Actions

Work Header

don't go yet

Summary:

“Kukira, mungkin kalian akan menetap di sini sementara.” — Zoro/Hiyori.

(Kalau bukan karena Zoro yang selalu melindunginya, mungkin ia sudah mati sebelum bisa bertemu dengan kakak kandungnya. Hiyori hanya berharap Zoro bisa tinggal lebih lama.)

Notes:

Disclaimer: One Piece © Eiichiro Oda. I gain no financial advantages by writing this fanfiction.
Characters: Roronoa Zoro/Kozuki Hiyori, Straw Hat Pirates
Warning: Setting mengikuti alur manga terbaru, beware of possible spoiler. Canon dari Wano arc.
Enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

.

Chopper sibuk sekali malam itu.

Setelah berhasil mengalahkan Kaido dan menyelamatkan Wano, nyaris seluruh kru dan para samurai kolaps, begitu juga dengan beberapa Minks yang membantu mereka di Onigashima. Chopper, Miyagi, Tristan, serta tenaga medis lainnya dari Wano yang masih bisa bergerak, berlari-lari lincah dari sudut kastil ke kastil lainnya.

Mengingat mereka juga sudah menumbangkan Orochi, kini kastil tersebut berada di tangan hak yang sah, Kozuki Momonosuke dan Kozuki Hiyori.

Tentu saja, lagi-lagi, orang yang mengalami luka paling parah adalah Zoro.

Chopper sudah sangat cemas saat Zoro mau menerima risiko obat itu, obat yang membuatnya pulih sementara, namun akan mendapatkan konsekuensinya dua kali lipat setelah efek obat itu memudar. Zoro terlalu keras kepala untuk memedulikan dirinya sendiri. Beginilah ia sekarang, dan ajaibnya, tubuh pendekar pedang dari kru Topi Jerami itu memang sebegitu kuat sampai-sampai malaikat maut tidak jadi mengambil nyawanya.

“Zorojuro-san ….”

Gadis dengan helaian rambut sewarna pirus muncul di pintu kamar Zoro. Chopper yang saat itu sedang menjaga Zoro sendiri, menoleh dan melihat sepasang mata gadis itu berkaca-kaca.

“Ah!” seru Chopper. “Hiyori, adiknya Momonosuke.”

“Betul,” sahut Hiyori seraya mendekat, melihat seluruh tubuh Zoro yang dibalut perban, “Chopper-san …? Kondisi Zorojuro-san sangat parah, ya? Dia selalu menolongku dan melindungiku, terluka parah, lalu kurawat … dan sekarang kondisinya lebih parah.”

Chopper mengangguk-angguk, kini kedua matanya juga berlinang air mata. Zoro, di antara seluruh kru Topi Jerami, adalah yang paling sering membawa pulang luka terbanyak di tubuh dan darah yang mengucur paling deras, sebelas dua belas dengan Luffy. Selalu melawan yang kuat. Selalu tidak mau mundur. Selalu siap untuk melindungi kapten dan kru mereka, meskipun nyawanya nyaris melayang.

“Dia selalu seperti ini, Hiyori. Dia selalu terluka yang paling parah, kembali dari pertarungan dengan keadaan hampir mati.” Chopper mulai terisak, kemudian segera menyeka air matanya sebelum menetes ke lantai. “Untung saja. Untung saja Franky tepat waktu membawanya kepadaku.”

Hiyori bersimpuh di sebelah Chopper, melihat wajah Zoro, kedua matanya yang terpejam. Dengan perlahan, sangat perlahan, Hiyori menyentuh ketiga anting Zoro.

“Dia sangat kuat, ‘kan?”

“Sangat kuat,” Chopper menjawab dengan ketegasan. “Dia sangat kuat.”

“Chopper-san, bolehkah aku saja yang menjaga Zorojuro-san? Kau terlihat sangat letih, mengurusi semuanya yang terluka. Kau juga butuh istirahat.”

