Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-04-05
Words:
1,731
Chapters:
1/1
Comments:
10
Kudos:
63
Bookmarks:
7
Hits:
871

Riuhmu di Ujung Malamku Lagi

Summary:

Sepuluh tahun kemudian, Nanon masih seperti Nanon yang Ohm kenal. Kamu masih cantik, Non. Kamu dan senyummu dan lesung pipimu.

Work Text:

Seharusnya ini hanya jadi reuni SMA yang biasa saja.

Setelah menghadiri reuni akbar yang diadakan di aula besar sekolah, diadakan lagi reuni kecil setelahnya, khusus untuk segelintir orang yang semasa putih abu-abu selalu duduk di kantin bersama. Masa orientasi siswa menyatukan mereka yang bernaung di bawah kelompok yang sama; berbeda kelas pun tak memutus ikat itu.

Sebuah pub ternama menjadi pilihan untuk duduk mengobrol hingga larut. Meja bundar penuh dengan bergelas minuman beralkohol, udara padat dengan tawa bercampur nostalgia masa sekolah. Sepuluh tahun berlalu, hidup membawa mereka menyusuri jalan yang tak sama. Masing-masing ditelan oleh kesibukannya sendiri, hampir lupa akan eksistensi sahabat kala remaja, sampai undangan reuni akbar tersebar.

Aneh melihat orang-orang yang dulu dilihat hampir setiap hari kini memiliki cerita yang baru diketahui di detik ini. Aneh melihat mereka begitu berbeda—yang satu sudah akan menikah, yang satu nyaman dengan pindah-pindah pasangan, yang satu berpikir lebih baik untuk sendiri melajang karena cari uang lebih menarik ketimbang urusan hati dan selangkangan.

Dan, di tengah perubahan itu adalah Ohm.

Dan, Ohm tahu hanya ada satu yang tidak pernah berubah selama sepuluh tahun.

Kamu, Non. Dan lesung pipimu.

Ohm tidak datang untuk mabuk. Ia menolak mabuk, tak mau berurusan dengan sakit kepala ketika bangun esok hari. Dua gelas bir tidak akan cukup membuatnya hilang sadar.

Tapi kamu memabukkan, Non. Stop senyum-senyum. Nanti aku mabuk, kamu mana mau tanggung jawab.

Nanon tidak berubah. Masih indah seperti dulu. Senyumnya masih cantik. Sepasang matanya masih berbinar, membentuk sabit ketika ia tertawa.

Detak jantung Ohm setiap melihat Nanon tidak berubah. Masih seperti menabuh genderang perang. Kalau mengutip ucapannya sendiri, itu adalah genderang cinta—genderang tanda Ohm jatuh cinta pada Nanon sejak pertama mereka dihukum bersama karena tidak pakai sepatu warna hitam polos.

Dulu, hubungan mereka tidak pernah sampai mana-mana. Cuma tahu sama tahu—tahu mereka sama-sama menyimpan sayang yang berbeda, tahu mereka sama-sama takut untuk mengakuinya. Ohm dan Nanon hanyalah dua remaja beranjak dewasa yang tak ingin melepas label ‘teman’ demi menghindari konsekuensi, memenuhi ekspektasi.

Pada akhirnya, ia harus menelan nyata yang bilang kalau baik ia maupun Nanon tidak—belum—siap untuk memiliki lebih dari apa yang mereka punya. Bahkan ketika ia dan kawan-kawan melepas Nanon untuk melanjutkan studi di Yogya, mereka tetap tak lebih dari dua sahabat baik yang saling jatuh cinta. Ohm hanya bisa berserah, rela Nanon dibawa kereta jam tujuh malam.

Nanon pergi, namun ternyata hati yang Ohm punya lebih setia dari yang ia duga. Sepuluh tahun bukan waktu sebentar. Ohm sudah terlalu lelah untuk takut dan sembunyi. Tidak pula ia bodoh sudi menanti Nanon yang lambat laun hilang sudah kabarnya. Berkali-kali sudah ia menjalin asmara. Semenjak kuliah hingga hari ini, sudah banyak nama pernah ia cintai. Berkali-kali, tapi mana ada yang seperti kamu, Non. Sepuluh tahun dan napasku hampir lepas di detik pertama mata kita beradu.

Tak bisa ia jelaskan seperti apa rasanya bertemu Nanon lagi setelah begitu lama. Rindu—tak ia sangka rindu bisa terasa sebegitu dahsyatnya meronta, mendobrak ingin keluar. Bertahun-tahun dikiranya ia telah berhenti mencintai Nanon. Tetapi pada akhirnya, di sepasang bola mata sewarna teh itu ia masih ingin berlabuh.

Di lengan-lenganmu aku ingin tidur malam ini, Non.

 

*

 

“Gue keluar sebentar, ya. Cari angin.”

Sepasang netra Ohm masih terkunci di sana, mengikuti bagaimana tubuh itu beranjak dari kursi yang telah diduduki lebih dari satu jam, bagaimana tungkai-tungkai ramping itu hendak membawanya pergi menjauh. Ia amati punggung itu, yang tak jauh berbeda dari yang terakhir ia lihat.

