Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-04-15
Words:
3,573
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
36
Bookmarks:
1
Hits:
474

Pelakon Hebat

Summary:

Perihal memainkan peran dan berpura-pura, Doyoung bisa dibilang cukup mahir dalam melakukannya. Lantas mengapa ketika tiga minggu kemudian ia bertatap wajah langsung dengan Jaehyun dalam acara pembacaan skrip pertama untuk film mereka, berpura-pura menjadi profesional begitu sulit untuk Doyoung lakukan.

"Halo, Mas Doyoung. Seneng bisa kerja sama bareng Mas."

Teruntuk Jaehyun juga senyum di wajah miliknya, jika bisa, jika saja bisa, Doyoung ingin mencakar wajah itu sambil berteriak, "persetan jadi profesional!"

Notes:

Prompt #14

Writer: Anonymous

Work Text:

Pelakon Hebat

 


 

Perihal memainkan peran dan berpura-pura, Doyoung bisa dibilang cukup mahir dalam melakukannya. Di depan kamera juga sutradara, dirinya pernah menjadi seorang dokter, petualang di hutan, atau menjadi seorang anak SMA meski usianya sudah dua puluh enam. 

Dan peran baru kembali datang, kembali ditawarkan, pada Doyoung yang masih menahan kantuk sebab ia baru tertidur di pukul tiga pagi karena syuting untuk episode terakhir di series yang ia bintangi baru selesai.

"Eum, produsernya siapa?" Doyoung bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.

"Lee Soo-man."

Satu nama yang disebut Mbak Irene membuat kesadaran Doyoung menanjak naik. Lee Soo-man? Kalau Lee Soo-man benar-benar produser untuk produksi film yang akan ia bintangi, itu artinya film ini bukanlah sembarang proyek. Karena Lee Soo-man terkenal dengan produksi film miliknya yang memiliki budget tinggi.

"Serius, Mbak?"

Irene tertawa puas, "iya, terima ya? Series kamu juga udah kelar syutingnya. Terus denger-denger lawan main kamu nantinya juga aktor yang lagi naik daun. Mbak pikir sih bakalan oke banget buat bantu ngestabilin karir kamu di tengah banyaknya pendatang baru."

Doyoung mengangguk-angguk mendengar bujukan Mbak Irene. Karena ya … benar. Semua yang dikatakan Mbak Irene benar adanya. Jadi tidak ada yang perlu Doyoung takutkan untuk menerima proyek film barunya, bukan?

"Okedeh, aku bakalan ambil kayaknya."

Senyum Mbak Irene cerah merekah. "Sip, deal ya?"

"Iya, Mbak," Doyoung tertawa, jarang sekali manager nya ini terlihat sumringah, "seneng banget kayaknya aku nerima film ini."

"Jelas seneng dong. Apalagi nanti kamu main bareng Jaehyun. Wah, Mbak udah bisa bayangin film nya pasti bakalan hits banget!"

 

Dari seribu kemungkinan nama aktor yang akan Mbak Irene sebut, Doyoung sama sekali tidak pernah berharap nama Jaehyun akan termasuk di dalamnya. Ia harap Mbak Irene salah, ia harap pendengarannya salah tangkap. Tapi tidak, nama Jaehyun dengan jelas terucap dari bibir tipis Mbak Irene. Punggung Doyoung seketika menegang juga mulai mengeluarkan keringat dingin.

Tidak akan menjadi masalah besar jika saja Jaehyun adalah orang asing yang sama sekali tidak Doyoung kenal. Tapi ini adalah seseorang yang Doyoung tahu tentang apa makanan kesukaan hingga ukuran sepatu miliknya. Karena Jaehyun … merupakan mantannya empat tahun lalu. 

Ingatkan Doyoung untuk bertanya lebih dahulu mengenai lawan mainnya sebelum menerima tawaran film. Meskipun itu datang dari produses terkenal.