Chopper menatap Zoro sekali lagi. Ia memang amat lelah, bergerak tanpa henti dan tidak tidur semenjak mencari obat yang tepat untuk virus dari Queen, dilanjutkan dengan mengobati mereka semua setelah mereka memenangkan pertarungan. Tentu saja, menang adalah hal yang bagus, tetapi mereka semua tidak bisa langsung bersantai.

“Tidak apa-apa, Hiyori, apalagi kau sudah tidak bertemu kakakmu selama dua puluh tahun! Kalian bisa berbincang-bincang dulu.”

Hiyori tersenyum manis. “Dia juga kelelahan, tahu? Langsung tertidur pulas.”

Mau tak mau Chopper tergelak. “Terima kasih, Hiyori! Panggil aku saja kalau ada apa-apa. Aku istirahat di kamar kru kami, ya.”

Hiyori mengangguk. Sebagai ahli waris yang sah dari kastil itu, ia dan Momo langsung memberikan fasilitas dan akses penuh kepada kru Bajak Laut Topi Jerami, Bajak Laut Hati, dan Azakaya Nine—sekarang delapan, karena Kanjuro yang berkhianat—yang telah membantu mereka.

Chopper keluar dari kamar, mengintip sekali lagi ke dalam, mengerling kepada Hiyori, sebelum akhirnya menutup pintu dan pergi dari sana.

.

Butuh waktu tiga hari bagi Zoro untuk tersadar penuh.

Saat mengerjapkan satu matanya, ia merasakan sinar matahari yang menembus lembut dari celah jendela. Kepalanya menoleh ke kanan dan melihat ketiga pedangnya berada di sudut ruangan, kemudian saat menginspeksi ruangan lebih lanjut, indra pendengarannya menangkap suara air, dan ia melihat wajah yang tak asing—

”Akhirnya kau sadar juga!”

Saking senangnya Hiyori, ia nyaris meremukkan tubuh Zoro yang baru pulih dengan pelukannya. Zoro ingin protes, namun menggerakkan tubuh saja sulit. Sebagai respons, pemuda itu hanya menggerutu diikuti dengan bayang-bayang pertarungan terakhir mereka di Wano.

Ah, ya, sialan. Ia tak cukup kuat setelah melawan dua Yonko, dan setelah menghabisi King, ia benar-benar melihat secara jelas ada malaikat maut yang mau mencabut nyawanya.

“Kau sedang berada di kastil.”

Zoro berusaha untuk bangun, yang segera dicegah oleh Hiyori. “Tubuhmu belum pulih benar, tahu?”

“Di mana yang lainnya?”’

“Sama, di kastil ini juga. Tidak usah terburu-buru! Kau harus benar-benar sembuh setelah luka-luka itu.”

“Tidak apa-apa,” cetus Zoro, namun melihat determinasi tinggi yang ada di kedua mata Hiyori, ia menyerah, dan akhirnya kembali berbaring seperti posisi semula.

“Kenapa kau selalu memaksakan dirimu, sih?” tanya Hiyori, kini dengan kain basah mengelap tubuh Zoro perlahan. Sebagian besar perbannya telah dibuka, dan kini hanya tersisa perban di dahi dan kedua tangannya saja.

“Aku tidak memaksakan diriku. Aku memang harus selalu siap kalau keadaan memaksaku bertempur.”

“Hmph.” Hiyori tidak bisa menerima penjelasan itu, namun tak melawan kalimat Zoro, alhasil ia melanjutkan tugasnya sampai selesai—mengelap permukaan kulit Zoro sampai ujung kaki.

“Oi. Hiyori,” panggil Zoro, melihat Hiyori yang memeras kain basah di baskom sebelah kepalanya.

“Hm?”

“Sejak kapan kau di sini?”

“Hm. Tiga hari yang lalu.”

“Heh. Tiga hari?” Zoro menaikkan alis. Lama sekali ia pulih. “Kau tidak istirahat?”

“Tentu saja aku istirahat,” sahut Hiyori, keningnya berkerut. “Aku tidur di sini.”

Mendengar kalimat itu, membuat Zoro teringat akan kejadian ia, Hiyori, dan Toko tidur bersama, yang kemudian dipergoki oleh Brook. Kedua pipi Zoro memanas.

