Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-04-15
Words:
3,181
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
60
Bookmarks:
4
Hits:
585

Taste of Love

Summary:

Tentang Doyoung dan Jaehyun yang terjebak didalam hubungan husbro. Yup, mereka terlalu bros untuk disebut husbands, tapi terlalu husbands buat disebut bros.

Notes:

Prompt #22

Writer: Bucin doie

Work Text:

Taste of Love

 


 

Episode: The Jealousy between us already gone

 

"Jaehyuuuun banguuuuun" Suara Doyoung menggelegar ke seluruh ruangan, namun tak mengusik sedikitpun seseorang bersurai cokelat yang bergelung nyenyak di dalam selimut.

"Jaehyun bangun dooong, broo!" Doyoung menggelengkan kepala, mengambil bantal dan memukulkannya berkali-kali ke arah Jaehyun, suaminya "Lo udah janji mau nemenin gue ke pameran buku balai kota!".

"Aduuuh apa sih Doyouung" Ucap Jaehyun dengan malas "Lo tuh gausah gangguin gue. Gue baru tidur jam 2 pagi ngerender proyek klien".

"Ih males banget deh! Lo udah janji kan nemenin gue!" Protes Doyoung kesal.

"Iya waktu itu janjinya pas gue belum begadang ngerender proyek klien sampe jam 2 pagi" Jaehyun kembali menarik selimutnya "Ah iya, lagian gue ada meeting sama klien jam 12 siang. Udah deh ya jangan ganggu tidur gue".

"Gabisa gitu!" Doyoung membuka selimut Jaehyun "Terus gue pergi sama siapa dong?!".

"Dude please, lo ngomong gitu kayak gak punya temen aja! Ajak aja Ten kek, Kun kek. Ini mata udah gabisa melek ini beneran, diajak ciuman aja tetap gak bangun! Dahlah, bye good morning!" Jaehyun menyerocos kemudian kembali tidur.

Doyoung menghela nafasnya dalam "Mana ada orang ngucapin good morning terus tidur!".

"Jaehyun!" Doyoung menepuk paha Jaehyun dibalik selimut yang tentu saja tidak berhasil membangunkan Jaehyun.

 

Doyoung mendekatkan tubuhnya kearah Jaehyun yang mulai mendengkur, ah , sepertinya suaminya ini memang baru tidur pukul dua pagi. Namun ia tidak bergeming, Jaehyun harus bangun untuk menemaninya ke pameran buku!

Cups-

"Aaaaahhh " Jaehyun membuka matanya setelah Doyoung mencium bibirnya singkat "Curang!".

Doyoung mendecih "Katanya nggak bangun kalo dicium".

"Iya ini gue belum bangun kan, baru melek" Kata Jaehyun kemudian tertawa "Kalau dicium dua kali baru bangun".

Doyoung memicingkan matanya sambil turun dari kasur "Kalo dicium dua kali bukan cuma lo yang bangun tapi titit lo juga bangun" Ucapnya melempar bantal "Buruan mandi!".

 

---

 

Jika ada yang tanya apa hubungan Jaehyun dan Doyoung, ya... mereka pasangan suami-suami. Sah dan sudah 7 tahun menikah!

Jika ada yang tanya bagaimana mereka bisa menikah, ya... begini singkat ceritanya.

Jaehyun dan Doyoung telah bersahabat lebih dari 10 tahun. Mulai dari masa SMA, kuliah sampai mendapatkan pekerjaan tetap yang stabil mereka habiskan bersama. Ya, bersahabat saja. Kemudian diusia mereka yang mulai mendekati kepala 3, keduanya kelimpungan karena dipaksa sana sini untuk segera menikah.

Merasa senasib seperjuangan, keduanya memutuskan menikah. Ya, begitu saja.

Jika ada yang tanya apakah keduanya saling mencintai, ya... itu urusan mereka bukan? Coba baca saja, kisah ini sampai akhir.

 

"Bro, gue gak bohong soal gue ada meeting jam 12 sama klien" Ucap Jaehyun yang sedang membawa keranjang berisi belasan buku yang dipilih Doyoung untuk dibeli.