Perihal memainkan peran dan berpura-pura, Doyoung bisa dibilang cukup mahir dalam melakukannya. Lantas mengapa ketika tiga minggu kemudian ia bertatap wajah langsung dengan Jaehyun dalam acara pembacaan skrip pertama untuk film mereka, berpura-pura menjadi profesional begitu sulit untuk Doyoung lakukan.

 

"Halo, Mas Doyoung. Seneng bisa kerja sama bareng Mas."

Teruntuk Jaehyun juga senyum di wajah miliknya, jika bisa, jika saja bisa, Doyoung ingin mencakar wajah itu sambil berteriak, "persetan jadi profesional !"

 

[]

 

"Mas Oyo apa kabar?" Jaehyun masih coba untuk berbasa-basi saat keduanya serta pemeran lain sudah selesai membaca skrip pertama mereka. 

Doyoung menoleh malas, rasanya ingin segera pulang dan rebahan dibanding terjebak dalam makan siang yang memuakkan. Karena betulan dunia rasanya semakin bercanda ketika ia dipaksa duduk makan bersebelahan dengan Jaehyun. 

"Gue baik."

Jaehyun tersenyum kecut saat disadari yang lebih tua tidak mau sekedar bertanya balik mengenai kabarnya. Dalam hati paham dan maklum mengapa bisa seperti ini.

Meski begitu Jaehyun tetap memberikan sikap terbaiknya, karena Jaehyun sedang merasa diberi kesempatan kedua. Kesempatan apapun itu untuk memperbaiki hubungannya dengan Doyoung. Jadi dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dinanti selama empat tahun terakhir.

"Ikut seneng kalau lo baik-baik aja, Mas." 

Lalu hening. Doyoung sama sekali tidak berniat menjawab ucapan basa-basi dari Jaehyun. Satu potong daging kembali ia suapkan dan kunyah dengan malas. Dirinya sudah siap beralasan kelelahan jika ada orang lain menyadari sikap yang ia tampilkan.

"Lo paling enggak suka sama steak yang well done gini, 'kan? Kayaknya Bang Taeil salah mesen. Mau gue pesenin ulang?" Jaehyun yang menyadari akan kunyahan malas Doyoung mencoba membantu. Ia pikir Doyoung terlihat sangat tidak menikmati makan siangnya. 

Can he stop. Doyoung mendumal dalam hati. Ia ingin Jaehyun berhenti, akan segala hal yang sedang ia lakukan kini. Bertanya ini itu, menawari ini itu. Ia ingin Jaehyun berhenti. 

"Ikut gue." Pada akhirnya Doyoung berbisik penuh penekanan. Memerintah Jaehyun untuk mengekor dirinya menuju kamar mandi restoran dan menyudahi permainan apapun yang akan ia lakukan.

 

Saat keduanya memastikan bahwa hanya mereka yang bernyawa di antara benda mato di kamar mandi, Doyoung mengambil inisiatif untuk mengunci pintu. Memastikan tidak ada pencuri dengar untuk obrolan mereka.

Jaehyun terlihat lebih rileks, duduk di atas wastafel panjang sembari memperhatikan Doyoung yang terlihat gelisah dalam diam.

"Lo bisa enggak, bersikap biasa aja?" Doyoung mulai mengkonfrontasi. Menatap Jaehyun dengan mata kucingnya yang memicing.

"Gue biasa aja lho, Mas." Jawab Jaehyun polos. Karena ia merasa dirinya tidak melakukan hal yang melanggar norma pada yang lebih tua.

Doyoung tersenyum miring, merasa muak dengan sikap yang lebih muda. "Lo enggak. Please, Je … gue kenal lo enggak sehari dua hari meskipun udah hampir empat tahun kita enggak berhubungan. Tapi gue cukup pinter ngebaca gerak-gerik lo buat tau apa tujuan lo sebenernya."

Jaehyun menunduk. Tawa pahit keluar dari mulutnya. Ia sudah tertangkap basah. Maka biarkan dirinya berenang sekalian.