“Kenapa kau suka tidur bersamaku, sih?”

Hiyori hanya tersenyum kecil. “Kau suka, ‘kan?”

Sebelum Zoro sempat menjawab, pintu kamarnya terbuka, memperlihatkan sosok Chopper dengan stetoskopnya untuk pemeriksaan rutin. Kedua matanya membesar ketika melihat Zoro sudah sadar.

“ZOROOOOOOOO~ AKU MERINDUKANMU!”

Tubuh mungil Chopper melayang persis di atas Zoro. Zoro mengaduh, “AW!”

Untung saja tubuh Chopper ringan.

Chopper mengusap air matanya. “Maaf. Aku terlalu senang. Setelah Luffy sadar kemarin malam, lalu kau juga sadar. Ugh.” Chopper mengerjap-ngerjapkan matanya. “Hiyori, terima kasih banyak karena sudah membantu menjaga Zoro. Sejak kapan ia tersadar?”

“Belum lama, Chopper-san … tidak apa-apa, aku senang membantu kok.” Hiyori melirik Zoro. “Aku senang tidur di sini,” imbuhnya, yang lagi-lagi membuat Zoro ingin menyanggah sebelum ada kesalahpahaman karena kalimat itu.

“Yah, aku akan mengabari yang lainnya.” Chopper bangkit dari tubuh Zoro. “Sebelum itu, Zoro, apa ada keluhan? Dari skala satu sampai sepuluh, angka berapa yang kau berikan untuk rasa sakitmu?”

“Nol,” sahut Zoro. Chopper tersenyum lebar dan segera berlari untuk memberitahukan kru Topi Jerami lainnya.

“Baiklah, aku akan pergi.” Hiyori mulai membereskan barang-barangnya. “Aku tidak akan mengganggu reunimu dengan kru yang lain.”

Sebelum Hiyori sempat berdiri, Zoro menahan lengannya.

“Oi.”

Hiyori menoleh.

“Terima kasih.”

Kedua sudut bibir Hiyori tertarik ke atas. “Sama-sama.”

Dengan itu, ia pergi meninggalkan kamar Zoro.

.

Orang yang paling pertama masuk adalah Luffy, dengan senyuman lebar dan topi jerami yang menempel di kepala. “Zoroooooo! Akhirnya kau pulih juga. Nanti malam kita akan mengadakan pesta!”

Gadis yang masuk setelahnya segera memukul kepala Luffy. “Kau dan Zoro baru pulih dan kau sudah mengajaknya untuk berpesta?!”

Ya, tentu saja itu Nami.

Setelahnya, Usopp, Franky, Jinbe melangkah ke dalam dengan wajah yang sangat, sangat lega. Robin masuk kemudian, tersenyum melihat kondisi Zoro. Chopper dan Brook menyusul Robin, dan yang terakhir adalah si Alis Keriting.

“Chopper dan Hiyori merawatmu dengan baik,” ujar Robin, diikuti teriakan tidak terima dari Sanji.

“Robin-chan! Jangan membuat si Kepala Lumut senang karena Hiyori-chan sangat perhatian dengannya!”

Zoro hanya menyipitkan matanya pada Sanji.

“Kau sudah hampir mati di bawah sana, Zoro,” gumam Franky, mengingat terakhir kali ia mengangkut Zoro dan bersyukur saat ia merasakan Zoro masih bernapas, meskipun itu juga sudah lemah sekali.

“Yah, aku mengingatnya samar-samar. Ada tengkorak yang bersiap mencabut nyawaku.” Zoro menoleh pada tengkorak sungguhan yang berdiri di dekat Usopp. “Bukan kau, Brook.”

“Yohohoho!”

Mereka bertukar cerita mengenai pertarungan terakhir Luffy dengan Kaido. Cerita mereka bertambah seru saat memasuki bagian Luffy yang sudah sepenuhnya mengaktifkan Gear 5 dan kenyataan tentang Buah Iblisnya yang tidak biasa.