Doyoung mengangguk sambil membaca ringkasan buku yang ia ambil dari rak ekonomi "Iya, ntar kita cari cafe deket sini. Meeting by zoom kan?".

"Udah doong, ini udah banyak banget lo mau ngerampok apa gimana?" Tanya Jaehyun, enggan melihat buku-buku disini yang menurutnya membosankan. Ia bahkan hanya mengambil dua buah Skecth book demi kelancaran pekerjaannya sebagai arsitek.

Doyoung memasukkan buku di tangannya ke keranjang yang dibawa Jaehyun "Yaelah. Lagian lo habis menang proyek yang kemarin kan? Bayarin dong broo".

"Dude, you're actually a lecturer kalo lo lupa. Gaji lo juga gede!" Protes Jaehyun.

"Yaelah pelit amat sama suami sendiri" Doyoung mencibir.

Jaehyun mendelik "Eh gue gak pernah pelit ya sama lo cuman lo tuh emang selal-"

 

"Doyoung?"

Ucapan Jaehyun berhenti saat seseorang menyapa suaminya ditengan pameran buku.

"Anda Kim Doyoung kan? Alumni FEB NCIT? Ketua BEM 2014?" Tanya orang itu memastikan.

Doyoung memandang orang itu sejenak "I-iya? Siapa ya?".

"Ah, Saya Lee Taeyong" Ucapnya mengulurkan tangan "Saya anggota BEM 2014 juga, tapi baru sebulan masuk saya harus exchange ke Jepang".

"Oh!" Doyoung menjabat tangan Taeyong karena mengingatnya "Iya, iya inget! Yang dulu itu ya...".

"Saya dengar anda sekarang jadi dosen juga di NCIT?" Tanya Taeyong.

Doyoung menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal "Ah nggak usah terlalu formal. Kita kan teman..".

 

Cih , teman katanya.

Tebak siapa? Tentu saja Jung Jaehyun yang sedang sibuk mengupil dengan tangan kiri karena tangan kanannya membawa keranjang berat berisi buku.

 

"Oh iya Taeyong, kenalin ini Jaehyun suami gue" Ucap Doyoung setelah akhirnya menyadari keberadaan Jaehyun.

"Saya Jung Jaehyun".

"Saya Lee Taeyong" Ucapnya menjabat tangan "Anak NCIT juga?".

Doyoung menyahut "Iya, anak NCIT tapi dia anak Teknik dulu. Sekarang dia Principal Arsitek di studionya sendiri".

"Oh.. Gitu.." Taeyong mengangguk canggung "Oh iya Doyoung, boleh aku minta kontak kamu? Kebetulan kamu kan dosen, aku lagi butuh beberapa referensi buat penelitian tesis aku".

"Ah, hahaha.." Doyoung tertawa canggung sambil memandang Jaehyun yang tampak tak terganggu dengan unteraksinya bersama pria didepannya ini "Gue gak sehebat itu buat diskusi tesis..".

"Yaa.. Kita diskusi santai aja sih. Aku gak menuntut sampe selesai juga.." Ucapan Taeyong agak sedikit memaksa "Aku butuh banget temen diskusi soalnya..".

Doyoung kembali memandang Jaehyun, meminta pertolongan "Aduh tapi aku nggak hafal nomor baruku, terus ponselnya juga mati jadi ya-"

"012-142-9697" Jaehyun menjawabnya.

 

JAEHYUN MENJAWABNYA!

 

Astaga, Doyoung sungguh tidak mengerti dengan suaminya ini.

"Oke, udah aku save.." Ucap Lee Taeyong seraya memasukkan ponselnya ke saku "Masih lama disini?".

Doyoung tersenyum kikuk kemudian menjawab "Mmm kebetulan Jaehyun ada meeting, jadi-"

"Oh!" Jaehyun menyahut " Dude, you can still be here with him. Ya kan?".

"Eh, enggak Jae-" Doyoung menolak.

"Lo tadi bilang masih pengen disini kan? Gue beneran harus meeting ini jam 12. Disini masih bisa diskusi dan pilih-pilih buku sama si Taeyong ini. Boleh kan Taeyong?" Tanya Jaehyun.

