Work Text:
Yuuji punya satu kebiasaan unik.
Jika suasana hatinya sedang tidak menentu dan ia tidak punya wadah untuk meluapkan emosi yang jelas melebihi kapasitasnya Yuuji akan menggigit. Ia punya caranya sendiri untuk membuat gigitannya tidak berkesan buas dan menakutkan bagi pihak penerima.
Cara Yuuji melakukannya begitu lembut dan berhati-hati, tampangnya dipenuhi gurat tidak berdaya lantaran tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri; permintaannya kedengaran tidak masuk akal sekaligus sensibel di lidahnya yang tangkas.
Toge selaku sang kekasih baru tahu-menahu mengenai... soal gigit-menggigit ini setelah melewati bulan ketujuh keduanya menegaskan hubungan mereka. Menginjak bulan lima intensitas kebersamaan keduanya memang meningkat, dengan Toge yang melepaskan jabatannya sebagai ketua kaligrafi menjadi semakin sering meluangkan waktu dengan Yuuji dan Yuuji sendiri yang menerima tiap kehadiran Toge dengan kemerlap inosen di sepasang optik kembarnya.
Saat itu cuaca tidak begitu panas di luar, awan berarakan membentuk perkumpulannya sendiri; terlalu cerah di sana, yang sedikit muram di sini, yang berbentuk hewan di sebelah sana. Toge sedang memperlihatkan pada Yuuji awan yang mengingatkannya dengan omelet buatan sang pemuda di balkon rumahnya, satu tangan menyangga dagu, dan tangan lainnya menyapu poni Yuuji yang mulai panjang mencapai mata.
Yuuji menangkap pandangannya. Awan nun jauh di sana, Awan Omelet yang jadi bahan dari lelucon yang hanya sepasang muda ini pahami, tetapi perhatiannya tidak bertahan lama. Yuuji berpaling pada Toge, air mukanya tidak terbaca. Hanya diam menenangkan yang membasuh.
Tergoda suasana Toge mengangsurkan badan maju bersamaan Yuuji ikut maju. Namun sayangnya ciuman pertama yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang.
Begini.
Persoalannya adalah Toge tidak memperhitungkan ketepatan tempat pendaratannya. Sebelum bergerak melakukan apa yang didambakannya sejak sebelum membawa Yuuji berkencan di tempat kuliner sana sini, Toge menutup mata. Di saat itu pula Yuuji menggerakkan kepalanya ke samping.
Bibir Toge hanya sempat menoreh pinggiran bibir Yuuji.
Tetapi itu pun rasanya sudah... sudah sangat luar biasa.
“Lho, nggak kena ya?”
Yuuji mundur sedikit. Toge ikutan, dalam hati gigit-gigit kuku; semoga saja Yuuji tidak berubah ilfil, lebih-lebih menganggapnya amatir dalam masalah hubungan.
“Ternyata nggak gampang ya. Perasaan kata Megu tinggal maju-maju doang.”
“Megumi kan beda sama aku, sayang. Dia kayaknya suka main sosor, kalau aku mah gentle.”
Yuuji menyuguhkan senyum. Seketika kekhawatiran Toge bersepai. Yuuji-nya tidak akan ilfil hanya karena persoalan sepele semacam ciuman yang gagal, apa yang ia takutkan?
“Kak Toge,” panggil Yuuji, kembali berpaling ke depan.
Saat Toge mencari rupanya Awan Omelet sudah bergabung ke kumpulan awan cerah.
“Iya, tiger?”
“Would you do me a favour?”
Lantaran tidak biasanya Yuuji memakai nada serius Toge mengiyakan tanpa pikir dua kali, “Absolutely. You name it, tiger. I’m going to grant you exactly that.”
“You don’t even know what I’m about to ask you, though?”
“Doesn’t matter.”
Yuuji tidak bersuara lagi.
Toge tidak yakin langkah mana yang lebih tepat di antara menekan Yuuji lebih jauh atau membiarkan kekasihnya menentukan untuk melanjutkan atau tidak.
Pada akhirnya ia tidak tahan dengan pembicaran yang menggantung di antara mereka dan menyapu poni Yuuji untuk kedua kalinya sebagai pelariannya dari hanya berdiam diri. “Poni kamu udah panjangan, ya?” Terlintas dalam benaknya pastilah manis jika Yuuji menjepit poninya. Toge mengingatkan otaknya untuk membeli satu set jepit lucu hasil rekomendasi Maki atau Nobara saat berbelanja bulanan nanti. “Nggak ganggu pandangan?”