Ah, setelah berminggu-minggu, akhirnya kru Topi Jerami menjadi satu lagi; saling bercengkerama, tidak dalam keadaan hidup dan mati, dan tidak terpisah-pisah.

.

Pesta malam itu sangat meriah.

Mereka menggunakan seluruh sumber daya yang ada, yang selama ini hanya dinikmati oleh orang-orang di pusat kota. Mereka berpesta, mengundang seluruh orang-orang di Wano, karena ini adalah kebahagiaan dan kemenangan mereka semua.

Sanji sebagai Kepala Koki saat itu menyiapkan hidangan yang aromanya menguar ke seluruh ruangan dan membuat orang-orang menelan ludah. Makanan dan air bersih tersedia di mana-mana, membuat rakyat biasa dari Wano terenyuh, karena, sudah sejak lama sekali mereka bisa menikmati akses ke air bersih yang begitu mudah dan makanan yang begitu enak.

Bukan air sungai yang beracun atau bahan makanan sisa dari ibukota, tapi makanan yang segar, bersih, disajikan langsung di hadapan mereka.

Marco, Robin, Franky, Brook, Law, dan Jinbe sedang berdiskusi serius di salah satu sudut ruangan. Usopp dan Chopper bercakap-cakap ringan dengan kawanan Ninja, Minks dan Samurai.

Sementara itu, Sanji sibuk berputar-putar seraya membawa nampan dan segelas air, mencari gadis cantik untuk digoda.

Luffy, Yamato, Nami, Momonosuke, dan Tama saling bertukar kisah seraya menyantap sajian dengan porsi besar di meja mereka, yang tentu saja sebagian besarnya dihabiskan oleh Luffy.

Meskipun tubuhnya belum sembuh total, Zoro tidak mau meninggalkan pesta ini, apalagi karena dia sudah sangat ingin meneguk alkohol.

“Sebenarnya kau belum boleh minum itu,” tegur Hiyori, menunjuk botol sake yang berada di genggaman Zoro. Ia melangkah mendekati Zoro dan berhenti tepat di samping pemuda tersebut.

“Boleh-boleh saja.”

Zoro menghabiskan sakenya dan bergerak untuk mencari yang lain. Hiyori mengekori Zoro.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Zoro. “Kau kan Tuan Putri dan pusat perhatian untuk pesta ini,” lanjut Zoro, kemudian mengambil botol sake di meja terdekat.

“Tidak seperti itu juga.” Hiyori menggembungkan pipinya. Ketika ia melihat Zoro sudah meneguk botol sakenya, Hiyori merebut milik Zoro dan meminum dari botol yang sama.

“Oi!”

“Berbagi itu indah, tahu.”

“Tsk.”

“Aku sudah tahu bahwa namamu Roronoa Zoro,” bisik Hiyori setelah meneguk sakenya. “Jadi, apakah aku boleh memanggilmu Zoro-san?”

Zoro meliriknya sekilas. “Terserah.”

Hiyori tersenyum. “Oke, Zoro-san.”

“Hiyori-chaaaan~~!”

Suara genit Sanji muncul dari belakang Hiyori, membawakan nampan dengan kue-kue mungil di atasnya. “Ini untukmu.”

“Terima kasih, Sanji-san.” Hiyori mengambil satu dan mengunyahnya. Kedua matanya berkilat-kilat senang.

“Bagaimana makanannya? Enak?”

“Luar biasa,” puji Hiyori. “Sudah lama sekali tidak makan makanan enak seperti ini. Terima kasih banyak, Sanji-san!” Hiyori membungkuk, dan Sanji ikut-ikutan membungkuk dengan satu matanya yang terlihat berbentuk hati.

“Tch,” dengus Zoro. “Koki genit. Jangan mimisan di sini. Merepotkan.”

Urat-urat di dahi Sanji keluar. “Apa, Kepala Lumut?”

“Berisik. Pergi sana.”

“Aku tidak sudi ke sini kalau bukan karena Hiyori-chan, tahu!”

Mereka saling menatap satu sama lain sampai akhirnya Hiyori menengahi mereka.

