”

“Pakai saja sabuk pengamannya,”

“Tapi —hei!” Taehyung tidak diberikan kesempatan protes lagi, sebab Jimin sudah melajukan mobilnya. Hingga dia langsung pakai sabuk pengaman dengan terburu. Tentunya dengan bingung yang belum terjawab. “Jimin,”

 

Pria itu fokus menyetir keluar dari parkiran kantor selagi beri pertanyaan untuk Taehyung. “Kamu bawa selimut, gak?”

“Bawa, sih,” dia meregangkan tubuhnya ke sisi belakang untuk mengambil selimut yang selalu dibawanya di dalam mobil. Lalu dia berikan pada Jimin. “Buat apa?”

“Kamu.”

Belum sempat Taehyung bertanya, Jimin sudah bergerak.

Dia menaikkan rem tangan selagi berhenti di tepian jalan pada ruko sepi. Kemudian mengatur sandaran jok milik Taehyung ke belakang, lalu memakaikan selimut untuknya. Berbeda dengan air muka Taehyung yang memanas sambil menahan napas gugup, Jimin hanya diam dengan tenang saat berkata, “Kamu istirahat saja buat sebentar. Badan kamu hangat,”

 

“Eh?”

“Masih pusing apa gak?”

“Darimana kamu tahu aku lagi demam?”

“Jangan balik tanya.” Jimin mendengus dan menjauh dari tubuh Taehyung untuk menyalakan radio di mobil dengan volume rendah, namun cukup menenangkan mendengar sayup-sayup lagu yang diputar sore hari. “Kamu sudah punya makanan di rumah?”

 

Taehyung menggeleng. “Tadinya aku mau pesan antar saja,”

“Ya sudah. Ini sekalian mampir beli saja.”

“Bukan mau nawarin masak untukku?”

“Jangan bercanda, deh.” sahutnya tertawa renyah saat kembali masuk  ke jalanan. “Aku bukan pemasak yang handal, bahkan untuk manusia yang sehat walafiat. Targetmu itu harus sembuh, bukannya tambah sekarat. Bisa dituntut aku nanti,”

 

Meski begitu, Taehyung tersenyum senang. Dadanya berdesir malu dan penuh sukacita. Jimin yang dia tahu adalah sosok pria yang cukup dingin untuk peduli hal remeh. Meskipun dia juga tahu kalau lelaki itu sangat perhatian dengan caranya sendiri. “Makasih, lagi.

Daripada tidur, Taehyung malah asyik melirik Jimin sepanjang perjalanan pulang. Kerut dahinya saat menghadapi pengemudi lain yang menyebalkan, senandung tipis saat mengetahui lagu radio yang tengah diputar, atau tangan kekarnya saat memegang kemudi. 

 

Sebuah pemandangan paling sederhana, sekaligus langka bagi Taehyung. Boro-boro satu mobil berdua, makan satu meja di jam makan siang saja bisa dihitung jari sejak Taehyung bergabung di tim tiga tahun lalu. Kini, Taehyung ingin memanfaatkan waktunya untuk memuaskan dirinya sendiri dan egois.

 

“Aku bilang tidur. Bukannya melihatku,”

“Kamu hanya bilang istirahat. Bukan tidur,”

“Apa itu artinya kamu bisa melihatku secara gratis?”

“Tapi aku merasa lebih baik saat melihatmu begini,” sahutnya tanpa rasa malu. Padahal suhu tubuhnya meninggi —khususnya pada kedua pipi. “Kalau gak mau dilihatin, jangan bersikap kayak begini. Aku jadi bingung sendiri,”

“Bingung kenapa? Aku gak ngapa-ngapain,”

 

Lantas pembelaan itu ditampik oleh dengus keras Taehyung sebelum berkata, “Kupikir, kamu benci padaku atau apa. Kamu gak pernah suka ngobrol padaku. Kamu juga gak mau lama-lama ada di dekatku. Selalu menolak pemberianku. Tapi di sisi lain, kamu juga satu-satunya yang paling peduli pada hal paling remeh dalam diriku. Aku benar-benar gak bisa membaca kamu, Jimin.”