Alih-alih menjawab pertanyaannya Yuuji menurunkan tangan Toge, yang hangat dan sedikit kapalan—akibat keterlibatannya di dunia kaligrafi beberapa tahun belakangan—ke pipinya, menggosokkan pipinya yang mendingin diberi perhatian angin sepoi-sepoi ke telapak yang menyuguhkan perhatian dalam bentuk lebih nyata.
“Yuuji?”
“I’ve been meaning to ask you this.. kak Toge, can I have a bite?”
Pertanyaan itu di luar dugaannya.
Toge membiarkan lima detik terlewat sebelum menjawab pelan, “Omelet yang kamu buat tadi pagi?”
Yuuji terkekeh, masih nyaman mengusakkan pipi ke tangan Toge. Kali ini bukan hanya satu, Toge menangkupkan wajah Yuuji, menekan-nekan kedua buah pipinya penuh gemas. “Bukaaan. Yang itu kan udah kakak habisin.”
“Enak habisnya.” Toge menimpali, kemudian menambahkan sebelum terlupa, “Terus kamu maunya apa dong, kalau bukan omelet?”
“Aku mau gigit kakak.”
Sepuluh detik terbuang sia-sia. Toge bahkan tidak yakin telinganya tidak salah tangkap apa yang ia kira ia dengar. “I’m sorry...? Did I do something? Something that hurt you?”
“Nope! Nope to all of those.”
Sekali lagi ekspresi di wajah Yuuji tidak memberikannya petunjuk apa pun. Pemuda itu tampak begitu terbuai semilir angin dan sentuhan hangat kulit Toge di kulitnya sampai ia memejamkan mata.
“Do you want to expand on that, doll? I’m afraid I don’t understand.”
“I just...” Perlahan Yuuji membuka mata. Hela napasnya mengenai langsung ke kulit Toge. Ia merinding sedikit, berusaha fokus ke hal lain. Awan Omelet, Awan Omelet, Awan Omelet. Yuuji mencoba menjelaskan, walau kalimatnya tidak beraturan dan ia kelihatan jelas sekali ingin meluruhkan topik ini, “The thing is, I’m a bit of—what I like to call myself—a ... biter. Or a nibbler, same thing. It’s... that's kind of, what’s that..., the term that people use... Err, coping mechanism? Something of the sort.”
“Okay. I’m listening, doll.” Toge mengangguk, menyemangati Yuuji untuk terus berbicara.
“Well, I usually nibble on inanimate objects, like pillows or bolsters. But if there’s pressure... in case the pressure gets so high, I'll look elsewhere. Like here.” Yuuji menggulung lengan baju, memperlihatkan bagian lengannya yang bercorak ungu redup.
Manik Toge menggelap, menggerayangi spot yang sama berulang kali seolah ia burung hering.
“Did it myself. Last night. Deadlines are mounting. It’s getting worse and worse. I couldn't get my laptop to work.”
Toge menyadari Yuuji tidak berani memandangnya. Ia pura-pura tidak tahu-menahu. “Can I?”
Yuuji mengangguk, menggulung lengan baju sampai ke batas teratas.
Ini salah rasanya, merasa seperti naratama yang diberi akses ke pengalaman tiada duanya, namun itulah yang Toge rasakan saat tangannya meraba spot keunguan itu, bekas gigi kentara tertanam di sana saat ia memicingkan mata.
Toge merunduk sedikit, mengecup jejak yang mulai memburam. Kepalanya membantu menciptakan bayangan kekasihnya, duduk di kursi—atau mungkin di tempat tidur—pada sepertiga malam; dahi berkerut frustasi dengan situasi yang tidak bisa dikompromi lagi, mata memanas, emosi yang tidak stabil. Mata itu begitu ekspresif, nyalang mencari-cari sesuatu pelepas stres. Pada akhirnya Yuuji di dalam imajinasinya mengangkat tangan, memperamati bagian itu seakan ada kelumit tambahan pada tubuhnya, bukan anggota tubuh yang sudah terpasang di dirinya sejak lahir.
“Why did you...?”
“Why did I kiss it?”
Imajinasi Toge buyar. Sekarang di depannya ada Yuuji yang asli. Ia mungkin bisa bertanya, dan Yuuji mungkin bisa menjawab. Jika salah satu dari mereka mengatakan sesuatu.
Tetapi Toge tidak bertanya.
“I don’t know, doll, that looks painful.”