“Hiyori-chaaan~ aku pergi dulu. Kabari saja jika ada hidangan tertentu yang kau mau!”

Hiyori mengangguk-angguk. Setelah pelototan terakhir kepada Zoro, Sanji pergi dari sana.

“Zoro-san.”

“Hm.”

“Kira-kira berapa hari lagi kau akan berada di sini?”

Zoro mengangkat alisnya. “Itu tergantung Luffy. Bukan aku yang memutuskan.”

“Oh.” Ada kerut samar dan sudut bibir yang tertekuk. “Kukira, mungkin kalian akan menetap di sini sementara.”

“Masih banyak perjalanan yang harus dilalui,” balas Zoro. “Dan pastinya, kita dikejar-kejar oleh Angkatan Laut setelah ini.”

Hiyori mengerjap. Benar juga. Dunianya dan dunia Zoro tentu jauh berbeda. Sebagai seorang Bajak Laut, Zoro akan terus berpetualang, tidak akan menetap di satu tempat ….

“Tapi, apakah ada kemungkinan kau akan berkunjung ke sini lagi suatu hari?”

Zoro memiringkan kepalanya. “Heh?”

“Siapa tahu, uhm.” Hiyori menarik napas. “Aku merasa aman kalau ada dirimu, tahu.”

“Kau bicara apa, sih? Si Momonosuke sudah lompat dua puluh tahun dan dia sudah bisa menjadi naga besar.”

“Yah—” Hiyori mengerucutkan bibirnya. “Kenapa kau bebal sekali, sih?”

“Aku tidak bebal!”

Hiyori menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia teringat akan satu hal.

“Ah, ya, bagaimana Enma?”

Mengingat pedang yang menyusahkannya saat detik-detik terakhir pertarungan dengan King membuat Zoro sedikit tertegun. Ya, dia tidak bisa berleha-leha. Ia masih lemah. Ia masih terkapar begitu saja setelah melawan Yonko dan melawan King. Bisa-bisanya dia hampir mati? Bagaimana dia bisa menjadi pendekar pedang terkuat di seluruh dunia?

“… Zoro-san?”

“Kurasa aku harus berlatih lagi,” sahut Zoro, matanya terpaku pada botol sake yang sudah kosong.

“Tapi, kau suka, ‘kan?”

Zoro menghela napasnya. “… Ya. Pedang itu terus-terusan memaksaku untuk lebih kuat.”

.

Dua hari setelah pesta besar-besaran mereka, para kru bersiap untuk membeli perbekalan perjalanan mereka yang selanjutnya.

Sanji, Brook, dan Jinbe pergi membeli bahan makanan. Nami dan Robin segera berbelanja baju-baju baru di sekitar ibukota. Chopper berkelana untuk mencari stok obat-obatan dan tanaman herbal, sementara Luffy, Usopp, dan Franky berjalan-jalan di sekitar Wano.

Zoro sudah bergegas untuk keluar ketika Hiyori menahannya.

“Zoro-san!”

Zoro menoleh. “Apa?”

“Kau mau ke mana?”

“Membeli sake untuk persediaan di kapal.”

“Tidak usah.” Hiyori menggelengkan kepalanya. “Aku sudah menyiapkan banyak untukmu.”

“Hah?”

“Yah, aku tahu kau sangat suka sake, jadi aku sudah mempersiapkan banyak jika kau mau.”

Zoro menyeringai mendengar hal itu. Sake sudah menjadi bukti nyata untuk membuat hati Zoro melunak kepada siapa pun.

“Tapi kalau kau mau jalan-jalan, akan kutemani.”

Menimbang bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di Wano, akhirnya Zoro menganggukkan kepala.

.

Suasana di ibukota jauh lebih ramai, menyenangkan, dan hidup, setelah Orochi tidak lagi berkuasa. Semua penduduk tersenyum lebih lebar, berjualan lebih semangat, dan bernyanyi keras-keras di sekeliling mereka.

