Actions

Work Header

Try Again Next Time

Summary:

In which Halilintar, Taufan, and Gempa try to woo Fang. But in the end, none of them succeed.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

.

.

.

Pertandingan hari itu berlangsung dengan seru. Walaupun hanya pertandingan antar kelas untuk pekan olahraga sekolah, itu sama sekali tidak menyurutkan antusiasme pemain maupun penonton.

“Ya, Halilintar mengoper pada Gempa dan Gempa menggiring melewati pertahanan kelas IPA 3, dan ah! Sayang sekali serangannya gagal. Tapi penyelamatan yang bagus oleh penjaga gawang IPA 3!” suara Ying yang bertugas sebagai komentator menggema di antara teriakan pendukung kedua belah pihak.

“Sekarang giliran pemain IPA 3 memulai, tampaknya mereka ingin langsung melakukan serangan. Yak, si kembar tiga mencoba menghadang.” Ying kembali mengomentari.

“Panggil kami dengan nama!” Taufan sempat-sempatnya berteriak protes ke arah Ying sembari masih saja berlari dengan cepat. Beruntung dia tidak menabrak siapa-siapa. Pemuda itu memelototi Ying dengan sebal, walaupun seharusnya ia sudah harus menerima kenyataan bahwa orang-orang akan memanggil mereka sebagai satu paket, tetap saja baginya menyebalkan.

“Kepanjangan!” balas Ying, ikut berteriak walaupun dia sudah memakai mikrofon.

Yaya yang duduk di sebelah Ying hanya menggelengkan kepala. Mereka berdua sebagai anggota OSIS tentu saja kebagian untuk mengawasi dan mengatur jalannya acara.

Ia merasakan seseorang berdiri di belakangnya.

“Ih, curang, masa beli minum sendiri saja!” Yaya berujar kesal pada Fang yang menyeruput teh dalam kemasan botol.

Fang menyeringai padanya, kemudian meminum kembali tehnya dengan sikap dilebih-lebihkan.

“Aahhh, enaknya panas-panas gini minum teh dingin,” sahutnya jahil.

Yaya memukul lengan pemuda itu dengan clipboard.

Fang tertawa kecil. “Sori, sori, aku beliin juga kok buat kalian.”

Pemuda itu meletakkan kantung plastik berisi beberapa air mineral dan teh kemasan gelas.

Thank you!” Yaya berseru antusias. Ia mengambil segelas untuknya.

“Sudah selesai pertandingan takraw kelas sepuluhnya?” Yaya bertanya pada Fang yang bertugas mengawasi pertandingan takraw.

“Udah. Kekuatannya pada nggak imbang, beberapa kelas lemah banget sampai kalahnya cepet banget,” jelas Fang menggelengkan kepala. Saking menyedihkannya pertandingan-pertandingan tersebut, semua yang bertugas mengawasi permainan terus-terusan menghela napas panjang.

Yaya tersenyum bersimpati. Ia melirik Ying yang masih fokus mengomentari pertandingan. Dengan gelengan kepala lembut ia mengambil segelas air mineral dan menyodorkannya pada Ying.

Gadis berkacamata tersebut tertegun menangkap apa yang tiba-tiba muncul di depannya. Menoleh pada Yaya dan Fang yang melambai sebagai sapaan.

Wajah Ying langsung cerah, cepat-cepat ia minum. Baru sadar betapa hausnya ia setelah setengah jam terus-terusan bicara.

“Makasih minumnya Fang!”

Seruannya yang seharusnya hanya ditujukan pada kedua temannya tersebut tanpa sengaja masih tertangkap oleh mikrofon.

Tiga sosok berhenti berlari di tengah lapangan. Kepala mereka serentak menoleh dan menjulurkan kepala ke arah suara Ying.

“Fang!” Taufan berteriak sangat kencang sampai terdengar jelas ke seluruh lapangan. Semua penonton menoleh ke arah kemana pemuda itu melambai.

Yaya, Ying, dan terutama Fang hanya bisa tersenyum canggung.