"Dari dulu lo emang pinter. Gue enggak salah sayang sama lo."

Mendengar ucapan Jaehyun, seketika darah Doyoung mendidih dalam tubuhnya. Matanya memancarkan benci. Dengan langkah tergesa Doyoung menghampiri yang lebih muda. Doyoung cengkram kedua bahu milik Jaehyun, memaksa mantan kekasihnya itu untuk bersirobok tatap dengannya.

"Bajingan!" Ucapnya penuh amarah, "jangan pernah bilang lo sayang sama gue!"

"Tapi itu kenyataannya, Mas. Gue sayang lo, dan akan selalu sayang sama lo."

Doyoung berpikir bagaimana bisa Jaehyun mengatakan hal tersebut dengan begitu mudah? Setelah apa yang pernah ia perbuat terhadap dirinya empat tahun lalu, bagaimana Jaehyun mengatakan hal tersebut dengan begitu mudah…

"Gue seneng lo nerima proyek film ini," Jaehyun meneruskan ucapannya, ia tatap Doyoung dengan pandangan penuh harap, "lo harus tahu semalem gue enggak tidur karena udah mikirin kalau akhirnya, hari ini gue bisa ketemu sama lo lagi. Sedikitnya ego gue ngasih harapan kalau lo udah maafin gue dengan nerima film ini. Tapi ternyata enggak begitu, ya?" Jaehyun tertawa lemah di akhir kalimat.

Cengkraman di bahunya mengerat. Karena kini selain amarah, ada sedih yang merambat dalam diri Doyoung.

 

"Gue emang udah maafin lo, Je. Tapi jangan harap gue bisa lupa."

"Gue masih sayang banget sama lo, Mas." Jaehyun berkata dengan suara miliknya yang mulai bergetar. "Gue pikir kita bisa perbaikin semuanya, kayak awal."

Setetes air mata lolos dari mata Doyoung yang sedari tadi mulai memerah. Cengkraman di bahu Jaehyun dilepas, kini kedua tangannya Doyoung gunakan untuk menghapus air matanya cepat. Merasa begitu bodoh dirinya harus menangis lagi hanya karena Jaehyun.

" Stop ," Ujar Doyoung lirih, " …please stop ."

Melihat yang lebih tua mengeluarkan air mata, Jaehyun bangkit dari duduknya. Ingin ia raih tubuh Doyoung kedalam dekapan, ingin ia berusaha menenangkan, tapi ia menahan. Karena Jaehyun tahu jelas dirinya akan mendapat penolakan. 

"Mas … gue mau minta maaf buat segala salah di masa lalu."

"Gue bilang stop, Je!" Doyoung sedikit menaikkan nada bicara. "Lo bilang lo sayang sama gue? Kalau iya, gue mau minta satu hal sama lo."

"Apapun buat Mas."

Dengan matanya yang masih merah dan basah, Doyoung tatap Jaehyun dengan penuh keseriusan. Dahinya mengkerut, jemarinya mengepal untuk menutupi tiap inci tubuh miliknya yang bergetar. "Be professional. Enggak ada lagi yang perlu dibicarain tentang kita, enggak ada tentang gue dan lo di masa lalu. Gue cuma mau nyelesain film ini dengan baik. Gue mau lo professional. Ngerti?"

Doyoung menarik dan menghembuskan napas panjang. " That's it. That's all I ask ."

Tanpa menunggu jawaban Jaehyun, punggung miliknya sudah berbalik. Langkah-langkah besar Doyoung ambil, karena ia tidak ingin lagi lama-lama berduaan dengan mantan kekasihnya. 

 

Yang Jaehyun tahu, selama ini Doyoung hanya menyimpan amarah. Tanpa tahu bahwa dalam hatinya ada luka juga rindu yang menyiksa.

 

[]



Ketika Jaehyun harus berada dalam ruang dan waktu yang sama dengan orang yang masih ia cinta, apalagi frekuensi bertemu begitu banyak, rasanya menjadi profesional adalah hal yang sangat mustahil ia lakukan.