“Nanon,” tak sadar mulutnya berucap, sebuah impuls yang disebabkan oleh keinginan untuk jangan jauh-jauh, aku mau dekat-dekat. “Tunggu. Sama gue.”

Ia tandaskan dulu minumannya yang sisa setengah gelas, baru lantas ia bangkit dan menyejajarkan langkah dengan Nanon. Canggung berkilat di iris cemerlang itu, namun Nanon tetap tersenyum—cuma kamu yang punya senyum paling cantik, Non, dan aku kangen. Ia balas tersenyum.

Pub itu terletak di tepi sebuah danau buatan. Mereka berpindah ke bagian samping bangunan, yang langsung menghadap danau. Hamparan air terlihat kelam bagai laut tak berombak. Udara segar menerpa wajah ketika pintu kaca terbuka—hari ini cukup dingin meski tak berangin.

Ohm biarkan Nanon keluar lebih dahulu; ia ikuti pemuda itu berdiri bersandar di pagar kayu setinggi perut orang dewasa. Mereka hanya berdua di sana, walau ada beberapa meja disediakan untuk yang ingin duduk menghirup udara lepas. Agaknya pengunjung lebih memilih duduk di dalam dan mendengarkan live music ketimbang berteman dengan dinginnya cuaca. Banyak-banyak Ohm mensyukuri hal itu—terima kasih telah memberiku waktu berdua dengan si paling indah sedunia.

“Apa kabar, Non?”

Tawa kecil menyambut pertanyaan yang terdengar klise itu. Bagi Nanon, mungkin terdengar seperti basa-basi kedua kali karena tadi orang-orang pun sudah menanyai kabarnya. “Apa, sih. Kayak baru ketemu aja.”

“Emang baru ketemu.”

“Kita udah duduk di dalem situ hampir dua jam, ya. Belom tadi pas reuni.”

“Tapi tadi kita nggak berdua aja.” Ohm tersenyum. “Apa kabarnya Nanon?”

“Nanon baik-baik.” Kembali pemuda itu tergelak. “Apa kabarnya Pawat?”

Nanon tentu tidak tahu bagaimana jantung Ohm melonjak-lonjak seperti anak anjing kegirangan, berusaha lepas dari kandang kecil berupa jajaran rusuk. Panggilan itu cuma Nanon yang boleh menggunakan karena aku tidak mau terbiasa. Kalau orang lain panggil aku begitu, nanti aku terbiasa, Non. Nanti aku tidak sesak lagi ketika kamu yang panggil aku begitu.

“Pawat baik-baik juga.” Ia menjawab sembari mengikis jarak. Ia ingin dekat, lebih dekat, membunuh ruang yang tersisa di antara mereka. “Tapi Pawat kangen Nanon.”

Kalau Nanon mau, ia bisa saja menghindar. Ketika dahi Ohm bersentuhan dengan hangat dahi pemuda itu, Ohm akan sangat mafhum kalau Nanon mengelak. Namun, nyatanya Nanon diam saja, menerima saja saat jemari mereka bertaut.

“Paw ….” Suara Nanon sehalus hela napas yang kini mereka bagi. “It’s been a long time, Paw. Are you still …?”

“Aku kira udah nggak,” jawab Ohm lamat-lamat. “I’d been in love multiple times with different people. Udah bolak-balik jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta, patah hati sama banyak orang selama nggak ada kamu. Tapi kamu itu, Non,” ia mendesah pelan, “ternyata bisa bikin aku jatuh lagi semudah itu. Cukup dengan kamu dateng lagi. Untung aku lagi nggak sama siapa-siapa, kalo nggak, I’d definitely break someone’s heart just for you.

“Buaya.” Meski begitu, Ohm bisa merasakan bagaimana lengan-lengan itu merengkuhnya. Nanon adalah si pembunuh jarak itu sendiri.

“Aku beneran. Nggak gombal. Satu-satunya yang aku sesali adalah nggak ngajak kamu pacaran sebelum kamu berangkat ke Jogja.” Tubuh bertemu tubuh, Ohm mampu membaui aroma Nanon. Wangimu seperti bunga. Lembut seperti bunga. Masih sama seperti yang terakhir aku ingat.

“Pede banget kamu. Segitu yakinnya aku nggak akan nolak?”

“Emang kamu bakal nolak?”

“Iya.”

Oksigen seakan direnggut sepersekian detik dari Ohm. Ia melepaskan pelukannya, ingin mencari kebenaran itu sendiri di wajah Nanon yang masih cantik dalam temaram. “Kamu nggak mau?”

Kamu sudah tidak di aku lagi, Non? Ah, aku bodoh. Sudah kelamaan, aku barangkali sudah basi, tentu saja kamu—

“Dulu.” Nanon membungkam suara-suara sahut-menyahut dalam kepala. “Kalo kamu tanya aku sebelum aku naik kereta itu, kemungkinan besar aku nggak mau. Kamu tau aku takut, Paw. Kamu juga takut.”