Lambaian Taufan berhenti, bukan karena keinginannya, tetapi Halilintar menurunkan paksa lengan saudaranya. Kemudian ia ikut menghadap ke tribun, mengangkat lidah topinya yang menutupi kening dan tersenyum ke arah Fang. Sama sekali tidak mempertimbangkan apakah senyuman yang ia latih sehingga sekeren mungkin—pendapat pribadinya tentu—itu terlihat atau tidak dengan jarak sejauh itu.

Taufan memukul topi Halilintar sehingga saudaranya tersebut terkejut. Halilintar memelototinya dengan tajam. Dan di samping keributan dua saudaranya, Gempa dengan kalem melambai pada Fang.

Yaya dan Ying menyumpal mulut dengan telapak tangan agar tidak tertawa terbahak-bahak. Fang memutar mata dan membalas lambaian mereka kemudian membuat isyarat mengusir.

Gopal yang menonton semua itu dari depan gawang berkacak pinggang. “Dei! Fokuslah! Kita masih tanding!”

Ying berdehem, mengambil mikrofonnya. “Bagi pemain dari kelas IPA 2 tolong stop tebar pesona. Pertandingan kita mesti dilanjut.”

Beberapa penonton tertawa mendengar ucapannya. Ketiga orang yang disinggung menatap Ying misuh-misuh.

Ketiganya menuruti kata-kata Ying dan protesan Gopal, namun setiap beberapa menit sekali akan menolehkan wajah ke satu titik di tribun.

“Ah, Taufan menembus bek lawan dan… Gol! Satu poin untuk kelas IPA 2!” Ying mengangkat tinjunya dengan antusias. Semua penontonpun juga bersorak penuh semangat. Yaya dan Fang bertepuk tangan ikut terbawa suasana.

Taufan berlari dengan raut senang. Beberapa rekan setimnya menepuk pundaknya sebagai pujian. Kemudian pemuda itu berhenti dan menunjuk ke arah tribun.

“Tadi itu gol buat kamu Fang!” teriak pemuda tersebut tanpa malu. Menimbulkan seruan kehebohan dan jahil dari semua penonton dan juga tak lupa serangan saudara-saudaranya yang kesal. Halilintar dan Gempa langsung melakukan pergumulan ringan dengan Taufan.

“Oi, sesekali berdedikasinya untuk kelas kek, bukannya gebetan!” Ying dan Yaya kompak membalas sembari tertawa. Fang menutup wajah dengan clipboard milik Yaya.

Setelah selebrasi yang terlalu lama itu, pertandingan kembali di lanjutkan. Namun karena tindakan Taufan tadi, kini tersulut semangat kompetitif di benak dua pemuda lainnya.

Sekarang ketiga pemuda itu berusaha mati-matian hanya fokus melakukan serangan. Dan juga tidak membiarkan yang lainnya merebut kesempatan menghasilkan gol kedua yang jelas akan didedikasikan lagi kepada Fang.

“Dei! Kalian itu satu tim lah!” Gopal berseru dengan kesal dari gawang memperhatikan sekali lagi Halilintar dan Taufan yang berebut bola.

Ying menepuk jidatnya, jengah dengan sikap kekanakan teman-temannya. Kemudian gadis itu menoleh pada Fang.

“Ini salahmu Fang, tuh mereka malah tujuannya pengen pamer bukannya tanding.”

“Eh, bisa-bisanya masih ngomong begitu sesudah aku traktir minum?” balas Fang mendelik pada Ying.

Yaya memutar bola mata. Sesekali tingkah ketiga pemuda itu dalam menarik perhatian Fang memang lucu, tapi adakalanya bikin jengah. Gadis itu mengambil mikrofon dari tangan Ying.

“Kalian kalau masih main-main bakalan dikasih kartu merah dan dikeluarkan dari lapangan,” ucap gadis itu dengan serius.

Ketiga orang yang tengah berebut bola tersebut langsung diam. Mereka saling lirik dan menyadari kalau Yaya bisa saja habis kesabaran dan benar-benar mengusir mereka, tak peduli bahwa gadis tersebut bukanlah wasit dari pertandingan ini.

Dengan kalem Halilintar dan Gempa mengambil langkah menjauh. Taufan menggiring bola pelan sebelum mengoper pada teman setimnya yang lain.