"Gue enggak pernah tahu ya, Ga … lo ngelakuin hal sepicik ini supaya bisa menang?" 

Padahal yang Doyoung lakukan kali ini adalah sedang memainkan perannya sebagai Adnan, memarahi dengan wajah super kesal pada Angga yang diperankan oleh dirinya.

Tapi di mata Jaehyun, ia sedang melihat Doyoung di masa mereka masih berpacaran. Merajuk dalam marah saat dirinya berbuat salah. Jaehyun teringat masa lalu pada peran yang harusnya ia lakoni secara profesional.

Tidak … tidak bisa seperti ini. Hal selanjutnya yang harus ia lakukan adalah balik melontarkan perlawanan dengan sikap dingin. Namun dirinya malah mengambil langkah maju ke depan sampai hanya menyisakan beberapa jengkal dari tubuh Doyoung.

Wajah bingung ditampilkan Doyoung begitu Jaehyun mengusap pipinya perlahan dengan seringai di bibir. 

"Nan …" Jaehyun memulai dialog miliknya, membuat Doyoung menahan napas karena jarak mereka yang terlalu dekat, "lo musti paham satu hal. Gue enggak perlu picik buat jadi pemenang. Lo enggak lebih baik dari gue," Jaehyun semakin memajukan wajahnya, membisikkan kalimat terakhir tepat di telinga Doyoung, "paham?"

Tidak ada yang bergerak. Sampai akhirnya suara sutradara memecah keheningan dengan begitu hebohnya.

 

"And cut!!! Wah Jaehyun, improvisasi lo keren banget. Abang suka!"

Doyoung langsung beringsut menjauh setelah menepis tangan Jaehyun yang masih betah menempel di pipinya.

"Lo apa-apaan sih? Enggak ada adegan kayak gitu di naskah!"

"Tapi Bang Bintang suka tuh sama improvisasi gue."

"Tapi gue enggak!" Doyoung menggeram rendah, tidak ingin kekesalannya diketahui oleh yang lain.

"Kalau ini buat keberhasilan film, masa Mas mau tolak juga? Katanya harus profesional?" 

Doyoung menggertakkan giginya. Benar-benar kesal pada Jaehyun. "Lo sendiri enggak profesional, Je!"

Mendapati reaksi Doyoung yang kesal akibat improvisasi yang ia lakukan, bukannya berhenti, Jaehyun malah semakin menjadi.

Jaehyun akan menyisipkan improvisasi di antara adegan mereka dengan tujuan membuat wajah Doyoung memerah— yang entah terjadi karena kesal, atau karena malu. 

Tapi Jaehyun suka. Karena jika bukan di depan kamera, ia tidak lagi punya kesempatan untuk menggoda yang lebih tua.

 

[]

 

Doyoung paling malas saat membuat video promosi. Ya… alasannya apalagi jika bukan karena dirinya dipaksa terlihat akrab dan baik-baik saja bahkan harus terlihat mesra dengan si mantan kekasih.

"Deketan dikit dong, Dy." Ci Wendy selaku orang yang bertugas mengunggah konten promosi di Tiktok atau Instagram juga di platform lainnya mengarahkan Doyoung agar tubuhnya lebih merapat pada Jaehyun.

Doyoung membuang napas panjang, sedang Jaehyun di sisinya terlihat begitu santai.

"Ini bukannya udah deket, Ci? Mau sedeket apalagi sih?" 

"Yang sampe rangkulan gitu loh, biar keliatan chemistry nya. Pas acting aja bagus, yuk ah biar cepet. Lagian kenapa sih? Kamu kayak sebel banget gitu sama Jaehyun?"

Mata Doyoung yang seperti kucing melirik ke arah Jaehyun yang kini hanya cengengesan. "Emang dia nyebelin kok."

Bukannya mengerti perasaan Doyoung, Ci Wendy malah tertawa puas. "Awas ah, dari sebel entar jadi cinlok."