Taeyong mengangguk kaku "Ya.. Saya nggak keberatan sih".

"Tuh kan dia nggak papa, Doy. Gue-"

"Tapi kan Jae-"

Jaehyun mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu berwarna hitam dan meletakkannya di dahi Doyoung "Mau ini kan?".

Doyoung tak menyahut dan hanya menghela nafasnya kesal. Bukan, bukan itu yang Doyoung mau!

"Pinnya tanggal nikahan kita, ingat kan?" Ucap Jaehyun berbisik sebelum mencium kening Doyoung dan pergi.

 

Apakah kalian sudah melihat cinta diantara mereka?

 

---

 

"Oy bro!" Sapa Jaehyun yang sedang sibuk menyelesaikan gambar menggunakan tabletnya "Gimana tadi?".

Doyoung meletakkan tas jinjing yang penuh dengan buku di bawah kursi dan meletakkan beberapa bungkus makanan di meja "GIMANA GIMANA!".

"Loh kok marah?" Tanya Jaehyun bingung dengan nada suara Doyoung yang meninggi.

Doyoung berkecak pinggang "Lo tuh gimana sih sebagai suami?".

"Gimana apanya?" Tanya Jaehyun tanpa rasa bersalah "Lo tuh apa gaada rasa-"

 

drtttt... drrttt... drrrtttt..

 

"Taeyong tuh!" Ucap Jaehyun melihat ponsel Doyoung bergetar diatas meja.

"Gara-gara lo sih" Doyoung menghela nafasnya berat, memandang ponselnya yang terus bergetar karena panggilan tak segera diangkat.

Jaehyun menatapnya kesal dan "Hallo-"

"Jaehyun!" Doyoung memekik namun tertahan karena sadar suaranya akan masuk ke pendengaran si pemanggil.

Jaehyun menaik turunkan alisnya "Ah Taeyong. Iya, ini Jaehyun yang angkat. Apa? Mau ke rumah?".

Doyoung menyilangkan tangannya tanda tak setuju.

"Oooh boleh. Dateng aja" Jaehyun justru menjawab sebaliknya "Iya, perumahan Edelwise nomor 14 ya, cat rumahnya peach gitu. Cari aja yang rumahnya paling artistik soalnya gue arsiteknya. Iya iya.. Santai.. Yook..".

"Jaehyun lo tuh apa-apaan sih! Tadi ngasih nomor, sekarang ngizinin ke rumah. Duh, lo tuh yaaa" Doyoung mendelik begitu Jaehyun mengakhiri panggilan itu "Lo tuh mau jodohin suami lo sama orang lain apa gimana?!"

"Ya lagian kenapa sih, Doy? Dia kan temen lo kuliah dan butuh lo buat tesisnya. Emang kenapa sih?" Jawab Jaehyun acuh.

"Ya bukan gitu. Gue tuh udah nikah, Dia masih single. Menurut lo aja gitu lo mau dia dateng ke rumah kita?" Ucap Doyoung kesal.

"Ya emang kenapa? Lagian dia cuma mau ngerjain tesis bukan tidur sama lo?" Jaehyun membela diri "Emang dia suka sama lo?".

 

Entah sudah berapa kali Doyoung menghela nafasnya berat "Ya bukan gitu maksud gue-"

"Yaudah jangan sok ke ge er an deh!" Ucap Jaehyun "Kerjain aja tesisnya disini, besok juga gue dirumah kok".

Doyoung mencuri pandang ke arah Jaehyun ditengah kekesalannya "Emang lo nggak cemburu?" Cicitnya pelan.

"Cemburu?" Jaehyun tertawa " Dude, the jealousy between us already gone. Gue temenan sama lo udah lebih dari sepuluh tahun. Kita udah tujuh tahun nikah juga. Jadi udah gak ada yang namanya cemburu diantara kita".

 

Doyoung tak lagi dalam mood yang baik untuk menjawab ucapan Jaehyun. Mungkin ia benar, sudah tidak ada cemburu diantara mereka. Kecemburuan diatara keduanya sudah lama hilang.