Yaya menggelengkan kepala pelan dan kembali menyerahkan mikrofon pada Ying. Fang melemparnya dengan senyum berterimakasih, Yaya balas dengan senyum simpul pertanda dia maklum.

Toh, memang buka hal baru lagi bagi dia dan teman-teman sekelasnya terhadap kelakuan si kembar tiga yang selalu bersaing untuk mendapatkan perhatian Fang. Dan akhir-akhir ini mulai menyebar diketahui oleh murid-murid lainnya, karena Fang yang termasuk anggota OSIS tentu saja harus banyak tampil di depan umum saat acara-acara sekolah, dan ketiga pemuda tersebut memang tidak tahu malu, tak peduli waktu dan tempat untuk menunjukkan kelakukan konyol hanya agar Fang melihat mereka.

Beberapa kelakuan mereka memang lucu, tapi sesekali memang malu-maluin juga. Yaya dan Ying sampai dibuat tak sanggup mengakui mereka berteman dengan ketiga pemuda itu.

Di lain kesempatan, yang bahkan tampak seperti hari-hari biasa, saat Yaya, Ying, Fang, dan Gopal telah berkumpul di kantin. Para gadis duduk berdampingan, berseberangan dengan Gopal dan Fang. Mempertanyakan hilang mendadaknya tiga personil geng mereka di saat bel istirahat berbunyi.

Taufan muncul sama mendadaknya dengan kehilangannya. Duduk di sebelah Ying sehingga ia langsung menghadap Fang yang mengangkat sebelah alis akan cengiran lebarnya.

Dengan sikap percaya diri ia meletakkan sebuket kecil bunga.

Ketiga temannya menatap heran barang yang ia letakkan ke atas meja.

“Ini buat apa?” tanya Fang dengan kening berkerut.

“Buat kamu,” jawab Taufan.

Fang menggeleng gemas. “Maksudku itu ada apa kau bawa-bawa bunga segala?” ini bukan hari Valentine dan masih beberapa minggu sampai ulang tahunnya. Tidak ada alasan pemuda tersebut menghadiahi bunga.

“Lho, memang nggak boleh aku ngasih bunga karena kepengen bikin kamu senang aja?” balas Taufan santai.

Yaya dan Ying memutar bola mata akan gombalannya.

“Tau darimana kau kalau itu bakalan bikin Fang senang?” cetus Ying.

“Lho, kan biasanya orang-orang memang senang dikasih bunga begitu, romantis kan?”

“Aku sih nggak,” sela Gopal.

“Kubilang orang pada normalnya, kau mah bukan,” cela Taufan pada sahabatnya.

Gopal melotot pada pemuda itu. Bisa-bisanya dia dikatai tidak normal oleh orang tidak waras macam ini.

“Kau salah, yang bikin Fang paling senang itu ya donat lobak merah.” Tiba-tiba Halilintar sudah berdiri di belakang mereka. Menggeser Taufan dan pemuda itu menyelipkan dirinya di antara Taufan dan Ying.

“Hoi, bangkunya jadi sempit lho,” tukas Yaya yang semakin mendekati ujung bangku kantin.

Tapi Halilintar sama sekali tidak mengindahkan protes temannya maupun gerutuan saudaranya. Dengan sikap pongah ia meletakkan satu kotak donat lobak merah ke hadapan Fang.

Fang memutar bola mata, tapi tangannya tetap antusias menjangkau donat.

“Pakai donat lobak merah sih curang!” desis Taufan melotot pada Halilintar.

“Apanya yang curang, aku ini tuh perhatian.”

“Kau masih kurang perhatian,” suara tenang Gempa menyela Taufan yang hendak membalas ucapan Halilintar.

Dan walaupun masih memasang senyum kalem, pemuda itu mendorong kedua saudaranya sehingga sepenuhnya menyingkir dari bangku. Ia duduk dengan tenang, meletakkan sekotak susu cokelat.

“Kalau cuman makan kan bisa keselek, seharusnya sekalian kau belikan minum.” Gempa menoleh pada kedua saudaranya dengan senyum penuh kemenangan.