Doyoung langsung memasang wajah jijik, sekaligus berkata, "ih amit-amit!" Amit-amit jatuh cinta dua kali pada Jaehyun. Cukup sekali saja hatinya dibuat patah.

 

Tanpa Doyoung sadari, Jaehyun semakin merapatkan tubuhnya. Kemudian dengan begitu lembut bahu yang lebih tua ia rangkul. Dan sebelum Doyoung sempat memprotes, Jaehyun berbisik di telinganya. "Diem, Mas. Biar cepet, lo enggak suka kan lama-lama deket gue?"

Kenyataan pahit Jaehyun telan seiring kalimat tersebut diucap. Tapi mau bagaimana… bisa merangkul Doyoung pun dirinya sudah bersyukur.

 

[]

 

Ketika ada yang begitu kamu inginkan dan hal itu tepat berada di depan mata, namun kemudian sesuatu tersebut begitu sulit untuk kamu raih, bukankah segala cara akan kamu lakukan untuk mendapatkan hal tersebut? 

Sama halnya dengan Jaehyun. Doyoung dengan jelas selalu ada di dekatnya, namun ia merasa jaraknya dengan Doyoung begitu jauh. Maka jangan salahkan Jaehyun jika ia memikirkan banyaknya cara untuk kembali dekat dengan Doyoung, untuk kembali mendapatkan hatinya. Senyum Jaehyun begitu lebar membaca scene  dua hari ke depan yang akan ia lakukan dengan yang lebih tua. Mereka akan melakukan adegan ciuman. Dan berbagai skenario sudah terputar di otak miliknya, karena ia paham betul bagaimana untuk mendapatkan keuntungan dari adegan yang akan ia dan Doyoung lakukan nanti.

Jika ada hal yang paling Doyoung benci, itu adalah kekalahan, ketertinggalan, dan ketidakmampuan. Jaehyun cukup mengatakan satu hal dan yang lebih tua akan balik menantang.

 

Keduanya sedang berada di ruang ganti dengan keadaan yang begitu sepi. Doyoung sebetulnya sangat tidak ingin berada dalam ruangan yang sama dengan Jaehyun, terlebih hanya berdua. Tapi ruang ganti adalah satu-satunya tempat di lokasi syuting yang memiliki pendingin ruangan, dan cuaca hari ini sedang panas-panasnya, ditambah mereka harus latihan untuk adegan-adegan yang akan mereka lakukan. Jadi sekali lagi, dengan terpaksa Doyoung menahan diri untuk tidak beranjak dari duduknya dan menyusul Mbak Irene yang sedang membelikan kopi. 

“Kayaknya kita perlu latihan buat adegan ciuman.” Jaehyun mulai memancing, menanti reaksi Doyoung yang sedang duduk di hadapannya.

Doyoung yang sedang membolak-balikkan naskah dibuat kaget setengah mati mendengar ide dari yang lebih muda, ekspersinya persis sama seperti dugaan Jehyun. “Enggak.” Jawabnya singkat.

“Biar chemisty nya bagus, Mas.”

Bola mata Doyoung terputar, “gue bilang enggak, Je.”

Jaehyun yang tadinya duduk dengan posisi bersandar di sofa, merubah posisinya dengan semakin mencondongkan tubuh ke arah Doyoung yang duduk di kursi rias. Ia tatap Doyoung dengan penuh seringai. “Hm, Mas emang mau kelihatan awkward pas kita ciuman? Terus nanti ngulang-ngulang scene nya? dan itu dilihat sama banyak orang lho. Bukannya lebih bagus kalau latihan sekarang ya? Gue cuma mau mempermudah dan ngebantu lo biar nanti adegan ciuman kita cuma sekali take.”

Dalam diamnya Doyoung jadi berpikir, bahwa perkataan Jaehyun benar adanya. Dibanding harus mengambil take yang banyak dan disaksikan oleh orang lain, bukankah lebih baik mereka berlatih tanpa ada pasang mata yang melihat?