Yuuji meringis, air mukanya berubah pucat seakan perkataan Toge mengusiknya. “Nggak gitu... ini nggak sakit, kak. Beneran. Nggak ada rasanya malah. Sama sekali. Aku nggak mungkin... aku nggak suka nyakitin diri sendiri, kalau itu yang kakak khawatirin. Itu cuma... itu cuma keliatannya aja kayak gitu—”
“Oke.” Ia menaruh tangan di pundak Yuuji, menenangkannya. “Oke. Nggak sakit. Oke, sayang.”
Yuuji menatapnya.
Toge bisa mengenali tatapan itu di tempat mana pun. Itu adalah tatapan anak kecil yang tersesat di jalanan asing, tidak tahu apa yang dilakukannya, dan di saat bersamaan tidak gentar mencoba mencari arah pulang.
“Nggak sakit, kak... rasanya nggak sakit.. kakak harus percaya aku...”
“Iya, sayang. Aku percaya. Maaf ya, aku tadi asal ngomong doang. Ini mulut suka nakal kadang. Nggak usah didengerin, oke? Aku nggak tahu apa-apa, kalau kamu bilang nggak sakit berarti kamu yang bener.”
Toge tidak bisa membaca pikiran, tetapi di detik itu ia tahu yang dibutuhkan Yuuji lebih daripada celotehannya adalah pelukannya. Maka ia menarik pemudanya ke dalam dekapan, terbenam dalam aroma sendu Yuuji.
Aroma yang baru hari ini disadarinya membuncah di dalam Yuuji-nya.
Semenjak hari itu Toge membuat catatan observasi terhadap suasana hati Yuuji. Ia tahu Yuuji bisa mengandalkan bantal dan guling, juga selimut, mungkin; segala barang empuk, tetapi tidak ada yang tahu kapan bom perasaan negatif itu akan meledak dan membusukkannya dari dalam.
Atau barangkali Toge hanya memikirkan yang tidak-tidak.
Barangkali, seperti yang ditegaskan Yuuji padanya, menggigit memang metode Yuuji melepas lelah. Lagipula setiap orang punya caranya masing-masing. Barangkali itu yang mempan di Yuuji. Barangkali.
“Hai manis, gimana nih perkembangan kerja kelompoknya?” sapa Toge di suatu sore berangin, membukakan pintu pada Yuuji yang langsung menghambur masuk.
Tasnya dibanting ke lantai, Yuuji berderap ke arah kulkas, mengambil minuman kaleng.
“Nggak seru. Nyebelin.” Ia cemberut, membuka tutup kaleng dengan tenaga berlebih. “Oh ya, hai juga, kak.”
“Rada telat ya salamnya.”
“Hehe. Yang penting dibales.”
“Hmm. Iya aja deh buat kamu.”
Yuuji menyeka mulut. Minuman sodanya yang baru setengah ditenggak ditaruh begitu saja di lantai, bersebelahan dengan tas yang terbengkalai. Ia merangkak menghampiri Toge, yang duduk bersila di seberangnya; alis naik dalam tanda tanya besar.
Saat mendudukkan diri di pangkuan Toge, semua frustasi dan perasaan negatif Yuuji langsung berseluncuran keluar bersamaan monolognya, “Sumpah, kak. Ini benar-benar nyebelin banget. Aku tadi rada telat datang, kira-kira sepuluh menitan, tapi selama ngebahas tugas itu aku seakan nggak dianggep di situ. Padahal ya kak, aku telat juga gara-gara ngeprint-in bagian aku yang mereka baru kasih tahu pas aku lagi di jalan.”
“Wah, iya. Parah itu, sayang. Kenapa mereka nggak kasih tahu kamunya dari jauh-jauh hari, coba?”
“Iya, kan? Ngeselin banget. Bete kuadrat. Mau marah.”
“Ya marah, dong. Nanti kalau ditahan dada kamu bisa sumpek, nggak enak.”
“Yang jadi masalah tuh marahnya ke siapa...”
“Ke aku aja sini. Biar legaan.”
“Mana bisa...”
Setelah tidak ada lagi balasan dari Toge Yuuji melesakkan muka di dada kekasihnya, mengirup aroma perpaduan jeruk bergamot dan anggur hitam yang sudah akrab di penciumannya.
“Omong-omong, aku baru pesan sushi, lho. Kamu lapar, nggak?”