Halilintar menendang betis Gempa dan Taufan memukul topi Gempa. Pemuda itu meringis kesakitan.

“Jangan suruh kami geser-geser lagi,” sahut Ying ketika ketiganya berhenti menghukum Gempa.

“Ya udah, aku duduknya sebelah Fang aja, yuhuuu~” seru Taufan ceria langsung melompat ke arah bangku Fang, namun sebelum mendarat dia langsung tertarik mundur. Kerahnya dicekal oleh dua tangan.

“Enak saja!” ketus Gempa dan Halilintar berbarengan, sama sekali tidak kasihan pada Taufan yang hampir tercekik.

“Woi! Lepasin!” Taufan berusaha lepas dari cengkeraman saudaranya. Dan ketiganya berakhir bergumul memperebutkan tempat di sebelah Fang.

Fang beringsut sedikit, menjauhkan diri dari pergulatan ketiga saudara itu sembari tetap mengunyah donatnya. Yaya dan Ying diam-diam mencomot donat milik Fang kemudian beralih pada Gopal yang sudah lebih dulu memanggil penjual nasi goreng.

Kadang kau tidak punya pilihan selain harus terbiasa dengan kelakuan sahabat-sahabatmu. Tidak peduli sekonyol apapun.

.

.

.

Belanja bersama dengan semua sahabat-sahabat mereka biasanya adalah aktivitas yang menyenangkan. tapi kalau tiga orang paling sinting di grup itu lagi kumat, Yaya dan Ying sering dibuat menyesal.

“Fang, baju yang ini bagus! Pasti cocok denganmu.” Taufan menyodorkan sebuah sweater berwarna pastel kearah Fang.

Fang mengernyitkan dahi. Pemuda itu tidak sering memakai baju berwarna terang, melulunya hanya memakai yang warna gelap.

“Kayaknya nggak bakalan cocok sama styleku deh,” ujarnya mendorong tangan Taufan menjauh.

“Cocok kok! Sesekali kamu bisa coba style baru, buat pergantian suasana.” Taufan berusaha meyakinkan Fang.

“Fang, yang ini lebih keren! Coba deh!” kini giliran Halilintar yang menyudutkan Fang dengan jaket denim dan kaus bermotif loreng sebagai pelengkapnya.

Sebelum Fang mulai berkomentar, Gempa ikut menyodorkannya sebuah pakaian. Sebuah trench coat berwarna krem dengan sweater turtleneck hitam.

“Nggak! Fang harusnya coba style yang cute begini!”

“Nggak, lebih cocok style cool kayak ini untuk Fang!”

“Fang lebih suka gaya stylish seperti ini!”

Yaya dan Ying hanya memutar bola mata. Ketiganya sedang berlomba siapa yang bisa memilihkan baju yang paling cocok dan disukai Fang, tapi mereka malah hanya memilih style yang mereka sukai sendiri. Ingin bersimpati dengan Fang yang kini kesusahan karena disudutkan tapi juga tak mau terlibat dengan keributan itu. Jadi mereka tetap berdiri beberapa meter dari empat pemuda tersebut sembari masih memindai gaun-gaun yang digantung. Gopal berdiri di samping mereka dengan pandangan jengah.

“Berani taruhan bentar lagi Fang ngamuk,” ucap Gopal.

“Dan berani taruhan Fang pasti bakalan milih stylenya yang biasa,” cetus Ying.

Dan benar saja.

“Diam ah!” Fang mengibaskan ketiga tangan pemuda itu dengan wajah kesal. “Aku bisa pilih pakaianku sendiri,” lanjutnya dengan nada bersungut-sungut dan pergi meninggalkan tiga pemuda yang tampak patah hati itu, tak lama kembali dengan kaus hitam tanpa lengan dan jaket berwarna violet gelap.

“Tuh, kan,” sahut Ying.

Tiga bersaudara itu masih merengek kecil, mengeluh pada Fang. Untungnya mereka cepat menyerah juga dan acara belanja bersama bisa berlanjut lagi.

.

.

.