 

Tapi kembali, egonya Doyoung itu tinggi. “Gue enggak akan awkward ngelakuin ciuman.”

Mendengar hal tersebut Jehyun tertawa meremehkan, kemudian sebelah alisnya terangkat. “Yakin? Seinget gue, lo tuh selalu awkward pas dulu kita ciuman. Wajah lo bakalan merah banget, bibir lo juga geraknya enggak beraturan, jangan ingetin gue tentang cara lo ngambil napas deh – you are so bad at kissing,” tapi gue suka, selalu suka sama ciuman lo. Adalah kalimat yang tidak ikut terucap di mulut Jaehyun.

Doyoung paling tidak suka jika dirinya kalah, dipandanynya Jaehyun dengan tatapan memicing. “Asal lo tahu, Je. Ciuman lo juga jelek!”

“Says the one yang selalu minta gue untuk enggak berenti?” Tanya Jaehyun semakin memprovokasi.

Brengsek. Mantannya ini benar-benar brengsek.

 

Doyoung bangun dari duduk, menghampiri Jaehyun yang terlihat sudah begitu menunggu kedatangannya. Dan dengan begitu saja, Doyoung duduk di atas pangkuan yang lebih muda. Jujur saja, Jaehyun sedikit kaget karena tidak menyangka yang lebih tua akan melakukan hal seperti ini.

“Ayo, ciuman. I’ll show you that I’m not bad at kissing.” See? Doyoung dan egonya yang tidak pernah mau kalah, dan ia terperangkap pada jebakan Jaehyun.

Satu tangan milik Jaehyun usap pipi Doyoung yang memerah, sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menahan pinggang kecil milik Doyoung. Pinggang yang sedari dulu selalu mampu buat dirinya gila. “Show me, Mas.” Bisiknya seduktif.

Jemari Doyoung mulai menyapu rambut hitam tebal kepunyaan Jaehyun seiring wajahnya maju memangkas jarak. Sedang Jaehyun, dengan tatapan sayu dan bibir terbuka, menanti dengan ikhlas birai tipis seseorang yang ia cinta.

Apa rasanya berciuman dengan mantan yang kamu benci? Doyoung hanya mampu menjawab bahwa ini terasa familiar. Ciuman ini begitu familiar karena Jaehyun masih ingat dan melakukan apa-apa pada ciuman mereka yang mampu membuat Doyoung merasa dirinya luruh runtuh. Mungkin benar apa yang Jaehyun katakan, bahwa dirinya sangat buruk saat berciuman. Sebab sedari dulu, bibir milik Doyoung banyak diamnya, ia hanya mampu menerima dan menerima kenikmatan yang diberikan bibir Jaehyun. 

Begitupun dengan ciuman kali ini. Boleh jadi Doyoung yang memulai, tergesa dan rakus mencumbu Jaehyun. Namun sekarang, Jaehyun memimpin ciuman mereka dan membalik keadaan. Jaehyun ulurkan lidahnya dan ia jilat tiap permukaan bibir milik Doyoung, kemudian ia gigit perlahan dan ketika Doyoung meringis, lidahnya kembali menyambar meredakan rasa sakit.

Sesekali Doyoung balas ciuman Jaehyun. Bibirnya bergerak membuka dan menutup begitu sinkron hingga yang dirasa hanya kenikmatan. Bisa Doyoung rasakan Jaehyun mengusap pinggang miliknya pelan, membuat erangan halus keluar dari mulutnya yang masih dicumbu perlahan oleh Jaehyun.

 

“Mhh…”

Dan saat didengarnya erangan yang lebih tua, perasaan bersalah begitu saja datang bagai banjir bandang. Meskipun enggan, Jaehyun perlahan lepas ciuman mereka. Matanya begitu saja memanas ketika dilihatnya Doyoung yang masih menutup mata dengan bibir yang sudah membengkak merah.

“Mas, maaf.”