“Sushi! Aku tadi mampir sebentar di toko kue sih, buat beli roti pandan. Tapi kayaknya perut aku nggak akan puas cuma diganjal roti. Kita udah lama nggak pesan antar juga, kan?” komentar Yuuji penuh animo, tangannya menemukan tempat adekuat di dalam rimbun rambut Toge. “Oh ya, kak. This might be random, but...”
“Hmm?”
“Can we do the usual? Pretty please..? I can’t bear it any longer.”
Sesaat Toge tampak tidak tahu apa yang dimaksudkan Yuuji, tetapi sejurus berikutnya ia melonggarkan kerah pakaiannya. “Mau di sini?”
Terakhir Yuuji melakukannya di tangannya. Pergelangan tangannya. Terus terang saja Toge tidak merasakan sakit. Kekasihnya memastikan ia tidak menggunakan tenaga sama sekali, giginya hanya menggores kulit Toge dalam cara tentatif, penuh apresiasi karena telah diberi kesempatan.
Selama itu Toge berpikir bagaimana jika posisinya dibalik. Bagaimanapun, ia ingin menanamkam pemahaman bahwa tujuan gigit-menggigit ini semata-mata untuk kenikmatan, bukan sebaliknya. Sejauh ini kelihatannya itu berhasil. Yuuji sudah jarang terlihat dengan warni gelap di tubuhnya yang membuat Toge gusar.
(Dan ya, dia biasanya menggunakan waktunya selama mungkin, seteliti mungkin untuk mengecek satu per satu tiap jengkal tubuh Yuuji. Tentu saja semua dilakukannya setelah menghabiskan durasi yang variatif memadu kasih dengan pemuda itu.)
“Mau..”
Maka Yuuji memancangkan bibir di perpotongan bahu Toge. Lidahnya yang banyak bergerak, mengulum dan mengecap; suara yang dihasilkannya terlalu sensual bagi telinga yang belum akrab terhadap itu semua. Sementara itu Toge menggumamkan lagu pengantar tidur, tidak peduli nadanya sumbang di beberapa bait, tangannya membelai tengkuk Yuuji dalam aksinya menyemangati.
Ketika berikutnya gigi Yuuji terbenam di spot yang sebelumnya ia habiskan waktu mengulum berulang-ulang, Toge sudah menyanyikan lagu pengantar tidur sebanyak tiga kali. Atau lebih. Ia tidak menghitung.
Toge masih belum melepaskan tangannya dari Yuuji, membelai dan terus membelai, tersenyum merasakan bulu roma yang lebih muda berdiri; unjuk gigi.
“I’m sorry I put you through so much hassle.” Suara Yuuji datang seolah dari dimensi nun jauh, kecil dan tidak bertenaga. Toge tidak bisa membiarkan suara itu kian surut. Takutnya jika itu terjadi ia tidak akan mendengarnya lagi, setidak masuk akal apa pun ketakutan itu.
“If what you’re referring by hassle is this, you needn’t be, tiger.” Dengan telunjuk dan ibu jarinya Toge mengepit dagu Yuuji, mengangkatnya sedikit untuk mempertemukan pandang keduanya. Senyum samar bermain-main di bibirnya selagi Toge mempertimbangkan kalimat selanjutnya, “Can’t you see I'm relishing every second of it?”
“Oh...” Yuuji seperti baru pertama kali melihat Toge. Atau pertama kali melihat versi Toge yang bukan hanya hidup dalam kepalanya. “Do you- do you, perhaps, like getting bitten?”
“Only by you. But if that doesn’t strike you as reasonable, then yes. Let’s just say that I’m keen on this biting act.”
Memproses itu semua tampaknya bukan hal yang mudah bagi Yuuji. Hidungnya mengernyit, ia tidak bersuara untuk waktu lama. Dan ketika ia akhirnya buka mulut Yuuji tidak bisa merangkai frasa yang lebih panjang dan terstruktur selain ‘Oh, oke’.
Kerincing lonceng mengejutkan keduanya. Toge adalah yang pertama mengembalikan ketenangannya. Berdiri, ia menaruh tangan di puncak kepala Yuuji. “Kamu ke ruang makan, gih. Aku yang ambil sushi-nya.”
Selepas menata sushi di meja makan (dan menyiapkan teh lemon yang kebetulan masih sisa setengah di dalam kulkas), keduanya mengempaskan bokong ke kursi. Toge bukan hanya memesan menu untuk masing-masing orang, dia membeli lebih dari tiga variasi sushi yang bahkan dirinya sendiri belum pernah cicip.