“Tidak perlu kamu baca. I’m not a book, though.

“Kalau begitu, aku tanya saja daripada membaca.”

“Tanya apa? Ini sudah bukan jam kerja.”

“Ini bukan soal kerjaan —mentang-mentang kamu seniorku di kantor, duh. ” Taehyung mengubah posisinya menghadap pada Jimin untuk menatapnya lebih jelas. Memerangkap sosoknya dalam netra hingga bisa dia simpan dalam memori. “Memang, bagi kamu, aku ini apa? Selain rekan sekantor, junior, atau teman seumuran? Apa yang buat kamu peduli padaku sampai bisa menghapal tabiat burukku?”

 

Jimin mengangkat bahu. “Kamu memang mudah dibaca,”

“Tidak mau jujur? Hanya ada aku di sini. Aku gak akan bilang siapa-siapa meski itu memalukan,”

“Aku tidak pernah berbohong.”

“Iya, tapi sekaligus tidak pernah mau mengakui.”

“Soal apa?”

 

Agaknya sudah habis amunisi kesabaran Taehyung untuk sore ini. Semuanya sudah terpakai seharian oleh pekerjaan, dan kini tak cukup untuk meladeni Jimin yang terus mengalihkan pembicaraan seakan-akan ingin kabur. Taehyung menggeleng dan berbalik untuk memunggungi pria itu. “Gak tahu. Mungkin soal kepedulianmu yang kelebihan dari batas seorang teman, tetapi tak cukup menjelaskan sampai mana aku harus menahan interpretasiku sendiri,”

 

“Peduli ya peduli,” sahut Jimin. “Kepalamu lagi gak beres. Tidur saja kamu daripada ngomong ngelantur,” tangannya menjulur beri usap lembut di pucuk kepala Taehyung. “Semoga lekas pulih.”


***

TAEHYUNG hapal derap langkah kaki yang satu ini. Meskipun dia sama sekali tidak terpikir tentang alasannya mengikuti langkah pulangnya ke parkiran. Taehyung biarkan degup jantungnya perlahan meningkat bersama deru napas yang tak karuan. Dia menghentikan langkah, pada akhirnya, dan menoleh usai menenangkan diri. “Ada apa?”

 

Pertanyaan itu tidak lantas dapat jawaban, kecuali mimik yang tak bisa diterjemahkan. Pria dengan setelan jas necis di hadapannya masih mempertahankan wajah dingin. Namun, suara manis dari mulutnya sanggup mematahkan mantra. “Aku hanya mau bicara,”

 

“Kali ini aku tak melupakan kunci mobil,” kata Taehyung penuh percaya diri sambil menggoyangkan kunci mobil dalam genggaman tangannya. Lalu beralih menunjukkan ujung sepatunya yang rapih, dan menambahkan, “Juga sudah mengikat tali sepatu. Jadi, apa yang mau kamu ingatkan padaku, Jimin?”

Pria itu menjawab, “Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Pertanyaan yang mana?”

“Soal pacaran.”

“Ap— tunggu! Hei!”

 

Sekujur tubuh Taehyung meleleh hingga tak kuat berdiri tegak dan kini bersandar pada sisi mobilnya. Matanya terbelalak kaget saat mendengarnya — maksudnya, lihat wajah santai itu! “Bicara apa kau!”

“Memangnya kenapa?”

“Y-Ya kamu! Kenapa tiba-tiba kayak begitu?! Pacaran apanya?!”

 

Jimin akhirnya tersenyum kecil. Mungkin karena merasa geli pada tingkah Taehyung. “Waktu aku nganterin kamu ke apartemen pas sakit, aku tanya apakah kamu mau jadi pacarku? ; karena kau terus memberengut dan galak padaku sepanjang malam.”