Doyoung atur napas miliknya, kemudian mengerjap-ngerjapkan mata karena sejujurnya– ia tidak tahu akan apa yang barusan terjadi, akan apa yang akan terjadi.

“Mas, gue beneran minta maaf.” Jaehyun kembali mengulang kata yang sama, disertai pipi yang sudah dibasahi air mata.

 

Doyoung bingung, ia sangat kebingungan. Tubuhnya masih Jaehyun pangku, dan kini yang lebih muda malah menangis tersedu setelah mereka berciuman.

"Minta maaf buat apa, Je?" 

Jaehyun usap wajahnya kasar, kepalanya ia sandarkan pada kepala kursi. "Semuanya," kemudian Jaehyun tatap Doyoung yang kini bibirnya juga ikut bergetar. "Gue minta maaf buat semuanya."

 

Mata milik Doyoung ikut memanas. Ia pilih untuk menjauh, ia pilih untuk memberi jarak. "Gue kan udah bilang, gue udah maafin lo. Tapi jangan berharap kalau gue akan lupa!" 

Tangisnya ikut keluar seiring kalimat demi kalimat Doyoung ucapkan. Kalimat yang menceritakan mengenai patah hatinya dulu, mengenai rasa kecewa yang Jaehyun beri, mengenai sakit hati juga hilangnya kepercayaan untuknya. "Gue akan selalu inget hari di mana lo ngekhianatin gue. Kita udah sepakat buat enggak ngambil project itu! Kita udah janji karena lo tahu banget siapa sutradaranya. Dia udah ngelecehin gue, Je! Lo tahu dan lo tetep ambil tawaran dia?" 

Doyoung tarik napas panjang untuk redakan emosi yang memburu dalam dirinya sebelum lanjut menyuarakan sakit hatinya di hari itu. "Gue enggak akan pernah lupa hari di mana wajah lo sama wajah cowok tua bangka brengsek yang udah ngasih trauma ke gue ada di satu foto yang sama. Gue jijik, lo paham enggak di hari itu tubuh gue gemeter sampe muntah cuma gara-gara liat foto lo sama dia?"

Jaehyun semakin menangis mendengar Doyoung yang begitu terluka. Jaehyun tahu dirinya salah karena sudah mengambil tawaran project dari orang yang seharusnya ia paling hindari, tapi itu semua ia lakukan karena keadaan yang mendesak. Jaehyun dengan kaki yang gemetar berjalan ke arah Doyoung. Perlahan, tubuhnya luruh ke tanah, ia bersimpuh di hadapan yang lebih tua. Jaehyun pegang erat dua betis orang yang sudah ia beri luka.

"Gue terpaksa … lo tau kan gimana manajemen gue dulu udah ada diujung tanduk karena beberapa artis kedapetan nyabu. Semua beban manajemen ada di bahu gue dan gue juga stress. Gue terpaksa ngambil project sama Bang Boris karena kita semua tahu, Mas … despite his shitty personality, semua film yang dia garap pasti laku keras."

Jaehyun menengadah, ia tatap Doyoung dengan penuh sesal. "Gue sayang banget sama lo. Gue hampir gila tiba-tiba lo putusin dan lo blokir semua akses gue buat ngehubungin lo. Lo pindah apart, lo selalu ngehindar tiap gue nyamperin lo. Mas … lo harus tahu kalau gue juga kesiksa di tiap harinya ngerjain itu project."

 

"Bangun." Doyoung berucap dingin. Kakinya ia gerakkan agar tubuh Jaehyun menjauh dari dirinya.

Gelengan keras dapat Doyoung rasa, "enggak … gue enggak akan bangun sebelum masalah kita kelar. Sebelum lo bisa maafin gue."

"Je, bangun." Suara Doyoung yang bergetar kembali Jaehyun dengar. Tidak ada celah untuk membantah kali ini, suara Doyoung bagai perintah mutlak yang harus Jaehyun turuti.

Maka perlahan tubuh Jaehyun kembali berdiri, meski dengan bahu yang merunduk ke bawah bagai ditimpa beban berat. "Sorry …" Jaehyun berbisik, "I'm really sorry."