“Banyak banget, kak...” Pandangan Yuuji tersebar ke tiap sudut meja makan, berloncatan dari satu sushi yang sudah ditempatkan di piring kecil ke sushi lain yang tak kalah menggoda. “Jadi bingung mau mulai dari mana.”
“Kalau bingung makan aku aja dulu. Sushi-nya bisa belakangan. Anggap aja hidangan penutup.”
Toge tidak melewatkan rona merah yang lambat laun menjalari bongkah pipi kekasihnya, tidak peduli sudah berapa kali mereka memadu kasih bersama. Yuuji melayangkan pukul pelan ke lengan Toge—butuh usaha keras karena mereka dipisahkan bentangan jarak di meja makan.
“Nggak usah aneh-aneh. Kita lagi mau makan.”
“Ampun. Bercanda, sayang.”
“Aku pukul lagi nih, kak.”
Toge mencondongkan badan maju, sedikit menyesali pilihan awalnya duduk berseberangan dengan Yuuji. “Boleh. Mau coba pakai bibir? Biar beda sensasinya.”
Rona merah itu bersemayam di sana, dan selagi Yuuji ikut mencondongkan tubuh pikiran Toge melayang pada bagaimana Yuuji menjilati petak bahunya, mengulum dan menggigit, menanggalkan tiap lapis kewarasannya dengan kinerja gigi dan lidah yang berputar-putar.
Yuuji menyentuhkan bibirnya ke bibir Toge, kemudian menjilat bibir atasnya (suatu aksi yang masih tidak Toge pahami apa tujuannya); setitik peluh terlihat mengalir turun ke leher jenjang. “Sama aja kok rasanya?”
Bisa dipastikan acara makan itu berlangsung khidmat, dengan Toge yang praktis panas dingin di dalam; otaknya tidak mampu mengoordinasikan gerakan tubuhnya dengan presisi biasanya.
Ia hendak menata piring dan gelas kotor, lantas menumpuknya di mesin cuci piring sewaktu Yuuji menghentikannya. Tangan itu, yang berisi dan menghimpun banyak daya, mencekal pergelangan tangannya; menahannya di tempat.
“Kak.. I hope you know, that... when I said I was sorry, I really meant it. I’m sorry to be the way I am, I really do.”
Rasa sakit yang tumpul menumpuk di dada Toge. Rupanya Yuuji masih belum bisa mengenyahkan topik rasa bersalah itu dari pikirannya.
Rasa bersalahnya karena mesti bertumpu pada Toge saat segala sesuatunya memburuk. Saat segala sesuatunya tidak dapat tertahankan lagi, di detik-detik menjelang keambrukan yang berdampak ke segala penjuru dari dirinya.
“Yuuji. Listen to me.” Inhalasi Toge terlihat seperti pengisi di sela-sela usahanya bertutur. Yuuji berusaha tampil kalem, walau ruas jemari tangan satunya memutih di balik meja; dan ia belum tahu kapan waktu yang tepat untuk melepaskan genggamannya. “Not even once I considered you a liability, or an impediment to my everyday life. As long as it’s you, I shall accept it with all my might. Each fibre of your being, even the ones you haven't yet shown me.”
Toge melepaskan tangan Yuuji darinya, menimang tangan itu di atas miliknya tanpa menurunkan pandangan. Ia melakukan sebisanya agar pesannya tersampaikan, dan ia harap Yuuji tidak teguh pada pendiriannya untuk berdiri sendiri.
Setidaknya ada beberapa tahapan dalam hidup yang bisa mereka lalui bersama.
Atau itulah yang Toge harapkan.
“Sesimpel itu?” Manik Yuuji sedikit digelapkan gundah. Ia tampak nyaris menangis, tetapi ia menegapkan badan; kepalanya diposisikan lurus.
“Sesimpel itu.” Toge meneguhkan. “Sayang, manisku. Kalau ada yang simpel masa kita malah cari yang ribet?”
Mulut Yuuji membuka, menutup, dan terbuka lagi. Ia sedang memikirkan balasan yang cerdas, dan karena tidak dapat menemukan apa pun selain melongo seperti anak kecil baru pertama kali diberitahu rahasia trik sulap, Yuuji berdiri. “Shall I help you with the platters?”
“Boleh. We’ll look more like newlyweds that way.”
Maka Toge memboyong kekasihnya ke dapur, memasukkan piring-piring ke mesin cuci, dan menatanya secepat kilat di para-para setelahnya; semuanya dilakukan bersama-sama selagi percakapan meresap dengan cara yang menenteramkan. Dan saat tidak ada lagi yang bisa diperbincangkan, namun keduanya masih ingin bersama-sama dalam lingkup dekat, Toge mengapit Yuuji di salah satu meja konter, menekankan bibirnya di leher Yuuji, mengirup gelagat nyaman dan gairahnya yang sedikit demi sedikit membukit.