"Udah deh lo mandi sana. Udah gue siapin air angetnya, udah gue nyalain lilin aromatheraphy kesukaan lo juga. Abis ini gue beresin makanannya terus gue bikinin teh chamomile kayak biasanya. Gue kelarin ini bentar.."

Senyum Doyoung kembali, Jaehyun selalu mengerti. Ah tidak, Jaehyun terlalu mengerti dirinya.

 

---

 

Doyoung meletakkan lembar copy tesis milik Taeyong di meja "Menurut gue, revolusi industri 5.0 belum siap dikembangin ke negara berkembang kayak Indonesia sama Thailand yang jadi objek penelitian lo. Pendidikan belum merata, Internet juga belum bisa diakses semua kalangan-"

"Tapi Indonesia udah masuk ke negara maju loh, berdasarkan hasil riset terbaru" Sela Taeyong "Untuk internet dan pendidikan, menurut beberapa profesor itu gak bisa dijadikan tolok ukur kegagalan negara. Lo harus memperhatikan aspek lain yang mereka punya".

Doyoung mengangguk setuju "Gue setuju sih. Apalagi mereka punya Sumber Daya Alam yang mumpuni buat jaminan. Mereka juga udah mulai jalin banyak kerjasama dengan pihak luar untuk pengelolaannya. Sekarang tinggal strategi mereka aja, ya kan?".

"Betul. Masalah pembangunan juga. Presiden mereka mulai banyak invest ke pembangunan yang-"

 

"Nah kalo pembangunan gue ahlinya. Mau tanya apa?" Sahut Jaehyun yang sedari tadi duduk di counter dapur, memandang diskusi mendalam Doyoung dan Taeyong yang tampak seru dan akrab.

Mengapa terdapat rasa menggelitik dihatinya yang yang entah apa saat melihat keduanya saling berbagi sesuatu yang hanya mereka yang pahami?

"Jaehyun. Diem." Doyoung memberikan ultimatum kemudian kembali berbincang dengan Taeyong "Eh, kamu baca bukunya Profesor Shim Jae Jun ga sih?".

"Oh, yang revolusi industi four point o ditengah society five point o itu ya?" Tanya Taeyong.

"Point o point o apanya roti O?" Sela Jaehyun.

 

Doyoung memandangnya kesal "Jaehyun, ini pembicaraan orang dewasa. Anak kecil mending beli permen aja deh!".

Apa?

Doyoung bilang dia anak kecil?

Dasar!

Lagipula apa yang dibanggakan dari Taeyong si licik itu. Huh, dia yakin pasti hanya sekedar cari perhatian Doyoung dengan dalih tesisnya itu! 

Kesal. Jaehyun Kesal.

Ingat ya, Jaehyun kesal! Bukan cemburu!.

 

Doyoung dan Taeyong sedang tertawa karena lagi-lagi membaca buku yang sama. Menemukan teman bicara yang satu minat dan satu pemikiran sangat tersa menyenangkan bukan?

Jaehyun mengambil salah satu buku Doyoung yang tececer di meja dan meninggalkan keduanya dengan kaki menghentak-hentak hingga raganya tak terlihat dari netra Doyoung.

Jaehyun benar-benar tampak seperti anak kecil yang tidak diizinkan membeli permen.

 

"Jadi sampe mana kita tadi?".

 

---

 

Di lantai dua, tepatnya di ruang kerja Jaehyun yang penuh dengan banyak kertas gambar hasil karyanya, Jaehyun mendecak kesal.

Bagaimana bisa Doyoung mengabaikannya dan memilih untuk berdiskusi reformasi industri roti o bersama pria menyebalkan itu? Sungguh menyebalkan.

Ia dan Doyoung memang memiliki terlalu banyak perbedaan. Mereka hampir tidak memiliki something mutual yang bisa menyatukan keduanya.

Ia adalah arsitek yang kelewat santai dengan sesuatu sedangkan Doyoung adalah Dosen fakultas Ekonomi dan Bisnis yang disegani karena ketegasan dan kedisiplinannya.

Doyoung lebih menyukai teh sedangkan Jaehyun lebih menyukai kopi.