 

Doyoung terdiam melihat betapa Jaehyun juga sama terlukanya. Dari dulu ia pilih menghindar, hingga tidak tahu bahwa yang lebih muda juga sama sedang menanggung beban. Dan kini, ketika ia tahu alasan dibalik pengambilan keputusan Jaehyun, sedikit rasa kasihan Doyoung rasakan.

Kasihan, membayangkan Jaehyun yang diancam dan ditodong oleh agensi untuk mengambil peran. Kasihan, membayangkan Jaehyun juga sama terlukanya ketika ia tinggalkan.

Doyoung kemudian rengkuh tubuh Jaehyun yang sama-sama sedang bergetar. Ia usap punggung nya perlahan.

"Udah, jangan nangis."

"Gue masih sayang banget sama lo, Mas. Gue sayang banget sama lo."

Doyoung makin eratkan pelukan mereka. "Same here, Je."

"Saat project sama Bang Boris kelar. Gue udahin kontrak sama agensi itu. Lo tau kan gue udah pindah agensi? Gue enggak bisa nolak perintah karena gue takut kena denda, Mas. Lo tahu bajingannya mereka kayak gimana. Apalagi agensi gue yang dulu agensi kecil."

Doyoung mengangguk paham. 

"Can we try again?" Jaehyun bertanya dalam peluk hangat Doyoung. Kepalanya bersandar nyaman di bahu yang lebih tua.

Mungkin rindu miliknya tidak perlu lagi Doyoung tahan. Mungkin ini waktunya mengikhlaskan segala kejadian dahulu. Mungkin ini saatnya Doyoung kembali mencoba. Karena sebenar-benarnya yang ia rasa, adalah perasaannya masih lah sama untuk Jaehyun.

 

"Let's try again."

Kopi yang Mbak Irene beli sedari tadi sudah tergeletak di depan pintu. Dengan cup nya yang sudah berembun karena es nya yang sudah cair. Karena Mbak Irene pikir obrolan keduanya lebih Doyoung butuhkan dibanding segelas kopi dingin. 

 

[]

 

"Aku gugup." 

"Udah biasa kan kayak gini? Kok masih gugup?" Jaehyun bertanya dengan nada iseng, salah satu usahanya agar yang lebih tua lebih merasa santai.

Doyoung mendengus sebal. "Yang kali ini beda, Je."

Dikecupnya bibir Doyoung cepat, kemudian Jaehyun genggam tangan miliknya. "Kenapa bisa beda?"

Karena yang kali ini, bareng kamu. Film yang kali ini, aku selesain sama kamu . Kalimat itu Doyoung tahan dalam hati, takut terlalu menggelikan jika disuarakan. Padahal, Jaehyun akan dengan senang hati mendengarnya. 

"Ya beda aja deh pokoknya." 

Doyoung dapat merasakan genggaman tangan Jaehyun mengerat, dan Jaehyun bawa jemari lentik miliknya untuk dicium penuh sayang. "Jangan gugup. Ada aku."

"Idih." Pura-pura Doyoung memasang wajah tidak suka, padahal hatinya sudah berdiskoria. "Geli banget!"

 

Jaehyun tertawa, ia bawa tubuh Doyoung untuk dipeluknya. "Geli-geli gini tapi kamu sayang."

Ah … kata sayang. Yang akhirnya mampu mereka ucap tanpa perlu disembunyikan. Setelah hampir dua bulan menghabiskan waktu bersama di lokasi syuting, setelah hampir satu bulan menjalani kembali masa pendekatan, kata sayang dapat mereka ucap sebebas bebasnya. 

Doyoung balas pelukan Jaehyun, senyumnya mengembang bagai adonan bolu yang didiamkan. "Iya, padahal nyebelin ya. Tapi aku sayang." Aku pilih buat sayang kamu lagi. Dan itu adalah hal terbaik yang aku putuskan. 



-FIN