Saat Hiyori lewat, semua orang langsung menundukkan kepalanya dan membungkuk dalam. Hiyori tersipu dan menunduk pula.

“Benar-benar tidak menyangka, selama ini Kozuki Hiyori-sama menyamar untuk bisa membalaskan dendam keluarganya kepada Shogun—mantan Shogun!”

Bisik-bisik serupa terdengar sepanjang mereka lewat.

“Apa kau terganggu?” tanya Zoro, satu tangannya sudah siaga di atas pedang.

“Zoro-san, itu tidak menggangguku sama sekali.” Tangan Hiyori menyentuh jari-jari Zoro yang bersiap menarik satu pedang. “Tidak apa-apa. Mereka tidak melakukan apa pun. Mereka hanya penasaran.”

“Hm.”

“Kau selalu menyelesaikan masalah dengan pedang, ya?” Hiyori terkekeh kecil. Zoro hanya menatapnya sebal dan tangannya kini lebih rileks di kedua sisi tubuh.

Zoro sebenarnya sering kali tersesat, dan mungkin sudah mengetahui beberapa tempat yang ia dan Hiyori kunjungi sekarang. Hal yang membedakannya adalah kalau sekarang ia tidak lagi sendirian.

Setelah beberapa kali berkeliling, mereka memutuskan untuk kembali ke kastil.

.

Hari itu merupakan hari yang panjang.

Mereka bersiap-siap untuk mengangkat barang ke Thousand Sunny. Kru Bajak Laut Hati dan Topi Jerami akan meninggalkan pulau Wano beberapa menit lagi. Momonosuke, meskipun tampilannya bukan lagi bocah, sesenggukan ketika Luffy dan kawan-kawannya akan pergi.

Seluruh ninja dan samurai mengucapkan syukurnya atas aliansi Ninja-Minks-Bajak Laut-Samurai, yang akhirnya mencapai kesuksesan mereka untuk mengalahkan Kaido dan Big Mom. Isak tangis tak terhindarkan, dan banyak pelukan-pelukan hangat di dalam kastil itu.

“Aku tidak akan melupakan kalian!” Momonosuke, yang fisiknya berusia dua puluh delapan tahun, bersorak dengan ingus berantakan di wajahnya. “Terima kasih banyak!”

“Zoro-san!”

Zoro belum sempat berbalik badan sepenuhnya ketika tubuhnya dipeluk erat-erat oleh Hiyori.

“Terima kasih banyak karena sudah melindungiku, bahkan ketika aku masih orang asing. Aku … aku akan merindukanmu di sini.”

Dengan kaku, Zoro memeluk Hiyori balik. Terdengar teriakan-teriakan tidak pantas dari seseorang—dugaan Zoro seratus persen berasal dari bibir si Alis Keriting—sebelum akhirnya Zoro menarik tubuhnya terlebih dahulu.

“Hiyori.”

Zoro menarik sesuatu dari jubahnya. Sebuah kertas.

Vivre card.”

Hiyori menerima sepotong kertas yang disobek oleh Zoro.

“Yah, setidaknya dengan itu kau bisa tahu jika sewaktu-waktu ak—kami datang ke sini. Atau kau bisa tahu apakah aku masih hidup atau tidak.”

Hiyori tersenyum lebar. “Kau memberinya untukku. Ini … sangat berharga. Aku akan menyimpannya baik-baik.”

Zoro hanya mengangguk, bersiap untuk menyusul kru Topi Jerami, ketika ada kecupan ringan mendarat di pipinya.

Terdengar suara tubuh Sanji yang ambruk dan pingsan di sudut pintu.

.

[end]

Notes:

1. (kemungkinan) setting canon setelah arc Wano
2. Nggak ada ide habis Wano mereka ke mana dulu, jadi nggak menyebutkan pulau selanjutnya.
3. Zoro/Hiyori is so precious … lyke …?!?! Kemungkinan mereka canon akan besar sekali :” tapi gak tahu pasti juga.
4. Nggak tahu arc Wano selesainya kapan, pasti masih lama, jadinya berasumsi sendiri dulu ending arcnya seperti apa :”D