Doyoung bangun pagi sedangkan Jaehyun tidur pagi.

Doyoung lebih suka serial Disney sedangkan Jaehyun lebih suka serial Netflix.

Benar-benar bertolak belakang.

Sekali lagi, Jaehyun memandang salah satu buku Doyoung yang tadi asal dibawanya dari bawah. 

Mmm apakah dengan membaca buku ini ia bisa memiliki kesamaan dengan Doyoung?

 

---

 

"Jaehyun. Banguun.." Doyoung menggoyang-goyangkan tubuh Jaehyun yang tampak tidak sengaja tertidur di sofa ruang kerjanya. Ditangan pria itu, terdapat buku miliknya yang bersampul warna biru muda.

Mengapa pula Jaehyun membawanya?

"Mmmm.. " Jaehyun hanya menggumam dan membuka matanya.

Doyoung memandangnya "Ngapain lo tidur disini? Bukannya di kamar".

"Hah? Gue ketiduran deh kayaknya" Jawab Jaehyun seraya duduk "Hoaaaah ".

"Buseeet, lo nguap berasa gue kesedot bro" Ucap Doyoung sambil membereskan meja kerja Jaehyun yang berantakan, tak sengaja menyenggol komputer kerjanya hingga menyala "Ngerjain apa sih ini?".

"Oh engga, tadi gue baca buku lo yang biru itu tapi gue nggak ngerti jadinya gue bikin layout interior design ruang kerja lo. Katanya pengen ganti suasana biar enak pas bikin jurnal sama bahan ajar?" Ucap Jaehyun mendatangi Doyoung yang sudah duduk di kursi kerjanya.

Tangan kanannya menyentuh mouse yang terhubung dengan komputer dan tangan kirinya ia tumpu kan di meja begitu saja hingga posisinya mengungkung Doyoung dari belakang. 

Jaehyun membuka aplikasi autocad untuk Doyoung dan menampilkan interior design suatu ruangan yang tampak sangat baru baginya. Entahlah, jantungnya terlalu berisik saat ini. Posisi Jaehyun benar benar membuatnya kacau.

 

"-Jadi ini nanti kita ganti sofanya jadi yang bisa dipanjangin biar gak pegel. Meja kerja gue geser kesini biar lo bisa liat jendela. Warna dinding juga gue ganti jadi soft blue atau soft green biar agak seger. Lo prefer ditempel pake wallpaper apa di cat aja?"

Tak kunjung mendapat jawaban, Jaehyun mengalihkan pandangannya dari komputer ke suami kecilnya yang ternyata sama sekali tidak melihat hasil kerjanya, namun justru mendongak memandang dirinya.

"Lo nggak ngelihat kerjaan gue ya dari tadi?" Tanya Jaehyun.

Doyoung mengerjap dan menggelang lucu "Gue kan nggak ngerti sama photoshop lo itu, Jaehyun".

"Dude, berapa kali gue bilang this is autocad not photoshop . Beda tau" Protes Jaehyun mencubit hidung Doyoung gemas.

Iya, gemas. Suaminya yang menggemaskan.

"Iya deh si paling autocad , gue tetep nggak ngerti" Jawab Doyoung terkikik pelan.

 

Jaehyun menurunkan wajahnya hingga sangat dekat dengan Doyoung "Terus ngapain malah liatin gue?".

"Ganteng" Ucap Doyoung cepat dan tertawa.

Namun tawanya hanya bertahan sekejap karena bibirnya langsung diraup lembut oleh Jaehyun. Lembut, namun menuntut, seakan ada yang dipertanyakan, seakan ada yang dipertahankan.

Ciuman -sedikit- panas, ya, sedikit karena Jaehyun baru saja ingin membuka kemeja Doyoung saat ia teringat sesuatu.

"Taeyong udah pulang?" Tanyanya.

"Ck " Doyoung mendecak kesal kemudian berdiri dari kursi kerja Jaehyun "Dude, we're on make out dan lo tiba-tiba ngomongin cowok lain nyebelin banget!".

"Hahaha" Jaehyun tertawa dan kembali memeluk Doyoung dari belakang "Gue nanya doang nih bro, kan gaenak ada tamu ditinggal make out ".

