Actions

Work Header

p

Summary:

Rindou benci pesan beruntun yang hanya berisi huruf P.

Notes:

Disclaimer
Tokyo Revengers © Ken Wakui

Alternate Universe. OOC

Work Text:

Berada dalam satu organisasi dengan anak tengah Akashi yang sering mengaku anak tunggal itu adalah satu hal yang cukup melelahkan bagi Rindou. Ditambah, kali ini ia kebagian tugas dengan Sanzu sebagai rekannya. Berdiskusi soal tugas saja bisa memakan waktu cukup lama karena lelaki berambut merah muda itu selalu membelokkan ke arah canda. Saat kesabarannya habis, Rindou hanya bisa diam sembari menarik napas guna mengatur emosinya. Jika sudah begitu, ocehan Sanzu pun akan ikut mereda digantikan senyum semanis gula-gula andalannya.

Ponsel Rindou tidak berhenti bergetar sejak dua menit terakhir. Ia melirik malas pesan beruntun dari Sanzu lewat bilah notifikasi yang mengalir deras bak air terjun. Tidak penting, pikirnya. Rindou pilih lanjut mengerjakan laporan di laptopnya daripada buang-buang waktu meladeni kegabutan Sanzu.

Setelah lima menit bergetar, kedamaian kembali pada ponsel Rindou. Si empunya menghela napas lega. Namun, nampaknya Sanzu tidak mau membiarkan Rindou mengabaikannya begitu saja. Satu panggilan tak terjawab, lalu disusul beberapa panggilan lainnya. Rindou jengah, akhirnya ia meraih ponsel dan membuka 581 pesan tak terbaca dari Sanzu.

Benar. Benar-benar sampah.

578 pesan berisi huruf p dan 3 lainnya adalah, “Riiiinnn”, “Bales woi”, diakhiri sebuah WordArt meme bertuliskan, “Lo pilih bales atau gue sayang?”

Baru saja Rindou hendak menaruh kembali ponselnya, benda itu kembali menerima satu panggilan masuk. Begitu tersambung, rengekan Sanzu langsung menyambutnya dari seberang sana.

Riiiinn, kenapa dari tadi gue chat nggak dibales?

“Sibuk.” Rindou tidak bohong. Ia memang sibuk mengerjakan laporan, bahkan dari sebelum Sanzu berulah, kan?

Bales chat gue bentar aja emang gak bisa?

Helaan napas terdengar kasar. Alis Rindou menukik tajam. “Apa yang harus gue bales? Hampir 600 pesan isinya P doang,” dacaknya.

Suara kikikan terdengar dari seberang. Sanzu tau apa yang dia perbuat, dan itu adalah bukti kepuasannya mengetahui Rindou kesal akan kelakuannya.

Don’t ‘P’ me, Sanzu. Kalo yang mau lo omongin memang sepenting itu, lo bisa langsung ketik intinya. Jadi begitu gue buka hp, gue bisa langsung nanggepin. Bukan malah nyampah begini.”

Ada jeda sepersekian detik sebelum Sanzu menjawab perkataan Rindou. “Maaf, Rin …,” ucapnya. Jujur, Sanzu agak takut juga kalau dihadapkan dengan Rindou mode galak begini.

Hening kembali menyapa. Rindou lagi-lagi menghela napas, kali ini sedikit merasa tidak enak dengan Sanzu. Kata-katanya barusan tidak terdengar kasar, kan?

“Lo mau ngomong apa tadi?” tanya Rindou.

Sanzu mendengung. “Hng … gue takut lo marah lagi, ntar ….

Sebelah alis Rindou naik mendengar balasan ragu-ragu dari Sanzu. Memang persoalan macam apa yang hendak ditanyakan Sanzu sampai laki-laki itu takut ia memarahinya lagi?

“Apa?” tanya Rindou lagi.

Kenapa mamalia namanya mamalia? Kenapa gak mamarena atau mama—

Tut.

Rindou seketika memutus sambungan. Saking gesitnya, jari itu bahkan menindis opsi blokir pada info kontak Sanzu. Memang sebaiknya tidak perlu berkomunikasi lewat telepon dengan orang itu. Tidak hanya memancing emosi dan buang-buang waktu, anak tengah Akashi itu suka sekali mengirim pesan tidak bermutu.

 

 


[fin.]