 

Bukannya Taehyung tidak ingat. Sebab kini wajahnya memanas akibat refleksi dua hari sebelumnya. Kala Taehyung terus manja dan minta Jimin mengantarkannya sampai ke depan pintu apartemennya karena tambah pusing. Lalu menyuruhnya menyiapkan bubur hangat untuknya. Pada adegan terakhir yang dia ingat, Jimin bertanya saat minum jus jeruknya, “Apa kamu mau jadi pacarku?”

 

Itu semua bukan mimpi, sayangnya. Kini, situasi malah dibuat berbalik seakan-akan Taehyung yang kabur. Dia kembali sadar dan mengomel, “Memangnya itu pantas dilakukan? Kamu saja gak mau mengakui perasaanmu, kok mengajak orang pacaran!”

“Aku hanya mengajak kamu untuk pacaran,”

“Ini, ini. Cara bicaramu yang ini membuatku pusing.”

“Aku hanya menekankan apa yang harus jelas di sini.” Jimin menghela napas sebelum mengalah. “Kalau begitu, bagian mana yang harus kuperbaiki?”

Taehyung bungkam selama beberapa detik sambil mengulum bibir. Dia mengalihkan pandangannya karena tidak kuat menahan panas tiap menatap Jimin. “Mengaku dulu, soal perasaan kamu.”

 

Kalau dibilang musuh; Jimin tidak membencinya.

Kalau dibilang benci; Jimin terlalu peduli padanya.

 

Semakin kesal dan bingung Jimin saat mendapati orang kantor gemar memandangi wajah Taehyung saat bekerja, semakin besar pula mantra magis yang memikat Jimin untuk ikut menoleh dan menghabiskan menit-menit pada jam kerja untuk memandangnya juga. Bagaimana rautnya tampak begitu rupawan dari segala kerut bingung, stres, atau ketika menemukan jalan keluar.  Semuanya jadi begitu menyenangkan dengan cara yang tak dapat dijelaskan.

 

Atau mungkin, bukan Taehyung yang terlalu mudah dibaca.

Tetapi Jimin yang terlalu sering mengamati segala tentangnya.

 

“Dimulai dari apa? Karena aku suka melihatmu setiap hari di kantor? Semua orang melakukannya,” kata Jimin. “Tapi aku memang harus mengakui bahwa pada akhirnya, aku suka kamu.”

 

Jimin bisa melepas tawa saat melihat Taehyung kembali pada reaksi lucunya dengan mata terbelalak dan kedipan cepat. Seakan-akan baru saja mendengar berita paling heboh sedunia. “Aku peduli lebih dari seorang teman, rekan kerja, atau senior. Mungkin mereka benar saat bilang bahwa kamu bermain guna-guna,”

 

“Gak ada!” sahut Taehyung cepat. “Kalau suka, ya bilang saja.”

“Iya. Barusan sudah bilang, ‘kan?”

“Tapi tadi ngomongnya begitu,”

“Maaf,” Jimin balas santai dan tertawa lagi. Berani sumpah, dia ingin mengacak-acak rambut tebal Taehyung saking gemas pada tingkahnya itu. “Aku sudah mengatakan bahwa aku suka padamu. Jadi, apa yang kurang? Katakan saja,”

 

Taehyung kehilangan kosakata saat sesi tanya jawab diberikan sepenuhnya untuk bisa dia jelajahi. Ribuan pertanyaan yang selama ini hanya dipendam di dalam kepalanya, justru menguap dan hilang entah kemana. “Sebenarnya, aku sudah cukup lega karena kamu mau jujur soal perasaan kamu. Aku gak tahu harus meminta apa lagi. Terima kasih untuk itu, Jimin. Kalau kemarin-kemarin, aku hanya bingung dengan sikapmu. Perhatian, tapi juga dingin. Peduli, tapi juga tak mau mengaku. Terus, tiba-tiba kamu bertanya soal pacaran dan aku tambah bingung kamu ini sedang apa? Atau kamu terlanjur tahu soal perasaanku dan sengaja main-main; aku gak tahu. ” 

 

“Mungkin kamu yang gantian harus mengaku,”

“Apa kurang jelas?” sahutnya sebal. “Aku bersikap baik pada semua orang, tapi standarku untuk kamu itu lebih tinggi! Meskipun kamu judes, aku tetap sabar. Aku ini suka sekali sama kamu!”