"Sebel" Doyoung melipat tanganya didada kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut.

"Loh kok gue ditinggal! Udah mau sange ini, woy!" Jaehyun meneriaki Doyoung yang menutup pintu dengan kasar.

"Lah gimana sih".

 

---

 

Denting sendok beradu dengan piring menemani makan malam Jaehyun dan Doyoung yang hening. Ah, jangan lupa lagu I believe i can fly dari R. Kelly juga mengalun lembut di meja makan mereka. 

Lagu favorite Jaehyun yang selalu diejek Doyoung karena menurutnya terlalu kekananakan. 

Namun Doyounglah yang memutar lagu tersebut tanpa diminta. Ia bahkan memasak Dwaejigogi bokkeum , makanan kesukaan Jaehyun.

Entah mengapa, Doyoung hanya ingin mengembalikan mood Jaehyun yang tampaknya berantakan karena kedatangan Taeyong tadi.

 

"Doyoung" Jaehyun memutus keterdiaman keduanya "Gue tau kalo adanya teknologi pake mesin-mesin yang bisa bikin keputusan sendiri itu mengawali revolusi industri".

Doyoung memandang Jaehyun bingung. Kenapa tiba-tiba membahas revolusi industri?

"Komputer udah mulai ngambil tugas manusia kayak ngirim surat dan dokumen, ngitung perhitungan rumit, sampe bikin laporan laporan terprogram" Lanjut Jaehyun.

Doyoung hanya mengangguk-angguk, tak mengerti motif Jaehyun mengatakannya.

"Revolusi Industri jadi hal penting yang ngebantu manusia saat itu soalnya mempercepat produksi dan mempermudah pekerjaan-"

"Jaehyun" Doyoung menyela penjelasan suaminya "Lo ngapain sih?".

 

"Gue tadi baca buku lo" Ucap Jaehyun congkak "Keren kan gue ngerti revolusi industri".

Doyoung mengangguk paham "Ah, gitu. Tapi itu revolusi industri 3.0, Jaehyun".

"Terus?"

"Revolusi Industri 3.0 udah berakhir sekitar tahun 2010an" Jelas Doyoung yang membuat Jaehyun melongo "Sekarang kita udah masuk revolusi industi 5.0".

"Ih! Bukunya yang salah!" Ucap Jaehyun sedikit membanting sendoknya.

Doyoung tertawa "Bukunya gak salah, lo yang salah baca referensi kalo mau ngomongin RI".

Jaehyun tak menjawab dan hanya mengaduk makanannya kesal.

"Lagian lo ngapain sih? Biasanya juga gak suka kalo gue ngomongin ekonomi" Tanya Doyoung.

 

Jaehyun menghela nafasnya berat "Gue cuma mau nemuin obrolan yang nyambung sama lo".

Doyoung memandang suaminya cukup lama. Dia ini kenapa sih?

 

Ah!!

 

"Lo mau ngobrol kayak gue sama Taeyong tadi?" Tanya Doyoung sedikit tertawa di bagian akhir.

Jaehyun memnadangnya kesal "Gak sopan ngomongin cowok lain pas lo lagi makan sama SUAMI lo".

"Idiiih" Doyoung kini tertawa lepas dan meminum air putihnya "Lo cemburu?".

Jaehyun tak menjawab dan tetap memasang wajah kesalnya, menendang nendang ringan kaki kursi yang didudukinya.

"Siapa ya yang kemarin bilang the jealousy between us already gone, dude. Chill .." Goda Doyoung "Sekarang ngambek".

"Udah ah males" 

"Cemburu nggak?" Tanya Doyoung.

Jaehyun menggeleng lucu sambil melipat tangannya di dada.

"Cemburu nggak?" Doyoung mengulang kalimatnya.

Jaehyun kembali menggeleng, kini lebih cepat hingga rambutnya menyembul-nyembul lucu.

"Cemburu ngg-"

"Duh IYA IYA GUE CEMBURU! PUAS?" Ucap Jaehyun.

Doyoung tertawa puas sedang Jaehyun semakin menampakkan wajah kesalnya.