Gopal menatap lekat-lekat dan penuh rasa ingin pada sebuah kue cokelat bundar di depannya. Tangannya menjulur ingin setidaknya mencolek krim yang menghiasi kue tersebut namun sudah lebih dulu tangannya dipukul oleh Ying. Gadis itu mendelik galak padanya.

“Ish, kau ini. Itu kan kue untuk Fang,” omelnya.

Gopal mengerucutkan bibir. “Yah habis, masa pesan minum aja nggak boleh. Gimanalah aku tahan godaan kuenya,” kelus pemuda itu.

“Makannya harus sama-sama dong,” timpal Yaya yang sedang membantu Tok Aba mengeluarkan satu set piring-piring kecil dan garpu kue. “Toh, sebentar lagi Fang juga bakalan datang.”

“Kau tak sabar betul,” ledek Tok Aba. Tangan orang tua itu sibuk membuat cokelat kocok dibantu ketiga cucunya.

“Tuh, dia datang.” Ying melambai pada Fang yang berjalan mendekati Kokotiam, di sebelahnya ada Abangnya.

Keduanya duduk di konter Kokotiam. Tok Aba yang sudah menyelesaikan semua cokelat kocoknya berdiri di haddapan Fang. Kakek itu tersenyum.

“Selamat Ulang Tahun ya Fang.”

Fang balas tersenyum. “Terima kasih banyak Tok,” ucapnya tulus.

Tok Aba memang sangat bermurah hati, selalu memperbolehkan sahabat-sahabat cucunya untuk merayakan ulang tahun di kedainya. Tak sekedar itu, tapi pria itu juga menyediakan kue dan minuman untuk mereka semua. Lima kali dalam setahun ia berbaik hati menyediakan perayaan kecil-kecilan untuk remaja-remaja itu.

Mereka semua mengucapkan selamat pada Fang, memulai acara tiup lilin dan potong kue dilanjutkan mengobrol sembari tertawa.

“Oh ya, ini kado dariku,” sahut Yaya mengeluarkan sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan bungkus kado berwarna merah.

Thank you Yaya,” sahut Fang, langsung membuka bungkus kadonya. Sesuatu yang biasa mereka lakukan. Sebuah tas kecil yang biasa dipakai di pinggang.

“Eh, dariku juga dong.” Ying menyodorkan miliknya. Sebuah kotak yang tak terlalu besar tapi cukup terasa beratnya.

Fang membukanya dan mengeluarkan sebuah mug hitam dengan hiasan berupa rasi-rasi bintang.

“Keren. Thanks Ying!” seru Fang mengagumi mug barunya.

Ying balas tersenyum kemudian meliri pemuda di sebelahnya yang sibuk melahap kue. Gopal yang merasa diberi tatapan menusuk itu segera sadar. Cepat-cepat meraih tasnya dan mengeluarkan kado miliknya.

“Ah, nah dariku,” ucapnya menggeser hadiahnya ke depan Fang.

Fang membuka sampul kertas dan menemukan bungkus kertas lainnya. Pemuda itu memberikan tatapan jengkel pada Gopal yang sudah tertawa senang. Sekali lagi Fang merobek kertas pembungkus, dan sekali lagi melihat kertas lain.

Semuanya tersenyum geli, termasuk abangnya yang sudut bibirnya naik sedikit.

Fang meremas kertas yang sudah terobek menjadi bola dan melemparnya ke kepala Gopal dengan perasaan kesal. Pemuda itu adalah orang yang malas, tetapi kalau urusan menjahili, dia akan mengeluarkan usaha maksimal.

Total ada tujuh belas lapisan kertas bungkus kado. Menyesuaikan dengan umurnya. Tak peduli maknanya lumayan, kesabaran Fang dibuat habis disetiap kali ia merobek lapisan pembungkus itu.

Gopal memberikannya sebuah komik cerita horor. Dan walaupun biasanya selera Gopal patut dipertanyakan, tapi komik yang satu ini tampaknya lumayan.

“Sekarang giliran kalian,” sahut Yaya menoleh pada tiga bersaudara yang tampaknya sudah tak sabar ingin memberikan hadiah mereka.