“Dulu,” Ohm membeo. Telapaknya, yang masih merindukan hangat familiar kulit bersih Nanon, menemukan nyaman di pipi lelaki itu. “Sekarang?”

“Sekarang? Apanya yang sekarang?” Senyum Nanon menggoda, membuat Ohm gemas dan mencubit pipi gembil itu.

“Bandel. Jawab yang bener, coba.”

“Bandel. Tanya yang bener, coba.”

Lewat sepuluh tahun dan Nanon masih tahu caranya menguji kesabaran Ohm. “Kamu, tuh, ya,” gumamnya sambil menarik napas dalam-dalam. Di balik tingkahnya itu, Ohm tahu yang Nanon mau. Tanya aku. Ajak aku sekarang juga. “Nanon. Aku nggak mau buang-buang waktu lagi.”

Jangan ke mana-mana, Non.

Jangan pergi lalu hilang lagi, Non.

Sepasang bola mata sewarna teh itu bertemu dengan miliknya yang segelap langit naungan mereka.

Habiskan hidupmu sama aku, Non.

“Boleh aku pulang ke kamu, Nanon?”

 

*

 

Bibirmu manis, Non.

 

*

 

“Foto, yuk.”

“Gelap, Paw.”

“Nggak papa. Masih keliatan, kok.”

“Buat apa, sih? Kita udah banyak foto tadi.”

“Yang ini kenang-kenangan kita jadian.”

Di remangnya cahaya, Ohm bisa melihat sepasang mawar di kedua pipi Nanon.

 

*

 

Kamar Ohm masih gelap, pertanda hari masih terlalu pagi sampai-sampai matahari pun belum sudi bangun dari peraduannya. Setelah terjaga semalam suntuk, normalnya Ohm akan menghabiskan pagi di balik selimut. Hanya saja, bagaimana ia bisa lanjut terlelap kalau Nanon tidak ada di sisinya?

“Non …?” ia memanggil dengan suara parau, tebal oleh rasa kantuk. Tak ada balasan. “Nanon …?”

Ia menatap berkeliling. Nanon tidak ada di ruangan ini, itu sudah pasti. Ohm mengerang pelan. Badannya masih berat untuk diajak bergerak mencari Nanon, tetapi mau tidak mau, daripada ia tidak tenang. Dengan malas diraihnya tumpukan pakaian yang dari malam dibiarkan tercecer di lantai, memilah-milah mana miliknya, mana milik Nanon.

(Ia temukan sepasang bokser dan celana jin kepunyaannya, cuma kausnya saja yang raib. Si pencuri kaus ia yakini sebagai orang yang sama dengan yang tengah ia cari keberadaannya.)

Malas-malasan ia kenakan boksernya yang warna hitam, kemudian dicomotnya selembar kaus bersih dari lemari. Baru setelahnya ia berjalan gontai keluar kamar, dan segera ia dapati sosok lelaki yang pagi-pagi sudah menghilang dari pelukan. Nanon terlihat duduk di kursi pantri, punggungnya menyambut Ohm ketika ia mendekat. Entah Nanon sedang melakukan apa di tengah pencahayaan minim yang berasal dari lampu dapur.

“Hey, cool cat.” Bahkan dengan mata masih digelayuti sisa-sisa mimpi semalam, Ohm bisa melihat kausnya yang hilang ternyata benar menempel di tubuh Nanon. Disuguhi pemandangan begitu menggemaskan, mana bisa Ohm menahan hasrat memeluk Nanon? “Aku cariin taunya di sini. Kirain ilang digondol maling.”

“Eh, Paw—”

Ia rasakan tubuh dalam dekapannya itu terlonjak, mungkin karena kaget dengan sergapan dari belakang yang tiba-tiba. Di mana peduli Ohm? Sudah hilang bersamaan dengan harum Nanon yang menyapa—yang sudah bercampur dengan aroma tubuhku sendiri. Ia tak bisa tak tersenyum mendapati betapa hal itu mampu mengacaukan kewarasannya.

“Balik tidur, yuk. Kamu bangun pagi bener, ngalahin tukang bubur langganan aku.” Sambil bicara, dikecupnya pipi Nanon—lama-lama, seraya ia hirup lagi wangi mereka dalam-dalam.

“Iya ….” Hanya suara Nanon yang terdengar gugup campur geli yang membuat kesadaran kembali mengetuk kepala Ohm. “Abis aku video call sama sepupu aku, ya …? Dia di New York dan ….”

Kantuknya sirna sudah. Ia diterpa kesegaran yang berasal dari gelombang rasa luar biasa malu. Penjelasan Nanon tentang dia di New York dan lagi sibuk-sibuknya, ini juga colong-colong hubungin aku karena sulit cari waktu lain sampai tak terdengar saking Ohm sibuk didera panas yang menjalar mulai dari kepala.

Nanon. Digenggamannya adalah ponsel pintar. Di layar ponsel pintarnya adalah seorang pria yang menatap mereka berdua—menatap Ohm—sambil tersenyum penuh maklum.

“Siapanya kamu?”

“Sepupu aku.”

Ohm membatu.

Bunga mawar di pipimu malam tadi kini pindah ke pipiku, Non. Sialan.