"Lo tuh gimana sih Jaehyun.." Ucap Doyoung begitu tawanya selesai "Gue nggak mau kasih nomor gue ke Taeyong, lo yang kasih. Gue gak mau dia ke rumah, lo yang kasih alamatnya".

Jaehyun mengerucutkan bibirnya "Abisnya gue kesel. Lo tuh kalo ngomong sama dia nyambung banget! Gue kan juga pengen ngobrol kayak gitu sama lo".

"Ya emang mungkin kita emang beda bidang, Jaehyun"

"Lo gak ngerti dunia gue, gue juga gak ngerti dunia lo. Kita jadi nggak nyambung. Kita bahkan kayaknya gak punya mutual things to share with biar obrolan kita nyambung" Ucap Jaehyun menundukkan pandangannya.

"You don't need to, Jaehyun" Ucap Doyoung berpindah ke kursi di sebelah Jaehyun "We don't need to ".

"Maksudnya?"

"Yaa kita gak perlu sesuatu yang mutual buat kita terus bareng .I mean selama ini and we're fine, right?. Kayak yang udah lo bilang, kita udah temenan lebih dari 10 tahun, nikah udah jalan 7 tahun. Ini udah sepuruh hidup gue gue abisin sama lo dan lo pun begitu. Dan kita nggak kenapa-napa?" Jelas Doyoung menggenggam tangan Jaehyun erat.

Jaehyun memandang suaminya dengan dalam, menelisik matanya dan hanya menemukan kejujuran disana "Lo bener..".

"Gue nggak perlu ngomongin revolusi industri sama lo, dan lo juga gak perlu ngomongin material bangunan sama gue. Kita baik-baik aja, bro" Doyoung menambahkan.

Jaehyun membalas genggaman tangan Doyoung dan mengangguk "Kita gak perlu ngomogin revolusi industi soalnya, lo ngatur keuangan keluarga kita aja udah cukup buat gue".

"Lo juga gak perlu ngomongin jenis baja ke gue soalnya lo renov ruang kerja gue sesuai kebutuhan gue aja udah cukup. And that is more than sweet things for me, Jaehyun. Its enough " Doyoung beralih memeluk Jaehyun erat.

Jaehyun terkikik pelan membalas pelukan Doyoung erat "Lo jadi mau wallpaper apa dicat aja?".

"Terserah lo aja gue nggak ngerti".

"Kalo kata gue mending wallpaper aja biar kalo lo bosen bisa ganti lagi".

"Iya iya terserah"

"Ah!" Jaehyun tiba tiba melepas pelukan mereka "Gue tau, we have something mutual tho ".

 

Doyoung memandangnya bingung "Apa?".

"Feeling?" Jawab Jaehyun ragu "Gue bingung nyebutnya apa berhubung kita gak pernah ngomongin ini sebelumnya. But , kalo selama ini lo gak pernah protes gue kawinin berarti gue bisa menyimpulkan kalo lo nggak keberatan gue bilang kita punya mutual feeling?".

Doyoung kembali memeluk Jaehyun "Gue nggak keberatan, Jaehyun. Let's take it as conclusion ".

Keduanya bertahan lama dalam posisi berpelukan, menikmati something mutual yang baru saja mereka sadari setelah sepuluh tahun berteman dan tujuh tahun menikah. Nyatanya, selama apapun hubungan, tidak pernah memadamkan api cemburu ya?

"Biasanya di film kalo abis kayak gini tuh endingnya salah satu gendong ke kamar terus ada adegan delapan belas plus ehem gitu deh" Ucap Jaehyun yang membuat Doyoung melepaskan pelukannya.

Doyoung memandang Jaehyun dengan senyuman berarti "On your dream, dude . Karena hari ini jadwal lo nyuci piring!"

"Selamat cuci piring! Gue mau tidur besok ada kelas pagi!" Doyoung berdiri dan berlalu meninggalkan Jaehyun yang masih melongo.

 

Bukan.

Bukan ending ini yang ia harapkan.

"Lo pergi gitu aja bro?! Bantuin gue kek!".


FIN