Karena ketiganya menyahut ingin lebih dulu memberikan hadiah milik masing-masing, ketiganya hompimpah terlebih dahulu.

Taufan yang pertama menang.

Tapi alih-alih mengeluarkan kado, ia malah membuka laci konter dan mengeluarkan sebuah pring dengan makanan yang telah tertata di atasnya. Potongan ayam yang dimasak dalam saus yang sangat creamy.

“Coba deh Fang!” sahutnya bersemangat.

Fang mengangkat alis heran tetapi tetap menuruti dan menyendok sepotong daging ayam.

“Gimana? Enak?”

Fang mengangguk. “Enak.”

“Apa cukup enak sampai kau kepengen nikah denganku?” tanya Taufan lanjut disertai cengiran.

Untuk sesaat semuanya terdiam. Fang tersedak.

“Hah? Maksudnya?” tukas Fang setelah cepat-cepat minum es cokelatnya.

Taufan tetap hanya nyengir.

“Itu Marry Me Chicken ya?” sahut Yaya. Sesuatu yang dia ingat pernah ia lihat di media sosial.

“Hehehe, iya.”

Fang mendengus. “Kau iseng banget sih.”

“Eh, pertanyaanku serius lho.”

Semuanya mengabaikan pemuda itu, selain karena Halilintar sudah mendorong Taufan enyah dari hadapan Fang.

“Dariku,” sahut pemuda itu memberikan kotak berbentuk persegi panjang.

Fang membuka kotaknya dan mengedipkan mata. Sedikit terkejut mendapati sebilah pisau ada di dalamnya, di samping pisau itu juga ada sarungnya. Fang terpaku menatap pisau yang harus diakui sangat bagus tersebut. Bilahnya ramping dan mengkilat. Pegangannya berwarna hitam dengan ukiran keperakan, tampak elegan dibanding pisau-pisau biasa yang pernah Fang lihat. Sarungnya sendiri berwarna cokelat gelap dengan ukiran warna hitam mengelilingi pangkalnya.

“Kenapa kau kasih hadiah pisau?” Gopal yang pertama bertanya. Semua memandang ke arah Halilintar dengan penasaran.

“Pisau itu namanya Puuko,” sahut pemuda itu. Ia meraih sarung pisaunya dan meletlakkannya ke tangan Fang, masih bingung tetapi memegang sarung pisau itu.  Selanjutnya Halilintar meraih pisaunya dan memasangnya ke sarung tersebut.

“Nah terus?” Kaizo mengangkat sebelah alis, menatap sanksi pisau di tangan adiknya.

Puuko itu sebutan pisau dari Finlandia. Pada abad sembilan belas dulu mereka punya tradisi bagi perempuan yang lajang untuk punya sarung pisau, dan laki-laki yang tertarik untuk melamarnya akan memasukkan pisau mereka ke dalam sarung itu.” Ying mendadak menjelaskan mendahului Halilintar.

“Kok kau tahu?” tanya Gopal dengan mata membulat heran pada Ying.

“Hehehe, aku cari di google,” sahut Ying nyengir lebar sambil memperlihatkan ponselnya. Gopal batal kagum.

Fang menggelengkan kepala. Sedikit geli dengan ide Halilintar.

“Hadiahmu itu ngeri tapi thanks, pisaunya cantik,” sahut Fang jujur. Halilintar tersenyum bangga.

“Muka songongmu nyebelin,” sahut Taufan bersungut dan mendorong Halilintar.

“Muka kita itu mirip, bodoh!” balas Halilintar kesal.

Gempa mengambil kesempatan tersebut untuk mendekati Fang. Ia menyerahkan sebuah paper bag yang amat mungil. Fang membukanya karena sangat pensaran. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, tertegun dan membukanya. Ternyata pikirannya benar, di dalam kotak hitam itu ada sebuah cincin.

Cincin dengan warna perak berhias beberapa ukiran sederhana naga berkilap keunguan mengelilinginya.

Gempa meraih tangan Fang dan memasangkannya ke jari manis kanan Fang. Tersenyum kalem pada raut terkejut Fang dan pada pelototan saudara-saudaranya. Namun ia tetap mengalihkan pandangan menghindari tatapan super tajam Kaizo.