“Aku sayang kamu, Yuuji. Sayang banget.” Ia menunggu Yuuji mengatakan sesuatu. Dua, tiga detik. Tidak ada apa-apa. Hanya sentuhan lembut di pinggangnya. “Kamu tahu, kan?”
“Tahu, kak. Mana mungkin nggak.”
“Mmm...” Bibirnya belum meninggalkan leher Yuuji, ia justru kian menenggelamkan dirinya dalam aroma manis menyegarkan yang menggelitik hidung. Apakah itu berasal dari sabun atau dari aroma natural kekasihnya? “Cuma pengen mastiin. Aku sayang banget sama kamu, tiger. Makanya... makanya aku juga butuh kamu ngelakuin hal yang sama.”
“Tapi kan udah? Aku juga sayang kakak. Memangnya kurang?”
Toge terkekeh mendengar kebingungan dalam intonasi kekasihnya. Seolah Yuuji tidak tahu ke mana pembicaraan ini mengarah. Mungkin memang tidak.
“Bukan ke aku. Ke diri kamu sendiri, tiger.”
Tubuh Yuuji berubah kaku, dan Toge bertanya-tanya apa caranya terlalu frontal; apa ia bahkan memikirkan cara yang tepat untuk memarani topik sesensitif ini.
“Is this still about me and my impulse to— because if it is, I’m not sure I even want to talk about tha—”
“Alright, if that’s your choice.”
“What?”
Dengan berat hati Toge menjauhkan diri. Aroma khas Yuuji masih menari-nari di depan hidungnya, mengundangnya kembali bermanja. Ia menahan diri. “Kalau kamu nggak mau ngomongin, kita nggak akan ngomongin itu. Kita baru akan diskusiin semuanya kalau kamu siap.”
“Gimana kalau aku nggak pernah siap...?”
“Gimana, ya. Coba kita balik, gimana kalau kamu siap lebih cepat dari yang kamu perkirakan?”
Yuuji menggigit bibir penuh pertimbangan. Terlalu keras, Toge ingin menegur. Jangan keras-keras.
“...Oke.”
“Oke?” Toge tidak ingin membiarkan harapannya melambung, tetapi bayangan senyum sudah hadir di paras datarnya.
“Aku bakal pikirin. Mungkin... mungkin nanti. Atau mungkin juga nggak pernah. Aku nggak tahu. Aku nggak bisa... nggak bisa janji— maaf, kak.”
Tak lama kemudian sepasang lengan Toge sudah menemukan jalannya melekapi tubuh Yuuji. Begitu alami. Seolah tujuannya diciptakan hanya untuk mendekap Yuuji dan tidak melepaskannya. “Don’t be. Thanks for giving it a shot, doll. I truly appreciate it.”
“No. Thank you for being with me, for everything that you do. Honestly I don’t even know what I can do without you.” Suara Yuuji sudah lebih tertata, ia membalas pelukan Toge erat. “Aku baru sadar, kenapa kita jadi klise gini, ya? Kayak pasangan di drakor.”
“Iya, ya.” Toge mengamini, menyukai pergeseran suasana hati Yuuji-nya. Dari sendu ke serius, dari serius ke jenaka. Ia suka semua. “Jangan sampai kita kalah dari mereka, tiger. Maksud aku, kita bisa kan lebih romantis lagi?”
“Ini udah cukup, kak.”
“Kamu nggak mau lebih-lebih lagi?”
“...Makasih, kak. Tapi nggak usah.”
“Nanti nyesel, lho?”
“Semoga aja engga. Kesempatannya nggak cuma sekali, kan?”
Dengan tangan saling terjalin keduanya meninggalkan dapur. Acara makan memang sudah berakhir, tetapi malam ini akan ada serial kesukaan keduanya yang tayang perdana setelah ditunda dua musim. Sama seperti gagasan menonton serial itu, Toge harap Yuuji akan sukarela meluapkan masalahnya, bom perasaan negatifnya; kepada Toge kelak.
Tidak peduli mesti menanti berapa musim, kelak suatu hari nanti, Toge harap keduanya akan duduk nyaman di depan TV, kaki berselonjor dan tangan saling remat satu sama lain; sembari satu per satu benang masalah mereka uraikan bersama.