 

Lagi, Jimin tertawa. Tidak habis pikir dengan tingkah lucu pria di ujung dua puluhan ini. “Baiklah, Taehyung. Maafkan aku karena terlalu payah untuk mengakui segalanya selambat ini.” Dia merogoh kantung jaketnya dan memberikan sebungkus coklat yang pagi ini disimpannya. “Kalau begitu; pertanyaanku waktu itu, apa sudah bisa dijawab sekarang?”

 

“Iya.”

“Apa jawabannya?”

 

Sambil memberengut, Taehyung mengambil coklat dari tangan Jimin. Alisnya bertaut hingga ciptakan kerut di dahi. “Memangnya kenapa kamu terpikir mau pacaran denganku?”

 

“Jawabanku ini bisa jadi sesuatu yang positif sekaligus negatif.”

“Oh, ya? Coba jelaskan.”

“Aku ini cenderung posesif,” katanya tenang. “Reputasimu di kantor lebih dari baik untuk mengundang seluruh isi gedung hanya untuk menatap ciptaan Tuhan paling bias. Ketika aku berkhayal jadi pacarmu, aku punya sedikit hak untuk tidak membagikannya lagi secara gratis pada mereka karena kamu adalah punyaku,”

 

Meski pipi Taehyung memerah malu, rengut bibirnya tak juga pudar. “Jangan sembarangan. Aku tetap milik diriku sendiri. Nanti aku bisa melaporkan kamu sebagai kekerasan dalam pacaran karena terlalu posesif, tahu.” Namun dia berbisik, “Tapi kalau itu artinya kau bisa mengusir mereka, itu lebih baik. Aku juga cemburu kalau staf engineer memuji ketampanan kamu. Jadi anggap saja ini impas,

“Tentu ini bukan seperti aku akan mengurungmu hanya untuk diriku sendiri, Taehyung. Paling tidak, supaya aku tak dititipkan rangkaian bunga untukmu dari orang-orang kantor lagi. Cukup bunga dariku. Pink roses, right? Bagaimana?”

Taehyung tersenyum malu. “Baiklah. Mulai besok, ya.”

“Kenapa besok?”

“Kenapa tidak?”

 

Respon Taehyung itu menciptakan tawa lagi untuk Jimin yang benar-benar kehabisan ide. “Taehyung yang kuingat adalah lelaki manis yang suka tebar senyum bahkan kepada orang judes sepertiku, lalu siapa Taehyung yang galak dan menantang ini?”

“Apa itu membuat kadar sukamu berkurang?”

“Sedikit,”

“Sedikit?!”

“Bercanda,” balasnya mengikis jarak dan akhirnya mengacak- acak rambut Taehyung karena tak lagi mampu menahan diri. “Itu membuatmu lebih humanis. Orang hanya tahu kamu pekerja keras yang cekatan, teliti, dan baik hati. Tapi Taehyung yang aku kenal juga manusia yang ceroboh, berhati sensitif, dan manja. That makes you beautiful even with all flaws, Taehyung.”

 

Penuturan itu lantas buat dada Taehyung berdesir kencang tak tahu malu. “Kamu gak lagi bohong? Kamu benar berpikir begitu?”

“Tuh, ‘kan, sensitif.” Jimin mengusap sudut mata Taehyung yang mulai basah dan tersenyum geli. “Benar, kok. Meskipun aku juga bingung kenapa harus sukanya sama kamu.”

Tangisnya batal, berganti rengek. “Jimin!”

“Bercanda,” katanya. “Ayo pulangnya aku supirin lagi. I know you like it when i drive you home —also drive you crazy.


[ tamat ]