“Untung cocok ya… Besok-besok bisa kubeliin nih buat cincin di tangan kiri,” sahutnya nyengir pada wajah Fang yang mulai bersemu.

“Kau!” Taufan dan Halilintar langsung melompat dan memukuli Gempa.

“Oi!” Gempa berteriak kewalahan melindungi diri dari serangan keduanya.

Setelah mereka puas ribut, ketiganya berkumpul di depan Fang, mencondongkan tubuh dari seberang meja sehingga Fang terpaksa harus memundurkan punggung.

“Jadi hadiah siapa yang paling hebat?” tanya ketiganya.

“Aduh, mereka ini. Masih sempat-sempatnya bersaing,” sahut Ying dengan gelengan tak percaya.

“Ah, malah memang karena ini ultahnya Fang mereka tambah ingin pamer,” cetus Gopal menyeruput cokelat kocoknya.

Fang tampak bingung diberi tekanan tiba-tiba begitu. Matanya bergantian  beralih-alih memandang hadiah ketiga bersaudara itu.

“Eh, tunggu, kita belum selesai tahu,” sela Yaya. Ketiganya menatap gadis itu bingung, sedangkan sang gadis berkerudung tersebut malah melirik pada Kaizo.

Kaizo menaikkan sebelah alisnya. Tapi dengan tenang dan tanpa berkata-kata ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Fang memandang abangnya dengan ingin tahu.

Kaizo mengeluarkan apa yang tampak seperti kartu ucapan dan menyerahkannya ke tangan Fang.

“Serius? Cuman kartu ucapan selamat?” bisik Gopal dengan nada tak percaya, namun bisikkannya itu masih saja cukup berisik.

“Hush,” tegus Ying sambil menyikut temannya tersebut.

Fang melirik abangnya dengan bingung sekilas lalu membuka lipatan kartu tersebut. Terdengar peuda itu menarik napas tajam.

Di dalamnya tertempel dua buah tiket. Satu adalah tiket konser dari band favoritnya dan satu adalah tiket bioskop.

Fang mendongak dengan cepat pada abangnya yang hanya tersenyum samar.

“Bagaimana kalau kita menonton konser band yang kau suka sekali itu, lalu pulangnya menonton film yang kau bilang sudah lama ingin kau tonton, dan habis itu kita ke restoran Jepang kesukaanmu untuk makan malamnya. Mau?”

“Mau banget!” seru Fang bersemangat. Matanya berbinar, itu adalah ekspresi paling antusiasnya seharian ini.

‘Itu kedengerannya kayak kencan!’ batin ketiga bersaudara itu, ingin gigit jari karena kesal.

Ying tersenyum miring. “Jadi, mana hadiah yang paling kau suka Fang?”

Fang tersenyum lebar dan menjulurkan kartu yang ada di tangannya. “Dari Abang.”

Yaya dan Gopal tertawa memandangi tampang merana tiga sahabat mereka.

“Silahkan coba lagi tahun depan,” ucap Yaya yang hanya disahuti erangan lesu.

.

.

.

Notes:

A/N:
Happy Birthday Fang! :D

Ini dibuat dari acara perayaan ulang tahun Fang yang diadain oleh grup discordnya Valky-san. Hehe… lama banget aku nyari idenya apaan. Tapi emang kepengennya bikin fluff yang fun begini sih.

Marry me chicken itu aku dapet idenya pas lagi nonton fun-staurant. Pisau itu dari fanfic-fanfic yang pernah ku baca. Untuk cincin itu aku kepengennya pake cincin yang disebut claddagh, cincin lamaran khas Irlandia. Tapi aku ngerasa desainnya nggak bakalan cocok sama Fang dan gantiinya aku nyari nyomot desain cincin dari pinterest.

Dan kenapa Kaizo ngasih tiket konser? Karena aku lagi nangisin nggak bisa datangin turnya Super Beaver (Kayak pernah aja :’v ngimpi selamanya itu bisa ke konser mereka).

Yak, segitu dulu. Semoga pada suka ^^. Jumpa di lain fic.
XOXO
Ai19